EMBRACE THE CHORD (KaiHun)

Cast :

Jongin as Jason

Sehun as Rachel

Chanyeol as Calvin

Baekhyun as Anna

Kyungsoo as Arlene

Mr. Taemin as Mr. Isaac

Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.

.

.

.

Luar biasa...

Bukan hanya ketampanannya saja yang mendominasi seluruh panggung, membuat seluruh perempuan yang berdiri di depan panggung, mayoritas utama penonton berteriak-teriak histeris di tengah hingar bingarnya musik.

Sehun bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ternganga, karena ternyata kepandaian Jongin bermain gitar tidak kalah dengan kehebatannya bermain biola. Sehun memang bukan ahlinya tentang permainan gitar, dia mungkin bisa menilai dengan mudah permainan piano atau biola seseorang, tetapi alat-alat musik di genre musik pop dan band sama sekali bukan keahliannya. Meskipun begitu Sehun bisa tahu bahwa permainan gitar Jongin sangat bagus, lelaki itu memainkan musiknya dengan begitu mahir.

Lama kemudian Sehun terlarut dalam hingar bingarnya suasana, band terus memainkan musik yang penuh energi, membawa penonton ke dalam suasananya dan semuanya terhipnotis dengan kemampuan bermain gitar Jongin yang berpadu dengan suara vokal David yang merdu.

Luar biasa... Sehun tidak menyadari bahwa musik dengan aliran lain bisa seindah ini, dia selalu menganggap bahwa musik klasik adalah yang terindah... ternyata musik aliran lain, kalau dimainkan dengan sepenuh hati, akan menciptakan nada yang sama indahnya.

Lamunan Sehun tersentak oleh gemuruh tepuk tangan yang membahana, semua penonton berteriak-teriak histeris di bawah panggung, dan dilihatnya Jongin dan rekan band-nya membungkukkan badan kepada seluruh penonton, membuat mereka semua semakin histeris.

Jongin berjalan ke arah samping panggung, tempat Sehun masih berdiri dan terpaku, senyumnya melebar, lelaki itu hendak menghampiri Sehun ketika salah seorang penonton yang histeris nekad naik ke panggung,

"Jongin!" teriak perempuan itu dengan tatapan mata memuja, lalu tanpa disangka-sangka, perempuan itu merangkulkan lengannya di leher Jongin dan mencium bibirnya dengan sekuat tenaga.

Para pengawal di luar panggung langsung menarik perempuan itu, berusaha memaksanya turun. Perempuan itu meronta, menatap ke arah Jongin dan berkali-kali meneriakkan kata-kata cinta dan pemujaan kepada lelaki itu, membuat Jongin hanya tersenyum geli dan terus melangkah ke arah Sehun.

"Bagaimana permainanku?" Jongin masuk ke samping panggung, berdiri dengan begitu arogan seolah-olah Sehun wajib memujinya, sementara itu Sehun mengamati Jongin dan mengernyitkan keningnya. Ada bekas lipstick di seluruh bibir Jongin, bekas lipstick dari perempuan yang tadi menciumnya... oh ya ampun, lelaki ini memang terbiasa sembarangan berciuman dengan siapa saja!

"Menurutku menarik." jawab Sehun sekenanya.

Jongin mengangkat alisnya, "Menarik? hanya itu?"

Tatapan Sehun tampak tidak bersahabat, "Memangnya kau mengharapkan pujuan seperti apa? bukankah kau sudah banyak menerima pujian dari semua orang? masih belum puaskah?"

Jongin tertawa, lalu menatap Sehun penuh makna, "Kenapa kau begitu membenciku Sehun? sejak awal mula sepertinya kau selalu terdorong untuk menentangku." lelaki itu berjalan ke area belakang panggung, langsung menuju pintu belakang, membuat Sehun terpaksa mengikutinya, dan tetap diam saja, mencoba pura-pura tidak mendengar perkataan Jongin.

