Laki-laki itu menghampiri gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Kepala gadis itu terus merunduk, membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja dari bahunya.

"Kau sudah makan siang?", tanyanya.

Gadis itu menggeleng.

Samar, terdengar suara desahan nafas panjang dari laki-laki tadi. Diraihnya sebuah bungkusan dari tasnya, lalu, "Ini. Makanlah", katanya.

"Youngjae-ah...", panggil sang gadis untuk. Kepalanya ditenggakkan, memandang lurus pada lawan bicaranya.

"Waeyo? Menangis membuatmu kehilangan banyak tenaga. Min Ra-ya, makanlah", katanya lagi.

Untuk kali ini, Min Ra tak melihat sosok Youngjae yang biasa mengacuhkannya. Yang ada di depannya adalah Youngjae lain. Youngjae yang hangat dan lembut.

"Ambillah", kata Youngjae lagi. Tangannya terulur mengenggam sebuah bungkusan.

Dengan ragu, Min Ra menerima bungkusan tersebut, "Gomawo", katanya lirih.

Youngjae berjongkok dihadapan Min Ra. Tanpa bicara, ia mengusap bekas air mata di pipi gadis itu dan tersenyum memandangnya seolah menyuruh Min Ra mulai makan.

"Aish, kau selalu mengomeliku sementara kau bahkan tak bisa membuka bungkusan ini sendiri?", ledek Youngjae begitu melihat tangan Min Ra yang gemetar membuka ikatan kain di pangkuannya. Rupanya tubuhnya masih belum rileks setelah sebelumnya sempat menangis hebat.

"Mian..", kata Min Ra saat akhirnya Youngjae membuka ikatan tersebut untuknya.

Laki-laki itu tersenyum, "Coba lihat apa yang aku punya disana".

"Oh! Chicken!", seru Min Ra, "aah, bagaimana kau tahu ini kesukaanku?", sebuah senyum lebar terlukis di wajahnya.

"Aigoo,lihat wajahmu. Sedetik yang lalu, kau masih memasang wajah jelek dan mata panda itu. Dan sekarang kau tertawa seperti baru melihat badut", canda Youngjae sambil tertawa keras.

"Eii, kau itulah badutnya", tukas Min Ra mem-pout-kan bibirnya, "tapi, sungguh, bagaimana mungkin kau tahu kalau aku menyukai ayam?"

Youngjae kali ini menyerngitkan keningnya, "Molla",jawabnya, "Tapi aku membawa bekal itu karna aku menyukai ayam".

"Jinja?",seru Min Ra. Tangannya sudah sibuk memainkan sumpit dan mulai memilih potongan ayam, "Kalau begitu, ini..", tangannya mengulurkan sepotong ayam dengan sumpitnya.

"apa?"

"Karna ini milikmu, maka kau harus memakannya lebih dulu"

"Baiklah. Aku akan memakannya. Letakkan itu"

Min Ra menggeleng, "cepat makan ini. Aku lapar", tangannya masih terulur menyodorkan sepotong ayam pada Youngjae.

"ck", Youngjae mengeluh sekali, lalu memajukan wajahnya ke arah sumpit.

"Nah, seperti itu kan tidak sulit", kata Min Ra begitu Youngjae memakan ayam dari tangannya.

"Eum..", balas Youngjae sambil mengunyah, "aku ganti baju dulu. Makanlah yang banyak", lanjutnya. Kemudian ia mulai melangkah ke ruangan yang sama dengan member yang lain.

"Kau bahkan sebenarnya amat baik, Youngjae-ah", gumam Min Ra pelan sebelum akhirnya mulai makan dengan lahap.

.
.

.

.

"Aigooo, lelah sekali kakikuu", keluh Bambam. Tubuhnya dihempaskan begitu saja ke bangku.

"Apa latihan hari ini semelelahkan itu?", sapa Min Ra, ia baru saja masuk ke ruang latihan setelah sebelumnya menghabiskan waktu di studio rekaman. Bambam mengangguk, wajahnya memasang ekspresi lelah yang dilebih-lebihkan.

