EMBRACE THE CHORD (KaiHun)

Cast :

Jongin as Jason

Sehun as Rachel

Chanyeol as Calvin

Baekhyun as Anna

Kyungsoo as Arlene

Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.

.

.

.

"Sehun?"

Suara itu terdengar samar-samar dan lembut, membangunkan Sehun dari kegelapan yang melingkupinya. Dia membuka matanya pelan-pelan, merasa silau oleh cahaya putih lampu yang langsung menerpa matanya.

"Sayang? Sehun? kau sudah sadar nak?"

Itu suara mamanya. Mamanya sedang duduk di tepi ranjang, wajahnya pucat pasi, tampak begitu cemas. Sehun bingung, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Apakah dia ada di rumah sakit?

Sehun mencoba bergerak, tetapi rasa nyeri yang menyengat langsung terasa di kakinya.

"Jangan bergerak dulu sayang, kakimu terkilir..." mamanya bergumam lembut, mendorong Sehun untuk terbaring kembali.

Sehun mengernyitkan keningnya, berusaha meredakan rasa nyeri yang menyakitkan itu, kemudian dia teringat... darah itu... darah dari tangan Jongin!

"Jongin!" Sehun kali ini langsung terduduk panik, tidak mempedulikan rasa sakit di kakinya yang terasa semakin parah.

Pada saat yang sama pintu kamarnya terbuka, dan Chanyeol masuk, wajahnya tampak muram. Sehun langsung menatap Chanyeol dengan penuh harap.

"Chanyeol? Apakah kau tahu kondisi Jongin? bagaimana keadaannya? dia menyelamatkanku dari penjahat itu dan aku lihat tangannya terluka... bagaimana kondisi Jongin?"

Chanyeol terdiam, melempar pandang ke arah mama Sehun yang membalas tatapannya dengan bingung, pada akhirnya Chanyeol kembali menatap Sehun.

"Kami masih belum tahu Sehun...yang kami tahu, Jongin terluka parah di tangannya."

Wajah Sehun memucat, "Apakah... apakah dia bisa bermain biola lagi?"

Kesedihan langsung menggurat di wajah Chanyeol, lelaki itu tidak perlu berkata apapun, mereka semua pasti punya pikiran yang sama. Ya. Seorang pemain biola yang handal membutuhkan tangan yang sempurna, terutama tangan utama untuk menggesek biola dan memetiknya...

Kalau Jongin tidak bisa bermain biola lagi, maka Sehun akan menjadi orang yang paling bersalah di dunia ini.

Jongin menatap tangannya yang dibalut perban, merenung sendirian di kamar.

Dia tahu bahwa Sehun tidak sadarkan diri setelah insiden itu, dan kemudian dirawat di kamar sebelahnya. Dari salah satu perawat, dia tahu bahwa Sehun belum bisa berjalan karena kakinya terkilir. Insiden ini sungguh tidak disangkanya akan terjadi malam ini, malam dimana dia akan berduet sekaligus memperkenalkan Sehun secara resmi sebagai murid khusus bimbingannya.

Dan dari seluruh bagian tubuhnya yang bisa terluka, kenapa dia terluka di bagian tangan? Tangan yang paling vital untuk bermain biola pula.

Seorang dokter memasuki ruangan, kebetulan Jongin mengenalnya karena dokter itu adalah dokter keluarganya, Jongin sedikit menganggukkan kepalanya, menatap dokter itu dengan tatapan tajam penuh arti.

"Dokter. Anda sudah setuju untuk melakukan apa yang saya minta..."

Demi Sehun yang begitu cemas, Chanyeol menemui dokter yang merawat Jongin, dia harus mendapatkan informasi tentang Jongin, kalau tidak Sehun akan selalu dilanda perasaan bingung tanpa tahu arah.

Kebetulan dia berpapasan dengan dokter itu, yang baru keluar dari kamar Jongin.

"Bagaimana kondisi Jongin, dokter?" Chanyeol langsung mendekati dokter itu, dan berjalan di sebelahnya.

Dokter itu menatap Chanyeol dan mengenalinya sebagai teman Sehun, kebetulan Sehun juga berada di bawah pengawasannya,

"Kami sudah melakukan yang terbaik untuknya."

