Mamori secara reflek memegangi lehernya, wajahnya masih memerah. Hal itu membuat Akaba semakin curiga, sesaat kemudian Mamori tertunduk.
"Ti-Tidak kok, sebenarnya kemarin itu ada serangga yang menggigit tepat di bagian leherku. Aku sampai menangis loh!" Balas Mamori tertawa dengan semua kebohongannya, Akaba terus memandanginya, begitu juga Mamori yang mulai gugup dan kebingungan.
"Maaf aku tidak bermaksud mengungkitnya. Berhati-hatilah, walau cuaca masih dingin tapi tidak menutup kemungkinan serangga datang menyerang." Akaba tersenyum, ia menghapus noda krim di sekitar bibir Mamori.
"Un, a-aku akan berhati-hati." Balas Mamori tersenyum lembut. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke toko alat-alat musik. Akaba memberikan gitarnya pada penjaga toko untuk dilihat dan diganti senarnya.
Selama menunggu perbaikan selesai Mamori melihat alat-alat musik di sana. Akaba ikut mendekati dan mendampinginya. Mereka mulai berbicara tentang selera musik masing-masing.
"Apa kau bisa bermain gitar?" tanya Akaba, Mamori hanya tertawa kecil. Ia sempat bermain gitar sambil bernyanyi saat masih dibangku smp. Dia menceritakan kisahnya yang singkat sambil mengingatnya, terkadang senyum manis terlihat di wajahnya.
"Kenapa berhenti?" kini pertanyaan Akaba membuat Mamori menyembunyikan senyumnya.
"Itu karena..." terdapat jeda yang cukup lama, hal itu justru menarik rasa penasaran Akaba.
"Aku hanya merasa tidak cocok bernyanyi dengan genre rock." Mamori tersenyum kembali, jawabannya cukup membuat Akaba terkejut. Dia kira Mamori berhenti karena perselisihan atau salah satu anggota klubnya bermasalah, namun alasannya justru sangat sepele.
"Sampai akhirnya aku masuk ke SMA Deimon, dan bergabung dengan komite disiplin kemudian... Mengenalnya." Senyum lembut diselingi kesedihan terlintas di wajahnya.
"Ah Akaba-kun, lihat pianonya... Kalau melihat ini aku jadi teringat dengan Karin." Mamori mengalihkan pembicaraan, dan dengan cepat Akaba teralihkan.
Mereka sempat membicarakan Karin hingga akhirnya menjurus pada rumor tentang hubungan Karin dan Hiruma yang sedang dekat. Banyak anggota dari klub lain yang mulai membicarakan hubungan mereka selama seminggu.
"...Eh?" Mamori membeku, ia tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu ingin menyangkalmya tapi ia tidak bisa, pasalnya akhir-akhir ini Hiruma mengacuhkan dirinya. Dia lebih bergantung pada Karin dibanding dengan dirinya. Dia juga tidak terlalu menanggapi rumor jadi dia sendiri tidak tahu.
"Akaba-kun gitarmu sudah selesai!" seru penjaga toko, Akaba mengajak Mamori untuk mendekati pelayan itu, namun Mamori hanya terdiam. Ia masih terlalu kaget, baginya itu sangat sulit dipercaya. Yang Hiruma lakukan sebelumnya sudah membuatnya banyak berpikir, tapi sekarang...
"Sebelumnya dia bilang untuk menjadikanku kekasihnya, kemudian berani menyentuhku dengan tangannya, lalu sekarang dia mengabaikan dan justru mendekati wanita lain..." batin Mamori yang masih terlihat terkejut. Akaba mulai membayar untuk perbaikan gitarnya, saat ia menoleh pada Mamori giliran dia yang terkejut.
"Mamori? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Akaba dengan cemas, ia tak pernah terlihat secemas itu sebelumnya.
Lelaki bersurai merah itu menggenggam pundak wanita yang tengah menangis di depannya. Air mata Mamori tidak bisa disembunyikan lagi, ia benar-benar merasa sesak di dadanya.
"Are? Kenapa aku menangis? Ahaha maaf Akaba-kun, aku merepotkanmu." Ucap Mamori sembari menghapus air matanya, namun semakin lama tangisannya tidak terhenti.
"Kenapa aku malah menangis di saat seperti ini?" Batinnya, Akaba yang melihat air mata Mamori merasa sedih dan tak berguna. Ia menggenggam tangan Mamori dan membawanya pergi. Saat sedang berjalan di kerumunan orang, tiba-tiba Mamori berhenti. Ia melepas genggaman tangan Akaba, Mamori menunduk meminta maaf dan izin pamit pulang.
