Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'

Kim Taehyung as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Kim Seokjin as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – Jungkook's ….. – 'White'

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'White'

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO, and BLOCK B member belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 6: Gang war

.

.


"Apa maksudmu Suga? 'Snake' mengincar Jungkook? Jadi, kalian berdua tahu siapa 'Snake'?", tanya Jimin.

Suga tersenyum simpul. "'Snake', tidak pernah muncul untuk 'Black'. Dia, selalu muncul untuk 'White'. Atau lebih tepatnya, saat Jungkook dalam kesulitan.", Suga melanjutkan, "'Snake' adalah orang yang melenyapkan pengganggu bagi Jungkook. Itu membuat sosoknya dapat ditebak.."

Jimin melangkahkan kakinya mendekati Suga lalu langsung mencengkeram seragam hitam yang dikenakan Suga. "Siapa?! Siapa dia?! Ngomong yang jelas!"

BUK!

Suga menendang Jimin tepat di perut.

"Kau pikir kau siapa, hah?!"

Suga lalu menekan pelipis kiri Jimin dengan kakinya hingga terantuk ke tembok.

"Jangan lupa diri, anak baru.."

Sorot mata Suga telah berubah ke mode sorot mata pembunuhnya.

"Sudah dua kali kau mempermalukanku.. Kau harus membayarnya!"

DUK!

Suga menendang kepala Jimin hingga Jimin tersungkur ke lantai.

"Hei, belum waktunya tidur." kata Suga lalu ia menyikut perut Jimin.

DUK!

.

"Sadis! Padahal lawannya sudah lemah begitu….", seru Jinyoung.

"Kalau marah, Suga jadi seram sekali..!", seru salah satu murid berseragam putih.

"Ji-jiminnie..!", teriak Hoseok.

"Hentikan, Suga! Sudah cukup!", kata V sambil menahan tubuh Suga agar berhenti menghajar Jimin.

"Pengganggu! Pergi sana!", Suga memukul wajah V agak keras hingga V terbanting ke lantai.

.

Suga menarik leher kaos Jimin, membuat tubuh Jimin yang sebelumnya tergeletak lemah di lantai jadi berdiri.

"Huh. Enak sekali, ya… mukul orang. Kau memang.. keterlaluan.", kata Jimin sambil menampilkan ekspresi semengesalkan mungkin di wajahnya.

Suga mengangkat sebelah alisnya, "Ho.. Masih punya tenaga untuk mengataiku, ya?"

Saat tangan Suga terangkat untuk menampar Jimin, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Suga pelan. Suga pun menoleh dan jari telunjuk Jungkook langsung mengenai pipi kirinya.

Lalu Jungkook berkata, "Kena…", dengan wajah polosnya.

Suga semakin murka. Ia dikerjai oleh Jungkook di hadapan banyak orang. "Kau…."

Suga pun melepaskan cengkeraman tangannya dari kaos Jimin. "Kau.. melindunginya lagi. Bagimu namja ini penting banget, ya?!", kata Suga sambil menatap Jungkook intens. "Apa karena dia sudah membantumu kembali sekolah, hm?", lanjut Suga plus dengan smirk andalannya.

Otot-otot wajah Jungkook mengeras setelah mendengar ucapan Suga.

Begitu pula dengan V. Kok Suga tahu?

Suga melanjutkan dakwaannya, "Kalian teman masa kecil, kan? Ceritakan sajalah, Jungkook. Jangan-jangan kau suka sama cowok itu? Haha!" Suga tertawa mengejek, "Kalau mau menolongnya, ayo sembah aku lagi."

Jungkook membuka kancing lengan kemejanya lalu menggulungnya hingga ke siku. "Nggak perlu. Aku bisa melemparmu di sini.", ia lalu meremas bahunya sendiri, melakukan stretching ringan. "Dan jangan menyelidiki orang diam-diam. Kau memang memuakkan."

Suga si darah panasan tentu saja terpancing ucapan Jungkook. "Oke, baiklah kalau begitu! Kau dan anak baru itu akan kulempar bersama!"

