*Banyak mengandung konten typo dan ketidakkonsistenan penyebutan karakter #Apalah *
.
.
.
.
.
LINE!
Min Ra tergopoh menutupi speaker ponselnya. Ia lupa kalau belum men-silent notifikasinya, jika saja Jun-sseosangnim mendengarnya, maka selesai sudah riwayat gadis itu di kelas ini.
Ia baru bisa menghela nafas saat dilihatnya Jun-sseosangnimhanya melirik sekilas ke belakang, lalu kembali sibuk mencatat di papan tulis. Ia pun segera men-turnoff kan volume ponselnya.
'Choi Youngjae : Aku mengantuk. Bangunkan aku saat gurumu keluar kelas'
Min Ra baru saja hendak menoleh ke belakang untuk mengomel pada teman lelakinya itu. Tapi baru menolehkan kepala, Jun-sseosangnimsudah melempar kepalanya dengan sebuah kapur.
"Apa yang ingin kau lakukan, Jung Min Ra-sshi?", tanyanya tajam.
Min Ra mengusap keningnya, berusaha menghilangkan serpihan benda putih yang baru saja mendarat mulus disana, "Jeosonghamnida, sseosangnim. Aku hanya ingin memutar tubuhku beberapa kali untuk meluruskan punggungku", jawabnya berbohong.
"Sebaiknya kau berkata jujur. Kau tahu, aku sangat tidak suka siswaku tidak memperhatikan pelajaran.", ancam sang guru, "Sekarang perhatikan ke depan!".
"ye..", Min Ra hanya mengangguk lesu.
Layar chatnya dengan Youngjae bertambah satu baris sekarang, sederet huruf K hangul mampir di mata gadis itu, dan membuatnya berdecak kesal.
'Jung Min Ra : Jangan tertawa. Dan berhentilah tidur di setiap mata pelajaran!'
Hubungan Min Ra dengan Youngjae nampak mulai membaik beberapa bulan belakangan ini. Youngjae memang masih bersikap tak acuh, tapi ia sudah tak sedingin awal bertemu dulu.
'Choi Youngjae : Diamlah'
Sedetik kemudian, Youngjae sudah bertopang dagu dan mulai mengatur nafas tidur tanpa diketahui gadis didepannya.
Min Ra amat sangat kesal, bagaimana mungkin anak itu bisa tidur di setiap jam mata pelajaran, tapi tidak pernah ketahuan?
Garis bawahi, TIDAKPERNAHKETAHUAN.TIDAKPERNAH!Sedangkan Min Ra? Baru menoleh saja sudah dilempar kapur.
Bel istirahat baru saja berdering saat sang guru Sastra mengakhiri jam pelajarannya. Setelah memberi beberapa tugas rumah, Jun-sseosangnim itu pun melangkah keluar dari kelas.
"Youngjae-ya, kau mau ke kantin? Atau kita disini saja? Kau kan tidak mencatat pelajaran sastra sama sekali tadi", Min Ra membereskan buku-bukunya.
Yang diajak bicara tak menjawab. Bahkan samar-samar, Min Ra dapat mendengar dengkuran halus dari lelaki itu.
Gadis itu mengangkat bahu, "kurasa itu artinya kita akan ke kantin", usai bicara, ia menghampiri Youngjae dari belakang, memegang bahunya, lalu menarik laki-laki itu untuk bangun dan bersandar di kursi.
Youngjae mengerjapkan matanya dan berkata parau, "Yaa... Apa yang kau-HEI!", Ucapan lelaki itu terputus saat tiba-tiba saja Min Ra menarik lengannya untuk bangun dan menyeretnya berlari ke kantin.
"Aigoo, apa anak itu tidur lagi di kelas?", sapa Jr saat menghampiri Min Ra dan Youngjae di meja kantin.
"Tentu saja. Memangnya akan ada hal lain yang bisa ia lakukan di kelas selain tidur?", kali ini suara Mark yang menjawab.
"Kalian hanya bertiga saja?", Min Ra mengedarkan pandangannya pada Jr, Mark dan juga Jackson yang baru saja meletakkan nampan makannya ke meja.