"Maafkan aku Akaba-kun, aku harus pergi ke tempat kerjaku. Aku minta maaf karena telah merepotkanmu, aku menangis tanpa sebab." Kini Mamori mulai bisa tersenyum kembali, melihat senyumnya membuat Akaba merasa lega. Itulah yang dia ingin lihat dari wanita yang berhasil mencuri perhatiannya. Akaba sempat memaksa ikut, tapi Mamori juga bersikeras agar tidak diikuti. Dan rencananya itu berhasil, Mamori berhasil pergi ke tempat kerjanya tanpa Akaba.
Sesampainya di cafe Mamori bergegas mengganti pakaiannya. Kali ini maid cafe dengan tema twintail, cukup memalukan bagi Mamori namun ia tidak mempermasalahkannya.
"Dengan gaya rambut apapun Mamori-neechan tetap terlihat dewasa ya." Kata Suzuna menggoda, ia datang bersama dengan Sena untuk mengunjungi Mamori yang tengah bekerja.
"Hei kalian seharusnya berlatih bukan? Ini masih jam latihan tahu." Balas Mamori menasehati sembari memberikan pesanan keduanya.
"Hahaha hari ini kami libur, jadi masih ada waktu untuk bersenang-senang sampai pertandingan berikutnya." Jawab Sena dengan entengnya, namun kembali lagi Mamori menasehatinya. Ia masih bersikap seperti seorang kakak sekaligus manajer tim. Mamori meninggalkan kedua pasangan yang sedang saling menggoda satu sama lain.
Melihat Suzuna yang memerah dengan senyumnya di hadapan Sena yang tertawa membuat Mamori mulai membayangkan bahwa saat ini dirinya berada di posisi Suzuna. Bukan dengan Sena melainkan Hiruma.
"Ha?" Mamori terkejut sendiri, tanpa ia sadari wajahnya sudah memerah. Dia sadar bahwa dirinya menyukai dan tertarik dengan Hiruma. Tapi sejak kapan dia berharap bahwa Hiruma menjadi satu-satunya untuk dirinya sendiri.
Dia bahkan menangis saat mendengar kabar kedekatan Hiruma dan Karin dari Akaba. Sejak kapan kehadiran sang iblis mempengaruhi kehidupannya? Dan sejak kapan Mamori selalu gugup hanya ketika melihat wajahnya atau bahkan ketika kulit mereka tanpa sengaja bersentuhan.
"Mamori-san... Mamori-san..." panggil seseorang yang suaranya tidak asing lagi bagi Mamori.
"Yamato-kun!?" serunya yang membuat beberapa pelanggan menoleh pada mereka, Yamato tersenyum lembut dan meletakkan telunjuknya di depan bibir.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mamori berbisik, ia masih terkejut dengan kehadiran Yamato di sana dengan pakaian butler.
"Kau tidak tahu, mulai hari ini aku bekerja di sini menggantikan Karin." Balas Yamato masih dengan senyumnya, keduanya sempat bercakap asik hingga manajer mereka datang menegur.
Hari itu Mamori bisa melakukan tugasnya dengan baik karena hadirnya Sena, Suzuna, juga Yamato yang sukses membuatnya melupakan gosip Hiruma dan Karin.
Usai dengan pekerjaannya, Mamori mulai membersihkan dan menutup kafenya.
"Terima kasih banyak!" seru Mamori berpamitan pada sang manajer dan berlalu pergi, namun Yamato berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia mengajak Mamori berbicara sesaat di taman.
Itu adalah taman dimana semuanya dimulai, kejadian Hiruma dan Mamori.
"Apa ada masalah yang mengganggumu, Mamori-san?" tanya Yamato memberikan sekaleng green tea hangat pada Mamori.
"Tidak, maaf membuatmu khawatir sebenarnya ada sedikit masalah kecil." Balas Mamori masih dengan senyumnya.
"Jika tidak keberatan, maukah kau menceritakannya padaku?" pinta Yamato, Mamori sempat terdiam, namun akhirnya mengalah. Sepertinya bila itu Yamato ia bisa dengan mudah menceritakannya, Mamori bercerita tentang keadaan orang tuanya yang ada di Amerika saat ini.
Baru saja pindah tapi mereka sudah dirundung masalah, memang menyakitkan jika tidak bisa bersama dengan keduanya di saat seperti ini.
"Aku harus mulai menabung dan mencari uang sendiri, makanya aku bekerja di sana. Kebetulan Karin yang membantuku, gajinya juga sangat cukup untuk membiayai kehidupanku." Mamori tersenyum lembut.
"Bagaimana dengan Yamato?" Kini giliran Mamori mengintimidasi.
Yamato bilang bahwa dirinya ingin merasakan susahnya mencari uang. Dia tidak ingin terus bergantung pada kedua orang tuanya.
"Tapi itu mengganggu waktu latihanmu bukan?" tanya Mamori kembali.
