"Kekekekeke..." Terdengar tawa diikuti suara senapan dari sang iblis. Semua orang menoleh padanya, begitu pula Mamori dengan perasaan cemas berusaha melihat sang iblis.

"Bagaimana kalau kita bertanding?" Seringainya membuat semua orang kebingungan, kecuali satu orang yaitu Mamori. Mendengar kata bertanding sama saja membuatnya menjadi bahan taruhan.

"Kalau kalian menang maka manajer sialan ini berhak tidur dimanapun yang kalian suka. Tapi kalau tidak, dia milikku." Seringainya penuh dengan keyakinan, melihat ekspresinya membuat Mamori tertegun, sesaat dia memang kesal. Tapi kalimat terakhir yang Hiruma ucapkan membuat kedua pipi Mamori memanas.

"Apa jangan-jangan Hiruma-senpai menyukai Mamori-neechan?!" seru Sena, Riku, Monta, dan juga Suzuna bersamaan. Hal itu makin membuat kedua pipi Mamori terbakar.

"Tidak mungkin bodoh! Dia tentu saja akan kujadikan pembantu!" sekali lagi suara tembakan peringatan terdengar untuk keempat juniornya.

"Aahh benar juga ne~" batin Mamori lemas, kemudian dia kembali ke dirinya lagi. Dia mulai berdebat dengan Hiruma hingga mengabaikan semuanya.

"Baiklah aku mengerti! Kita yang akan bertanding Hiruma-kun!" seru Mamori kesal.

Semua mata mulai tertuju pada keduanya, mereka terkejut ketika Mamori yang mengajaknya berduel.

"Heh boleh juga. Siapkan dirimu manajer bodoh." Balas Hiruma masih dengan cengirannya tapi juga diselingi kemarahan.

"Aku yang akan menentukan gamenya!" ucap Mamori dengan penuh semangat, dia mulai memikirkan permainan yang bisa membawa Hiruma pada kekalahan.

"Ah bagaimana kalau love game saja?" tiba-tiba Suzuna mengejutkan semua orang kembali.

"EEHHHHH!?" seru semua bersamaan.

Suzuna mulai menjelaskan rencananya, padahal Hiruma dan Mamori sudah jelas-jelas menolaknya. Peraturan game sangat mudah, yang pertama jatuh cinta adalah yang kalah. Tidak ada pelanggaran atau kecurangan pada game ini sampai salah satu di antara mereka jatuh cinta.

Mamori tertegun mendengarnya, dia menolak habis-habisan. Pada dasarnya Mamori lah yang akan jatuh pertama kali, karena hatinya sudah diisi oleh iblis itu.

Sena dan Riku terlihat khawatir, tapi mereka pikir ini ide yang bagus, jadi keduanya mendukung baik rencana Suzuna. Monta dan ketiga anggota tim Saikyoudai Wizards yang menawari Mamori untuk tinggal menolak rencana itu.

Antena Suzuna berdiri ketika Hiruma tidak mempermasalahkannya, hal itu membuat rekan-rekannya bingung sekaligus tak percaya.

"Aku ikut, Mamori tidak pantas jatuh di tangan iblis sepertinya." Kata Akaba yang masuk dalam permainan bodoh itu.

"Aku setuju, ini terdengar menarik." Yamato tersenyum, begitu juga Monta. Sedangkan Agon tidak tertarik, ia memilih untuk mundur karena terlalu merepotkan.

Hiruma menambahkan hukuman pada Mamori bila kalah, dia harus menuruti semua kemauannya, apapun itu. Dan karena berhasil terpancing oleh omongan Hiruma, Mamori menyetujuinya.

Iblis itu mendekatkan wajahnya pada sang malaikat sembari tersenyum.

"Ini akan menjadi kemenangan telak untukku." Bisiknya tepat sasaran, tetapi Mamori tidak mau kalah. Ia juga memajukan tubuhnya dan wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.

"Aku tidak akan kalah!" balasnya masih kesal.

Semua orang benar-benar sudah tidak waras, setelah kejadian itu Mamori justru merasa depresi. Dia tidak ingin terlibat dengan permainan seperti itu. Dia ingin fokus membawa timnya yang baru ke prestasi yang gemilang di Rice Bowl.