Ya, dia sendiri tidak tahu kenapa dia bersikap antipati kepada lelaki itu, mungkin karena kearoganan Jongin, mungkin karena sikapnya yang tidak menghormati perempuan, atau mungkin juga karena aura lelaki itu terasa mengancam. Jongin terlalu tampan, terlalu mempesona dan tidak segan-segan menguarkan seluruh pesonanya itu kepada perempuan manapun. Tetapi Jongin berbahaya, dari seluruh reputasi yang didengar oleh Sehun dia menyadari bahwa Jongin jahat kepada perempuan, dia selalu memainkan hati mereka, membuat para perempuan itu menyadari bahwa mereka sudah menaklukkan Jongin, membuat para perempuan itu bermimpi sampai terbang tinggi, dan kemudian langsung menghempaskan mereka begitu saja dengan hati hancur. Dibalik sikap ramah dan pesonanya, Jongin adalah seorang pembenci perempuan. Dan Sehun ketakutan akan menjadi salah seorang perempuan calon korban Jongin, tergila-gila akan pesona lelaki itu hanya untuk dihancurkan begitu saja. Jadi, sikap ketus dan menjauhnya, mungkin adalah estimasi dari pertahanan dirinya terhadap lelaki itu.

Tetapi tentu saja Sehun tidak akan bisa menjelaskan hal itu kepada Jongin bukan?

Jongin sendiri melirik ke arah Sehun yang hanya diam sambil mengikutinya, dia lalu mengangkat bahunya dan tersenyum skepstis,

"Ah, sudahlah. Ayo kita pulang." gumamnya sambil melangkah cepat-cepat menuju parkiran, membiarkan Sehun mengikutinya.

"Kau tahu kenapa aku mengajakmu melihatku bermain gitar bersama band?" Jongin meliirik ke arah Sehun yang duduk di sebelahnya, dia melajukan mobilnya dengan tenang, menembus kegelapan malam yang semakin kelam.

Sehun mau tak mau menatap ke arah Jongin, "Supaya aku tahu bahwa seorang pemain musik harus bisa memainkan musik apa saja?"

Jongin terkekeh, "Tidak tepat seperti itu, Sehun. Aku hanya ingin mengajarkan kepadamu, bahwa musik yang indah tidak hanya dihasilkan oleh penguasaan teknik dan keahlian. Asalkan kau punya hasrat untuk memainkannya, dan kau bisa menghanyutkan perasaanmu ke dalam permainanmu, kau akan bisa menghasilkan musik yang indah, entah itu dengan biola atau sebuah gitar, entah itu di musik klasik atau aliran kontemporer."

"Apakah kau selalu seperti itu? hanyut dalam perasaanmu ketika membawakan musikmu?"

"Tentu saja." mata Jongin berubah dalam, "Aku adalah pemain yang emosional, ketika aku marah biasanya aliran musikku akan terdengar penuh kemarahan, ketika aku sedih aliran musikku akan terdengar penuh kesedihan. Kau tahu, sebenarnya itu salah satu kelemahanku, dulu aku sangat hebat bermain biola, tetapi aku tidak mampu menjaga emosiku dalam permainanku sehingga nada yang dihasilkan tidak pernah benar." Jongin tersenyum tipis, "Lalu aku bertemu dengan salah satu mentorku di italia, dia melatihku supaya membalikkan visiku, aku tidak memasukkan emosiku ke dalam musikku, tetapi aku harus bisa memasukkan emosi yang ada di musik itu ke dalam perasaanku." Tatapan Jongin berubah serius, "Permainanmu semalam begitu penuh kesedihan, penuh emosi dan sakit hati, kau memasukkan perasaanmu ke dalam permainanmu, membuatnya terasa tidak pas dengan musik yang kau mainkan... sama persis dengan diriku di waktu lampau. Aku hanya ingin memperbaikimu Sehun."

Sehun terdiam, menyadari kebenaran kata-kata Jongin. Emosi dan permainan musik memang sangat berkaitan, apalagi untuk permainan biola yang membawakan pesan emosi... Sehun memang harus banyak berlatih...

Detik itulah Sehun sadar, bahwa di balik sikap arogan dan tidak menyenangkannya, Jongin benar-benar serius ingin mengajarinya bermain biola dengan serius.

Yah,... mungkin Jongin tidak sejahat yang Sehun kira. Mungkin semua kesan Sehun terhadap Jongin selama ini salah..

"Kata mamamu kau pulang sampai tengah malam bersama Jongin." Chanyeol bergabung bersama Sehun di sofa rumah Sehun sementara Sehun sedang sibuk melahap mie goreng untuk makan siangnya. Hari ini mereka libur latihan karena tanggal merah, dan Sehun juga merasa amat capek semalam, pulang begitu larutnya di malam hari hingga dia baru bangun tengah hari.

