Keesokan harinya Mamori terbangun lebih awal, ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa itu bukanlah tempat biasa ia tidur. Semalam Mamori tidak pulang karena menghindari Hiruma, ia tidak ingin perasaannya meledak saat hanya berdua dengan iblis itu.

Mamori bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamar, ia melihat ibu Yamato yang juga sudah terbangun. Mamori menyapanya ramah dan mengikutinya ke dapur. Ia membantu menyiapkan sarapan untuk semuanya.

"Wah wah senangnya ada seorang gadis cantik yang membantu membuat sarapan." Kata ibu Yamato yang tersenyum bahagia, Mamori hanya mendengarkan sambil tertawa kecil.

Mereka saling berbicara dan bercanda hingga akhirnya keluarga Yamato berkumpul di meja makan. Mamori menghabiskan waktu sarapannya bersama dengan keluarga itu, ia teringat dengan keluarganya dan sedikit membuatnya rindu.

Selepas sarapan keduanya bersiap pergi untuk latihan pagi, saat itu jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Mereka berdua segera menuju ke lapangan untuk berlatih, di sana sudah ada Taka, Akaba, dan yang lainnya. Mereka terjejut dengan kehadiran Mamori dan Yamato yang datang bersama. Biasanya Mamori terlihat datang bersama Hiruma, tapi kali ini sang kapten malah belum terlihat.

"Apa kau sudah mencoba menghubunginya?" tanya Agon pada Mamori, namun gadis itu justru terkejut dan kebingungan. Dengan cepat Mamori mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Hiruma. Tapi berapa kali pun mencoba Hiruma tak mengangkatnya, itu semakin membuat Mamori khawatir, begitu juga rekannya yang lain.

"Baiklah, kalian bisa berlatih terlebih dahulu. Aku mendapatkan rincian latihan hari ini dari Hiruma kemarin, biar aku yang mencarinya." Kata Mamori, ia menjelaskan beberapa rinciannya pada anggota tim, mereka pun mulai berlatih.

Mamori merasa kesal karena Hiruma tidak hadir, tapi di sisi lain ia merasa khawatir. Jika menemukannya dia akan memarahinya habis-habisan, kemudian...

"Apa yang harus kulakukan selanjutnya?" batin Mamori menghentikan langkahnya, ia membeku tak bisa bergerak. Mamori menggenggam erat dadanya yang terasa sesak.

Dia ingin menanyakan tentang kebenaran yang ia rasakan semalam pada pria itu, namun ia tak punya keberanian yang cukup. Dan lagi sekarang bukanlah waktu yang pas.

Ia memutuskan untuk kembali berjalan mencarinya, pertama adalah universitas yang sangat luas. Mamori memasuki setiap gedung berharap menemukannya. Dan benar saja, dia melihat Hiruma keluar dari ruang rektor. Saat hendak mendekat Mamori melihat ekspresi Hiruma yang tidak biasa. Walau kelihatannya masih datar, tapi sorot matanya terlihat kebingungan, dan sedang berpikir. Ia juga menerima sepucuk surat yang kemudian ia masukkan ke dalam kantungnya.

"Jangan-jangan..." Mamori berlari cepat dan menghampirinya.

"Hiruma-kun, apa kau dikeluarkan dari kampus ini!?" ucap Mamori dengan nada sedikit tinggi, Hiruma sangat terkejut ketika melihat Mamori di hadapannya.

"Apa yang kau bicarakan manajer sialan?" tanya Hiruma kebingungan.

"Ini masih pagi, dan kau berdiri terdiam dengan sepucuk surat di hadapan rektorat? Apa kau di drop out!?" Mamori terus mengoceh dengan wajahnya yang sangat ketakutan dan khawatir.

"HAAAA?! Apa kau sudah gila? Tentu saja tidak bodoh, aku bisa saja menjadi rektor kalau aku mau." Hiruma mencubit hidung Mamori cukup keras.

