Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – ketua OSIS BigHit School – Ketua 'White'
Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'
Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'
Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'
Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'
Cha Eunwoo as Yutaka Iijima(16yo) – 'Grey'
Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo) – 'Grey'
Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – pengurus OSIS BigHit School – 'Grey'
Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..
Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's ….
Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS, GOT7, ASTRO, and SNSD member belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Chapter 12: Suspicion
.
.
"Semua, tetap di tempat!", seru polisi yang baru tiba. "Jangan bergerak!"
"Gawat!"
"Kabur!"
Seru beberapa orang dari komplotan geng itu.
Terjadi kekacauan di depan gerbang BigHit School. Di mana komplotan geng itu dan beberapa siswa BHS berusaha melarikan diri.
"V, cepat bawa Jimin pergi!", teriak Suga.
V langsung menarik tubuh Jimin menjauh dari kerusuhan. Namun tangan Jimin masih menarik lengan Suga.
"Cepat, kamu juga!", teriak Jimin.
"Ayo, Minnie!"
"Tapi, Yoongi.."
"Sudah, ayo!"
Jimin pun menyerah dan bergerak menjauh, pasrah ditarik V.
Keadaan.. jadi benar-benar parah.
.
"Lalu, Suga 'gimana?"
"Dibawa polisi."
"Ditahan? Bukan dibawa ke rumah sakit? 'Kan dia dipukuli.."
"Terus nasibnya 'gimana? Nggak sampai diadili, kan?"
"Karena dia sendirian sekaligus menjadi korban, kurasa sanksinya nggak akan berat."
Sedari tadi, anggota 'Grey' membicarakan Suga. Sedangkan Jimin diam saja, karena ia terlalu khawatir hingga tidak dapat berkata apa-apa. Pikirannya melayang ke pada Suga yang babak belur, Suga yang dipenjara, dan Suga yang dapat melepaskan diri dari tali pengikatnya..
Tunggu. Tali itu dipotong oleh pisau. Setahuku, Yoongi nggak bawa pisau.
"V.", panggil Jimin.
"Eoh, waeyo, Minnie?"
"Tunjukkan… video tadi."
"Kamu pasang video recorder?", tanya Yugyeom.
"Iya. Untuk jaga-jaga seandainya gerombolan preman itu sampai menerobos masuk ke sini. Video ini bisa jadi bukti kuat.", kata V sambil menyalakan handycam-nya.
"Oh, begitu.", kata Yugyeom.
"Kalau dilihat dari waktu tiba polisi, kurasa yang melapor dan memotong tali pengikat Suga adalah orang yang sama.", kata V. "Ah, ada yang datang!"
Pada video itu terlihat siluet seseorang yang menghampiri Suga. Semakin lama siluet itu semakin dekat, lalu terlihat jelaslah siapa yang menghampiri Suga.
"Haa?! Jeon Jungkook?!", seru anggota 'Grey' yang sedang melihat video itu.
"Kenapa..?", tanya Jimin.
"Mereka bicara apa? Nggak kedengaran.", kata Yugyeom.
"Eh.. Loh? Yah.. Volumenya rusak!", seru V.
"Yah, sayang sekali..", kata Yugyeom.
"Wah! Dia mengeluarkan pisau!", seru V lagi.
"A-apa?! Jadi, Jungkook yang memotong tali Suga?!", teriak Jimin.
"Ah! Pisaunya.. Dia memberikan pisaunya pada Suga!", seru Yugyeom.
"Bodoh! Memberi senjata tajam pada si gila itu?!", seru V. "Apa tadi Suga pakai pisau?"
"Nggak, dia pakai tangan kosong.", jawab salah satu anggota 'Grey'.
"Syukurlah Suga masih punya akal sehat.", kata anggota 'Grey' lainnya, lega.
"Berarti Jungkook tahu situasi tadi?"
V membuka mulutnya, "Kuasa, dengan keributan seperti tadi, mana mungkin dia nggak tahu.."
"Sekarang dia masih di sekolah?", tanya salah satu anggota 'Grey'.
"Nggak tahu, tapi lampu OSIS masih menyala, sih.", jawab Yugyeom.
V teringat ketika ia sedang mengantarkan Hoseok, di persimpangan jalan ia melihat sosok Jungkook dan Suga sedang berbicara. V jadi curiga ada sesuatu diantara mereka berdua.
"Jangan bilang Jungkook kalau kita tahu soal ini, ya. Aku ingin menyelidikinya dulu..", kata V.
"Telat."
"Jimin baru saja lari menemuinya."
"Minnieeee…!", teriak V putus asa.
BRAK!
.
