Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – 'Grey'
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'
Kim Taehyung as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'
Min Yoongi as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'
Kim Seokjin as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..
Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher
Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'
-All in Korean age-
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL.
©BTSGOT7 member belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
PENGUIN BROTHERS
Chapter 3: Snake
Sehelai saputangan yang diberikan tanpa maksud apapun padaku, membuat kehidupan sekolahku yang penuh masalah ini.. makin bertambah buruk.
Semua orang di markas 'Black' masih dalam mode shock mereka dan Jungkook masih dalam mode berlututnya.
"Apa yang kau lakukan.. Jeon Jungkook?", tanya Suga geram.
"Berlutut.", jawab Jungkook polos.
"Bukan itu maksudku!", teriak Suga. "Kau, yang selalu bersikap dingin dan cuek sekalipun ada orang pingsan di sebelahmu, kenapa sampai berbuat begini demi cowok ini?"
Disela-sela pembicaraan Suga dengan Jungkook, V diam-diam melepaskan ikatan tali yang mengekang Jimin.
"Loh?", Jimin terkejut karena tiba-tiba tali yang mengikatnya terlepas sendiri.
"V! Kenapa kau seenaknya—"
"Sudahlah, Suga. Toh Jungkook sampai berlutut begitu. Kalau nggak dilepas, bisa ada pertumpahan darah betulan…"
PLEK.
V tidak dapat meneruskan kalimatnya karena lagi-lagi kaki Jimin yang beralaskan docmart menempel di wajahnya.
"Tega sekali kau membiarkan aku diikat!", sembur Jimin pada V.
"Aku berniat menolongmu, kok, Minnie, kalau Jungkook nggak mau. Huweee wajah tampanku..", rengek V.
"Pembohong!", bentak Jimin.
"Kau juga, botak!", kata Jimin pada namja yang tadi menculiknya lalu menendangnya tepat di wajah.
"Dan yang paling parah…. Kau-ini-sebenarnya-manusia-atau-bukan-sih?!", kata Jimin sambil menunjuk-nunjuk Suga lalu melakukan backflip andalannya.
DUAK!
Suga yang sedang duduk tanpa persiapan apapun terbanting ke belakang bersama dengan sofa yang ia duduki sedari tadi.
"Suga!"
"Ketua!"
"Bos!"
"Jangan main-main!", lanjut Jimin. "Aku nggak peduli kau bos sekolah ini atau bukan! Buang sikap aroganmu itu!"
Di tengah keramaian itu tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Klek.
Ternyata Jungkook yang membuka pintu itu dan sepertinya berniat untuk keluar sebelum terseret ke dalam perkelahian.
"Ah! Tu-tunggu!", Jimin tidak mempedulikan Suga yang masih terbaring lemah di lantai dan V yang entah seperti apa karena Jimin tidak melirik lagi ke arah V sebelum ia lari mengejar Jungkook.
"Gila, Suga ditendang.."
"Dia bukan namja biasa…."
"Diceramahi, pula.."
"Hoi!—"
Sontak para anak buah Suga pun terdiam, berhenti mengucapkan komentar tentang kejadian barusan.
"—cepat selidiki identitas anak baru itu!", bentak Suga sambil memegangi dagunya yang tadi terkena tendangan Jimin.
"Hei, tunggu. Hosh, hosh. Jeon Jungkook!", teriak Jimin. Sedari tadi ia berlari mengejar Jungkook namun Jungkook tidak juga menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau menolongku? Kau musuhku, kan? Kau membenciku, kan? Kenapa…?", tanya Jimin setelah ia memutuskan untuk berhenti berlari, kelelahan.
Di luar dugaan, Jungkook pun ikut memberhentikan langkahnya.
"Padahal aku betul-betul nggak ingat siapa kamu.. Tapi kamu…"—Kamu malah sampai berlutut untuk menolongku.
Jungkook masih membelakangi Jimin. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Jimin benar-benar berhati dingin, ya."
Jimin pun terdiam mendengar ucapan Jungkook, ia tidak mengerti. Apalagi ketika Jungkook membalikkan badannya untuk berhadapan dengan Jimin, walau pun jarak mereka terpaut lima meter, Jimin dapat melihat dengan jelas raut wajah Jungkook yang tenang plus senyuman termanis yang pernah Jimin lihat dari wajah Jungkook.