Mamori mengikuti Sena dan Suzuna ke sebuah cafe dimana ketiganya sering berkumpul. Mamori seperti biasa memesan makanan penutup di awal. Sedangkan Sena hanya memesan sandwich dan orange juice. Suzuna mengikuti Mamori, ia hanya memakan dessert.

Ketiganya saling membicarakan tentang masalah tadi dan tidak jauh dari amefuto. Mereka saling bertukar informasi, walaupun sudah menjadi lawan, tapi tetap saja kawan.

Ketiganya bercakap hingga larut malam, Mamori pun memutuskan untuk kembali. Tapi Sena dan Suzuna malah mengikutinya, mereka merasa khawatir tentang tempat tinggalnya yang baru.

"Kami akan mengantarmu Mamo-nee." Kata Suzuna dengan senyumnya.

"Ah bukan begitu Suzuna-chan, hanya saja..." Mamori terdiam, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hiruma ketika juniornya tahu mereka tinggal bersama.

"Apa pemilik apartemennya orang yang berbahaya?" Sena mulai berbicara serius, melihat ekspresinya membuat Mamori tertawa kecil.

Ia merasa bersyukur memilih tinggal di Jepang, ternyata biar Sena dan Suzuna sudah saling terikat mereka tidak meninggalkannya. Justru keduanya semakin menyayangi dirinya.

Air mata kebahagiaan sedikit terjatuh dari pelupuknya, namun Mamori masih saja tertawa.

"Ahaha iya, pemilik apartemenku sedikit ketat. Sena atau Suzuna tidak bisa mengalahkannya, karena dia itu berbahaya." Mamori tersenyum meyakinkan, kedua pasangan itu saling pandang dan membiarkan Mamori pergi.

Sebelum menuju ke tempat tinggalnya yang baru, Mamori memutuskan untuk berhenti di sebuah supermarket. Ia membeli beberapa bahan makanan sekaligus cemilan dan persediaan lainnya untuk dirinya juga Hiruma.

Saat hendak membayar Mamori sedikit terkejut karena kasirnya justru orang yang dia kenal.

"Eh?" keduanya saling menunjuk.

"Koizumi Karin-san, bukan?" tanya Mamori menunjuk wanita dengan rambut panjang pirang yang ada di depannya. Bagaimana bisa gadis cantik satu-satunya quarter back wanita American Football Kansai Team berada di sebuah supermarket Tokyo.

"Ah Ma-Mamori-san kan? I-Iya." Balas gadis bernama Koizumi Karin itu ramah, Mamori mengajaknya untuk berbicara sebentar usai pekerjaannya selesai.

Mereka akhirnya pergi ke taman dan berbicara sebentar, Mamori menanyakan alasan mantan quarter back terbaik SMA Teikoku Alexanders. Karin pun tanpa ragu menceritakan kisahnya, ia berkata bahwa dirinya kini menjadi bagian dari Saikyoudai University. Sekali lagi Mamori terkejut, ia tidak tahu kalau quarter terbaik wanita ada di kampusnya. Berbeda dengan klubnya yang sebelumnya, dia kini justru masuk ke klub piano. Dan masalah ia bekerja sebagai kasir karena kedua orang tuanya menentang untuk pergi ke universitas itu.

Mereka menginginkan Karin belajar piano di luar negeri dan berhenti main football, tapi Karin menolaknya.

Mendengar keteguhan hati Karin membuat Mamori terkesima, ia sangat salut padanya. Kini malah Mamori yang merasa tidak percaya diri, karena sebelumnya bersikap egois dan manja. Sampai mengabaikan rekan-rekan setimnya juga tugasnya.

Usai pertemuan mereka akhirnya keduanya bertukar email untuk saling berhubungan lebih lanjut, dan sekedar bertanya tentang amefuto.

Mamori kembali pulang ke apartemen Hiruma, di sana dia sudah melihat sang iblis duduk di sofanya seperti biasa. Dia sangat serius dengan laptopnya dan anjing kesayangannya.

"Apa kau sudah makan malam, Hiruma-kun?" tanya Mamori mendekat padanya. Hiruma hanya membalasnya dengan bahasa isyarat yang biasa mereka gunakan di lapangan.