Jimin mebanting pintu ruang OSIS dan langsung mendamprat satu-satunya orang yang ada di sana.
"Kenapa kau membebaskan Suga?"
"Soal apa ini?", tanya Jungkook.
"Jangan berpura-pura. Ruangan itu dipasangi kamera video. Yang melapor polisi juga kamu, kan?!"
Ekspresi Jungkook mengeras. "Kamera video, ya.. Aku nggak sadar."
Jungkook bangkit dari kursi ketua OSIS-nya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Kalau begitu.. hubunganku dengan Suga.. sudah ketahuan, ya?"
"Hubungan?"
"Kamu sudah lihat videonya, kan?"
"Pengatur volumenya rusak. Kami nggak bisa dengar apa-apa.", kata Jimin polos.
Jungkook terkejut karena hampir saja ia kelepasan bicara.
"Kalian ada hubungan apa memangnya?", tanya Jimin.
"Nggak..", kata Jungkook sambil menutup mulutnya. "..Aku cuma menolong orang yang sedang dalam kesulitan. Wajar, kan?"
"Bohong! Kalau begitu, kenapa kamu memberinya pisau? Kamu tahu, kan, apa yang terjadi di gerbang?!"
Jungkook menatap Jimin dengan ekspresi termenjengkelkan yang pernah Jimin lihat dari wajah Jungkook. "Loh, kok menyalahkanku? Justru aku melenyapkan pengganggu, kan?"
Jungkook memutus kontak mata dengan Jimin lalu duduk di kursinya lagi dan menatap tembok. "Dengan begini, untuk sementara dia nggak akan bisa ke sekolah. Kalau dia nggak ada, kamu bisa leluasa bergerak, kan.."
"Maksudmu.. Kamu melakukannya untukku?", tanya Jimin.
"Kalau iya, bagaimana?", jawab Jungkook, masih sambil memandang tembok.
Jimin geram karena tindakan Jungkook sebelumnya, ucapan Jungkook sekarang, dan Jungkook yang tidak memandangnya saat berbicara. Jimin naik ke atas meja Jungkook lalu ia menarik kerah seragam Jungkook, hingga akhirnya Jungkook pun bertemu muka dengan Jimin.
"Kalau bicara tatap lawan bicaramu!", bentak Jimin.
Sedetik kemudian Jimin merasakan pusing di kepalanya. Mendadak ia merasa pernah melakukan hal ini. Ia merasa pernah membentak seseorang dengan kalimat yang sama, dan posisi tubuh yang sama pula.
"Eh? A.. aku pernah bilang hal seperti ini, ya?", tanya Jimin.
"Sudahlah, Minnie.. Percuma bicara dengannya. Dia bukan orang yang senang mengatakan isi kepalanya.", kata V yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu ruang OSIS.
Jimin melepaskan genggaman tangannya dari kerah seragam Jungkook, turun dari meja, lalu berjalan mendekati V.
Namun, sebelum Jimin benar-benar sampai, ia berhenti lalu berkata, "Kalau Suga sampai menusuk, atau ditusuk, dengan pisau itu…" Jimin menoleh kepada Jungkook, "Aku nggak akan memaafkanmu!"
Setelah berteriak seperti itu, Jimin pergi meninggalkan ruangan OSIS dan juga V yang masih setia berdiam di ambang pintu.
"Aku benar-benar nggak mengerti jalan pikiranmu..", kata V. "Tapi aku tahu satu hal. Kamu bilang Park Jimin adalah musuhmu. Padahal, itu bukan perasaanmu yang sebenarnya."
"Kenapa kau berpikiran begitu?", tanya Jungkook.
V melangkahkan kakinya mendekati Jungkook. "Berlutut menyembah demi orang lain hanya bisa dilakukan jika kau memiliki perasaan kuat pada orang itu.". V berhenti melangkah ketika jaraknya dengan meja Jungkook terpaut satu meter. "Itu kupahami setelah aku melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan demi melindungi Park Jimin."
Otot-otot wajah Jungkook mengeras.
"Aku nggak akan kalah, Jeon Jungkook.", kata V sambil menyeringai mengerikan.
Pagi itu Jimin melihat pengumuman di mading sekolah.
.
PENGUMUMAN
.
Min Yoongi diskors selama satu minggu karena terlibat perkelahian.
Ttd, Kepala Sekolah
.
Jimin menghela napasnya setelah membaca pengumuman itu.
"Jangan merasa bersalah."
"Eh, Eunwoo?"
"Ini bukan pertama kalinya dia bertindak bodoh. Sejak SMP dia sering berurusan dengan polisi."
"Eunwoo kenal sama Suga?"
