EMBRACE THE CHORD (KaiHun)
Cast :
Jongin as Jason
Sehun as Rachel
Chanyeol as Calvin
Baekhyun as Anna
Kyungsoo as Arlene
Mr. Taemin as Mr. Isaac
Jongdae as David
Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sehun ternganga, benar-benar kaget akan kehadiran Jongin di depan pintu rumahnya, dengan penampilan santai yang luar biasa tampan.
Jongin tersenyum lebar, mengangkat kaca hitam yang dikenakannya dan menaruhnya di kepala, "Menjemputmu, kau pikir apa? Aku rasa murid khusus perlu diperlakukan istimewa."
"Tidak perlu, terimakasih." Sehun mengerutkan keningnya, masih teringat di benaknya kemarin lelaki itu menciumnya tanpa permisi. Jongin bukan hanya merebut ciuman pertamanya, lelaki itu juga merebut ciuman keduanya! Dan setelah itu Jongin berciuman dengan Kyungsoo pula seolah ciuman bibir adalah hal biasa untuknya. "Aku bisa berangkat sendiri ke kampus."
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, penting." Jongin masih tetap tersenyum, seolah tak peduli dengan sikap ketus Sehun.
Sehun membuka mulutnya hendak mengusir Jongin, tetapi kemudian suara mamanya menginterupsi di belakangnya,
"Siapa itu Sehun?" mamanya sudah muncul di belakang Sehun, dan kemudian tertegun senyap. Sehun bisa membayangkan ekspresi mamanya yang ternganga dan dia tak perlu menoleh ke belakang untuk memastikannya.
"Jongin?" suara mamanya penuh dengan rasa kaget, "Kenapa ada di sini pagi-pagi sekali?"
Jongin langsung menebarkan pesonanya, senyumannya memang dimaksudkan untuk meluluhkan hati perempuan manapun, tak terkecuali mama Sehun
"Selamat pagi nyonya, saya hendak menjemput Sehun."
Mama Sehun langsung luluh tanpa ampun, "Wah astaga, kau menjemput Sehun sendiri? ayo.. ayo masuklah kau pasti belum sarapan, ayo sarapan dulu."
"Mama, Jongin pasti sudah sarapan..."
"Wah menyenangkan sekali, kebetulan saya lapar." Jongin menyela, melemparkan pandangan penuh kemenangan kepada Sehun yang menatapnya dengan cemberut dan kesal, lalu setengah geli berjalan mendahuli Sehun memasuki rumahnya.
Mereka duduk di dapur itu, dan mama Sehun dengan tergesa menghidangkan telur orak-arik khas buatannnya dan waffle keju yang disirap dengan sirup mapple yang manis.
Jongin menerima piringnya dengan penuh rasa terimakasih, membuat Sehun mencibir karena menyangka lelaki itu berpura-pura hanya untuk mengambil hati mamanya. Tetapi kemudian Sehun melirik dan mengangkat alis melihat Jongin melahap makanannya dengan lahap seolah memang sangat menikmatinya.
Lelaki itu benar-benar menghabiskan makanannya, lalu meletakkan sendoknya dan tersenyum senang,
"Sarapan yang luar biasa enak, terimakasih nyonya." gumamnya mempesona, dan Sehun mengamati ibunya, menyadari bahwa mama-nya benar-benar tersipu-sipu! Astaga! pesona Jongin memang benar-benar tiada duanya!
"Kenapa kau begitu tidak menyukaiku?" Jongin pada akhirnya berhasil memaksa Sehun berangkat bersamanya dan masuk ke mobilnya, apalagi dengan dukungan mama Sehun yang sangat antusias.
Sehun melirik sedikit ke arah Jongin, kemudian langsung memalingkan muka. Astaga, meskipun dia tidak simpati dengan sikap pemaksa, arogan dan egois Jongin, tetapi ketampanan lelaki itu yang luar biasa memang tak tertahankan, membuatnya sesak napas.
"Aku tidak membencimu..." gumam Sehun pelan, tidak rela mengatakannya, karena jauh di dalam hatinya dia memang benar-benar tidak menyukai Jongin, di balik wajah tampannya, lelaki ini berbahaya, dia terkenal sebagai pematah hati perempuan. Oh ya, bakatnya bermain biola memang luar biasa dan begitu jenius, Sehun mengagumi kemampuan Jongin, tetapi bukan berarti dia bisa menerima sikap buruk Jongin.
Jongin sendiri tersenyum sinis, seolah tak percaya dengan kata-kata Sehun, "Baguslah kalau begitu." gumamnya, "Karena aku akan menjadi mentormu, dan seorang murid yang sukses adalah murid yang menghormati gurunya."
