" AHJUSSI, AWAS!"

.

.

.

.
.

Gelap.

Gelap sekali disini.

Apakah seseorang mematikan lampu kamarnya?

.

.

.

.

.

"Apa tidak ada cara lain, dok?"

"..."

"Lakukan apapun, Dok. Kumohon!"

"..."

"Aku memohon padamu, dok!"

"..."

"Dokter, jaebal!Dokter... Dokter!"

.

.

.

.

.
.

"Min Ra-ya, kau sudah sadar?", sapa sebuah suara saat Min Ra membuka matanya perlahan.

Sebuah tangan mengenggam tangannya erat.

Min Ra menggerakkan kepalanya, "Eum..", erangnya, "Jinyoung-ah, aku dimana?", tanya gadis itu begit memandang mata seseorang yang menggenggam telapak tangannya.

Mata Jr mendadak redup, bibirnya yang memerah dan memperlihatkan beberapa luka itu terkatup rapat.

.

.

.
.

Min Ra pulih lebih cepat dari seharusnya. Berkat semangat dari Jr juga sepertinya. Kini, ia tengah menghadiri sebuah acara pemakaman bersama Jr yang membimbing langkahnya.

Tangan kiri Jr menuntun lengan kiri Min Ra, sementara tangan kanannya dirangkulkan di punggung sang gadis. Didudukkannya gadis yang bahunya masih dibalut perban itu ke sebuah kursi di sisi karangan bunga besar.

Beberapa orang yang berwajah asing masuk dan keluar berkali-kali dari ruangan itu. Mata Min Ra kian memerah, nafasnya tersendat sesak. Jika saja Jr tak ada di sisinya, entah apa yang terjadi pada paru-parunya saat ini.

"Hanbyul-ah, maafkan appa.Kenapa kau harus meninggalkan appasendiri disini? Apa kau semarah itu padaku? Mianhae,Hanbyul-ah. Appajanji akan mengurangi kesibukan appa. Tapi kembalilah kesini, Hanbyul-ah... Jaebaaall...", suara isak tangis JYP bergema di seisi ruangan.

Min Ra sendiri tak begitu mengingat kejadian yang menimpanya. Ia hanya tahu, malam itu ia melihat lampu sorot yang menyilaukan matanya dari arah depan mobil. Ia rasanya sempat meneriaki Jiho ahjussi tentang hal itu. Tapi, entahlah. Rasanya ia mendengar suara benda besar bertubrukan, melihat banyak serpihan kaca, remukan barang, dan... Darah.

Setelah itu semuanya menjadi gelap.

"YAK! PARK JINYOUNG! AKU MEMINTAMU IKUT UNTUK MENJAGA HANBYUL! KENAPA KAU MALAH MEMBIARKANNYA MATI?! KENAPA?!", JYP tiba-tiba saja mengarahkan matanya yang memerah dan penuh amarah itu ke arah Jr.

Mata Jr membulat kaget. Dalam sekejap, tangan JYP sudah mencengkram kerah jas Jr dengan keras. Tubuh laki-laki muda itu sedikit menggantung di udara, wajahnya memerah, kaget karna asupan oksigennya mendadak tertahan.

"KENAPA?! KENAPA?! KENAPA KAU BIARKAN DIA MATI?! KENAPA TIDAK KAU BIARKAN MIA YANG MATI?!", bentak JYP lagi.

Mata Min Ra kali ini berkaca-kaca. Jinyoung ahjussimemintanya mati?

Tinju pria kekar itu mendarat sempurna di pipi Jr. Tubuh Jr terlempar ke sudut ruangan dan menubruk dinding dengan keras.

Mata Min Ra menggenang hebat. Tak ada yang menghentikan adegan itu. Semuanya hanya memandang putus asa ke arah JYP yang terus menghajar Jr tanpa henti.

Tubuh gadis itu membeku di kursi. Belum genap sebulan ia tinggal di korea, tapi kenapa? Kenapa ia harus mengalami ini? Bukankah ia pindah karna ingin memulai hidup baru? Kenapa kehidupan baru yang sedang ia bangun itu mendadak ingin dihapuskan dengan harapan kematian oleh sang sutradaranya sendiri? Jinyoung ahjussi,apa kau benar-benar menginginkan Min Ra untuk mati saja?

JYP melangkan tinjunya ke tubuh keponakannya lagi. Lagi. Dan lagi.

Ini bukan JYP.

Bukan.

Itu bukan Park Jinyoung ahjussiyang Min Ra kenal.

"Aargh!", Jr mengerang saat sebuah tendangan mampir di perutnya.

