Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – 'Grey'
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'
Kim Taehyung as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'
Min Yoongi as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'
Kim Seokjin as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..
Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher
Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'
Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – Jungkook's ….. – 'White'
Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'White'
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS, GOT7, and ASTRO member belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Chapter 5: The 'Snake'
.
.
Pertanyaan 2: Apa tujuan 'Snake'?
.
.
Bicaraku kelewatan, ya..
Tapi V meragukan Hosiki.
Dan Jungkook memperingatkanku untuk berhati-hati pada V.
Ah.. Mungkin.. aku harus minta maaf.
.
.
SREK. Hisss…
.
Terdengar suara desisan dari laci meja Jimin. Ia pun melihat ke kolong meja dan benar saja, lagi-lagi ia menemukan seekor ular di sana.
Huh, pelihara berapa banyak, sih?!
.
"Kyaaaa!"
Terdengar teriakan salah satu 'teman' sekelas Jimin. Sontak Jimin pun mendongak karena terkejut.
"Ular..! Ada ular!"
"Uwaah! Di sini juga ada!", seru 'teman' sekelas Jimin yang lain.
"Di tasku juga ada!"
"Ja.. jangan kemari!"
"Gyaaaa!"
.
Ke.. kenapa muncul di sana juga?
.
Setelah kelas 1-C agak tenang karena ular-ular itu telah diamankan pihak sekolah, seluruh 'teman' sekelas Jimin memandang geram ke arah Jimin.
"Ini semua gara-gara kamu!"
"Ular-ular ini ada gara-gara kamu!"
"Keluar dari sekolah ini!"
"Satu kelas jadi ikut terganggu!"
"Enyahlah!"
.
Jimin tidak dapat membela dirinya kali ini. Ia terpojok karena ucapan 'teman-teman' sekelasnya itu benar adanya. Dan sekarang ia sedang sendirian tanpa lengan V yang melindunginya.
.
Apa tujuan'Snake'?
Jabawan: Mengisolasi anak-anak 'Grey'.
.
.
.
'Snake' mulai menyerang orang-orang disekitarku…
Aku dituduh sebagai penyebab kemunculan ular-ular ini.
Murid lain yang semula hanya menonton.. sekarang ikut memojokkanku.
.
.
"Kyaaa!"
Terdengar teriakan dari dalam ruang OSIS.
"Sanha, ada apa?", tanya Jinyoung panik.
"I-ini.. ada ular..", jawab Sanha dengan suara bergetar.
"Kenapa bisa ada di ruang OSIS?!", seru Jinyoung lagi.
GREP!
Ular itu sekarang berada di dalam genggaman seseorang. Orang itu menatap ular tersebut dingin. Lalu orang itu tidak mengucapkan apa-apa dan keluar dari ruangan.
"Ya, Jungkook, kau mau ke mana? Aish orang itu..", gerutu Jinyoung kesal. Ia tidak pernah mengerti pola pikir ketua OSIS sekaligus ketua geng 'White' itu.
Pertanyaan 3: Siapa 'Snake'?
.
.
Aku nggak tahu mana lagi.. yang mana kawan.. yang mana lawan..
.
"Keluar!", seru kelas 1-C pada Jimin sambil melemparinya dengan apapun yang ada di sekitar mereka. Penghapus, pulpen, pensil, buku, sampah, bahkan ular yang belum terbawa oleh pihak sekolah.
.
Nggak bisa.. Aku nggak bisa bicara apa-apa sekarang.
Percuma.. nggak akan didengar.
.
Tiba-tiba Jimin merasakan kelas 1-C berhenti melemparinya. Ternyata karena ada seseorang yang melindungi tubuh Jimin.
"Hei, hei. Kalian menyerang orang yang salah."
"Su-suga?!", teriak kelas 1-C tidak percaya.
Suga memang sedari tadi sudah memperhatikan kejadian yang terjadi di kelas 1-C dari luar. Tapi ia baru masuk ke dalam kelas itu setelah anak-anak kelas 1-C mulai melempari Jimin.
"Siapa yang membawa ular-ular ini? Bukan dia, kan?", tanya Suga.
"Ta-tapi, gara-gara dia…"
"Pemikiran macam itulah yang 'dia' mau.", potong Suga.
"A..anu. Permisi. Kenapa kau melindungiku?", tanya Jimin yang sedang berada di belakang Suga.
Bukannya menjawab, Suga malah menendang bahu Jimin hingga Jimin pun terpojok ke tembok di belakangnya.