Lelaki itu menatap lurus ke depan, menjalankan kemudi dengan lancar, suasana hening sejenak hingga Sehun melirik ke arah Jongin, dan memberanikan diri bertanya,
"Katamu ada yang ingin kau katakan?"
"Apa?" Jongin melirik sedikit.
"Tadi kau bilang kau menjemputku karena ada yang ingin kau katakan?"
"Oh itu." Tatapan mata Jongin tampak misterius, "Aku berubah pikiran, nanti saja. Kau bisa melihatnya sendiri, akan kutunjukkan."
Sehun menatap Jongin dengan kesal, menyadari bahwa sikap Jongin memang seperti ini, suka berbuat seenaknya.
Ketika mobil mereka parkir di parkiran dan Sehun melangkah turun, Chanyeol kebetulan ada di sana dan sedang turun dari mobilnya.
Wajah dan senyum Sehun langsung cerah ketika melihat lelaki pujaan hatinya itu, dan itu tidak luput dari pengawasan Jongin,
"Chanyeol!" Sehun memanggil Chanyeol dengan bersemangat, membuat lelaki itu menoleh, sementara Sehun berjalan cepat, mengejar Chanyeol dan meninggalkan Jongin di belakangnya.
Jongin meringis, menyimpan senyum pahit kepada dirinya di dalam hatinya. Baru sekali ini seumur hidupnya, seorang perempuan yang berjalan bersamanya meninggalkannya untuk mengejar lelaki lain. Sehun benar-benar tidak mempan dengan pesonanya rupanya.
"Sehun?" Chanyeol menghentikan langkahnya, tersenyum lebar, kemudian matanya menatap ke arah Jongin yang berjalan tenang di belakang Sehun dan dia mengangkat alisnya, "Kau... kau datang bersama Jongin?"
Sehun mendekati Chanyeol, menoleh sedikit ke arah Jongin yang berjalan pelan di belakangnya, lalu berbisik, "Dia menjemputku tanpa peringatan ke rumah, mengambil hati mamaku sehingga mamaku mendorongnya ke mobilnya."
Chanyeol ternganga, "Jongin...? dia menjemputmu sendiri? wah kau memang benar-benar istimewa Sehun." senyum Chanyeol melebar ketika Jongin semakin dekat, dia menunduk sopan, "Selamat pagi Sir." sapanya tak kalah sopan.
Jongin hanya mengangkat alisnya, mengamati Chanyeol yang begitu sopan dan kemudian berganti ke arah Sehun yang cemberut menatapnya, lalu tersenyum, "Selamat pagi, sampai bertemu nanti di kelas." lelaki itu menoleh ke arah Sehun, menatapnya dengan intens, "Jangan lupa, kau harus tinggal 3 jam untuk pelatihan khusus bersamaku, setelah pelatihan sesi kelas nanti."
Setelah mengucapkan kalimat arogan itu dan tanpa menunggu Sehun menjawab, Jongin melangkah pergi.
Kelas khusus memang luar biasa, Jongin benar-benar melatih dua puluh anak terpilih dengan metode yang pribadi, mengenali setiap siswa, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan akurat hanya dengan sekali mendengarkan permainan, dan kemudian melakukan koreksi dan mengeluarkan bakat yang belum tergali.
Hanya dalam satu sesi, permainan murid-murid khusus di kelas itu menjadi lebih baik. Jongin ternyata bukan hanya pemain biola yang jenius, dia juga mentor yang luar biasa.
"Aku baru menyadari bahwa posisi sikuku yang biasa menghambat gesekanku ketika mencapai nada tinggi." Chanyeol berbisik di telinga Sehun ketika sesi pelatihan mereka hampir selesai, "Luar biasa... aku dan orang-orang di sekitarku bahkan tidak menyadarinya, tetapi dia langsung tahu apa yang kurang dari permainanku hanya dari beberapa menit mendengarkannya."
Chanyeol tampak benar-benar kagum kepada Jongin, dan ketika Sehun hanya menganggukkan kepalanya, Chanyeol merangkul Sehun penuh sayang,
"Pelatihan sudah hampir selesai, dan hanya dalam satu sesi dia memperbaiki permaikanku menjadi luar biasa, kau benar-benar beruntung Sehun bisa mendapatkan sesi tambahan khusus bersamanya."
Sehun menatap Chanyeol mencoba tersenyum, yah semua orang terus dan terus mengatakan betapa beruntungnya Sehun, jadi yang bisa dilakukan Sehun hanya tersenyum dan mencoba bersikap seperti seseorang yang tahu terimakasih.
"Setelah ini kau akan kemana?" ini hari Senin, biasanya Chanyeol akan mengajak Sehun makan malam bersamanya setiap Senin, lalu mereka akan menonton film baru di bioskop. Ya, sejak dulu, hari Senin memang hari Sehun bersama Chanyeol.
