Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'
Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'
Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'
Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – Jungkook's ….. – 'White'
Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'White'
Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'
Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..
Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'
Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher
Wang Jackson as Jonouchi (17yo) – anak buah Suga – 'Black'
Woo Jiho (Zico) as Sugaya (17yo) – anak buah Suga – 'Black'
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS, GOT7, ASTRO, and BLOCK B member belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Chapter 8: The tiring escape
.
.
Di taman utama BigHit School
.
"Pengikut Suga yang beraksi sebagai Kamaitachi ada tiga-puluh orang. Strategi kita untuk menghancurkan mereka adalah dengan mencari kelemahan masing-masing.", kata V di tengah rapat anggota 'Grey' yang hanya didatangi oleh dirinya sendiri, Jimin, dan Hoseok.
V memberikan Jimin dan Hoseok lembaran-lembaran kertas yang berisi biodata anggota Kamaitachi.
"Latar belakang ekonomi, keluarga, hobi,.. sampai nilai juga?! 'Gimana caranya mendapatkan informasi ini?!", tanya Jimin.
"Dari kotak ajaib~", kata V polos.
"Menginvasi komputer sekolah? Itu 'kan tindakan kriminal..", kata Hoseok.
"Wah, punya Suga juga ada!", seru Jimin.
.
Nama, Min Yoongi. Oh.. jadi nama aslinya Yoongi.
Lalu kenapa dia dipanggil Suga? 'Gak cocok sama kelakuannya yang kasar.
Suga kan seharusnya manis, kayak gula.
Hm.. Hanya tinggal dengan ibunya..
Uwa! Nilainya parah juga! Lebih bodoh dari aku, kekeke.
Benak Jimin sambil membaca profil Suga.
.
"Masalahnya sekarang, mau kita apakan unit Kamaitachinya? Kelemahannya belum ketemu, nih..", tanya Hoseok.
"Bikin 'Pasukan Waspada' saja.", kata Yugyeom yang tiba-tiba muncul.
"Yugyeom!", seru tiga namja yang tadi sedang rapat.
"Aku berhasil membujuk dua-puluh-enam anak basket.", kata Yugyeom sambil mengajak ke-26 anggota klub basket itu untuk mendekat.
"Dua-puluh-enam? Semuanya, dong?! Nggak mungkin!", seru Jimin tidak percaya.
"Beberapa hari ini kami berbicara sampai tengah malam.", kata Yugyeom.
"Hebat, kamu memang luar biasa Yugyeom!", seru Jimin.
"Bodoh, bukan berkat aku..", kata Yugyeom sambil mengusak pelan rambut Jimin.
"Anak yang baru datang dari luar saja berani berusaha, masa kami nggak?", seru salah satu anggota klub basket.
"Iya. Kamu hebat sekali berani melawan Suga!", seru salah satu anggota klub basket lainnya.
Mendengar itu, mata Jimin pun berkaca-kaca.
"Ya, jangan menangis!", kata Yugyeom. "Ini bukan untuk ditangisi."
"Ah.. Aku cuma.. merasa senang, kok.", kata Jimin sambil tersenyum dan mengelap sudut matanya yang berair.
Semua anggota geng 'Grey', baik yang lama maupun yang baru, tersenyum senang melihat Jimin bahagia. Namun, layaknya cerita dongeng di mana tokoh utama akan selalu mendapatkan kendala untuk mencapai tujuannya, tiba-tiba saja ada pengganggu yang merusak kebahagiaan mereka.
"Maaf menyela.", sahut gerombolan siswa berseragam hitam yang dapat dipastikan merupakan unit Kamaitachi.
Kriiing
Telepon genggam Jungkook bordering, menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. Jungkook yang tadinya sedang mengetik sesuatu di komputernya pun berhenti untuk mengangkat telepon itu.
"Yeoboseyo?"
"Sepertinya namja favoritmu itu cukup berusaha juga, ya."
Alih-alih mendapatkan sapaan hangat, Jungkook malah langsung mendengar orang yang meneleponnya itu membicarakan seseorang yang sangat berarti untuknya.
"Menurutmu," lanjut orang itu lagi, "bagaimana akhir pertandingan ini? Kalau pendapatku, sih, dia akan meninggalkan sekolah."