"Kenapa? Kenapa kau tak membalas? Apa kau benar-benar merasa bersalah atas kematian Hanbyul, Jinyoung-ah?", tanya Min Ra lirih. Tak ada yang mendengar pertanyaan itu. Hanya Min Ra seorang yang mendengar.

'Grebb!'
Sebuah tangan mencekal lengan JYP yang hampir kembali melayang ke arah Jr.

Mata pasrah Jr menatap kaget.

"Ahjussi,mianhae.Jeongmal,mianhae.Ini salahku. Memang seharusnya aku yang mati. Maafkan aku, Ahjussi", suara Min Ra memecah keheningan dalam ruangan. Kedua tangannya menggenggam lengan JYP, kepalanya menunduk, rambut panjangnya terurai tak beraturan, air mata mengalir dari sudut matanya dengan begitu deras.

JYP menegakkan tubuhnya, berbalik menatap Min Ra. Mulutnya bungkam, api amarahnya masih nampak meski tak sepanas sebelumnya.

"Aku memang seharusnya mati!", seru Min Ra keras.

'Ya, aku memang seharusnya mati. Kenapa aku harus hidup? Toh aku sudah sendirian. Mungkin malaikat maut salah. Kecelakaan itu seharusnya merenggut nyawaku, bukan nyawa Hanbyul', hati Min Ra perih sekali.

"Kau benar, Ahjussi.Ambil saja nyawaku sekarang juga. Aku benar-benar meminta maaf. Aku bersedia memberikan nyawaku untuk kau ambil, tapi aku tak bisa mengembalikan Hanbyul padamu. Jeosonghamnida!", Min Ra melepas genggaman tangannya dan membungkuk dalam-dalam ke arah JYP.

Amarah di mata JYP meredup lagi. Masih ada sisa-sisa frustasi disana, sisanya, hanya ekspresi prihatin yang nampak.

"Min Ra-ya..", panggil JYP berusaha merendahkan nada bicaranya.

Gadis yang namanya dipanggil itu kini menjatuhkan dirinya, ia berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, "Jeosonghamnida!naegajalmoshangeoya!",serunya. Lalu tanpa diduga, tubuh Min Ra bersujud di kaki JYP. Kedua telapak tangannya membentuk posisi sempurna di bawah kaki pria kekar itu. Punggungnya naik turun penuh isakan tak terbendung.

Tiba-tiba sepasang lengan mengangkat bahu Min Ra, memintanya untuk bangun tanpa berkata-kata. Mata gadis itu menatap lurus ke depan.

"Maafkan aku. Aku tak benar-benar memintamu untuk mati. Maafkan aku. Maafkan aku..", ucap pria itu lirih. Matanya menggenang dan memerah. Diraihnya tubuh gadis dihadapannya, dan direngkuhnya tubuh mungil itu dalam pelukannya, "Mianhae, MinRa-ya.Jeongmal..."

Keduanyapun larut dalam tangisan masing-masing. Dari balik punggung JYP, Min Ra menatap mata Jr. Wajahnya lebam, matanya membiru, bibirnya sobek, beberapa memar nampak buruk di pipi, kening, juga dagunya, entah bagaimana dengan anggota tubuh lainnya yang terbalut pakaian. Tapi mata Jr dengan tenangnya menjawab pandangan ketakutan milik Gadis yang menatapnya seolah berkata, 'nangwaenchana'.

.

.

.

.

.
.

Jika bukan karna Min Ra, Jr pasti sudah jadi musuh abadi bagi JYP.

Jika bukan karna Min Ra, hubungan kekeluargaannya akan putus dengan JYP. Dan ia akan kembali hidup seorang diri tanpa keluarga.

Jika bukan karna Min Ra, Jr sudah menjadi gelandangan saat ini.

Jika bukan karna Min Ra, JYP tidak akan pernah memaafkan Jr. Selamanya.

Selamanya.

.

.

.

.

.

"Kau baik-baik saja?", sapa Min Ra sambil mendudukkan dirinya di sisi Jr.

Jr bergumam samar, "Eum..", tubuhnya masih berbaring nyaman di sofa. Matanya tertutup rapat.

Min Ra meraih tangan Jr dan menyentuhnya pelan, membuat laki-laki itu membuka matanya dan menengok, memandang seorang gadis yang duduk di lantai samping sofa.

"Obati memarmu"

"Urus saja luka-lukamu dulu"

Min Ra tersenyum kecil, "Aku tak terluka parah, Jinyoung-ah"

"Kalau memang begitu, kau takkan pingsan, pabo"

"Yak! Kau ini yang bodoh. Bukankah wajar seseorang pingsan setelah menerima guncangan kuat?", serunya sambil mencubit pelan jemari Jr.

Jr tertawa, tapi kemudian ia meringis kecil. Bibirnya perih.

Sebuah kain dingin menyentuh permukaan kulit wajahnya.