Terdengar kubu 'Black' meneriakkan "Hajar dia, Suga!"

Dan kubu 'White' meneriakkan "Jangan kalah, Jungkook!"

Dan juga seruan-seruan serupa lainnya.

Tak lama kemudian kedua kubu itu pun ikut-ikutan ketua mereka, saling jotos.

Jinyoung panik melihat perkelahian itu sehingga ia memutuskan untuk kabur.

"Ya, Park Jinyoung! Jangan kabur! Siapa yang akan melerai perkelahian ini?", seru salah satu pengurus OSIS.

"Terserah, panggil guru saja!", seru Jinyoung sambil berlari menjauhi lorong itu. "Hiiii, sereeeem.."

Anggota OSIS yang ada di sana pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka.

Setelah agak lama terjadi perkelahian, Jimin yang tenaganya sudah pulih pun berteriak, "BERHENTI KALIAN DASAR *****!" (Sensor)

Sontak semua orang berhenti dari kegiatannya, terlalu kaget mendengar Jimin berbicara sangat kasar.

"Hentikan perkelahian sia-sia ini!," kata Jimin lagi, "Terutama dua orang bodoh di sana!" katanya sambil menunjuk Jungkook dan Suga. "Aku sama sekali nggak mau terlibat permusuhan konyol kalian. Aku cuma ingin melalui masa SMA-ku dengan tenang!"

"Haha! Mustahil. Selama di sini, hari-harimu nggak bakal bisa tenang.", cibir Suga.

Jimin terdiam sesaat lalu berkata, "Hm. Kalau begitu, sekolah ini harus dirombak dari dasar.", kata Jimin mantap. "Kalian, 'Snake', dan juga sistem bodoh ini.. Akan kurontokkan. Aku.. akan mengubah sekolah ini."

.

"Haa? Mengubah.. sekolah ini?"

"Haha, bodoh, ya?"

"Mana bisa."

"Jangan melawak, deh, hahaha."

Seluruh murid di lorong itu tertawa dan mengejek Jimin.

.

Tapi tidak dengan Suga yang terlihat serius. "Menarik..", ia menyunggingkan senyum liciknya seperti biasa, "Berarti.. Kau menantangku?"

"Benar!", jawab Jimin mantap.

"Hah! Sudah kubilang jangan bertingkah!", seru Suga lalu menendang Jimin.

Namun kali ini Jimin tidak dapat bangun lagi karena ia kehilangan kesadarannya.


Hari sudah malam ketika Jimin membuka matanya. Ia langsung disambut oleh nuansa putih dan hijau. Ia sedang berada di ruangan kesehatan.

"Minnie, sudah sadar?", tanya V.

"Em.. bagaimana kelanjutan yang tadi?", tanya Jimin.

"Akibat tendangan Suga yang ke empat, kepalamu terbentur ke dinding agak keras, lalu kau pingsan. Setelah itu para guru datang membubarkan siswa.—", V menghela napasnya. "—Hosiki tadi di sini, tapi karena sudah malam, kusuruh dia pulang. Ini hari yang berat juga baginya."

Jimin tertegun setelah mendengar kalimat V selanjutnya. "Kata Hosiki, semua bukan salah Minnie. Jadi, jangan dipikirkan."

Siapa bilang Hoseok menyedihkan? Hoseok adalah orang yang sangat tegar!

Setelah terdiam cukup lama, Jimin pun bersuara. "V.."

"Ng?"

Jimin menarik kaos V agar mendekat dengannya. "Pinjami aku otak pintarmu yang 'gak terpakai itu."

Wajah Jimin dan V hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter, membuat V terpesona oleh wajah manis Jimin.

"Kalau pada akhirnya aku harus terlibat perkelahian kalian, aku akan melawan sekuat tenagaku. Jadi.. pinjami aku pengetahuanmu, karena yang kumiliki hanya kekuatan fisik. Otakku lemah..", lanjut Jimin.