Mama Sehun menunggu dengan cemas ketika mereka pulang kemarin, sudah siap mengomel ketika akhirnya Sehun mengetuk pintu pukul dua belas malam. Tetapi kemudian Jongin langsung muncul di belakang Sehun, dan seperti biasa menebarkan pesonanya ketika meminta maaf kepada mama Sehun dan menjelaskan bahwa mereka mengajak Sehun untuk menonton konser yang diharapkan bisa menambah pengetahuan Sehun. Dan seperti yang sudah diduga, mama Sehun langsung luluh dengan pesona Jongin, bukannya memarahi Jongin karena memulangkan anak gadisnya setelah larut malam, mama Sehun malahan mengucapkan terimakasih kepada Jongin.

Bibir Sehun mengerucut tidak senang membayangkan sikap mamanya kemarin, membuat Chanyeol mengangkat alisnya,

"Sehun, kau mendengar perkataanku tadi?"

Sehun menoleh menatap Chanyeol tertarik dari lamunannya dan mengangkat alisnya, "Memangnya kau tadi bertanya apa?"

Chanyeol terkekeh, "Dasar." jemarinya dengan lembut mengusap kepala Sehun, seperti yang selalu dia lakukan sejak Sehun kecil, membuatnya merasa damai dan nyaman, "Aku dengar dari mamamu, kau pulang sampai larut tengah malam, mamamu sempat menelepon ke rumah menanyakan apakah kau bersama aku, tentu saja aku ikut cemas. Tadi pagi aku menelepon dan mamamu yang mengangkat, beliau bilang kau masih tidur karena semalam kau pulang lewat tengah malam bersama Jongin." Tatapan Chanyeol tampak menyelidik, "Apa yang Jongin lakukan kepadamu, Sehun?"

Sehun menatap Chanyeol bingung, "Apa maksudmu?"

"Maksudku.." Chanyeol tampak salah tingkah, "Well kau kan tahu reputasi Jongin sebagai penakluk perempuan, dia kan berbahaya bagi perempuan manapun, dan kau kau masih terlalu muda dan polos dibanding Jongin yang sudah dewasa dan berpengalaman, aku cemas dia akan mempermainkanmu." Kali ini wajah Chanyeol berubah serius, "Katakan padaku, dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu, bukan?"

Sehun hampir saja tersedak mie yang dikunyahnya mendengar kata-kata Chanyeol, tetapi kemudian dia tertawa,

"Chanyeol... yang benar saja!" Sehun terkekeh, meletakkan piring mie-nya yang tiba-tiba saja terasa tidak menarik lagi, "Mana mungkin Jongin mengincarku sebagai korbannya, kau tahu sendiri seleranya adalah perempuan-perempuan lebih tua, dari kelas atas dan kaya raya...mana mungkin dia melirikku anak ingusan yang baru berusia delapan belas tahun?"

"Tetapi semalam kalian pulang larut, bukankah idealnya latihan itu selesai jam sepuluh malam?" Chanyeol mengerutkan dahinya.

Sehun menatap Chanyeol dan tiba-tiba saja dadanya terasa hangat, Chanyeol begitu tampan, dan lelaki itu mencemaskannya. Yah, setidaknya dengan kehadiran Baekhyun di antara mereka, lelaki itu tidak benar-benar melupakannya.

"Kami melihat konser Jongin yang lain..." gumamnya tenang.

"Konser? maksudmu Jongin mengadakan konser? Yang mana? kalau dia ada konser resmi pasti aku tahu?"

"Bukan konser biola." Sehun tersenyum, "Dia bermain gitar bersama band."

Chanyeol langsung terperangah, "Gitar? dia bermain gitar?" informasi itu pasti terasa mengejutkan buat Chanyeol. Lelaki itu bahkan sampai menggelengkan kepalanya, "Astaga itu sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga, Jongin pasti berhasil merahasiakan kegiatan sampingannya selama ini... bermain gitar di sebuah band... astaga..."

"Dan permainan gitarnya sangat bagus." Sehun tersenyum simpul, tetapi kemudian mendapati Chanyeol menatapnya dengan sangat serius,

"Sehun, dia memberitahumu rahasia ini, entah kau ini murid istimewanya atau dia punya maksud lain... aku mau kau berhati-hati Sehun, jangan sampai jatuh ke dalam pesonanya..." dengan lembut, sekali lagi Chanyeol mengusap rambut Sehun, "Kau tahu aku sangat menyayangimu seperti adik kandungku sendiri, aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu, atau sampai ada yang mematahkan hatimu."