"Oh, maksudmu, 'apa kalian tidak bersama Jaebum?', begitu?", ledek Jackson terbahak-bahak.
Min Ra memutar bola matanya malas.
"bercanda. Ia sedang menerima telpon dari Jinyoung - ahjussi.Mungkin sebentar lagi ia akan kesini. Omong-omong, apa kau akan memakan ini? Aku suka sekali makanan ini", kata Jackson mengulurkan sumpitnya ke nampan Youngjae.
'Tuk!'
Youngjae mengetukkan sumpitnya ke tangan Jackson kesal, "Makan saja milikmu, hyung. Jangan mengambil milikku, aku lapar", omelnya.
"Eii, Youngjae-ya, Kerjamu seharian ini hanya tidur. Bagaimana mungkin kau selapar itu hanya karna tidur?!", omel satu-satunya gadis yang duduk disana, Min Ra.
"kau. Jangan menceramahiku. Berisik sekali", Youngjae menunjuk gadis dihadapan nya dengan ujung sumpit.
"Belajar saja dulu yang benar. Baru kau larang aku berceramah".
"Nilai sejarahku yang tidak belajar itu bahkan masih lebih tinggi dari nilaimu yang rajin belajar"
"Benarkah? Oh, maksudmu yang selisih 0,3 poin itu? Tapi seingatku, ujian tengah semester kemarin, nilai keseluruhanmu berada satu peringkat dibawah nilaiku"
Skak mat.
Youngjae menatap mata gadis dihadapannya kesal, sementara yang ditatap hanya mengerdikkan bahu dan mengedipkan sebelah matanya.
"1-0, untuk Jung Min Ra! Yey!", Jr mengangkat tangan Min Ra tinggi ke atas.
"Mansae!"
"Ei, Jackson-ah. Lihat itu, nasi di mulutmu berawuran di meja", Mark menatap malas ke arah laki-laki di seberangnya yang baru saja berteriak keras.
Jackson terkekeh kecil.
"Lihat pembalasanku nanti", Youngjae menarik sudut bibirnya sedikit naik, lalu mulai makan.
Ya, seperti inilah hubungan mereka. Saling menikam di depan, tapi juga saling mendukung dari belakangnya. Semuanya sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu tiap hari, bahkan bagi mereka, itu rutinitas wajib.
"ah, hyung. Urusanmu sudah selesai?", sapa Jackson begitu melihat Jaebum duduk dan meletakkan nampan makannya.
Jaebum mengangguk.
"Apa yang dikatakan Jinyoung ahjussi?", tanya Mark penasaran.
" Tidak ada. Hanya memberitakan album terakhir kita yang habis terjual hari ini. Dan tentu saja, memintaku memastikan bahwa Jung Min Ra kesayangannya makan dengan lahap siang ini", Jawab Jaebum mengusap kepala gadis di sampingnya pelan.
Min Ra menepis tangan Jaebum, "Benarkah? Wah, syukurlah album kalian memang bagus!".
"yap. Berkatmu juga, nona cantik", kata Mark sambil memasukkan nasi ke mulutnya.
Jr berdiri dari duduknya dan menghampiri Min Ra dari belakang, dipeluknya leher gadis itu dan berkata, "Terimakasih karna sudah mau menjadi model bagi album kami", katanya sedikit berbisik di telinga gadis itu.
Jaebum memukul kening Jr, "Yak, Jinyoung-ah. Jangan memeluknya di depan umum, bodoh. Apa kau ingin fansmu menyerang gadis ini? Eii.. ".
"eum, sebenarnya tak masalah. Semenjak fansmu melihatku di mv album terbaru kalian, mereka tahu bahwa aku juga trainee di JYPE. Jadi mereka akan mentolerir keberadaanku di dekat kalian", tukas Min Ra, "Sepertinya sih..", tambahnya lirih di akhir kalimat.
"Apa itu artinya aku boleh memelukmu lagi?", Jr menyeringai lebar dan merentangkan tangannya. Ia hampir saja memeluk Min Ra untuk kedua kalinya jika saja Mark tidak menahan dada Jr dan menarik nya untuk kembali duduk makan.
