Casts:

Min Yoongi as Kaito Nishizaki (13yo)

Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (13yo)


©BTS and ASTRO member belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

Chapter 15: Special Chapter (Suga x Eunwoo Story)

"Three Days"

.

[Eunwoo POV]

.

Bold = masa sekarang

Normal = masa lalu

.

.


"Kata ibu, aku nggak boleh main sama Eunwoo.."

"Cha Eunwoo serem banget! Kalau marah, bisa-bisa jadi sasaran balas dendam!"

"Kenapa kau nggak pergi saja, sih?"


Kalimat-kalimat itu.. sudah sering kudengar.

Aku selalu sendiri.

Dulu, pernah ada satu orang yang berbeda.

Peristiwa itu terjadi tiga tahun yang lalu, saat aku kelas 1 SMP.

Waktu itu, rambutku cuma sebahu lebih sedikit.

Badanku juga belum setinggi sekarang.

Matahari sedang bersinar dengan teriknya hari itu..


"Uh, panas..", seruku sambil menghalau mataku dari sinar mentari.

Sekolah sudah sepi karena jam bubar sekolah sudah lewat satu jam yang lalu. Namun, aku malas pulang cepat-cepat ke rumah, sehingga tadi aku sengaja mampir ke ruang musik untuk bermain piano. Aku suka di sana, selalu sepi. Pianonya juga cantik. Sudah tua dan tidak terlalu bagus seperti yang ada di rumahku, tapi suaranya tetap indah.

Ruang musik selalu sepi karena hanya digunakan saat kelas saja. Di sekolah ini tidak ada klub musik, sayang sekali. Padahal ruangan ini adalah tempat favoritku di sekolah, selain atap. Tempat yang terbebas dari manusia saat jam istirahat atau jika sudah jam bubar sekolah. Jika tempat itu tidak ada orangnya, berarti tempat itu cocok untukku.

Aku memilih pulang lewat lapangan depan sekolah, karena kupikir tidak akan ada orang di sana. Ternyata aku salah, hari ini klub sepak bola sedang berlatih. Tapi aku sudah terlanjur setengah jalan, jadi kuteruskan saja. Walaupun pada akhirnya aku melewati semak-semak yang tinggi—melebihi tinggi badanku—sehingga anak-anak klub sepak bola tidak akan melihat keberadaanku. Aku tidak mau mereka melihatku. Aku malas mendengar komentar mereka tentangku. Namun, langkahku terhenti ketika mendengar percakapan mereka. Entah kenapa, aku penasaran.

"Menurutku, yeoja nomor satu di angkatan kita itu Park Shinhye."

"Kalau menurutku, Kim Seohyun."

"Kalau aku, Cha Eunwoo."

Ha?!

Aku terpaku dibalik semak-semak. Ada yang menyebut namaku sebagai yeoja nomor satu seangkatan? Apa aku tidak salah dengar?

"Serius, Yoongi?!"

"Kau memang suka tantangan.."

"Wajahnya paling cantik, kan?", kata Yoongi polos.

"Iya, sih. Tapi dia menakutkan, loh! Benar, tidak, teman-teman?"

"Iya! Dia selalu mengerutkan dahinya."

"Aku belum pernah lihat dia tertawa."

"Kalau kita berisik, dia selalu menatap kita dengan tatapan benci."

"Pasti pribadinya juga buruk."

"Jangan begitu. Kita kan belum kenal dia. Kalau belum pernah ngobrol, mana tahu, kan?", kata Yoongi.

Min Yoongi.

Kau orang baik.

Maaf, aku selalu menganggapmu berisik dan bodoh.

Lalu aku melangkahkan kakiku beranjak dari tempat itu.. dengan wajahku yang agak memerah.


Saat itu, aku sedikit terkesan dengan teman sekelasku..

Yang tidak pernah kuanggap sebelumnya.

Dulu, Min Yoongi hanyalah seorang remaja biasa. Masih tenang, tidak seperti sekarang.

Ia hanyalah seorang anak kelas 1 SMP yang menyukai sepak bola.

Satu peristiwa kecil membuka komunikasi di antara kami..

Besoknya, saat aku sedang makan siang sendirian di atap—seperti biasanya—tiba-tiba saja dia datang.


"Loh?!", seru Yoongi.

