EMBRACE THE CHORD (KaiHun)
Cast :
Jongin as Jason
Sehun as Rachel
Chanyeol as Calvin
Baekhyun as Anna
Kyungsoo as Arlene
Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.
.
.
.
Kyungsoo melepaskan jemarinya dari pisau lipat kecil di tasnya.
Tidak. Dia tidak boleh terbawa emosi dan berbuat bodoh yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Kyungsoo memang selalu membawa pisau kemana-mana sejak peristiwa percobaan perampokan yang pernah menimpanya. Pisau itu memberinya rasa aman, dan seharusnya hanya dipakai untuk melindungi dirinya. Kyungsoo tidak akan menggunakan pisau itu untuk melukai Sehun. Kalau dia ingin mencelakakan Sehun maka itu tidak akan dilakukan dengan tangannya sendiri, tangannya harus benar-benar bersih...
Orang lainlah yang akan melakukan untuknya.
Kyungsoo kemudian menekan nomor ponsel yang sangat dikenalnya, nomor ponsel seorang teman sekaligus pesuruhnya yang setia, karena Kyungsoo selalu memberikan bayaran yang besar kepadanya. Suara di seberang langsung menjawab pada deringan kedua.
"Kyungsoo." Terdengar suara yang dalam dan tenang, Kyungsoo bahkan bisa membayangkan senyum lebar orang diseberang sana.
"Tao." Setengah berbisik Kyungsoo memanggil nama lawan bicaranya itu, "Aku ingin kau melakukan seuatu untukku nanti."
Acara makan malam itu berlangsung elegan dan menyenangkan, banyak orang-orang penting dari dunia musik klasik yang datang, dan Sehun beruntung bisa berkenalan dengan beberapa di antara mereka. Tentu saja kalau dia tidak kemari bersama Jongin, dia tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Jongin mengenal hampir semua orang di ruangan ini, dan bahkan dikenal oleh seluruh orang di ruangan ini.
Sehun melihat bahwa beberapa orang melemparkan tatapan kagum kepada Jongin. Yah... lelaki ini tampak berbeda kalau berada di depan umum, Jongin tersenyum sopan dan lembut kepada semua orang yang menyapanya, menanggapi setiap pertanyaan atau sapaan dengan penuh perhatian, bisa dikatakan lelaki ini tampak.. dewasa.
Selama ini yang ada di benak Sehun adalah Jongin yang tukang memaksa, tukang cium sembarangan, tidak sopan dan suka memaksakan kehendaknya.,,,
Kalau begitu, manakah dari dua sisi yang ditampilkan Jongin ini yang merupakan kepribadian aslinya?
"Kita akan tampil setelah makan malam." Jongin sedikit menundukkan kepalaya, berbisik pelan di telinga Sehun. Dengan lengannya yang masih melingkari pinggang Sehun, mereka berdua terlihat benar-benar intim. Dan sayangnya mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka, sama-sama cemburu.
Tiba-tiba Sehun mengingat musik yang akan mereka mainkan dan mengerutkan keningnya,
"Kenapa di antara semua musik yang ada, kau memilih untuk memainkan itu?"
"Memilih apa?" Jongin menganggukkan kepalanya kepada seorang tamu yang menyapanya dari kejauhan, lalu dia memfokuskan pandangannya kepada Sehun sambil mengangkat alisnya.
Pipi Sehun langsung memerah menerima tatapan itu, "Lagu itu... maksudku..."
Mata Jongin langsung berbinar, "Itu adalah melodi yang indah, cocok untuk dimainkan di malam yang juga indah ini... apakah judulnya yang mengganggumu? Beethoven Violin Romance hmm? Kau tidak sedang berpikir bahwa aku sengaja membuat kita tampak seperti sepasang kekasih bukan?"
Sekarang pipi Sehun benar-benar merah padam.
"Aku... aku akan ke kamar mandi dulu." Sehun melepaskan diri dari pegangan Jongin dan terbirit-birit masuk ke kamar mandi.
Jongin sedang meminum gelas anggur keduanya, bersandar di dekat jendela di salah satu sudut yang sepi, berusaha menghindari keramaian pesta sambil mengamati tamu-tamu yang berkerumun dan asyik bercakap-cakap satu sama lain.
Sebentar lagi mereka akan masuk ke ruangan besar untuk acara makan malam formal, dan setelah itu dia akan bermain biola bersama Sehun.
Bibir Jongin menyunggingkan senyum tipis penuh rasa ironi.
