"Ha?" Mamori hanya terdongak bingung menatap iblis di depannya. Tapi Hiruma masih dengan seringainya, dia benar-benar serius mengajak gadis tinggal satu atap dengannya.

"Oi bodoh! Bukankah sudah menjadi tugas manajer untuk selalu mendampingi timnya, apa kau mau mengabaikan tugas itu?" Tanya Hiruma, kini wajahnya berubah serius.

Mamori masih terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Baginya keluarganya juga penting, ini pertama kalinya Mamori bersikap sangat egois. Sebelumnya dia mengikat Sena, dan sekarang dia malah mengikat dirinya sendiri dalam ketakutan.

"Aku tahu Hiruma-kun. Hanya saja, aku tidak suka bila harus sendiri." Mamori menggenggam dadanya erat.

"Kau ini benar-benar bodoh dan menjengkelkan, sudah kubilang kau akan tinggal denganku. Dasar manajer sialan!" Hiruma mulai menaikkan nadanya lagi.

"Jangan seenaknya bicara! Kau pikir kita bisa tinggal berdua dalam satu apartemen?!" balas Mamori membentak. Mereka saling beragumentasi hingga beberapa orang lewat memperhatikan keduanya.

"Tinggal bersama itu hanya untuk sepasang kekasih! Kau sangat bodoh karena telah mengajak manajermu tinggal bersama!" seru Mamori, raut wajahnya sudah kembali seperti biasa.

"Kau ini sangat merepotkan! Menjengkelkan dan menyusahkan!" balas Hiruma tak mau kalah.

"Haa? Apa maksudmu?" belum selesai mengungkapkan isi hatinya, Hiruma sudah memotongnya.

"Kalau begitu kau bisa jadi kekasih sialan menyebalkan bodoh milikku! Kalau itu yang kau mau. Benar-benar merepotkan, berbelit-belit, menjengkelkan." Hiruma membalikkan badannya.

Kedua pipi Mamori terbakar, dinginnya musim semi berhasil dilelehkan oleh racunnya. Wajahnya sudah memerah ketika Hiruma melakukan pernyataan di depan banyak orang.

"Wooooh bagus sekali niichan!" seru semua orang yang sedari tadi melihat mereka, kini Mamori dan Hiruma tersadar. Wajah keduanya memerah, namun kemudian Hiruma menembakkan senjatanya dan menyuruh semua orang diam. Ia menggenggam tangan Mamori dan membawanya pergi.

Mamori masih terdiam, ia hanya melihat pria di depannya menarik tangannya entah kemana. Tangannya yang besar sangat hangat, membuatnya sulit untuk melepaskan. Tangannya bisa begitu saja membuat Mamori yang ragu dan takut berubah menjadi sangat yakin.

"Aku selalu penasaran, seperti apa tangannya saat memegang bola di lapangan. Dia benar-benar pria yang lembut." Batin Mamori dengan senyumannya.

"Hiruma-kun..." panggilnya, Hiruma menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati Mamori dengan senyumannya yang biasa ia berikan.

"Aku pikir aku akan baik-baik saja. Hiruma-kun tidak usah khawatir... Aku akan tetap berada di Jepang dan menjadi manajer tim Saikyoudai Wizard." Mamori tersenyum mantap, hal itu juga membuat Hiruma lega dan menyeringai.

"Tentang yang tadi, Hiruma-kun apa kau serius? Ah bukan maksudku ingin tinggal bersamamu, eh tidak bukan itu tapi... Aku akan baik-baik saja kalau sendirian, mungkin." Kali ini Mamori berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya.

"Apa aku terlihat bercanda? Sekarang kita pergi ke rumahmu sialan milikmu." Hiruma menarik tangan Mamori kembali, gadis polos itu masih kebingungan.