Aku mendongak, karena dulu aku tidak menyadari kedatangannya.

"Uwaa! Ada anak makan siang sendirian di tempat begini! Sepinya~!", goda Yoongi.

"Berisik!", seruku kesal.

"Waa! Bekal apa, tuh?! Kayak hidangan tahun baru!"

"Ko.. koki di rumah memaksaku membawanya.."

"Di rumah ada koki?! Hebat. Kau memang lain dari anak biasanya!"

Aku sudah biasa dikatai seperti itu, jadi aku tidak ambil pusing. Tapi, waktu itu aku merasa.. sepertinya niatnya tidak jelek saat mengucapkan itu.

Aku tidak menjawab perkataannya dan hanya membereskan bekalku.

"Eh? Nggak habis?!", seru Yoongi.

"Ba.. banyak, sih.."

"Boleh kumakan?!", seru Yoongi heboh lalu ia mengambil bekalku dan langsung memakannya. Padahal aku belum memberinya izin.

"Daebak! Tiap hari bisa makan enak begini! Kalau begitu, setiap makan siang, sisanya buatku saja!", seru Yoongi disela kegiatannya memakan bekalku.

"Jangan!"

Biarpun aku melarangnya, Yoongi setiap hari tetap datang ke atap.

"Menu hari ini apa?!", seru Yoongi ceria sambil mengepak-kepakkan tangannya seperti ayam.

Kayak ngasih makanan ke anjing liar.. Benakku.

"Aku kan sedang dalam masa pertumbuhan.", kata Yoongi. "Bekal satu kotak saja nggak cukup."

Yoongi melanjutkan, "Tengah malam, tulangku berderik keraaas sekali! Sampai bikin aku bangun!"

"Hmph, mana mungkin.", kataku sambil menahan tawa.

"Benar, kok.. Ah! Kamu tersenyum! Uwaa! Baru kali ini kulihat!", seru Yoongi.

Aku pun memalingkan wajahku dan menutup mulutku karena malu.

"Kalau selalu senyum begitu, komentar miring soal tatapan seremmu, wajah angkermu, pribadi burukmu, keberadaanmu yang menakutkan, pasti lenyap!", seru Yoongi polos.

Aku sudah sering mendengar orang berujar seperti itu tentangku. Tapi, entah kenapa, aku merasa kalau niatnya baik ketika berbicara begitu padaku.

"Biar saja orang mau bilang apa…", kataku lirih.

Wajah Yoongi mengkerut seketika. "Mana bisa begitu! Sedih kan, kalau orang lain salah menilai kita. Kamu harus berani meruntuhkan tembok untuk mengubah keadaan."

Aku terpaku dengan kalimat yang dilontarkannya selanjutnya.

"Jangan pernah menyerah. Buat mereka memahamimu."


Meruntuhkan tembok…

Kalau bisa, sudah kulakukan sejak dulu.

Kau yang selalu riang tanpa beban,

Nggak akan mengerti perasaanku.

Bocah tengil, bodoh, dan serampangan.

Anehnya, aku nggak bisa membencinya.


Besok-besoknya, tidak hanya saat makan siang di atap, Yoongi selalu menghampiriku. Saat sebelum kelas di mulai, ia pasti menghampiri mejaku. Dan saat jam olahraga, ia selalu menggodaku. Seperti melempar bola voli tepat ke pantatku, misalnya. Dan masih banyak lagi.

Pada suatu siang, aku pulang terlambat lagi karena mampir ke ruang musik. Aku melewati lapangan depan sekolah lalu berpapasan dengan Yoongi yang sedang mengambil air untuk minum.

"Hai, mau pulang?", sapa Yoongi.

"Iya. Ada kegiatan klub, ya?", tanyaku walaupun sebelumnya aku sudah hapal jadwal klub sepak bola.

"Woi, anak kelas satu! Jangan genit-genit!", seru salah satu sunbae pada Yoongi.

"Sempat-sempatnya pacaran, padahal pertandingan sudah dekat."

"Oper bola saja nggak mulus. Paling karena punya koneksi kuat di manajemen, makanya dia masuk tim."

"Apa? Das—"

"Kalau nggak mau kalah, berusaha dong! Daripada menggerutu terus, latihan sana!", bentakku pada para sunbae yang meledek Yoongi, bahkan sebelum Yoongi membela dirinya sendiri.

