EMBRACE THE CHORD (KaiHun)
Cast :
Jongin as Jason
Sehun as Rachel
Chanyeol as Calvin
Baekhyun as Anna
Kyungsoo as Arlene
Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.
.
.
Sehun benar-benar terkejut. Dia ternganga menatap ke arah Jongin. Sementara seluruh mata memandangnya.
Apa yang dikatakan Jongin tadi? Apakah lelaki itu menjebaknya sehingga tidak bisa menolak di tengah begitu banyak orang?
Sehun melemparkan tatapan marah kepada Jongin, tetapi lelaki itu hanya tersenyum simpul dan menatap Sehun dengan tak tahu malu.
Pada akhirnya, mau tak mau Sehun melangkah ke panggung penuh dengan dorongan untuk mencaci maki Jongin di depan umum. Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Rasa frustrasi membuatnya menatap Jongin dengan marah dan mengancam, tetapi Jongin malah menatapnya dengan ekspresi geli,
"Apakah kau membawa biolamu?"
"Tidak." Sehun menjawab cepat sambil menggertakkan gigi.
Jongin terkekeh, "Aku membawa dua, kau boleh pinjam punyaku." Jongin mengedikkan kepala kepada pegawainya dan orang itu dengan tergoph-gopoh membawakan dua tempat biolanya kepada mereka.
Jongin mengambil satu, sebuah biola warna cokelat kemerahan, membuat Sehun ternganga,
"Itu Stradivarius?" Sehun tetap menanyakan pertanyaan itu meskipun dia sudah tahu jawabannya, tentu saja dia tahu dia telah membaca semua artikel tentang biola ini dan sekarang melihat secara langsung biola ini di depan matanya membuatnya seolah bermimpi. Biola Stradivarius adalah biola yang amat sangat langka, tidak bisa diduplikasi, karena pembuatnya, Antonio Stradivari berhasil menerapkan teknik yang misterius dan rahasia, sehingga tidak akan pernah ada yang bisa meniru caranya,
Sang pembuat biola ini telah membakar habis semua dokumen-dokumen tentang cara-cara dan ramuan biolanya itu sebelum akhirnya dia meninggal dunia. Biola Stradivarius terkenal memiliki suara paling jernih dan volume terbesar, dengan nada yang paling murni yang membuat mereka terlihat hampir 'hidup' di tangan seorang maestro pemain biola. Dan sekarang, dari sekitar 1.100 instrumen musik karyanya seperti gitar, biola, viola dan cello, hanya 650 saja yang masih ada hingga saat ini, dan khusus untuk biola diperkirakan hanya tinggal 100 buah saja yang masih tersisa, dan Jongin ternyata memiliki salah satu dari seratus itu.
Jongin menganggukkan kepala seolah tidak peduli dengan ketakjuban Sehun,
"Ini warisan dari ayahku. Kau pakai yang satunya." Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah kotak yang belum dibuka. Dan Sehun dengan penuh rasa ingin tahu membuka kotak biola itu. Seketika itu juga dia sadar, bahwa itu adalah biola yang selalu dipakai oleh Jongin. Sehun selalu melihat Jongin memainkan biola ini di setiap rekaman video penampilan Jongin. Itu adalah biola Paganini yang terkenal. Berbeda dengan Stradivarius yang menciptakan suara indah dengan sendirinya, biola Paganini sangat sulit dimainkan, karena ada perbedaan yang kontras antara nada tinggi dengan nada rendahnya.
"Kau membiarkanku memakainya?" Sehun ternganga, "Jemarinya menelusuri permukaan biola itu yang begitu halus. Ini adalah salah satu biola tua berumur hampir empat ratus tahun... Dan termasuk biola yang paling sulit dimainkan.
Bisakah dia menggunakannya?
Jongin tersenyum, menarik perhatian Sehun.
"Aku yakin kau pantas menggunakannya. Ayo, kita harus memberikan pertunjukan yang luar biasa kepada orang-orang ini." Matanya menajam, "Bach's Chaconne, bisa?"
Sehun mengerutkan keningnya, Jongin rupanya tak tanggung-tanggung, Bach's Chaconne adalah karya solo biola oleh Johann Sebastian Bach, Chaconne Partita in D minor for solo violin adalah bagian penutup dari keseluruhan musik, yang katanya ditulis untuk mengenang isteri pertama Johann Sebastian Bach yang telah meninggal sebelumnya. Musik ini penuh dengan nada yang sulit dan teknik tingkat tinggi, memaksa sang violinist menguasai seluruh aspek dalam bermain biola untuk memainkannya. Tetapi jika dimainkan dengan sempurna, hasilnya akan sepadan karena bisa membuat siapapun yang mendengarnya merasakan kesedihan itu, kenangan itu, dan hanyut dalam musik indah yang menyayat hati.