Mereka berdua kembali beradu mulut, Mamori kira dirinya akan merasa canggung berada di hadapan Hiruma. Tapi ternyata pikirannya salah, Hiruma bersikap biasa begitu juga dengan dirinya.

"Lalu, apa isi surat itu?" tanya Mamori memiringkan kepalanya, Hiruma hanya terdiam dan memecahkan permen karetnya. Ia tetap berjalan mengabaikan Mamori.

"Mou! Hiruma-kun! Jawablah ketika seseorang bertanya padamu!" bentak Mamori kesal, ia menggembungkan pipinya.

"Kalau begitu, jawab aku. Semalam, ada dimana dirimu?" tanya Hiruma, kini Mamori yang terdiam, ia tidak bisa melihat seperti apa wajah Hiruma saat itu. Yang ia lihat hanyalah punggungnya yang besar, yang selalu melindunginya dari apapun.

"Itu..." Mamori mengalihkan wajahnya, ia bingung kalau harus menjawabnya.

"Dengan siapa kau pergi? Kemana kau pergi? Apa yang kau lakukan?" Hiruma terus menanyakan pertanyaan bertubi-tubi.

"Aku..."

"Jangan perlakukan tempatku seenakmu, aku bukanlah satpam yang menunggu kepulanganmu." Balas Hiruma, padahal Mamori baru saja akan menjawabnya. Namun kata-kata Hiruma yang memotongnya membuatnya sakit hati. Ia tidak tahan lagi untuk menangis.

"Kalau begitu jangan bertanya pertanyaan seperti itu. Itu semua bukan urusanmu." Jawab Mamori pelan, mendengarnya berkata begitu membuat Hiruma geram. Ia menggenggam tangannya dan berbalik, saat melihat ekspresi kesal Mamori diselingi tangisan membuat dirinya membeku.

Mamori pergi meninggalkan dirinya sendiri. Sedangkan Hiruma masih terdiam, matanya membulat sempurna, dia sangat terkejut melihat ekspresi Mamori yang seperti itu.

"Cih..." katanya berdecih kesal.

"Kau itu bodoh ya? Benar-benar seorang idiot." Tiba-tiba Agon keluar dari balik dinding, ia mendengar semua percakapan sang kapten dengan manajernya.

"Itu bukan urusanmu, pergi dan kembali berlatih." Hiruma berjalan mendahului Agon, namun pria itu justru tersenyum.

"Ini benar langka, aku tak pernah melihatmu menjadi makhluk seidiot ini. Gadis itu benar-benar hebat, apa dia begitu bagus di atas kasur sampai membuatmu melupakan american football?" Hiruma berbalik dan memukul wajah Agon. Namun dengan cepat Agon menghindarinya.

"Heh dasar bodoh, kalau memang tidak mau ada pria lain yang menyentuhnya maka cepatlah akui perasaanmu sendiri. Kau menghambat latihan kami." Agon memandang wajah Hiruma dengan kesal, ia pergi meninggalkannya.

Kini Hiruma sudah tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga bingung dengan perasaannya itu, ini pertama kalinya dia merasakan hal seperti itu pada seorang wanita. Sebelumnya hanya amefuto yang selalu jadi perhatiannya. Dia sendiri bahkan tidak sadar sejak kapan mulai tertarik dengan manajernya, tapi kalau harus menyadarinya mungkin itu ketika mereka lebih sering bersama.

Dan juga, mungkin ketika Mamori memperlakukan Hiruma dengan sangat baik dan sabar. Ia bahkan menangis untuknya saat dirinya terluka melawan Hakushuu Dinosaurs.

Ada beberapa moment tertentu pula yang membuat Hiruma nyaman berada di dekat Mamori. Moment itu masih terlihat jelas di ingatan Hiruma, saat berada di ruang kelas memandangi tv dimana dia dan Musashi juga Kurita bertekad menuju Christmas Bowl. Mamori datang ke sana dan bertanya alasan Hiruma sangat ingin pergi ke panggung itu. Dan entah mengapa Hiruma dengan enteng membalasnya, ia menuturkan semua alasannya.