"Ah, kau sudah kembali", Jr meneguk air minumnya, "apa latihanmu hari ini lancar?"

Min Ra mengangguk, "Eum. Ei, Mark oppa, kemana handukmu?", tanyanya begitu melihat seorang lelaki kurus berjalan melewatinya.

"Kemana lagi? Tentu saja diambil hulkcina itu", Mark menunjuk ke arah Jackson. Yang ditunjuk hanya tertawa memamerkan dua buah handuk yang tersampir di bahunya.

"Oppa!Gunakan handukmu sendiri! Kenapa harus memakai milik orang lain, sih? Kemarin kau bahkan memakai sendal Yugyeom dan bertengkar dengannya", omel Min Ra. Tangannya merogoh tas besar dalam lemari, mengambil sebuah handuk dan melemparnya pada Mark tanpa bicara.

"Thank you", ucap Mark.

"Ei, semenjak Min Ra noonadisini, rasanya kita jadi memiliki dua eomma", Yugyeom tertawa.

Jackson merebahkan dirinya di lantai, "Siapa eommasatunya?".

"Jinyoung tentu saja. Siapa lagi?", jawab Jaebum. Ia baru saja selesai mengurus audio latihan dari komputer.

"Negawae?", keluh Jr.

"kenapa lagi? Kau bahkan mengomeli kami di dorm hanya karna Youngjae tidak menghabiskan sarapannya", Bambam menunjuk seseorang didepannya.

Sahutan Youngjae langsung terdengar, "Jangan bawa-bawa namaku".

Min Ra sudah tak begitu mendengarkan ucapan orang-orang di ruangan, yang ia tahu hanya suara Jr yang mengomel diiringi ledekan dari member lainnya, kecuali tentu saja Youngjae. Laki-laki itu masih sibuk berdiri di depan kaca, mengulang-ulang gerakan yang baru saja mereka latih.

"Kalau sudah selesai istirahat, segera berganti baju. Kita harus langsung pulang malam ini", titah sang leader, Jaebum.

Jackson meraih baju gantinya dari pinggir bangku, "Hyung,tak bisakah kita makan malam dulu?".

"Wae?"

"apa? Kau berharap aku akan memasak malam ini? Tidak, terimakasih. Aku lelah", kata Jr saat Jaebum melihat ke arahnya.

"kau tidak akan masak, hyung?", kali ini suara Youngjae yang terdengar. Ia nampak sangat tidak menyetujui ide itu.

"Yak! Kau! Dongsaengmacam apa kau ini? Hyungmu ini terlalu lelah untuk memasak malam ini!", Jr menepuk kepala Youngjae, membuat laki-laki itu meringis kecil.

Jaebum akhirnya menghela nafas dan memutuskan untuk mengalah, "Arasseo,kita akan makan dulu. Sekarang cepat berganti baju agar tidak kemalaman".

"Nee~",semua member menjawab titah sang Leader dengan patuh.

.

.

.
.

Ini... Rasanya tidak seperti makan malam yang fans bayangkan. Bukan suasana makan yang tenang, apalagi romantis. Justru, sebaliknya..

"Jaebum-ah, berhentilah memenuhi mulutmu seperti itu", Mark menepuk tangan Jaebum. Menahannya untuk berhenti menyesakkan makanan ke dalam mulutnya.

"Yugyeom-ah, Bambam-ah, jangan bermain-main dan selesaikan makananmu!", teriak Jr, kedua tangannya memukul kepala dongsaengdihadapannya kesal.

Bambam dan Yugyeom yang sedang asik mengambil makanan dari piring satu sama lain mendadak berhenti. Dan dengan sedikit bersungut, mereka menghadap ke arah nampannya masing-masing, menyelesaikan makanannya. Sesekali tangan mereka masih mencuri-curi kesempatan untuk saling mencomot makanan sambil terkekeh geli.

"Youngjae-ah, kau tak mau makan ini? Apa aku boleh memakannya?", ujar Jackson, matanya memandang arah steak Youngjae dengan pandangan berbinar.

