EMBRACE THE CHORD (KaiHun)
Cast :
Jongin as Jason
Sehun as Rachel
Chanyeol as Calvin
Baekhyun as Anna
Kyungsoo as Arlene
Dis: Cerita ini bukan millik aku, ini milik Santhy Agatha. Saya tidak merubah apapun kecuali diperlukan. Jika ingin membaca cerita aslinya silahkan kunjungi blognya Santhy Agatha.
.
.
.
Sehun duduk di cafetaria kantin sambil menyesap kopinya, jemarinya bergetar dan perasaannya bergemuruh. Ekspresi sedih Jongin tadi benar-benar tak terlupakan, sarat dengan kesedihan hingga Sehun tidak berani mendekati lelaki itu dan memilih melarikan diri ke lantai bawah, menyesap kopi untuk menenangkan dirinya.
Ponselnya berbunyi, dan dia melihat nama Chanyeol di sana. Chanyeol... Sehun hampir-hampir melupakan Chanyeol, bukan karena perasaannya mulai pudar tetapi karena setelah insiden itu Chanyeol benar-benar menghilang dari kehidupannya, seolah-olah lelaki itu menghindari Sehun.
Hal itu membuat Sehun bertanya-tanya. Kenapa Chanyeol menghindarinya? Apakah karena lelaki itu marah kepadanya? Karena dia mengira - setelah melihat Jongin dan Sehun berciuman - bahwa Jongin dan Sehun menjalin hubungan cinta? Chanyeol sudah jelas-jelas menunjukkan ketidak setujuannya akan hubungan Sehun dengan Jongin, lelaki itu memang menghormati dan mengagumi Jongin dari permainan biolanya, tetapi Chanyeol mencemaskan reputasi Jongin sebagai penghancur perempuan.
Seandainya saja Sehun bisa mengungkapkan kepada Chanyeol bahwa hubungannya dengan Jongin hanyalah sandiwara, mungkin dia bisa menghilangkan kecemasan Chanyeol... sayangnya dia tidak bisa melakukannya.
"Sehun?" Suara Chanyeol terdengar di sana, memanggil-manggil Sehun yang masih melamun dan membuat Sehun mengerjapkan kedua matanya.
"Iya Chanyeol? Kau di mana saja? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara." Sehun merindukan Chanyeol tentu saja.
Chanyeol berdehem, "Aku... aku tidak mau mengganggumu dengan Jongin, dia kan sedang dalam masa pemulihan. Lagipula aku sedang intens menghabiskan waktuku bersama Baekhyun..."
Baekhyun. Hampir saja Sehun melupakan keberadaan perempuan itu. Terakhir, Chanyeol mengatakan bahwa dia sudah menyatakan cintanya kepada Baekhyun dan Baekhyun membalas perasaannya. Mereka berdua sekarang adalah sepasang kekasih... Baekhyun yang memiliki Chanyeol. Sehun berusaha menekan perasaan pedih dalam suaranya.
"Aku mengerti Chanyeol..."
"Hari ini Baekhyun dan papanya kembali ke luar negeri." Chanyeol melanjutkan, "Aku akan mengantarkannya ke bandara."
Sehun mengerutkan keningnya, "Baekhyun sudah akan pulang? Jadi kalian akan menjalin hubungan jarak jauh?"
Suara Chanyeol tampak sedih dan tidak yakin. "Kami akan mencoba Sehun, meskipun aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak." Keraguan dalam suara Chanyeol tampak nyata, "Karena aku... aku padamu..." suara Chanyeol menghilang, membuat Sehun mengerutkan keningnya semakin dalam.
"Kau kenapa Chanyeol?"
Hening sejenak, lalu Chanyeol berkata. "Tidak. Tidak ada apa-apa. Maafkan aku, mungkin aku hanya sedang bingung, kau tahu, aku sedih karena akan berpisah dengan Baekhyun."
Sehun tersenyum lembut, "Aku mengerti perasaanmu, Chanyeol."
"Kaulah yang paling mengerti." Ada senyum di suara Chanyeol, tetapi senyum itu menghilang ketika dia bertanya kepada Sehun, "Aku tadi ke rumahmu, kata mamamu, kau sudah berkemas dan akan tinggal di rumah Jongin untuk sementara."
Sehun berdehem, merasa tidak enak karena dia tidak tahu ketidaksetujuan hubungan Sehun dengan Jongin.
"Ya. Jongin memintaku tinggal di sana, karena dia ingin melatihku secara intensif. Selain itu... aku merasa bersalah karena akulah dia terluka."
"Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu Sehun, penyergap itulah yang bersalah melukai kalian." Suara Chanyeol tampak ragu, "Apakah kau mencintai Jongin?"
"Apa?" Sehun terbelalak, tidak menyangka Chanyeol akan menanyakan pertanyaan itu.
Chanyeol terdengar salah tingkah, "Aku... kau tahu, aku penasaran, Mereka semua bilang kalian adalah sepasang kekasih, aku bertanya-tanya apakah kau benar-benar mencintai Jongin... ataukah itu hanya didorong oleh rasa bersalahmu karena luka Jongin?"
Bagaimana Sehun harus menjawab? Dada Sehun terasa sesak, penuh oleh rasa bingung. Tetapi pada akhirnya dia ingat kesepakatannya dengan Jongin dan menguatkan dirinya ketika menjawab.
"Aku... aku menjalin hubungan dengan Jongin karena aku mencintainya, Chanyeol." Dia harus menghilangkan kecurigaan siapapun tentang hubungan sandiwaranya dengan Jongin, dia sudah berjanji kepada Jongin. Meskipun sekarang rasanya begitu perih, berbohong bahwa dirinya mencintai lelaki lain, kepada Chanyeol, lelaki yang sesungguhnya dicintainya.
Hening lagi. Kali ini sedikit agak lama. Tetapi kemudian Chanyeol berdehem.
"Baguslah kalau begitu. Maafkan aku kalau sedikit mencampuri. Kau tahu aku mencemaskanmu."
Sehun tersenyum lembut, "Terimakasih, Chanyeol."
"Oke kalau begitu, aku harus ke bandara untuk mengantar Baekhyun, sampai ketemu nanti ya."
"Iya."
Dan kemudian percakapan mereka terputus, dengan suasana canggung yang entah kenapa. Sehun sendiri mulai meragukan perkataan Jongin bahwa hubungan pura-pura mereka akan membuat Chanyeol memandang Sehun sebagai seorang perempuan... rasanya tidak begitu, yang ada malahan Chanyeol menjauhinya dan membuat hubungan mereka yang dulunya erat menjadi canggung.
Dan sekarang Sehun terikat dengan Jongin. Dia harus melakukan apapun yang diinginkan oleh Jongin. Tetapi Jongin mungkin berhak memperalatnya, menjadikannya pelayannya atau apalah. Dia telah menyebabkan kehilangan fatal bagi Jongin...
Sehun mengernyit, kalau sampai Jongin tidak bisa bermain biola lagi, maka kesalahan terbesar ada di pundak Sehun. Dia yang bersalah, dia yang bertanggung jawab.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi, membuat Sehun terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya. Dia melirik dan jantungnya berdebar ketika mengetahui bahwa Jongin yang meneleponnya.
"Halo?" diangkatnya telepon itu dengan suara lemah, berusaha menyingkirkan ekspresi wajah Jongin tadi yang membuatnya merasa sangat bersalah.
"Kau di mana? Aku menelepon ke rumahmu, kata mamamu kau sudah berangkat sejak tadi ke rumah sakit."
Sehun menghela napas panjang, berdoa semoga saja Jongin tidak menyadari bahwa Sehun sudah sampai ke rumah sakit sejak tadi dan memergoki kegagalan Jongin bermain biola tadi.
"Aku... aku baru sampai rumah sakit." Sehun menjawab cepat, "Aku akan segera naik."
"Aku tunggu." Jongin langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Sehun.
Sehun menyesap kopinya untuk terakhir kalinya, lalu beranjak berdiri. Bertemu dengan Jongin, terlebih setelah menyaksikan ekspresi kesedihan lelaki itu karena gagal memainkan biolanya benar-benar membuat dada Sehun terasa sesak.
"Menurutmu, apakah perempuan bernama Sehun itu adalah kekasih Jongin?" Suho meletakkan garpunya di atas piring yang telah kosong. Mereka berada di apartemen Jongin, bekas apartemen mereka dulu dan melewatkan pagi dengan sarapan bersama. Lay, dengan keahliannya memasak seperti biasa telah membuatkan Suho omelet keju kesukaannya, sekaligus membawa kenangan di masa-masa dulu ketika hati mereka belum bertaut sepenuhnya.
Lay menyorongkan gelas berisi jus jeruk ke depan Suho lalu bertopang dagu menatap suaminya,
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Suho terkekeh, "Ayolah sayang, kau tahu sendiri bagaimana tipe kekasih Jongin sebelumnya, Sehun benar-benar di luar kategori itu, selain dia masih terlalu muda, dia adalah tipe 'perempuan baik-baik'."
