Casts:
Park Jimin (16) as Hina Mishima
Jeon Jungkook (16) as Shoui Isshiki – ketua OSIS BigHit School
Kim Taehyung a.k.a V (16) as Tetsuta Koshiba
Min Yoongi a.k.a Suga (16) as Kaito Nishizaki
Kim Seokjin a.k.a Jin (29) as Kyo – Jimin's ...
Kim Namjoon (31) as Toshiro Hirayama – Jimin's teacher
Park Jinyoung (16) as Kosuke Takigami – wakil OSIS BigHit School
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
AU!School. Bullying. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS and GOT7 member belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
"Kami adalah burung-burung yang tak dapat terbang, sampai kami bertemu denganmu.."
Chapter 2: Warm welcome
.
.
Namaku Park Jimin.
Sekolahku yang ke-8 ini benar-benar kacau.
Siswanya terbagi menjadi 'Black' dan 'White' yang saling bermusuhan.
Kekerasan jadi pemandangan rutin setiap hari.
Ketua geng 'White' meyebutku 'otak kosong'.
Sekarang hari pertamaku bersekolah.
Dan, yang paling aneh dari semuanya adalah, namja ini.
"Untuk merayakan bertambahnya temanku, aku mengecat rambutku jadi merah seperti stroberi!", kata V sambil menunjuk rambutnya yang ia beri bando untuk menarik poninya kebelakang.
Jimin hanya memberikan blank stare andalannya. Sedangkan Namjoon yang sudah terbiasa dengan kelakuan V hanya berujar, "Satu bulan yang lalu masih ungu. Kemarin lusa masih blonde."
V melanjutkan, "Sebagai sesama 'Grey' kita berteman, ya, Minnie. Apalagi kita sekelas."
"Aku nggak berminat berteman denganmu, Piktor! Aku mau cari teman yang lebih baik.", kata Jimin sambil pergi meninggalkan V.
"Minnie.."
"Jangan beri aku julukan seenaknya!"
"Kau masih belum mengerti juga, ya, Minnie.."
"Mengerti apa?"
"Kau menyatakan dirimu sebagai anggota 'Grey' di muka umum. Kau sama sekali nggak tahu apa artinya itu, kan?", tanya V.
"Hm? Memangnya kenapa?"
Belum V menjawab pertanyaan Jimin, tiba-tiba ada yang melempar Jimin dengan sesuatu hingga ada cairan merah mengalir dari kepala Jimin.
Jimin, V, dan Namjoon yang sedang berjalan bersama pun terkejut. Terutama yang kepalanya terkena sesuatu hingga cairan merah itu mengalir hingga ke wajahnya.
"APAAN, NIH?!" tanya Jimin sambil menyeka cairan merah itu.
"Minnie, dahimu terluka parah!", sahut V panik. Sedangkan Namjoon hanya kalang kabut berjalan ke sana-ke mari, tidak tahu harus berbuat apa.
"..Bukan. Ini bukan darahku. Dahiku tidak terluka.", kata Jimin. "Ini.. lumpur merah..."
Tak lama setelah Jimin menyimpulkan bahwa cairan merah itu adalah lumpur yang dilemparkan kepadanya, lumpur-lumpur lainnya menyusul mengenai anggota tubuhnya yang lain.
Sekarang hampir seluruh tubuhnya terdapat bercak merah yang agak besar. Seperti orang yang habis ditembaki dan berdarah hebat.
"Ulah siapa ini?!", tanya Jimin sambil mendongakkan wajahnya, karena dengan melihat arah datangnya lumpur, ia yakin si pelempar lumpur berada di lantai dua sekolahnya. "Tunjukkan dirimu! Jangan jadi pengecut!"
Namun tidak ada yang muncul ataupun berbicara menyahut dirinya. Jimin hanya dapat mendengar cekikikkan dari seluruh penjuru sekolah.
"Sepertinya sudah mulai, ya..", kata Namjoon yang sudah ber-sweatdrop-ria.
V pun melanjutkan dengan senyuman aneh di wajahnya. "Sambutan bagi anggota 'Grey' baru sudah dimulai."
[Di ruang staf olahraga]
"Padahal aku lagi pakai celana jeans baru!", sahut Jimin kesal. Sekarang jeans putih barunya memiliki bercak-bercak berwarna merah yang tidak akan mungkin hilang. "Dan baju olahraga apa ini? Jelek sekali."