"Jangan salah paham, anak baru.", kata Suga selanjutnya. "Ini karena kau 'kelemahan' Jungkook, jadi kuputuskan untuk 'menjaga'mu."
Kaki kanan Suga masih bersarang di bahu kanan Jimin, tapi Suga menengokkan kepalanya ke arah murid-murid kelas 1-C yang berada di belakangnya. "Dengar baik-baik, 'Snake'! Jika kau ada di sini.. Lain kali, jika kau macam-macam lagi pada mainanku, kau nggak akan kumaafkan!"
Jimin geram sekali dibuatnya. Apa tadi katanya? Mainan?!
"Memangnya-kau-siapa-HAH?!", seru Jimin lalu ia pun menendang alat kelamin Suga sekuat yang ia bisa.
"Adswhrkhl?!", Suga sontak melepaskan kakinya dari bahu Jimin dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh barangnya yang tadi ditendang Jimin.
"Jangan belagu! Bisanya cuma omong besar di depan pengikutmu!", seru Jimin lagi.
Suga berjongkok karena rasa sakit yang luar biasa di daerah selatannya. "A-awas kau! Kuhajar kau nanti!"
"Coba saja kalau bisa, wlek.", Jimin menjulurkan lidahnya lalu berjalan keluar kelas.
"A-anak itu…. Ini yang kedua….", kata Suga masih dengan posisi berjongkoknya dan menutupi benda kesayangannya yang sedang kesakitan.
Namun suasana di sana hening. Terlalu hening. Hingga Suga sadar bahwa ia sedang menjadi tontonan anak-anak kelas 1-C yang shock. Sama shock-nya dengan dirinya sendiri.
"APA LIHAT-LIHAT?!", teriak Suga.
"Uwaa!"
"Kyaaa!"
Kelas 1-C pun kosong karena murid-muridnya kabur, takut dimarahi Suga.
Jimin yang sedang kesal melangkahkan kakinya ke taman belakang BigHit School—ia selalu berhasil tenang jika berada di sana.
.
Huh. Apa-apaan si Suga itu.
Apa tadi katanya? Aku kelemahan Jungkook? Enak saja, aku tidak lemah!
Buktinya, aku masih di sini sampai sekarang.
Huh. Aku juga kesal sekali pada 'Snake'! Aku ingin membalasnya tapi bagaimana caranya?
Aku kan 'gak tahu dia siapa..
.
Langkah Jimin terhenti ketika ia menangkap sosok berseragam putih yang sedang duduk membelakangi dirinya. Sosok itu sedang menunduk dan bahunya turun. Seperti sedang bersedih.
"Loh, Hosiki?", tanya Jimin ketika ia menyadari sosok itu adalah Hoseok.
Hoseok menoleh ke arah Jimin, lalu matanya pun kembali berair. "Jiminnie… Hiks."
"Maaf, Jiminnie.."
"Sudahlah, nggak apa-apa, kok.", kata Jimin sambil mengusap-usap punggung Hoseok. "Betul kata V, kalau Hosiki akrab dengan anak 'Grey', nanti Hosikki bisa diincar juga."
Hoseok terdiam agak lama sebelum berkata, "Jiminnie.. Kok, kuat, sih? Sementara aku.. memalukan."
Jimin merubah posisi duduknya menghadap Hoseok karena Hoseok mulai merendahkan dirinya sendiri.
"Padahal aku juga berpikir kalau sekolah ini aneh. Padahal aku juga ingin pakai baju bebas… Aku juga ingin berani sepertimu, Jiminnie..", kata Hoseok menerawang.
Jimin terenyuh dengan ucapan Hoseok yang sepertinya tulus. "Hosiki, tetaplah seperti Hosiki sekarang. Jangan mempersulit diri.", kata Jimin sambil memegang tangan Hoseok. "Mungkin.. setelah ini.. Hosiki akan digosipkan macam-macam gara-gara aku. Tapi, walau itu terjadi.. Hosiki tetap mau jadi temanku, kan?"
Hoseok mengangguk mantap.
"Waktu SD, Jiminnie selalu melindungiku dari anak-anak nakal. Kalau aku terpojok, Jiminnie mau menolongku, kan?"
"Serahkan padaku! Aku pasti akan menjaga Hosiki!", kata Jimin sambil menunjukkan senyumannya pada Hoseok.
Di ruang komputer
.
Seorang namja bersurai merah stroberi terlihat sedang mengetik sesuatu di keyboard.
.
Hm.. sulit juga menerobos server sekolah.
Apa kucoba cari di tempat lain, ya?
.
Lamunan namja itu buyar saat terdengar suara dari arah belakangnya.
