Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – Ketua 'White'
Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'
Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'
Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'
Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'
Cha Eunwoo!GSas Yutaka Iijima (16yo) – 'Grey'
Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo) – 'Grey'
Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..
Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's ….
Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – 'Grey'
Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – 'White'
Cho Gaeun as Kanako Chouno (17yo) – 'White'
Yang Jungyoon as Rinka Yoshizawa (17yo) – 'Black'
Lee Hyeri as Makino (18yo) – 'White'
Kim Ah Young (Yura) as Kitami (18yo) – 'White'
Bang Minah as Harada (18yo) – 'White'
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS, GOT7, ASTRO, SNSD, DAL SHABET, and GIRL'S DAY member belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Chapter 13: 'Butterfly'
.
.
"Tuh, mereka.", bisik V sambil melirik gerombolan yeoja di taman utama BigHit School. "'Butterfly'. Geng yeoja yang suka menindas, tumor terganas di sekolah kita."
"Bosnya Cho Gaeun, kelas 2.", lanjut V, masih sambil berbisik. "Nama 'Butterfly' diambil dari namanya, Cho—kupu-kupu. Merekalah yang akan kita hadapi."
"Wuah, dari tampangnya saja sudah jahat.", bisik Jimin.
Kenapa Jimin dan V berbisik? Karena mereka sedang membuntuti 'Butterfly' diam-diam.
V melanjutkan pembacaannya pada biodata geng 'Butterfly', hasil risetnya beberapa hari terakhir. "Pengikut 'Butterfly' ada sekitar dua-puluh orang. Sebagian besar patuh karena takut. Sebagian bergantung pada pada uang Gaeun dan bersikap seperti pelayannya. Dia anak orang kaya, sih."
"Hm? Kok ada satu anak 'Black' menyempil di sana?", tanya Jimin ketika melihat ada satu orang yang berseragam hitam diantara kelompok anak yang semuanya berseragam putih.
"Itu Yang Jungyoon, teman Gaeun sejak kecil yang tinggal di dekat rumahnya. Sepertinya dia dijadikan pesuruh geng itu. Lihat saja, dia sedang membawakan tas Gaeun, kan?", kata V.
"Hah.. Kasihan sekali.."
"Nah, sekarang, laksanakan tugasmu, ketua.", kata V sambil memberikan handycam baru yang volume-nya tidak rusak.
"Geure."
Jimin menguntit 'Butterfly' ke mana pun kecuali ke dalam bilik kamar mandi wanita tentunya, karena bagian itu dikerjakan oleh Sanha.
Jimin sangat ahli dalam hal ini. Karena selain badannya yang kecil, langkahnya pun ringan. Ia sungguh terlatih dalam hal menguntit berkat bertahun-tahun tinggal di gunung. Sehingga 'Butterfly' tidak mengetahui bahwa Jimin mengikuti dan merekam mereka seharian ini di sekolah.
Sore itu, di Markas (dadakan) 'Grey'
.
"Seharian ini aku terus menempel pada mereka, dan aku jadi tahu tingkah mereka. Sebenarnya mereka hanya mengikuti perintah Gaeun saja, sih..", kata Jimin. "Baru kali ini aku lihat yeoja sekejam dia."
Jimin mengurutkan daftar kejahatan Gaeun sambil menunjukkan potongan video di handycam pada V. "Satu, terang-terangan memeras, padahal kaya. Dua, kasar sama anak yang nggak disukainya. Tiga, suka bolos untuk ngegosipin namja. Empat, suka dandan di kelas. Lima, nggak memperhatikan guru dan terang-terangan main handphone di kelas."
Setelah selesai menunjukkan video-video itu pada V, Jimin menutup dan menaruh handycam itu di meja. "Terus buat apa dia ke sekolah?! Seenaknya saja bersikap seperti itu!"
"Bukti segini cukup, kan, V?", tanya Jimin karena V sedari tadi tidak berkomentar apa-apa.
"Untuk menjerat pengikutnya, cukup. Tapi untuk menjerat Gaeun, kurang. Kita butuh sesuatu yang dapat lebih memojokkan dia, sampai-sampai sekolah pun mengeluarkannya.", kata V, akhirnya bersuara.
"Dikeluarkan dari sekolah? Bukannya cukup dibuat sadar saja?"