"Jangan mengeluh, Jim, pakai saja. Sebentar lagi kelas BP, loh.", kata Namjoon. Memang, sih, seragam olahraga di sini jelek sekali. Hanya setelan training kebesaran.
"Minnie berani, ya. Kalau orang biasa pasti sudah menangis.", kata V.
"Hhh..", Namjoon menghela napasnya. "Firasatku sudah buruk waktu membaca daftar riwayatmu, Jimin. Sepertinya akan terjadi masalah.. Dan firasatku benar."
Jimin yang sejak mengganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga terdiam pun membuka mulutnya. "Aku mengerti sekarang. Kenapa nggak ada yang berpakaian bebas di sini.. Karena dengan menjadi 'Grey' berarti menjadi sasaran penindasan, kan?"
"Tepat.", jawab Namjoon. "Itulah takdir semua anak 'Grey'. Nggak ada yang bertahan lebih dari tiga hari."
"Kenapa para guru diam saja dan nggak bertindak?", tanya Jimin.
V menjawab, "Karena mereka juga diincar. Semua guru pro-reformasi sudah berhenti bekerja dari sini. Entah resign, entah dikeluarkan secara sepihak. Murid-murid di sini memang konyol dan licik."
"Ya.. Nggak ada yang bisa mengubah sistem sekolah ini.", kata Namjoon.
"Apa-apaan, tuh?! Memalukan sekali!", kata Jimin kepada Namjoon.
"Aku juga berusaha, kok..!", kata Namjoon membela dirinya.
"Jangan salahkan Namjoonie, Minnie. Kasihan dia. Namjoonie kan harus bekerja untuk menghidupi dirinya, ia bahkan belum menikah.", kata V yang sedang duduk di meja sambil memeluk sebelah kakinya.
"Ya! Nggak perlu sejelas itu, kan?!", teriak Namjoon.
"Tunggu dulu. Kau juga 'Grey', kan? Kenapa mereka menerimamu?", tanya Jimin penasaran.
V pun menaruh ibu jari dan telunjuknya di depan dagunya. "Aku mempesona, sih. Orang tenar."
"BOHONG!", teriak Jimin.
"Nanti juga kau tahu sendiri.", kata V santai.
"Oh, iya. Kalau perkataan guru nggak mempan, suruh saja kedua ketua geng itu. Perkataan ketua mutlak, kan?", kata Jimin. "Dekati saja mereka dan minta untuk menghentikan penindasan ini, dan… Solve problem!"
"Problem solved, Minnie..", ralat V. "Tapi, percuma."
"Kenapa?"
"Mereka berdua itu musuh bebuyutan sejak peristiwa perkelahian saat upacara masuk sekolah dulu."
"Perkelahian?"
"Hal sepele, sih. Cuma karena menyenggol pundak. Waktu itu kami masih pakai baju bebas, belum tahu apa-apa soal kubu putih dan hitam itu. Saat sedang berbaris untuk upacara, Suga tidak sengaja menyenggol pundak Jungkook.", kata V. "Jungkook menepuk-nepuk pundaknya, seakan jijik dengan senggolan Suga."
Namjoon melanjutkan ucapan V. "Suga yang notabene memang gampang naik darah itu tidak terima. Lalu di depan seisi sekolah, mereka baku hantam sampai kelelahan. Setelahnya, mereka dirawat di rumah sakit selama seminggu. Sejak itulah konflik dimulai."
"Ya, dunia pasti terbalik kalau mereka berbaikan.", kata V.
"Jadi.. pernah baku hantam, ya.. Padahal dia nggak terlihat seperti orang kasar.", kata Jimin pelan, namun tetap dapat terdengar oleh V.
"Sudah kubilang, jauhi Jungkook. Dia kelihatannya gentleman, tapi sebenarnya pemarah."
Namjoon mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda setuju. "Sudah, Jimin.. Pakai seragam saja."
"Nggak mau! Sekali memutuskan, namja nggak akan mudah menarik perkataannya!", teriak Jimin lalu ia pun berjalan keluar dari ruangan itu.
"V, bujuklah dia..", kata Namjoon pasrah. "Dia itu nggak 'istimewa' sepertimu, kau lihat sendiri, kan?"
V hanya tersenyum menerawang. "Kurasa, Minnie akan baik-baik saja, Namjoonie."
"Kau ini!"
[Di kelas 1-C]
"Halo, namaku Park Jimin. Salam kenal, semuanya!", kata Jimin saat Namjoon menyuruhnya untuk memperkenalkan diri di depan kelas.