"Jangan anggap remeh," kata Jungkook. "atau langkahmu sendiri yang akan terhenti."
Terdengar suara tawa dari seberang sana.
"Pergilah ke taman utama. Akan ada hal menarik dimulai."
Pip.
Orang itu langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Seketika itu juga Jungkook langsung bangkit dari kursi ketua OSIS-nya dan bergegas menuju taman utama BHS.
Jimin..!
"Sepertinya.. kalian nggak dengar kata-kataku tempo hari, ya?", kata namja berkepala pelontos yang merupakan ketua Kamaitachi. Ekspresi anggota 'Grey' yang tadinya sedang tersenyum bahagia berubah menjadi tegang.
"Kalau nggak patuh, kalian akan merasakan akibatnya. Jangan menambah pekerjaan kami..", lanjutnya.
"Apa maksudmu, Jackson?", tanya Jimin.
"Aaah!"
Terdengar suara teriakan namja dari arah belakang. Ternyata Zico, wakil ketua Kamaitachi, sudah menangkap Hoseok.
"Kalau kalian patuh, nggak akan jadi begini.", seru seseorang.
"Suga?!"
"Kalau membangkang, kami akan memusnahkan kalian semua. Sudah kubilang, bukan?", kata Suga sambil duduk santai di daun jendela lantai dua yang menghadap langsung ke taman.
"Meskipun dipukuli, aku nggak akan pakai seragam lagi!", seru Hoseok lalu ia menggigit lengan Zico.
"Argh!", teriak Zico. "Ya! Dasar brengsek!"
Ketika Zico baru saja hendak memukul Hoseok, ia sudah lebih dulu dipukul oleh V hingga tersungkur ke tanah.
BUK!
"Huh. Aku nggak begitu jago berantem, nih.", kata V sambil mengibas-ibaskan tangan kanannya yang tadi bekas memukul.
"V..", kata Hoseok dengan mata berkaca-kaca.
"Bagus, Hosiki..!", kata V dengan senyuman kotaknya.
"Kami nggak akan tunduk pada kalian!", seru Yugyeom sambil melepas jaket jeans-nya, siap membalas perlakuan Kamaitachi.
"Hahahaha!", Jackson tertawa meremehkan. "'Gak apa, nih? Kalau bikin masalah, klub basket nggak akan bisa ikut kejuaraan berikutnya, atau mungkin dibubarkan."
"Biar saja!", kata Yugyeom geram.
"Semuanya, tolong mundur. Biar aku yang menghadapinya.", kata Jimin.
Tepat saat itu juga, Jungkook datang dengan napas tersengal. Nampaknya ia berlari dari ruang OSIS.
"Hei, hei.. Jangan bercanda! Kamu pikir cowok kecil kayak kamu bisa menang melawanku?", ucap Jackson.
"Jangan banyak bicara. Dasar pengecut, bisanya cuma main keroyok!", kata Jimin.
"Huh, cari penyakit, ya?!", seru Jackson sambil mengeluarkan tiga pisau andalan Kamaitachi.
SRAT!
Pipi Jimin mengeluarkan darah segar setelah disabet oleh pisau-pisau Jackson.
Namun, Jackson terkejut karena Jimin diam saja.
"Kenapa.. kau nggak mengelak?"
"Seperti katamu, cowok kecil sepertiku nggak akan menang melawanmu—", kata Jimin sambil menyeka darah yang mengucur di pipinya. "—menghukum semua yang ada di sini dan melukai mereka adalah tugasmu, kan? Kalau begitu, luka ke-29 orang ini.. akan kutanggung semua!"
Ekspresi seluruh siswa BHS yang menonton kejadian itu, termasuk anggota 'Grey', Kamaitachi, Suga, dan Jungkook, mengeras seketika. Mereka tidak menyangka jika Jimin akan berbuat tindakan berani tapi juga bodoh seperti itu.
"Tapi, sebagai gantinya, jangan sentuh mereka lagi.", kata Jimin lagi.
"Minnie, jangan gegabah!"
"Mundur, V! Tugasku minggu ini jadi pengawal, kan? Jadi.. aku akan menjaga semuanya.", kata Jimin dengan seringai di wajahnya.