"Minnie, kamu terlalu naif..", kata V. "Kamu nggak tahu Gaeun, sih. Makanya bisa bilang begitu. Pribadinya itu sudah rusak, nggak mungkin diperbaiki. Jadi, harus dicabut sampai ke akar-akarnya."
"Kalau kamu sampai bilang begitu.. berarti memang sudah parah.", kata Jimin.
"Kita harus memancing Gaeun. Memang, berbahaya.. Tapi, dengan bantuan JB…"
"Ani. Kita minta bantuan JB kalau sudah sangat mendesak saja. Kalau nggak, kita sama saja, dong, dengan 'Butterfly', bergulung di balik kekuatan orang lain."
"Berlindung, Minnie, bukan bergulung…", kata V, membetulkan istilah yang digunakan Jimin. Lalu ia melanjutkan, "Kita nggak punya banyak waktu, manfaatkan saja tenaga yang ada."
Jimin memandang V kesal. "Pikirkan taktik yang lebih baik, dong!"
"Bicara, sih, gampang. Coba Minnie yang pikirkan caranya!"
"Loh, kan kamu yang menjabat strategi restorasi?!"
"Kamu ini…"
Tatapan intens antara Jimin dan V terputus ketika suara ceria Hoseok menggema di ruangan. "Jiminnie~! Aku bawa pesananmu."
Hosek mendudukkan dirinya di kursi di antara Jimin dan V.
"Apa itu?", tanya V ketika Hoseok mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya.
"Foto-foto kelas 1 SD.", jawab Hoseok sambil tersenyum.
"Di rumahku nggak ada sama sekali, sih..", kata Jimin. "Waa, ini Hosiki, kan? Kamu nggak berubah, ya!"
"Hihi, Jiminnie juga nggak berubah. Tetap manis seperti dulu.", kata Hoseok. "Nah, kalau foto Jungkook, cuma satu ini."
Hoseok menyodorkan foto kelas mereka. Terlihat Jungkook duduk di barisan depan, setelannya rapi—kemeja, sweater, celana pendek, dan kaus kaki sebetis—dengan muka tertekuk. Dari dulu ekspresi wajahnya sudah begitu, ya..? Benak Jimin.
"Jiminnie masih nggak ingat?"
"Hm.. Sudah jelas sekarang. Aku memang nggak ingat masa kelas 1 SD-ku. Nama-nama teman, guru, masa-masa di sekolah, atau di lingkungan rumahku dulu.. Sama sekali nggak ada yang kuingat." Jimin menerawang. "Ada sih, ingatan sedikit. Tapi, setelah kupikir-pikir, sepertinya itu adalah omongan orang lain yang kudengar, lalu kuanggap sebagai ingatanku sendiri."
"Paman Jiminnie bilang apa waktu Jiminnie bertanya?"
"Dia jadi aneh kalau aku bertanya soal masa lalu. Mendadak bersiul lah, bernyanyi lah, masak lah, ke kamar mandi lah.. Jelas sekali dia menutupi sesuatu."
Jimin menatap foto kelas mereka lagi. "Sepertinya, untuk memahami pemikiran Jungkook.. aku harus mengingat kembali masa laluku.."
"Apa? Jadi Minnie berniat mengingat masa lalu hanya demi Jungkook?", kata V, tidak menyembunyikan nada cemburu di kalimatnya. "Kenapa, sih, Minnie perhatian sekali padanya? Biarkan saja anak aneh itu."
V mem-pout-kan bibirnya lalu melanjutkan, "Jangan-jangan Minnie jatuh cinta pada Jungkook?"
Jimin menjawab dengan mantap. "Mana mungkin. Aku punya orang yang kusuka, kok."
"EH?!", V dan Hoseok teriak bersamaan.
"Bohong?! Siapa?", ini V yang bertanya.
"Ada, deh.", goda Jimin lalu ia menjulurkan lidahnya.
"Aku juga penasaran, Jiminnie.. Anak di sekolahmu yang dulukah?", tanya Hoseok. Saking semangatnya, ia menyenggol tasnya sendiri hingga isinya berhamburan keluar.
"Wah, jatuh!", kata Jimin lalu ia pun menunduk untuk membantu membereskan barang-barang Hoseok.