"Tempat dudukmu di.."
"Aku tahu, di sana, kan?", tanya Jimin sambil menunjuk kursi di tengah paling belakang, bersebelahan dengan V.
Sebelah kanan bangku mereka hanya berisi geng 'White' dan sebelah kiri mereka hanya berisi geng 'Black'.
"Diskriminasinya sampai ke kelas, ya..", kata Jimin pada V setelah ia sampai di bangkunya.
Belum sempat Jimin duduk, ia melihat ada yang bergerak-gerak di kolong mejanya. Ulat. Atau lebih tepatnya, ulat-ulat.
Ada banyak sekali ulat di kolong mejanya. Namun, Jimin tidak takut. Ia besar di desa, ulat sudah bagaikan tetangga baginya.
"Seonsaengnim, di laci mejaku ada ini, nih!", sahut Jimin sambil melemparkan ulat-ulat itu ke seluruh penjuru kelas, ke arah 'teman-teman' sekelasnya.
"GYAAA!" / "KYAAA!"
'Teman-teman' sekelas Jimin lari kalang kabut, berusaha kabur agar ulat-ulat itu tak mengenai mereka.
"Cincai, ah. Trik kuno. Cari yang lebih seru, dong. Aku besar di gunung, nggak takut sama ulat.", kata Jimin setelah melemparkan semua ulat yang sebelumnya ada di kolong mejanya.
"Omonganmu itu loh, Minnie, kayak cari musuh…", kata V.
Lalu gosip pun menyebar dengan cepat. Seluruh siswa BigHit School terkejut dengan perbedaan 'Grey' yang mereka hadapi kali ini.
"Sepertinya kali ini lebih kuat."
"Tapi 'gonggongan anjing lemah memang keras', bukan?"
"Tenang saja, pihak Suga dan pihak Jungkook sudah banyak yang mengincarnya, kok."
[Di depan kelas 1-A]
"Permisi..", kata Jimin sambil menyembulkan kepalanya ke dalam kelas itu. "Anu.. permisi?"
Kelas itu tidak kosong. Tapi tidak ada satupun yang menjawab ataupun menoleh pada Jimin.
Huh, nggak mau ngomong sama 'Grey', ya?!
"PERMISI..! ADA JEON JUNGKOOK, TIDAK?", teriak Jimin.
Sontak seluruh siswa kelas 1-A pun terdiam dari segala kegiatan mereka dan memandang sinis Jimin.
"Mau apa cari Jungkook?", tanya seorang yeoja berseragam putih.
"Eh, 'mau apa'….? Aku mau me—", belum selesai berbicara, datanglah Jungkook yang baru datang dari luar dan hendak masuk ke kelas itu. "Ah, Jungkook!", kata Jimin sambil menahan Jungkook.
"Aku mau mengembalikan sapu tangan yang kau pinjamkan kemarin lusa.", kata Jimin lagi sambil menyerahkan sapu tangan itu ke arah Jungkook. "Ini, terimakasih."
Seluruh siswa kelas 1-A terkejut. Baik 'White' maupun 'Black'. Karena seorang Jeon Jungkook tidak mungkin meminjamkan barang miliknya kepada orang lain. Namun Jimin tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, ia hanya fokus pada Jungkook.
"Ah, dan waktu itu kau bicara seolah kita saling mengenal.. Tapi aku nggak ingat punya teman bernama Jungkook."
"Jangan salah paham.", kata Jungkook.
"Eh?"
"Aku nggak ingat pernah meminjamkan saputanganku padamu.", kata Jungkook dingin.
"Ha? Bicara apa sih..?", tanya Jimin, heran dengan perkataan Jungkook.
Jelas-jelas dia yang menyodorkan saputangannya padaku!
"Itu benar! Mana mungkin Jungkook meminjamkan saputangannya padamu!", kata yeoja berseragam putih.
"Iya, cepat balik, sana!", kata yeoja lainnya yang juga berseragam putih.
Jimin terpaku untuk sesaat. Ia emosi luar biasa.
"Hah. Nggak mau berhubungan dengan orang dari geng lain, ya..? Nggak mau menyentuh barang yang sudah dipegang orang dari geng lain, ya?!"
Jimin melanjutkan ucapannya, "Hebat! Nggak kukira kekonyolan kalian separah itu. Dasar, kalian semua.. manusia sinting!" teriak Jimin lalu ia pun berjalan meninggalkan kelas 1-A.