DEG!
Jimin merasakan wajahnya memanas melihat ekspresi Jungkook yang seperti itu. Sial.. Dia tampan sekali.
"Tiba-tiba menghilang dan datang kembali juga dengan tiba-tiba.", lanjut Jungkook. "Aku langsung mengenalimu. Tapi.. Bahkan di sudut ingatanmu pun, aku nggak berbekas."
Lalu ekspresi wajah Jungkook kembali dingin seperti biasa. "Aku paham. Meskipun kenangan itu berharga bagiku, itu nggak ada artinya sama sekali buatmu."
Nyut.
Jimin merasakan dadanya sakit sekali ketika mendengar Jungkook berbicara seperti itu padanya. Aneh, karena ia sama sekali tidak memahami maksud ucapan Jungkook. Tapi hatinya tidak bereaksi sesuai dengan otaknya.
Tiba-tiba pergi dan datang.. Kenangan..
Apa, sih, maksud Jungkook?
Jimin speechless. Ia tidak tahu harus berbicara atau melakukan apa. Sorot mata Jungkook terlalu kelam hingga Jimin ikut terhanyut di dalamnya.
"Hati-hati pada Suga. Aku nggak akan memberimu 'pinjaman' lagi.", kata Jungkook seraya meninggalkan Jimin.
Jimin pun segera tersadar dari fase speechless-nya, "Tungg—"
"—kau ini siapa?! 'Pinjaman' apa? Tunggu Jungkook, tolong jelaskan!"
Namun Jungkook tetap melajukan langkahnya, pergi menjauhi Jimin.
Siapa kau sebenarnya, Jeon Jungkook…?
"Sudah dengar? Katanya, Jungkook berlutut pada Suga, loh!"
"Masa? Nggak mungkin, ah!"
"Demi anak baru itu? Sumpah?!"
"Ada apa ya diantara mereka bertiga?"
Kabar bahwa Jungkook berlutut pada Suga untuk menolong Jimin pun langsung tersebar ke seantero BigHit School. Tentu saja, karena selama ini Jungkook selalu bertengkar dengan Suga. Atau lebih tepatnya Suga selalu mencari gara-gara agar Jungkook bertengkar dengannya. Jadi, aksi berlutut Jungkook menimbulkan banyak spekulasi.
Pasti kami pernah bertemu di suatu tempat..
Aku harus ingat!
Harus!
Bagaimana pun juga aku percaya Jungkook tidak berbohong saat mengatakan kalau dia mengenalku.
Benak Jimin dipenuhi oleh pikirannya sendiri. Ia tidak peduli lagi dengan sisa kelas yang harus ia ikuti hari ini. Ia langsung mengambil tas di lokernya dan berjalan keluar BHS, pulang ke rumahnya. Ia harus berbicara dengan Jin.
Di ruang OSIS
"Apa-apaan ini?!", teriak Jinyoung sambil menggebrak meja Jungkook. "Jelaskan, Jungkook. Siapa sebenarnya anak baru itu?"
Terjadi jeda beberapa detik sebelum terdengar, "Bukan urusanmu." Dari mulut Jungkook.
"Ini urusanku, urusan OSIS, urusan geng 'White'. Karena apa yang telah kau lakukan melibatkan seluruh murid!", kata Jinyoung sambil menekan kedua tangannya di meja Jungkook, menahan emosi.
"Kau berlutut pada Suga, itu berarti 'White' menyerah pada 'Black'!" Jinyoung yang gagal meredam emosinya pun menunjuk-nunjuk wajah Jungkook.
"Padahal selama ini kita seimbang! Ah, pasti mereka akan mulai bertingkah sekarang. Bikin repot saja!"
Namun Jungkook diam saja dan malah terus memandang ke luar jendela yang terbuka di belakang kursinya. Ia membiarkan angin sore hari menyapa rambutnya.
"Hei, dengar 'gak, sih?", tanya Jinyoung.
"'Konyol sekali.'", kata Jungkook, akhirnya bersuara.
"Jeon Jungkook!"
"Itu nggak penting. Pergi, sana.", kata Jungkook dengan wajah datarnya sambil menggerakkan tangan kanannya ke depan dan kebelakang, mengusir Jinyoung.
Jinyoung pun menyerah dan memutuskan untuk keluar dari ruangan OSIS. "Huh, anak baru itu harus segera dibereskan!"