"Jadi.. Minnie serius, ya?"

Jimin mengangguk mantap.

"Mau mengadakan revolusi? Itu nggak mudah, loh, Minnie.. Tantangannya akan lebih berat dari yang sudah-sudah. Apa Minnie siap?"

"Aku.. Aku nggak mau lagi ada orang seperti Hosiki mendapatkan masalah.", jawab Jimin tanpa melepaskan cengkeramannya dari kaos V.

V tertegun melihat kemantapan di sorot mata Jimin. Ia pun tersenyum. "Oke, aku bantu."

Tanpa sadar Jimin tersenyum lega. "V.."

Namun senyuman itu lenyap ketika mendadak V memiringkan wajahnya dan mencium Jimin part 2. Di bibir.

Chuuu~

"'Vitamin Couple' resmi terbentuk..!", kata V ceria setelah ia melepas tautan bibirnya dengan bibir Jimin. Tak lupa dengan 'V' sign di tangan kanannya. Ceria dan polos.

"Ya! Kuhajar kau!", semprot Jimin.

Setelahnya terjadi aksi kejar-kejaran di mana V lari tunggang langgang berusaha menyelamatkan nyawanya sedangkan Jimin berlari penuh emosi sambil mengangkat kursi untuk dilemparkan ke wajah V.


Malam itu seorang namja bersurai platina berdiri menghadap jendela apartemennya. Ia tidak bisa tidur karena kepikiran kejadian siang tadi di sekolah. Sudah tak terhitung berapa jumlah orang yang ia pukul, tapi sebelumnya ia tak pernah memukul seseorang hingga tak sadarkan diri.

Namja itu, Suga, mengusap kasar wajahnya lalu bergumam, "Anak baru itu… Apa dia baik-baik saja?"


"Kemarin benar-benar menegangkan. Kukira kau akan berbuat bodoh lagi.", kata Jinyoung pada Jungkook. Pagi itu anak-anak OSIS sedang berjalan di koridor kanan lantai dua.

"Setelah kejadian kemarin, anak baru itu pasti jera.", seru salah satu anggota OSIS.

Jungkook hanya berjalan dalam diam, tidak memedulikan ucapan-ucapan bawahannya hingga terdengar suara dari arah seberang memanggilnya.

"Woy, Jungkook!"

Jungkook menoleh dan ternyata Suga-lah yang memanggilnya. Suga dan antek-anteknya berada tepat di seberangnya, yaitu di koridor kiri lantai dua.

"Ayo kita lanjutkan! Kemarin ada gangguan, sih. Padahal lagi asyik-asyiknya.", seru Suga lagi.

Jungkook melangkahkan kakinya hendak mendekati palang pembatas koridor.

"Bodoh! Jangan diladeni!", teriak Jinyoung sambil menarik lengan Jungkook.

"Haa, apa-apaan itu?!"

Terdengar teriakan dari arah bawah. Sontak kubu Jungkook dan kubu Suga pun merapatkan diri mereka dengan pembatas koridor untuk melihat ada kejadian apa di lantai satu.

Di tengah koridor lantai satu terdapat sosok seorang namja bertinggi sedang—sekitar 174cm—yang mengenakan mantel panjang berwarna hitam, kaos berwarna merah, celana skinny jeans, sepatu timberland, dan scraft berwarna merah yang diikat di kepalanya. Sosok itu mengeluarkan pengeras suara lalu mulai menggunakannya.

"Jeon Jungkook! Suga!", seru namja itu. "Sebagai ketua 'Grey', aku menyatakan perang terhadap kalian! Bertandinglah dengan jujur melawanku."

"Hoo.. jadi kata-katanya kemarin serius, ya? Apa tadi katanya? Ketua 'Grey'?", tanya Suga pelan, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri. "Berani juga kau! Mau bertanding apa?", teriak Suga agar namja yang ada di lantai satu dapat mendengarnya.