Hoseok hendak melarang Jimin, namun terlambat, Jimin sudah terlanjur mengambil barang-barang Hoseok lalu melihat bukunya yang ditempeli solatip di mana-mana.
"Apaan, nih?", tanya Jimin sambil mengangkat buku yang compang-camping itu.
"A-anu… Itu, aku melindur. Nggak sengaja kurobek sendiri..", jawab Hoseok dengan senyuman yang dipaksakan.
"Ah, begitu. Hosiki ceroboh, ya..", kata Jimin sambil tersenyum.
"Hm.", Hoseok balas tersenyum.
"Tapi.. Itu nggak masuk akal, Hosiki!", teriak Jimin. "Siapa yang melakukannya?! Sejak kapan?!"
Hoseok terdiam di kursinya, ia tidak berkata apa-apa dan hanya memandang meja di hadapannya.
"Hosiki.."
"Em.. nggak lama setelah aku jadi 'Grey'.. Dan selalu ada lambang kupu-kupu.. Jadi, mungkin pelakunya 'Butterfly'.."
"Kenapa nggak bilang?!", bentak Jimin.
Mata Hoseok berkaca-kaca, "Habis.. aku selalu jadi beban. Aku.. sama sekali 'gak berguna bagi Jiminnie dan bagi 'Grey'. Jadi, kupikir.. biar kuatasi sendiri."
"Hosiki.. Kamu boleh minta bantuanku kapan saja. Justru mengetahui Hosiki kesusahan sendiri membuatku sesak..", Jimin melembutkan suaranya karena takut Hoseok menangis.
Jimin bangkit dari kursinya lalu berseru. "Nah, sekarang aku akan menghajar yeoja itu! Berani-beraninya sama Hosikiku!"
"Ya! Tunggu dulu!", V menahan Jimin. "Jangan sembarangan menghajar orang. Nanti malah kamu yang salah."
"Terus 'gimana? Aku muak sekali padanya! Pakai meninggalkan 'jejak' dengan lambang kupu-kupu segala. Itu berarti dia menikmati tindakannya!", seru Jimin.
"Tenang, aku punya ide..", kata V dengan seringaian di wajahnya. "Hosiki, kamu jadi umpan, ya?"
"Haa?!"
Jimin berteriak emosi sedangkan Hoseok hanya memandang lugu pada V.
Di kelas Hoseok
.
"Pertama, siapkan target, yaitu Hosiki dan buku-buku. Kedua, saat 'Butterfly' beraksi, Hosiki muncul, memergoki mereka. Ketiga, Hosiki akan mengatakan sesuatu yang membuat mereka marah, lalu kabur ke toilet. Nanti Minnie yang akan membantu Hosiki kabur lewat jendela toilet."
V melanjutkan rencananya, "Pasti mereka melakukan kejahatan dari luar bilik kamar mandi itu, kan. Nah, kita pasang kamera tersembunyi dan mikrofon, jadi kita akan punya bukti yang bisa menampar Gaeun hingga nggak bisa berkutik."
"Apa nggak berbahaya menjerumuskan Hosiki seperti itu?", tanya Jimin.
"Misi ini nggak mungkin terlaksana kalau Minnie yang jadi umpan.", jawab V polos.
"Ya! Apa maksudmu?!"
"Hihi, nggak apa, Jiminnie.. Aku malah senang karena dapat berguna. Jadi, Jiminnie jangan cemas, ya.", kata Hoseok sambil tersenyum lebar.
Jimin terpaku melihat kesungguhan Hoseok, maka ia pun tidak berkomentar apa-apa lagi.
KLEK.
Pintu kelas 1-B terbuka.
"Ah! Ada yang datang!", bisik Jimin.
"Itu bukan Gaeun..", bisik V.
"Nggak ada artinya, dong?", bisik Jimin.
"Eh? Tapi orang itu mengarah ke mejaku..", bisik Hoseok.
BRET, BRET
Setelah sampai di meja Hoseok, orang itu langsung merobek-robek buku Hoseok.
"Jahat…", bisik Hoseok.
Jimin si penjunjung tinggi keadilan geram melihat aksi penyiksaan pada buku Hoseok. Ia lalu berdiri, keluar dari persembunyiannya di kolong meja guru, lalu berseru, "Siapa kamu?!"