"Kata mendiang ibuku, saat bingung, pejamkan saja matamu dan buka mata hatimu.", kata orang itu sambil memejamkan matanya dan menyentuhkan tangan kanannya ke dadanya.
Namja itu menoleh ke belakang dan mendapati Jimin-lah yang bersuara tadi.
"Setelah itu.. kau akan tahu, apakah orang yang ada di dekatmu bisa dipercaya, atau sebaliknya.", lanjut Jimin.
Namja itu, V, akhirnya berkata, "Lalu.. Aku bagaimana? Apa yang hatimu rasakan?"
Jimin membuka kedua matanya dan menatap V lembut. "Maaf.. Kuralat. Teman pertamaku di sekolah ini… memang kamu."
Senyum mulai merambat di bibir V.
"Kalau nggak ada yang bicara denganku, aku mungkin nggak bisa bertahan. Dan aku bersyukur orang itu adalah kamu.", lanjut Jimin.
Senyuman V sudah merekah sempurna, plus semburat pink di kedua pipinya. Tampan.
Tapi Jimin yang sedang dihadapan V pun tak kalah tampan. Apalagi dengan rona merah muda di pipinya. Dan bibir tebalnya yang basah karena dengan tidak sadar dijilat berkali-kali olehnya yang sedang gugup. V jadi ingin mencium Jimin lagi, kan..
"Kukira Minnie cuma pemberani, ternyata bisa muji juga, ya.", kekeh V.
Semburat merah muda di pipi Jimin semakin nampak. Jadi, Jimin pun mencoba mengalihkan pembicaraan, "Hm.. Dan satu lagi, V.. Hosiki nggak jahat. Dia.. bukan orang yang suka berbohong."
V menghembuskan nafasnya, "Baiklah. Kalau Minnie bilang begitu, aku percaya.", dan menatap lagi layar komputer yang tadi sedang ia gunakan.
"Omong-omong, kamu sedang apa?", tanya Jimin.
"Ah, aku mencari identitas 'Snake' dari data komputer sekolah.", jawab V ceria.
"Eh?! Memangnya bisa?"
"Cuma segelintir orang yang bisa menyiapkan ular sebanyak itu. Pasti ada catatannya di salah satu data di sini.", kata V lalu ia merogoh tas gendongnya dan mengeluarkan ular dengan santainya. "Ini dia bukti yang 'Snake' tinggalkan!"
"Kok bisa ada di tasmu?!"
V kembali dengan blank stare-nya. "Aku juga kena."
.
Apa? V juga…
.
"Hati-hatilah Minnie. Sekarang 'dia' nggak pandang bulu. Orang yang menyapa kita, teman sekelas, bahkan guru, semuanya kena. Mungkin Jungkook juga kena.."
Lalu Jimin teringat akan Hoseok. Jika orang yang sebatas menyapa saja bisa diserang 'Snake', bagaimana dengan Hoseok yang sejak kemarin berbincang akrab dengan Jimin? Apalagi tadi Hoseok dan Jimin berduaan di taman belakang sekolah….
Jimin pun langsung berlari keluar ruang komputer ke arah kelas 1-B, kelas Hoseok, tanpa mempedulikan V yang memanggil-manggil namanya.
"Hosiki? Hosiki?! Hei, di mana Hoseok?", tanya Jimin kepada murid-murid di kelas 1-B.
"Ta.. Tadi ke toilet..", jawab seorang namja berseragam putih.
Di koridor menuju toilet pria
.
"Hosiki! Hosiki di mana kamu?!", teriak Jimin frustasi. Jimin merasa bahwa Hoseok dalam bahaya. Dan benar saja, ketika ia tiba di toilet pria, terdapat beberapa ekor ular yang sedang merayap di dekat pintu masuk. Jimin langsung masuk ke toilet dan mencari Hoseok, ia mendobrak satu persatu bilik toilet. Lalu, di bilik terakhir ia menemukan Hoseok yang terkujur lemas di samping wc dengan tubuh yang basah kuyup. Dan masih ada beberapa ular hidup di tubuhnya.
Hoseok pingsan.
Jimin terlalu terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Ia tak dapat bergerak hingga V datang dan berteriak, "Uwah! Apaan, nih?!" katanya sambil menjauhkan beberapa ular dari pintu masuk toilet dengan menggunakan kakinya.
"Minnie, kau kenapa… Hah?! Hosiki!", teriak V saat menyadari yang sedang diperhatikan Jimin adalah Hoseok yang sedang tidak sadarkan diri. "Hei, sadarlah, buka matamu!", kata V sambil menepuk-nepukkan tangannya ke pipi Hoseok.