Ini gila. Rasanya seperti dia ketagihan bermain biola bersama Sehun. Ketagihan berdiri di sana mengimbangi nada-nada indah yang dihasilkan oleh gesekan alami Sehun.
Dia sendiri tidak menyangka akan melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti itu, mengancam Sehun dengan sebuah foto. Foto Sehun yang sedang mengecup dahi Chanyeol dengan penuh cinta.
Sehun yang bodoh dan bertepuk sebelah tangan, tidakkah dia menyadari bahwa dia membuang-buang waktunya dengan mengharapkan Chanyeol? Seorang lelaki yang bahkan tidak pernah melirik Sehun sebagai seorang perempuan.
"Kau datang dengannya."
Suara itu tiba-tiba saa sudah muncul di sebelah Jongin. Membuat Jongin menoleh dan mengerang dalam hati. Sial. Dari semua orang yang ada, dia harus bercakap-cakap dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya, yah Jongin seharusnya tahu bahwa Kyungsoo pasti akan hadir di acara-acara makan malam seperti ini.
"Tentu saja." Jongin memalingkan wajahnya dan menatap ke arah para tamu, "Malam ini adalah malam perkenalan resmi Sehun sebagai murid khususku di hadapan tamu-tamu penting ini."
"Apakah kau tidak sadar bahwa kau sama saja menampar mukaku di sini? Datang ke pesta sebagai pasangannya? Apa kau tidak sadar sudah berapa kali aku menerima tatapan kasihan dari semua orang karena datang kesini sendirian dan dicampakkan olehmu?"
"Kau sebenarnya tidak perlu datang ke pesta ini sendirian, Kyungsoo. Itu pilihanmu sendiri untuk mempermalukan dirimu." Jongin bergumam dingin.
Kyungsoo menghela napas panjang melihat ekspresi dingin Jongin, "Dia sepertinya sangat istimewa bagimu, kau memperlakukan Sehun seperti anak emasmu."
Jongin melirik ke arah Kyungsoo dan melihat perempuan itu membawa gelas anggur di tangannya, entah gelas yang ke berapa. Bagi Jongin, Kyungsoo tampak agak mabuk dan tidak fokus.
"Dia memang istimewa, kalau di asah dengan benar, permainan biolanya akan bisa menandingiku." Jongin menjawab datar dan hati-hati.
"Bagiku tidak akan pernah ada orang yang bisa menandingimu dalam bermain biola, Jongin. Kaulah yang paling hebat." Kyungsoo menyela cepat, penuh keyakinan di matanya, kemudian dia mendongak menatap Jongin tajam dan berusaha menarik perhatian Jongin, "Apakah ketertarikanmu kepadanya hanya karena dia sangat berbakat dalam permainan biola?"
"Apa maksudmu?" Jongin mengerutkan keningnya, kali ini dia benar-benar yakin bahwa Kyungsoo mabuk. Perempuan itu bahkan tidak bisa berdiri tegak dan bersandar di sisi lain jendela, setengah sempoyongan. "Apakah kau masih berpikir bahwa aku mencampakkanmu karena Sehun?"
Kyungsoo tersenyum sinis, "Setelah bertemu dengannya, kau meninggalkanku." Mata Kyungsoo menyala, "Aku jadi bertanya-tanya, kau selalu mengatakan bahwa kau tertarik kepadanya karena bakatnya, bagaimana jika dia kehilangan kemampuannya bermain biola?"
Jongin langsung menoleh waspada, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, "Apa yang kau rencanakan, Kyungsoo?"
Mata Kyungsoo bersinar penuh rahasia, "Pembalasan."
Dengan geram Jongin merenggut lengan Kyungsoo dan menatapnya penuh ancaman. Sayangnya, Kyungsoo terlalu mabuk untuk merasa takut kepadanya, perempuan itu malahan tersenyum lebar dengan tatapan mata bergairah, senang akan sentuhan Jongin di tubuhnya.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepada Sehun dan kau adalah dalangnya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup, Kyungsoo."
Kyungsoo terkekeh, "Sayangnya sepertinya sudah terlambat, Jongin sayang." Jemari lentik Kyungsoo dengan kuku yang dicat merah darah menyentuh pipi Jongin penuh hasrat, "Kalau aku tidak bisa memilikimu, Jongin. Maka tak seorangpun bisa."
Jongin langsung melepaskan pegangannya dari Kyungsoo, setengah mendorong perempuan itu dengan jijik, tidak dipedulikannya Kyungsoo yang masih terkekeh mabuk, dia langsung melangkah menuju area toilet tempat Sehun menghilang tadi.