"Apa kau bilang?!"

"Shhh, anak itu kan…."

"Serius?! Hiii, ayo pergi dari sini!"

Yoongi yang sempat terpaku pun langsung tertawa terbahak-bahak ketika para sunbae yang tadi meledeknya berlari menjauh.

"Cha Eunwoo sereeem. Daebak! Hahahahaha..", kata Yoongi sambil tertawa lepas, menampilkan gusinya yang berwarna pink muda. "Pribadimu memang unik!"

Aku diam saja dengan wajah memerah, karena entah kenapa ucapan Yoongi terdengar seperti pujian di telingaku.

Yoongi berdehem lalu berkata, "Oke, Cha Eunwoo. Kita pacaran, yuk?"

"HA?!"

"Makasih sudah dibela, aku jadi suka beneran.", kata Yoongi santai.

"Ja-jangan bercanda! Kau peduli padaku cuma karena simpati, kan?!"

"Haa? Bicara apa, sih?"

"Atau cuma karena mengincar bekalku?! Kalau memang begitu, nanti kubawakan bagianmu sendiri. Jadi jangan ganggu aku lagi!", bentakku sambil memalingkan tubuhku ke arah manapun asal tidak berhadapan dengan Yoongi.

"Kamu bodoh, ya? Kamu pikir aku mondar-mandir ke atap cuma untuk makan bekalmu?", kata Yoongi. Aku tidak melihat ekspresi wajahnya, tapi kurasa ia kesal, terdengar dari nada bicaranya.

Namun, setelahnya, nada bicaranya melembut. "Walau situasinya berbeda, aku juga dibuat pusing oleh orang tuaku. Tapi, apa boleh buat, sudah terlahir di situ. Anak nggak bisa memilih siapa orang tuanya, kan?"

Aku menoleh menghadap Yoongi lagi, kulihat ekspresi wajahnya lembut sekali. Berbeda dengan biasanya yang hanya punya dua mode: ceria atau berapi-api.

"Jangan merasa tersiksa. Kamu nggak salah apa-apa. Cerialah.", lanjut Yoongi. Lalu ia menggosokkan jari telunjuknya ke hidungnya, sepertinya grogi, karena wajahnya juga memerah seperti wajahku. "Kalau mau jadi pacarku, datanglah ke atap besok. Aku tunggu.."

Belum sempat aku berkomentar, Yoongi sudah bicara lagi.

"Begini saja, deh! Saat ini juga, kuputuskan kamu adalah pacarku! Awas kalau besok nggak datang!", kata Yoongi sambil menunjukku.

"A-apaan, sih! Dasar bodoh!", seruku seraya berlari meninggalkan Yoongi.

Aku terus berlari hingga keluar gerbang sekolah. Di balik gerbang, aku berhenti berlalu lalu menumpukan tanganku pada lutut.

"Jangan merasa tersiksa."

"Kamu nggak salah apa-apa."

"Cerialah."

"Selama ini, belum pernah ada yang berkata begitu padaku. Belum pernah…", kataku pada angin. "Selama ini, aku ingin seseorang mengatakan itu padaku…"

Lalu aku berjongkok, menangis sekuat tenaga.

Tangisan yang selama ini kutahan..

Karena aku tidak punya siapapun untuk bersandar.


Besoknya, aku datang ke atap.

Saat itu aku berjanji akan berusaha meruntuhkan tembok itu.

Dialah orang pertama yang memotivasiku…

Hari itu kami bolos kelas.

Kami bercerita tentang banyak hal.

Soal teman sekelas, sepak bola, acara tv favorit, juga masa kecil.

Tapi ia tidak pernah bercerita tentang keluarganya.

Baru kemudian aku tahu kalau ia ada masalah dengan ibunya.

Aku sedih karena ia tidak pernah menunjukkan kelemahannya padaku.

Min Yoongi.. aku.. nggak tahu kalau aku bisa berbicara seringan ini..

Aku nggak tahu kalau aku bisa tersenyum selebar ini..


Besoknya, hari Minggu, kami kencan ke taman bermain.

Kami memainkan semua wahana yang ada di sana, sampai tidak terasa waktu sudah menjelang petang.