V terdiam. Maksudnya, tugas Jimin adalah menjadi pengawal Hoseok saja, bukan menjadi pengawal seluruh anggota geng 'Grey'. Namun, biar bagaimana pun juga, ia tidak akan bisa melawan kekeras-kepalaan Jimin.
"Berani juga kau.", kata Jackson. "Baiklah. Jangan bergerak, anak baru. Atau lukamu nggak akan hilang."
Setelah menyelesaikan ucapannya, Jackson langsung menyabet pipi Jimin lagi.
SRAT!
"Dua-puluh-delapan lagi!"
SRAT!
"Dua-puluh-tujuh lagi!"
SRAT!
"Dua-puluh-enam lagi!"
Selagi Jackson melakukan tugasnya, Hoseok menangis tersedu-sedu, V meringis, Jungkook masih dengan ekspresi diamnya, dan terdengar pekikan serta teriakan dari siswa BHS yang menonton kejadian itu.
Mereka semua tidak menyangka Jimin akan dengan suka rela menanggung luka seluruh anggota 'Grey'.
Ketika hukuman sabetan pisau Kamaitachi tersisa dua-puluh-empat lagi, Jackson menghentikan kegiatannya.
"Sudahan, ah.", kata Jackson lalu ia menghela napasnya kasar. "Nggak ada perlawanan sih, jadi 'gak seru."
Jackson mendongak menghadap Suga, "Maaf, Suga, izinkan aku menyudahi tugasku."
Suga masih dalam mode duduk-santai-di-daun-jendela-nya dan hanya menjawab "Hm." dengan wajah datar.
Jackson pun berbalik ke arah anggota Kamaitachi lainnya dan beranjak pergi dari taman.
Setelah kepergian Kamaitachi, Jimin pun oleng—karena sebenarnya sejak tadi tubuhnya sudah lemas—dan hampir saja ia akan menghantam tanah kalau Jungkook tidak meraih tangannya dan memegangi pinggangnya.
"Jungkook..?"
"Kamu harus ke UKS.", kata Jungkook dingin, namun tidak melepaskan tangannya dari tubuh Jimin.
Wajah Jimin memerah karena menahan tangis, sakit, juga malu—karena Jungkook memegangi pinggangnya.
"Ping.. pinggangku.. Malu-maluin 'aja.", kata Jimin.
"Kamu nggak memalukan, Jimin!", seru Yugyeom.
"Benar, Park Jimin hebat!", seru anggota 'Grey' yang baru.
"Jiminnie keren!", seru Hoseok sambil menangis dan bertepuk tangan heboh.
"Tugas terlaksana!", seru V sambil mengacungkan jempolnya ke arah Jimin. "Gomawo, Minnie. Tapi kamu terlalu memaksakan diri."
Seluruh siswa BHS yang ada di sana, baik dari anggota 'White' maupun 'Black', ikut bersorak dan juga bertepuk tangan untuk Jimin, karena aksi yang dilakukan Jimin sangatlah berani.
Menunjukkan bahwa Jimin sebagai ketua 'Grey' siap bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang terjadi jika kelak mereka memutuskan untuk menjadi 'Grey'.
Beberapa hari kemudian..
.
"Masa cuma segini? 'Gak ada yang lain?", kata namja berseragam hitam.
"Ayo keluarkan semuanya!", seru namja berseragam hitam lainnya.
"Ja-jangan, dong..", lirih namja berpakaian bebas.
"Wah, wah.. 'Gak baik, loh, memeras di sekolah!", seru seorang namja berpakaian bebas sambil membawa handycam di tangannya.
"Pa-park Jimin?!"
"Aku sudah merekam semuanya..", kata Jimin, "Daehyun, kamu mau masuk Universitas Seoul, kan? Dengan kelakuan begitu sepertinya 'gak mungkin, deh.."
Jimin melirik ke namja berseragam hitam satunya lagi, "Heerim, ayah yeochin-mu polisi, kan? Apa pendapatnya kalau melihat video ini, ya?"
"Ke-kenapa kalian melakukan ini?!"