Mamori menghela nafasnya dan pergi menuju dapur, walau dia lelah tapi dia tetap memasak untuk sang iblis.

"Apa yang sedang kau buat?" tanya Hiruma yang berada tepat di belakang Mamori.

"Ah ini, hamburger holstein... Ibuku memberikan resepnya." Balas Mamori mengalihkan wajahnya dengan senyuman. Saat melihat bidang datar milik Hiruma tepat berada di depannya membuat kedua pipi Mamori memanas. Tadinya Hiruma tidak menyadari apapun, sampai akhirnya ia melihat sekilas espresi tersipu milik Mamori dan tersenyum.

Ia menyandarkan tangannya di antara tubuh malaikat itu sehingga tidak bisa lari atau pergi ke manapun.

Mamori mulai menunduk menyembunyikan wajahnya, ia sama sekali tidak berani memandang iblis di depannya.

"Apa yang kau lakukan manajer sialan? Kenapa kau tidak memandangku seperti biasa?" tanya Hiruma yang juga menggodanya, Mamori tetap terdiam. Kini malah Hiruma menurunkan wajahnya dan mendekatkannya pada wajah sang malaikat.

"A-Apa yang mau kau lakukan?" tanya Mamori sedikit gugup, wajahnya benar-benar merah.

"Apa? Yang mau kulakukan itu terserah padaku kan? Lagipula kau kan sudah menjadi kekasih menyebalkanku bodoh." Balas Hiruma dengan wajah serius, tentu saja hal ini membuat Mamori sangat terkejut. Rona merahnya hilang begitu saja dari wajahnya. Kini dia bisa melihat jelas kedua kelopak mata Hiruma.

"...Eh?" Mamori meresponnya dengan tatapan penuh tanya dan heran. Melihat wajahnya yang sangat polos membuat Hiruma jengkel. Ia menepis jidat Mamori dengan jari tangannya hingga membuat gadis itu sedikit kesakitan.

"Ittai! Apa yang kau lakukan!?" Serunya kesal, namun Hiruma malah meninggalkannya dan duduk di tempatnya menunggu makan malam.

"Cepat selesaikan pekerjaanmu bodoh, aku lapar." Katanya, Mamori menghela nafasnya dan mulai melanjutkan aktivitasnya lagi.

Keduanya saling menyantap makan malam dengan damai, terkadang Mamori kembali mencuri pandang pada Hiruma. Dan dia teringat akan hal yang Hiruma katakan tentang sepasang kekasih tadi, wajahnya seketika memerah. Hiruma hanya terdiam melihatnya heran, ia tetap mengabaikannya.

Usai menyantap makan malam dengan semua keberaniannya Mamori mencoba untuk bertanya tentang kebenaran itu.

"Hiruma-kun..." panggilnya, Hiruma yang hendak kembali berhenti. Ia menoleh dan terdiam tak bersuara.

"Tentang kekasih tadi... Apa maksudnya?" tanya Mamori kembali, ia tidak berani menatap wajah pria di depannya. Padahal bisa terlihat jelas bahwa Hiruma menyeringai padanya, sepertinya dia akan menggodanya lagi. Hiruma berjalan mendekati Mamori, ia berhenti tepat di depannya.

"D-D-Dan kenapa Hiruma-kun mau mengikuti permainan yang Suzuna berikan. Itu kan hanya sebatas permainan." Tambah Mamori lagi, kini seringai Hiruma hilang. Dia menatap lurus gadis yang gemetar di depannya.

"Karena aku yakin menang." Sekali lagi Mamori mendongak terkejut.

"Bukannya kau tertarik padaku?" Saat itu juga semburat merah muncul di pipi Mamori, dia mengalihkan wajahnya lagi. Hiruma tersenyum melihatnya, ia hendak menggodanya lagi namun Mamori justru menatapnya mantap.

"Kalau benar memangnya kenapa?" ucapnya dengan penuh keyakinan, kini malah Hiruma yang tertegun mendengarnya.

"Aku juga bilang kan kalau aku tidak akan kalah, makanya aku juga akan membuat Hiruma-kun tertarik padaku! Aku tidak mau mengaku kalah sampai kau benar-benar bisa mengingat namaku dengan baik!" seru Mamori mendeklarasikan perang. Dengan wajahnya yang masih memerah ia pergi membersihkan semua peralatan memasak.