Sehun sudah terlalu lama berada di kamar mandi... Jantung Jongin berdebar cemas.
Sehun sedang mencuci tangannya di wastafel dan menatap bayangan dirinya di kaca. Pipinya masih merona merah. Ya ampun, bodoh sekali dia bertanya seperti itu kepada Jongin dan lelaki itu langsung menyambarnya untuk mempermalukannya.
Setelah menghela napas panjang, Sehun melangkah keluar dari kamar mandi, yah dia hanya perlu melalui malam ini dengan baik dan berharap Jongin segera menghapus fotonya yang sedang mencium dahi Chanyeol dari ponselnya...
Satu langkah Sehun keluar dari pintu area toilet yang kebetulan berada di lorong yang sepi, sebuah tangan kekar dan kuat mencengkeramnya dengan kasar. Sehun memekik tetapi sebelah tangan sosok kasar yang menyergapnya itu langsung menutup mulutnya. Di pinggangnya Sehun merasakan benda keras yang menekan dan tajam, dia melirik dan mengernyit cemas, sebuah pisau!
"Diam kalau kau mau hidup." Suara lelaki yang menyergapnya itu mendesis kasar, membuat Sehun tak berdaya mengikuti kemauan si penyergap, dia bisa apa? Sebuah pisa yang mengerikan sekarang menempel di pingangnya!
Si penyergap itu setengah menyeret Sehun menuju ujung lorong ke arah tangga darurat menuju ke bagian luar rumah. Jantung Sehun berdebar kencang, apa yang akan terjadi kepadanya? Siapa lelaki ini? Kenapa melakukan ini kepadanya?
Langkah-langkah si penyergap semakin cepat seakan ingin segera keluar dari rumah besar itu, Sehun bisa mendengar napas lelaki itu terengah di atas kepalanya, dia ingin melirik wajah lelaki itu, bukankah itu yang selalu dikatakan polisi? Jika terjadi sesuatu kepadamu, hapalkan wajah penjahatnya seteliti mungkin. Tetapi ternyata tubuh Sehun yang pendek menghalanginya melihat wajah lelaki itu, lelaki itu tinggi dan besar, setinggi Jongin tetapi lebih kekar dan mengerikan, dan sekarang kaki Sehun mulai terasa pedih karena sepatu hak tingginya terseret-seret mengikuti langkah si penyergap itu.
"Sehun?" sebuah teriakan terdengar dari ujung atas tangga, di pintu keluar dekat area toilet. Si penyergap sudah menyeret Sehun sampai ke tangga bagian bawah, sebentar lagi mereka akan mencapai pintu keluar. Sehun dan si penyergap sama-sama terkesiap mendengar suara panggilan itu. Sehun mengenali suara itu.. itu suara Jongin!
Sehun langsung meronta sekuat tenaga merasakan ada harapan, tetapi kemudian ujung pisau yang tajam itu menusuk ke pinggannya sedikit, membuatnya merasa perih dan ngeri.
"Jangan coba-coba." Lelaki itu mendesis tajam, "Ayo!" dengan gerakan kasar, si penyergap menyeret Sehun kali ini lebih terburu-buru, dan kemudian membuka pintu tembusan ke luar rumah itu.
Sementara itu, suara Jongin masih memanggil-manggil di ujung tangga.
Jongin memanggil-manggil Sehun tanpa hasil. Dia bahkan melongok ke area toilet perempuan dan langsung merasa cemas ketika mengetahui bahwa tidak ada seorangpun di dalamnya. Buru-buru dia melangkah keluar dari area kamar mandi, dan kemudian kakinya menginjak sesuatu yang keras.
Jongin membungkuk dan mengambil benda yang mengganjal sepatunya itu dan mengernyit ketika memegang sebuah kancing kecil... kancing kecil berwarna hijau... Sehun mengenakan baju hijau..
Matanya membara ketika menemukan bahwa di ujung lorong ada sebuah pintu kecil yang mengarah kepada tangga darurat di luar, dengan langkah cepat dia menuju ke pintu itu dan membukanya,
"Sehun?" Jongin memanggil lagi, suaranya menggema di area tangga darurat itu, dan kemudian telinganya yang tajam mendengar suara pintu dibanting di bawah.
Ada seseorang membuka pintu di bawah!
Setengah berlari, Jongin menuruni tangga darurat itu.
Sebentar lagi beres. Mereka sekarang berlari menembus kegelapan taman yang dipenuhi pohon-pohon besar. Si Penyergap rupanya berhasil menyusup masuk ke pesta melalui halaman belakang rumah. Ya. Ini adalah pesta untukn acara musik yang penuh persahabatan, jadi sama sekali tidak ada penjagaan keamanan berlebih kecuali dua orang satpam yang berjaga di pintu depan.