Jimin menyunggingkan smirk di wajahnya. "Kalau 'gak mau video ini kusebarkan, jangan ganggu anak 'Grey' lagi. Aku nggak akan menyuruh kalian jadi 'Grey', kok. Percuma kalau bukan dari keinginan kalian sendiri. Jadi, bagaimana?"
"Sial…"
"Aku nggak dengar jawaban kalian."
"Baiklah! Iya! Iya!", seru kedua namja itu.
Di koridor kelas BigHit School
.
"Berusahalah, anak baru!", seru namja berseragam putih ketika berpapasan dengan Jimin.
Jimin pun tersenyum dan melambaikan tangannya. Sudah seperti idol yang bertemu dengan fans-nya. "Terimakasih!", katanya.
V tercengang melihat kejadian tadi. Ia lalu melihat Jimin dengan wajah blank-nya, namun Jimin mengerti kalau V ingin penjelasan.
Jimin pun menjelaskan, "Sejak peristiwa Kamaitachi tempo hari, semua orang jadi ramah pada 'Grey', terutama padaku, hehe."
"Wah, baguslah kalau begitu!", kata V ceria.
Jimin mengangguk lucu, lalu kedua matanya menangkap sesuatu.
"Ah, Sanha noona!", seru Jimin saat ia melihat sosok Sanha yang sedang berjalan menuju ke arahnya. "Selamat siang!"
"Siang!", balas Sanha dengan senyuman malaikatnya seperti biasa.
Jimin yang tidak mengerti situasi pun hanya sedikit membungkukkan badannya lalu lanjut berjalan, melewati Sanha. Sedangkan V memelankan langkah kakinya dan berhenti ketika sudah dekat dengan Sanha.
"Besok genap satu minggu.", kata V. "Kutunggu keputusanmu.", lanjutnya.
Lalu V pun melangkahkan kakinya menyusul Jimin.
Sanha masih terpaku di sana walaupun Jimin dan V sudah menjauh darinya.
"Ya… Aku juga.. sudah tidak sabar, menunggu besok.", kata Sanha dengan raut wajah datarnya.
Wajah aslinya yang tanpa topeng.
"Tos!"
Seluruh orang di dalam bilik karaoke saling menyentuhkan gelas minuman mereka, menciptakan bunyi 'Ting' yang gaduh.
Malam itu anggota 'Grey' memutuskan untuk berpesta di sebuah karaoke yang terletak di jalan Gangnam, merayakan bertambahnya anggota mereka.
"Jadi, hari ini tambah sepuluh orang, ya?", tanya V.
"Iya, mereka anak-anak yang terpesona oleh keberanian Jimin.", jawab Yugyeom.
"Keren! Langkah kita selanjutnya apa?", tanya Hoseok.
V berdehem lalu menyentuh kerah kaosnya, seolah-olah sedang membetulkan dasi yang tentu saja tidak ada di sana. "Sekarang anggota 'Grey' ada 40. Kalau masing-masing bawa dua orang, akan jadi 80. Lalu, masing-masing bawa dua orang lagi, jadi 160. Lalu, mereka cari dua orang lagi.. dan di minggu ketiga jumlah kita akan ada 400 lebih! Gampang, gampang~!", kata V dengan mata berbinar-binar.
"Anaknya tuh, ya, mengandalkan orang lain banget..", kata Jimin.
"Kayak MLM saja..", kata Hoseok.
"Terus Suga bagaimana? Masih ada Jungkook juga.", tanya Yugyeom.
"Kurasa Jungkook nggak akan bertindak apa-apa. Dia kelihatan masa bodoh mau menang ataupun kalah.", kata V.
"Ngomong-ngomong, Jungkook itu cuek sama orang. Tapi, kalau sama Jimin, baik dan perhatian banget.", kata Yugyeom. "Jimin nggak nanya perasaan Jungkook yang sebenarnya padamu seperti apa?"
"Benar, bahkan Jungkook sampai berlutut di hadapan Suga.", sahut aggota 'Grey' lainnya.
Jimin teringat akan kalimat Jungkook saat membersihkan dan merawat luka di pipinya setelah dikeroyok pisau Jackson si ketua Kamaitachi.
"Jangan berbuat bodoh lagi. Kau bisa benar-benar terluka, nanti."