Dia menanyakan apa alasan pergi ke rumahnya membawa iblis dari neraka itu, namun terabaikan. Mamori sempat kesal dan mereka saling beradu kembali, kali ini Mamori sudah kembali ke dirinya yang dulu. Hal itu sempat membuat Hiruma lega.

Sesampainya di rumah kedua orang tua Mamori sangat terkejut, putrinya yang selalu dikelilingi orang-orang baik dan sopan. Putrinya yang sangat manis seperti malaikat, membawa iblis ke rumahnya, ke hadapan kedua orang tuanya. Hiruma saat itu mengenakan mantel warna cokelat tua dengan celana jins hitamnya juga tidak lupa senapan AK-47 miliknya. Tangan kanannya menggenggam erat tangan gadis di sampingnya.

Ibunya tidak langsung memarahinya atau mengusir dan bahkan memaki. Ia hanya melihat putrinya yang tertawa canggung dengan heran.

"Mamo-chan?" panggil sang ibu, Mamori hanya tertawa berusaha menjelaskan. Tapi dengan cepat Hiruma memotong ucapannya lagi.

"Mamori akan tinggal bersamaku, dia akan tetap berada di Jepang." Balas Hiruma mantap. Mamori terlihat terkejut, terlebih lagi ayah dan ibunya.

Mamori memandangi orang tuanya yang terlihat akan kesal, tapi ternyata salah. Ibunya tersenyum ramah dan lembut padanya, ia justru menyuruh Hiruma masuk dan menganggap rumah mereka seperti rumahnya sendiri. Hiruma melesat cepat dan tidak memedulikan tentang tata krama atau apapun, dia hanya menjadi Hiruma Youichi yang biasanya.

Kini justru Mamori yang kelihatan tidak enak dengan kedua orang tuanya, dia hendak menjelaskan tapi ibunya menolak mendengar dan menyuruhnya masuk.

Hiruma sudah duduk di ruang makan, mereka menunggu makan malam siap. Sedangkan Mamori membantu ibunya menyiapkan makanan. Dia merasa takut dan cemas ketika melihat Hiruma hanya duduk bersama ayahnya sembari membersihkan senapannya juga bermain permen karet.

"Pria yang tidak biasa ya?" tanya ibunya dengan senyuman, Mamori terjingkak terkejut.

"Ibu salah paham, dia itu bukan siapa-siapa. Dia kapten klub amefuto di universitas." Balas Mamori menyembunyikan perasaannya.

"Kau tahu Mamo-chan, ibu dan ayah sangat mencemaskanmu. Kau bertingkah aneh sejak kami memutuskan untuk pergi ke Amerika." Ucap ibunya dengan senyuman lembut di wajahnya, ia masih terdiam memotong beberapa sayuran.

Sedangkan Mamori tertegun mendengar pengakuan ibunya, ia menghentikan aktivitasnya sejenak.

"Ayah juga sangat khawatir, dia ingin berhenti dari pekerjaannya karena tidak ingin membuat Mamo-chan sedih. Tapi ibu tidak setuju karena dia sangat menantikan hal ini." Tambah ibunya, sekali lagi Mamori tertunduk, ia menitikkan air matanya. Ibunya hanya tersenyum dan menenangkannya.

Di sisi lain, ayah Mamori hanya duduk dan membaca korannya dengan santai, begitu juga Hiruma.

"Apa itu sungguhan?" tanya sang ayah memulai percakapan.

"Tentu saja, mau mencoba? Aku bisa menembaknya di sini." Balas Hiruma acuh.

"Namamu Hiruma Youichi kan?" Ayah Mamori mulai mau berbicara dan sekedar menanyakan hal-hal mengenai amefuto bersama dengan Hiruma.

Mereka tidak berbicara heboh seperti kebanyakan orang, Hiruma terus menjawabnya singkat. Begitu pula dengan ayah Mamori yang menanyakan pertanyaan yang penting saja.

"Ini pertama kalinya putriku membawa seorang pria datang ke rumah kami." Ucapan ayahnya sukses membuat Hiruma menghentikan polesannya.