"Pergilah, hyung.Aku benar-benar ingin makan sekarang", keluh Youngjae, tangannya mendorong bahu Jackson menjauh.

"Makanlah, Youngjae-ya. Tadi siang kau tak memakan bekalmu, sekarang kau harus makan banyak agar cepat besar", tentu saja ini adalah ceramah sang eomma,Jr, membela Youngjae.

Tapi bukan Wang Jackson namanya jika langsung menurut saat diberitahu. Dengan usil, tangannya tetap mengambil potongan-potongan steak dari piring Youngjae.

Youngjae baru saja hendak marah saat tiba-tiba saja sebuah piring terdorong ke arahnya.

"Makanlah", kata Min Ra.

"Itu steakmu. Habiskan saja", jawab Youngjae acuh.

"Aku kenyang"

"benarkah? Boleh kuhabiskan?", tanpa menunggu jawaban, Jackson mengambil ancang-ancang untuk menyambar steak di piring Min Ra.

Dengan sigap, Min Ra menepuk tangan Jackson, "Ei! Ini bukan untukmu, Oppa. Kau sudah mengambil jatah makan Youngjae tadi. Sekarang duduk lah dan habiskan jatah makanmu!", omelnya.

Meski merengut kesal, Jackson menuruti omelan Min Ra dan mulai duduk manis dihadapan nampan miliknya.

"Berisik sekali", gumam Youngjae sambil menarik piring ke arahnya.

Min Ra tersenyum saat melihat Youngjae mulai memakan steak darinya, "Nah, seperti itu. Makanlah".

"yak! Im Jaebum, paboya!Kau mau makan berapa banyak, hah?!"

"Molla."

"Hentikan hyung, aigoo, pikirkan tubuhmu"

"Waeyo?"

"Berhentilah makan, Jaebum-ah. Perutmu akan meledak jika kau seperti itu", Min Ra tiba-tiba saja menghampiri Jaebum dan mengambil piring makannya.

"Yak, Jung Min Ra! Kembalikan makananku!"

"Tidak. Berhentilah makan!"

"Eii, kau menyebalkan sekali", Jaebum menyeka mulutnya dengan tissu, menandakan ia benar-benar akan mengakhiri kegiatan makannya.

"Yugyeom-ah, Bambam-ah. Selesaikan makanmu atau kami akan meninggalkan kalian disini"

"Noona, apa kau setega itu pada kami?", Bambam memasang wajah sedihnya pada Min Ra.

"Makanya cepat habiskan makananmu dengan baik, arasseo?", jawab Min Ra menekankan kalimat terakhirnya lalu kembali duduk.

"ei, sst! Kau ini berisik sekali. Persis seperti ahjumma", bisik Youngjae yang kemudian hanya dibalas desisan kesal dari bibir Min Ra.

"ah, aku baru ingat. Apa kau sudah mengerjakan tugasmu?", tanya Min Ra mengabaikan ejekan lawan bicaranya.

"Tugas apa?"

Kali ini Min Ra menyeringai kecil, "Aigoo,mereka bilang kau murid cerdas di kelas. Tapi sekarang kau bahkan tak tahu kalau kita ada tugas", katanya.

"Arayo!Aku hanya lupa tugas apa yang kau maksud!", kilah Youngjae.

"Sastra"

Gerakan tangan Youngjae terhenti di udara saat hendak mengambil makanan, mata sipitnya membulat, "Sastra? Aku belum mengerjakannya. Otokkhe?",gumamnya pelan.

Min Ra mengehela nafas, berdiri dan menarik tangan Youngjae, "Oppa,aku akan balik duluan dengan Youngjae. Akan aku pastikan untuk mengantarnya sampai dorm. Sampai bertemu disana", katanya menundukkan kepala sekilas, tanpa menunggu jawaban, gadis itu sudah melesat dengan tangan yang menyeret paksa seorang Choi Youngjae keluar.

.

.

.
.

"Yak! Lepaskan aku!"

"berhenti menarik narik tanganmu!"

"Kalau begitu lepaskan!"