Kata-kata Chanyeol selanjutnya sudah tidak terdengar lagi di telinga Sehun. Hanya satu kata yang ditangkap oleh Sehun,

Adik..?

Bahkan hanya dengan kata-kata itu, tanpa disadari, Chanyeollah yang telah mematahkan hati Sehun.

*
Jongin meletakkan biolanya dan mengerutkan kening ketika mendengar ponselnya yang diletakkan dimeja berdering, dia mengerutkan bibirnya kesal melihat siapa yang menelepon, dan setelah menghela napas panjang, dia mengangkatnya,

"Ada apa Kyungsoo?"

"Kudengar kau bersama perempuan ingusan itu sampai malam."

Ledakan kecemburuan lagi.

Jongin tersenyum sinis, sepertinya memang sudah waktunya dia menghancurkan Kyungsoo. Perempuan itu mulai terlalu percaya diri, bukan hanya merasa bahwa Jongin adalah miliknya, tetapi juga bersikap posesif yang keterlaluan. Jongin pernah memergoki Kyungsoo sedang memeriksa seluruh isi ponselnya.

Rasanya akan sangat nikmat ketika menghancurkan hati Kyungsoo yang sudah begitu mencintainya sepenuh hati. Jongin tersenyum jahat, membayangkan bahwa Kyungsoo mungkin akan setengah gila kalau Jongin memutuskannya begitu saja.

"Darimana kau tahu kabar itu Kyungsoo? apakah kau menguntitku kemarin?"

"Tidak." Kyungsoo tampak malu mendengar kata-kata Jongin, "Bukan menguntitmu, aku semalam mencoba menghubungi ponselmu, tetapi kau tidak mengangkatnya, jadi aku berinisiatif menelepon kampus tempat kau mengajar kelas khusus. Penjaga kampus bilang kelasmu sudah selesai, dan dia melihat kau pergi bersama perempuan ingusan itu."

"Sehun. Dia punya nama Kyungsoo, jangan menyebutnya dengan 'perempuan ingusan'." Jongin menyela tajam, tetapi Kyungsoo tidak mau menyerah,

"Yah siapapun namanya, aku tidak peduli." suaranya merendah, "Yang pasti dia masih ingusan, masih kecil Jongin, akan sangat memalukan kalau kau memberikan perhatian lebih kepadanya dan dia nanti jadi tergila-gila kepadamu, kau tahu bukan perasaan remaja masih sangat labil?"

Tanpa sadar Jongin tersenyum tipis, tidakkah Kyungsoo menyadari bahwa dia sendirilah yang tampak seperti remaja dengan emosi yang labil?

"Sudahlah." Tiba-tiba Jongin sampai di keputusan bahwa waktunya untuk Kyungsoo sudah berakhir, "Kau ada waktu untuk makan malam bersama nanti?"

"Tentu saja." Kyungsoo setengah menjerit, tidak bisa menyembunyikan kegirangan dalam suaranya, "Jemput aku jam tujuh ya, aku akan berdandan secantik mungkin, dan setelah makan malam kau bisa tinggal di rumahku, aku akan memberikan hadiah spesial untukmu." suaranya menjadi seksi, rendah merayu dan penuh arti.

Mereka makan malam bersama di sebuah restoran romantis yang elegan. Jongin tidak akan tanggung-tanggung memilih tempat untuk mematahkan hati perempuan, dia akan melambungkan perasaan Kyungsoo dulu sebelum menghancurkannya.

Kyungsoo berdandan secantik mungkin tentu saja, dengan gaun ungu gelapnya yang tampak kontras dengan kulitnya yang putih dan berkilauan, rambutnya ditata kebelakang dan kalung permata di lehernya membuat penampilannya seperti puteri raja.

"Kau sangat cantik malam ini Kyungsoo." Jongin menyesap anggurnya, mereka sudah selesai makan malam dan memutuskan untuk duduk sebentar dan bersantai menikmati anggur.

Kyungsoo tersenyum merayu kepada Jongin, "Aku berdandan hanya untukmu Jongin... dan seperti janjiku di telepon tadi, kau bisa menginap di rumahku kalau kau mau malam ini, aku akan memberikan malam yang luar biasa untukmu." suaranya rendah, merayu, penuh godaan.