Tak lama setelah Jinyoung pergi, ponsel Jungkook berbunyi. Ada panggilan telepon masuk. "Yeoboseyo?"
"Apa hubunganmu dengan anak baru itu?"
Ekspresi wajah Jungkook seketika mengeras. "Sudah kubilang, jangan menghubungiku di sekolah."
"Untuk hal sepenting ini aku perlu mendengar langsung penjelasanmu. Aku juga nanti harus banyak berimprovisasi, kan?"
"Kau lakukan saja tugasmu. Jangan ikut campur.", kata Jungkook ketus.
"Hm. Nggak masalah, sih. Toh makin kau lindungi, anak baru itu akan makin terpojok."
Pip.
Jungkook memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia tak mau lagi mendengar ada orang yang mengancam keselamatan orang yang sangat berarti baginya, Park Jimin.
Setibanya di rumah, Jimin langsung mandi untuk menyegarkan pikirannya. Setelah selesai mandi, ia mengobrak-abrik album foto di ruang keluarga. Dipandanginya lekat-lekat setiap foto yang ada di album itu.. Namun nihil. Ia tidak menemukan fotonya bersama Jungkook.
"Aku pulang..", kata Jin sambil melepas mantel dan menggantungnya di gantungan dekat pintu.
"Ah, kau sudah pulang, Jin."
"Sedang apa, Jimin? Kok buka-buka album foto?"
"Ini.. ada anak di sekolah yang sepertinya kenalanku. Hanya saja aku sama sekali nggak ingat padanya."
"He.. Kenalanmu? Kenalanmu yang di mana? Kapan?", Jin sampai bingung karena mereka sering pindah rumah.
"Aku juga nggak ingat… Ah! Dia pernah bilang kalau aku menghilang dan datang kembali tiba-tiba. Di prefektur ini, aku pernah tinggal di tujuh tempat. Apa saat itu, ya?"
Tiba-tiba Jin menghentikan gerakannya mengambil rokok. Jangan-jangan.. "Bawa saja dia."
"Eh? Ke rumah?"
"Kalau dia temanmu, aku mungkin ingat dia, kan?"
"Ah, iya, benar juga. Nanti kuajak dia kemari.", kata Jimin setelah menepuk tangannya ke dahi.
Jin pun melanjutkan aksinya yang tadi tertunda, ia menyulut rokok lalu menghisap dan menghembuskan asapnya. "Btw, rambutmu kenapa?"
"Ah, lupa.. Hehe."
Jimin menceritakan kejadian aneh di sekolahnya, mulai dari hari Sabtu saat ia pertama kali menjejakkan kaki di BigHit School hingga tadi siang ketika Suga menggunting rambutnya.
"Jangan kependekan, ya.", kata Jimin curiga.
"Tenang saja, aku ini seniman..", jawab Jin riang.
Nampaknya Jin akan merapikan rambut Jimin.
"Tapi ini rambut, bukan kanvas—", kata Jimin. "Hah.. aku jadi malas ke sekolah. Mereka pasti mengincarku lagi. Terus ada anak aneh itu plus ciu—"
"Ciu…?"
"Ciuca—cuaca maksudku. Tadi panas sekali sampai-sampai aku langsung mandi setibanya di rumah. Bahan seragam olahraga sekolah itu jelek sekali.", kata Jimin beralasan. Padahal tadi ia teringat ciuman pertamanya yang direnggut oleh V.
Jin pun tersenyum kebapakan. "Tumben kau jadi lemah begini."
Jimin mem-pout-kan bibir tebalnya. "Cuma di depan Jin saja, kok."
"Kabur saja.", kata Jin sambil mengusap kepala Jimin. "Aku nggak akan bilang agar kau menghadapi mereka. Aku nggak akan memaksamu jika kamunya sendiri 'gak mau. Jadi, gimana kalau pindah sekolah lagi?"
"Nggak mau! Aku nggak akan kabur! Aku nggak akan kalah dari mereka!"
Jin tersenyum kecil. Rencananya untuk menjebak—membuat Jimin semangat lagi—berhasil. "Kalau begitu, berusahalah!", kata Jin sambil menepuk kedua pipi tembam Jimin. "Arahkan wajahmu pada matahari."
