Warning: SMUT! Ceritanya baru belajar bikin yang smut2 /okebohong Ini pertama kalinya owe publish fanfic dengan genre mature, jujur bingung gimana biar bisa kerasa maturenya gitu wkwkwk tapi yah silahkan baca saja... Di doc owe banyak fanfic2 genre mature tapi belum pernah ke publish wwwwwww, kalau kurang greget mohon reviewnya! Terima kasih banyak sampai ketemu di bawah! XD


Saat sedang bekerja tiba-tiba saja Yamato dan Taka datang, dia mendekati Karin dan Mamori. Matanya seperti hampir keluar melihat penampilan keduanya. Tapi mereka lebih terkejut lagi karena ada Karin di sana.

"Karin? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Yamato heran, Mamori memandangi keduanya dengan bingung. Dia kira Karin telah memberitahu Yamato ataupun Taka tentang kedatangannya di Tokyo.

"Ah maaf aku harus kembali bekerja." Karin pergi meninggalkan Yamato dan Taka dengan kebingungan.

Sedangkan Mamori masih terdiam di sana, ia mencoba menjelaskannya pada Yamato namun Karin memanggilnya. Ia pun memutuskan supaya menghubunginya nanti setelah dia selesai dengan pekerjaannya. Setelah membagikan brosur Mamori bergegas melayani pelanggan kafe yang kebanyakan adalah laki-laki. Ia sangat ramah dan bisa diandalkan, semua pelanggan baik wanita maupun pria menyukainya. Begitu juga dengan Karin, dia banyak menarik perhatian orang.

Usai dengan pekerjaannya Mamori menanyakan alasan dia tidak memberitahukan Yamato dan Taka tentang kedatangannya ke Tokyo. Karin tidak mau menjawabnya, ia hanya tertunduk diam.

"Karin... Kau sudah bekerja sangat keras, menjadi seorang kasir, juga seorang pelayan kafe. Itu adalah pekerjaan yang berat untukmu. Apa terjadi sesuatu?" tanya Mamori lembut, melihat kegigihan Mamori membuat Karin luluh, ia mulai menceritakannya.

Sejujurnya Karin ingin bermain American Football kembali, tapi kedua orang tuanya tidak menyetujuinya. Mereka hanya membolehkannya saat SMA karena dorongan dari Taka juga. Tapi kini American Football sudah menjadi bagian dari dirinya tanpa ia sadari. Ia masih menyukai aktivitasnya dalam menggambar dan bermain piano. Ia juga bercita-cita untuk membuat manga Amefutonya sendiri. Hanya saja dia lebih menikmati ketika bergerak di lapangan.

Tapi dia tidak bisa menjadi seorang quarter back lagi, mau bagaimanapun ia sangat menghargai kedua orang tuanya. Setidaknya dengan berada di Tokyo bisa membuatnya dekat dengan football sudah sangat cukup. Orang tuanya masih menentang, namun ia tetap pergi dan sebagai gantinya membayar untuk semua kebutuhannya sekaligus kuliah.

"Kenapa tidak coba jadi manajer saja?" Mamori tersenyum lembut, ia mencoba memberikan solusi untuk Karin.

"...Eh?" Karin mendongak kebingungan, ia tidak mengerti apa yang Mamori pikirkan.

"Orang tuamu tidak mengizinkan karena takut kau terluka. Kalau sudah begitu kenapa tidak jadi manajer saja? Kau bisa mendukung dan membantu anggota tim dengan baik, Karin." Senyum Mamori masih melekat pada wajahnya, ini sedikit mengejutkan. Pasalnya Karin tidak pernah berpikir untuk menjadi manajer sebelumnya.

"Kalau begitu, apa Mamori-san mau mengajariku?" tanya Karin dengan penuh harap, tentu saja Mamori mengangguk setuju, ia menunduk dan memohon bantuan Karin.

Usai percakapannya itu Mamori bergegas kembali ke apartemennya. Ketika membuka pintunya, lampu di apartemen secara otomatis menyala, Hiruma masih belum datang.

Mamori bergegas masuk ke kamar mandi untuk merendam tubuhnya. Dia benar-benar merasa lelah dengan semua keadaannya akhir-akhir ini. Dengan rambut yang masih basah dan nightgownnya yang berwarna merah muda Mamori keluar dari kamar mandi.

"Ah..." Hiruma dan Mamori saling berpapasan, mereka saling tatap dan terdiam.

"Hiruma-kun selamat datang." Sambut Mamori, Hiruma masih memandangi gadis di depannya. Ia sekali lagi mengacuhkannya.

