Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'

Kim Taehyung as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Kim Seokjin as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'White'

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – Jungkook's ….. – 'White'

-All in Korean age-

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, and ASTRO member belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.


Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

Chapter 4: The lost friend

.

.


Pertanyaan 1: Apa itu 'Snake'?

.

.

"Orang yang diincarnya akan selalu diikuti ular, ke manapun dia pergi."

"Cuma itu? Kalau itu sih, cincai. Aku nggak takut ular."

"Tuh, ada di sampingmu."

"Waa?!", Jimin menoleh ke samping dan benar saja, ia menemukan seekor ular berada di jarak yang cukup dekat dengannya.

Jimin dan V sedang duduk di atas rumput taman belakang BigHit School sambil makan siang. Mereka selalu makan bersama, ya, pergi ke mana pun juga selalu bersama, sih.

V selalu mengekori Jimin ke mana-mana karena ia menyukai Jimin sejak tendangan pertama, bukan pandangan pertama seperti kisah cinta kebanyakan. Sedangkan Jimin tak punya pilihan lain selain membiarkan V mengekorinya. Kalaupun ia ingin makan siang atau pergi dengan yang lain, ia kan tidak punya teman selain V di BHS. Mengingat peraturan tak tertulis di sekolah ini: "jangan berteman dengan orang dari anggota geng lain". Dan hanya mereka berdua lah anggota geng 'Grey' di sekolah.

"Sekalipun berani, kalau seharian diikuti terus bisa gentar juga. Apalagi kalau ularnya berbahaya." Lanjut V. "Tapi, bukan itu yang menakutkan dari 'Snake'…"

"Gerak badan dulu, ah..", kata Jimin tidak peduli dengan ceramah V.

"Ya! Dengarkan kalau orang sedang berbicara!", kata V sambil memukul kepala Jimin pelan dengan sumpitnya.

"Ah, itu dia! Ya, Park Jimin!", seru seorang siswa berseragam hitam. "Suga menyuruhmu datang! Ayo ikut kami."

"Nggak-mau-ah, wlek!", kata Jimin lalu ia pun berlari secepat Usain Bolt.

"Ya, jangan kabur!", seru siswa berseragam hitam lainnya.


Sejak pindah sekolah ke BigHit School, aku dikenal sebagai namja yang membuat ketua geng 'White' berlutut dan ketua geng 'Black' K.O., sekaligus menjadi incaran kedua geng tersebut. Dan sekarang, "Unit Pembasmi 'Grey'" muncul.

Situasinya jadi semakin rumit…

"Gawat, kalau dia 'gak berhasil kita bawa, kita bakal dihajar Suga!"

"Gila, larinya kenceng bener."

"Ayo kita cari dia lagi!"

Jimin sebenarnya kabur ke atas pohon. Namun, karena anak buah Suga tidak mendongak dan fokus mencari Jimin di permukaan tanah, Jimin pun bisa selamat kali ini.. Setidaknya sampai kakinya terpeleset dari dahan terakhir ketika sedang turun dari pohon. Untung saja jarak antara dirinya dengan tanah hanya tinggal satu meter. Tapi.. Ada sesuatu di antara Jimin dengan tanah. Tepat di bawah Jimin, ada seorang yeoja yang tengah berjalan kaki.

"Uwaa!", teriak Jimin panik. "Minggir! Mingg—"

GUSRAK!

Jimin pun terjatuh dari pohon, menimpa tubuh yeoja itu.

"Ma.. maaf! Apa kau baik-baik saja?", panik Jimin sambil berusaha bangun. Setelah berhasil berdiri, ia menjulurkan tangannya untuk membantu yeoja itu untuk berdiri juga. "Wah.. cantiknya..!"

Jimin terpaku ketika menyadari yeoja yang tadi ditimpanya sangat, sangat, sangatlah cantik. Baru juga beberapa detik Jimin mengagumi wajah cantik yeoja itu, anak buah Suga datang kembali karena mendengar teriakan Jimin.

"Itu dia!"

"Ya! Kau jangan melawan! Ayo ikut kami!"

"Ups, gawat.", kata Jimin.

Jimin ingin kabur, dan ia bisa kabur, tapi bagaimana dengan nasib yeoja yang tadi ditimpa olehnya? Tidak mungkin, kan, ia pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab. Apalagi meninggalkannya di sini bersama tiga namja anggota geng 'Black' yang sedang marah.