Tentu saja Jongin tidak tergoda. Dia hanya meletakkan anggurnya dan menatap Kyungsoo dengan datar,

"Maafkan aku tidak bisa." Matanya menatap tajam, membuat Kyungsoo tiba-tiba merasa cemas, Jongin tidak pernah tampak seserius ini sebelumnya, "Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita Kyungsoo."

Kyungsoo ternganga mendengar kata-kata Jongin, mulutnya membuka tetapi tidak ada suara yang keluar, wajahnya memucat.

"Apa maksudmu Jongin?"

"Kau tahu jelas apa maksudku." Ada kilatan kejam di mata Jongin. Kilatan yang selama ini berhasil disembunyikannya, meskipun sekarang tak perlu lagi. Jongin sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan muaknya ketika menatap Kyungsoo.

Kyungsoo tentu saja mengerti arti tatapan itu, dia shock, bingung dan semua perasaan sesak langsung memenuhi dadanya. Tatapan Jongin kepadanya bukan tatapan lembut dan penuh cinta seperti sebelumnya. Itu tatapan kejam, penuh rasa muak dan kebencian?

Astaga... selama ini dia berpikir bahwa dirinya sudah berhasil menaklukkan Jongin, membuat lelaki itu pada akhirnya berlabuh. Reputasi Jongin sebagai penghancur perempuan memang menakutkan, tetapi bukankah selama ini Jongin seolah sudah takluk kepadanya?

Atau jangan-jangan Jongin sudah merencanakannya? Menjadikannya korban... sama seperti perempuan-perempuan lainnya?

"Kau mencampakkanku, Jongin?" akhirnya Kyungsoo berkata-kata, bibirnya bergetar hampir menahankan air mata.

Jongin tersenyum, "Tepat sekali Kyungsoo, waktuku untukmu sudah berakhir. Perlu kau tahu aku tidak pernah tertarik kepadamu, kau sama seperti perempuan lainnya, hanya menimbulkan rasa muak di hatiku."

"Tidak mungkin!" Kyungsoo mencoba membantah, setengah menjerit, tidak mempedulikan beberapa orang di restoran itu yang menoleh kepada mereka, "Kau mencintaiku Jongin, aku yakin itu, sikapmu kepadaku, pelukanmu, kelembutanmu ketika menciumku, itu semua penuh cinta!"

"Jangan mencoba menipu dirimu sendiri Kyungsoo, kau tahu aku sangat pandai bersandiwara." Jongin beranjak berdiri dan menatap Kyungsoo dengan dingin, "Aku rasa kau bisa pulang naik taxi, dan karena hubungan kita sudah berakhir, jangan harap aku mau menjadi pendampingmu lagi." Dengan senyumannya yang terakhir Jongin membalikkan badan meninggalkan Kyungsoo.

"Ini semua karena perempuan ingusan itu bukan?" Suara teriakan Kyungsoo itu menahankan langkah Jongin, Jongin membalikkan badan dan menatap Kyungsoo gusar.

"Tidak ada hubungannya dengan Sehun. Namanya Sehun, Kyungsoo." Bibir Jongin menipis, "Aku tertarik kepadanya hanya karena dia sama sepertiku, jenius dalam bermain biola. Dia istimewa." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jongin membalikkan badan dan berlalu, meninggalkan Kyungsoo duduk di sana, penuh rasa malu dan berurai air mata.

Kyungsoo duduk di sana dengan mata membara. Dia masih tidak percaya Jongin meninggalkannya begitu saja. Begitu kejamnya!

Dan ini semua pasti karena perempuan itu. Jongin memang membantah, tetapi Kyungsoo yakin, sikap Jongin kepadanya berubah setelah perempuan ingusan itu muncul.

Sehun istimewa karena dia pandai bermain biola, sama seperti Jongin.

Tiba-tiba mata Kyungsoo menyala jahat.

Baiklah. Dia akan menghancurkan keistimewaan Sehun itu, agar Sehun tidak menarik lagi di mata Jongin!

.

.

.

TBC

.

.

.

Big thanks to:

exoL94, Kimoh1412, oh ana7, ohsanie, sehuniesm, Cho Hyunjo, MinnieWW, relks88, hanhyewon357, Kim Sohyun.

Haloooooo!

aku fast update nih.. fic aku yang satunya juga udah di update :D *promosi*

hmmm aku udah gk tau harus ketik apalagi :v

sekian^^

Dont forget to RnR