Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Yoon Sanha!GSas Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – 'Grey'

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – wakil OSIS BigHit School – 'White'

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

Wang Jackson as Jonouchi (17yo) – anak buah Suga – 'Black'

Woo Jiho (Zico) as Sugaya (17yo) – anak buah Suga – 'Black'

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's ….

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO, BLOCK B, and SNSD member belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 9: Know you better

.

.


Tu.. tunggu dulu.

Kenapa dia tidur di sebelahku?!

Dan.. telanjang dada?!

Kenapa.. kenapa jadi begini?

.

Jimin bermonolog dalam hati sambil memelototi Suga yang masih tertidur pulas di sampingnya.

.

Tenang dulu, Park Jimin. Tenang..

Nah, sekarang, ingat-ingat apa yang terjadi semalam…

Kemarin malam, aku pulang larut. Di tengah perjalanan, aku diserang komplotan aneh.

Suga datang menolongku.. lalu ia melemparku ke sungai.

.

"Di sana ada rumah kerabatku.", kata Suga. "Kalau pulang basah begini, kamu bisa kena flu. Gerombolan preman itu juga masih berkeliaran. Lebih baik kamu ikut aku."

.

Ah, benar. Dia mengajakku sampai di rumah kenalannya, aku mandi duluan..

Begitu sampai di rumah kenalannya, aku mandi duluan..

Karena capek, aku langsung tertidur.

.SRUK!

SRUK!

Jimin terkejut karena Suga yang sedari tadi dipelototinya mendadak bangun. Suga melihat Jimin dengan tatapan dingin, dan tanpa berujar apapun, ia bangkit dari kasur dan berjalan menuju dapur mini yang ada di seberang kasur.

Jimin memperhatikan gerak-gerik Suga dalam diam. Pertama, Suga membuka lemari es. Kedua, Suga mengambil botol minuman. Ketiga, Suga membuka botol dan meminum isinya sambil berdiri.

Lalu, setelah isi dalam botol itu menghilang separuh, Suga menoleh ke arah Jimin.

Jimin dan Suga saling bertatapan selama beberapa detik. Lalu..

"Kenapa kamu ada di sini?!", seru Suga.

Telmi. Benak Jimin.

"Ah, cham. Kemarin…", Suga terdiam, mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin.

"Em, maaf. Sebentar. Anu..", kata Jimin. "Aku mau tanya.. Kemarin nggak ada.. apa-apa, kan?"

Suga tersadar dari lamunannya, lalu berkata. "Ah, nggak kusangka.. Ternyata kamu liar juga, ya—tidurnya—dan teriakanmu juga cukup keras—saat mengigau."

Jimin jawdrop.

Aku liar? Berteriak?

"Ja-jangan bercanda!", Jimin melempar Suga dengan apapun yang ada di dekatnya. "Nggak nyangka kamu bisa berbuat sebusuk itu! Teganya kamu menyerangku saat aku tertidur lelap! Benar-benar keterlaluan!"

Suga yang dilempari barang bertubi-tubi pun tidak bisa berkata apa-apa selain mencoba menghalau barang-barang yang berterbangan ke arahnya.

"Tapi, aku 'gak akan menangis tersedu-sedu! Aku akan lapor polisi!", teriak Jimin sambil menangis.

Setelah dirasa cukup dengan apa yang dikatakan Jimin kepadanya, Suga pun angkat bicara. "Sebelum bicara… urus dulu badanmu yang kayak kaleng drum itu!", kata Suga sambil balas melempar bantal tepat ke wajah Jimin. "Siapa yang mau nyerang namja sepertimu!"

"Bohong, kamu bisa saja melakukannya!"

"Apa?!", Suga berteriak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kalau begitu, sekalian saja kuberikan bukti untuk pengaduanmu itu!"

Suga mendekati Jimin yang masih berada di atas kasur, menarik lengan Jimin, lalu bersiap untuk menerjangnya.

"Ja..ngan. Lepaskan..!" Gawat! Aku 'gak bisa bergerak! Siapapun, tolong aku!

Saking takutnya, Jimin sampai tidak bisa berbicara.

Saat jarak antara bibir Suga dengan bibir Jimin hanya tinggal lima sentimeter, Jimin berteriak, "JIN!"

Hm? Jin? Benak Suga.

"Cukup."

Sontak Jimin dan Suga terpaku setelah mendengar suara seorang yeoja menginterupsi mereka.

"Kalau mau, lanjutkan saja di luar.", lanjut yeoja itu sambil menghisap lalu menghembuskan rokok yang sedari tadi dipegangnya. "Ini tempat tinggal bersama, kalau gaduh bisa jadi masalah."