Lay menatap suaminya dengan wajah masam, "Jadi menurutmu Jongin selalu berpacaran dengan perempuan tidak baik-baik?"
Kali ini kekehan Suho berubah menjadi tawa, "Tepat seperti itu maksudku. Dia mempunyai obsesi aneh untuk menyakiti perempuan."
"Jongin selalu baik kepadaku, dia tidak memukul rata semua perempuan." Lay membantah
Suho menganggukkan kepalanya, "Benar, karena itulah tipe kekasih Jongin sangat spesifik, dia selalu memilih perempuan yang lebih tua, dengan watak yang aku asumsikan mirip dengan ibu kandungnya."
Mereka berdua tentu saja tahu bagaimana jahat dan serakahnya ibu kandung Jongin. Hal itulah yang membuat Jongin menjadi seperti ini, mengumpulkan reputasi sebagai penghancur perempuan.
"Mungkin dia benar-benar serius dengan Sehun, kau tahu aku membaca beberapa berita tentang Sehun. Dia sangat berbakat dalam bermain biola, para kritikus musik itu tidak ada yang mencelanya, semuanya memujinya dan menyebutnya sebagai Jongin yang akan datang." Mata Lay mengerjap. "Rekaman ketika Jongin dan Sehun bermain biola tersebar di media, aku melihatnya dan merasa begitu takjub, aku memang tidak tahu tentang musik, tetapi telinga awamku bisa memastikan kalau permainan mereka berdua sangat sempurna dan berpadu dengan indahnya."
"Aku juga melihat rekaman yang menghebohkan itu. Setahuku Jongin ingin membuat Sehun menjadi murid khususnya yang pertama. Aku tidak tahu kalau dia menjadikannya pacarnya." Mata Suho berkilat, "Mungkin pada akhirnya Jongin berlabuh pada perempuan yang lugu." dia menatap Lay dengan tatapan menggoda, "Seperti diriku."
Pipi Lay langsung memerah, berusaha menghindari tatapan mata Suho, "Jadi sekarang kau sudah benar-benar berlabuh ya?"
Suho terkekeh, melangkah mengitari meja dan memeluk Lay dari belakang, mengecup pundaknya dengan mesra dan lembut,
"Tentu saja, aku punya isteri yang sempurna. Apalagi yang aku inginkan? Aku sudah lengkap."
Lay tersenyum, menyandarkan tubuhnya kepada Suho, membalas pelukan erat suaminya, "Aku bahagia karena kau memilihku untuk berlabuh." gumamnya serak, penuh perasaan.
"Aku berlabuh pada perempuan yang tepat." Suho membalik tubuh Lay, lalu mengecup bibirnya dengan lembut, ketika dia mengangkat kepalanya, matanya berbinar nakal, 'Kau mau mencoba ranjang di bekas kamarku itu sekali lagi? Mengenang bulan madu kita dulu?"
Lay terkikik, dan menurut ketika Suho menghelanya memasuki kamar.
Sehun mengetuk pintu kamar Jongin, dan mendapati lelaki itu sedang duduk di kursi di samping ranjang dan merenung. Lelaki itu sudah berpakaian lengkap, siap untuk pulang.
"Luhan dan Kris akan menjemput kita, sebentar lagi mereka datang."
Sehun menganggukkan kepalanya, melangkah mendekati Jongin ke tengah ruangan dan mengamati lelaki itu. Jongin tampak seperti biasa, dengan ekspresi datarnya yang tidak tertebak. Tidak kelihatan bahwa barusan dia telah menampilkan ekspresi sedih luar biasa yang membuat siapapun yang melihatnya merasakan kesedihan yang sama.
"Kenapa?" Jongin mengangkat alisnya, menatap Sehun yang mengamatinya, membuat Sehun langsung mengalihkan matanya dengan gugup.
"Eh... tidak ada apa-apa." Mata Sehun beralih ke arah biola Jongin, itu Paganini miliknya, yang diletakkan di atas meja.
Jongin melihat arah pandangan Sehun dan tersenyum, "Aku meminta biola ini untuk diantarkan kemari." Matanya menatap Sehun dengan tajam, "Aku ingin memberikan biola itu kepadamu."