"Sejak kecil hanya Sena, Sena, dan selalu Sena yang menjadi perhatiannya. Kami tidak bisa memberinya adik karena dulu kami orang yang sibuk." Jelas sang ayah mulai mengoceh sendiri.

"Mamori sadar akan hal itu, dia selalu sendiri di rumah. Dia bisa menjahit, membersihkan rumah, bahkan memasak karena kesendiriannya itu. Kupikir semua akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Dia juga tetaplah gadis kecil yang butuh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Sejak saat itu istriku selalu tinggal di rumah dan menemaninya." Ayah Mamori melihat putrinya yang menangis bersama sang ibu.

Dia tersenyum lembut ketika memandangi buah hatinya yang selalu menjadi semangatnya tumbuh sangat besar. Dan juga membawa pria yang lebih tinggi darinya berkunjung ke rumah.

"Aku ingin membawanya bersamaku tapi... Youichi-kun, setidaknya buat dia tersenyum untukku." Katanya, kali ini ia beralih pada Hiruma dan tersenyum lembut. Namun Hiruma justru menyeringai seperti biasanya, ia kembali memoles senjatanya.

"Heh dia akan kujadikan pembantu di rumahku." Balasnya, ayah Mamori hanya tersenyum mengerti.

Setelah kejadian itu Hiruma dan kedua orang tua Mamori sepakat supaya Mamori bisa tinggal bersama dengan Hiruma. Mereka mempercayakan putrinya begitu saja pada iblis? Mereka pasti sudah gila...

Seminggu setelah kejadian itu...

Ini adalah hari dimana Mamori akan pindah ke apartemen milik Hiruma. Dan itu artinya mereka resmi menjadi kekasih, walau Mamori sendiri belum yakin akan hal itu. Kedua orang tua Mamori telah mengosongkan rumahnya, mereka tidak menjualnya melainkan mengontrakkan rumahnya itu sampai keduanya kembali.

Barang-barang Mamori memang banyak, namun dia hanya membawa beberapa yang penting-penting saja.

Betapa terkesimanya gadis itu ketika melihat kamar apartemen sang iblis yang begitu besar dan mewah. Dia tidak pernah tahu darimana semua uang yang iblis itu dapatkan. Tapi ini masih tetap mengagumkan, dapurnya penuh dengan alat-alat lengkap, kamar mandinya pun besar, begitu juga ruang tv, dan kamarnya. Semuanya... Berantakan...

Mamori sangat jengkel, ia kembali mengamuk pada Hiruma karena tidak membersihkan tempatnya sebelum dia pindah kemari. Karena itu hari ini Mamori akan bekerja ekstra. Ia mulai membersihkan setiap sudut ruangan, semua sampah yang berserakan ia masukkan kantong plastik. Mamori benar-benar handal dalam pekerjaan rumah tangga. Ia bisa dengan cepat memisahkan sampah obat, organik, dan juga anorganik. Bahkan semua yang milik Cerberus pun ia bersihkan sampai mengkilap.

"Ooooh baguus, kau benar-benar berguna sebagai pembantu!" ucap Hiruma terkagum dengan kerja keras Mamori. Hal itu membuat Mamori jengkel, tapi dia tidak peduli. Diberikan rumah senyaman ini untuk tinggal adalah keberuntungan.

"Dimana kamarku?" tanya Mamori, Hiruma menunjuk ke arah kamarnya. Mamori terdiam terpaku di depan pintu. Dia baru menyadarinya jika apartemen sebesar ini hanya memiliki satu tempat tidur.

Mamori kembali memuncak, ia terus saja protes akan semua hal. Sedangkan Hiruma mengabaikannya dan bermain dengan laptopnya.

"Hei dengar tidak?!" serunya jengkel tepat di hadapan iblis itu.

"Kau benar-benar menjengkelkan! Pergi, aku sedang sibuk!" balas Hiruma, namun Mamori tidak mau kalah, ia terus menjawab setiap argumen yang Hiruma berikan.