Mereka berdua melirik ke arah yeoja itu, namun dengan tatapan yang berbeda. Jimin dengan tatapan horornya dan Suga dengan tatapan malasnya. Jimin masih dalam mode shock-nya dan Suga masih dengan wajah dinginnya memegangi lengan Jimin erat.

"Baiklah, demi kehormatan si bodoh itu, akan kuluruskan kesalahpahaman ini.", kata yeoja itu lagi.

"Siapa yang bodoh?!", teriak Suga.

"Kemarin, setelah mandi, kamu langsung terkapar di kasur.", kata yeoja itu sambil menunjuk Jimin. "Lalu, si bodoh itu datang dan menendangmu sampai jatuh dan langsung mendominasi tempat tidur. Tapi, karena dingin, dalam keadaan mengantuk, kamu merangkak naik ke kasur lagi dan tidur sampai pagi."

"Lancang sekali menendang orang!", bentak Jimin sambil memelototi Suga.

"Bukan itu pokok masalahnya, kan?!", bentak Suga.

Jimin terduduk lemas di atas kasur. Syukurlah..!


"Terimakasih untuk pinjaman bajunya, noona. Setelah kucuci akan kukembalikan.", kata Jimin ketika hendak berpamitan dengan yeoja tadi.

"Ah, nggak usah. Itu desain terbaruku dan belum keluar di pasaran, untukmu saja, sekalian tester. Kalau ada yang tertarik, bilang saja belinya di 'Blanc & Eclare', oke?", kata yeoja itu sambil tersenyum. "Oh, ya. Namaku Jung Sooyeon, tapi kamu bisa memanggilku Jessica. Si bodoh itu kerabatku, aku sudah seperti noona-nya. Salam kenal, ya."

Wah.. Cantiknya..! "Ne. Aku Park Jimin imnida.."

"Ngomong-ngomong, kalian 'gak sekolah?", kata Jessica sambil menunjuk jam dinding.

"Apa?! Jam 7.10?!", teriak Jimin. "Aku permisi dulu, noona. Dan kamu, urusan kita belum selesai, Min Yoongi!", kata Jimin sambil berlari keluar dari rumah itu.

"Apanya?!", seru Suga. "Dan darimana kamu tahu nama asliku?!"

"Namja itu kayak topan, ya..", kata Jessica. "Seleramu berubah. Dia tipe barumu?"

Suga kesal mendengar Jessica berbicara seperti itu. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Jessica lalu langsung menarik tengkuk yeoja itu dan mencium bibirnya.

Suga melumat bibir tipis Jessica dengan tempo ringan. Sedangkan Jessica diam saja.

Namun, karena Suga tidak juga melepaskan tautan bibir mereka, Jessica pun mendekatkan rokoknya ke leher Suga.

Cesss..

"PUANASSS!", teriak Suga sambil memegangi lehernya yang kena cium rokok Jessica.

"Jangan iseng, bocah piktor.", Suga dilempar dengan seragam sekolahnya oleh Jessica. "Nih, bajumu. Ada noda darahnya. Berulah bodoh lagi, ya?

Suga mengambil seragamnya dan mengenakannya dalam diam.

"Yoongi, berhentilah membuat Bibi khawatir…"

"Berisik!", Suga melangkahkan kakinya mendekati pintu. "Jangan menceramahiku! Kau kan 'cuma kerabat'!"

Lalu terdengar suara pintu dibanting dan tinggalah Jessica sendirian di rumahnya.

Jessica masih menatap pintu yang tadi dibanting Suga hingga beberapa saat setelahnya.. dengan kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.


Di BigHit School

.

V menunggu kedatangan Sanha di koridor kelas. Tak lama kemudian Sanha pun datang, masih menggunakan seragam 'White'-nya.

"Itu jawabanmu?", tanya V. "Sayang, ya, ini hari terakhirmu. Lain soal, sih, kalau kamu masih berani datang ke sekolah setelah sosok aslimu ketahuan."

Sanha membalas ucapan V dengan wajah datarnya, "Entah bagaimana kamu menyelidikinya. Tapi, yang kamu punya hanya bukti aku bisa menyiapkan ular, bukan bukti kalau aku pelakunya.

V menyunggingkan seringaian di wajahnya. "Itu sebabnya kamu tenang-tenang saja? Huh, naif sekali."

V menyodorkan selembar foto pada Sanha. "Sudah lihat? Itu ular yang muncul di kelasku. Perhatikan, ada yang berkilau, kan?"

Sanha mengambil foto itu dan melihatnya dengan teliti.