"Apaan, tuh?!" / "Konyol!"
Dan masih ada beberapa umpatan lainnya yang ditujukan untuk Jimin. Sedangkan Jungkook hanya diam, terpaku di depan pintu kelasnya.
Huh! Sebal! Sebal!
Kubuang saja sapu tangan jelek ini!
Jimin melempar sapu tangan itu ke tong sampah organik yang sepertinya baru dikosongkan petugas kebersihan sekolah. Namun detik berikutnya ia mengambil sapu tangan itu lagi, tidak tega.
Hhh.. Pokoknya, aku nggak akan kalah!
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang memegang bahu Jimin.
"Yo, anak baru! Suga memanggilmu.", kata seorang namja berkepala pelontos yang ditutupi oleh scraf, berkacamata hitam, dan bertindik tiga di masing-masing telinganya.
"Suga? Ada perlu apa dia?", tanya Jimin, "Ugh, jauhkan wajahmu!", sambungnya lagi karena wajah namja itu sekarang terlalu dekat dengan wajahnya. "Kalau dia mencariku, ya dia saja yang kemari. Kan dia yang butuh!"
Namja itu pun menarik tubuh Jimin dan menggendongnya di bahu seolah-olah sedang mengangkut karung beras. Jimin terlalu ringan untuk tubuhnya yang kekar.
"Ya! Apa-apan kau?!", teriak Jimin sambil meronta-ronta.
"Aku disuruh membawamu secara paksa kalau kau melawan.", kata namja itu sambil menyeringai.
[Di markas 'Black']
"Hei, anak baru! Bagaimana sambutannya?", sapa Suga saat Jimin tiba di markas besarnya.
"Jadi kau dalangnya?!"
"Apa? Kau kira aku akan repot-repot mengurusi cowoknggak penting sepertimu? Dan V, aku nggak memanggilmu."
Ternyata V mengikuti namja berkepala pelontos yang menggendong Jimin hingga ke dalam markas 'Black'. "Lihat saja boleh, kan? Aku nggak akan ganggu."
Suga hanya menjawab 'hm' lalu beralih memandang Jimin lagi.
"Mau apa ketua geng 'Black' sama cowoknggak penting ini?", tanya Jimin.
"Hm. Cuma ingin tahu sesuatu..", Suga menampilkan smirk andalannya. "Apa benar Jungkook meminjamimu saputangan?"
Jimin dan V tersentak mendengar pertanyaan Suga. Demi celana dalam orange Jimin, jadi Jimin diculik ke markas 'Black' hanya untuk mendengarkan pertanyaan konyol seperti itu?!
"Memangnya kenapa?", Jimin malah balik bertanya. "Toh, orangnya sendiri bilang nggak ingat."
Suga menampilkan smirk-nya lagi. "Panggil Jungkook.", katanya pada salah satu anak buahnya.
"Baik.", sahut anak buahnya yang berambut gondrong, segondrong rambut V.
Ngomong-ngomong rambut V.. Namja itu ada di sana. Tapi ia nampaknya tidak berniat sama sekali untuk membantu Jimin.
"Ya, V! Kau lihat apa? Cepat tolong aku!", kata Jimin.
"Huh! Biasanya aku disuruh menjauh.", kata V sambil berkacak pinggang dan mem-pout-kan bibirnya. "Lagipula, aku ingin tahu, apa jawaban Jungkook.", katanya lagi lalu menampilkan senyuman yang entah bermakna apa.
Suga pun demikian. Tersenyum penuh rahasia.
Sedangkan Jimin benar-benar dibuat pusing oleh namja-namja di hadapannya.
[Beberapa saat kemudian]
"Mau apa memanggilku kemari?", tanya Jungkook santai.
Anak buah Suga yang berambut pelontos tadi langsung membawa Jimin dan menjatuhkannya tepat di antara Suga dan Jungkook.
"Ya! Awas kau nanti, botak!", seru Jimin heboh.
Suga menarik tali yang mengikat tubuh Jimin. Sejak diculik si botak, Jimin memang diikat dengan tali. "Apa hubunganmu dengan anak baru ini?", tanya Suga yang tentunya ditujukan untuk Jungkook.
"Nggak ada, ketemu saja baru kemarin.", jawab Jungkook singkat.
Huh. Padahal kemarin lagaknya sudah kayak kenal aku..
Dan menyebutku 'otak kosong'...