"Ah…! I-itu, Yoon Sanha!", seru salah satu dari anggota geng 'Black' itu.

Yang disebut Yoon Sanha pun membuka suaranya. "Maaf, aku ada janji dengannya. Tolong bilang pada Suga, ya.", kata Sanha sambil tersenyum manis.

"I-iya!"

"Ka-kami permisi!"

"Daah, Sanha~"

Itulah bagaimana tiga anak buah Suga pergi melepaskan Jimin. Lupa jika kembali ke markas tanpa Jimin, merekalah yang akan jadi sasaran kemarahan Suga.

"Hebat! Mereka langsung mundur.", seru Jimin. "Em.. Kau siapa? Maaf, aku murid baru."

Sanha tersenyum, "Namaku Yoon Sanha, kelas 2-A, pengurus OSIS."

Pengurus OSIS? Ah.. Apa dia orang penting di geng 'White' sekaligus primadona sekolah ini? Dia cantik sekali, astaga. Sama seperti V dan Jungkook, jenis yang nggak ada di desa juga.

"Em.. berarti aku harus memanggilmu noona, dong.", kata Jimin sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Terserah Jimin saja. Kalau mau memanggil namaku juga boleh."

"Loh, Sanha noona tahu namaku?"

"Tentu saja, kau sangat terkenal. Seluruh murid di sekolah ini membicarakan tentang dirimu."

Jimin jadi tersipu karena dikenali oleh gadis secantik Sanha.

"Lalu.. kenapa Sanha noona menolongku?", tanya Jimin penasaran. "Soalnya anak-anak yang lain nggak ada yang mau bicara denganku."

"Karena banyak murid yang menganggap sekolah ini aneh, aku juga, tapi kami diam karena takut ditindas—", kata Sanha sambil memainkan rambut dengan jemari lentiknya yang terbalut kuku palsu yang manis.

Wah, kuku-kukunya bagus. Benak Jimin.

"—aku menghormati anak pemberani sepertimu.", lanjut Sanha. "Mungkin kedengaran egois, tapi aku ingin kau nggak kalah.", lalu Sanha pun tersenyum manis. Sangat manis hingga lagi-lagi Jimin terpesona melihatnya.


Jimin menceritakan kejadian tadi kepada V dalam perjalanan mereka kembali ke kelas.

"Ada juga ya anak baik di sini.", kata Jimin. "Jadi semangat, nih! Aku akan berusaha~!"

"Aku senang melihatmu semangat seperti itu, Minnie. Tapi aneh jika seorang Yoon Sanha memberi dukungan pada Minnie.", kata V.

"Kenapa..?"

"Karena anak OSIS-lah yang mempelopori konflik yang ada sekarang.", kata V. "Selain itu, dia kan 'ini'-nya Jungkook.", lanjut V sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah Jimin.

Jari kelingking?

Pacar?

"Oh, ya?", tanya Jimin setelah mencerna maksud dari jari kelingking itu.

"Hm.", V mengangguk. "Anak-anak OSIS nggak sebaik itu. Minnie harus sadar kalau Minnie sedang dalam bahaya. Mungkin bagi Jungkook, Minnie adalah 'cowok spesial'. Jadi, sudah pasti Sanha nggak akan senang."

"Aku sih nggak ambil pusing soal begituan, Sanha pasti orang baik."

DEG!

Jimin merasakan dirinya sedang diawasi lagi. Ia pun membalikkan badannya ke belakang lalu langsung berlari sekuat tenaga.

"Loh, Minnie?! Ada apa?", V kaget karena Jimin tiba-tiba berlari meninggalkannya.

Jimin masuk ke sudut kecil di antara ruang kelas memasak dan pantry, sehingga V hanya dapat mendengar teriakan Jimin, "Tertangkap!", tanpa tahu apa yang ditangkap Jimin.

"AAH!"

Lalu terdengar suara jeritan orang—seorang namja—lainnya dari sudut itu. Berarti yang ditangkap Jimin adalah manusia.

"Kau yang waktu itu diam-diam membuntutiku, kan? Kau 'Snake', ya?!", bentak Jimin sambil mencengkeram kerah seragam putih yang dikenakan namja yang ia tangkap.