"Itu bahan manicure buatan luar negeri yang nggak bisa didapat di Korea. Sama dengan yang kamu pakai sekarang.", kata V sambil menunjuk kuku-kuku palsu Sanha. "Kebetulan, ular itu juga langka. Hanya diimpor dalam jumlah kecil dari luar negeri."

"Ini.. palsu."

"Hm. Biar orang lain yang menilainya."

"Percuma kau lakukan itu!", bentak Sanha. "Sekolah ini nggak mungkin berubah hanya karena temanmu sedikit bertambah. Kalian akan segera melihat kenyataan pahit itu. Kau dan Park Jimin akan segera merasakannya!"

Seringaian muncul di wajah cantik Sanha. "Ah, kurasa Park Jimin sudah cukup merasakannya.."

"Apa maksudmu..?", tanya V.

"Sakit tahu! Lepaskan!", teriak Jimin.

Sontak Sanha terdiam membatu mendengar suara orang yang seharusnya tidak datang ke sekolah hari ini.

"Kamu meremehkanku, sih!", teriak Suga sambil mencekik pelan leher Jimin dan mengusak-usak rambut Jimin hingga berantakan.

"Kalian sedang apa, sih?", tanya V, jengkel dengan pemandangan 'mesra' dihadapannya.

"Ah, dengar, V! Gara-gara dia, aku dikerjai!"

"Kamu bilang begitu pada penolongmu, ha?!", teriak Suga. "Kalau nggak kutolong, kamu sudah habis, tahu!"

"Tapi kamu melemparku ke sungai!"

Setelah berbicara begitu, Jimin dan Suga berjalan ke arah kelas sambil terus saling berteriak dan menendang atau memukul.

Tanpa sadar Sanha menggeretakkan giginya, kesal karena rencananya gagal.

V melihat gerak-gerik Sanha dan akhirnya ia mengerti situasi yang telah terjadi.

"Hm..", V membuyarkan lamunan Sanha. "Kau punya teman berandalan, rupanya."

Sanha menoleh ke arah V dengan tatapan horor.

"Nggak kusangkan kau akan menyerang Minnie secara langsung.. Padahal Jung Hoseok belum lama ini kau incar."

"Bi-bicara apa, sih?! Aku 'gak ngerti.."

V menghela napas lalu menampilkan ekspresi datarnya. "Saat bel tanda mata pelajaran ke-4 usai berbunyi.. di semua layar komputer sekolah.. akan muncul gambarmu."

"Apa? Tunggu dulu, sudah kubilang aku nggak tahu apa-apa!"

"Terlambat, Yoon Sanha. Kau sudah membuatku marah.", V menyunggingkan seringaian yang sangat menyeramkan di wajahnya. "Akan kucopot topeng gadis sucimu itu."


Di ruang komputer

.

"Huaam.."

Tak terhitung lagi sudah berapa kali Jimin menguap selama pelajaran komputer.

Ah.. semenit lagi pelajaran ke-4 selesai. Aku lapar…

"Pst, Minnie. Dipelototi bu guru, tuh!", bisik V yang duduk di bilik komputer sebelah Jimin.

"Biar saja, aku nggak peduli sama pelajaran komputer."

"Dengan pola pikir seperti itu, kamu akan jadi masyarakat yang tertinggal di era digital ini, Minnie."

"Jadi manusia analog juga cukup, kok."

"Kau ini…"

Jimin sedari tadi melirik ke arah jam dinding karena sudah tidak sabar ingin pergi ke kantin. Sedangkan V sedari tadi juga diam-diam memperhatikan detik waktu yang bergulir karena beberapa saat lagi, kedok Sanha akan dibongkarnya.

.

Lima..

Empat..

Tiga..

Dua..

Satu.

.

Teng! Teng!

.

Goodbye, Sanha~

Benak V.

.

"Hari ini selesai sampai di sini. Silakan matikan komputer masing-masing..", kata guru komputer.

"Loh, ibu, monitornya aneh!", seru salah seorang siswa.

.

Apa?! Benak V.

.

"Ibu, apa ini virus?!", seru siswa lainnya.

"Tenang, harap tenang! Jangan sentuh apapun!", seru guru itu.

Jimin pun ikut penasaran dengan apa yang terjadi, "Ada apa, sih, V? Komputernya rusak, ya?"

Namun V, untuk pertama kalinya, tidak mengindahkan perkataan Jimin. Ia tidak menjawab pertanyaan Jimin dan malah meninggalkan kelas begitu saja.

Setelah berada di luar kelas, V langsung berlari ke suatu tempat.


BRAK!

.

V membanting pintu salah satu ruangan di BHS dan menahannya dengan sebelah kakinya.