"Setidaknya berikan wajahmu kompres es", kata Min Ra. Tangannya mengusap wajah Jr perlahan, khawatir menyakiti laki-laki itu.

Jr membiarkan wajahnya diusap dengan sapu tangan dingin. Keheningan tercipta begitu saja diantara mereka, hanya sesekali terdengar gemericik air dari baskom es yang dibawa oleh Min Ra, ia berulang kali memasukkan sapu tangan itu ke dalam baskom, memerasnya, lalu mengusap wajah babak belur Jr.

"hentikan, Mia-ya", Jr memanggil gadis disisinya dengan panggilan lama itu.

Mata Min Ra tak berekspresi saat Jr menggenggam pergelangan tangannya, menahan gerakan gadis itu.

Jr benar. Seharusnya ia menghentikan aktivitas itu, telapak tangannya sudah memerah karna kedinginan. Ini musim salju, dan Min Ra bukan tipikal orang yang tahan dengan hawa dingin.

"Kau baik-baik saja?", tanya Jr hati-hati.

Semenjak kecelakaan dan kejadian di rumah duka, Min Ra sama sekali tak pernah bicara tentang kecelakaan itu. Jr amat mengkhawatirkan kondisi psikis gadis itu meskipun sang gadis berulang kali mengatakan bahwa ia tak apa. Hanya luka kecil, katanya.

"Bicaralah padaku, Mia-ya. Kau baik-baik saja? Apa kau memikirkan sesuatu?"

Min Ra bergeming. Tangannya masih tergenggam dan menggantung di udara, di depan wajah Jr yang kini sudah berada dalam posisi duduk.

"Keluarkan Mia. Jangan pendam perasaanmu seperti itu", Jr meraih dagu Min Ra. Matanya menatap lurus ke manik kecoklatan gadis itu.

Tiba-tiba saja, mata Min Ra menggenang, dan beberapa tetes air mengalir dari sudutnya. Bibirnya gemetar hebat.

Direngkuhnya tubuh sang gadis dalam pelukan Jr, dan diusapnya rambut panjang itu perlahan.

"Aku takut, Jinyoung-ah. Aku takut.. ", ucap nya ditengah isak tangis.

Min Ra memendam rasa shocknya seorang diri. Ia telah menahannya selama sekian lama seolah tak ada apapun yang menimpa dirinya.

Cahaya. Darah. Tubrukan. Darah. Mobil. Darah. Guncangan. Darah. Jeritan. Pecahan kaca. Darah.

Semua potongan kejadian berkelebat, silih berganti muncul di memori Min Ra. Ia terlalu takut. Amat takut. Ia merasa jiwanya kosong, lepas entah kemana. Ada beban berat di hatinya, entahlah. Min Ra sendiri tak mampu mengekspresikan kondisi hatinya setelah apa yang ia alami.

"Arasseo.Menangislah. Kosongkan bebanmu", kata Jr di balik bahunya.

Tangis Min Ra semakin menjadi-jadi. Isakannya semakin kencang, tangannya gemetar hebat. Jr bahkan baru menyadari betapa rapuhnya jiwa gadis di dekapannya kini. Tentu saja, ah, sepertinya Jr hampir lupa. Min Ra ini perempuan. Yang sebagaimana perempuan lainnya, ia rapuh. Amat rapuh. Jr bahkan tak bisa melakukan apapun selain memeluk dan mengusap kepalanya. Sesekali dibisikkannya kata-kata penenang di telinga gadis itu, sebisa mungkin, Jr ingin membuat Min Ra benar-benar menguras ketakutannya disini. Di rumah yang sempat Min Ra tinggali bersama Hanbyul, di tempat dimana JYP meminta Jr untuk tinggal disana sekarang bersama Min Ra dan Nana untuk beberapa sementara.

"katakan padaku satu hal, Jinyoung-ah", ucap Min Ra saat tangisnya reda. Ia masih duduk di lantai, kedua tangannya digenggam oleh tangan Jr yang masih duduk di sofa, sesekali laki-laki itu mengusap tangannya lembut.

"Apa?", tanya Jr lembut.

Min Ra menarik nafas dalam-dalam, "Katakan padaku bahwa Hanbyul dan Jiho ahjussi sudah tenang disana"

Jr tersenyum, "Mereka sudah tenang disana, Min Ra-ya".

"Katakan padaku bahwa mereka takkan menyalahkanku atas kematian mereka"

Kali ini Jr bergeming sesaat, lalu ia buru-buru mengangguk yakin, "Mereka takkan menyalahkanmu".

"Dan mereka juga takkan menyalahkanmu"

Mata Jr sedikit berair, "Mereka takkan menyalahkanku".