Walaupun dikatai bodoh, dan seperti dimarahi, Jimin merasakan kehangatan yang dipancarkan oleh Jungkook kepadanya hari itu. Jungkook benar-benar telaten membersihkan dan mengobati luka-luka Jimin, seperti sudah ahli dalam hal itu.
"Hm.. Aku juga.. nggak paham dengan pemikiran Jungkook.", kata Jimin. Untung saja cahaya di bilik karaoke itu temaram, sehingga orang-orang tidak akan menyadari semburat merah muda di pipinya.
"Hm.. begitu.", sahut Yugyeom.
"Wah, selanjutnya lagunya Taeyang, nih! Siapa yang request lagu ini?", seru salah satu anggota 'Grey'.
"Aku, aku.", kata Jimin sambil mengacungkan tangannya.
V dan Yugyeom pun tertawa, menggoda Jimin.
"Fufufu, susah, loh, Minnie.."
"Nyanyi yang benar, ya."
"Berisik!", kata Jimin lalu ia menjulurkan lidahnya ke arah dua orang itu. Ia berjalan ke arah layar dan mengambil mic.
Tak lama, lagu Taeyang – Eyes, Nose, Lips terputar dan Jimin pun mulai bernyanyi.
.
"Mianhe mianhe hajima
Naega chorahaejijanha
Ppalgan yeppeun ipsullo
Eoseo nareul jugigo ga
Naneun gwenchana.."
.
Seluruh orang yang ada di bilik karaoke itu tercengang, bahkan beberapa ada yang menyemburkan minumannya. Sebelumnya mereka hanya mendengar Jimin berteriak atau berbicara, mereka tidak pernah mendengar Jimin bernyanyi. Ternyata suara Jimin sangat, bagus, sekali.
"Hebat! Persis Taeyang!"
"Daebak.."
"Gila! 'Gak disangka.."
Setelah Jimin selesai menyanyikan lagunya, ia langsung mendapatkan banyak request dari teman-teman seperjuangannya.
"Lagunya Crush dong!"
"Jangan! Lagunya Zion.T saja, Jiminnie!"
"Minnie, nyanyikan lagu untukku, jebal.."
"Sudah, sudah, masukkan saja semua lagunya, biar Jimin maraton."
.
"Mana bisa aku menyanyikan semuanya sekaligus!", seru Jimin.
"Ayolah.. Masa cepat sekali..", rengek V sambil menarik-narik tas Jimin dan Hoseok.
"Jangan berlagak mabuk begitu, V. Kita kan cuma minum jus.", kata Yugyeom.
"Aku capek mau pulang!", bentak Jimin.
"Aku juga mau pulang..", kata Hoseok sambil tersenyum.
"Ayo, Hosiki, kuantar.", kata Jimin.
"Ah, biar aku saja.", kata V.
"Eh?", Hoseok terkejut dengan penawaran V. "Nggak usah.. Rumahku dekat, kok.."
"Nggak. Besok batas waktunya, aku takut terjadi sesuatu.", kata V.
"Hm? Batas waktu apa?", tanya Hoseok polos.
"Ani. Bukan apa-apa. Kajja, kita pulang!", kata V ceria sambil menarik lengan Hoseok. V tidak menyadari kalau pipi Hoseok sudah memerah seperti habis diberi blush on.
Anggota 'Grey' pun berpamitan, pulang ke rumah masing-masing.
V berjalan berdampingan dengan Hoseok sambil berbincang-bincang. Namun, di persimpangan jalan, V menangkap sosok dua orang yang tidak asing lagi baginya.
Jungkook.. dan Suga?! Apa yang mereka berdua lakukan di sana?
Jimin berjalan sambil melihat ke jam tangannya.
.
Wah.. Sudah larut. Tadi mampir ke toko buku dulu, sih..
Tapi 'gak apa-apa. Toh di rumah juga 'gak ada siapa-siapa.
Jin pasti belum pulang..
.
Jimin yang tidak pernah takut akan apapun memutuskan untuk melewati jalan sepi untuk menuju rumahnya. Walaupun sebelumnya ia belum pernah lewat jalan itu, tapi ia percaya tidak akan ada hal buruk terjadi menimpanya.. Sampai, tiba-tiba saja..
GREP!
BRUAK!