"Virus yang muncul tepat saat programku seharusnya bekerja… Hanya kau yang kuperkirakan bisa melakukannya.. Jeon Jungkook."

Jungkook ada di sana, duduk di salah satu kursi ruang rapat OSIS, dengan laptop yang menyala di hadapannya.

"Maaf.. Aku melukai harga dirimu.", kata Jungkook dingin.

"Tindakanmu sia-sia saja, kecuali kau membungkamku dan membunuhku.", kata V sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celananya. "Aku akan ke ruang siaran dan membeberkan semuanya!"

Baru V membalikkan badannya, hendak keluar dari ruang rapat OSIS, Jungkook menginterupsi. "Nggak apa membeberkan informasi yang kau dapat secara ilegal itu?"

V membalikkan badannya lagi untuk menghadap Jungkook.

"Pengimpor reptil, daftar nama pet shop, mengakses komputer utama sekolah… Familiar dengan itu semua? Perlu aku buktikan?", lanjut Jungkook dingin.

"Aku nggak meninggalkan jejak.", kata V tenang. "Lagipula, yang baru saja merusak semua komputer sekolah itu kamu, kan?"

"Nggak semuanya, kok.", kata Jungkook sambil tersenyum tipis.

V membungkam mulutnya. Sial, si Jeon itu..

"Baiklah, aku mundur sekarang. Aku nggak mau terluka parah karena baku hantam denganmu. Tapi, kenapa kamu melindungi yeoja itu? Dia kan ingin menyakiti Minnie.."

Karena Jungkook hanya diam saja, V bertanya lagi. "Tolong jelaskan satu hal. Kau ini musuh Minnie, atau teman?"

Jungkook bangkit dari posisinya. "Kalian yang membuat pernyataan perang, bukan?—"

Jungkook memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. "—Berarti, aku musuh."

"Hm, aku mengerti.", kata V lalu ia pun keluar dari ruangan itu dan menutup—membanting—pintunya.

.

Menyebalkan! Ternyata dia penuh semangat tanding!

Aku salah mengira Jungkook nggak akan bertindak!


Selang beberapa detik V meninggalkan ruang rapat OSIS, Sanha keluar dari persembunyiannya di dalam ruangan itu.

.

"Kenapa melindungiku?", tanya Sanha dengan ekspresi datarnya. "Padahal, kau nggak peduli padaku. Kau.. cuma memanfaatkan perasaanku."

Sanha mulai meneteskan air mata. "Tapi nggak apa. Kelak, kau akan berpaling padaku. Karena aku percaya, orang yang paling dekat denganmu.. cuma aku."

Jungkook berjalan mendekati Sanha, masih dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku.

"Aku.. benci anak itu!", lanjut Sanha. "Kalau begini terus, entah apa yang akan kuperbuat pada anak it—"

BUK!

Sanha tak dapat melanjutkan ucapannya karena Jungkook tiba-tiba saja memukul tembok yang ada di belakangnya. Membuat ia merapat ke tembok dalam kungkungan Jungkook.

"Selanjutnya..", kata Jungkook sambil memandang tembok. "Kalau berani menyentuh Park Jimin lagi…", Jungkook beralih menatap Sanha. "Kau akan kubunuh."

Sanha terkejut melihat Jungkook seperti itu. Sorot mata Jungkook seperti hendak benar-benar membunuhnya.

Ia pun terduduk lemas di lantai setelah Jungkook pergi meninggalkannya seorang diri di ruangan itu.


Besoknya..

.

Sekarang sudah memasuki bulan Desember. Berarti, peperangan antar geng sudah berjalan selama dua bulan.

.

Jimin berjalan dengan tenang di gerbang utama BigHit School bersama V. "'Grey' bertambah, ya!"

"Ya, berkat usaha dan strategi rat association Yugyeom, anak-anak klub olahraga semua jadi 'Grey'. Banyak yang 'gak puas sama sistem sekarang, sih. Jadi mudah mengajak mereka bergabung."

"Tapi kebanyakan namja yang bergabung. Aku juga ingin yeoja.. Ah! Itu Sanha noona.", Jimin melambaikan tangannya, "Sanha noona! Eh?"

Jimin terkejut ketika mendapatkan death glare dari Sanha alih-alih sapaan hangat seperti biasanya.

"A.. anu.. Noona?"

Sanha tidak mengubris ucapan Jimin dan meninggalkan gerbang sekolah dengan langkah yang dipercepat.

"T.. tadi itu, Sanha noona, kan?", Jimin sampai shock karena baru kali ini ia melihat ekspresi Sanha seperti itu.

V tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jimin.

.

Hm.. jangan-jangan, Jungkook menegurnya sampai-sampai ia nggak bisa memakai topengnya lagi.