Tentu saja di penyergap tidak sebodoh itu melalui pintu depan, dia berhasil menemukan jalan masuk kecil melewati pintu belakang di tengah taman yang sepertinya digunakan khusus untuk membuang sampah.
Perintah Kyungsoo sangat jelas. Lukai urat penting di tangan Sehun, dan buat rusak wajahnya, tetapi jangan bunuh dia, lalu tinggalkan.
Sepertinya tempat di halaman belakang yang penuh pohon ini cukup cocok untuk mengeksekusi korbannya. Tao, si penyergap sebenarnya tidak suka melukai perempuan... tetapi ini adalah pekerjaan, dan bayarannya menggiurkan.
harus buru-buru melakukan tugasnya dan kemudian bergegas pergi dari rumah ini, menghilang di kegelapan. Suara-suara yang memanggil di belakangnya tadi tidak main-main, dan kalau dia tidak cepat, pemilik suara itu akan mengejar mereka. Dia hanya perlu melakukan satu atau dua tikaman sebelum perempuan mungil ini sempat menjerit, kemudian dia bisa melompat melalui pintu belakang itu dan kabur dalam kegelapan.
Dengan kasar, Tao membanting tubuh Sehun ke tanah, begitu keras hingga Sehun memekik kesakitan, sepertinya tingkah kasarnya telah membuat Sehun cedera, perempuan itu meringis, melirik ke arah kakinya yang terkilir.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau...?" suara Sehun berubah ngeri ketika pisau di tangan Tao memantulkan cahaya bulan, tampak mengancam, "Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Suara Sehun ketakutan bercampur panik, dia berusaha beringsut menjauh, tetapi kakinya terkilir, amat sangat sakit dan membuatnya tak bisa berdiri, yang bisa dilakukannya hanyalah menyeret tubuhnya menjauhi sang penyergap.
Sayangnya itu tak berarti banyak, karena sang penyergap sekarang berdiri menjulang di atasnya, tubuhnya menghalangi bayangan bulan dan wajahnya hampir seperti siluet, tetapi Sehun bisa merasakan lelaki itu menyeringai,
"Maafkan aku cantik, sayangnya aku harus melukaimu." Suara si penyergap serak dan mengerikan, dan pada detik itu, si penyergap mengayunkan pisaunya ke arah Sehun. Sehun sontak menjerit keras-keras, berusaha beringsut mundur dan menaruh tangannya di depannya untuk melindungi dirinya.
Lalu detik berikutnya berlangsung cepat, pisau si penyergap tidak mengayun kepadanya, tubuh si pernyergap terbanting kesamping, ada seseorang yang menerjangnya dari belakang.
Itu Jongin!
Jongin datang menolongnya! Dan sekarang kedua lelaki itu sedang bergulat di tanah, tetapi si penyergap membawa pisau dan Jongin hanya memakai tangan kosong!
Sehun menjerit, mencoba memanggil bantuan, mencoba berteriak agar siapa saja yang mungkin mendengar bisa datang dan menolong mereka. Dia menatap cemas dan ketakutan ke arah dua lelaki yang masih bergulat dengan keras itu. Yang satu berusaha mengalahkan yang lain, pukulan-pukulan dilayangkan dan Jongin berusaha menangkis tikaman-tikaman pisau dari si penyergap, membuat Sehun mengerutkan keningnya ketakutan dan semakin menjerit keras sampai suaranya serak.
Kemudian terdengar langkah-langkah kaki berderap yang mendekati mereka, membuat si penyergap panik dan membabi buta untuk melepaskan diri dari pergulatannya dengan Jongin. Lelaki itu mengayunkan pisaunya dengan keras dan kejam ke arah Jongin, hanya beberapa detik hingga Jongin tidak bsia menghindar, darah mengucur deras dari tubuh Jongin dan seketika tubuh Jongin tumbang ke tanah, membuat Sehun memekik.
Kesempatan itu digunakan si penyergap untuk melepaskan diri dari Jongin, dia langsung bangkit dan berlari secepat kilat menuju ke arah pintu belakang dan tubuhnya menghilang di kegelapan malam.
Sehun menyeret kakinya yang terkilir setengah merangkak mendekati Jongin, seluruh gaun hijaunya berlumuran tanah, tetapi dia tidak peduli. Dia berhasil mendekati Jongin yang terbaring setengah meringkuk membelakanginya, dia meraih tubuh Jongin, membalikkannya dan langsung membelalakkan matanya.