Namja itu, Jimin, menggunakan pengeras suaranya lagi. "Mulai hari ini, aku akan menambah anggota 'Grey'. Kalau jumlah 'Grey' melebihi jumlah 'White' dan 'Black', kalian harus mengaku kalah dan melepas seragam kalian. Kalau aku kalah, aku akan patuh pada kalian. Kalau disuruh keluar sekolah pun aku akan langsung keluar."

Suga tertawa terbahak-bahak. "Kau bodoh, ya? Kau pikir ada yang mau bergabung denganmu?!"

"Haha! Kalian pikir kalian disukai semua anak di sekolah ini? Nggak belajar dari sejarah, ya? Semua diktator itu berakhir dengan menyedihkan!", seru Jimin. "Akan ku tunjukkan kalau aku bisa mengubah sekolah ini!"

"Jangan mimpi, anak baru!", seru Jinyoung. "Mana bisa melakukan perubahan sendirian!"

"Dia nggak sendiri!", teriak seorang namja dari sudut lain koridor di lantai dua.

"V?!", seru beberapa anak baik dari kubu Jungkook maupun kubu Suga.

"Annyeong. Aku staf strategi restorasi. Baik-baik sama ketua-ku, ya.", kata V sambil melambaikan tangannya.

"Cih, didukung anak terpintar di sekolah, ya..", kata Jinyoung.

"Nah, bagaimana? Kalian menerima tawaranku, kan?", kata Jimin, masih menggunakan pengeras suara.

Suga bertanya, "Batas waktunya?"

Hah?! Astaga.. Aku lupa mendiskusikan ini dengan V.

Batas waktunya kapan?

"Em.. Se-setahun!"

"Jangan bercanda! Lama banget. Jadi kau cuma besar omong doang?!", seru Suga kesal. "Baiklah, aku yang tetapkan. Batas waktunya sampai tanggal 1 Maret, saat kelulusan anak kelas 3."

"E-eh? 'Gak sampai empat bulan lagi, dong?", tanya Jimin.

"Yap. Anak-anak baru kan awalnya pakai baju bebas, Nanti mereka bingung.", jawab Suga.

"Uh.. Baiklah!", kata Jimin, tak punya pilihan lain selain menyetujui Suga.

"Sip! Tantangan diterima.", seru Suga. "Jungkook?"

"Kok tanya aku? Sesuka kalian saja lah.", jawab Jungkook tidak peduli.

"Nah, kalau begitu, pertandingan dimulai!", seru Jimin lantang. "Siapkan mental kalian! Aku akan membakar seragam kalian di tengah sekolah!"

Setelah mengumumkan perang, Jimin pun pergi dari koridor itu dengan senyuman di wajahnya. Sedangkan V memperhatikan Jimin dari posisinya yang masih di lantai dua.

Minnie kereeeen! Rasanya.. Aku jadi makin suka, nih.

Lalu senyum kotak pun merekah di wajah V.


Di ruang OSIS

.

Kenapa sekarang kau muncul dihadapanku?

Apa kau datang… untuk menolongku lagi?

.

Jungkook sedang duduk di bangku khusus ketua OSIS. Saat itu ruang OSIS sedang kosong, sehingga Jungkook dapat melamun tanpa ada yang mengganggu. Kilasan-kilasan masa lalu pun terputar di benak Jungkook.

.

Ketika Jimin berkata "Kookie bukan anak yang tidak diinginkan."

Ketika Jimin berkata "Kookie adalah temanku yang sangat berharga."

Ketika Jimin berkata "Kookie dan Jiminnie teman seumur hidup!"

Dan ketika Jimin datang lagi ke kehidupannya… Menabraknya hingga kertas-kertas yang dibawanya berserakan ke lantai.

.

"Park Jimin…"


"Jumlah siswa BigHit School sekarang ada 1200. Jumlah 'White' dan 'Black' hampir sama.", kata V. "Singkatnya, untuk melampaui mereka, 'Grey' harus merebut 200 orang dari masing-masing geng itu."

"400 orang… Dalam waktu kurang dari empat bulan?!", seru Jimin. "V.. Apa kita bisa?"