"Memang sih, tapi aku jadi bisa lebih lama denganmu. Mamori-san." Balas Yamato dengan senyum tulusnya, mendengar balasannya membuat Mamori terkejut.
Ia tidak bisa menjawab apapun, suasana pun mulai canggung. Tidak ada suara yang keluar dari bibir keduanya sampai akhirnya Yamato tertawa.
"Haha aku hanya bercanda, itu sama sekali tidak mengurangi waktuku. Aku justru jadi menikmati waktu luangku ketika tidak bermain amefuto." Mendengar jawaban itu lebih membuat Mamori bernafas lega, ia tidak tahu harus merespon apa dan bagaimana jika benar Yamato bekerja untuknya.
Keduanya saling melempar canda tawa, Yamato sukses membuat Mamori menghias wajahnya dengan senyuman. Ia tak pernah kehilangan senyumnya bila dekat Yamato. Bahkan saat membicarakan Karin dengan Hiruma, Mamori masih bisa tersenyum.
"Apa Yamato-kun tahu tentang rumor yang beredar antara Hiruma-kun dengan Karin?" tanya Mamori masih dengan senyumnya yang biasa.
"Hmmm aku dengar dari beberapa orang bahwa Hiruma sedang menyukai seorang gadis." Balas Yamato santai, mendengar hal itu membuat degupan jantung Mamori serasa berhenti kemudian berdegup kencang.
Mendengarnya sangat menyakitkan, namun Mamori tetap tersenyum. Ia hanya menggenggam kaleng minumannya erat.
"Tapi tidak ada yang tahu siapa gadisnya, mungkin saja itu Mamori-san. Masih ingat dengan permainannya?" kini jantungnya semakin berdegup kencang ketika Yamato mengungkit namanya tentang gadis yang Hiruma sukai. Mamori mulai salah tingkah dan tidak bisa berkata apa-apa selain menyangkalnya.
"Tidak mungkin, Hiruma-kun selalu mempermainkanku. Dia tidak pernah serius dan selalu membuatku kesal. Dia selalu menganggapku sebagai mainannya, baginya aku hanyalah orang yang bisa ia gunakan di saat bosan." Mamori tertawa dengan ekspresi yang murung, ia ingin menangis tapi rasanya tidak untuk kali ini.
"Aku dengar kau menjadi manajer klub amefuto untuk melindungi Sena darinya?" tanya Yamato, Mamori mengangguk pelan, ia mulai menceritakan semua masa lalunya pada Yamato.
Dia membagikan kisah Deimon Devil Bats yang dialaminya selama dua tahun bersama dengan anggota timnya. Semua perasaan susah, senang, sedih, bercampur jadi satu. Mendengarkan cerita dan berbagai ekspresi yang Mamori berikan membuat Yamato sangat menikmati ceritanya.
Ia mulai berpikir bahwa wanita yang setahun lebih tua itu sangat manis. Dia juga sangat lembut dan mudah sekali dibaca, namun sayangnya dia tidak peka dengan perasaan orang sekitarnya apalagi dirinya.
"Sampai akhirnya Yamato-kun memberikan gelar eyeshield 21 pada Sena. Bagiku semua itu seperti mimpi." Mamori tersenyum dengan lebarnya.
"Mamori-san memang wanita yang hebat. Justru peranmu lah yang terbesar dalam tim. Seorang manajer selalu mendampingi dan mendukung timnya. Aku melihatmu berteriak sekuat tenaga mendukung teman setimmu, dan itu memberikan kekuatan tersendiri bagi mereka. Begitu juga bagiku." Mamori tersanjung mendengar pernyataan Yamato yang begitu jujur.
"Aku sangat menyukai Mamori-san yang berteriak memanggil namaku di sisi lapangan. Kau selalu bisa memberiku kekuatan. Kenapa Mamori-san tidak menyukaiku saja ya." Yamato tersenyum lembut menatap Mamori yang wajahnya kini sudah semerah buah delima.
Malam itu masih dingin, tapi salju sudah mencair, dan sakura mulai bermekaran...
Yamato secara tidak langsung menyatakan perasaannya pada Mamori, dan entah bagaimana tapi gadis setumpul Mamori bisa menyadarinya. Dia tidak bisa membalas apapun, dan hanya tertawa salah tingkah. Yamato yang melihatnya canggung merasa bersalah, tapi dia tidak mau mundur. Dia hanya ingin Mamori menyadari perasaannya. Ia tidak masalah bila Mamori menolaknya, toh dari awal Yamato tahu betul siapa yang selalu ada di mata Mamori.
Mamori masih terdiam, ia tidak bisa menjawab atau menatap mata Yamato sekalipun. Namun pria itu begitu lembut, ia bangkit dan tersenyum.