Sehun ragu, biarpun dia pernah mempelajarinya beberapa waktu yang lalu, dia masih ingat seluruh nadanya. Matanya melirik ke arah penonton yang menunggu, dan terpaku ke arah Chanyeol yang tersenyum lebar sambil mengedipkan persetujuan kepadanya.. Sementara Baekhyun merapat erat di pelukannya dan sebelah lengan Chanyeol merangkul pinggang feminim Baekhyun dengan intim.
Tiba-tiba Sehun merasakan dorongan semangat di benaknya, keinginan untuk menunjukkan kepada Chanyeol bahwa dia berharga, bahwa dirinya cukup menarik untuk dilihat dan dikejar... Bahwa Chanyeol seharusnya menyadari perasaan Sehun.
Sehun mengangguk ke arah Jongin yang menunggunya, "Aku siap."
Jongin tersenyum, melihat semangat yang menyala di mata Sehun. "Kalau begitu, mari kita buat mereka semua terpesona."
Lelaki itu berdiri dengan begitu tampan dan mempesona, bahkan dia sebenarnya tidak perlu memainkan biola untuk membuat penonton terpesona, penampilannya yang luar biasa tampan, dengan tuxedo hitam yang membalut tubuhnya dan rambutnya yang disisir rapi ke belakang dengan postur tegak posisi memegang biola sudah pasti bisa membuat semua orang tergila-gila.
Jongin memulai nada awal, Sehun menyusul untuk melengkapinya. Dia menggesek biola indah milik Jongin dan terpana akan keindahan nada yang dihasilkannya, sangat berbeda dengan biola yang biasa dipakainya. Kemudian permainan biola Jongin yang begitu indah membawa Sehun ke dalam dunia musik yang membius.
Semuanya menghilang, para penonton, panggung yang tinggi, ruangan yang penuh orang seakan menghilang semua. Sehun merasakan dirinya berdiri bersama Jongin, di sebuah padang rumput yang luas, menatap pasangan yang sedang jatuh cinta duduk di rerumputan sambil berangkulan, dan mereka berdua memainkan musik yang indah itu, musik kenangan akan cinta sejati seseorang.
Rasanya begitu cepat, Sehun bermain biola sambil memejamkan matanya, dan kemudian Jongin memainkan nada penutup, Sehun mengiringinya dengan sempurna. Dan kemudian... selesai.
Jongin berdiri dan memegang biola dengan sebelah tangannya, tersenyum menghadapi penonton. Sementara Sehun membuka matanya, napasnya sedikit terengah, dan langsung berhadapan dengan wajah-wajah takjub di sana, beberapa bahkan ada yang ternganga.
Lalu Jongin tertawa, dia meletakkan biolanya dan bertepuk tangan. Tepuk tangan itu memecah keadaan, dan membawa tepuk tangan berikutnya yang susul menyusul, suasana riuh rendah oleh tepuk tangan yang membahana memenuhi ruangan.
Sementara itu Jongin tertawa, tampak takjub sekaligus senang, dia mendekat ke hadapan Sehun, berdiri di sana,
"Kau sangat hebat!" gumamnya antusias, dan kemudian tanpa disangka Jongin membungkuk dan meraih pinggang Sehun, sedikit mengangkat tubuh mungil perempuan itu, lalu mencium bibirnya!
Jongin mencium bibir Sehun di atas panggung, di hadapan ratusan penonton yang masih diliputi ketakjuban akan permainan biola yang begitu indah dan sempurna. Suara tepuk tangan makin riuh rendah mengiringi ciuman mereka, sampai kemudian Jongin melepaskan bibir Sehun, tidak peduli akan wajah Sehun yang bingung dan pucat pasi, lelaki itu masih merangkul pinggang Sehun dan tertawa, kemudian membawa Sehun membungkuk kepada seluruh penonton.
Jongin menciumnya lagi!
Sehun masih setengah terpana setengah bingung ketika menuruni panggung. Orang-orang berebutan menyalami dan memberinya selamat karena mendapat kehormatan bermain dengan Jongin serta diangkat sebagai murid bimbingan khususnya. Beberapa mengatakan betapa irinya mereka akan kesempatan yang diperoleh oleh Sehun itu.
Tetapi yang berkecamuk di benak Sehun adalah bibirnya yang panas dan membara akibat kecupan Jongin yang tanpa ampun. Lelaki itu bersemangat dan melumat bibirnya tanpa permisi. Jongin sudah merenggut ciuman pertamanya, dan sekarang bahkan dia juga mengambil ciuman keduanya!