"Bisa, Minnie. Kita pasti bisa. Jangan remehkan kekuatan 'Vitamin couple'.", kata V plus dengan cengiran kotaknya.

Ingin rasanya Jimin menjitak kepala V, tapi sekarang bukan saat yang tepat. Masalahnya, mereka sedang berada di auditorium, mengikuti upacara. Mereka bisa mengobrol karena barisan mereka berada di paling belakang. Dalam hal baris-berbaris pun, BigHit School dipisahkan sesuai geng. Barisan kanan untuk 'White' dan barisan kiri untuk 'Black'. Sisanya, 'Grey', berada di belakang kedua geng itu.

"Kenapa kita tidak duel langsung dengan kedua bos geng itu saja, V?"

"Dengan kondisi sekarang, biar Minnie kalahkan mereka berdua pun akan muncul bos baru. Sedangkan untuk mengubah sekolah dari dasar, kita perlu mereformasi kesadaran seluruh siswa."

Jimin tertegun mendengar penuturan V yang begitu cermat.

"Minnie sendiri yang mengusulkan itu, kan? Jadi, jangan lemah. Karena sedikit saja Minnie ragu, aku akan mundur. Aku 'gak mau buang waktu percuma."

"Baiklah!", kata Jimin. "Sekarang kita konsentrasi saja untuk menambah jumlah kita."

"Ne. Suga dan Jungkook itu lawan terakhir.", kata V sambil menggenggam tangan kanan Jimin dengan tangan kirinya. "Tantangan akan membuat kita lebih kuat, oke?!"

"Oke!", sahut Jimin mantap.


Siang itu, jam istirahat, di ruang komputer

.

"Omong-omong, ada berapa anggota 'Grey' sekarang?", tanya Jimin. "Waktu itu kamu pernah bilang selain aku dan kamu, ada anggota yang lain juga."

"Sudah kuduga Minnie akan menanyakan hal itu, jadi.. sudah kubuatkan daftarnya.", kata V sambil memberikan selembar kertas pada Jimin.

"Waah, anak jenius memang cekatan!", sahut Jimin. "Kira-kira mereka mau membantu kita 'gak, ya..?"

Tak perlu waktu lama untuk Jimin menghitung jumlah anggota 'Grey' di sekolah. "Li-lima orang?!"

V menjawab dengan santai. "Ya, lima orang dari 1200 siswa."

Jimin jawdrop. Anggota 'Grey' lainnya hanya lima orang. Ditambah Jimin dan V pun jumlahnya hanya tujuh orang.

"Lalu di mana kelima orang ini, V? Aku tidak pernah melihat 'Grey' lain selain kamu."

"Mereka nggak pernah datang ke sekolah. Persentase kehadiran mereka minim. Kemungkinan besar bahkan mereka tidak tahu akan keributan ini."

Jimin pun mulai membaca nama-nama yang ada di daftar buatan V.

.

"DAFTAR ANGGOTA GREY"

DIBUAT KHUSUS UNTUK MINNIE

~OLEH V SI TAMPAN~

.

Cha Eunwoo

Im Jaebum

Mark Yien Tuan

Park Jinwoo

Moon Bin

.

Jimin membaca nama-nama itu satu persatu. Hmm.. namja semua. Iya, sih, mana ada yeoja yang tahan jadi bulan-bulanan seluruh siswa di sini.

"Sudah, kan?", tanya V.

Jimin mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban. V langsung mengambil kembali kertas yang digenggam Jimin lalu merobeknya jadi dua.

"Eh?! Kenapa dirobek?"

"Aku cuma mau memperlihatkannya pada Minnie. Mereka yang tertera di kertas ini nggak bakal mau diajak kerja sama. Jadi, anggap saja jumlah 'Grey' yang ada sekarang cuma aku dan Minnie."

"Ke-kenapa? Mereka jadi 'Grey' karena nggak suka dengan keadaan di sini, kan?"