"Bu-bukan..", kata namja itu susah payah karena Jimin nyaris mencekiknya.

"Terus kenapa membuntutiku?!"

"Minnie, lepaskan dulu tanganmu. Dia 'gak bisa bicara, tuh..", kata V.

"Se..sesak, Jiminnie..", kata namja yang kerahnya sedang ditarik Jimin.

"Eh?", Jimin pun melepaskan cengkeraman tangannya karena dipanggil 'Jiminnie'. Sebelumnya tidak ada yang memanggilnya seperti itu.

Namja itu terkulai lemas di lantai setelah Jimin melepas cengkraman di kemejanya. "A-aku nggak berniat membuntutimu. Aku cuma kehilangan kesempatan saat ingin menyapa..", kata namja itu. "Jiminnie 'gak berubah, ya. Aku langsung tahu itu kamu."

"Kau siapa..? Kenapa memanggilku Jiminnie?"

"Aku Jung Hoseok, teman sekelas Jiminnie waktu kelas satu SD.", jawab namja yang ternyata bernama Hoseok. "Dulu, kita sering pulang bertiga bareng Jungkook."

"EH?!", Jimin dan V teriak bersamaan.

"Berarti Hosiki tahu saat Minnie dan Jungkook berteman—", kata V.

"Hosiki?", Hoseok jadi bingung karena tiba-tiba V seenaknya memanggil namanya dengan sebutan lain. V memang selalu bertindak seenaknya.

"—betul juga. Kalau Jungkook kenalan lama Minnie, tidak aneh jika ada kenalan yang lain juga di sekolah ini.", lanjut V, tidak memedulikan ekspresi heran Hoseok yang tadi dipanggilnya jadi Hosiki.

Jimin sedari tadi diam, mencoba mencerna ucapan Hoseok.

"Minnie…. Jangan-jangan, sama seperti Jungkook, Hosiki juga 'kenalan yang terlupakan'?"

Jimin pun sweatdrop mendengar ucapan V. Kenapa ia bisa-bisanya melupakan dua orang teman lamanya, Jungkook dan Hoseok?

"Ya.. aku memang 'gak menonjol, sih…. Apa boleh buat kalau dilupakan….", kata Hoseok sambil melakukan gerakan memutar telunjuk di lantai.

"Ma-maaf! Tapi aku betul-betul nggak ingat..", kata Jimin panik.

Hoseok mendongak untuk menatap Jimin lalu ia tersenyum sambil berkata, "Nggak apa kalau Jiminnie melupakanku. Tapi kalau lupa sama Jungkook, itu sih terlalu."

"Memangnya kenapa?", tanya Jimin.

"Habis, Jiminnie dan Jungkook, kan, pernah berjanji akan menikah.", jawab Hoseok santai.

"HAAA?!", Jimin dan V teriak bersamaan lagi.


Di markas 'Black'

"Ini info tentang Park Jimin.", kata salah satu anak buah Suga. "Dia lahir di prefektur ini. Saat berusia lima tahun, orang tuanya bercerai lalu dia ikut ibunya. Setelah itu ibu dan kakeknya meninggal. Sekarang dia tinggal berdua bersama adik ibunya, seorang pelukis. Sepertinya, pamannya itu cukup terkenal."

Suga melihat sekilas lembaran-lembaran kertas yang berisi biodata Jimin.

"Setelah itu, dia selalu berpindah mulai dari Gwangju, Daegu, sampai ke Busan…", lanjut anak buah Suga.

"Masa bodoh! Aku nggak berminat dengan masa kecil cowok itu!" potong Suga. "Yang aku ingin tahu, hubungan apa yang dia miliki dengan Jungkook?!"

"Ah, kami tahu!", kata anak buah Suga lagi. "Waktu kelas satu SD mereka sekelas."

"Oh, jadi mereka teman masa kecil.", kata Suga dengan senyum penuh makna.

Anak buah Suga mengangguk mengiyakan. "Dia yang membantu Jungkook yang saat itu sering nggak masuk sekolah."

"'Gak masuk sekolah? Kenapa? Apa dia ditindas?", tanya Suga.

"Sepertinya bukan karena itu. Nggak ada yang tahu alasannya.", jawab anak buah Suga.