Chanyeol menghela napas lega, "Jadi Jongin akan sembuh." Mata Chanyeol menatap dokter itu dengan cemas, "Apakah dia akan bisa bermain biola lagi?"

Dokter itu menelan ludah tampak kesulitan menjawab hingga Chanyeol harus mengulang pertanyaannya lagi.

"Dokter? Apakah Jongin bisa bermain biola lagi setelah sembuh?"

Dokter itu menghela napas panjang, "Luka pisau itu memutuskan beberapa syaraf di tangannya. Yang perlu anda tahu, ketika syaraf perifer di tangannya putus, maka seseorang akan kesulitan menggerakkan jari-jarinya, hal itu tentu saja merupakan masalah yang cukup vital bagi seorang pemain biola... kami harus melakukan operasi sekali kali lagi untuk menyempurnakan penyambungan syaraf yang putus tersebut, Kami yakin dengan tindakan yang tepat dan proses penyembuhan yang kondusif maka kemungkinan besar pasien bisa pulih kembali. Kita doakan saja semoga operasinya nanti berjalan dengan baik." Dokter itu menatap Chanyeol dengan tatapan menyesal, "Dan bahkan kalaupun operasinya sukses, kondisi tangan Jongin tidak akan sama lagi."

Seetelah memberikan informasi itu, dokter itu berpamitan pergi karena ada urusan. Meninggalkan Chanyeol yang tergugu pucat pasi.

Jongin kesulitan menggerakkan jari-jarinya? Apakah itu berarti Jongin tidak akan bisa bermain biola lagi?

"Bagaimana?" Sehun menatap Chanyeol dengan penuh harap, dia tahu bahwa Chanyeol baru saja mencari informasi tentang kondisi Jongin.

Chanyeol menelan ludahnya, dengan hati-hati dia duduk di sebelah ranjang Sehun. Sehun sendirian di kamar ini karena mamanya sedang pulang untuk mengambil baju gantinya. Semalam setelah mendengar tentang insiden itu, mama Sehun langsung menuju rumah sakit tanpa persiapan apapun, dia menunggui Sehun hingga tersadar di pagi harinya dan tampak lelah. Untunglah Chanyeol berhasil membujuk mama Sehun untuk pulang dulu, beristirahat sejenak dan kembali nanti sore sekaligus membawakan baju ganti dan perlengkapan lainnya untuk rawat inap Sehun. Chanyeollah yang menggantikan menjaga Sehun saat ini.

Chanyeol menatap wajah pucat Sehun dan tiba-tiba saja merasa kasihan. Insiden ini sudah menjalar menjadi gosip panas di kalangan profesional musik klasik, menjadi headlinedi berita-berita. Jongin adalah anak emas mereka. Dan sekarang semua orang was-was dipenuhi pertanyaan apakah Jongin akan bisa bermain biola lagi.

Kalau sampai si anak emas jenius tidak bisa bermain biola lagi, orang-orang akan menunjuk kepada Sehun dan beramai-ramai menyalahkannya, karena Jongin terluka untuk menyelamatkan Sehun.

"Bagaimana?" Sehun mengulangi pertanyaannya lagi, matanya tampak dilumuri kecemasan karena Chanyeol tidak segera menjawab.

Chanyeol menghela napas panjang, "Aku sudah menemui dokter kalian, dia menjelaskan bahwa Jongin masih harus menjalani operasi lagi untuk penyambungan syaraf tangannya yang terputus... kata dokter itu kemungkinan Jongin bisa pulih lagi, tetapi tidak sempurna."

Sehun ternganga, "Apakah... apakah dokter itu menjelaskan tentang kemungkinan Jongin bisa bermain biola lagi?"

Chanyeol menatap Sehun serba salah, "Dokter itu belum bisa memastikan, Sehun. Saat ini Jongin sudah menjalani penanganan terbaik, tetapi katanya dia masih kesulitan menggerakkan jari-jari tangannya. Kata dokter kita harus menunggu hasil operasi keduanya sebelum menentukan."

