EMBRACE THE CHORD (KaiHun)

Cast :

Jongin as Jason

Sehun as Rachel

Chanyeol as Calvin

Baekhyun as Anna

Kyungsoo as Arlene

Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.

.

.

.

Operasi Jongin berlangsung cukup lama, lebih lama dari yang diperkirakan. Dokter mengatakan butuh waktu dua sampai dengan tiga jam untuk operasi. Tetapi sekarang sudah empat jam berlalu.

Sehun duduk di sana dengan cemas, di antara keluarga Jongin. Ada mama Jongin yang tampak keibuan dan papanya. Juga ada adik Jongin, Luhan yang ramah padanya, ditemani oleh suaminya, Kris. Seluruh keluarga Jongin baik kepada Sehun... padahal semula Sehun mengira dirinya akan disalahkan karena menyebabkan Jongin terluka dan harus menghadapi operasi ini. Mama Sehun ikut menemani Sehun menunggu, beliau sedang bercakap-cakap dengan mama Jongin, posisi mama Sehun sebagai guru di akademi tempat Jongin dulu pernah berlatih, membuatnya mengenal mama Jongin jauh bertahun-tahun sebelumnya, meskipun tidak akrab.

Luhan, adik Jongin yang cantik dan ikut menunggui di sana bahkan duduk di sebelahnya dan mengajaknya bercakap-cakap selama menunggu. Sementara itu suami Luhan, Kris, sedang mengurus sesuatu di perusahaannya dan mengatakan akan segera menyusul datang.

"Hai Sehun, akhirnya kita bertemu, aku seudah penasaran sekali ingin bertemu denganmu." Luhan bergumam ramah begitu mereka duduk bersama.

Apakah Luhan penasaran ingin tahu wajah perempuan yang membuat kakaknya terluka? Memikirkan itu, ekspresi Sehun langsung berubah sedih,

"Maafkan aku, aku...maafkan aku semua kejadian ini membuat Jongin terluka, dia berusaha melindungiku."

"Hei. Kami semua tidak menyalahkanmu, lagipula kami menduga itu perbuatan salah satu mantan kekasih Jongin yang cemburu, well kakakku memang banyak menyakiti perempuan di masa lalunya... jadi kau adalah korban juga dan itu semua bukan sepenuhnya kesalahanmu." Mata Luhan tampak bercahaya, "Lagipula aku senang sekali akhirnya Jongin memiliki kekasih yang normal."

Kata 'kekasih' dan 'normal' membuat Sehun mengerutkan keningnya. Luhan jelas-jelas menyebutnya sebagai kekasih Jongin, apakah Luhan tahu tentang sandiwara mereka? atau Jongin juga menutupinya dari adiknya?

"Jongin mengatakan padaku bahwa kau adalah kekasihnya tadi sebelum dia operasi." Luhan mengedipkan sebelah matanya, "Karena itulah aku tidak sabar bertemu denganmu."

Jadi ternyata Jongin serius mengatakan bahwa sandiwara sebagai pasangan kekasih ini hanya boleh diketahui oleh mereka berdua. Lelaki itu bahkan membohongi adiknya sendiri.

"Apa maksudmu dengan kekasih yang normal?" Sehun langsung bertanya penuh dengan ingin tahu. Apakah itu berarti Luhan menganggap bahwa kekasih-kekasih Jongin sebelumnya bukan manusia normal?

"Kau berbeda jauh dengan kekasih-kekasih Jongin sebelumnya. Amat sangat berbeda."

Sehun menoleh ke arah Luhan, sedikit mengerutkan keningnya. Apakah maksud Luhan Sehun tidak secantik kekasih-kekasih Jongin sebelumnya? Tetapi ternyata tidak ada ejekan apapaun di wajah Luhan, perempuan itu malahan tampak senang sekali karena Jongin sekarang memiliki Sehun sebagai kekasihnya.