Sehun merengut, merasa semakin kesal ketika menyadari bahwa Jongin juga menjebaknya, dia sengaja mengumumkan kesediaan Sehun - yang sudah pasti dikarangnya - di depan umum, membuat Sehun sekarang tidak bisa menolaknya.
Well, ternyata Jongin bukan hanya lelaki arogan dan bertemperamen buruk, tetapi juga pemaksa dan licik untuk mendapatkan keinginannya, terlebih lagi, lelaki itu tukang cium sembarangan!
Sehun masih mengerutkan keningnya ketika Jongin mendekat ke arahnya, beberapa orang masih melirik ke arah mereka, mencoba mendengarkan percakapan mereka dengan penuh ingin tahu.
"Kau harus mempunyai waktu tiga jam sehari untuk berlatih bersamaku." gumamnya arogan dan memaksa.
Sehun membuka mulutnya dengan marah, hendak membantah, tetapi bersamaan dengan itu, interupsi datang menyela.
"Jongin!" Kyungsoo menghampiri mereka berdua dengan tergesa, "Astaga, bagus sekali sayangku, kau bermain dengan begitu indah, gesekan jarimu yang sempurna membuatku sangat bergairah." Lalu seolah sengaja, Kyungsoo merangkulkan lengannya di leher Jongin dan menciumnya.
Sementara itu Sehun menatap dengan jijik. Astaga, Jongin mungkin sudah terlalu lama hidup di luar negeri sehingga menganggap sebuah ciuman itu bukanlah hal yang tabu dilakukan di depan umum. Apalagi mengingat beberapa waktu yang lalu, lelaki itu menciumnya di atas panggung dan sekarang dia berciuman di tengah pesta dengan kekasihnya. Sehun harus jauh-jauh dari Jongin, kalau tidak lelaki itu mungkin akan merusak kepolosannya.
Jongin sendiri membalas ciuman Kyungsoo, dan ketika selesai, dia mengangkat alisnya menatap Kyungsoo,
"Untuk apa ciuman itu Kyungsoo?" Jongin tersenyum,
Kyungsoo melirik ke arah Sehun dengan penuh arti. Tentu saja ciuman itu untuk menunjukkan kepada anak ingusan yang beruntung menjadi murid istimewa Jongin itu, bahwa Kyungsoo memiliki Jongin. Perasaan cemburu membuat Kyungsoo lupa diri, cemburu dan waspada, karena Jongin tidak pernah memberikani perhatian dan keistimewaan seperti yang diberikannnya kepada Sehun sebelumnya.
Dan Sehun menerima pesan dari Kyungsoo dengan jelas, dia hanya mencibir. Kenapa perempuan itu sepertinya takut kepadanya? padahal dia sama sekali tidak berpikiran untuk mendekati Jongin. Tidak selama bumi masih berputar!
"Untuk ucapan selamat sayang, kau hebat seperti biasanya dan membuatku tergila-gila." Kyungsoo menyapukan jemari lentiknya ke pipi Jongin, lalu dengan gerakan sengaja seolah melecehkan Sehun, dia menolehkan kepalanya, berpura-pura baru menyadari kehadiran Sehun dan mengangkat alisnya, "Dan selamat juga untukmu, kau harusnya bersyukur bisa menjadi murid Jongin." gumamnya ketus setengah menghina.
Sehun mencibir, "Saya tidak pernah minta kok, terimakasih." Setelah menganggukkan kepalanya mencoba sopan, Sehun membalikkan badannya dan tergesa menjauh sejauh mungkin dari Jongin.
Sementara itu mata Jongin terus mengawasi sampai Sehun menghilang, hal itu tidak luput dari pandangan Kyungsoo, membuat hatinya panas. Dia harus bisa menarik perhatian Jongin lagi!
"Apakah kau tertarik padanya?" pada akhirnya Kyungsoo tidak bisa menahan diri, dia mencoba mengalihkan perhatian Jongin dengan bertanya.
Rupanya berhasil karena Jongin menatap Kyungsoo lagi, "Apa maksudmu?"
"Perempuan ingusan itu." Kyungsoo memandang ke arah Sehun pergi, "Apakah kau tertarik kepadanya?"
Jongin langsung tertawa. "Tertarik kepadanya? tentu saja Kyungsoo, kau pasti tahu bahwa aku selalu tertarik dengan siapapun yang memiliki bakat besar di bidang musik, terutama biola. Anak itu adalah berlian yang belum terasah, dan di tanganku dia akan menjadi berkilauan." Jongin melirik Kyungsoo dan tersenyum, "Apakah kau cemburu?"