Sedangkan Hiruma masih terdiam, ia berjalan meninggalkan Mamori sendiri di dapur.

"Dasar manajer bodoh." Batinnya yang kembali bermain laptopnya.

Selesai merapikan semua peralatan, Mamori bergegas membasuh tubuhnya. Ia pun menyandarkan tubuhnya dengan ringan ke dalam bathub.

Usai memanjakan diri, Mamori kembali ke ruangan Hiruma untuk sekedar melihat apakah pria itu sudah terlelap atau belum.

Melihat laptopnya masih menyala dengan dirinya yang masih terjaga membuat Mamori heran. Bagaimana bisa seorang pria terus terjaga di depan laptop selama berjam-jam.

"Hiruma-kun, ini sudah malam bukankah sebaiknya kau istirahat?" tanya Mamori khawatir, Hiruma masih tidak beralih.

"Dengan cara seperti itu tidak akan bisa membuatku tertarik padamu." Balas Hiruma acuh, hal itu tentu membuat Mamori jengkel. Ia berkata pada Hiruma untuk melakukan semua hal yang dia mau, kemudian pergi ke kamarnya.

Mamori segera mematikan lampunya dan bergegas tidur. Keesokan harinya Mamori merasa bahwa ada yang memberatkan tubuhnya. Ia sedikit membuka matanya dan mendapati Cerberus di atasnya.

"Selamat pagi Cerberus-kun." Sapa Mamori lembut sembari mengusap matanya. Saat Cerberus pergi dari atasnya, Mamori menoleh dan mendapati Hiruma yang tertidur dengan posisi mendekap gadis itu. Betapa terkejutnya Mamori, ia berteriak kencang hingga menjauhkan diri darinya sampai terjatuh.

"Berisik! Apa kau tahu hari apa sekarang? Biarkan aku tidur lebih lama!" seru Hiruma jengkel, namun Mamori balik membentaknya.

"Apa yang kau lakukan di atas kasur? Maksudku kau kan yang bilang sendiri akan tidur di sofa!" balas Mamori mencoba tenang.

"Itu karena di sofa sangat dingin, aku tidak begitu suka dingin. Jadi biarkan aku tidur di sini, di atas kasurku." Hiruma membaringkan tubuhnya kembali dan menutup selimut.

"Benarkah? Kalau begitu biar malam ini aku tidur di sofa." Jawab Mamori dengan entengnya. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Mamori kemudian membasuh tubuhnya, selesai membersihkan tubuhnya ponselnya berdering.

Ia melihat nama panggilan yang tidak biasa, ibunya menelponnya di saat masih pagi. Dengan lembut Mamori mengangkat dan berbicara padanya. Semuanya berjalan mulus sampai sang ibu bilang bahwa ayah Mamori baru saja terkena musibah. Ia ditipu rekan kerjanya, dan harus mengganti kerugian milik perusahaan. Untunglah ibu dan ayahnya memiliki tabungan yang cukup, namun gantinya ia tidak bisa memberikan uang bulanan untuk Mamori. Mereka masih bisa membayar kuliahnya, namun untuk kebutuhan sehari-hari Mamori harus mulai bekerja paruh waktu.

Tentu saja malaikat itu tak keberatan, ia justru dengan senang hati menawarkan tabungannya untuk orang tuanya.

Tak berapa lama ibunya menutup panggilannya, Mamori menghela nafasnya. Ia harus mulai mencari pekerjaan paruh waktu yang bisa membuatnya tetap fokus dengan kuliah dan amefuto.

Mamori berfikir sambil menyantap sarapannya, tiba-tiba saja ia berpikir tentang Karin. Tanpa basa-basi Mamori bergegas membersihkan sarapannya, ia meninggalkan roti panggang dengan bacon juga telur mata sapi untuk sarapan Hiruma.

Dengan langkahnya yang buru-buru ia pergi meninggalkan apartemen, bahkan tak sengaja menutup pintu dengan keras.

Hiruma yang mendengar gebrakan pintu terkejut, ia terbangun dan mencari sosok Mamori untuk dimarahi. Seluruh sudut ruangan sudah ia telusuri namun tetap tidak ada, hingga akhirnya dia menemui sarapan yang masih hangat. Dengan wajah kesalnya ia duduk dan menyantap sarapan yang Mamori siapkan.