"Kalau begitu aku akan berada di sana mendukungmu dan seluruh tim. Tapi rasanya kalau sampai Christmas Bowl itu terlalu mudah untukmu." Hiruma terkejut, ia hendak membalasnya namun Mamori terlebih dulu tersenyum dan memotongnya.

"Aku akan mendukung Hiruma-kun, bahkan setelah lulus, pergi ke universitas, atau setelah kau memiliki kehidupanmu sendiri. Aku akan selalu mendukungmu, Hiruma-kun. Sampai ke NFL." Mamori tersenyum dengan lebar, ia begitu tulus mengutarakannya. Dan dari sana Hiruma mulai tertarik padanya, ia membuka hati untuk manajernya.

Tapi dia takut untuk mengakui perasaannya, karena bisa saja suatu saat Mamori pergi bila ia menyatakan padanya apa yang dirasakannya. Kebodohannya itu membuat keduanya justru saling menyakiti. Hiruma menggenggam tangannya dan pergi mencari manajernya, ia telah bertekad akan emngutarakan apa yang ia rasakan.

Anggota timnya yang lain masih kebingungan dengan ketidakhadiran sang kapten di tambah hilangnya manajer mereka, dan juga Agon. Untunglah Karin masih ada di sana, ia bisa membantu semua jalannya latihan dengan baik. Tak berapa lama Agon kembali, ia bilang untuk meninggalkan manajer dan kapten bodohnya sendiri.

Yamato, Akaba, dan Karin mulai merasa cemas. Mereka berfikir sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada Mamori.

Sementara itu Mamori sendiri tidak tahu hendak kemana, ia merasa sedih sekaligus kesal. Menangis dengan keadaan yang cukup berantakan membuatnya memikat perhatian beberapa orang. Dia sedikit memperhatikan hal itu dan akhirnya pergi ke tempat yang dia tahu. Namun dia benar-benar tidak bisa berpikir apapun, jadi hanya berjalan dengan cepat.

Tak berapa lama ponselnya berdering, itu panggilan dari seseorang. Mamori mengangkatnya, dan memecah air matanya.

"Aku mengerti, aku akan menjemputmu. Jangan berbuat yang seenaknya." Balas lawan bicaranya, seorang wanita dengan apron dan rambut panjang berwarna hitam menutup telponnya.

"Benar-benar, merepotkan." Katanya menghembuskan nafas panjang, ia tersenyum pada anak-anak yang menanyakan tentangnya. Wanita itu adalah Himuro Maruko, kekasih Marco mantan manajer Hakushuu Dinosaurs.

Setelah pertandingan melawan Hakushuu, terkadang Mamori datang untuk bertanya seputar amefuto pada Maria. Ia juga dekat dengan manajer tim lawannya yang lain, tapi entah sejak kapan Maria dan Mamori sudah sangat dekat. Mamori juga sering membantu menjaga daycare tempat Maria bekerja.

Maria datang dan sedikit tertawa melihat keadaan Mamori yang sedikit berantakan. Kemudian keduanya pergi ke daycare. Maria memberikan segelas susu hangat untuk menenangkan perasaan Mamori.

"Aku memanggilmu untuk meringankan beban, tapi kenapa aku jadi seperti memungut anak di jalan." Kata Maria sedikit menggoda, namun Mamori tetap terdiam.

Dia mulai menanyakan alasan Mamori begitu berantakan, terpukul, dan sedih. Mamori menceritakannya, ia menjelaskan situasinya pada Maria sambil terisak.

Sementara itu Hiruma mengikuti jejak Mamori, ia berhasil mendeteksi keberadaan Mamori lewat aplikasi di ponselnya. Gps Mamori terbaca di ponsel milik Hiruma.