"Lagipula tidak ada yang tertarik dengan tubuhmu, aku juga lebih sering menghabiskan waktuku di sofa ini. Jadi jangan terlalu mendramatisir dasar merepotkan." Hiruma bangkit dan pergi meninggalkan Mamori sendirian di apartemennya.

Mamori terdiam, ia masih merasa jengkel dengan sikap Hiruma. Namun ia tidak peduli, dia bisa menjadikan ini kesempatan. Mamori mulai menata semua peralatannya pada kamar Hiruma. Di sana ada lemari kosong yang memang disediakan khusus untuknya.

Saat Mamori membuka tirai kamar, ia sangat takjub tak percaya. Kelap kelip lampu dari gedung juga kendaraan malam di Tokyo seperti bintang daratan.

Kediaman Hiruma Youichi ada di apartemen mewah yang mungkin sangat berbeda dengan imej dirinya, namun dia benar-benar tinggal di gedung itu.

Tepatnya kamar nomor 4011 yang ada di lantai 15, walau sudut ruangan sangat luas dan besar, tapi Hiruma hanya memiliki satu kamar, walaupun kamarnya memang sangat besar.

Mamori masih terkagum, ia tidak pernah membayangkan Hiruma Youichi tinggal di tempat dimana ia berdiri sekarang. Gadis itu pun mulai berputar-putar mengingat setiap sudut ruangan.

Saat berada di dapur, sesuatu menempel pada kakinya. Dia melihat ke bawah dan mendapati Cerberus yang terlihat kelaparan.

"Ara Cerberus-kun? Apa kau lapar?" Mamori terduduk di hadapannya dengan lembut mengelus kepalanya. Anjing yang sangat ganas dan bringas dari neraka itu sangat patuh padanya.

Mamori membuka setiap lemari yang ada di dapur, ia menemukan setumpuk perlengkapan juga makanan milik Cerberus. Dia meletakkannya di tempat makan anjing itu, dengan lembut Mamori mengusap kepalanya kembali. Cerberus hanya makan dan mengabaikannya, akhirnya Mamori mencoba untuk beristirahat sejenak. Ia merebahkan tubuhnya di sofa, ini pertama kalinya ia berada di rumah seorang pria. Belum lagi, mulai sekarang mereka harus tinggal bersama.

"Aku lelah... Apa aku boleh tinggal di sini ya?" Mamori mulai menidurkan tubuhnya, ia mencium aroma dari sofa berwarna hitam itu.

"Ini sama seperti punya Hiruma. Aromanya khas sekali." Dia mulai memejamkan matanya, dan tertidur.

"Tcih, ini menyebalkan. Seharusnya aku benar-benar menghajar mereka semua! Aku pulang!" Hiruma menutup pintunya dengan sangat keras. Cerberus berlari ke arahnya menyambut tuannya, sedangkan iblis itu berjalan sambil meneriaki nama sang malaikat. Sampai akhirnya dia melihat malaikat yang terkapar di atas sofa hitam masih lengkap dengan apronnya.

"Oi bangun! Kembali ke kamarmu, dasar manajer sialan. Cepat bangun!" seru Hiruma, namun Mamori tetap tertidur pulas. Ia sama sekali tidak mendengar apapun.

Hal itu membuat Hiruma kesal, tapi melihat gerakan Mamori membuat ide jahilnya keluar. Ia mengambil spidol hitam yang ada di meja. Dengan tawa khasnya ia membuka tutupnya, kemudian menyingkirkan beberapa rambut Mamori yang menghalangi wajahnya.

Tetapi saat melihatnya dia malah tertegun, seperti tersihir oleh sesuatu. Dia terus memandanginya, meletakkan spidolnya dan kini malah mengusap lembut wajah Mamori.

Tidak ada ekspresi apapun yang dikeluarkan dari wajahnya, dia terus memandangi Mamori.

