"Kau", Jaebum tiba-tiba saja mencegatnya begitu kelas terakhir Min Ra usai, "Hari ini kau pulang bersamaku".
"Bukankah setiap hari memang begitu?", jawab Min Ra acuh. Tangannya sibuk memasukkan buku catatannya ke dalam tas.
"Maksudku, berdua", tegas Jaebum lagi, kemudian ia menoleh pada seseorang yang duduk dibelakang lawan bicaranya, "Youngjae-ah, kau berangkatlah duluan bersama hyungdeulmu ke studio. Aku akan menyusul nanti bersama Min Ra", katanya.
Youngjae hanya menaikkan alis sambil mengerdikkan bahunya, "Apa katamu saja, hyung", kemudian kakinya mulai melangkah meninggalkan dua siswa dalam kelas.
.
.
.
.
.
"Apa?", tanya Min Ra. Ia merasa terusik dengan pandangan laki-laki yang berdiri di depannya. Matanya terus menerus menatap gadis didepannya dalam-dalam.
"Anieyo",jawabnya terkekeh pelan.
'berhentilah tertawa didepanku, Jaebum. Senyummu itu. Aku bisa mati jika terus melihatnya'
"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?"
Min Ra menutup buku di pangkuannya, kepalanya diteggakkan dan memandang lurus ke arah lawan bicaranya, "Kenapa tidak duduk dulu? Bus sedang kosong sekarang, kau bisa duduk di sampingku atau dimanapun kau mau"
"Kau mengkhawatirkanku? Kau takut aku kelelahan?"
Min Ra berdecak kesal.
"Aku ingin disini, agar bisa melihatmu dengan jelas. Dan agar tak ada orang lain yang melihatmu", sebuah senyum melengkung indah di bibir nya.
"Gila. Memangnya kenapa orang lain tak boleh melihatku? Apa aku semenyeramkan itu?"
"Sebaliknya", Jaebum mengusap puncak kepala Min Ra, "Pak, tolong turunkan kami di depan", kata laki-laki itu pada sang supir.
"Kenapa kita turun di taman? Studio masih dua blok dari sini", protes Min Ra sambil menyingkirkan tangan Jaebum dari kepalanya.
"eii~ Kau berisik sekali"
.
.
.
.
"Kau tak ingin mengatakan apapun padaku?", tanya Min Ra. Kakinya terus melangkah menyusuri trotoar, sesekali langkahnya dipercepat untuk menyusul langkah kaki Jaebum yang lebar didepannya.
"Aku? Bukankah seharusnya kau yang bicara?", jawab pria didepannya tanpa menoleh.
Min Ra menundukkan kepalanya, "Aku tak punya apapun untuk dibicarakan", gumamnya lirih.
'Brugh'
Tiba-tiba saja kepala gadis itu menubruk sesuatu. Kepalanya menengadah, mencari pandangan si pemilik tubuh tinggi yang baru saja berhenti mendadak didepannya.
"Kalau memang tidak ada, lalu kenapa kau terus menanyakan Jinyoung tentang alasanku memintamu menjadi trainee pada Jinyoung ahjussi?"
"Jaebum-ah, aku menghargai keputusanmu. Aku menghargai pilihanmu. Jika kau ingin bicara, kau akan bicara tanpa perlu diminta. Bukankah begitu?"
Sebuah senyum terurai di bibir Jaebum, tangannya meraih tangan gadis yang jauh lebih pendek didepannya, "Akan kuberitahu alasanku. Ayo jalan", katanya, "Omong-omong, kau seharusnya memanggilku oppa".
"Apa kau harus menggenggam tanganku?", Min Ra berusaha melepas genggaman tangan Jaebum, "Kalau fans melihatku, aku bisa dibunuh".
"Bukankah tadi pagi kau bilang fans sudah mengerti?"
"Itu di sekolah, bukan di jalanan umum seperti ini", keluh Min Ra.
"Jadi, tentang kenapa aku memintamu menjadi trainee..", Ujar Jaebum mengabaikan keluhan Min Ra.
"Eum?"
"Sebenarnya bukan aku yang memintamu"
"Mwo-? Jinja?"
Jaebum mengangguk, "Meskipun sebenarnya aku juga merekomendasikanmu sih..", lanjutnya terkekeh pelan.
"Lalu siapa yang-?"
"Park Hanbyul"
"Han-byul?", sesosok gadis tiba-tiba saja berkelebat di kepalanya.
"eum", Jaebum mengangguk lagi.
.
.
.
Flashback
Jaebum Pov
"Oppa, ada seorang gadis yang memperhatikanmu", kata gadis muda yang duduk di sisiku. Tangannya memain-mainkan ponsel milikku dan sibuk menscroll layarnya.
"Eum..", jawabku sekedarnya. Apa? Aku sudah tahu hal semacam itu berkali-kali.
"Yak, kau tidak boleh seperti itu!", omelnya lagi.
