*di part ini dan (mungkin) seterusnya, Mia akan ku sebut Min Ra. Selamat membaca:) *
.
.
.
.
"kau tidak ingin ke kantin?", sapa seorang gadis yang duduk didepan Min Ra.
Min Ra hanya menggeleng kecil sambil tersenyum,tangannya mengeluarkan kotak bekal berisi roti yang tadi pagi disiapkan oleh Nana.
"oh, kau bawa bekal? Kalau begitu aku duluan ya, perutku lapar", lanjut gadis yang kemudian dijawab anggukan dari Min Ra.
Min Ra baru saja hendak menggigit roti usai ditinggal gadis - yang kemudian Min Ra tahu dari papan nama seragam bahwa namanya adalah So Ra - tadi, tapi kemudian ia seolah menyadari sesuatu. Choi Youngjae masih berada di belakangnya.
Perlahan, Min Ra membalik tubuhnya. Ia menemukan sang bias tengah tenggelam dalam... Ehm, tidurnya? Setidaknya Youngjae terlihat seperti sedang tidur. Kepalanya diletakkan diatas lipatan kedua lengannya menghadap jendela, punggungnya naik turun teratur menandakan nafas yang tenang.
Min Ra sebenarnya hendak menawarkan Youngjae untuk makan bekalnya bersama, entah bagaimana kultur disini, tapi Min Ra sudah terbiasa membagi miliknya pada orang lain sejak kecil. Melihat laki-laki dibelakangnya nampak tak bisa diganggu, Min Ra memutuskan untuk membalik lagi tubuhnya ke depan dan mulai makan roti.
Tak sampai sepuluh menit, rotinya hanya bersisa satu kini, dan nampaknya Min Ra masih merasa bahwa ia HARUS membagi makanannya pada Youngjae.
"Youngjae-sshi", panggil Min Ra sambil menggoyangkan lengan Youngjae takut-takut.
Youngjae bergeming.
"Youngjae-sshi, kau tidak makan?", tanya Min Ra lagi sambil terus menggoyangkan lengan Youngjae, "kau bisa makan bekalku. Ini.", Min Ra menyodorkan kotak bekalnya.
Laki-laki itu masih tak merespon apapun.
"Yak. Choi Youngjae-sshi", kali ini Min Ra menggoyangkan lengannya lebih keras, dan rupanya kali ini berhasil.
"hmm.. ", Youngjae mengangkat kepalanya malas, matanya bertemu pandang dengan Min Ra.
" Ini, makanlah", kata Min Ra sambil mendorong kotak bekalnya ke arah Youngjae lagi.
Dahi Youngjae berkerut bingung, tapi kemudian dengan acuhnya, ia meletakkan kembali kepalanya di meja dan mulai mengatur nafas tidur.
"Youngjae-sshi, makanlah sebelum waktu istirahat habis", diabaikan sama sekali bukan masalah bagi Min Ra, "Choi Youngjae-sshi!", suara Min Ra mulai naik satu oktaf sekarang.
Sial bagi Youngjae sepertinya. Min Ra adalah tipe orang yang sangat mengkhawatirkan kondisi orang lain dibanding kondisi dirinya sendiri.
Kali ini Youngjae mengangkat kepalanya dan menatap Min Ra kesal, "baiklah, kau mau apa?".
"Makan"
"kenapa aku harus makan bekalmu?"
"..."
"sudah sana. Aku masih bisa beli sendiri"
"kalau kau ke kantin sekarang, kau hanya akan mengantri dan akan telat masuk kelas"
Youngjae berdecak kesal, "baiklah, baiklah. Kau ini cerewet sekali", ujarnya mengambil sepotong roti dari kotak bekal Min Ra.
Gadis itu menghela nafas, "seharusnya kau makan daritadi", kemudian ia meraih kotak bekalnya dan kembali menghadap kedepan, sibuk dengan buku catatannya.
Youngjae menghembuskan nafas berat. Ia benar-benar tak mengerti isi pikiran gadis itu, sebelumnya ia memaksa Youngjae untuk bangum dan makan bekal, tapi sekarang? Apa gadis itu sedang mengomelinya? Aish..
"Yak! Kau!", panggol sebuah suara menahan langkah kaki Min Ra.