"Awalnya, Jungkook pemuram dan pendiam. Dia juga jarang masuk sekolah. Jadi, tiap pagi, Jiminnie selalu menjemputnya—", kata Hoseok setelah ia, Jimin, dan juga V duduk di rumput taman belakang sekolah. "—Jungkook pun berangsur-angsur terbuka pada Jiminnie dan jadi periang."

Jimin dan V sedari tadi hanya diam, mendengarkan Hoseok yang tengah bercerita.

"Tapi, tiba-tiba Jiminnie pindah sekolah. Jungkook kembali jadi anak pemuram, meski ia tetap bersekolah. Sampai sekarang Jungkook jadi orang yang sulit diajak bicara.", lanjut Hoseok.

"Terus soal tunangan itu bagaimana?", tanya V.

"Aku juga kurang tahu. Hanya saja, suatu hari Jiminnie mendadak bilang: 'Kami kelak akan menikah!'.", jawab Hoseok menerawang. "Jiminnie benar-benar nggak ingat?"

Jimin yang sedari tadi duduk memeluk kedua kakinya pun mendongak. Ia menyingkap rambut di pelipis kirinya ke atas dan menunjuk sesuatu di sana. "Ini, lihat."

V dan Hoseok mendekati Jimin untuk melihat yang ditunjuk Jimin.

"Aku dulu pernah jatuh dari pohon setinggi sepuluh meter. Kondisiku saat itu lumayan kritis, sampai hilang kesadaran selama beberapa lama. Ini bekas lukanya.", kata Jimin. "Pasti ingatanku hilang karena itu.. Ya, setidaknya cuma itu alasan yang bisa kupikirkan sekarang ini."

"Se-sepuluh meter..?", tanya Hoseok.

"Masih bisa hidup, ya.", sahut V.

"Kalau benar begitu, sih, berarti wajar kalau Jiminnie tidak bisa mengingat ingatan semasa kecil.", kata Hoseok. "Jiminnie tanyakan saja tentang Jungkook pada paman Jiminnie. Kamu masih tinggal dengannya, kan?"

Jimin mengangguk pelan.

"Hm.. Agak sedih, sih, Jiminnie nggak ingat padaku. Tapi aku senang bisa bertemu Jiminnie lagi!", Hoseok menampilkan senyuman termanisnya, "Dulu Jiminnie keren banget. Baik, kuat, ceria. Semua orang menyukai Jiminnie. Memilih jadi 'Grey' juga ciri khas Jiminnie sekali."

Pipi Jimin bersemu mendengar Hoseok berkata seperti itu. Apalagi saat Hoseok melanjutkan, "Aku boleh jadi temanmu lagi, kan, Jiminnie?"

Te-teman?!

"Tentu saja!", seru Jimin sambil memegang kedua tangan Hoseok erat. "Aku juga ingin bertanya banyak hal padamu. Tolong bantuannya, ya, Hosiki!"

Jimin ikut-ikutan V memanggil Hoseok dengan sebutan Hosiki.

Setelah beberapa obrolan hangat lainnya, Hoseok pun pamit untuk kembali ke kelasnya.

"Ah.. senangnya. Teman pertamaku di sekolah.", kata Jimin selepas kepergian Hoseok.

"Ya! Aku teman pertamamu di sekolah!", seru V.

"Aku ogah punya teman yang punya lima-enam tindikan di telinganya dan yang rambutnya ganti-ganti warna terus kayak bunglon."—Apalagi yang suka mencium tiba-tiba!

Setelah berkata seperti itu Jimin beranjak dari posisinya lalu berjalan ke arah pintu masuk sekolah. Disusul oleh V yang menampakkan ekspresi yang sulit diartikan.


Besoknya, di koridor utama BigHit School

BYUR!

Sekaleng cat berwarna merah tumpah mengenai tubuh Jimin.

BLETAK!

Plus dengan kaleng catnya.

Tiba-tiba ada suara seseorang dari belakang Jimin. "Sebaiknya kau cepat keluar dari sekolah ini."

Jimin menoleh dan mendapati Jungkook yang berdiri di dekat pilar koridor sekolah sambil bersidekap santai.

Jimin tersenyum hingga eye-smile-nya yang menawan muncul. "Selamat pagi, Jungkook."