"Berbeda maksudku bukan dalam hal penampilannya. Kakakku itu suka main-main dengan wanita yang lebih tua." Luhan mengerucutkan bibirnya dengan ironis, "Kau pasti sudah dengar reputasinya, dia suka mencampakkan mereka semua hingga terpuruk. Herannya, wanita-wanita yang lebih tua itu tidak ada yang kapok, mereka terus berusaha menaklukkan kakakku." Mata Luhan menatap Sehun penuh persahabatan, "Aku senang pada akhirnya Jongin membuka matanya dan memilihmu sebagai kekasihnya, kau akan membuatnya berlabuh dan melukapan sikap suka-main-mainnya. Aku berharap nanti kita benar-benar menjadi saudara."

Belum sempat Sehun menanggapi kata-kata Luhan, pintu ruang tunggu terbuka dan Kris, suami Luhan memasuki ruangan, mata lelaki itu langsung menemukan isterinya dan menatapnya dengan sayang. Luhan langsung beranjak dari duduknya ketika melihat suaminya datang,

"Tunggu sebentar ya." Jemari lembutnya menyentuh tangan Sehun sedikit dan meminta maaf, lalu Luhan menghampiri suaminya, yang lamgsung menghelanya ke dalam pelukan dan mengecup dahinya.

Sehun tergugu, bingung tak tahu harus bicara apa. Luhan tampak begitu baik dan mengharapkan yang terbaik untuk Jongin, dan dia sekarang membohongi Luhan dengan semua sandiwara ini. Belum lagi, akan ada banyak orang yang mereka bohongi nantinya... mamanya, orang tua Jongin... dan Chanyeol.

Hati Sehun tiba-tiba merasa cemas ketika memikirkan tentang Chanyeol. Chanyeol... kemana dia? Rachle berusaha menghubungi ponselnya tetapi tidak diangkat... dan sejak insiden Chanyeol memergoki dia dan Jongin berciuman, lelaki itu belum muncul lagi di rumah sakit.

Membohongi Chanyeol adalah yang paling berat untuk Sehun, apalagi karena lelaki itu ada di hatinya. Tetapi Sehun sudah berjanji kepada Jongin... lagipula Jongin bilang sandiwara mereka sebagai pasangan kekasih itu bisa membuat Chanyeol membuka matanya dan melihat Sehun sebagai seorang perempuan.

Seandainya saja itu benar... seandainya saja Chanyeol bisa memandanganya sebagai seorang perempuan, bukan lagi adik atau sahabat... mungkinkan Chanyeol bisa menumbuhkan perasaan kepadanya?

Lamunan Sehun tersentak ketika lift penghubung ruang operasi terbuka. Dokter yang mengoperasi Jongin keluar. Mereka semua langsung berdiri dan menunggu penjelasan.

"Operasinya berhasil." Kata dokter itu, "Untuk pemulihannya kita harus melihat lagi nanti. Sekarang pasien sedang berada di ruang pemulihan pasca operasi, nanti setelah sadar baru akan kita pindahkan kembali ke kamarnya." dokter itu segera memberi keterang lebih lanjut kepada orang tua Jongin yang menungggu.

Luhan sendiri hanya berdiri di kejauhan, memejamkan matanya lega. Setidaknya operasi Jongin berhasil... mereka memang belum tahu apakah kemampuan Jongin bermain biola akan terpengaruh oleh kejadian ini, tetapi semoga saja tidak/

Sungguh, Sehun berharap dari dalam hatinya bahwa kemampuan Jongin yang bisa memainkan biola dan menghasilkan nada-nada yang ajaib itu tidak hilang...

Ketika Jongin membuka matanya, dia menemukan adiknya sedang duduk menungguinya.

"Hai kakak." gumam Luhan lembut.

Jongin langsung tersenyum, mengerjapkan matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya.

"Mama dan papa sedang bertemu dokter di bawah." Luhan menjelaskan lagi, "Aku di sini menungguimu dengan Sehun."

"Sehun?" Jongin menggumamkan nama perempuan itu, lalu menelan ludahnya karena tenggorokannya yang kering. Matanya menelusuri sekeliling ruangan dan menemukan Sehun terduduk di kursi seberang, perempuan itu masih dibebat kakinya dan hanya menggunakan satu kruk yang disandarkan di lengan kursi.

Mata Jongin terpejam lagi. Dia mengantuk. Dan kemudian kegelapan menelannya kembali.