Hehehe.

V langsung menyeringai setelah memutuskan bahwa Sanha sedang dalam emosi yang tidak stabil.

Mungkin masih bisa menarik Sanha jadi 'Grey'.

.

"Minnie~"

Jimin menoleh ke arah V, masih dengan muka terkejutnya.

"Aku nggak akan turun tangan lagi. Untuk yang terakhir ini, Minnie yang berusaha, ya~", kata V sambil menepuk kedua bahu Jimin.

"Hee?!"


"Seharian ini tolong terus dekati Sanha. Nggak peduli apapun yang akan dia katakana padamu. Pokoknya tempeli terus Sanha, ya, Minnie~"

.

Kenapa V menyuruhku seperti itu? Dan kenapa mesti hari ini?

Aku nggak 'ngerti..

Ah, itu Sanha noona. Sepertinya moodnya sedang bagus.

.

Jimin pun memutuskan untuk menghampiri Sanha ke dalam kelas 2-A, ketika dilihatnya Sanha sedang bercengkrama dengan salah satu teman sekelas 'White'-nya.

"Sanha noona, annyeong~!"

Sanha langsung berbalik menghadap Jimin dengan ekspresi neraka.

"Kyaa! Per-permisi!", kata Jimin sambil berlari ke arah pintu.

.

Kenapa?! Padahal kemarin sikapnya biasa saja.

Apa aku berbuat kesalahan padanya?

Hm.. Alasan Sanha noona marah..

Kalau ada hal yang membuat Sanha noona marah…

.

Jimin berlari ke arah kelas 1-A.

.

"Pasti dia penyebabnya!", seru Jimin ketika berpapasan dengan Jungkook.

"Apaan, sih?", tanya Jungkook dingin.

"Ayo ikut!", kata Jimin sambil menarik lengan Jungkook.

"Mwo?!"

"Sudah, ikut saja!"


Di taman belakang BigHit School

.

"Sikap Sanha aneh?", kata Jungkook, mengulang ucapan Jimin kepadanya tadi.

"Iya! Tatapannya itu loh, garang sekali..! Seperti hendak membunuhku! Tapi, aku nggak mengerti alasannya. Dan satu-satunya penyebab yang bisa kupikirkan, ya, cuma kamu, Jungkook."

Jungkook diam saja dan tidak menanggapi ucapan Jimin.

"Semua orang di sekolah bilang, Jungkook nggak terlalu peduli pada orang lain, tapi baik padaku..", lanjut Jimin sambil menundukkan wajahnya yang agak bersemu merah. "Omongan itu pasti sampai ke telinga Sanha noona. Lalu, dia jadi salah paham.."

Setelah dirasa dapat mengontrol semburat malu di wajahnya, Jimin pun mendongak menatap Jungkook. "Jadi, Jungkook harus beritahu Sanha noona kalau dia cuma salah paham."

"Nggak mau.", kata Jungkook sambil berkacak pinggang.

"Hee?!"

"Kenapa aku harus memberitahu dia? Kenapa kau nggak bilang sendiri saja?"

"Loh, Jungkook kan pacarnya Sanha noona..?"

"Ha?! Kami 'gak pacaran!", bentak Jungkook.

"Eh, tapi V bilang Sanha noona 'ini'-nya Jungkook.", kata Jimin sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke muka Jungkook.

Jungkook menatap jari kelingking Jimin dengan malas. "Seenaknya saja!"

"Oh.. jadi bukan, ya? Tapi, kamu juga nggak menyangkalnya, kan? Pantas Sanha noona jadi salah mengira.", kata Jimin. "Aku nggak mau dibenci oleh Sanha noona. Jadi, Jungkook harus tegas bilang kalau itu salah paham."

Jungkook yang sudah kepalang kesal akhirnya berkata, "Kau benar-benar idiot, ya?!"

"Apa?!"

Jungkook membalikkan badannya, ia tidak mau lagi memandang Jimin, untuk saat ini. "Di dunia ini, orang tetap bisa saling salah paham walau sudah berusaha sekeras apapun. Pikiran ingin disukai semua orang adalah pikiran yang keliru."

"Wajar, kan, kalau ingin disukai oleh orang yang kita sukai? Aku suka pada Sanha noona, dia baik padaku. Dan aku pikir, jika ada komunikasi, nggak akan terjadi salah paham di dunia ini."

"Munafik.", kata Jungkook dingin. "Sifatmu yang seperti itu.. amat memuakkan."


"Eh, Minnie. Sudah? 'Gimana hasilnya?", tanya V ketika Jimin kembali ke kelas 1-C.

BRAK!