V menepukkan telapak tangannya ke wajahnya. Lagi-lagi Jimin si spontan tingkat nasional mengacaukan rencananya.
Karena terlanjur, V dan Hoseok pun ikut bangkit dari posisi mereka yang tadi berjongkok.
"Apa?! Yang Jungyoon?!", teriak mereka bertiga bersamaan.
Jimin berlari mendekati Jungyoon. Lalu, setelah sampai, ia menarik kerah seragam Jungyoon. "Keterlaluan! Kenapa kamu melakukan ini?!"
"I-ini bukan kemauanku!", kata Jungyoon. "A-aku terpaksa. Gaeun menyuruhku..!"
Setelah mendudukkan Jungyoon di kursi dan situasi menjadi tenang, Jimin, V, dan Hoseok menginterogasi Jungyoon.
"Gaeun… suka melihat reaksi orang orang ditindas. Dia.. menyuruhku melakukan ini.", kata Gaeun lirih. "Dia sendiri cuma melihat. Dia memang begitu.."
"Kalau nggak suka, kenapa tetap kamu lakukan?", tanya V sinis.
"Mauku juga begitu! Tapi, aku nggak bisa. Dia punya banyak teman yang nggak baik. Membayangkan kemungkinan buruk itu saja, aku sudah takut..", kata Jungyoon.
"Tapi berbuatanmu itu…"
Ucapan V terpotong ketika ia melirik ke arah Jimin, didapatinya mata Jimin yang berbinar-binar, dan diwajahnya tersirat kalimat 'Kita harus menolongnya'.
Ah.. firasat buruk, nih.. Benak V.
"Tenang saja! Serahkan padaku!", seru Jimin sambil menepuk dadanya sendiri. "Kami akan segera menyingkirkannya!"
Tuhkaaaan….. Argh, Minnieeee! Teriak V dalam hati.
Jimin menyentuh kedua bahu Jungyoon. "Tapi, kamu juga harus lebih berani. Kalau nggak, seumur hidupmu akan begini terus. Kalau nggak suka, bilang saja, ne?"
"Minnie, jangan terlalu terbuka sama musuh, dong!", rengek V.
Jimin yang tidak mendengar rengekan V menggenggam kedua tangan Jungyoon lalu berkata, "Tenang saja! Kami akan menolongmu!"
Jungyoon menatap iris mata teduh Jimin lalu berkata, "Gomawoyo..", dengan mata berkaca-kaca.
"Hosiki, katakan sesua—, euh…."
Ucapan V terpotong lagi ketika ia melirik Hoseok dan ternyata Hoseok sedang menyatukan kedua tangannya di depan dada dan matanya berkaca-kaca karena terharu melihat adegan menyentuh yang dilakukan Jimin pada Jungyoon.
Kalian sama saja… Huweeee.. Rengek V dalam hati.
Di kantin BigHit School
.
"Dia nggak turun tangan langsung.. Jadi, kita harus cari taktik baru.", kata Jimin di sela kegiatannya menyuap nasi goreng. "Dasar, V keterlaluan! Masa Hosiki dijadikan umpan?!"
"Hihi, bukan begitu Jiminnie. Justru V peduli padaku."
"Hm? Peduli bagaimana?!"
Hoseok berkata sambil mengaduk-aduk makanannya, "Kalian semua berusaha menambah anggota 'Grey', tapi aku sama sekali nggak membantu kalian. Aku malah membuat kalian cemas, jadi beban kalian.. Itu lebih menyiksa daripada ditindas."
Jimin tercengang mendengar penuturan Hoseok. Emosinya selalu meledak-ledak, berbeda dengan Hoseok yang memikirkan segalanya dengan kepala dingin. Jimin jadi mengerti situasi yang sedang dihadapi mereka lewat kacamata lain.
"V memahami perasaanku, makanya dia mengatur peran untukku.. V baik, kok.", kata Hoseok sambil tersenyum.
"Hosiki…"
Di tengah percakapan Jimin dan Hoseok, ada gerombolan yeoja berseragam putih berjalan ke arah mereka sambil berbincang-bincang. Karena tidak memperhatikan jalan, salah satu yeoja itu tersandung kursi Jimin lalu menumpahkan—menyiramkan—ramyeon yang baru saja di pesannya tepat ke kepala Jimin.