Chanyeol menatapnya dengan menyesal, "Aku tahu Senin adalah hari kita bersenang-senang, tapi sekarang kau tidak bisa pergi karena masih ada sesi tiga jam bersama Jongin..." senyum Chanyeol melebar, "Jadi aku mengajak Baekhyun jalan, kami akan makan steak dan kemudian nonton."
Dan sekali lagi, Chanyeol mematahkan hati Sehun tanpa lelaki itu menyadarinya... tiba-tiba Sehun sangat ingin lari saja, kembali ke kamarnya lalu menangis keras-keras dan tidak perlu mengikuti sesi latihan 'keberuntungannya' bersama Jongin.
"Hentikan." Jongin bergumam tajam, menyuruh Sehun menghentikan permainan biolanya. Mereka sudah berdua saja sekarang di ruangan itu. Dan Jongin menyuruh Sehun memainkan kembali Bach's Chaconne yang dimainkannya kembali bersama Jongin, kali ini solo bukan duet.
Sehun menghentikan permainannya dan langsung bertatapan dengan mata tajam Jongin.
"Apa yang mengganggu pikiranmu? Bach's Chaconne seharusnya membawa perasaan pemujaan, kenangan akan isteri tercinta, alunannya bisa membawa kita mengenang akan cinta sejati dua anak manusia. Tetapi yang kudengar dari permainanmu sekarang adalah sakit hati yang pedih dan menyanyat-nyayat, berbeda sekali dengan permainanmu kemarin." Jongin berdiri di depan Sehun, menatap tajam ke arah Sehun yang terdiam, kemudian mengulurkan jemarinya dan meraih dagu Sehun yang menunduk, "Apa yang mengganggu pikiranmu, Sehun?"
Sehun memalingkan mukanya, melepaskan diri dari jemari Jongin di dagunya, "Tidak.. bukan apa-apa, maafkan aku, kurasa aku hanya lelah."
"Lelah?" Jongin mengangkat alisnya, "Ini bukan gara-gara Chanyeolmu bukan?"
Pipi Sehun langsung memerah dan Jongin tidak memerlukan jawabannya, dia menghela napas panjang, tampak kesal,
"Anak remaja dan pencarian cintanya." lelaki itu bergumam menghina tidak mempedulikan pelototan tersinggung Sehun, "Aku hanya berusaha mengembangkan kemampuanmu dan kau malahan berkutat dengan cintamu yang bertepuk sebelah tangan." Jongin membalikkan tubuhnya, "Kemasi biolamu, kurasa kita tidak akan bisa latihan malam ini."
Sehun terpaku, Apakah Jongin menyuruhnya pulang? apakah pada akhirnya lelaki itu menyadari bahwa Sehun ternyata tidak berbakat dan melatihnya adalah hal yang sia-sia.
Tiba-tiba ada penyesalan yang mengganggu Sehun, tetapi dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan menghilangkan pikiran itu. Ini yang diharapkannya bukan? Bahwa Jongin akan melepaskannya dan tidak memaksanya mengikuti pelatihan khusus yang sudah ditolaknya?
Ternyata Jongin tidak membawanya pulang, mobilnya mengarah ke pinggiran kota, lalu berhenti di sebuah cafe yang ramai, di sana ada pertunjukan life music, konser mini band yang suaranya berdentam-dentam sampai ke luar.
Pengunjung cafe itu banyak sekali, beberapa adalah remaja seumuran Sehun, laki-laki dan perempuan, semua berdesak-desakan, meluber sampai ke luar pintu cafe,
"Kita ada di mana?" Sehun menoleh ke arah Jongin, kebingungan.
Jongin hanya tersenyum simpul, dan melirik ke arah Sehun, "Ini yang akan kutunjukkan kepadamu. Selama ini kau pasti mengira aku adalah pemain musik klasik yang kolot, yang arogan, sombong dan tidak menghargai kemampuan orang lain di bawahku. Mungkin dengan ini kau bisa melihat bahwa pemain musik klasik, khususnya pemain biola sepertiku, kadangkala bisa juga bersikap seperti manusia biasa." Senyumnya melebar, lalu turun dari mobil, "Ayo Sehun, turun."
Sehun masih menatap bingung, tetapi kemudian dia turun juga, dan tidak bisa menolak ketika Jongin menggandeng tangannya. Mereka melangkah melalui pintu belakang yang dijaga, sepertinya mengarah khusus ke bagian belakang panggung konser mini itu.
Penjaga itu ternyata mengenali Jongin, senyumnya melebar,
"Kau datang juga Jongin." sapanya ramah.
Jongin menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Tentu saja, aku tidak akan melewatkan acara ini. Apakah Jongdae sudah di dalam?"