"Hanbyul-ah, kau tahu kan aku sedang lelah sekali saat ini. Untuk akhirnya bisa tersenyum seolah sehat dalam foto tadi itu sulit", kataku mengungkit kejadian beberapa menit lalu saat Hanbyul memaksaku tersenyum di foto, "Untung saja senyumku selalu bisa menutupi keadaan kesehatanku", lanjutku lagi sambil sedikit terbatuk-batuk.
"Anieyo, kali ini tidak"
"apanya?"
"kali ini kau tidak berhasil bertopeng, oppa"
"jinja?", serbuku sambil merebut ponsel dari tangan Hanbyul.
Mia?
are you tired,Oppa?Uh-uh, don't say 'no', cz your smile told me. Please Take care of yourself! :)
Senyumku memberitahunya? Fans yang satu ini aneh sekali. Biasanya fans akan memencet icon love dulu pada fotoku baru mengomentari. Tapi yang satu ini bahkan tidak pernah memberiku love untuk foto-foto yang ku upload.
"Dia jeli sekali, ya. Sepertinya ia orang baik. Ia bahkan bisa membaca topengmu, Oppa",gumam Hanbyul sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
'I think I'm a bit tired now. I don't think that I'm gonna take a rest before you said so before...Kkkk~Thankyouso much for paying your attention tome.',Tulisku.
"Tanyakan biasnya, Oppa", kata Hanbyul lagi.
Ah benar. Aku harus menanyakan biasnya. Siapa tahu biasnya adalah aku kkkk~
"Apa dia membalasmu?"
"Tidak", jawabku.
Apa karna aku menanyakan biasnya? Tapi ia baru saja mengomentari fotoku. Artinya, aku adalah biasnya kan?
"Buka saja profilnya, Oppa. Siapa tahu kau bisa melihatnya mengupload foto bias", saran Hanbyul.
"Hanbyul-ah, kenapa kau begitu penasaran pada gadis ini?", tanyaku bingung. Hanbyul biasanya tidak seperti ini. Apalagi pada wanita, terutama fans.
"Dia nampak baik. Mengomentari fotomu dengan biasa saja . Tidak ada fangirling ataupun Oppasaranghae semacam itu", jawab Hanbyul dengan polosnya.
"Apa jika ia tidak fangirling berarti dia orang baik?"
"Setidaknya ia memperhatikanmu benar-benar. Bukan sok memperhatikanmu", Hanbyul menekankan kata 'sok' di kalimatnya. Kurasa ia menyindir orang-orang yang pernah ahjussicoba hadirkan di hidupnya.
Sambil mendengarkan ucapan Hanbyul, akupun mengecek profilnya. Dan hey, lihat ada sebuah video gadis ini bernyanyi!
'been a fool, girl I know, didn't expect this is how things would go. Maybe in time you'll change your mind, now looking back I wish I could rewind.
Because I can't sleep till you next to me, no I can't live without you no more. Ooh, I stay up till you next to me, till this house feels like it did before. Feels like Insomnia,aaah~Feels like insomnia,aah~'
"Whoa, daebak.Bukankah suaranya bagus, Oppa?", Hanbyul berteriak kaget.
"Ya. Bagus", aku menjawab pelan, 'sekali',tambah dalam hatiku diam-diam.
"Whoa, lihat fotonya. Dia cantik sekali", kata Hanbyul lagi sambil menunjukkan sebuah foto gadis yang sedang tertidur, "Oppa,coba lihat videonya yang itu".
Dan siang itu kami habiskan dengan menstalk akun seorang gadis aneh yang bahkan tidak kami kenal. Aku beberapa kali mendengarkan suara menyanyinya, sampai akhirnya Hanbyul memintaku untuk mengikuti akun instagramnya.
"Ei? Oppa,lihat fotonya yang terbaru itu. Bukankah itu ruang kesehatan? Apa ia sedang sakit?"
Eh, benar juga. Itu nampak seperti ruang kesehatan, tapi kenapa tak ada gambar wajahnya? Apa dia hanya memfoto ruangan itu? Ataukah ia sakit?
Akhirnya kuputuskan untuk menanyakan keadaannya dan tentu saja, bertanya kenapa ia tak membalas komentarku.
.
.
.
Dan sekarang aku disini, bersama Park Jinyoung ahjussi,sedang diintrogasi mengapa aku meminta gadis yang baru saja kukenal dari instagram dan kuajukan namanya untuk ditarik menjadi trainee disini.
Jawabanku? Tentu saja karna suaranya yang luar biasa indah itu. Lagipula, hey, bukankah belum ada idol kpop yang berasal dari Indonesia? Ini akan menarik!
"Disamping itu, Hanbyul yang memaksaku untuk mengajukan namanya", tambahku di akhir kalimat.
"Hanbyul? Park Hanbyul, anakku?", JYP nampak tak percaya.
Aku mengangguk. Tentu saja. Memang siapa lagi Hanbyul yang kita kenal, ahjussi?
"Waeyo?"
"Molla.Tapi ia memaksaku untuk mengajukan namanya padamu", jawabku sambil mengangkat bahu.