Tak lama kemudian Hoseok pun sadar. "AAAAH, ular! Ular! Ada ular!", teriaknya histeris lalu ia mulai menangis.
"Tenanglah, Hosiki!", kata V sambil memegangi bahu Hoseok. "Ularnya sudah pergi.."
Namun Hoseok masih terus berteriak sambil menangis meraung-raung hingga akhirnya V memutuskan untuk memeluk tubuh Hoseok yang sedang begetar hebat.
"V.. Tolong jaga Hosiki."
V menoleh ke arah Jimin tapi tangannya masih memeluk Hoseok, tidak berniat untuk melepas pelukannya. "Kamu mau ke mana, Minnie?"
Jimin berbalik ke arah pintu dan berujar, "Maaf.. Maaf, Hosiki."
Hoseok yang sudah agak tenang pun menyadari maksud Jimin. "Jiminnie, tunggu,… Jiminnie!"
Namun terlambat, Jimin sudah berlari kencang keluar dari toilet.
.
Dadaku terasa sesak seperti ada bom yang siap meledak…
Pokoknya, nggak akan kumaafkan!
.
.
"Sudah merasa lebih baik?", tanya V pada Hoseok. Tadi V menggendong Hoseok di punggungnya ke ruang kesehatan karena Hoseok masih dalam fase shock sampai-sampai kehilangan kemampuannya untuk berjalan.
Hoseok mengangguk pelan dan menjawab, "Ne."
"Mau cerita?", tanya V sambil mengusap-usap rambut Hoseok, berusaha memberikan efek relaksasi. "Apa kamu tahu pelakunya?"
Hoseok menggeleng lemah. "Tiba-tiba saja... aku didorong masuk ke bilik toilet. Aku mencoba membuka pintu, tapi terkunci. Lalu ada air dan juga ular menimpaku.. Aku berteriak, lalu.. aku tidak ingat apa-apa lagi.. Hiks."
V memeluk Hoseok karena Hoseok mulai menangis lagi. "Ah, mian! Seharusnya aku tidak bertanya dulu.."
"Aniya, gwenchana, V.", jawab Hoseok yang masih berada di dalam pelukan V.
"Tapi sayang sekali, ya, kamu nggak sempat melihat pelakunya.", gumam V.
"Ah, tapi—", Hoseok melepaskan pelukan V lalu menatap iris V dengan matanya yang basah, "—aku rasa… pelakunya perempuan."
Di ruang OSIS
.
Park Jinyoung sedari tadi sedang berpidato di hadapan seluruh pengurus OSIS. Siang itu sedang diadakan rapat rutin OSIS. "Selain itu banyak laporan soal pemerasan dan penindasan 'Black' pada 'White'. Mereka jadi sok karena kamu menunduk pada ketua mereka waktu itu.—"
"—Kepala staf akademik sekolah bilang kalau masalah antar murid harus diselesaikan sesama murid. Dasar! Masa guru bilang begitu!", lanjut Jinyoung. "Bagaimana, Jungkook? Ini semua gara-gara kamu."
"Hei, Jungkook!", bentak Jinyoung karena Jungkook hanya diam saja.
"Jungkook cuma melindungi anak baru itu, Jinyoung. Dia nggak salah.", bela Sanha. "Justru orang yang mengeluh terus tanpa melakukan tindakan apapunlah yang memalukan."
.
Huh, dasar rubah betina. Benak Jinyoung.
.
"KELUAR KAU, 'SNAKE'!"
Terdengar teriakan seorang namja dari speaker yang ada di setiap sudut sekolah. Sontak seluruh anggota OSIS terdiam.
"CEPAT KELUAR, PENGECUT!"
Namja itu menggunakan radio sekolah, jadi, dapat dipastikan seluruh penghuni sekolah bisa mendengar.
"Apa-apan sih anak baru itu?!", teriak Jinyoung.
"TUNJUKKAN DIRIMU, AKU SIAP MELADENIMU!"
Begitu pula dengan mereka yang berada di markas 'Black'.
"Suara ini….", Suga pun bangkit dari posisinya.
Begitu pula dengan murid-murid BHS lainnya yang sedang berada di kelas, koridor, toilet, kantin, maupun taman. Mereka tertarik untuk mendatangi sumber suara, ingin melihat kekacauan apa yang akan ditimbulkan oleh siempunya.
Jungkook pun demikian. Ia sudah bangkit dari kursinya, hendak pergi ke ruang radio sekolah. Namun ada tangan yang mencegahnya. "Jangan pergi."