Air mata langsung menetes ke pipi Sehun. Terbayang olehnya bagaimana indahnya permainan biola Jongin, bagaimana sempurnanya seluruh teknik dan emosi yang dibawakan di dalamnya, Jongin adalah pemain biola jenius yang sempurna, hanya ada sedikit violinis di dunia ini dengan kemampuan sama seperti Jongin. Dan sekarang Sehun telah merenggut itu semua, dengan membuat tangan Jongin - benda paling berharga bagi seorang violinist - karena melindunginya.

Bahu Sehun berguncang-guncang karena menangis, dan tidak ada yang bisa dilakukan Chanyeol selain memeluk dan menenangkannya.

"Kakak!" pintu itu terbuka, dan Luhan, adik kandung Jongin yang telah terpisah sekian lama, dan kemudian dipertemukan oleh takdir, masuk dengan wajah pucat pasi.

Di belakangnya ada suami Luhan sekaligus sahabat Jongin, Kris dan kedua orang tua angkatnya yang menyusul. Mama angkatnya sudah menungguinya sejak semalam, tetapi Jongin menyuruh mereka pergi menjemput Kris dan Luhan di bandara, Kris dan Luhan langsung pulang di tengah bulan madu mereka ketika mendengar tentang Jongin.

Jongin tersenyum lembut kepada Luhan, senyum tulus yang sangat jarang ditunjukkannya kecuali kepada orang-orang yang benar-benar dicintainya. Luhan adalah salah satu dari orang yang amat dicintainya.

"Luhan." Jongin melebarkan tangannya, dan dengan penuh perasaan, Luhan langsung menubruk kakaknya tenggelam di pelukannya, "Kau datang."

"Tentu saja kami datang." Kris bergumam, menatap tangan Jongin yang dibalut perban. Sontak Luhan juga menatap tangan itu, dan ekspresinya berubah sama cemasnya seperti Kris. "Bagaimana kondisimu, Jongin?"

Jongin menyadari semua mata memandang ke arah tangannya. Dia lalu tersenyum tipis,

"Aku baik-baik saja. Tangan ini masih memerlukan operasi sekali lagi lusa."

Luhan mengernyitkan keningnya, duduk di tepi ranjang, "Apakah kau sudah bertanya kepada dokter...?" Luhan menelan ludahnya, "Tentang pengaruhnya terhadap permainan biolamu?"

Eskpresi Jongin mengeras.

"Tidak. Dokter bilang aku harus menunggu hasil operasi keduaku." Lelaki itu lalu menatap ke arah keluarganya dan tersenyum lebar, "Hei, jangan memasang wajah sedih begitu, eksekusi atas diriku belum dijatuhkan, bukan?" senyumnya melebar, tampak ceria.

Jadi begini rasanya...

Kembali Jongin termenung sendirian di kamarnya. Dia berhasil memaksa Kris untuk membujuk supaya Luhan mau pulang dulu dan beristirahat di rumah sebelum menengoknya lagi besok. Adik perempuannya itu sedang hamil, dan menunggui seseorang di rumah sakit merupakan hal yang riskan dan melelahkan bagi perempuan hamil. Jongin tidak ingin sampai Luhan dan bayinya kenapa-kenapa.

Kedua orang tua angkatnya memutuskan menungguinya, tetapi sekarang mereka sedang makan malam di bawah. Jam besuk sudah ditutup dan malam sudah larut. Dia tahu kedua orangtuanya tadi meninggalkannya setelah mengira Jongin sudah tidur.

Jongin memang berpura-pura tidur. Begitu kedua orang tuanya pergi, mata Jongin membuka kembali, menatap nyalang ke arah langit-langit kamarnya.

Jadi seperti ini yang dirasakan oleh ayah kandungnya dulu ketika menghadapi vonis tidak bisa bermain biola lagi karena cedera syaraf di tangannya sudah terlalu parah tidak terselamatkan lagi.

Jongin menatap perban yang membungkus tangannya, mencoba menggerakkan jari-jarinya tetapi terasa sulit dan kaku. Lalu dia termenung... saat ini dia punya rencana, dan apapun yang akan terjadi, dia akan mewujudkan rencana itu...

Ketika dia termenung, ponselnya berdering.

Telepon itu dari Suho sahabatnya, yang saat ini sudah tinggal di Australia bersama isterinya, Lay. Kedua orang itu adalah sahabat Jongin.