"Berhenti lah mengoceh dan habiskan makananmu", kata laki-laki tertua di meja itu, Mark.
"Youngjae-ah, ku dengar Shu-sseosangnim tidak masuk hari ini. Artinya kita akan pulang cepat, apa kau mau berjalan-jalan denganku?", ajak Min Ra, "Hanya ingin mengajakmu menghabiskan waktu kosong sambil menunggu para hyung-mu itu selesai sekolah saja".
"ah, baiklah. Ralat. Maksudku, sambil menunggu oppadeul menyelesaikan jam sekolahnya", tambah gadis itu. Jika saja Jaebum tidak melirikkan matanya dengan tatapan menyindir itu, Min Ra tidak akan mau repot-repot mengulang ucapannya seperti ini.
Jaebum menyeringai kecil.
"Tidak. Kenapa juga aku harus menemani gadis berisik sepertimu"
"Youngjae-ah.."
"Aku ingin tidur saja di kelas"
Kali ini Min Ra mengalah. Mood Youngjae nampak sedang tidak baik kali ini (atau memang tidak pernah baik?).
"Kau ingin ku temani?", Mark kini nampak kasihan pada Min Ra. Matanya menatap gadis itu lekat seolah khawatir.
Buru-buru Min Ra menggeleng, "anieyo,gwaenchana.Mianhae,oppa", katanya tersenyum.
"mianhae-wae? "
Min Ra hanya tersenyum kecil tak menanggapi pertanyaan Mark.
.
.
.
.
.
.
.
" Apa kau harus kesini sendirian?", sapa sebuah suara.
Min Ra menoleh, "Jinyoung-ah...".
"Kau tahu atap bukan tempat yang bagus untukmu. Anginnya terlalu kencang", kata Jr sambil mendekati gadis itu. Tangannya mengulurkan sebuah jaket tebal.
Diterimanya jaket tersebut dari tangan Jr, "Gomawo".
Jr mengangguk dan tersenyum manis. Ia mengambil posisi duduk di beranda atap sekolah bersama gadis berambut panjang di sisinya.
"kau tidak ada jam pelajaran?"
"ada"
"Lalu kenapa kau malah kesini?"
"Aku sedang malas", jawab Jr sekedarnya. Tangannya meraih jaket di pangkuan Min Ra dan menyampirkan jaket itu perlahan di bahu sang gadis, "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?".
Min Ra mengerdikkan bahunya kecil, "Tidak ada".
"Kau merindukan Indonesia?"
"Tidak juga", jawab Min Ra, "yah, mungkin aku merindukan Tiara, sedikit", kekehnya.
Hening.
"Kau sudah bertanya pada Jaebum-hyung mengenai hal itu?"
Min Ra menoleh bingung.
"kau tahu? 'itu' loh", Jr menekankan kata ITU di kalimatnya.
"oh...",gumam Min Ra, "Tentang kenapa ia memintaku menjadi trainee? Tidak. Belum"
"Min Ra-ya.."
"Eum?"
"Jeongmal,gomawo..."
.
.
.
Flashback POV
"Mia?"
Gadis yang merasa namanya dipanggil itu menengok ke belakang mencari sumber suara, "ya? Maaf, anda siapa?".
Laki-laki yang memanggilnya tersebut mengulurkan tangannya, "Park Jinyoung imnida".
"Park Jin-? Oh yaampun! JYP?", serunya panik.
"Yup. Do you have a minute?"
Setelah mengangguk perlahan, Mia mengikuti langkah laki-laki dihadapannya ke arah sebuah mobil hitam. Apapun itu, ia harus cepat menyelesaikan urusan ini,atau ia akan terlambat mengikuti upacara kelulusannya pagi ini.
"kau mengenalku?"
"ah, ya. Tentu saja"
"baiklah. Aku akan langsung bicara tampa mengenalkan diri kalau begitu", kata pria bertubuh besar itu, "Im Jaebum secara pribadi memintaku untuk merekrutmu sebagai trainee"
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"APA?"