Tubuh Jimin terangkat lalu terbanting ke dalam gang sempit.
"Aw! Apa-apaan, sih?!", seru Jimin sambil memegang pantatnya yang sakit karena mendarat di jalan terlebih dahulu.
Jimin melihat ada banyak sekali namja di hadapannya, mungkin sekitar lima-belas orang. Mereka semua menatap garang ke padanya. Lalu, sedetik kemudian sudah ada satu namja yang menduduki tubuhnya.
"Diam! Kami 'gak akan lama, kok.", kata namja itu sambil mengunci pergerakan Jimin.
"Eh, cuma segitu doang? Sudah selesai? 'Gak seru, ah.", seru namja lainnya yang masih bergerombol.
"Iya, yang lebih seru, dong!"
"Kita kan disuruh supaya dia 'gak bisa datang ke sekolah lagi."
"Pabo, kita dilarang membicarakan hal ini.", kata namja yang menindih Jimin.
"Biar saja, toh, dia akan habis di sini."
Jimin sweatdrop.
Sebenarnya siapa mereka?! Aku akan dihabisi? Mereka disuruh? Tapi siapa yang sebegitu bencinya padaku hingga ingin aku mati?
Jimin pun bertanya, setidaknya jika ia mati sekarang, ia tidak akan mati penasaran. "Kalian bukan siswa di sekolahku, kan? Siapa yang menyuruh kalian?!"
Namja yang sedang menindih Jimin menghantam kepala Jimin hingga mencium jalan. "Sudah kubilang, diam! Atau kau mau aku membungkam mulutmu, hm?"
Jimin mencoba berontak tapi tidak bisa.
.
Mereka bukan orang biasa..! Mereka terlalu kuat.
Siapapun tolong aku..!
.
"Kau cukup lumayan juga, ya.", seru seorang namja yang tiba-tiba saja sudah ada di ujung lain dari gang itu.
Jimin berusaha mendongak dan ia menangkap sosok yang selama ini dibencinya.
Suga!
"Kau.. Curang!", teriak Jimin. "Kau ingin sekali menang, ya, sampai menyuruh mereka segala?!"
Suga berjalan mendekati Jimin, "Hei, hei.. Kamu salah paham. Aku 'gak berteman dengan mereka. Aku cuma 'kebetulan' lewat sini."
"Siapa kau?", tanya namja yang menindih Jimin.
"Kalau kau 'gak mau terluka, cepat enyah!", seru namja lainnya.
"Oke, aku pulang. Selamat berjuang, ya~!", kata Suga seraya berbalik badan.
"Ya! Tunggu!", seru Jimin. "Kau mau pulang meskipun melihatku begini?!"
Suga berbalik badan dan menghampiri Jimin lagi. "Memangnya aku harus bagaimana? Mana aku 'ngerti kalau kamu nggak bilang..", katanya sambil menunjukkan wajah meledeknya.
"Mwo?!"
"'Kumohon Tuan Suga, tolonglah aku. Dan aku akan menuruti semua kata-katamu.' Ayo bilang begitu dulu!", kata Suga.
"Cih, nggak sudi!", seru Jimin.
"Ya sudah, annyeong."
"Tu-tunggu..! Aku.. mo—"
Namun perkataan Jimin terpotong karena namja yang menindihnya mendadak bangun dan memukul kepala Suga yang dilapisi topi.
BUK!
"Mengganggu saja kau!", seru namja itu.
Raut wajah Suga yang tadinya cukup ramah—walaupun tetap menyebalkan untuk Jimin—berubah seketika menjadi raut wajah pembunuhnya.
"Kau pikir….. Kau siapa, hah?!", teriak Suga sambil mem-back flip namja yang tadi memukulnya.
Teman-teman namja itu pun berdatangan, menyerang Suga. Namun Suga kuat—terlalu kuat—untuk melawan ikan teri seperti mereka.
Dalam hitungan menit, Suga sudah meng-K.O. hampir seluruh namja yang tadi hendak menghajar Jimin. Selagi Suga beraksi, Jimin hanya bisa menatap Suga dan berpikir.
.
Ku.. kuat sekali..!
Pantas saja dia jadi ketua geng biarpun baru kelas 1.