"Ne!", kata Jimin sambil tersenyum manis, senyuman yang hanya ditunjukkannya pada Jin.
"Minnie, selamat pagi!", sapa V esok paginya di koridor BigHit School.
Jimin tidak menjawab sapaan V dan hanya menatap namja itu malas.
"Masih marah, ya?, tanya V.
"Tentu saja.", jawab Jimin singkat.
"Btw, kamu benar-benar nggak ingat sama Jungkook?", tanya V mengalihkan pembicaraan.
Jimin menggeleng pelan. "Kemarin aku menelepon teman-temanku dari sekolah-sekolah lamaku, tapi nggak ada yang tahu juga."
"Jadi, Jungkook salah orang?"
Jimin menghentikan langkahnya dan menatap sepatunya. "Kalau dia memang temanku.. aku pasti ingat. Walaupun wajah dan namanya berubah, aku pasti tahu.."
"Kemarin, waktu Minnie bilang nggak ada hubungan apapun dengannya, wajah Jungkook tampak agak kesepian, loh.", kata V.
Waktu itu, untuk sesaat, raut wajahnya yang mirip topeng itu menunjukkan ekspresi.
Dan itu bukan ekspresi wajah yang salah mengenali seseorang..
Jadi, kenapa aku nggak ingat dia? Berarti masalahnya ada padaku, bukan pada Jungkook.
Jimin yang sedari tadi tidak memperhatikan jalan dan hanya mengekor V pun sampai di ruang serbaguna BHS. Terdapat banyak sekali siswa lain di sana. Di sebelah kanan yang berbaju putih semua, sedangkan di sebelah kiri yang berbaju hitam semua. Mereka nampaknya sedang serius melihat sesuatu sambil bergumam sesuatu.
"Ada apa?", tanya Jimin.
"Pengumuman hasil ujian.", jawab V enteng.
"Oh. Sebelum aku masuk sini, ya.", kata Jimin. Ia pun melihat ke papan pengumuman itu karena penasaran, siapa kira-kira yang menempati posisi teratas.
Juara 2: Jeon Jungkook. Skor: 895.
Juara 1: Kim Taehyung. Skor: 900.
Jimin jawdrop. Ia melirik ke arah V, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. "I-itu.. salah cetak, ya?"
"Nggak.", jawab V polos.
"Nggak mungkin!", teriak Jimin.
"Makasih. Reaksimu persis seperti dugaanku, omong-omong.", kata V sambil menatap datar Jimin.
"Ah, Kim Taehyung! Tes uji coba nasional tempo hari nilaimu sempurna lagi. Kau memang kebanggan kami.", kata seorang sonsaengnim yang kebetulan lewat pada V.
Jimin semakin jawdrop.
Nilai sempurna untuk skala nasional.
Itu kan.. berarti….
Peringkat satu se-Korea Selatan?!
"Sekarang aku mengerti kenapa murid-murid di sini menerimamu meskipun kau anak 'Grey'.", kata Jimin pada V ketika mereka berdua berjalan menyusuri lorong lain sekolah.
"Ya, begitulah. Mereka nggak mungkin menindas orang yang lebih hebat dari mereka, sih.", jawab V santai.
"Tapi kata orang, perbedaan orang jenius dan orang gila sangat tipis, loh.", kata Jimin.
"Aku nggak jenius, kok. Aku cuma memakai waktu tidurku untuk belajar demi tujuan yang ingin kucapai. Gini-gini juga aku pekerja keras, loh."
"Memangnya apa tujuanmu?"
"Aku ingin jadi dokter jenius yang bisa menari dan menyanyi!", jawab V sambil menampilkan puppy eyes-nya yang berbinar-binar.
"Bhah. Kau? Dokter? Nggak, deh!", kata Jimin sambil tertawa. Dokter mesum, sih, iya!
"Huh, lihat saja. Aku pasti jadi dokter!"
Mereka berdua melanjutkan perjalan dalam diam. Namun tiba-tiba Jimin menoleh ke belakang dan menutup wajahnya dengan tas gendongnya.
"Ada apa, Minnie?"
"Nggak. Rasanya aku diawasi. Mungkin aku akan dilempari lumpur merah lagi.", Jimin pun membalikkan tubuhnya ke arah depan. "Tapi kayaknya salah, deh—"
CROT!
Satu lumpur merah berhasil mendarat di dahi Jimin.