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya dengan manja, "Tentu saja, kau memperhatikannya terus dari tadi."
Jongin tertawa lagi, mengecup bibir Kyungsoo dengan ringan, "Jangan kuatir sayang, saat ini aku sepenuhnya milikmu." bisiknya dengan mesra, membuat senyum Kyungsoo melebar dan matanya berbinar penuh cinta.
Saat ini aku sepenuhnya milikmu, jadi nikmatilah selagi bisa... Jongin bergumam dalam hati, dan bibirnya tersenyum sinis membayangkan saatnya nanti dia menghancurkan hati Kyungsoo, seperti yang selalu dilakukannya kepada perempuan-perempuan lainnya.
Sehun berhadapan dengan Chanyeol yang masih merangkul pinggang Baekhyun dengan mesra, lelaki itu tersenyum lebar,
"Jadi Jongin yang cerdik membuatmu mau tidak mau menerima tawarannya." gumamnya setengah geli.
Sehun langsung cemberut, "Dia lelaki licik." desisnya pelan.
"Kau tidak boleh berkata begitu tentangnya." Baekhyun tiba-tiba menyahut, tampak tidak suka, "Seharusnya kau beruntung dia mau membimbingmu, banyak orang di sini yang mau melakukan apa saja supaya bisa menjadi murid bimbingan khusus Jongin, dan kau seolah tidak menghargainya dan tidak tahu terimakasih."
Sehun memucat mendengar kata-kata ketus Baekhyun kepadanya, dia juga menerima tatapan kebencian Baekhyun kepadanya, dan sebelum bisa berkata apa-apa, Baekhyun tiba-tiba mendongak dan menatap Chanyeol penuh penyesalan,
"Kurasa aku harus segera pulang, papaku sudah memberi isyarat sejak tadi." gumamnya lembut, lalu mengecup pipi Chanyeol, "Terimakasih atas dansanya yang menyenangkan sayang."
Chanyeol menganggukkan kepalanya, mengecup jemari Baekhyun sebelum perempuan itu melangkah pergi. Lelaki itu lalu menatap Sehun yang masih menatap kepergian Baekhyun dengan bingung dan kemudian mengangkat bahu,
"Maafkan kata-kata ketusnya tadi." gumam Chanyeol lembut, "Kau tahu, Baekhyun juga termasuk penggemar Jongin, dia memang pemain piano dan dia memuja kejeniusan Jongin, dia pernah bercerita salah satu impiannya adalah mendapatkan kesempatan untuk resital piano dan biola duet bersama Jongin..." Chanyeol mencolek ujung hidung Sehun dengan menggoda, "Kau adalah orang paling beruntung di ruangan ini, hanya saja kau tidak menyadarinya."
Beruntung?
Sehun mengedarkan pandangannya dan menemukan Jongin tengah mengecup bibir Kyungsoo lagi dan lagi. Dia mengerutkan keningnya, apakah semua orang dibutakan oleh kejeniusan Jongin sehingga tidak memperhatikan betapa buruknya sikap lelaki itu?
"Jadi kau akan menjadi murid khusus Jongin, akhirnya." mama Sehun tersenyum puas, senang karena apa yang dia harapkan menjadi nyata.
Sehun menyesap susu cokelatnya dan cemberut, hari ini dia akan mengikuti kelas khusus untuk 20 siswa terpilih yang akan diajar sendiri oleh Jongin. Setelah itu, 19 murid lain boleh pulang dan hanya dia sendiri yang akan mendapatkan tiga jam tambahan bersama Jongin.
Tiga jam berduaan bersama lelaki arogan itu... semoga Sehun bisa menahankannya. Dengan cepat dia meneguk susunya, berdiri, bersiap menghadapi semuanya.
Lalu ada suara mobil berderum di halaman depan rumah mereka. Sehun dan mama Sehun saling berpandangan.
Siapa yang bertamu sepagi ini?
Dan kemudian suara ketukan pintu terdengar, Sehun-lah yang duluan berdiri dan membuka pintu itu.
Dan kemudian dia terpana.
Jongin berdiri di sana dengan ekspresi datarnya yang biasa.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Thanks To:
MiOS/MinnieWW/Kim Sohyun/hanhyewon357/ /relks88/oh ana7/Kimoh1412/YunYuliHun/Nagisa Kitagawa
Haii semua :)
ini chap 6 nya.^^ mudah-mudahan typonya udah gak ada yah :D
hmm aku cuma mau bilang kalo aku bakalan susah buat update :( hikss..
laptop kesayangan udah mulai error. ini aja udah bersyukur karna bisa nyala + gk error.. mohon maklum yahh kalo aku bakalan update agak terlambat, heheh :v
oke sekian..