Jongin terbangun hampir tengah malam. Dia membuka matanya begitu saja dan menyadari bahwa hari sudah gelap. Lampu tidur yang temaram sudah dinyalakan, dan ketika dia memandang ke sudut ruangan, ada mamanya yang menunggui di sana., tertidur di atas sofa besar.

Jongin bergerak pelan, berusaha duduk tetapi tidak bersuara sehingga tidak mengganggu tidur mamanya. Dia kemudian menatap tangannya yang diperban tebal, dan diberi pemberat agar tidak banyak bergerak. Matanya menatap ke arah tangannya itu.

Bahkan sekarang dia tidak bisa merasakan tangannya sendiri... entah karena pengaruh bius atau karena pengaruh syarafnya yang terluka...

Jongin menghela napas panjang. Nanti begitu diizinkan, dia harus segera mencoba bermain biola lagi.

Tak terasa sudah sepuluh hari setlah operasi Jongin. Hari ini dia diperbolehkan pulang ke rumah. Akhirnya, setelah malam-malam membosankan di rumah sakit.

Semula Jongin bersikeras kembali ke apartemen yang ditempatinya sendiri. Tetapi sang mama memaksanya untuk pulang ke rumah dulu, karena beliau mencemaskan Jongin yang akan tinggal sendirian sementara tangannya belum sembuh benar. Pada akhirnya Jongin mengalah kepada mamanya, dan bersedia pulang ke rumah mamanya untuk sementara,

Suara pintu terbuka membuatnya menoleh, senyumnya langsung melebar.

"Suho." sapanya sambil tersenyum lebar, sahabatnya datang dari australia untuk menjenguknya. Sebenarnya Suho seharusnya datang berhari-hari yang lalu, tetapi karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkanya, lelaki itu meminta maaf dan menunda kepulangannya hingga hari ini.

"Kulihat kau sehat-sehat saja, tidak seperti orang habis dioperasi" Suho bersedekap, mengamati Jongin dalam senyum, "Sepertinya sayang sekali karena Lay benar-benar mencemaskanmu setengah mati."

Jongin hanya terkekeh mendengar celaan Suho, sahabatnya itu tidak berubah meskipun lama mereka tidak bertemu, tetap saja sinis dan sarkatis.

"Di mana Lay?" Jongin melirik ke belakang Suho, dan beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi dan Lay masuk.

"Jongin!" Lay menatap Jongin dengan cemas, "Bagaimana keadaanmu?"

"Dia baik-baik saja, kau tidak lihat?" Suho mencibir,"Sia-sia saja kau menangisinya kemarin."

"Kau menangisiku?" Jongin tersenyum menatap Lay yang merona pipinya, sementara itu Suho langsung memeluk pundak Lay dengan posesif, menatap Jongin memperingatkan.

"Hei. Lay menangisimu karena dia mencemaskanmu sebagai saudaqra. Singkirkan seringaian lebarmu itu." gumamnya serius, sehingga Lay menyodok pinggangnya dengan siku karena malu,

"Sebenarnya bukan aku yang menangisimu, Suho yang hampir menangis karena cemas ketika mendengar berita tentang musibah yang menimpamu," Lay terkikik ketika Suho melotot kepadanya.

Jongin tersenyum, "Terimakasih kalian sudah datang kemari menengokku." Lelaki itu menunjukkan tangannya yang diperban. "Tangan ini sudah agak pulih, aku sudah mencoba menggerakkan jari-jariku."

Tiba-tiba Suho menatap Jongin dengan tatapan mata prihatin, "Apakah luka itu mempengaruhi kemampuanmu bermain biola?"

Senyum Jongin tampak dalam dan tidak terbaca, "Aku belum tahu, aku belum mencobanya..."

Suara Jongin terhenti ketika sosok mungil yang sudah ditunggunya muncul dari pintu. Sehun berdiri di sana, perempuan itu sudah tidak memakai kruk lagi meskipun kakinya masih dibebat, tetapi sakitnya sudah mereda dan pergelangan kakinya yang terkilir sudah tidak bengkak lagi. Sehun sudah bisa berjalan tanpa kruk meskipun masih agak terpincang-pincang.