Min Ra menoleh, "J-jaebum?".
"Eii, kau tak boleh memanggilku seperti itu", tawanya. Nafas laki-laki itu masih tersengal akibat mengejar langkah gadis didepannya.
"ah, ne. Jaebum-sshi", gadis itu membungkukkan badannya lalu membalikkan badan hendak pergi... Jika saja Jaebum tidak menarik pergelangan tangannya.
"Jaebum-sshi anieyo, Jaebum - oppa. Arasseo?", katanya lagi.
Min Ra mendelikkan matanya, "arasseo", jawabnya sambil berusaha melepas cekalan tangan Jaebum.
Masalahnya, fans Jaebum sudah menatapnya dengan tatapan tajam, lagi pula detak jantungnya kini mulai tak beraturan karna berhadapan langsung dengan senyum biasnya.
"Ei, kau mau kemana? Apa Jinyoung ahjussi tidak memberitahumu?"
"mworago?"
'Drrrrttttt... Drrrtttt..'
Handphone Min Ra bergetar di sakunya, dilihatnya nama Om Jinyoung tertulis di layar, tanpa menunggu lagi, Min Ra mengangkat telponnya.
"Wae?!", sapa Min Ra galak.
"kau harus mengucap salam padaku, anak manis.. Kkkkk~", jawab suara di seberang sana.
"eum"
"aish, kau sudah bertemu Jb?"
"sudah"
"kalau begitu, kau pulang dengannya ya siang ini"
"waeyo?"
"oh, ayolah Min Ra-ya. Ini hari pertamamu menjadi trainee, apa kau ingin tersesat? Aku sudah memberitahu Jb semua detailnya, kau ikut dia saja", papar JYP panjang lebar.
"trai-? mwo-? chankamman!"
"bye, Min Ra-ya! Saranghae!"
"Yak! Ahjussi! Yeobosseyo? Yeobosseyo?", sialnya, JYP sudah memutus sambungan telpon meninggalkan Min Ra yang menatap Jb kesal.
"Sudah? Ayo berangkat", katanya sambil mendorong punggung gadis itu ke arah sebuah mobil di depan gerbang sekolah, "Omong-omong, aku harus bicara padamu empat mata. Tapi tidak sekarang hehe", gumamnya persis sebelum mereka menaiki mobil.
"kau bilang apa tadi?", Min Ra menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.
"anieyo, cepat masuk"
"eum, aku harus duduk dimana?", jelas saja gadis itu bingung. Mobil dipenuhi dengan cowok-cowok ganteng - yang amat digilai Min Ra - mulai dari deret bangku paling belakang sampai depan.
"kau duduk di sini, noona, dekat jendela",kata seorang laki-laki berbadan bongsor sambil menepuk-nepuk jok mobil didepannya. Oh, itu tentu saja Yugyeom dengan seragam SMPnya.
"Yup, kau duduk disampingku, sayangkuu~", kata Jr mengedip-ngedipkan matanya genit. Disamping Jr, Choi Youngjae hanya diam melihat tangannya di dada sambil menatap kosong ke luar jendela, di telinganya, sebuah headphone terpasang dengan nyaman. Nampaknya ia sama sekali tak terganggu dengan kedatangan gadis tak diundang di mobilnya.
"lalu kau?", Min Ra menghadap Jaebum.
"aku duduk di samping supir. Lagi pula, ck. Aku sudah menyuruhmu memanggilku oppa, remember? OPPA", Jaebum tersenyum sambil mengusap kepala Min Ra.
"Ayolah, noona. Kalau kau tidak segera masuk, aku akan kedinginan. Atau setidaknya, kau tutup dulu saja pintu mobilnya agar angin tidak masuk ke dalam", kata pria manis, Bam Bam, yang sedari tadi sibuk menggoda teman disampingnya, Mark.
Mira mendesis kesal sambil menepis tangan Jaebum, dinaikinya mobil itu dan tanpa basa basi, ia menutup pintu mobil mengabaikan Jaebum. Untung saja sekolah sudah mulai sepi, jadi nyawanya aman kali ini. Min Ra menghela nafasnya berat sebelum akhirnya mobil melaju meninggalkan gerbang sekolah.