Wajah Sehun langsung pucat pasi. Kenapa Jongin memberikan biola itu kepadanya? setahu Sehun, Jongin sangat menyayangi biola ini, hadiah yang diperolehnya di sebuah negara karena pertunjukan biolanya yang luar biasa. Lelaki ini selalu menggunakan biola ini di setiap pertunjukan dan konsernya. Apakah... apakah Jongin memberikan biola ini kepadanya... karena dia tidak bisa bermain biola lagi?
Jongin rupanya mengamati ekspresi Sehun yang berubah-ubah, lalu terkekeh pelan.
"Jangan berpikiran terlalu jauh Sehun, kau tampak kebingungan dan ekspresimu seperti buku yang terbuka. Aku memberikan biola itu karena kau akan menjadi murid spesialku. Selama aku menyembuhkan diri, aku akan menggunakan waktuku untuk mengajarimu. Karena itu aku ingin memberikan kepadamu biola yang terbaik. Nanti setelah kemampuanku pulih, aku bisa menggunakan Stradivarius milikku, warisan dari ayahku."
Jongin mengatakan hal itu dengan tenang, seolah-olah ada keyakinan di dalam dirinya bahwa dia bisa pulih seperti biasa, dan Sehun menggenggam keyakinan itu kuat-kuat, berharap bahwa hal itu benar adanya.
"Ini kamarmu." Jongin membukakan sebuah pintu yang berada di sebelah kamarnya, mereka berada di rumah besar keluarga Jongin. Mama dan Papa Jongin tinggal di sini. Luhan dan Kris tinggal di kediaman mereka sendiri tentu saja, meskipun Luhan mengatakan bahwa dia akan sering berkunjung selama Jongin dalam proses pemulihan.
Sehun memandang kamar itu dan tersenyum kepada Jongin,
"Kamar yang indah, terimakasih Jongin."
Jongin hanya tersenyum lembut, lalu membuka pintu kamar itu semakin lebar, dan masuk ke dalam mendahului Sehun,
"Ayo masuklah, kamar ini biasanya digunakan untuk tamu mama, sudah dibersihkan karena akan kau tinggali." Jongin melangkah ke jendela besar di ujung kamar yang menghadap ke arah taman, dan membuka jendela itu, membiarkan udara segar dan secercah sinar matahari masuk. "Kenapa tidak kau mainkan biolamu untukku sekarang?"
Lelaki itu berdiri di depan jendela, membelakangi cahaya matahari yang melingkupinya, begitu tampan dalam setengah siluetnya bagaikan seorang pangeran dari negeri antah berantah yang muncul entah dari mana. Dan beberapa saat Sehun terpana, terpesona akan kesempurnaan fisik lelaki di depannya.
"Sehun? Mainkanlah biolamu untukku." Ekspresi Jongin sedikit mencari, tiba-tiba saja Sehun bisa melihat kilat kepedihan di sana, "Aku sudah lama tidak mendengar permainan biola yang indah sejak aku sakit, aku ingin mendengarkannya."
Jantung Sehun serasa diremas. Permainan biola yang indah itu tentu saja bisa didengarkan dari permainan Jongin sendiri seandainya saja tangannya tidak sakit, tetapi karena Sehun, Jongin tidak bisa bermain bola lagi.
Sehun meletakkan wadah biola Paganini dari Jongin dengan hati-hati di atas meja, membukanya dan menelusuri permukaan biola berumur ratusan tahun itu dengan penuh rasa kagum. Ini kali kedua Sehun akan memainkan biola itu setelah dulu Jongin pernah meminjaminya dalam pertunjukan bersama mereka dulu. Dan dia masih terkagum-kagum dengan keunikan dan keindahan biola Paganini yang begitu kontras antara nada tinggi dan nada rendahnya itu.
Dia masih tidak percaya bahwa Jongin memberikan biola ini kepadanya untuk dia miliki...
Jongin meraih sebuah kursi, duduk dan menatap Sehun dengan serius.
"Mainkankah untukku."
Sehun menurut, mengambil biola itu dengan hati-hati, meletakkannya di pundak kirinya, dan mulai menggesek senar unik bawaan biola Paganini itu.