Jungkook menghela napas pelan sebelum berkata, "Kamu nggak cocok di sini." Seakan tidak peduli dengan senyuman yang menghilang dari wajah Jimin, Jungkook melanjutkan, "Nggak ada artinya bertahan hanya untuk dikerjai."

Jimin menampilkan ekspresi datarnya. "Biar saja—"

Jungkook pun menghentikan langkahnya yang tadi hendak mendekati Jimin.

"—Aku nggak akan kabur, karena aku nggak merasa salah. Aku akan bertahan sampai akhir. Itu yang selalu kulakukan. Kalau punya keyakinan, pasti akan ada yang mengerti.", lanjut Jimin.

Obrolan mereka terhenti ketika ada dua orang namja berseragam hitam datang menghampiri mereka. "Pagi, Jungkook. Bicara apa sama anak baru itu?"

Salah satu dari mereka menepuk bahu Jungkook. "Hei, apa benar kau berlutut di depan Suga? Coba lakukan lagi di sini."

Namun tiba-tiba saja namja itu tersungkur ke lantai dengan pantatnya terlebih dahulu. Jungkook memukulnya.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu.", kata Jungkook dengan sorot mata pembunuh.

Jimin membelalakkan mata sipitnya. Tidak menyangka jika Jungkook sekuat itu.

"Kau..?!", sahut namja yang tersungkur ke lantai.

"Sudahlah, dia bukan tandingan kita. Dia tandingan Suga. Ayo!", kata namja yang satu lagi sambil membantu temannya berdiri.

Setelah dua namja anggota geng 'Black' itu pergi, Jungkook mengelap tangannya yang tadi bekas memukul ke baju Jimin.

"Kok ngelap di aku?!", seru Jimin.

Mereka berdua tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seorang yeoja memperhatikan mereka dari sudut ujung koridor.


Kalau cerita Hosiki benar.. Apa yang dipikirkannya saat aku, tunangannya dulu, tiba-tiba muncul lagi di hadapannya setelah mendadak pergi?

Kangen? Atau malah kesal?

Dia murid yang pandai.. tapi juga kasar.

Melindungiku… tapi juga mengusirku.

Aku nggak bisa memahaminya.

Suga masih lebih mudah dimengerti..

"Hei."

Jimin tersadar dari lamunannya. "Ya?"

"Kalau mau tetap di sini, kunasehati sekali lagi. Jangan terlalu percaya pada orang-orang disekelilingmu.", kata Jungkook.

"He..? Maksudmu siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan si monyet berambut merah itu."

V?


"Huh.. Sebal! Siapa, sih, yang mengambil sandwich ham telur spesialku?!", teriak V. "Mana roll stroberinya habis, pula!"

Rengekan V terpotong oleh kedatangan Hoseok. "Jiminnie, V! Makan siang bareng, yuk, di atap."

"Ah, roll stroberiku!", seru V setelah melihat Hoseok membawa roll stroberi dipelukannya.

"Eh, kamu mau ini?", tanya Hoseok.

V mengangguk mantap sambil menampilkan puppy eyes-nya yang berhasil membuat Hoseok merasakan sesuatu yang aneh menjalari perutnya. V ber-aegyo-ria. Hoseok menyodorkan roll stroberi itu pada V yang tentu saja disambut senang oleh V. Saat senyum kotak V mengembang, hati Hoseok pun menghangat seketika. Ia terpikat oleh pesona V saat itu juga.

Wah, V tampan sekali..! Benak Hoseok.

Tapi Hoseok langsung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Ia memutuskan untuk mengobrol dengan Jimin sebelum semburat pink di pipinya terlihat. "Sudah tanya pamanmu tentang Jungkook?"

"Belum, pamanku yang payah itu menghilang lagi." Jawab Jimin. "Sejak dulu dia sering mendadak menghilang setelah meninggalkan pesan di selembar kertas—"

"—Jimin, aku pergi dulu, ya.', 'Jimin, aku ke Pyeongchang lima hari.', 'Jimin jangan telat makan. Aku mendadak dapat ilham untuk melukis di Ilsan.', ya kurang lebih seperti itu lah.", rapal Jimin, mengingat pesan-pesan yang sering ditinggalkan pamannya.

Jimin tidak mendengar komentar apapun dari mulut Hoseok sehingga ia menghentikan langkahnya dan menyadari Hoseok tidak lagi berjalan di sebelahnya. "Hosiki? Kok jauh-jauh begitu?"