Wajah Sehun tampak salah tingkah ketika melihat ada dua orang asing di dalam kamar Jongin,

"Ah... maaf... aku tidak tahu kalau ada tamu."

"Tidak apa-apa. Masuklah Sehun." Jongin mengulurkan tangannya dari tengah ruangan, hingga mau tak mau Sehun melangkah masuk dan menyambut tangan itu.

"Suho, Lay kalian pasti sudah tahu Sehun, dia murid khususku dan sekarang dia menjadi kekasihku."

Mata Lay melebar, sedangkan Suho berhasil menyembunyikan kekagetannya. Tetapi itu hanya berlangsung sejenak, sedetik kemudian, Lay memecah suasanya dengan menyalami Sehun dengan hangat.

"Senang sekali akhirnya Jongin bertobat dan memilih perempuan yang baik." gumamnya dalam senyuman lebar, " Salam kenal Sehun..."

"Lay dan Suho ini pasangan suami isteri, mereka sahabtku dan tinggal di Australia." Jongin menjelaskan kepada Sehun.

Suho, lelaki berwajah dingin tapi tampan itu kemudian tersenyum lembut kepada Sehun yang masih tampak bingung,

"Kami datang kemari khusus untuk menengok Jongin." Lelaki itu akhirnya melirik ke arah tas-tas Jongin yang sudah tertata rapi, "Kau akan pulang hari ini, Jongin?

Jongin menganggukkan kepalanya. "Sudah bisa pulang kata dokter, untunglah karena aku sudah beradadi batas kebosananku."

Suho tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Kami akan berada di Korea selama dua minggu." lelaki itu menyebut nama hotel tempat mereka menginap, "Kami akan mengunjungimu nanti. Kau akan pulang ke rumahmu bukan?"

"Rumah orang tuaku." Jongin mengkoreksi, "Mereka memaksaku pulang ke sana karena takut tidak ada yang merawatku kalau aku pulang sendirian ke apartemenku." dia menatap Suho penuh arti, "Kenapa kalian harus tinggal di hotel? Kenapa kalian tidak tinggal di apartemenku saja? Itu kan apartemen kalian juga."

"Bekas apartemen kami, Jongin. Apartemen itu sudah bukan milik kami, bukankah kau sudah membayarnya lunas kepadaku?" Suho langsung menyela membuat Jongin terkekeh,

"Yah bagaimanapun juga aku tidak akan pulang ke sana, kalian bisa menggunakannya. Aku tahu hotel itu memiliki fasilitas yang lengkap, tetapi apartemen itu penuh kenangan bagi kalian kan? Kalian bisa mengenang kembali masa-masa indah kalian yang dulu." Suara Jongin menggoda dan penuh arti.

Sementara Sehun mengamati Suho dan Lay saling bertukar pandang, ada cinta yang pekat di sana, dan pipi Lay memerah ketika Suho menyinggung tentang kenangan di apartemen itu... bahkan... pipi Suho tampak sedikit merona. Pasangan ini sepertinya memiliki kenangan yang indah di apartemen itu...

Suho berdehem, lelaki berwajah dingin itu tampak salah tingkah, lengannya merangkul pinggang isterinya dengan erat.

"Kami... eh kami mungkin akan menerima tawaranmu untuk tinggal di apartemenmu sementara, benar kan Lay?"

Lay menatap suaminya dengan senyum lembut, dan pipi yang makin merona merah, "Iya." jawabnya pelan.

Jongin terkekeh, dan mengeluarkan kartu apartemennya dari sakunya, 'Ini. Kalian bisa tinggal di sana sesukanya." gumamnya menggoda.

Lay dan Suho kemudian berpamitan untuk beristirahat dan membereskan barang-barang mereka dulu, karena mereka tadi langsung datang ke rumah sakit dari bandara. Setelah itu Jongin duduk di tepi ranjang, sementara Sehun berdiri canggung di depannya.