Nada indah langsung mengalun lembut memenuhi ruangan kamar itu. Carmen Fantasy by Pablo de Sarasate, adalah salah satu permainan biola yang menjadi musik tema untuk Opera berjudul Carmen yang sangat terkenal dan sering dimainkan di berbagai opera internasional. Sehun memainkan nada dengan pelan pada mulanya, lalu semakin bersemangat ke depannya, permainan biolanya mewakilkan sosok Carmen, perempuan gipsy cantik yang rapuh sekaligus kuat. Kisah seorang perempuan yang berada di antara dua pilihan, dua lelaki yang menjadi cinta sejatinya, cinta segitiga di antara Carmen dengan seorang perwira tampan dan sang matador yang notabene adalah lelaki biasa. Musik yang dimainkan Sehun meledak-ledak memenuhi ruangan, menggambarkan seorang perempuan yang panas dan kuat, mampu mengangkat dagunya menghadapi kekuasaan dunia yang didominasi oleh para lelaki. Dan tetap mengangkat kepalanya dalam kebanggaan meskipun kisah cintanya pada akhirnya berakhir tragis, dengan kematiannya di ujung pisau oleh karena kecemburuan lelaki yang tidak dipilihnya.
Sehun melupakan keberadaan Jongin yang mengamatinya di sana, dia membayangkan padang rumput yang luas, di mana seorang perempuan cantik berpakaian gipsy yang khas dengan rok lebarnya yang berwarna cerah, dengan rambut panjang bergelombang yang terurai dan tubuh indah yang tegak, melompat dengan lincah, bertelanjang kaki dan mengikuti musik, bebas merdeka membawa kebanggaannya sebagai perempuan dan tak mau takluk di kaki laki-laki manapun.
Ketika dia mengakhiri permainan biolanya dengan akhir yang indah, Sehun membuka matanya, napasnya terengah ketika dia menurunkan biola itu dari pundaknya, ditatapnya Jongin dan menyadari bahwa lelaki itu juga memejamkan matanya.
Ketika Jongin membuka matanya, tatapan matanya tampak tajam.
"Aku tidak pernah mendengarkan musik Carmen diamainkan dengan intepretasi seberani dan seindah itu. Suaranya serak, penuh perasaan.
Pipi Sehun bersemu merah mendengarkan pujian itu. Pujian dari seorang mastro seperti Jongin tentu saja amat sangat berarti.
Tiba-tiba saja Jongin berdiri, dan kemudian dengan gerakan secepat kilat, lelaki itu memeluk Sehun erat-erat.
Sehun benar-benar terkejut, dia berusaha meronta, tetapi pelukan Jongin begitu erat seolah-olah ingin meremukkan tubuhnya yang mungil. Pada akhirnya, Sehun menyadari bahwa Jongin gemetar.
Lelaki itu membungkukkan tubuhnya, menenggelamkan kepalanya di pundak Sehun.
"Aku takut." Getaran di suara Jongin semakin dalam seiring dengan pelukannya yang semakin erat. Jongin benar-benar menenggelamkan tubuh Sehun ke dalam lingkaran lengannya, menekankan tubuh mungil Sehun seakan ingin menyerap kekuatannya. Lelaki itu menghela napas panjang seolah sesak napas, lalu bergumam. "Aku takut tidak akan bisa bermain biola lagi."
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Thanks to :
Meongguya/ kim huna/ YunYuliHun/ Lu Hannie/ Icha/ Xiuna Rin/ izz . sweetcity/ oh ana7/ sehuniesm/ relks88/ dia . luhane/ AwKaiHun/ hanhyewon357/ MinnieWW/ Chansoo9293/ Cho Hyunjo/
.
.
.
Haiii.. Yesi datang dengan double chap :* :*
Nah loh.. jongin sama sehun udah tinggal serumah dan jongin udah kemungkinan gak jadi pemain biola lagi. hikss.. aku baper bgt pas baca chap ini masa :`(
gimana? Udah puas? Chap chap 14 panjang lho :v ditambah juga chap 15 jadi panjang bgt :v *Sepanjang lightsabernya jongen :v
karena reviewers kemaren bertambah banyak jadi aku double update J
oh ya buat Xiuna Rin aku line 00 *masih muda dan polos*, jangan panggil aku eonni atau kakak :v panggil aja esi, atau boleh juga panggil say, bebeb, chagi, asalkan jangan thor :v aku gak ngerasa sering bawa palu yah..
udah seminggu ini aku sekolah siang dan ughh gak enak bgt sumpah.. apalagi pas udah jam 3 sore terus lagi belajar sejarah.. ohh ngantuk bgt jam segitu :v apalagi gurunya kayak loyo gimana gitu. Emang bikin ketiduran dikelas.. ada yang nasibnya kayak aku?
Oh dan juga buat adik-adik yang lagi UN, semangat yah^^ *Kayaknya hamper telat deh :v semoga bisa lancar dalam mengisi LJK
oke segitu aja dari aku..
jangan lupa RnR^^