Jungkook menolehkan wajahnya pada pemilik tangan itu, Sanha.
"Kalau kamu pergi, pasti nanti makin heboh. Pikirkanlah posisimu.", kata Sanha.
Jungkook menepis tangan Sanha. "Jangan sentuh aku." Lalu ia pun pergi keluar ruang OSIS.
Maka ruang OSIS itu kosong, hanya tersisa Sanha seorang diri.
Sanha menyentuh tembok di dekatnya. "Padahal… kau.. menyentuh anak itu.", Sanha teringat ketika ia mengintip Jungkook dan Jimin dari sudut koridor BHS lalu ia melihat Jungkook mengelapkan tangannya pada baju Jimin. "Tapi kau tak mau aku sentuh…"
"Demi dia…", Sanha teringat kabar Jungkook yang berlutut pada Suga.
"Demi dia, kau membuang harga dirimu!", geram Sanha. Saking geramnya, ia tidak menyadari dua dari kuku palsunya patah dan jatuh ke lantai ruang OSIS. Beserta keadaan tembok ruang OSIS yang terdapat cakaran kukunya.
Di depan ruang siaran radio
.
"Buka pintunya!" kata seorang sonsaengnim sambil menggedor-gedor pintu ruang siaran. "Cepat!"
Jimin membuka pintu itu, atau lebih tepatnya membanting. Ia membawa sebuah tongkat baseball. "Mana 'Snake'?!", tanyanya dengan suara bergetar, teralu emosi.
"Uwaa!"
"Dia jadi gila.."
Pekik beberapa murid BHS yang ada di sana.
Jimin mengayun-ayunkan tongkat yang sedari tadi dibawanya. "Pengecut! Cepat tunjukkan dirimu!"
"Berhenti, Park Jimin!", seru sonsaengnim yang tadi menggedor-gedor pintu. "Jangan pikir kau takkan dihukum!"
"Berisik!", teriak Jimin. "Jangan sok jadi guru! Biasanya juga pura-pura nggak tahu kalau terjadi penindasan!"
BUGH!
Jimin berhenti meracau ketika merasakan sakit yang luar biasa dihidungnya. Jungkook lah yang menyebabkan rasa sakit itu.
"Ugh..! Apa yang kau lakukan, Jeon Jungkook?!", kata Jimin sambil memegangi hidungnya.
"Kau bukan anak kecil lagi. Tenanglah.", kata Jungkook dingin. Jungkook mengalihkan pandangannya pada sonsaengnim tadi. "Ssaem, aku akan bertanggung jawab membereskan keadaan ini. Anda kembali saja ke ruang guru."
"Ta.. tapi…"
"Kembalilah!", bentak Jungkook.
"Ka.. kalau itu katamu..", guru itu pun pergi.
Jungkook kembali pada Jimin. Sebelum Jimin sempat melawan, Jungkook sudah menghantam kepala Jimin ke tembok dengan telapak tangannya yang sangat lebar itu, sampai-sampai separuh wajah Jimin tertutup oleh tangannya. "Kubilang, tenang!"
Setelah Jimin berhenti meronta, Jungkook bertanya lagi pada Jimin. "Ada apa? Katakanlah."
Jungkook merasa telapak tangannya basah. Jimin menangis.
"Aku… nggak bisa menjaganya. Padahal.. aku sudah janji.. akan menjaganya."
Jungkook perlahan melepaskan telapak tangannya dari wajah Jimin. Sehingga terlihatlah wajah kacau Jimin yang sedang menangis plus hidungnya yang memerah.
"Aku gagal.. menjaga Hoseok.", tangis Jimin.
Seluruh orang yang berada di sana, termasuk Hoseok dan V yang baru datang saat Jungkook sedang mengusir guru, tertegun.
Jimin tidak pernah menangis selama dikerjai dan ditindas. Tapi ia menangis ketika orang yang disayanginya terluka. Betapa mulianya hati Jimin..
"Aah.. Nangis, deh.", seru seorang namja berseragam hitam yang baru saja datang. "Kasihan.. Sudah, beritahu saja, Jungkook. Beritahu dia siapa 'Snake' sebenarnya."
Namja itu, Suga, melanjutkan, "Kamu juga pasti tahu, kan? Yang diincar 'Snake' bukan 'Grey'—"
Suga menampilkan smirk andalannya sebelum melanjutkan, "—tapi kau, Jungkook."
.
.
TBC
.
.
Malam, reader-nim. aku update lagi nih. fast kan?
jadi, udah ketebak blm snake nya siapa? ayo siapa ayo? :D