Ia sampai di depan daycare, namun tak berani masuk, dan hanya berdiri memandangi daycare itu.

"Wah wah ada lolicon yang haus akan pemandangan." Kata seorang lelaki, Hiruma menoleh sembari menggelembungkan permennnya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Hiruma?" tanya lelaki itu kembali.

"Dan bagaimana denganmu, Marco?" Hiruma balik bertanya.

Marco hanya tersenyum, ia mengajak Hiruma masuk ke tempat yang dipenuhi anak-anak itu.

"Setelah lulus Maria bekerja di daycare ini. Manajermu juga sering membantunya. Apa jangan-jangan kau membuntutinya kemari?" tanya Marco menggoda, mereka saling beradu mulut sesaat. Marco berniat mengejutkan Maria dari balik jendela, Hiruma menolak mengikutinya sampai ia mendengar isak tangis Mamori.

Dia menunduk tepat di bawah jendela bersama dengan Marco.

"Apa yang kau lakukan?!" seru Marco dengan nada yang lirih, Hiruma hanya terdiam dan menyuruh Marco menutup mulutnya.

"Mamori, apa yang terjadi? Bisa kau ceritakan padaku?" tanya Maria perlahan, Mamori masih terdiam terisak. Ia tidak tahu harus berbuat atau menjawab apa.

"Aku..." diamnya cukup lama dan membuat Maria dengan dua penguping itu penasaran.

"...Aku menyukainya. Hiruma-kun, aku menyukainya." Tangisnya pecah ketika ia mengungkapkan perasaannya itu.

"Eh? Lalu kenapa bila kau menyukainya?" tanya Maria bingung, Mamori mulai menceritakannya. Ia takut menyatakan dan mengakui perasaannya. Dia takut bila Hiruma justru membencinya dan menjauh darinya. Terlebih lagi selama ini Hiruma selalu mengabaikannya, ia tak pernah mendengarkan Mamori, juga selalu mempermainkannya.

Mamori pikir hanya dekat dengannya dan mendampinginya sebagai manajer tim sudah sangat cukup untuknya. Tapi ternyata ia salah setelah menyadari perasaannya sendiri, itu semua tidaklah cukup. Apalagi saat mendengar kedekatan Hiruma dan Karin, atau bahkan di masa lalu saat Hiruma terluka.

"Aku bilang padanya bahwa aku akan mendukungnya. Aku akan selalu di sampingnya, tapi... Dia sangat jauh, dan sulit digapai. Sejujurnya itu juga beban yang berat untukku, aku ingin berkata padanya untuk berhenti bermain amefuto, tapi aku tidak bisa karena dia akan membenciku." Mamori terus terisak kesakitan.

"Aku benar-benar hancur ketika melihatnya terluka, tapi aku justru berpikir bila dia terluka aku akan menjadi orang pertama yang bisa dia andalkan. Namun aku kembali sadar orang itu bukanlah aku. Aku sangat jahat kan? Tapi aku sangat menyayanginya, aku menyukainya, aku mencintainya." Hiruma yang dengan jelas mendengar kata-kata Mamori membulatkan matanya tak percaya, kini ia merasa sangat bodoh. Dia benar-benar kesal pada dirinya sendiri.

"Kau benar-benar beruntung Hiruma-kun." Kata Marco, Hiruma masih terdiam.

"Gadis di sana memang benar seorang malaikat. Dia begitu mencintaimu, namun dia terus menghargai perasaanmu dan mengabaikan perasaannya sendiri. Kau kemari karena merasakan hal yang sama padanya kan? Ungkapkanlah, atau kau tidak akan pernah bisa bersamanya." Hiruma berdiri dan pergi meninggalkan Marco sendirian, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sedangkan Maria yang melihat Mamori menangis seperti itu merasa sangat sedih, ia juga merasa jengkel pada pria bernama Hiruma.