"Bagaimana kondisi... tanganmu?" Sehun menatap ke arah tangan Jongin yang sekarang hanya dibalut perban tipis dan elastis. Kecemasan langsung menyergapnya. Jongin belum mencoba memegang biola lagi, sementara itu, kata Luhan dokter mengatakan tangan Jongin mungkin akan berfungsi kembali 85% dari semula.

Apakah 85% itu cukup untuk membuatnya bisa bermain biola kembali?

Jongin sendiri bisa membaca kecemasan di mata Sehun. Dia memegang tangannya yang diperban dengan tangannya yang lain, lalu menampilkan senyuman datar,

"Aku bisa menggerakkan jari-jariku dengan mudah." Jongin menunjukkan jarinya yang bergerak-gerak kepada Sehun, "Masih terasa agak kaku, tetapi aku baik-baik saja."

Sehun menelan ludahnya, dia ingin sekali bertanya kapan Jongin mau mencoba memegang biola lagi, tetapi dia tidak berani.

"Apakah barang-barangmu hanya itu?" Sehun melirik tas Jongin yang sudah terpacking rapi. "Kau... seperti kata Suho tadi, kau akan pulang ke rumah orang tuamu?"

"Ya." Tiba-tiba tatapan mata Jongin menajam, "Dan aku sudah meminta secara khusus kepada mamamu, agar kau diizinkan tinggal di sana juga."

Mata Sehun membelalak terkejut, "Apa?"

Jongin bersedekap seolah menantang Sehun untuk melawannya, "Mamamu sudah setuju. Begitupun orang tuaku. Aku melalaikan mengajarimu biola selama aku sakit, dan sekarang aku akan mengejarnya, dengan kau tinggal di rumah itu, pelatihanku kepadamu akan semakin intensif."

"Itukah alasan yang kau gunakan untuk membujuk mamaku?" Kalau Jongin beralasan begitu, sudah pasti mamanya setuju. Lagipula mamanya benar-benar senang ketika Jongin mengatakan bahwa Sehun adalah kekasihnya, Mamanya benar-benar menganggap Jongin sebagai menantu idaman. Padahal hubungan mereka ini hanyalah pura-pura... Sehun bisa membayangkan betapa kecewanya mama Sehun nanti ketika mengetahui kebenarannya. Belum juga, Sehun harus menjelaskan pada Chanyeol nanti kalau pada akhirnya kebohongannya ini terkuak. Chanyeol menerima kabar bahwa Sehun sudah menjadi kekasih Jongin dengan baik, dan berbeda dengan apa yang dikatakan Jongin, bukannya mendekati Sehun, Chanyeol malah menjaga jarak, nanti Sehun akan protes kepada Jongin mengenai masalah ini. Tetapi itu nanti. Sekarang Jongin malahan melemparkan masalah baru kepadanya. Tinggal bersama di rumah orang tua Jongin? yang benar saja!

Jongin tersenyum lebar, matanya bersinar jahil. 'Ya itu alasanku untuk membujuk mamamu."

Mata Sehun menyipit, "Dan apa alasanmu yang sebenarnya?" gumamnya curiga.

Jongin terkekeh, "Kau harus menepati janjimu untuk bersedia melakukan 'apapun' untukku..." mata Jongin meredup, dan jemarinya menyentuh dagu Sehun dengan santai, wajahnya mendekat dan suaranya berubah serak menggoda, "Apakah kau sudah siap melakukan apapun untukku, Sehun? aku ingin kau melakukan..."

Sehun panik. Termakan oleh janjinya sendiri, salahnya sendiri berjanji kepada Jongin yang licik dan keji, lelaki ini pasti akan memanfaatkannya, dasar lelaki mesum tukang cium sembarangan! Apakah Jongin akan memaksanya untuk berbuat mesum? Wajah Sehun memucat ketakutan.

Jongin melihat perubahan ekspresi Sehun dan langsung tahu pikiran apa yang ada di benak Sehun. Lelaki itu melepaskan pegangannya kepada Sehun dan tertawa geli,

"Singkirkan pikiran mesum dari otakmu Sehun, aku ingin kau menjadi suster perawatku selama kau tinggal di sana."