"Umm..." tiba-tiba Mamori berdeham, ia merasa sedikit geli karena seseorang menyentuh wajahnya. Hiruma tersadar dan akhirnya menopang Mamori layaknya putri, ia membaringkannya perlahan di atas kasur, mematikan lampu, dan menutup pintu, kemudian pergi meninggalkannya.

"Merepotkan." Kata Hiruma menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia duduk di atas sofa dimana Mamori tidur tadi. Lagi-lagi dia membuka laptopnya dan mulai bermain dengannya, dia mulai menyusun beberapa strategi karena besok adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu.

Keesokan harinya matahari sedikit menyelinap dari balik tirai berwarna cream, hingga membuat Mamori terbangun. Ia mengusap matanya dan mencoba untuk melihat sekelilingnya. Saat dia sadar ada di kamar Hiruma ia segera bangkit dan melihat jam.

Mamori bergegas mencari sosok iblis yang memindahkannya, saat dia melihat Hiruma terlelap dengan posisi terduduk di hadapan laptopnya membuat Mamori sedikit merasa bersalah.

Semalam dia berniat untuk mencari strategi juga tapi karena kelelahan akhirnya malah tertidur.

Mamori tersenyum dan bergegas ke kamar mandi, ia membersihkan juga merapikan dirinya sendiri. Setelahnya Mamori pergi untuk membuat sarapan, kemampuan memasaknya tidak diragukan lagi.

Dia membuat omurice juga black coffee kesukaan Hiruma, dengan sehelai roti gandum juga.

Mencium bau yang nikmat dari apartemennya membuat Hiruma tergugah, ia bangun dan segera menuju ke dapur. Dia mendapati Mamori dengan keadaan siap mengenakan apron tersenyum padanya.

"Selamat pagi Hiruma-kun." Sapanya dengan lembut, bukan hanya Hiruma saja yang menyambutnya. Cerberus bahkan sudah menempel lagi di kaki Mamori.

"Baik baik, selamat pagi Cerberus-kun. Kau sudah sangat lapar ya?" Mamori tersenyum, ia meninggalkan Hiruma yang sudah duduk dan menyeduh black coffeenya.

Mamori duduk dengan tenang dan menyantap makanannya dengan tenang, tidak ada sepatah kata yang dikeluarkan oleh keduanya. Hiruma hanya menikmati sarapan Mamori, begitu juga Mamori.

Sesekali Mamori mencuri pandang lelaki di sampingnya, tapi dia hanya terdiam. Selesai menyantap makanannya Mamori yang bertugas membersihkan semuanya, sedangkan Hiruma membersihkan dirinya.

Usai semuanya siap Mamori masih menunggu Hiruma supaya pergi terlebih dahulu.

"Hiruma-kun duluan saja, bisa bahaya kalau nanti ada anak di kampus yang tahu kita tinggal bersama." Mamori tersenyum tidak enak.

"Apa yang kau bicarakan manajer bodoh? Kau mau terlambat? Hari ini ada pertandingan penting bodoh!" seru Hiruma jengkel, ia menyuruh Mamori bergegas dan ikut dengannya. Setelah argumentasi yang panjang akhirnya Mamori mengalah. Mereka pergi berdua dengan kereta.

"Di sebelah sini!" seru Mamori melambaikan tangannya, semua anggota tim mendekat padanya.

"Selamat pagi Mamori-san!" sapa Yamato ramah, Mamori tersenyum menyambutnya. Anggota yang lain mulai menanyakan keadaannya. Tapi Hiruma menembakkan senapannya sehingga semuanya tenang, ia mulai membicarakan tentang strategi dan formasi untuk menghadapi lawannya.

Seperti biasa Mamori mendampingi sang kapten, ia menuruti setiap perintah kapten untuk menjelaskan kepada para anggota sekaligus menyemangatinya.