"Tcih... Dia lupa membuatkan black coffee untukku. Sebenarnya kemana dia itu." Ucapnya jengkel, ia mulai bertingkah konyol dengan mengajak Cerberus bicara.

Lima menit kemudian ponselnya berdering, tanpa ragu Hiruma mengangkatnya. Itu adalah panggilan dari Kurita yang mengajaknya pergi bersama dengan Musashi karena hari ini ketiganya bebas dari latihan. Hiruma bergegas membasuh dirinya kemudian pergi meninggalkan apartemennya.

Kini kedua penghuni itu pergi meninggalkan Cerberus sendirian, untunglah Mamori masih menjadi seorang malaikat yang baik bagi Cerberus karena memberinya makan setumpuk penuh.

"Mamori-san!" seru Karin yang melambai, Mamori berlari mendekat padanya. Ia terkesima dengan pakaian kasual milik Karin yang begitu feminim.

"Maaf membuatmu menunggu." Balas Mamori, mereka berdua akhirnya berjalan menuju sebuah kafe. Sebelumnya Karin merasa canggung karena bingung harus berbicara apa, tapi berbeda dengan Mamori yang langsung bisa berbicara tanpa beban. Baginya Karin sama seperti Sena, hanya saja yang ini lebih cantik dan juga memiliki tubuh yang indah.

Mamori mulai menceritakan masalahnya, dia bertanya pada Karin apakah ada pekerjaan yang cocok untuknya. Karin mulai terbiasa dengan Mamori, ia sangat ramah padanya hingga membuatnya nyaman. Karin memberitahu beberapa pekerjaan yang mungkin cocok untuk Mamori. Keduanya pun segera bergegas untuk melihat secara langsung pekerjaan itu.

Sementara itu Hiruma bertemu dengan Kurita dan Musashi, mereka telah memutuskan membeli sepatu untuk para junior yang berhasil memasuki universitas pilihan mereka.

"Ngomong-ngomong Hiruma, bagaimana hubunganmu dengan Mamori-san?" tanya Musashi sedikit menggoda, namun Hiruma sama sekali tak terpengaruh. Dia tetap diam dan menggelembungkan permen karetnya. Belum sampai di toko sepatu, Kurita menghentikan langkahnya sehingga membuat Hiruma dan Musashi bertabrakan dengannya.

Hiruma langsung memarahinya, tapi kemudian Kurita menunjukkan sesuatu. Ia sangat terkejut dengan yang dilihatnya. Mamori bersama Karin mengenakan pakaian Maid dan membagikan brosur untuk cafe di belakang mereka. Bukan hanya itu, mereka dikelilingi oleh banyak pria!

Senyum tulus Mamori sukses memikat para pria, begitu juga sifat polos Karin dengan senyumnya yang menjerat mereka. Benar-benar kombinasi yang sempurna untuk menarik pelanggan.

Mamori sama sekali tidak keberatan bila seseorang dari universitas melihatnya, karena baginya ini adalah pekerjaan yang baik.

Apanya yang salah dengan berpakaian maid, juga telinga kucing, dan rambut ponytail? Semuanya terlihat biasa saja bagi Mamori, tapi tidak bagi para pria yang haus akan nafsu dunia.

Kurita mengajak Hiruma dan Musashi mendekat. Musashi pun setuju dengannya, sepertinya tidak buruk bila pergi ke kafe yang dipenuhi wanita cantik. Lain dengan Hiruma melihat hal itu membuatnya hanya terdiam, ia sama sekali tidak peduli dengan keduanya. Hiruma mengajak Kurita dan Musashi pergi.

"Lihat saja nanti, dasar gadis merepotkan." Batin Hiruma pergi meninggalkan Mamori.


YA-HA! Besok udah mulai masuk, sepertinya sudah mulai dihiatuskan ini fanfic sampai 10 hari ke depan kekekekekek /jahat

Tenang udah siap update kok untuk chapter berikutnya, cuma gak tau kapan bisa publishnya ohohoho... Apalagi chapter 4 udah mulai menjurus ke adegan piiiip /heh

Terima kasih untuk yang setia membaca dan review! Terima kasih banyak! *bows*