Mamori juga terlalu lelah untuk berdebat dengannya, ia mempersilahkan Hiruma membasuh tubuhnya. Dirinya benar-benar seperti istri yang baik, dengan senang hati menyiapkan air hangat untuk sang iblis.

Hiruma mengenakan kaos polos warna putih dengan celana training hitam, Mamori yang melihatnya sedikit terpesona, terlebih lagi ketika rambutnya yang lurus jatuh ke depan ia kibaskan ke belakang.

Pria itu kini duduk di sofanya dan kembali dengan laptopnya, tak berapa lama Mamori mendekat dan meletakkan black coffee di depannya.

Ia juga mulai mendekat padanya, melihat apa yang sedang pria itu lakukan. Ketika melihat strategi yang dibuat Hiruma untuk latih tanding, Mamori mulai memberikan saran dan masukan yang berguna baginya. Mereka berbincang seputar amefuto dan pertandingan-pertandingan yang akan datang.

"Ah Hiruma-kun..." tiba-tiba saja Hiruma menutup laptopnya, ia bangkit dari duduknya.

"Kau sebaiknya istirahat, biar malam ini aku tidur di sofa. Hiruma-kun selalu bekerja keras, dan ini juga apartemen milikmu, jadi selamat malam." Mamori tersenyum lembut, ia hendak membaringkan tubuhnya sebelum akhirnya Hiruma menarik tangannya. Ia juga menopang Mamori layaknya putri, Mamori yang tak mengerti mulai terlihat memerah, ia mencoba memberontak tapi Hiruma terlebih dulu meletakkannya di tempat tidur. Ia pun juga berbaring dan menarik selimutnya, dengan cepat Mamori bangkit dan menjauh darinya.

"A-Apa yang kau lakukan?" tanya Mamori gugup, ia sedikit ketakutan tadi.

"Salju masih belum mencair, kau bisa mati jika tidur di sana manajer sialan. Untuk saat ini tidurlah atau lakukan apa yang kau mau." Balas Hiruma, ia tidak menatap Mamori sama sekali.

"K-Kau tidak akan melakukan apapun kan?" tanya Mamori kembali dengan nada yang bergetar, mendengar pernyataan itu membuat Hiruma tersenyum. Kini ia bangkit dan duduk melihat ekspresi Mamori.

"Apa maksudmu dengan tidak melakukan apapun?" Hiruma balik bertanya, Mamori masih memalingkan wajahnya dengan semburat merah di pipinya.

"Se-Seperti hal-hal yang mesum." Balas Mamori malu, ia benar-benar sudah semerah kepiting rebus.

"Bodoh mana mungkin." Hiruma menjawabnya enteng, saat Mamori merasa lega dengan jawabannya tiba-tiba saja Hiruma menarik tangannya dan menindihinya di atas kasur.

"Apa yang sedang kau bayangkan? Beritahu aku, aku akan melakukannya untukmu." Dengan kepolosan Mamori juga ketumpulannya yang luar biasa membuat hal seperti itu menjadi respon yang mengerikan baginya. Wajahnya sudah benar-benar merah, ia tidak berani memandang Hiruma yang ada di atasnya.

Padahal dia tidak memikirkan apapun, hanya saja hal itu mulai membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Ia memulai berpikir liar tentang apa yang akan Hiruma lakukan, ini adalah hal pertama yang membuatnya seperti ini.

"Apa kau membayangkanku untuk menciummu di sini." Hiruma mendekatkan tubuhnya, ia mulai berbisik di telinga gadis itu. Mamori mulai merasa tidak beres dengan tubuhnya.

Hiruma menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat telinga Mamori, hal itu membuat tubuh Mamori semakin aneh dan terasa panas. Ia tidak bisa menolaknya, walaupun dia ingin menolaknya tapi tubuhnya berkata tidak.

Air mata sudah tertumpuk di pelupuknya, ia juga menggigit bibir bagian bawahnya supaya tidak mengeluarkan suara yang aneh.

Hiruma beralih, kini ia menuju leher jenjang Mamori, menjilat sekaligus menggigitnya meninggalkan bekas merah di sana. Tangannya beralih pada payudara gadis itu.

"Kau pikir bisa lepas dariku? Apa ini yang kau inginkan dengan para pria yang kau temui tadi?" tiba-tiba saja Mamori kembali menjadi dirinya. Ia terkejut sekaligus tidak mengerti apa yang Hiruma katakan. Hiruma juga menghentikan aksinya, ia menyingkirkan wajahnya.

Melihat ekspresi pria di atasnya membuat Mamori berpikir.

"Apa dia cemburu? Dengan anggota klub? Tapi, tadi pagi bukannya tidak ada latihan? Mungkinkah!?" batinnya heran, kini Mamori mulai mencoba menahan tawa.