"Sudah kubilang, 'Grey' itu individualis. Kecuali aku, sih..", kata V. "Selain itu, mereka itu orang-orang yang 'tenang-saja-melihat-penindasan' dan 'nggak-bakal-jadi-sasaran-sejak-awal'. Mereka orang yang 'istimewa'. Bisa Minnie bayangkan, kan? Jadi, lupakan saja mereka."

Tadi Jimin sempat senang karena ada anggota 'Grey' lain selain dirinya dan V. Tapi setelah mendengar penjelasan V, ia jadi sedih.

Kalau saja mereka datang ke sekolah.. Mungkin aku bisa berbicara dengan mereka.

V membuyarkan lamunan Jimin. "Minnie! Apa kau punya potensi yang nggak terkalahkan?"

"Olahraga!"

"Kecepatan kaki!"

"Kekuatan fisik!"

Jawab Jimin percaya diri.

"Oke, oke..", V pun mengetik sesuatu pada komputer dan mem-print-nya. "Ini, jadwal Minnie mulai hari ini. Usahakan semuanya terlaksana, ya."

Jimin membaca kertas yang diberikan V padanya dan ia pun terkejut seketika. A-aku harus melakukan ini semua?


Di track lari BigHit School

.

"Tolong!", teriak Jimin.

Seluruh anggota klub atletik menghentikan kegiatan mereka karena kedatangan Jimin yang tiba-tiba.

"Bertandinglah denganku.. mempertaruhkan seragam kalian.", sambung Jimin.

.

SURAT PERJANJIAN

Jika wakil dari klub kalah bertanding melawan Park Jimin, maka seluruh anggota klub akan menjadi anggota 'Grey' sebagai wujud rasa solidaritas.

.

"Apa?! Kamu minta kami menandatangani ini?"

"Yap. Pertandingan apapun boleh tergantung cabang olahraga yang kalian kuasai.", jawab Jimin.

"Huh, konyol! Kenapa kami harus bertanding denganmu?"

"Ah, betul juga.. Ketua klub atletik kan peringkat empat kejuaraan antar sekolah. Kalau dikalahkan orang biasa, yang kebetulan berasal dari desa, pasti malu datang ke sekolah lagi.", ledek Jimin.

"Apa katamu?!", seru namja yang merupakan ketua klub atletik. "Aku nggak mungkin kalah darimu!"

Jimin tersenyum penuh kemenangan. Jebakannya berhasil.

Lalu sepuluh menit kemudian terdengar rengekan dan suara-suara penyesalan karena pertandingan lari 400m melawan ketua klub atletik dimenangkan oleh Jimin.

"Yes! Delapan belas namja klub atletik berhasil kudapatkan!", seru Jimin.


Di klub basket

.

"Tolong!", seru Jimin.

.

Satu jam kemudian…

Di klub sepak bola

.

"Tolong!", seru Jimin lagi.

.

Kalian sudah tahu kan, apa yang terjadi di jam-jam berikutnya?


Di ruang komputer

.

Aku juga kerja, ah~

.

V terlihat sedang mengotak-atik komputer dihadapannya. Hingga pintu ruang komputer mendadak terbuka, menampilkan seorang namja berseragam putih yang terlihat panik.

"Kim Taehyung! Tolong ikut aku sebentar!"

Di ruang klub komputer

"Kenapa?", tanya V santai.

Salah satu anggota klub komputer menjawab, "Waktu kami menyalakan komputer, tiba-tiba muncul tulisan ini di semua layar komputer!"

.

600 DETIK SEBELUM MELEDAK.

.

"Waktunya terus berjalan, pula!"

"Kami semua tidak ada yang mengerti jenis virus ini. Apa ini virus baru?"

"Kalau meledak, apa seluruh data klub kami akan hancur?"

"Ahhh, tidak.. Banyak sekali data di komputer ini dan kami belum sempat mem-backup-nya.."

V mendengarkan keluh kesah para anggota klub itu dengan wajah datar.