Jungkook juga sepertinya begitu.
Waktu memukulku, dia pasti tidak mengerahkan seluruh tenaganya.
Kalau iya, aku pasti sudah mati.
.
"To.. tolong!", seru namja yang tadi menindih Jimin. Nampaknya Suga menuntaskan aksinya dengan menghajar namja yang tadi memukulnya sebagai dessert.
"Tamat… sudah!", teriak Suga seraya memukulkan dahinya dengan dahi namja itu. "Huh, mudah banget."
Jimin pun tersadar dari lamunannya. "Dasar tukang kelahi.."
Suga menepuk-nepukkan bajunya dari debu dan membenarkan letak topinya. "Kenapa aku jadi menolongmu, sih?! Baiklah, seperti janjimu tadi, kamu harus menuruti perintahku!"
"Ka-kapan aku janji? 'Kan tadi aku belum menyelesaikan ucapanku.", kata Jimin mengelak.
Baru saja Suga hendak membalas ucapan Jimin, terdengar teriakan dari ujung gang.
"Hei, kalian!"
Jimin dan Suga membalikkan badan mereka ke arah suara itu dan melihat gerombolan namja lainnya yang membawa alat untuk berkelahi seperti tongkat panjang, tongkat baseball, dan semacamnya.
"Bersiaplah.. Kalian nggak akan pulang hidup-hidup!",seru salah satu namja dari gerombolan itu.
Suga melirik ke arah gerombolan yang tadi dihabisinya dan ia melihat di salah satu tangan namja itu terdapat ponsel.
"Huh, memanggil teman-temannya, ya?"
"Ce-cepat bantai mereka!", kata Jimin.
"Jangan ngawur. Meskipun aku hebat, mereka terlalu banyak.", kata Suga dingin. "Kalau 'gak mau mati… LARI!"
"Uwaa!", teriak Jimin sambil ikut Suga berlari.
"Cih, jangan biarkan mereka lolos!", teriak salah satu namja dari gerombolan itu.
Suga dan Jimin berlari sekencang mungkin.
"Kenapa jadi incaran begini, sih?! Benar, bukan kamu yang suruh?!", teriak Jimin di sela pelarian mereka.
"Menurutmu?! Kamu pikir kenapa aku mati-matian lari, hah?!", teriak Suga. "Mereka preman jalanan yang paling berpengaruh di daerah ini. Kalau ketangkap, mustahil bisa pulang utuh!"
Suga melihat gang sempit dan gelap lalu menarik lengan Jimin masuk ke dalam sana.
"Ah!", seru Suga. Ia menyentuh lutut kanannya lalu berjongkok kesakitan.
"Ke-kenapa kamu?"
"Luka lamaku.. kambuh lagi. Tadi aku terlalu banyak gerak, sih..", kata Suga sambil meringis.
"Apakah parah?!"
"Nggak, sih. Tapi.. aku harus istirahat sebentar.", kata Suga. "Cepat atau lambat mereka akan menemukan kita, pergilah!"
"Tapi.."
"Jangan banyak omong! Cepat pergi!", bentak Suga.
Jimin pun melangkahkan kakinya, menjauh dari Suga. Tapi, bukannya kabur, Jimin malah menghampiri gerombolan yang sejak tadi mengejar mereka.
"Hei! Aku di sini!", teriak Jimin.
"Itu dia!"
"Cepat tangkap!"
Gerombolan itu pun masuk ke perangkap Jimin, mereka sudah lupa kalau masih ada satu lagi orang yang ingin mereka tangkap.
"Si bodoh itu!", seru Suga.
Setelah beberapa lama…
.
"Fyuh.. untung bisa balik.", kata Jimin ketika ia kembali ke gang sempit di mana ia meninggalkan Suga. "Ayo, kita harus cepat."
"Kamu ini bodoh, ya? Kamu pikir aku akan menangis dan berterimakasih?", kata Suga.
"Jangan salah paham. Aku kembali bukan karena peduli. Aku kan benci kamu."
Apa katanya?! Benak Suga.
"Tapi, nggak bisa kupungkiri, kamu sudah menolongku.. Dan aku nggak akan menelantarkanmu di sini setelah kamu menolongku."