"Apa Hiruma-kun melihat kerja paruh waktuku?" tanyanya lembut, kini Hiruma menatap lurus matanya.

"Mulai sekarang aku akan bekerja di sana, jadi mungkin aku akan selalu pulang terlambat." Jelas Mamori, Hiruma masih terdiam.

"Apa kau begitu menyukai pakaian maid? Haruskah aku membelikannya untukmu?"

"Tidak! Bukan begitu!" bentak Mamori, mereka saling beragumentasi kembali, namun kali ini dengan senyum di wajah keduanya.

Mamori tidak tahu apa motif Hiruma merasa cemburu padanya, tapi dia merasa bahagia. Ini pertama kalinya melihatnya seperti itu.

"Hi-Hiruma-kun, sampai kapan kau akan berada di atasku?" tanya Mamori masih kebingungan, namun Hiruma justru tersenyum penuh arti.

"Kapan ya? Mungkin sampai kau mau memanggil namaku." Balas Hiruma yang sekali lagi mendekatkan wajahnya, belum selesai menjawab Hiruma terlebih dahulu menyatukan bibirnya pada bibir manis gadis itu.

Ia memaksa masuk dan mengulum lidahnya, Mamori yang sempat memberontak akhirnya luluh. Ia hanya bisa menikmati aduan lidah Hiruma. Ketika melepasnya saliva mereka menyatu, wajah Mamori sudah benar-benar merah, dia tetap terdiam tak mau berkata apa-apa.

Hiruma perlahan meraba bagian kakinya, ia mulai membuka nightgownnya hingga seatas paha gadis itu. Mamori menutupi wajahnya, ia terlalu malu untuk melakukannya dengan Hiruma.

"Ja-Jangan lihat..." ucapnya pelan, namun Hiruma justru mencium dan menjilat pahanya yang putih. Mamori menutup mulutnya agar dia tidak mengeluarkan suara.

"Kau begitu keras kepala, keluarkan saja bodoh." Kata Hiruma yang mulai merambah pada bagian sensitif gadis itu.

"Padahal aku belum melakukan apapun, tapi kau sudah basah? Ternyata kau begitu bahagianya ingin kusentuh ya?" tambahnya yang semakin membuat Mamori malu.

"Ja-Jangan bicara disitu!" tanpa basa-basi Hiruma menekan sedikit, kemudian memijatnya pelan hingga membuat Mamori terjingkak.

"Hn.." Mamori masih menahan suaranya agar tidak keluar. Karena kesal akhirnya Hiruma menahan kedua tangannya tepat di atas kepalanya.

"Hi-Hiruma-kun aku mohon, suaraku berubah menjadi aneh. Aku terlalu malu..." balas Mamori kembali. Hiruma malah semakin kesal dan menekannya kembali.

"Ah!" kini suara desahan kecil penuh kenikmatan keluar dari bibir mungilnya, mendengar suaranya justru membuat Hiruma terkejut. Ia merubah posisinya dan mencium bibir Mamori sekali lagi, lidah mereka saling beradu kembali. Lidah sang iblis seakan mengintimidasi bibir sang malaikat, begitu juga malaikat yang menikmatinya. Ia mendekap punggung sang iblis dengan erat, seakan tak ingin mengakhirinya.

Ciumannya sangat dalam dan cukup memakan waktu. Dinginnya malam itu berhasil dikalahkan dengan sentuhan beracun milik sang iblis yang membuat tubuh sang malaikat mendidih.

Malaikat yang suci, putih, polos, anggun, dan menawan malam itu dilumuri racun dari neraka. Walau warnanya berubah, tapi ia tidak merasa menyesal. Karena hanya iblis itu yang bisa menyentuhnya sesuka hatinya.

Keesokan harinya Mamori membuka matanya ia tidak bisa bebas bergerak karena seseorang memeluk tubuhnya erat. Seketika wajahnya memerah, ia teringat kejadian semalam.

Hiruma tidak sampai mengambil kesucian Mamori, ia hanya sebatas menyentuh dan membuat gadis itu nyaman. Mamori mulai memikirkan hal yang tidak-tidak, tetapi saat melihat wajah Hiruma yang tertidur ia jadi tak bisa berpikir apapun.

"Bukannya ini curang?" Ucap Mamori pelan.

"Apanya yang curang?" tanya Hiruma yang juga sudah terbangun, keduanya sempat berdebat lagi namun kemudian Hiruma mengeratkan dekapannya.

"Kau bahkan sangat keras kepala, seberapa besar batu di kepalamu itu." Kata Hiruma dengan nada kesalnya.

"Hah? Apa!? Apa yang kau bicarakan? Itu karena Hiruma-kun melakukan kecurangan..." balas Mamori dengan wajah sedikit murung.