"Maafkan aku Maria, aku kemari dalam keadaan seperti ini. Aku tidak dapat membantumu banyak." Ucap Mamori menghapus air matanya yang tak kunjung reda. Dia merasa sedikit lebih baikan ketika mengungkapkan semua perasaannya pada Maria. Marco tersenyum dan keluar mendekat ke jendela, ia menampakkan dirinya.

"Wah mantan manajer deimon ada di sini. Kebetulan, aku membawa creampuff untukmu. Ah sebenarnya seseorang menjatuhkannya sih." Kata Marco tersenyum, Maria dan Mamori hanya terheran. Mereka bertiga saling bercakap dan bercanda, Mamori merasa jauh lebih baik ketika memakan creampuffnya.

Mamori melihat creampuff yang dibalut dengan pita merah, ia memandangi Marco dan Maria heran.

"Kenapa ada pita di creampuffnya?" tanya Mamori bingung, begitu juga dengan keduanya. Namun Marco tersenyum, ia mungkin tahu maksud dari pita itu. Karena dia tahu siapa yang menjatuhkan creampuff itu.

"Kenapa tidak kau buka saja Mamori-san, mungkin ini keberuntungan untukmu." Balas Marco tersenyum, Mamori masih kebingungan. Tapi ia menuruti kata-kata Marco, Mamori membuka pitanya, kemudian membagi creampuffnya menjadi dua bagian.

Benar saja ada sesuatu di sana, surat yang sangat kecil dengan dua buah anting perak. Mamori membuka surat itu dan menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.

"Cepat sadar bodoh! Aku menyukaimu, dasar manajer sialan." Sekali lagi air mata Mamori pecah, tapi kali ini terlihat seperti air mata kebahagiaan. Mamori membawa anting itu dan pergi keluar daycare. Maria hanya terdiam bingung, ia hendak mengejar Mamori namun Marco menghentikannya.

"Apa yang kau lakukan Marco? Dia harus dicegah, lelaki sepertinya tidak cocok untuknya!" bentak Maria jengkel, Marco hanya tersenyum.

"Hahaha memang sih, tapi mereka berdua itu cuma pasangan bodoh yang sulit dipisahkan." Balas Marco menarik tangan Maria dan mendekatkannya.

"Lebih baik kita berdua..." dengan cepat Maria memukul kepala pria di depannya, ia mengalihkan wajahnya sedikit jengkel, dan keluar ruangan untuk bermain dengan para murid.

Mamori berlari tanpa tahu harus kemana, ia hanya pergi berlari dengan anting juga sepucuk surat itu. Akhirnya dia sampai di taman dimana sebelumnya Hiruma mengajaknya tinggal bersama.

Nafasnya terengah-engah, rambutnya kini justru semakin berantakan dari sebelumnya. Matanya pun bengkak akibat terlalu banyak menangis.

"Oi manajer sialan, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mau kuberhentikan menjadi seorang manajer?" tiba-tiba saja Mamori mendengar suara Hiruma di belakangnya. Dengan cepat Mamori menoleh dan langsung mendekapnya. Hiruma terkejut ketika Mamori mendekapnya, matanya seperti hampir keluar. Mamori tidak berkata apapun, ia hanya terdiam terisak dalam dekapan pria itu. Perlahan Hiruma membalas pelukannya, hal itu juga mengejutkan Mamori, ia semakin menangis.

"Jangan keluarkan ingusmu pada mantelku bodoh." Kata Hiruma sedikit menggoda, namun Mamori tidak peduli dan tetap terisak. Hiruma yang menyadari betapa besar rasa sayang wanita di depannya menepuk lembut kepalanya.

"Aku menyukaimu Mamori." Itu adalah kali pertama Mamori mendengar Hiruma memanggil namanya, terlebih lagi nama depannya. Mamori semakin mengeratkan dekapannya.

Belum lagi Hiruma mengatakannya dengan sangat lembut, sulit dipercaya kalau itu adalah suaranya.

Tunggu... Itu memang bukan suaranya.