JYP mengangguk yakin, "aku sudah mengecek semua latar belakangmu. Kau tinggal seorang diri, sekarang duduk di kelas 9 dan sedang akan menghadiri upacara kelulusan.", katanya tanpa ditanya, "Setelah ini aku akan mengurus visa dan pergantian kewarganegaraanmu. Usai upacara nanti, siapkan segala hal yang kau butuh bawa. Ku tunggu kau di bandara jam 4 sore".
"Tunggu - - apa? Aku bahkan belum menjawab apapun! Kenapa Jaebum memintaku untuk - - - ", seru Min Ra berusaha mengumpulkan kesadaran nya.
"Kau boleh turun sekarang. Jam 3 nanti, supirku akan menjemputmu di rumah"
"Kau - - apa? Hei-!", kata-kata gadis itu tak mampu diselesaikan akibat dorongan tangan JYP dk bahunya, memaksanya keluar dari mobil hitam tersebut.
Seoul, 20-07-15
"Mia-ya, tolong jemput Hanbul-ie sore ini di sekolahnya ya.", kata JYP di telpon.
"Dengan siapa?"
"... "
" kenapa harus aku yang menjemputnya? Aku tidak mau berduaan di mobil dengan Om Jiho. Lagipula, Yang benar saja. Om Jiho sudah tua, ia takkan mampu fokus jika membawa mobil saat hari mulai gelap", jawab Min Ra saat JYP mengatakan dengan siapa ia akan pergi.
"..."
"Aku bahkan tak mengenalnya"
"..."
"Bukan! Bukan Hanbyul yang tidak ku kenal. Tapi, siapa tadi? Jun-yar?"
"..."
"Yak, jangan bercanda. Park Jinyoung itu kan namamu. Apa maksudmu kau ingin mengajakku dan Hanbyul berjalan-jalan?"
"...! ..."
"Oh, jadi, keponakanmu namanya Park Jinyoung juga? "
"..."
"baiklah. Anyeong"
"Hanbyul-ah, kau benar-benar tak mau duduk di belakang?", bujuk seorang pemuda sambil menggoyangkan bahu perempuan muda yang sudah duduk manis disamping supir.
Hanbyul kecil menggeleng, "Tidak. Min Ra eonniepasti akan mengomel terus menerus jika aku duduk bersamanya".
"yak! Aku takkan mengomel kalau kau tidak menggangguku!"
"Tapi jika bersama eonnie, aku ingin terus bercanda. Appatak pernah memberiku eonnie,wajar saja kan jika aku ingin bersama eonnie?!"
"arasseo,mianhae.Baiklah kau bisa duduk bersamaku sekarang", Min Ra akhirnya mengalah pada gadis yang umur terpaut satu tahun lebih muda itu.
Hanbyul menggeleng, "Tidak. Aku ingin sekarang eonnieberistirahat saja. Nanti bantu aku kerjakan tugas rumah ya".
Min Ra menghela nafas kesal dan menggangguk, membuat gadis didepannya tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan di belakang saja kalau begitu", ucap pemuda tersebut sambil duduk di samping Min Ra.
Nafas Min Ra sedikit tertahan. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Jinyoung yang dimaksud oleh JYP adalah Jr, member Got7. Meskipun Min Ra tidak tergila-gila dengan member yang satu ini, tetap saja, duduk bersebelahan dengan boyband idolanya adalah sesuatu yang tidak mampu dibayangkan oleh gadis itu. Sebenarnya, ia pun tahu, cepat atau lambat, ia pasti akan bertemu dengan Got7. Tapi ia tak menyangka akan secepat ini.
"Jadi, dimana rumah yang kau tempati? Apa kau tinggal bersama Hanbyul?"
Min Ra menoleh, "anieyo.Aku tinggal lima blok dari rumah Jinyoung ahjussi,Hanbyul memang tinggal bersamaku. Apa yang ia harapkan dari tinggal dirumah dengan appanya yang super sibuk itu", jawab Min Ra pelan sambil membuka buku dan membacanya.
Jr tertawa kecil, "Benar juga. Lagipula sepertinya Hanbyul sangat menyukaimu".
"Kau sudah dengar alasannya kan"
"Tapi biasanya tak semudah itu"
Min Ra mengalihkan pandangannya dari buku, "Maksud mu?".