Namun Jimin malah menggebrak mejanya. "Apa-apaan, sih, si muka datar Jeon itu?! Kenapa dia selalu mengataiku?! Kami jarang bicara, tapi dia sok tahu banget soal aku! Meskipun katanya dia teman masa kecilku, aku 'gak ingat, tuh!"

Kok jadi soal Jungkook..? "Tenang, Minnie, tenang..", kata V sambil mengelus-elus rambut Jimin.

.

Jungkook itu.. 'musuh'. Tapi, nggak terlalu berasa seperti musuh..

Selalu berkata dingin. Meledekku 'otak kosong', 'bodoh', dan 'idiot'.

Tapi juga baik kepadaku.

Tadinya kupikir, kalau peperangan ini selesai, aku bisa berteman dengan Jungkook

Hah.. rasanya, syok sekali dibilang munafik oleh Jungkook..

.


.

"Hm.. Karena itu… aku ingin tahu.. kenapa Sanha noona sangat marah padaku..", kata Jimin ketika ia menghampiri Sanha lagi di kelas 2-A.

Namun, bukannya menjawab pertanyaan Jimin, Sanha malah memalingkan wajahnya jadi menatap whiteboard setelah puas memberikan death glare-nya pada Jimin.

"Sanha noona! Noona salah paham soal hubunganku dengan Jungkook, kan?", Jimin melanjutkan karena Sanha tetap diam, tidak berkomentar apapun tentang ucapannya. "Hubungan kami nggak seperti yang noona bayangkan, kok. Kami.. cuma teman semasa kecil, walaupun aku nggak ingat.."

"..kan."

"Eh?", Jimin senang karena akhirnya ia mendengar suara Sanha lagi. "-kan... apa noona?"

Sanha berdiri dari kursinya dan membalikkan tubuhnya menghadap Jimin lagi. "Aku bilang, MEMUAKKAN! Baru lihat wajahmu dan dengar suaramu saja aku jadi kesal! Pergi kamu! Cepat pergi dari hadapanku! Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di depanku!"

Seisi kelas 2-A terdiam, karena itu adalah ekspresi marah Sanha yang pertama, dan terhoror, yang pernah dilihat mereka.

Jimin pun meneteskan air mata karena ia tidak menyangka akan dibenci Sanha sebegitu dalamnya. "Ma-maaf..!"

Sanha langsung duduk lagi di kursinya dan tidak melakukan apa-apa setelahnya.

Terdengar bisik-bisik dari anak-anak kelas 2-A.

"Tadi.. yang teriak.. Sanha, kan?"

"Masa, sih? Emang dia orangnya seperti itu, ya?"

V yang sedari tadi memperhatikan dari luar kelas pun tersenyum licik.

Fufufu. Nona Yoon jatuh ke bumi!

.


Sorenya, di atap BigHit School

.

Jimin menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas atap. Ia sedih karena tadi siang dibentak Sanha.

.

Aku dibenci Sanha noona.. Entah apa alasannya, tapi aku dibencinya..

Sanha noona begitu lembut. Mungkin, tanpa sadar, aku melukai perasaannya..

."Hei."

"Hei."

Suara seseorang membuyarkan lamunan Jimin.

Jimin menoleh dan mendapati Sanha ada di sebelahnya, sambil menyandarkan tubuhnya juga di pagar.

"Apa kamu pernah punya sesuatu yang sangat kamu inginkan? Begitu inginnya, sampai-sampai nggak masalah meskipun harus pakai cara kotor dan menjerat orang yang berarti bagimu?", Sanha menoleh ke arah Jimin dengan wajah datarnya. "Pernah nggak?"

"Ah, ng.. Em..", Jimin jadi terbata-bata karena terlalu terkejut dengan kedatangan dan pertanyaan Sanha yang tiba-tiba. "Aku.. nggak butuh hal yang hanya bisa kudapat dengan menjerat orang yang berarti bagiku."

"Huh, munafik!"

"..Mwo?", Jimin terkejut.

I-ini yang kedua kalinya hari ini.. Kenapa dua orang itu kompakan sekali..?! Jungkook dan Sanha noona sama saja.

"Kamu bisa bilang begitu karena belum pernah sangat menginginkan sesuatu..", lanjut Sanha. "Waktu kelas 6 SD, aku ditindas di sekolah.."

"Eh, Sanha noona ditindas?"

"Iya. Gara-gara namja yang ditaksir yeoja bos di kelasku bilang suka padaku", jawab Sanha santai. "Waktu itu aku masih polos, lemah, dan belum mengerti hidup. Jadi ketika ditindas, aku hanya menangis. Lalu, saat sedang dilabrak, tiba-tiba saja Jungkook datang. Ia memukul anak-anak yang menindasku dengan sapu yang dibawanya. Padahal waktu itu dia baru kelas 5 SD.."