"Aku bisa membantu kalian, tapi.. tanda tangani ini.", kata V sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan:

.

SURAT PERJANJIAN

Sebagai wujud terimakasih atas bantuan Kim Taehyung, kami bersumpah akan datang ke sekolah sebagai anggota 'Grey'.

.

"A-apa?!"

"Jangan-jangan.. kau dalang dari virus ini, ya?! Sudah bawa printan surat perjanjian pula."

"Wah, wah, jangan merusak reputasi orang, dong. Mana buktinya?", kata V. "Ya.. bagiku 'gak masalah, sih. Tiga menit lagi BUMMMM! Huahahahahaha!"

"Baik! Baik! Kami tandatangani!"

V pun tersenyum licik di balik layar komputer itu.


Besoknya di BigHit School

.

"A.. apa ini?!"

Suga tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya ketika memasuki gerbang sekolah. 'Grey' bertebaran di mana-mana.

"Ada apa ini?! Kenapa mereka berpakaian bebas?!"

"Anak baru itu dan V melucuti seragam klub budaya dan klub olahraga.", jawab anak buah Suga yang kepalanya tidak berambut.

"Di klub atletik anak baru itu mengalahkan Jaerim si peringkat empat kejuaraan antar sekolah dalam sprint 400m", lanjutnya. "Di klub basket, Bawool, MVP di kejuaraan pendatang baru, kalah tipis dalam pertandingan free throw."

"Selain itu, klub sepak bola kebobolan dua puluh gol dalam pertandingan tendang penalti."

"Ditambah perolehan V di klub komputer dan seni, jumlah 'Grey' sekarang kurang lebih ada seratus orang."

"Gila, seratus dalam dua hari?", seru Suga tidak percaya.

"Heh, Suga!", tiba-tiba saja Suga mendengar orang yang sangat ingin ditendangnya saat ini memanggil—meneriakkan—namanya. "Kau lihat, Suga? Aku besar di gunung. Dulu aku tiap hari jalan kaki ke sekolah naik turun gunung. Siapapun nggak mungkin bisa mengalahkanku dalam pertandingan olahraga! Hahahahaha!", seru Jimin.

Setelah selesai berbicara melalui pengeras suaranya, Jimin langsung pergi.

"Sial, sudah ngomong langsung ngacir.", kata Suga. "Si monyet gunung itu meremehkanku!"

"Oi, Jackson, kau paham tugasmu sekarang, kan?!"

"Ya!", kata anak buah Suga berkepala pelontos yang ternyata bernama Jackson.


Besoknya, di depan gerbang BigHit School

.

"Nggak apa-apa, nih, kita jadi 'Grey'?", kata seorang siswa namja.

"Nggak apa, jumlah kita kan banyak..", jawab siswa namja lainnya.

Kedua siswa namja itu sedang berjalan menuju BHS. Namun langkah mereka terhenti ketika segerombol namja berseragam hitam menghalangi jalan mereka.

"Si-siapa kalian?!"

Seorang namja berkepala pelontos dan ditutupi scraft menjawab, "Kami Kamaitachi—", namja itu mengeluarkan tiga iris pisau panjang yang tersusun rapi di sela jari-jarinya, menyerupai cakar wolverine. "—Unit Pembasmi 'Grey'."

.

.

TBC

.

.


Waktunya membalas review, pyeongg!~

Panggilan v buat jimin manis bgt kan ya, author jg setuju kok hihihi Minnie Minnie

Suga bakal suka sama jimin ga yah hmmmm kita lihat saja nanti. Ps. suga diem2 sempet kahwatirin keadaan jimin juga kok

Nanti jimin bakal dapetin hati ketua geng mana? White apa black? Apa grey? Wakwakwak ketua grey kan jimin sendiri jadi ga mungkin grey kok =)))

Aku fast bgt kan updatenyaaaa hahahah

Bangun tidur ngetik, mau tidur ngetik, gitu aja yg lg nganggur mah ga ada kerjaan laen huhuhu

Masih pada semangat nungguin next chap kan? :D