"Hmph, nggak mungkin. Kalau nggak ada hubungan, mana mungkin kau meminjamkan saputanganmu. Apalagi dengan penyakit 'super bersih'mu itu."
Raut wajah Jungkook mengeras seketika.
"Penyakit.. super bersih?", tanya Jimin tidak mengerti.
"Ya, Minnie. Jungkook nggak pernah memegang tali pegangan di kereta, makan di luar, atau menggunakan toilet umum. Baginya, benda yang sudah disentuh orang lain itu kotor. Itu memang dapat dikategorikan sebagai penyakit, sih.", kata V.
Suga pun berbicara melanjutkan, seakan mengiyakan ucapan V, "Dia nggak mungkin meminjam atau meminjamkan barang pada orang lain. Tadi kau bilang nggak ingat karena ada banyak orang, kan? Buktinya kemarin kau muncul untuk melindungi dia dariku, iya, kan?"
Ha? Apa maksudnya..?
"Bagimu.. cowokini 'spesial', kan?", lanjut Suga sambil memegang kepala Jimin dengan kedua tangannya.
Aku.. dilindungi.. Jungkook?
Aku benar-benar nggak mengerti.
"Konyol. Aku mau kembali ke kelas.", kata Jungkook yang telah membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.
Apa alasannya..?
Cekris. Srrrt. Syut. Syut.
E-eh?! Apa-apaan nih?!
"Hm, silakan.", kata Suga. "Kau nggak kenal dia kan? Jadi, 'gak masalah, dong, kalau dia botak."
Rambutku?!
"Ja-jangan becanda! Seenaknya saja kau memotong rambutku!", teriak Jimin sambil memberontak. "Gyaa! Kau benar-benar mengguntingnya?!", teriaknya lagi saat menemukan helaian-helaian rambutnya di lantai. "V!"
"Tenang saja, Minnie. Dengan semangatmu itu, aku yakin rambutmu bakal cepat tumbuh lagi.", jawab V sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mana bisa begitu?!", teriak Jimin frustasi. "Hentikan! Sudah kubilang, aku nggak kenal dia! Aku nggak ada hubungan apapun dengannya!"
Jungkook membalikkan badannya lagi untuk berhadapan dengan Suga dan Jimin.
"Aku benar-benar nggak kenal Jungkook!", teriak Jimin lagi.
Jimin tidak menyadari bahwa kata-katanya mengoyak hati Jungkook. Namun Jungkook tidak menampakkan itu di wajahnya. Ia tetap diam dengan wajah seakan tidak pedulinya.
"Lepaskan."
Sontak Suga pun berhenti mengguntingi rambut Jimin.
"Lepaskan dia.", kata Jungkook lagi.
Suga tersenyum menang. "Nggak mau."
"Kubilang, lepaskan dia.", kata Jungkook dengan raut wajah yang sangat berbeda dari biasanya. Masih tetap dingin, namun lebih kelam. Jimin sampai merinding melihatnya.
"Kalau kau mau aku melepasnya, mintalah dengan baik.", kata Suga.
"Itu bukan sikap meminta, kan?", lanjut Suga sambil menunjuk Jungkook yang sedang berdiri dihadapannya dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Ini wilayah 'Black', percuma mengamuk. Kau tinggalkan dia, atau kau tolong.—
Aku nggak tahu seperti apa peraturan di sekolah ini.
—Silakan pilih…"
Aku juga nggak tahu seburuk apa hubungan mereka.
Tapi.. melihat wajah kaget mereka saat Jungkook berlutut di hadapan Suga, memohon untuk membebaskanku..
Aku tahu...
Yang dilakukannya sekarang ini sangat.. sangat.. berat.
.
.
TBC
.
.
Chapter 2 updated! sudah terjawab kah jimin siapanya jungkook? belum! hahaha
yang jelas suga sama kuki musuhan
v misterius. entah beneran pengen ngelindungin jimin entah gimana
namjun hanya seorang guru biasa yang tak punya kuasa huhuhu
terus si botak itu siapa hayo?~~ akan diungkapkan di chapter selanjutnya. tapi kira2 mendingan member bts apa member got7 yang bakal jadi si botak? siapa ya yg pantes botak? (sebenernya aku juga belum memutuskan itu karakter siapa) hahaha
jimin di ff ini berani, sebenernya kuat juga, jago bela diri. tapi entah kenapa berhasil diculik si botak yang entah siapa aku juga bingung :))
nantikan chapter selanjutnya ya, smooch!