JYP nampak berpikir sejenak.
"Ahjussi,coba kau lihat dulu profilnya. Siapa tahu kau cocok. Selain itu, bukankah jarang Hanbyul mau mengakui seseorang? Mungkin gadis itu bisa berteman baik dengan Hanbyul", kataku lagi. Hanbyul memang sering nampak muram dan tak pernah mau menerima orang-orang baru yang diangkat JYP untuk menjadi keluarganya.
"Hmm, akan kupikirkan. Kau pergilah dulu saat ini", wajah JYP mendadak terlihat serius.
"baiklah. Terimakasih, ahjussi",aku membungkukkan badan dan melangkah keluar ruangan.
.
.
.
Flashback Off
"Hanya itu?", Min Ra menatap Jaebum tak percaya.
Yang ditatap mengangguk yakin, "Kenapa? Kau pikir, aku punya alasan khusus?"
"A-anieyo..", tiba-tiba saja Min Ra menghentikan langkahnya dan menunduk diam.
"Waegeure?", tanya Jaebum sambil menoleh ke belakang.
Alih-alih menjawab pertanyaan Jaebum, gadis itu malah terisak.
"W-waeyo?Uljimma...", Jaebum menyentuk pundak Min Ra dengan rasa bersalah.
"Hanbyul.. Jadi, Hanbyul yang membuatku harus datang kesini?", ucap Min Ra tersendat.
"Waeyo?Kau menangis karna itu? Kau tak suka berada di Korea?"
Min Ra menggeleng cepat, "Justru sebaliknya. Jika Hanbyul tak membuatku harus datang kesini, aku bahkan tak tahu bagaimana kelanjutan hidupku di Indonesia sana", tangisnya makin terisak.
"Arayo.",Jaebum mengusap kepala Min Ra lembut, "Aku tahu kalau hidupmu hanya sendiri. Berhentilah menangis, kau sudah bahagia kan sekarang?".
"Bagaimana mungkin aku bahagia jika orang yang mengubah hidupku bahkan sudah tidak lagi hidup sekarang?!", seru Min Ra.
Jaebum terhenyak sesaat, matanya memandang sekeliling, memastikan suara gadis didepannya tak menarik perhatian orang lain. Untung saja jalanan sedang sepi.
"Yak. Jung Min Ra-ya, apa untuk ini Hanbyul membawamu ke Korea? Apa dia meminta sesuatu darimu? Apa dia berharap kau berterima kasih padanya? Apa dia bahkan tahu kalau umurnya tidak lama? Apa dia tahu kalau hidupnya berakhir, tak lama setelah hidup barumu dimulai?", Jaebum memandang Min Ra tajam.
Bukannya diam, Min Ra justru menangis lebih keras, membuat Jaebum menghela nafas putus asa. Ia tak merasa bersalah karna mengatakan hal sebelumnya panjang lebar. Min Ra tidak tersinggung, ia yakin itu. Min Ra justu merasa bersalah dan tertohok atas apa yang ia sudah katakan.
Jaebum membungkukkan tubuhnya sedikit, diraihnya telapak tangan yang menutupi wajah menangis Min Ra dan menurunkannya. Kedua tangannya menyentuh pipi gadis itu dan perlahan, ia menggerakkan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang mengalir disana.
"Uljimma..", katanya lembut sementara sebuah senyum hangat terlukis di bibirnya.
Tanpa diduga, Min Ra menyerbu Jaebum. Melingkarkan lengannya di tubuh laki-laki itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jaebum.
Jaebum memang kaget, awalnya. Tapi kemudian tubuhnya yang menegang langsung rileks, lalu membalas pelukan Min Ra. Tangannya mengusap lembut rambut gadis itu, seolah mempersilahkannya untuk menangis sampai hatinya merasa lega.
.
.
.
.
.
"Yak! Noona!Kenapa kau lama seka- hei, ada apa dengan matamu, Noona? Apa kau baru saja menangis?", suara Bambam yang berteriak mendadak berubah nada penuh kekhawatiran.
Semua mata mengarah pada Min Ra sementara gadis itu hanya menunduk diam.
"Gwaenchana?", tanya seseorang menghampiri Min Ra dan bertanya lembut.
Gadis itu menghela nafas berat dan mengangguk, "Nangwaenchana",jawabnya lirih.
"Duduklah dulu", kata si pemilik suara tadi, Jr. Ia membimbing Min Ra ke belakang ruang latihan dan mendudukkannya di kursi panjang.
"Hyung,sebenarnya ada apa?", tanya Yugyeom pada seseorang yang baru saja masuk membawa dua buah tas ransel, milik Min Ra dan miliknya, Jaebum.
Jaebum hanya tersenyum, diletakkannya tas itu di lantai, "kalian berganti baju dulu. Setelah itu latihan kita mulai", katanya. Ia sendiri langsung melangkah ke ruang ganti, setelah saling bertukar pandangan, para memberpun mengikuti langkah leadernya, kecuali satu orang. Choi Youngjae.