Kali ini Min Ra tersenyum, "Kalau begitu aku baik-baik saja", katanya.

"Jinja?"

Min Ra mengangguk pasti.

.

.

.

.

.

FLASHBACK OFF

"Min Ra-ya.."

"Eum?"

"Jeongmal,gomawo..."

"Waeyo?"

"Sudah menyelamatkanku dari amarah Jinyoung ahjussi"

Min Ra memukul lengan laki-laki disampingnya kesal, "Sudah ku bilang jangan bahas itu, bodoh", katanya sambil tertawa.

Sudah dua bulan lebih berlalu, keadaan membaik dengan begitu cepat. Keadaan tubuhnya, keadaan tubuh Jr, kesedihan JYP, juga hubungan mereka bertiga. JYP kini sudah memiliki anak gadis baru, yaitu Jung Min Ra. Gadis yang menariknya dari jurang luapan emosi. Jika saja saat itu Min Ra tak menahannya, ia mungkin sudah membunuh keponakan yang amat ia sayangi itu.

"Aku serius. Haha", Jr menahan tangan Min Ra dan meletakkannya di pangkuan gadis itu.

Min Ra terdiam sesaat, "Nadogomawo-yo..", gumamnya lirih.

"Apa? Karna sudah menemanimu merengek-rengek itu?", ledek Jr.

Sial. Seharusnya Min Ra tak pernah menangis di hadapan laki-laki itu.

"Bercanda", tukas Jr saat melihat ekspresi kesal gadis di sisinya, "Waktu berlalu begitu cepat ya".

"Eum..", kata Min Ra mengiyakan, "Omong-omong, apa kau tahu kenapa dulu Jaebum memintaku menjadi trainee?".

Jr menggeleng ragu, "Ku rasa tidak".

Bohong atau tidak, Min Ra tak peduli. Ia lebih ingin mendengar alasannya langsung dari mulut yang bersangkutan.

"Aku salut pada Juho ahjussi.Ia begitu setia pada Jinyoung ahjussi,bahkan setelah saudara laki-lakinya meninggal saat bekerja pada ahjussi", Ucap Jr tanpa ditanya.

Min Ra mengiyakan dalam diam. Ia bukan tidak tahu kenyataan bahwa keluarga Juho ahjussiamat sangat setia pada Jinyoung ahjussi.Hanya saja, ia memilih untuk tidak berkomentar untuk masalah yang satu ini.

"Apa kau masih menyukainya?"

Min Ra menoleh, "Siapa? Juho ahjussi?Tidak. Aku menyukainya, but notthatway", jawabnya menekankan kata that di bibirnya.

"Hahaha pabo.Kau tahu maksudku bukan ahjussi.", Jr mengacak rambut Min Ra gemas.

"Siapa - - - oh!", Min Ra seolah menyadari sesuatu, "entahlah. Apa jawabanku akan merubah keadaan?", ia tertawa miris.

Jr memang sudah tahu segalanya. Hubungannya dengan Min Ra memang kelewat dekat, tapi tidak satupun diantara mereka yang pernah mengartikan kedekatan itu lebih dari sekedar hubungan keluarga, meskipun sesekali Jr suka mencium pipi Min Ra ataupun memeluk gadis itu di depan orang lain. Min Ra tak masalah, toh ia sudah biasa menerima perlakuan itu.

"Kau melamun?"

Min Ra tergagap, "ah, mian.Tidak bermaksud untuk melamun hehe".

"Min Ra-ya.."

"ada apa?", jawab gadis itu sambil menatap lurus ke depan.

"Kau pernah membenciku?"

"Tidak"

"Min Ra-ya..."

"Apa?"

"Kau pernah jatuh cinta pada orang lain selain orang itu?"

"Kurasa tidak"

"Min Ra-ya.."

"Eum..", jawabnya sedikit kesal. Kenapa Jr terus menerus memanggilnya seperti itu? Menyebalkan.

"iGot7 benar-benar tak pernah membullymu lagi?"

Min Ra mengangguk pasti. Memang semenjak MV Got7 yang memainkan peran dirinya muncul, para fans mulai menerima keberadaan gadis itu dengan baik. Bahkan ada beberapa yang melakukan shippingantara dia dan member Got7 lain.

"Min Ra-ya.."

"Apa lagi?", sahut Min Ra malas.

"Kau benar-benar akan mencintai diawalaupun jika, eum, misalnya, ada orang lain yang mencintaimu dengan tulus?"

Gadis itu mengerutkan kening sesaat, "Entahlah".

"Min Ra-ya, eottokhe...", gumam Jr menendang-nendang kakinya di udara.

"Wae?"

"Seseorang mengatakan padaku bahwa ia menyukaimu"

"M-mworago?"