Min Ra melepas tangannya begitu saja, "Sudah".

"Aish, kau mau membawaku kemana?", tanya Youngjae mengusap pergelangan tangannya yang memerah.

"Apa sesakit itu? Mian...",ucap Min Ra merasa bersalah.

Youngjae menggeleng pelan, "Aniya.Gwaenchana", katanya, "kita akan kemana?".

"Ke dorm mu tentu saja. Apa kau tak melihat arah berjalan kita? Sebentar lagi bahkan kita akan sampai", jawab Min Ra sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan.

"Kenapa kau harus ikut masuk?", keluh Youngjae sesampainya di Dorm.

"Kau bodoh? Aku harus memastikanmu mengerjakan tugas sastra"

"Pulanglah. Aku akan melakukannya sendiri"

"Kau pikir aku akan percaya? Sudah semalam ini dan kau hanya akan langsung tertidur"

"Kalau begitu aku akan mengerjakannya besok pagi sebelum sekolah"

"Mustahil. Besok pagi kau akan bangun kesiangan seperti biasa, lalu berlarian ke kamar mandi seperti bocah kecil"

Youngjae mengacak rambutnya kesal, "Aah! Baiklah! Aku akan mengerjakannya sekarang!"

Min Ra tersenyum, "Ambil bukumu. Aku tunggu disini", katanya sambil menunjuk meja di depan tv.

.

.

.

.
.

Para member baru saja sampai di dorm saat suara Jr mengagetkan mereka, "Aigoo,lihat mereka", Jr menunjuk ke arah meja.

Yugyeom yang baru selesai melepas sepatunya langsung melongok ke dalam, "Omo!".

Para member yang baru saja hendak masuk, langsung berebut melihat ke dalam. Penasaran sebenarnya apa yang membuat Jr dan Yugyeom sampai membeku di tempatnya.

'Cekrek!'

Bambam langsung menepuk bahu Jackson, "Hyung,kenapa kau mengambil foto mereka?"

" Untuk ku kirim ke Jinyoung ahjussi.Kau pikir ia tidak akan panik jika gadis nya masih belum pulang saat ini?", jawab Jackson. Tangannya sibuk menulis sesuatu di layar ponselnya, "lagipula aku bisa meledek mereka nanti. Kkkk~".

"Ei, kau ini..", keluh Jaebum menyela kerumunan member di depan pintu, "sana bersihkan tubuh dan segera tidur. Aku akan membawa Youngjae ke kamar nanti".

"Lalu Min Ra?", tanya Mark.

Jaebum terdiam.

"Pakai kamar Jr hyungsaja. Dia kan tidur sendiri, jadi bisa dipakai Min Ra noona. Bagaimana?"

Jr langsung memelototkan matanya ke arah Bambam, "Yak! Lalu aku tidur dimana?!", ucap nya hampir berteriak.

"Ssttt!", Bambam, Yugyeom dan Jackson langsung menutup mulut Jr bersamaan.

Setelah menghela nafas, Jaebum akhirnya berkata, "kau tidurlah di kamarku. Aku akan tidur di sofa".

"Jinja?"

Jaebum mengangguk ke arah Jr yakin.

"Kau akan kedinginan nanti, tidur saja di kamarku", kata Jackson merendahkan suaranya.

Sementara Jaebum mengerutkan kening, Mark sudah memukul bagian belakang kepala Jackson dengan tangannya, "kau gila? Aku bahkan hampir tidak bisa mendaratkan kakiku di kamar!", omel Mark.

"Kamarmu itu terlalu berantakan hyung", kata Yugyeom, "Kalau Jaebum hyungkau bawa ke kamar, mau diletakkan dimana dia?".

Jackson merengut kesal sambil bergumam, mengomel tentang banyaknya baju, sepatu, cemilan, sampah, atau entah apa lagi yang keluar dari mulutnya.

"sudah, sana pergilah", Jaebum mendorong member lainnya ke kamar masing-masing, "Junior-ah, jangan lupa bereskan dulu kamarmu", tambahnya diiringi anggukan dari Jr.