Jongin sedang meringis menahan sakit, wajahnya pucat pasi hingga tampak begitu putih di kegelapan kebun belakang ini, dan meskipun sekeliling mereka gelap pekat, Sehun bisa melihat bahwa sebelah tangan Jongin sedang menekan pergelangan tangannya yang lain... dan darah segar mengucur di sana, begitu deras keluar dari sebuah luka sayatan yang menganga lebar dari telapak tangan Jongin hingga melewati pergelangan tangannya.
"Jongin? Oh astaga... Jongin?" Jemari Sehun bergetar menyentuh pipi Jongin yang dingin.
"Kau tidak apa-apa Sehun?" Suara Jongin tampak lemah dan matanya tidak fokus, tetapi dia sepertinya menyadari Sehun yang membungkuk di atasnya, "Ini sakit sekali... aku lelah."
Dan Jongin-pun memejamkan matanya.
Sehun langsung panik, dia berusaha mengguncangkan tubuh Jongin, tetapi tidak ada reaksi. Suara derap kaki semakin mendekat, tetapi sepertinya mereka kebingungan menemukan Jongin dan Sehun karena suasana begitu gelap. Sehun akhirnya berteriak-teriak di kegelapan sampai suaranya serak...
Bantuan itupun datang, ternyata itu adalah dua orang satpam di depan yang sedang berpatroli dan kebetulan mendengarkan jeritan Sehun tadi. Mereka segera memanggil ambulance. Dan kemudian, ketika bantuan paramedis berdatangan, dan tubuh Jongin yang lunglai diangkat untuk dinaikkan ke ambulance. Sehun kehilangn kesadarannya.
Yang diingatnya terakhir kali adalah darah itu... darah yang mengucur deras dari telapak hingga pergelangan tangan Jongin.
Tangan yang digunakannya untuk menggesek biolanya...
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Thanks To Reviewers:
sehuniesm, Icha, misslah, oh ana7, , relks88, AwKaiHun, hanhyewon357, , ohsanie, Kim Sohyun, MinnieWW, Cho Hyunjo.
Juga buat yg Fav :
AwKaiHun, Cho Hyunjo, Choiminkii923, ClaraYu, Dfandra, Febriana979, Huang Mingzhu, Husnul28, KaiHunnieEXO, Kim Sohyun, Lune Sonya, MinnieWW, Nagisa Kitagawa, awexome, bottomsehunnie, , exobabyyhun, fitrisipit17, hanhyewon357, , kaisaria88, krishunkaihun, mamasehun1214, ohnaohse, ohsanie, sehuniesm, yehet94.
Juga buat yg Fol :
AwKaiHun, ClaraYu, Dfandra, Febriana979, Huang Mingzhu, Kim Sohyun, Kusuma637, Lune Sonya, Nagisa Kitagawa, RHLH17, awexome, bottomsehunnie, carkipul94, , exobabyyhun, hanhyewon357, , kaisaria88, kjinftosh, krishunkaihun, mamasehun1214, ohnaohse, ohsanie, pratomoony, qtpoop, sehuniesm, yehet94.
.
.
Ada yang nungguin fic ini? Aku minta maaf yah, kayaknya akhir-akhir ini aku sering ngelanggar janji. Maaf semanya, aku seminggu ini sakit, mngkin karna kecapean. Apalagi sekolah aku mau ngadain event besar, terus aku jadi panitia plus jadi peseerta :v jadi aku harus bikin project, harus rapat, bolak balik kasih proposal. badan capek, pikiran juga capek, pokoknya capek banget sampe sakit selama seminggu. dan aku sakit di saat enjury time :v
Aku bahkan lupa buat update fic ini L maaf yah..
Dan juga aku sempat down pas baca berita kalau Kaistal ketahuan beli kondom. Duhh berita itu bikin aku langsung males buat ngelanjutin fic ini, walaupun ini cua remake. Sakit banget pas baca itu. Tapi pas aku pikirpikir lagi kayaknya mang penjaga tokonya yang kuker :v dan ternyata itu Cuma hoax belaka, heheheh semangat aku balik lagi.
Aku juga sementara buat fic baru. Fic itu berdasarkan kisah nyata temen aku :v dan fic itu sungguh sungguh kayak sinetron picisan, tapi yah karna temen aku pengen cerita itu dibuat yah aku iyain aja :v ditunggu yah :D nanti kalo ficnya udah jadi pasti aku post *eh malah promosi*
Ok sekian..
Jangan lupa review yah^^