"Apa yang kau lakukan bodoh!?" seru Mamori jengkel melepaskan dekapannya, ia melihat Hiruma dengan tape recorder di tangannya dan mengulanginya.

"Aku menyukaimu Mamori." Rasa kesal bercampur malu membuat Mamori sangat geram, ia menginjak kaki Hiruma dengan keras.

"Sakit bodoh! Apa yang kau lakukan!?" bentak Hiruma ikut kesal.

"Apa kau serius? Kau selalu mempermainkan perasaanku! Apa kau tahu betapa sengsaranya diriku ketika bersamamu!" seru Mamori kesal, Hiruma dan Mamori sekali lagi saling beradu mulut.

"Kau memang iblis! Dasar iblis menyebalkan! Harusnya kau sadar kan kalau aku menyukaimu, apa kau begitu senangnya melihat diriku tersiksa." Kini Hiruma mendekatkan tubuhnya, ia menyentuh tangan Mamori supaya dia bisa berdekatan.

"Lepaskan aku! Dasar iblis mesum yang mementingkan nafsu duniawi!" bentak Mamori kesal sekali lagi, kini empat persimpangan sudah tergambar di kening Hiruma.

Ia menarik tangan Mamori, dan menurunkan sedikit tubuhnya hingga wajah mereka berdekatan.

"...Eh." Mamori membuka matanya lebar, ia terdiam tak bisa berbuat apapun. Hingga akhirnya Hiruma berhasil meraih bibir manisnya. Kali ini Mamori dengan pasti dapat merasakannya.

Perasaan ingin memiliki, perasaan yang haus akan cinta dan kasih sayang. Mamori mulai memejamkan matanya dan menikmati ciumannya itu.

Ciuman pertama mereka setelah menyadari perasaannya masing-masing, rasa mint bercampur manisnya creampuff.

Begitu tegas, dingin, namun sangat lembut, dan manis di satu sisi.

Mamori membuka matanya, ia menunduk tak berani menatap wajah Hiruma.

"Aku tidak perlu mengungkapkannya dengan kata-kata kan? Pacar sialan?" Hiruma masih mendekatkan wajahnya pada Mamori. Gadis di depannya sudah memerah semerah kepiting rebus.

"Kau boleh memanggilku Mamori. Apa aku juga boleh memanggil namamu?" tanya Mamori dengan wajah malu-malunya. Hiruma tertegun mendengarnya, ia juga merasa malu. Sesaat wajahnya memerah karena sifat Mamori yang sangat manis.

"Terserah kau saja." Balas Hiruma memalingkan wajahnya, Mamori tersenyum dan menyentuh wajah Hiruma dengan lembut.

"Mulai hari ini, mohon bantuannya Youichi-kun." Mendengar namanya dipanggil membuat wajah Hiruma lebih merah dari Mamori. Ia tak pernah menyangka bila namanya dipanggil oleh seorang gadis dapat berefek seperti itu padanya.

"Hahaha wajahmu memerah Youichi." Mamori terkekeh geli, melihat wajah Mamori tanpa sadar membuat Hiruma juga tersenyum tulus.

"Dasar pacar sialan, manajer bodoh. Kau benar-benar merepotkan Mamori." Keduanya saling tersenyum dan kembali berciuman. Sakura mulai mekar tapi ini bukanlah akhirnya, justru saat ini adalah permulaan. Awal bagaimana hubungan mereka bisa bertahan di tengah lapangan American Football.

Hiruma dan Mamori saling berjalan bergandengan, namun kemudian Mamori menghentikan langkahnya.

"Youichi-kun... Apa aku boleh memanggilmu begitu?" Tanya Mamori sekali lagi, Hiruma hampir memuncak kembali, namun melihat ekspresi Mamori yang murung membuatnya bingung.