"Sudah malam Mamori-san sebaiknya pulang dan beristirahat. Bukannya besok ada latihan pagi?" Yamato memutuskan untuk meninggalkan Mamori yang masih terlihat kacau. Tapi sesuatu yang mengejutkan justru terjadi, Mamori menyentuh mantel Yamato dengan lembut.
Pria itu menoleh keheranan, wajah wanita di depannya masih terlihat memerah.
"Bo-Boleh aku bermalam di tempatmu?" tanya Mamori gugup yang membuat Yamato sangat terkejut. Wajahnya ikut memerah, namun melihat beban yang Mamori berusaha simpan sendiri membuatnya mengerti.
"Aku punya satu adik laki-laki. Yah dia cerewet tapi dia anak yang baik." Yamato tersenyum, ia menggenggam tangan Mamori dan membawanya pergi.
Sementara itu di apartemennya Hiruma terlihat gelisah, ia terus memandangi laptopnya tanpa tahu harus berbuat apa. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar, itu pesan dari saingannya, Marco. Hiruma membacanya dengan wajah jengkel, sampai akhirnya mencapai bawah, kedua matanya membulat. Sebuah foto dilampirkan dengan tulisan 'Ternyata itu mantan Eyeshield 21, ya.'.
Foto itu memperlihatkan Mamori yang sedang bergandeng tangan dengan Yamato.
Melihatnya benar-benar membuat Hiruma muak, ia membuang ponselnya ke lantai dengan keras. Wajahnya belum pernah terlihat sangat jengkel seperti itu.
"Apa yang dipikirkan wanita sialan itu." Batinnya.
Di kediaman Yamato semua keluarganya tercengang dengan kehadiran Mamori. Mereka tidak tahu jika Yamato bisa membawa gadis lain selain Karin datang ke rumahnya.
Ibu Yamato sangat lembut seperti dirinya, ia memperlakukan Mamori dengan sangat baik, begitu pula ayahnya yang sangat ramah. Adiknya yang baru kelas 3 smp itu memang benar cerewet, tapi dia sukses membuat Mamori tertawa.
Sepanjang malam Mamori tersenyum dan tertawa, tetapi pikirannya jusrru berada jauh. Ia terus memikirkan Hiruma, apakah dirinya sudah makan atau belum. Atau setidaknya apakah dia sudah pulang, dan apa dia tidur di kamarnya atau tidak. Juga, apa dia sudah membereskan semua dokumennya atau belum.
Mamori memandangi langit-langit tempat dimana ia tidur malam itu. Sejujurnya ia sangat ingin pulang dan kembali seperti sebelumnya. Berdebat karena hal sepele, bercanda sembari memikirkan amefuto bersama. Makan malam bersama, atau menonton acara tv kesukaannya. Walau Hiruma bilang itu merepotkan tapi ia terus mendampingi Mamori.
Mengingat semua itu membuatnya sedih, coba saja Hiruma tidak menyentuhnya. Atau berkata kalau dia akan menjadikan Mamori kekasihnya.
Mamori sama sekali tidak mengerti, selama ini Hiruma hanya fokus pada amefuto. Dia juga sedikit tidak menyangka kenapa Hiruma bisa menyentuhnya. Apa mungkin itu semua karena nafsunya sebagai seorang laki-laki? Atau mungkin...
"Apa mungkin Hiruma-kun merasakan perasaan yang sama sepertiku?" tanya Mamori pada dirinya sendiri, seketika wajahnya memerah.
Ia mengingat bagaimana wajah Hiruma yang kesal tiap lelaki datang mendekatinya. Ketika tertawa menggoda dirinya, ketika tanpa sengaja beragumentasi kesal dengannya. Semuanya dengan cepat merasuki pikiran Mamori. Dia tidak melihat hal itu saat Hiruma berada di depan Karin, atau bahkan Kurita dan rekannya yang lain.
"Jadi, apa Hiruma-kun benar-benar menyukaiku?" batinnya kembali, jantungnya berdegup sangat kencang, wajahnya memerah, tangannya menyentuh bibirnya, ia masih bisa merasakan perasaan yang Hiruma berikan saat menciumnya.
Yahoooo! Langsung saja deh gak basa basi sana sini, chapter berikutnya adalah ending untuk love game ini, sebenarnya mau dibikin sequel tapi berhubung sepertinya lebih ribet akhirnya dilanjut aja ngehehehehehehe
Dan terima kasih untuk semuanya yang telah mendukung dengan cara review hingga fanfic ini terselesaikan (masih ads season 2 kok tapi di jadiin satu /ha) kalian semangatku, walau aku tak bisa membalas satu persatu *civok semua*
Untuk bagian 'maturenya' mungkin ada yang bisa mengajari saya? Dan pls siapapun kasih link doujin hirumamo, aku butuh asupan berups gambar... Sekali lagi terima kasih dan maaf untuk segalanya *bows* ;;;;