"Jongdae dan semuanya sudah menunggu di dalam." Penjaga itu menoleh ke arah Sehun yang ada dalam gandengan Jongin, kemudian mengangkat alisnya, "Selera baru, eh?"
Jongin tertawa, mengedipkan sebelah matanya, "Kadang-kadang aku senang mencicipi daun muda." gumamnya dalam tawa, tidak mempedulikan pipi Sehun yang merah padam ketika lelaki itu setengah menyeretnya masuk ke dalam gedung itu.
"Jongin." seorang lelaki tampan dengan tampilan anak band langsung menyambut Jongin, "Kau datang juga, kami tidak sabar menanti pertunjukanmu yang spektakuler."
Pertunjukan Jongin yang spektakuler?
Sehun mengerutkan keningnya. Apakah Jongin akan bermain biola di sini? Tetapi... tidak cocok untuk dimainkan di sini bukan? musik band yang keras dan berdentam di luar sana dan teriakan penonton yang antusias tentu saja jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka bukan penggemar musik klasik...
"Aku senang memiliki waktu untuk memberikan pertunjukan yang spektakuler di sini, Jongdae." Jongin tersenyum, "apakah semuanya sudah siap?'
"Tentu saja kami selalu siap untukmu." Lelaki bernama Jongdae itu memberikan reaksi yang sama seperti penjaga di depan ketika melihat Sehun, mengangkat alisnya skeptis, "Selera baru Jongin? tidak kusangka kau juga memangsa gadis-gadis muda."
Jongin tertawa. "Jangan ganggu dia Jongdae, dia bukan korbanku, dia muridku, aku minta orangmu untuk menjaga dia selama aku tampil." Lalu tanpa berkata-kata, Jongin melangkah masuk ke ruang musik, Sehun terbirit-birit mengikutinya, dia tidak mau tersesat di tempat yang tidak dikenalnya ini, tempat yang hingar bingar dan sangat ramai.
"Kau akan bermain biola?" tanya Sehun tergesa.
Jongin menoleh, menatap Sehun dan mengangkat alisnya, "Biola? tentu saja tidak, aku akan bermain gitar." Lelaki itu lalu meraih gitar hitam pekat yang ada di kotak di sana, kemudian memasang ke tubuhnya.
"Kau bermain gitar? kau bermain band?" itu adalah sisi lain yang tidak pernah dibayangkan oleh Sehun sebelumnya, dia selalu membayangkan Jongin sebagai seorang pemain biola klasik, berdiri di tengah orkestra megah, diantara para penonton yang memenuhi seluruh kursi sampai ke tribun kehormatan, mengenakan tuxedo klasik lalu menggesek biola di pundaknya dan memainkan nada musik klasik dengan indah dan sempurna.
Jongin yang ada di depannya ini sekarang berpenampilan acak-acakan, santai, dan memasang gitar hitam di tangannya... dan seorang pemain band!
Sebelum Sehun sempat berkata-kata, ada suara riuh rendah di antara penonton di panggung depan. Jongin tersenyum,
"Itu panggilan untukku, tetap di sini dan nikmatilah musikku, Sehun." Jongin mengedipkan sebelah matanya, lalu melangkah ke luar panggung.
Begitu lelaki itu memasuki panggung, suara-suara histeris langsung terdengar, terutama dari para wanita. Jongdae yang rupanya vokalis band itu memperkenalkan seluruh anggotanya, diiringi teriakan-teriakan dan tepuk tangan yang riuh rendah.
Sehun berdiri di tepi panggung, menatap ke arah Jongin yang tampak luar biasa tampan di bawah sinar lampu panggung. Ini Jongin yang berbeda...sangat berbeda dari apa yang ditampilkannya.
Kemudian musik dimainkan, Jongin memetik gitarnya dan Sehun ternganga...
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Thanks to:
MinnieWW, Kim Sohyun, ohsanie, relks88, sehuniesm, hanhyewon357, , Cho Hyunjo, , AwKaiHun, inasaragi
makasi yang berkenan review, fav, fol. makasih juga buat yang masih berkenan baca walau belum sempar review..
duhh kayaknya aku telat sehari yah.. maaf banget. aku emng lagi mengusahakan agar gak bakalan telat lagi. laptop aku error tapi beruntung bisa minjem punya mama :D hehehe :v
oh ya, kemaren di kolom review ada yang panggil aku thor :v duhh kan udah aku bilang jangan panggil aku thor. aku gak pernah bawa palu yeth :v panggil aja esy, bebeb, chingu, say, honey, chagi, yeobo. aku ngerasa aneh aja ada yang manggil aku thor :v kan aku cewek, sedangkan thor yg di avenger itu cowo. kan gak lucu kalo aku sama dia tukeran tempat :D
oke sekian dan terima review^^
BYE BYE :*