"Apa kita harus merahasiakannya? Maksudku, Hiruma-kun pasti akan terganggu kalau sampai ada rumor yang membicarakanmu denganku kan? Jadi sebaiknya kita tetap-"

"Tidak perlu. Aku memang akan kerepotan menanggapi semua gosip sialan itu. Tapi kau memang milikku, bagus jika orang-orang tahu kau sudah menjadi milikku." Hiruma mengalihkan wajahnya yang sedikit memerah.

Melihat reaksinya itu membuat Mamori tersenyum, ia mendekap erat tangan Hiruma.

"Kenapa kau sangat dekat?" tanya Hiruma sedikit gugup.

"Hahaha apa kau malu, Youichi-kun? Aku selalu ingin melakukan ini di saat hanya berdua denganmu." Balas Mamori dengan senyumnya yang lebar.

Mereka pun kembali ke universitas, di sana semuanya terkejut dengan kehadiran Mamori yang terlihat berantakan. Terlebih lagi matanya masih sedikit bengkak.

Tidak seperti tadi ketika keduanya saling bermesraan, sampai di lapangan keduanya bertingkah seperti kapten dan manajer.

Di sana juga ada anggota tim dari Enma, karena hari ini mereka akan melakukan latih tanding. Melihat Mamori dengan mata bengkaknya membuat Yamato, Akaba, Karin, Sena, Suzuna, Riku, Monta, dan yang lainnya mengerumuni gadis itu.

Mereka mulai menanyakan pertanyaan yang tak habis-habis, sampai akhirnya semua menatap Hiruma sinis. Tapi iblis itu terlihat acuh, ia dengan santai memakai pakaiannya.

Semua orang masih mengkhawatirkan dan mencemaskan Mamori, namun yang dicemaskan justru tersenyum senang. Ia berkata baik-baik saja, tidak ada masalah.

"Ah, apa jangan-jangan permainannya sudah selesai?" tanya Suzuna, kini semua orang terkejut dan menatap Suzuna.

"Eh? Mamo-nee? Aku benar kan?" sekali lagi Suzuna bertanya, ia menatap wajah Mamori yang tertunduk dengan wajah super merah.

Senyum lebar terpancar dari wajah Suzuna, ia memeluk Mamori dengan erat. Beberapa orang yang tidak tahu permainan itu hanya terdiam bingung. Sedangkan para rival seperti Yamato, Akaba, dan Monta terlihat sangat terkejut. Namun Yamato menyadarinya dari awal, ia pun tak ada pilihan lain selain tersenyum untuk orang yang disukainya.

"Siapa yang menang?" tanya Sena penasaran.

"Tentu saja aku.. Aku..." balas Hiruma dan Mamori bersamaan, semua orang mulai menatap mereka bingung.

"Manajer sialan, apa yang kau maksud ini sebagai kemenanganmu?" tanya Hiruma dengan sinis.

"Dan apa yang kau bilang tadi kalau ini adalah kemenanganmu?" Mamori balik bertanya.

Semua orang mulai menghiraukan pasangan itu, selalu dan selalu saja mereka beradu mulut. Padahal sudah jelas kalau mereka benar-benar telah menyatakan perasaannya masing-masing, itu bisa dilihat dari kedua anting perak yang Mamori kenakan.

Semua orang mulai bergabung pada mereka dan menggodanya, namun Hiruma menembakkan senapannya dan menyuruh semuanya bersiap. Mereka pun melakukan pertandingan persahabatan.

Hari itu benar-benar hari yang baik untuk Saikyoudai Wizards, mereka menang dengan skor 46-30.


Hai hai semuanya Sweet Trap of The Devil akhirnya selesai juga, yeeaaayy! Gantung kan? Iya lah orang ada sequelnya wkwkwk /nyet

Sequelnya bakal nyeritain hubungan hirumamo yang berlikaliku, mulai dari rival cinta, sampai coretldrcoret /heh

Terima kasih untuk semuanya atas review/follow/favnya! Sampai jumpa di sequel nanti! *lempar bunga*