"Kami sekelas waktu kelas 1 SMP.", kata Eunwoo sambil berkacak pinggang. Terdengar jelas dari intonasi bicaranya kalau ia keki pada Suga. "Dia nggak berubah, sampai sekarang masih saja bodoh, nggak peka, dan nggak bisa diperbaiki."
"Em.. Eunwoo benci sama Suga?"
"Dengar namanya saja muak."
"Eh..? Tapi.. Lega juga. Kukira dia bakal dikeluarkan."
"Huh, sayang sekali."
Tanpa sadar, Jimin dan Eunwoo pun jalan berbarengan ke koridor kelas.
"Aku dengar soal revolusi kalian dari V. Aku juga diminta bantu soal 'Butterfly'. Tapi, aku nggak peduli. Aku nggak mau bantu.", kata Eunwoo dingin.
Jimin melihat ke arah Eunwoo lalu berkata, "Kalau Eunwoo nggak mau, nggak apa.. Kalau aku jadi Eunwoo, aku juga nggak akan suka dimanfaatkan seperti itu.", Jimin mengusap tengkuknya karena grogi. "Yah.. apa boleh buat, harus cari cara lain. Tapi.. aku ingin tetap berteman dengan Eunwoo."
"Sudah kubilang, jauhi aku."
"Karena keluarga? Aku nggak masalah, kok.", kata Jimin polos.
Eunwoo berjalan mendahului Jimin, lalu berkata tanpa berbalik menghadap Jimin. "Aku nggak butuh teman. Cuma bikin muak."
Jimin terpaku mendengar penuturan Eunwoo. Kira-kira hal apa yang membuat Eunwoo begitu dingin dan enggan berteman, benak Jimin.
"Dia nggak jujur, ya."
"JB?!"
"Sebelum terluka ditinggalkan.. dia meninggalkan lebih dulu.", kata JB sambil menatap punggung Eunwoo yang sudah berada jauh di depannya. "Kurasa sebenarnya dia senang sekali waktu Jimin-ah bilang berteman nggak ada hubungannya dengan latar belakang keluarga. Tapi, pribadinya yang keras menghalanginya bersikap jujur."
JB menoleh menatap Jimin. "Tolong dekati dia terus, ya. Mungkin, dia akan berubah."
"Ne.", kata Jimin sambil tersenyum.
"Sip.", JB tersenyum jahil lalu menyuruh Jimin mendekatkan telinganya kepadanya. "Aku akan memberitahumu rahasia besar. Jangan sampai bocor, ya."
Jimin mengangguk-angguk lucu.
"Alasan Nona benci Suga adalah… mereka berdua pernah pacaran waktu kelas 1 SMP."
"Asfqrewquf?! Serius?!"
"Tapi cuma tiga hari. Mereka putus karena Suga selingkuh.", kekeh JB. "Semenjak itu, mereka jadi seperti anjing dan kucing. Nama Suga tabu disebut di depan Nona."
"Gila, tiga hari sudah selingkuh..", lirih Jimin.
"Oh, ya, soal 'Butterfly' itu.. Kalau mau, aku bisa bantu.", kata JB. "Tampangku cukup familiar di kalangan berandalan."
"Benarkah?!"
"Hm. Kalau butuh bantuan, bilang saja."
"Wah, senangnya..! Gomawo, JB!"
Di rumah sakit
.
"Bukan-hal-besar?!", bentak Suga. "Aku terluka parah begini bukan hal besar?!"
"Setidaknya kamu masih bisa marah-marah.. berarti kamu baik-baik saja.", kata Jimin.
"Kalau nggak kau recoki, mereka pasti nggak akan bisa bangun lagi!"
"Bicara apa, sih.. Masih untung kamu nggak dihukum karena dianggap membela diri. Berterimakasihlah padaku."
"Jangan bercanda!"
"Hei, hei, berisik sekali.. Ini rumah sakit.", kata Jessica yang memang standby untuk menemani Suga.
Jimin memelankan suaranya. "Biar nggak diskors pun, kamu tetap nggak bisa ke sekolah, kan, dengan kaki di gips begitu.. Tapi tenang saja, aku akan mencatatkan pelajaran untukmu."
"Nggak butuh! Pulang sana!"
.
.
Lewat peristiwa ini, jarak di antara kami.. mulai berubah.
Kami, empat namja dengan kepribadian berbeda-beda,
Aku yang selalu positif,
V yang kelewat jenius,
Suga yang pemarah,
Dan Jungkook yang penuh misteri..
Satu per satu, mulai mengerti sifat masing-masing.
.
.
TBC
.
.
Pendek aja yah ahaha
soalnya nxt chap beda konflik
chuuu~ :*