"Kalian di situ, ya!", teriak Jimin sambil berlari ke arah datangnya lemparan lumpur itu.
"Hiiii!", seru dua namja yang tadi melempari Jimin.
Dua namja berseragam hitam itu pun bersembunyi di kelas kosong.
"Sial, larinya cepat sekali."
"Lain kali kita lempar dari jarak jauh saja."
Baik Jimin, V, dan dua namja itu tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.
Setibanya di kelas 1-C, lebih tepatnya di bangkunya, Jimin mendengar suara desisan dari arah laci mejanya. Jimin mengintip ke kolong dan menemukan seekor ular di sana.
"Hih, selalu saja pakai cara ini!", kata Jimin sambil mengambil ular itu dari laci mejanya.
"Heh, kalian!", teriak Jimin ke seluruh siswa di kelas 1-C. Sontak semua orang pun terdiam karena tiba-tiba diteriaki seperti itu. "Dengar, ya! Percuma pakai cara ini padaku! Mau cacing, ulat, kadal, katak, lipan, atau ular sekalipun, aku ngggak takut!", seru Jimin sambil mengacungkan ular dalam genggamannya ke udara.
"U.. ular?", seru siswa 1-C tidak percaya.
V langsung menyadari betapa gawatnya keadaan yang sedang terjadi sekarang. "'Snake'!"
"Huwaaa, muncul juga 'dia'!"
"'Snake' bertindak!"
"Bohong?! Secepat ini?"
"Apa 'itu' dimulai lagi?"
"Kyaaa!"
Jimin sedari tadi hanya terbengong heran melihat perilaku 'teman-teman' sekelasnya. "Apa, sih? 'Itu', 'snake', 'dia'?"
"Orang yang meneror dengan ular dijuluki 'Snake'. Entah 'dia' kelas berapa, namja atau yeoja. Nggak ada yang tahu identitasnya.", kata V menjawab pertanyaan Jimin. "Yang jelas, orang yang diincar-nya pasti akan keluar dari sekolah ini—"
"—'dia' adalah salah satu dari mereka yang disebut Unit Pembasmi 'Grey'."
Sementara itu… Di Markas 'Black'
"'Snake' bergerak?!", tanya Suga tak percaya. "Jangan bercanda! Anak baru itu kelemahan Jungkook yang pertama. Kalau 'Snake' ikut campur, anak baru itu bisa keluar dari sekolah."
Beberapa anak buah Suga pun melontarkan pendapat mereka.
"Justru itu alasannya, kan?"
"Gosipnya, 'Snake' itu anggota geng 'White'."
"Geng 'White' bisa direpotkan oleh kelemahan Jungkook, makanya dia muncul secepat ini. Sebelumnya kan nggak pernah."
"Huh, cepat hentikan dia!", perintah Suga.
"Tapi kami nggak tahu siapa dia, bos.."
"Makanya cepat cari tahu!"
"Ba-baik!"
"Dan kalau ketemu, bilang padanya.. Jangan sentuh mainanku.", kata Suga dengan sorot mata yang sama saat ia sedang menghajar orang. Sorot mata pembunuh.
TBC
Chapter 3 updated~
Mari kita jawab review !
Suga ngga ngebotakin chimchim kooo tenang aja, cuma jadi pitak-pitak dikit gitu wkwk /becanda/
Jimin ntar bakal dapet White, Black, atau Grey? yang mana yaah~ dududu. enak bgt ya jadi chimchim dikelilingi lelaki lekaki tamvan huhuhu author juga mau /mengalihkan pembicaraan/ dan sepertinya peran antek2 suga yang botak itu bakal aku kasih ke jackson hahahaahah terimakasih idenya! :D
Yap! ini remake dari komik yang judulnya Penguin Brothers. tapi mungkin agak susah nyarinya soalnya aku beli komik ini taun 2005 /ketauan deh author udah tuir/ :(
Makasih reader-nim yg udah baca dan yg udah review juga, lope lope kyaaaahhhh /teriak ala hosiki/
btw ada yg udah ngerti hubungan jimin-jin, jimin-jungkook, jimin-tae, jungkook-suga?
terus snake nya siapa coba kira2. apakah jinyong. apakah suga. apakah jungkuk. apa jimin sendiri?! wkwkwk
temukan jawabannya di episode selanjutnya pyeonggg