"PUANAASSS!", teriak Jimin.
"Air! Air!", seru Hoseok sambil berlari mencari air.
BYUR!
Hoseok langsung menyiram Jimin dengan segelas air minum yang baru dibelinya.
"Jiminnie, gwenchana?", tanya Hoseok.
"Gwen—"
Belum sempat Jimin menyelesaikan ucapannya, terdengar suara seorang yeoja yang sedang marah-marah.
"Huuh! Bajuku kena saus, nih! Aku mau pulang!"
I-itu, Cho Gaeun!
"Tunggu!", seru Jimin. "Sebelum pulang, kau harus minta maaf dulu, bukan?"
Gaeun menoleh lalu bertanya, "Siapa kau?"
"Ah! Dia Park Jimin, si anak baru itu!", seru salah satu pengikut 'Butterfly'.
Siswa lain yang berada di kantin mulai menghentikan kegiatan makan siang mereka dan menonton bakal perkelahian antara Jimin dan Gaeun.
"Oh, jadi ini Park Jimin, yang seenaknya mengklaim dirinya sebagai ketua 'Grey'?!", seru Gaeun. "Kebetulan, aku memang ingin membuatmu tahu diri!", lanjutnya sambil mendorong bahu Jimin hingga terantuk ke dinding kantin.
"Jiminnie!", teriak Hoseok.
Siswa lainnya yang berada di kantin itu juga memekik terkejut.
Gaeun menahan bahu Jimin sehingga Jimin tidak dapat berdiri. "Mau bikin reformasi? Hah! Jangan bercanda! Anak sepertimu 'gak mungkin bisa! Jangan lupa diri, bodoh!"
Gaeun melanjutkan ucapannya dengan ekspresi wajah menyeramkan. "Lain kali, kalau kau bertingkah, akan kuperlakukan lebih dari ini. Jawab kalau paham!"
Namun Jimin tidak menjawab apa-apa. Walaupun Gaeun sudah melepaskan kakinya dari bahu Jimin, ia hanya terdiam, terpaku dengan posisinya yang masih terduduk di lantai kantin.
"Hahaha, dia ketakutan, tuh, sampai jadi bisu.", seru salah satu pengikut 'Butterfly'.
"Konyol! Kajja!", kata Gaeun sambil tertawa meremehkan.
Baru Gaeun berjalan beberapa langkah, Jimin bangkit berdiri, sehingga Gaeun pun menghentikan langkahnya.
"Bukan takut.. Aku cuma kaget, mengalami hal ini.."
"Huh, mau ngajak berantem, ya?", kata Gaeun sambil berkacak pinggang. "Dengar, ya. Pacarku ketua geng 'Higashiku'. Kalau kau menentangku, entah apa yang terjadi padamu."
"Memangnya kenapa?!", seru Jimin sambil membanting salah satu meja kantin. Sontak Gaeun, pengikut 'Butterfly', dan siswa lain yang ada di sana terkejut melihat kemarahan Jimin.
"Kalian bukan manusia! Ayo, maju semuanya! Biar kuluruskan kelakuan bengkok kalian itu!", seru Jimin lagi.
Jimin menyerbu ke arah Gaeun dan perkelahian pun terjadi. Mereka baru menghentikan perkelahian ketika Jinyoung datang membubarkan mereka.
Di markas (dadakan) 'Grey'
.
"Hampir semua siswa gerah melihat tingkah 'Butterfly'. Kalau bisa menyingkirkannya, pamor kita bisa naik!", seru Yugyeom semangat. "Idemu memanfaatkan 'orang-orang populer di sekolah' sangat bagus!"
"Iya, tapi Minnie justru nggak terlalu antusias…", kata V.
BRAK!
Pintu markas terbuka tiba-tiba, lalu muncul sosok yang membanting pintu itu, Jimin.
"Minnie?! Kok babak belur?!"
"Yeoja itu.. akan kusingkirkan!", seru Jimin.
"Eh?!", seru V dan Yugyeom berbarengan.
Besoknya..
.
Peristiwa di kantin menyebar dengan cepat.
Nggak kusangka, responnya akan seheboh ini..
.
"Kau berani melabrak Cho Gaeun?! Wah, aku salut!", seru yeoja berseragam putih.