"Eh? Ng.. nggak kok.", tapi lagi-lagi ia berhenti melangkah ketika ada beberapa anak berseragam putih berpapasan dengan mereka.

"Hosiki?", Jimin bertanya lagi karena khawatir melihat wajah Hoseok yang memucat.

"Ma-maaf. Ayo cepat kita ke atap.", kata Hoseok dengan senyum yang dipaksakan.

V yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Hoseok dari belakang pun membuka suara. "Kau ini, kalau nggak mau terlihat bersama kami, jauhi saja. Kau takut, kan? Terlalu naif kalau kau pikir bisa berteman dengan kami sambil tetap berada di 'tempat yang aman'."

Hoseok tertohok mendengar penuturan V. Ia sedih karena sosok yang tadi dipujinya dalam hati berkata sekejam itu padanya. Tapi ucapannya memang benar-benar tepat. "Ma.. maafkan aku.", kata Hoseok yang matanya sudah berkaca-kaca. Ia pun berlari menjauh dari Jimin dan juga V.

"Ya! Bicaramu kok kasar sih?! Kau bukannya sudah dapat roll stroberi itu darinya?", tanya Jimin sambil menarik leher kaos yang dipakai V.

"Apa? Siapa yang memedulikan roll stroberi?!", seru V. "Oke, mungkin aku terdengar kasar. Tapi selama memakai seragam, dia nggak akan benar-benar bisa jadi 'teman'. Seperti itulah peraturan di sekolah ini, pahami itu, Minnie!"

"Kok, gitu, sih?! Di manapun, bagaimanapun, teman tetap teman!", seru Jimin.

"Minnie, kau lihat sikap Hosiki tadi, kan?", kata V, lalu ia pun melembutkan suaranya, menyadari jika mereka berdua emosi akan berujung tidak baik. "Aku tahu Minnie akan marah kalau aku bicara begini.. tapi, pernah terpikir 'gak, kalau Hosiki mungkin saja 'Snake'?"

Jimin terpaku mendengar ucapan V.

"Bagaimana caranya meneror namja yang tetap tenang walau dihujat oleh seisi sekolah, disodori sekarung serangga dan ular, dilempari lumpur, dan dijatuhi cat?", tanya V sambil menatap tepat ke iris mata Jimin. "Menurutku, cara yang paling jitu adalah dengan menusuk dari belakang."

Jimin memalingkan wajahnya dari V, tidak sanggup mendengar kalimat selanjutnya yang akan V ucapkan.

"Pura-pura jadi teman, lalu berkhianat. Sudah banyak kulihat contohnya di sekolah ini.", lanjut V.

"Hm. Kalau begitu.. Kau pun bisa, jadi 'Snake'.", kata Jimin sambil tersenyum lemah.

V sempat terkejut dengan ucapan Jimin. Namun sedetik kemudian ia tersenyum penuh misteri. "Kau serius mengucapkan itu?"

Jimin menatap V. "'Pura-pura jadi teman lalu berkhianat', kau yang paling berpeluang untuk itu, kan?"

"Haha..", V membuang muka, tidak menatap Jimin lagi. "Kalau kau memenuhi keinginan 'Snake', semuanya akan lebih mudah, bukan?"

Lalu V pun meninggalkan Jimin tanpa menoleh ke belakang lagi.

.

.

TBC

.

.


chapter 4 chapter 4 chapter 4 chapter 4

jungkook pacarnya sanha? /ini apa coba tiba2 aku munculin sanha astro/ hahaha. dan disini sanha lebih tua dari jungkook wuahahaa. dan sanhanya jadi cewe qkqkqkqkqk

terus muncul hosiki temen lamanya jimin. eh, apa bener temen lama? apa ada maksud lain ngedeketin jimin? nahloh~

v juga gmn, beneran tulus temenan sma jimin atau...?

terus hosiki juga gmn, katanya pgn temenan lagi sama chimchim tp gamau ketauan deket2

nahloh nahloh nahloh

mungkin akan terjawab di next chap. mungkin looohh yaaaaa hihihi

aku fast update kok soalnya lg nganggur di rumah huhu /curcol/

sampai ketemu di chap 5, annyeong~