Pertandingan yang berakhir sangat cepat itu dimenangkan oleh Saikyoudai Wizard dengan skor 48-24. Lawan mereka kali ini cukup merepotkan, tapi tidak seperti Enma atau Takekurako dan juga Oujo. Jika sudah waktunya melawan ketiga tim itu, pasti sang kapten akan mengerahkan seluruh kemampuannya.

"Mamo-nee!" sapa Suzuna yang datang bersama dengan kekasihnya Sena, juga temannya Riku, dan Monta.

Dengan senyumnya yang cerah, Mamori menyapa balik mereka.

"Suzuna-chan, Sena, Monta-kun, Riku-kun juga. Kalian melihat pertandingan kali ini ya?" tanyanya ramah, mereka sempat mengobrol sesaat sampai akhirnya Hiruma datang dan mulai mengolok Mamori.

"Jangan panggil aku bodoh!" seru Mamori kesal, Sena dan yang lainnya masih tertawa.

"Tetap tidak berubah ya." Ucap Sena lirih.

"Ah iya Mamori-neechan, aku dengar orang tuamu pergi ke Amerika. Dimana sekarang Mamori-neechan tinggal?" tanya Sena yang membuat Mamori terkejut bukan kepalang.

Ia mulai berkeringat, dan pandangannya tidak fokus, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya memandangi Hiruma kesal yang tidak mau tahu tentang apapun.

"Aku tinggal di neraka. Mana mungkin kubilang begitu kan." Batin Mamori terlihat depresi, hal itu membuat Sena dan rekan-rekannya kebingungan.

"Apa kau masih belum memiliki tempat untuk tinggal Mamo-nee?" tanya Suzuna cemas, juniornya yang lainnya pun ikut khawatir begitu juga rekan setimnya.

"Kalau begitu tinggal di rumahku saja! Ibu akan senang bila Mamori-neechan bisa tinggal bersama kami." seru Sena, tak berapa lama Hiruma menembakkan senapannya pada Sena.

"Hiruma-kun! Jangan arahkan senapanmu pada Sena!" bentak Mamori jengkel, Hiruma beralih dan mengabaikannya.

Semua orang masih bertanya-tanya akan jawaban Mamori yang diam dan gelisah.

Bahkan Suzuna bilang akan membantunya mencarikan apartemen untuknya, begitu juga junior dan rekannya yang lain.

"Ini merepotkan... Kau bisa tinggal di rumahku." Tiba-tiba saja Agon, Akaba, dan Yamato mengatakan hal yang sama. Ajakan untuk tinggal dengan mereka membuat semua orang tercengang.

Termasuk diri mereka sendiri sekaligus gadis polos yang masih tidak tahu harus menjawab apa. Hiruma yang melangkahkan kakinya pergi pun berhenti, sesaat wajahnya terlihat terkejut, tapi kemudian ia menunjukkan seringai liciknya.

Apa yang Hiruma pikirkan? Apa dia akan membantu Mamori? Atau malah semakin mempersulitnya? Ya, dia itu iblis yang dia lakukan adalah kesenangan tersendiri untuknya. Tapi di sisi lain sang malaikat justru berharap pada sang iblis untuk membantunya.


Terima kasih untuk yang sudah read/review/fav dan yang lainnya *bows*

Mumpung libur pengennya sih update kilat karena rabu udah masuk kerja lagi dan itu 10 hari kerja *nangis* /akukuat /ga

Oh iya btw saya gak baca manga eyeshield, cuma sekedar ikutin animenya aja... Jadi gak tau siapa lagi yang cocok buat dijadiin rival (okesip dia cuma lihat Hiruma yang paling sempurna buat Mamori /heh) Dan karena kebingungan itu, bisa-bisa menghambat untuk chapter 3 nanti, makanya saya meminta bantuan rekan-rekan untuk mencarikan rival cinta buat Hiruma! XD

Pencarian dimulai! Review yaa, sekali lagi terima kasih banyak! *bows*