"Kau bahkan tidak mau memanggil namaku." Mendengar ucapan iblis yang selalu kasar dan keras tiba-tiba menjadi halus dan lembut membuat Mamori merinding, ia kembali tersipu.

"Memangnya Hiruma-kun pernah memanggil namaku?" balas Mamori yang juga mengeratkan dekapannya.

Sekarang mereka berdua justru terlihat seperti iblis dan malaikat tak berotak sama sekali. Menghabiskan waktu bersama selama bertahun-tahun, saling bertengkar dan berbaikan, sampai akhirnya tinggal bersama dan menyentuh satu sama lain. Tapi tidak ada yang mengungkapkan kata sayang atau suka sama lain. Keduanya tidak mau mengalah, dan karena ketumpulan yang dimiliki sang malaikat membuat si iblis kesal berkali-kali hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat sang malaikat sedikit saja menyadari perasaannya.

Padahal tuhan atau bahkan cupid tidak membuat dinding besar untuk keduanya. Justru mereka sendiri lah yang membuat dinding.

Sejak kejadian itu Hiruma jarang bertemu dengan Mamori, karena usai dengan kegiatan amefuto Mamori bergegas pergi ke kafe dimana dia bekerja.

Karin juga banyak membantunya, oleh sebab itu Mamori bisa melaksanakan semua pekerjaannya dengan baik. Namun gantinya ia harus selalu mendapati apartemennya yang kosong, Hiruma jarang kembali ke apartemennya.

Mamori hanya bertemu di kampus saja, ia tidak tahu apakah Hiruma masih memiliki tempat tinggal lain. Selama ini dia tidak tahu apapun tentangnya walau sering bersama.

"Mamori..." panggil Akaba membuyarkan lamunan Mamori, mereka saat itu sedang menganalisis data lawan. Mamori tersenyum dan kembali pada topik pembicaraan mereka.

"Percuma saja, kau sama sekali tidak mendengarku." Kata Akaba yang menutup semua dokumennya, Mamori tertunduk meminta maaf.

"Apa kau bebas hari ini?" tanya Akaba, dia mengajak Mamori untuk mengantarnya melihat-lihat beberapa senar gitar baru. Dengan senang hati Mamori menerimanya.

Mereka berdua pergi tanpa memberitahu anggota yang lain, toh mereka juga sudah pergi terlebih dahulu. Keduanya berjalan tanpa berbicara apapun, Mamori pun hanya melamun memikirkan Hiruma. Sedangkan Akaba bingung memikirkan topik pembicaraan.

"Mamori, apa kau mau membeli makanan di sana." Akaba berhenti, ia menunjuk ke sebuah kedai crepes yang dipenuh gadis-gadis SMA. Melihat ekspresi wajahnya yang tetap datar membuat Mamori tertawa kecil.

"Akaba-kun belum pernah memakan crepes? Mau kubelikan?" tawar Mamori dengan senyum ramahnya.

"Tidak usah, biar aku yang bayar." Kata Akaba, mereka berjalan dan mulai mengantri. Semua mata tertuju pada Akaba yang menarik perhatian karena wajahnya yang tampan. Belum lagi gadis-gadis mulai berbisik ketika mereka tahu bahwa yang ada di sana adalah Hayato Akaba yang terkenal.

"Wajar saja bila laki-laki jarang membeli crepes di sini, biasanya hanya wanita saja yang mengantri." Mamori kembali tersenyum lembut, ia memberikan crepes yang Akaba minta. Mereka duduk di kursi dekat pusat perbelanjaan.

"Itadakimasu." Ucap keduanya sembari menggigit crepesnya. Mamori tersenyum dengan senangnya menikmati setiap sentuhan krim yang lembut dengan kulit crepes yang gurih.

"Mamori, apa kau sudah mendapatkan tempat tinggal?" tanya Akaba yang sukses membuat Mamori tersedak, ia gugup dan mulai mencari alasan.

"Apa kau tinggal bersama kekasihmu?" Tanya Akaba dengan wajah serius.

"Kenapa Akaba-kun bertanya seperti itu?" Mamori balik bertanya dengan polosnya.

"Karena seminggu lalu, aku melihat lehermu. Ada kissmark di sana."

"...Eh?" Keadaan menghening, Mamori tak bisa menjawab apapun. Ia hanya terlihat sangat terkejut, belum lagi wajahnya yang perlahan-lahan mulai memerah membenarkan fakta itu.


Terima kasih untuk semua yang sudah baca dan menikmati fanfic ini, maaf baru bisa update chapter baru karena besok libur *joget*

Sekali lagi terima kasih! Kalian semangatku walau aku tak bisa balas review satu2 *bows*