Suga diam saja ketika Jimin membantunya berdiri dan menopang tubuhnya saat berjalan.
"Huh! Kenapa demi kamu, aku harus begini?!", seru Suga.
"Hei, itu kalimatku!"
"Kok begitu?!"
"Karena, aku rasa mereka disuruh oleh orang yang 'gak suka melihat sepak terjangku di sekolah. Dan orang itu kamu, kan?"
"Huh, menggelikan sekali."
Mereka berdua pun berjalan dalam diam.
Namun tidak dengan benak Jimin.
.
Kalau bukan Suga, lantas siapa? Siapa yang menyuruh preman untuk menghajarku?
Tapi.. aku 'gak nyangka, Suga bakal menolongku.
"Fyuh..", Suga menghela napasnya ketika menyenderkan punggungnya ke pagar pembatas jembatan.
Jimin memutuskan untuk beristirahat sebentar karena Suga terlihat ngos-ngosan setelah mendaki jembatan.
"Hei.", sahut Jimin, membuka suara. "Kenapa, sih, kamu anti banget sama Jungkook?"
"Ha?!"
"Kamu memakaiku untuk menantangnya, kan?"
"Aku benci lihat dia."
"Kalau benci ya cuekin 'aja."
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Ibaratnya..", Suga berbicara sambil menerawang. "Seperti ketika matahari menyinari kita, maka akan ada bayangan di belakang kita, kan? Seperti itulah keadaan kami."
Jimin terdiam mendengar ucapan Suga. Namun, Jimin bukan diam karena kagum, melainkan karena tidak paham.
"Pakai bahasa sederhana, dong. Kurang jelas, tuh!"
Telmi abis. Geram Suga dalam hati sambil memelototi Jimin.
Tiba-tiba saja Suga menarik tubuh Jimin agar mendekat, menggendongnya ke atas pagar jembatan, lalu melemparnya.
Suga melempar Jimin ke sungai.
Saking shock-nya, Jimin tidak bisa berteriak. Ia pasrah ketika menyadari Suga membuangnya ke sungai. Namun detik berikutnya ia melihat Suga ikut-ikutan terjun bebas ke sungai. Jimin jadi kebingungan.
Apa maunya sih si Yoongi itu?!
BYURRR!
"Mana mereka?!"
"Tadi ada di sini…"
"Ayo cari yang benar!"
Teriak beberapa namja dari atas jembatan.
Jimin dan Suga yang sudah berada di air, tepat di kolong jembatan, tidak terlihat oleh namja-namja itu.
"Ku.. kukira.. aku akan mati.", kata Jimin.
Suga menghadapkan wajahnya ke arah Jimin dan berkata dengan polos. "Kemungkinan mati lebih besar kalau kita tetap di atas sana."
"Tapi itu bukan alasan melempar orang ke sungai!"
Setelah gerombolan namja yang mengejar mereka pergi, mereka pun berenang ke tepi.
"Basah kuyup, deh!", seru Jimin.
Sedangkan Suga mengeringkan jaketnya dalam diam.
Besok paginya..
.
Jimin membuka matanya ketika terganggu oleh sinar mentari yang menggelitik matanya.
"Jam berapa sekarang? Uh.. Badanku sakit-sakit semua.."
Jimin menurunkan kakinya ke lantai, hendak bangkit dari ranjangnya yang empuk. Tapi pergerakannya terhenti ketika ia melihat ada lengan seseorang di bantalnya.
Jimin melirik ke sebelahnya dan melihat sosok Suga yang bertelanjang dada, sedang tidur pulas di sebelahnya.
Jimin melihat kondisi tubuhnya sendiri dan ia hanya mengenakan atasan kaos putih tipis dan boxer.
Jimin melirik lagi ke arah Suga.
Tapi ia tetap tidak mengerti apa yang terjadi.
A-apa ini?! Apa yang terjadi diantara kami semalam?!
.
.
TBC
.
.
Hayoloh, yoonmin, kalian abis ngapain semalem? XD
.
annyeong reader-nim, udah pada pulang mudik belum? nih aku kasih thr: yoonmin moment kekeke
ada yg mau request moment couple di chapter depan/depannya lagi? nanti aku selipin deh~ :D