"Kami akan mengambil penerbangan yang paling pagi." Suara Suho terdengar sedikit keras di telepon, "Astaga Jongin, kami berdua begitu terkejut ketika melihat beritanya di televisi. Insiden yang menimpamu menjadi headline news di mana-mana."

Polisi juga sudah bertindak cepat untuk mencari pelaku penyergapan yang berusaha menculik dan melukai Sehun, sekaligus juga melukai tangan Jongin. Sebenarnya Jongin tahu pasti siapa otak di balik semua peristiwa ini : Kyungsoo.

Ya. perempuan culas itu pastilah yang menjadi dalangnya. Jongin bisa saja membuka mulutnya kepada polisi dan mengatakan kecurigaannya kepada Kyungsoo. Tetapi dia menahan diri. Dia tidak boleh gegabah, pers akan berpesta pora kalau sampai hal ini terkuak. Mereka pasti akan membuat berita dengan judul yang menghebohkan, semacam "Pembalasan dendam mantan pacar", atau "Karma sang playboy". Jongin tidak mau itu terjadi.

Dia akan membalas Kyungsoo pada saatnya nanti, dengan caranya sendiri.

"Kau dan Lay tidak perlu melakukannya, Suho, aku baik-baik saja." gumam Jongin kepada Suho

"Kau tidak bisa melarang kami untuk datang." Suho langsung menyela dengan tegas, membuat Jongin tersenyum simpul. Sahabatnya itu tidak berubah, tetap saja arogan dan keras kepala.

"Terserah kepadamu kalau begitu. sampaikan salamku untuk Lay." setelah menutup pembicaraan, Jongin meletakkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, dia menoleh waspada ke arah pintu kamarnya yang terbuka pelan-pelan.

Mungkin kedua orang tuanya sudah kembali dari makan malamnya...

Tetapi ternyata yang masuk bukan kedua orang tuanya. Yang masuk adalah sosok perempuan mungil, yang berjalan tertatih-tatih dengan kruk di bawah ketiaknya, Jongin melirik ke arah sebelah kaki perempuan itu yang dibebat dengan perban.

Mata Jongin menyipit, "Sehun? apa yang kau lakukan di sini?"

Wajah Sehun tampak pucat pasi, matanya sembab seperti habis menangis begitu lama, dengan tertatih-tatih perempuan itu mendekat ke tepi ranjang Jongin, berdiri di sana dengan takut-takut/

"Kau terluka karena menyelamatkanku..." suara Sehun mulai gemetar di sela isakanya.

"Memang." Jongin menatap Sehun dengan datar, "Lalu kenapa?"

Sehun tercenung menerima sikap dingin Jongin, tetapi mungkin dia memang pantas mendapatkannya, seharusnya Jongin mencaci makinya dan membentaknya karena dia adalah penyebab kalau sampai Jongin tidak bisa bermain biola lagi...

"Aku... aku membuatmu terluka, semua gara-gara aku." Sehun mengusap air matanya, tetapi air matanya itu tak mau berhenti, mengalir dan mengalir lagi, "Aku datang untuk minta maaf. Kumohon maafkan aku Jongin." Sehun meringis, melirik ke arah tangan Jongin yang dibalut perban, jantungnya serasa diremas melihat tangan itu, "Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku, apapun..." suaranya tertelan oleh tangisannya, Sehun menatap Jongin dengan tatapan mata bersalah.

"Apapun?" Tiba-tiba Jongin tampak tertarik, ada kilat di mata dan senyum misterius di sana. "Baiklah Sehun. Mulai saat ini kau harus melakukan apapun yang aku mau." Jongin kembali menekankan pada kata 'apapun', "Dan setelah itu, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu."

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Thanks to :

, bellakyu, cho hyunjo, relks88, theodolphinduck, AwKaiHun, , minnieWW, hanhyewon357, oh ana7, YunYuliHun, Love kaihun, Icha

.

.

Aku telat update lagi yah? Maaf semuanya, kemaren aku ikut study tour sekolahku.. pas pulang aku ngerasa kayak badan remuk semua. aku juga baru sembuh, jadi emang kemaren itu gak vit banget.

Nah kalo chap ini reviewnya banyak, aku janji deh bakalan fast update. Double chap. tapi kalau reviewnya banyak :v

.

.

.

Review nya ditunggu..^^