Raut wajah Sanha menghangat ketika ia menceritakan kisah balik pertemuan pertamanya dengan Jungkook. "..Karena aku nggak punya teman, Jungkook jadi terlihat seperti pangeran berkuda putih di mataku. Aku langsung jatuh hati."

Jimin hanya melirik ke arah Sanha dengan tatapan heran. Jadi noona tipe princess Disney, ya..?

Sanha kembali ke wajah datarnya. "Tapi, nggak lama kemudian, aku menyadari kalau aku menyukai orang yang bermasalah. Waktu itu hari valentine dan ada satu yeoja yang memberikan cokelat buatannya sendiri pada Jungkook. Tapi Jungkook bilang 'Gak butuh.' Lalu membuang cokelat itu di hadapan yeoja yang memberikannya dan ia langsung pergi begitu saja. Umumnya, orang akan antipati. Benci. Atau Marah. Tapi, karena Jungkook bersikap seperti itu pada siapapun, dia justru jadi populer."

Sanha melanjutkan ceritanya sambil menerawang. "Lalu, saat aku kelas 1 SMP dan dia kelas 6 SD, aku memberanikan diri memberikan dia cokelat buatan sendiri di hari valentine—"

"Terima saja! Dibuang pun nggak apa! Tapi jangan di depanku. Sampai rumah, baru boleh kamu buang!"

"—Aku bilang seperti itu padanya. Aku terus memberinya hadiah valentine dan ulang tahun. Tapi, mungkin semuanya dibawa pulang dan langsung dibuang. Karena aku tahu, sejak kecil dia hanya makan masakan yang dibuat oleh asisten di rumahnya, karena penyakit super bersihnya itu.."

Sanha melanjutkan, "Lalu, suatu hari saat aku kelas 3 SMP dan dia kelas 2 SMP.. aku pernah memberanikan diri menembaknya. Tapi… dia bilang 'Merepotkan saja.' Dan pergi meninggalkan aku."

"Tentu saja aku sakit hati. Tapi, selama bersama mengurus OSIS di SMP, kami jadi bisa sering berbicara.. Aku juga sering mendengar omongan orang yang bilang kalau favorit Jungkook adalah aku, atau aku dan Jungkook diam-diam berpacaran. Jadi, aku pun memutuskan untuk menanyakan kejelasan hubungan kami padanya.—

"Ng.. Apa kamu merasa terganggu denganku?", tanyaku.

Dia menjawab, "Nggak."

—Aku terbuai oleh kata pendek itu. Padahal, sebetulnya aku tahu, dia 'gak peduli padaku."

Jimin memandang heran lagi ke arah Sanha. Lalu apanya yang jelas dari hubungan kalian?!

Sanha menghela napasnya pelan, lalu melanjutkan, "Sebenarnya, aku sudah lama tahu soal ini.. Nggak ada yang bisa membuka hatinya.", Sanha menoleh memandang Jimin dengan tatapan garangnya. "Kamu juga nggak akan bisa."

Lalu Sanha pun melangkahkan kakinya ke arah pintu, pergi meninggalkan Jimin seorang diri.

"Sanha noona!", Jimin memanggil Sanha karena menurutnya, Sanha memerlukan dorongan semangat. "Aku juga punya hal yang begitu kuinginkan tapi nggak bisa kudapatkan.. Dan aku nggak akan pernah bisa mendapatkannya. Kalau Sanha noona sih masih punya peluang."

Jimin mengacungkan jempol tangannya ke depan, "Sanha noona, fighting! Nggak ada namja yang nggak takluk kalau disukai Sanha noona.", kata Jimin ceria.

Sanha sempat terharu dengan ucapan Jimin, namun ia gengsi. "Jangan seenaknya bicara! Aku paling nggak mau dengar itu dari mulutmu!"

Sanha langsung berjalan dengan langkah cepat, ia tidak—belum—mau berbaikan dengan Jimin. Walaupun tak dapat dipungkiri, ucapan Jimin menyentuh hatinya yang dingin.

"Ah.. Aku benar-benar dibenci Sanha noona..", lirih Jimin ketika melihat pintu menuju atap dibanting oleh Sanha.


Setelah membanting pintu atap, Sanha berjalan menuju tangga. Namun, baru sampai anak tangga ke-5, ada suara yang sangat familiar menginterupsinya.

"Cokelatnya.. aku makan."

Sontak Sanha berbalik dan menemukan Jungkook sedang menyandar sambil bersidekap di tembok dekat pintu atap.