"Aku melihat langsung kejadiannya! Kau benar-benar hebat!", seru yeoja lainnya yang juga berseragam putih.
.
Meja Jimin sekarang sedang dikelilingi oleh beberapa yeoja geng 'White'.
.
Dia benar-benar dibenci, ya.. Benak Jimin.
.
"Park Jimin."
Sontak para yeoja yang sedang mengerubuni Jimin berhenti berbicara dan Jimin, yang namanya di panggil, menoleh ke arah pintu kelasnya. Di sana terdapat tiga yeoja cantik berseragam putih.
"Bisa bicara sebentar?", kata salah satu yeoja itu.
"Wuah, siapa mereka? Cantik-cantik.", bisik Jimin pada Hoseok yang sedang main ke kelasnya.
"Ketua klub basket putri, Lee Hyeri. Ketua klub voli putri, Kim Ah Young, atau biasa dipanggil Yura. Ketua klub panahan putri, Bang Minah. Ketiganya populer dikalangan namja maupun yeoja. Sampai ada fans club-nya segala.", bisik Hoseok.
Di luar kelas 1-C
.
Di hadapan Jimin sekarang ada tiga yeoja cantik paling berpengaruh di BigHit School. Kejadian ini tentu saja merupakan hal yang langka, jadi, tidak sedikit siswa BHS yang menonton percakapan terbuka mereka.
.
"Seisi sekolah terganggu oleh keberadaan mereka. Tiap hari jadi nggak nyaman bersekolah. Banyak yeoja yang nggak bergabung dengan 'Grey' karena takut jadi sasaran mereka.", kata Minah.
"Iya, aku juga!", seru salah satu yeoja geng 'White' yang menonton pembicaraan mereka.
"Aku mau masuk 'Grey' kalau mereka nggak ada. Bisa gaya, sih.", seru yeoja geng 'White' lainnya.
"He?!", seru Jimin.
"Jadi, kalau kau serius mau mereformasi sekolah ini, syarat terpentingnya adalah mengusir Cho Gaeun.", kata Hyeri.
"Kalau kau bisa, kami dan anggota klubkami akan bergabung." Kata Yura.
"Daebak!", seru Hoseok yang memang sedari tadi menemani Jimin. "Jiminnie, kalau mereka bergabung, berarti jumlah kita akan bertambah 100… bukan, 200 anggota!"
"Kalian serius?", tanya Jimin.
"Ya.", kata Hyeri.
"Bukan cuma anggota klub, tapi anggota fans club kalian juga akan ikut bergabung?", tawar Jimin.
"Ya, kami janji.", kata Yura.
"Oke kalau begitu, akan kulakukan!", seru Jimin. Memang sudah niat, kok..
"Aih~! Lagi kumpul, ya?"
Jimin, Hoseok, dan tiga bidadari sekolah itu menoleh dan mendapati Gaeun lah yang berbicara.
"Kemarin maaf, ya, Park Jimin. Lukamu nggak apa-apa, kan?", kata Gaeun dengan senyum yang dipaksakan, sangat kontras dengan sorot mata pembunuhnya.
"Ya, berkat doamu.", kata Jimin dingin. Wajahmu nggak menunjukkan kau menyesal, tuh..
"Syukurlah. Nih, tanda maaf dariku.", kata Gaeun sambil memberikan Jimin sebuah kartu.
"Apa ini?"
"Aku akan mengadakan pesta natal di vilaku. Memang agak kecepetan, sih. Itu undangannya."
Pasti perangkap.. Benak Hoseok dan tiga bidadari sekolah.
"Karena kalau bikin acara dengan cara biasa membosankan, aku bikin dengan gaya pesta dansa.", kata Gaeun, menyombongkan dirinya.
"Aku nggak punya setelan..", kata Jimin.
"Nanti kusiapkan. Bagaimana? Bisa datang, kan?"
"V boleh kuajak?", tanya Jimin mantap.
Park Jimin! Teriak ketiga bidadari itu di dalam hati mereka.
"Tentu. Sudah dulu, ya. Sampai ketemu nanti.", kata Gaeun seraya meninggalkan Jimin.
Setelah agak jauh dari Jimin, salah satu pengikut 'Butterfly' bertanya pada Gaeun. "Kau bisa menghancurkan dia tanpa harus pakai cara begini, kan?"