"Suster perawat?" begitu Jongin melepaskan pegangan di dagu Sehun, dia langsung mundur selangkah untuk menjaga diri dan mengamankan jarak,

"Ya." Sinar jahil semakin kental di mata Jongin. "Kau akan melayani segala kebutuhanku, seperti kataku dulu. Kau akan menjadi pelayan sekaligus perawatku."

Dasar pria licik sialan! Sehun menggertakkan gigi karena tidak bisa membatntah perkataan Jongin. Pria mesum dan licik ini benar-benar memanfaatkan posisinya yang berada di atas angin. Sehun dengan bodohnya menjanjikan 'apapun' kepada Jongin, dan dengan kejam, lelaki itu menjadikan Sehun budaknya!

"Kau tidak boleh membantah Jongin. Jadi pulanglah dan kemasi barang-barangmu, aku akan menunggumu di sini, setelah keluargaku datang menjemputku kita akan pulang dari rumah sakit bersama-sama ke rumah orang tuaku." Jongin mengangkat alisnya melihat Sehun hendak membantah, "Lagipula ini rencana yang bagus untuk memancing orang yang mencoba melukaimu, dia akan semakin cemburu ketika kabar bahwa kau tinggal bersamaku tersebar... dengan kecemburuannya, dia akan lengah dan bertindak bodoh."

Sehun terdiam, dan mau tak mau, dia menyetujui perkataan Jongin.

Satu jam kemudian, Sehun kembali ke rumah sakit sambil membawa tas pakaiannya, lebih cepat dari yang direncanakan. Sehun tadi berpikir dia mungkin bisa kembali ke rumah sakit ini tiga jam lagi karena dia harus membereskan barang-barangnya. Ternyata mamanya yang antusias sudah membereskan semua barang untuknya, seluruh perlengkapan menginapnya untuk tinggal di rumah Jongin sudah disiapkan.

Dasar. Sehun cemberut memikirkan mamanya yang melepasnya tadi dengan senyuman lebar. Mamanya benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegirangannya karena Sehun menjadi kekasih Jongin...

Sehun melalui lorong-lorong rumah sakit menuju kamar Jongin, tasnya dia tinggalkan di penitipan tas di area lobby rumah sakit. Ketika langkahnya semakin mendekat ke kamar Jongin, Sehun mengerut.

Suara biola terdengar sayup-sayup.

Jongin?

Sehun mempercepat langkahnya di atas karpet lorong rumah sakit yang tebal itu. Dan alunan biola yang indah itu semakin pekat terdengar ketika dia semakin mendekat ke kamar Jongin.

Pintu kamar Jongin sedikit terbuka sehingga Sehun bisa mengintip di sana, tidak berani masuk karena takut akan mengganggu konsentrasi Jongin bermain biola...

Dan kemudian, Sehun melihat Jongin memainkan biola itu, menjepit biola itu di pundak kirinya dan memainkan nada yang indah...

Senyum Sehun

melebar...Jadi Jongin bisa bermain biola lagi?

Tetapi senyumnya ternyata tidak bertahan lama. Ketika mengamati ekspresi Jongin, Sehun menyadari bahwa Jongin mengerutkan keningnya seolah menahan kesakitan, bahkan keringat menetes di dahi Jongin... seolah-olah memainkan biola itu sangat menyakitkan untuknya.

Lalu nada yang dimainkan Jongin berhenti mendadak. Sepertinya sakit yang dialami Jongin tak tertahankan, memaksa tangannya berhenti menggesek senar biolanya. Lelaki itu terengah, ekspresinya kesakitan. Dan kemudian, dengan ekspresi yang luar biasa sedih, Jongin meletakkan biola dan penggeseknya di meja.

Tatapan matanya nanar, menatap satu titik yang tak terlihat di meja, ekspresi Jongin bercampur antara kekecewaan, kemarahan dan kesedihan.

Sehun langsung menyingkir dan bersandar jauh di dinding luar kamar Jongin, air matanya menetes,

Dia telah menyaksikan sang maestro, jenius berbakat dalam permainan biola, tidak mampu memainkan biolanya... tidak mampu menyelesaikan lagunya sampai akhir.

.

.

.

Langsung lanjut aja ke chap 15^^