"Jinyoung ahjussibukan tidak pernah berusaha mencarikan Hanbyul ibu atau kakak. Dia hanya, kau tahu? Tidak menerima segalanya dan menolak"
"aku tidak menolak!", keluh Hanbyul dari kursi depan.
"kalau kau tak menolak, lalu kenapa kau terus menerus mengacuhkan mereka dan bersikap kasar, pabo" tukas Jr.
"Mereka menyebalkan", jawab Hanbyul sekedarnya. Tangannya merogoh-rogoh ke dalam tas ranselnya, "eonnie,kau lihat headphone ku tidak?".
"Kau meninggalkannya di meja makan pagi ini.", Min Ra melepas headphone yang melingkar di lehernya, "ini. Pakai milikku".
Hanbyul meraih headphone dari tangan Min Ra sambil tertawa, "ne,gomawoeonnie.Saranghae~".
"Nado", jawab Min Ra lirih.
Jr tersenyum tipis, "ia bahkan mengucapkan saranghaepadamu"
"Bukankah itu biasa?"
Jr menggeleng kuat, "bahkan semua kakak tiri yang pernah Jinyoung ahjussiangkat selalu mengucapkan hal yang sama pada Hanbyul tanpa pernah dijawab olehnya", kata laki-laki itu setelah yakin Hanbyul tak mendengar ucapannya. Gadis itu menaik turunkan kepala mengikuti nada lagu yang bermain di telinganya.
"jeosonghamnida, boleh aku tahu apa yang terjadi pada keluarga Hanbyul?", tanya Min Ra hati-hati, "maksudku, keluarga kandungnya".
"Mereka meninggal", jawab Jr merendahkan suaranya satu oktaf.
Min Ra diam menunggu kelanjutan kata-kata dari Jr.
"Ku rasa saat itu musim panas. Eomma,eonniedan juga oppadeulnya pergi berlibur ke Bali. Hanbyul dan Jinyoung ahjussikebetulan saja tidak ikut. Ahjussi sedang sibuk mempersiapkan debut Wonder Girls, sedangkan Hanbyul saat itu masih sangat kecil, dan juga sedang sakit. Perjalanan mereka tak mungkin ditunda, mengingat itu minggu terakhir ketiga kakak Hanbyul liburan."
"Lalu?"
"Entah bagaimana ceritanya. Saat itu cuaca penerbangan nampak kurang baik..."
Jr tak melanjutkan ceritanya. Nafasnya tampak semakin berat.
"ah, tak perlu dilanjutkan. Aku tahu"
"kau tahu?"
"kurasa. Itu bersamaan dengan debut Wonder Girls kan? Seingatku memang saat sempat itu ku dengar ada pesawat dari korea menuju bali yang...", suara Min Ra menurun, "jatuh".
Jr mengangguk kecil, "butuh waktu yang lama untuk menenangkan ahjussi,bahkan entertainmentnya sempat hiatus untuk beberapa lama".
Min Ra hanya diam.
"ah, maaf aku jadi banyak bercerita seperti ini", Jr mendadak gugup. Merasa bersalah karna sudah mengalihkan Min Ra dari bukunya.
Min Ra tersenyum manis dan menggeleng, pertanda tak apa.
"Terimakasih sudah menjaga Hanbyul, Min Ra-ya", kata Jr lagi. Sebuah senyum terurai di bibirnya selagi ia mengenakan headphone di telinga nya dan mulai menyetel sebuah lagu. Ada gurat kelegaan disana.
"Jiho ahjussi,apa kau lelah?", tanya Min Ra khawatir. Bukannya Min Ra tidak tahu, tapi sejak tadi, ia memperhatikan mata sang supir yang terus mengerjap dengan keras diiringi dengan kerutan di dahinya yang memang sudah dipenuhi dengan keriput usia.
"a-aku tidak apa. Kau istirahatlah", jawab Jiho ahjussi.Matanya sama sekali tak berpaling dari jalanan. Ia nampak berusaha keras memfokuskan diri pada kegelapan.
"Baiklah, aku akan – ", nafas Min Ra mendadak tercekat, kedua matanya melebar panik,
" AHJUSSI, AWAS!"