"Lihat saja. Ini permainan seru. Kita akan menikmati pertunjukkan hebat!", seru Gaeun dengan sorot mata pembunuh.
Di koridor kelas
.
Jimin berlari terburu-buru di koridor, jadi ia tidak sengaja menyenggol seseorang hingga barang bawaan orang itu berhamburan ke lantai.
"Ah, mian! Eh?"
Ternyata yang ditabrak Jimin adalah Jungkook.
Jungkook tidak berkata apa-apa dan hanya memunguti barang-barangnya dalam diam.
Sejak kejadian dia membebaskan Suga, dia jadi kikuk. Benak Jimin sambil terus memunguti barang-barang Jungkook.
Jungkook mengambil kartu undangan pesta natal Gaeun lalu membacanya.
"Ah, itu.."
"Aku dengar kejadian di kantin.", potong Jungkook. "Kamu nggak berniat pergi, kan?"
"Aku akan pergi."
"Pabo! Ini jelas perangkap!", bentak Jungkook.
Jimin berkacak pinggang. "Bukan urusan Jungkook, kan?! Begini, biar kukatakan terus terang. Jungkook itu.. menyebalkan!"
Jungkook tertohok mendengarnya.
"Hanya diam melihat sekolah dalam masalah. Suka cemas. Menarik diri. Sulit dipahami. Ah, pokoknya Jungkook sangat menyebalkan!"
Jungkook terdiam membatu, semakin tertohok.
Jimin tersenyum menang. "Semua masalah ini akan beres kalau 'Butterfly' lenyap. Jadi, biarpun undangan ini perangkap, aku akan tetap datang. 'Grey' pasti akan memenangkan peperangan ini."
Lalu Jimin merubah senyumannya menjadi lembut. "Setelah itu, aku bisa mencari ingatan masa laluku tanpa ragu. Aku.. ingin cepat mengetahui isi hati Jungkook."
Setelah berkata seperti itu, Jimin mengambil kartu undangannya dari tangan Jungkook lalu berlari meninggalkan Jungkook yang masih terdiam membatu.
.
.
TBC
.
.
Nah, butterflynya muncul. aku pake anak dal shabet hahahahahahah (maaf ya para darling!)
btw ga ada yang kaget jungkook yang ngelepasin tali suga nih? terus ga ada yg penasaran sama hubungan yg dimilikin suga sama jungkook? kekeke
terus eunwoo katanya mantannya suga? woaaah ga bisa ngebayangin author juga hahaaha
.
balas review dulu yaps
iya ff ini fokus ke jimin sbg tokoh utamanya :D uri jimin manis bgt kan yaaah kelakuannya itu loh jadi suka ingin gigit (?)
jin siapanya jimin? siapanya yaaa hmmm :D pokoknya jimin ga bisa idup tanpa jin
jessica siapanya suga? kan kata jess juga cuma 'kerabat'. kerabat yang dicium mau mau aja wk. tapi author jg mau mau aja sih kalo cium suga mah hahahaha /culik aku bang/
makasih panggilan sayangnya, 'orul-chan' manis juga ;)
makasih masukannya! tapi aku sengaja gak pakai 'kau' dan 'tidak' dan pakai 'kamu' dan 'nggak' soalnya ini kan percakapan antar berandalan sekolah kekeke. kayaknya aneh kalo mereka ngomongnya terlalu baku.
tapi kalo di narasi kan aku pakainya bahasa baku tingting ;)
ff ini ada endingnya gak? masalahnya muncul terus /kasian chim/ haha
ada ending kok.. mungkin taun depan endingnya wk. becanda
makasih udah loncat-loncat baca ff ini, hati2 jatuh! hihi
akankah v di friendzonekan oleh chimchim? jengjengjengjeng
nantikan jawabannya di chapter2 terakhir
jimin kan polos jadi orang lagi berantem juga dipeluk (?) buakakak
suga jelas jauh lebih kuat dari jimin.
jimin mah cuma jago olahraga, ga jago berantem kwkwkw
kkeut~ sampai jumpa di chap selanjutnya
oh iya, baca juga ffku yg lain dong? hehe
gomawoyo reader-nim
smooch :*