"Nggak aku buang. Aku makan semuanya.", kata Jungkook sambil berjalan mendekati Sanha. "Tapi, aku nggak bisa dijadikan objek seperti itu terus.." Jungkook masih berjalan terus, melewati Sanha. "Mian."

Sanha masih berdiri di tangga walau Jungkook sudah berjalan jauh. Ia terpaku mendengar penuturan Jungkook.

"Pembohong..!", rengek Sanha. "Cokelat itu pasti nggak dimakan! Aku lebih suka.. kamu jadi manusia dingin selamanya..", Sanha berjongkok dan menangis tersedu-sedu. "Jungkook bodoh!"


Besoknya..

.

"Sanha noona juga punya banyak masalah, ya. Membujuknya bergabung dengan 'Grey' di saat begini nggak akan efektif.", kata Jimin.

"Tapi, kita jadi bisa melihat hal menarik: sifat aslinya!", seru V ceria.

"Park Jimin!"

Jimin dan V menoleh ke arah orang yang memanggil Jimin.

"Uwaa! Sanha noona?!", Jimin berteriak karena masih trauma dibentak Sanha.

"Pagi!", sapa Sanha cerah. "Kemarin aku bertingkah aneh karena kesal.. Maaf, ya, aku sudah bicara kasar."

Mata Jimin berkaca-kaca. Ia menggenggam kedua tangan Sanha dan berkata, "Ah.. Sanha noona yang biasanya.."

.

Minnie itu, ya. Polos atau bodoh, sih? Padahal baru juga kemarin dibentak mati-matian sama si ular itu.. Benak V.

.

Setelah berdamai, Jimin pun menyadari pakaian yang dikenakan Sanha bukanlah seragam 'White', melainkan..

"Loh, Sanha noona pakai baju bebas?!"

Sanha tersenyum manis lalu berkata, "Mohon bantuannya."

Jimin menjabat tangan Sanha lagi lalu menggoyang-goyangkannya, saking senangnya. "Ternyata Sanha noona bisa mengerti juga! Aku senang! Senaaang sekali! Ah, aku mau memberitahu yang lain.", lalu Jimin pun berlari secepat angin ke arah dalam sekolah.

Setelah kepergian Jimin, Sanha pun kembali ke wajah datarnya.

"Berubah mood, nih?" Goda V.

Sanha menjawab tanpa menoleh. "Kamu memang mengancamku, tapi, ini kemauanku sendiri..", pipinya agak bersemu ketika mengatakan itu.

V menyeringai senang. "Ini caramu bilang 'pisah' sama Jungkook, ya? Yah.. terserah kau saja, sih."

Sanha dan V pun memasuki sekolah bersama-sama.

"Hei, nggak apa si bodoh itu yang jadi ketua 'Grey'?", tanya Sanha.

"Justru itu kelebihannya, kan?", jawab V santai.

"Iya, sih."

.

.

Kabar bergabungnya Yoon Sanha, sang ratu 'White', menjadi anggota 'Grey' segera menyebar ke segala penjuru sekolah dan membuat gempar banyak pihak.

Seperti Park Jinyoung, sang wakil ketua OSIS.

"Apa yang dipikirkan rubah betina itu?!"

Suga, atau aku lebih suka memanggilnya Min Yoongi mulai sekarang, sang ketua 'Black'.

"Ratu 'White' takluk? Mereka boleh juga.."

Dan Jeon Jungkook, manusia dingin yang merupakan ketua OSIS sekaligus ketua 'White'.

"…"

Yang tentu saja hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa.

Aku akan terus berjuang.. untuk merevolusi sekolah ini!

.

.

TBC

.

.


Wiiii panjang banget chap ini sumpeh.. 4k+ wakaka

yoonmin gak ngapa2in kok. kecewa? kecewa ya? mau aku bikin ngapa2in gak? WUAHAHAHAHA

aku tambahin tokoh 'kenalan'nya suga, jessica snsd. soalnya pas bgt, noona2 kalem gmn gitu. dan dia tinggal bareng (?) sama suga. huahahahaha

di sini sanha putus (?) sama kukie [jadian aaja kaga] hahaha [sanha nya baperan sih]

.

Bales review ah~ pyonggg

.

Request vhope tapi v jadi uke? oh tidak, tidak di ff ini yayangku. di sini v seme huhuhu mianheee

.

aku kasih daftar uke dan seme di ff ini yak.

UKE!jimin,hoseok,jin(?)-masih belum ditentukan

SEME!jungkook,suga,v,namjoon

jadi selain itu aku gak bisa yaah, di ff ini aja kok. [mungkin di ffku yg lain posisi mereka berubah.]