Saat dijalan mengantarkanku pulang, tiba-tiba saja ada kelopak bunga yang jatuh dan menempel di rambutku. Yoongi ingin membantuku mengambilnya.

Ia memang mengambilnya. Tapi, setelahnya ia menarik tubuhku lalu memelukku erat.

"Ah, gawat.. Rasanya.. jantungku mau lompat.", kata Yoongi.

Aku yang hanya setinggi dagu Yoongi dapat mendengar dengan jelas detak jantungnya yang memang bertempo cepat. Tidak karuan malah, kalau boleh dibilang.

Setelah Yoongi melepas pelukannya, aku sadar kalau bukan hanya wajahku saja yang semerah kepiting rebus.

"Kamu lucu sekali kalau lagi malu, jadi kayak tomat!", seru Yoongi sambil terkekeh.

"Kamu juga! Kamu putih, sih, kayak gula! Ah, aku akan memanggilmu 'Suga' mulai sekarang..!", kataku.

"'Suga'?", tanya Yoongi.

"Iya, kamu putih dan manis, kayak gula—sugar. Jadi, aku akan memanggilmu Suga.", kataku sambil tersenyum.


Aku jatuh cinta dengan cepat.

Aku tidak tahu kalau aku harus melepas cinta ini dengan cepat juga.


Besoknya, di koridor depan kelas, aku bercengkrama dengan Yoongi seperti yang biasa kami lakukan di atap. Sekarang, kami sudah berani mengungkapkan hubungan kami ke publik. Saat Yoongi pamit ke kantin untuk membelikan minuman untuk kami berdua, aku mendengar teman-teman sekolahku berbisik.

"Mereka pacaran, ya?"

"Uwaa! Nggak nyangka!"

"Terus gimana dengan cewek Yoongi yang cantik dan lebih tua itu?"

"Oh, anak SMA itu, ya? Aku kira mereka pacaran."

Apa?

Sepulang sekolah, Yoongi ada kegiatan klub. Ia menyuruhku pulang duluan setelah mengantarkanku ke gerbang sekolah, karena hari ini latihannya lebih lama dari biasanya.

Tapi aku ingin menanyakan perempuanyang tadi dibicarakan oleh teman-teman sekolah. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu Yoongi di taman yang biasa kami lewati untuk pulang.

Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya aku melihat Yoongi berjalan di trotoar seberang taman di mana aku berada sekarang.

Saat aku akan menghampirinya, aku melihat ternyata ia tidak sendirian.

Ada seorang perempuan berjalan di sampingnya.

Perempuan itu mengenakan seragam SMA.

"Dasar! Kalau berantem sama Bibi, jangan terus-terusan kabur ke tempatku, dong!", seru perempuan itu.

"Biarin. Pelit amat, sih.", kata Yoongi.

"Sekarang ini aku cuma anak SMA yang tinggal sendiri. Tetangga bisa salah paham."

"Habis, rasanya sesak tinggal di rumah itu. Aku.. merasa tenang kalau bersama Jessica."

"Aku paham perasaanmu, tapi Bibi juga kesepian. Kamu harus lebih dewasa.", kata perempuan yang ternyata bernama Jessica sambil menepuk-nepuk bahu Yoongi.

"Kok anak-anak sepertiku yang jadi harus lebih dewasa?!", seru Yoongi.

Aku terus memandangi mereka sampai mereka tidak terlihat lagi.

Lalu aku menyadari satu hal.

Min Yoongi sama saja seperti yang lain.

Bukankah ia pacarku?

Tapi, kelemahannya yang tidak pernah ia perlihatkan padaku...

Mode ekspresi wajahnya yang kutahu hanya ada dua, ternyata ada empat, ditambah ekspresi sedih dan ekspresi marah.

...Justru ia perlihatkan pada orang lain.


Besoknya, di sekolah

.

"Eunwoo-ya! Tunggu! Kamu kenapa, sih?!", seru Yoongi sambil mengejarku di koridor. "Ada apa?! Kok marah? Tunggu! Cha Eunwoo!"

Yoongi berhasil menangkap lenganku.

"Pergi saja.. ke sisi orang yang bisa membuatmu tenang…", kataku lirih.

"Bicara apa, sih?! Aku nggak ngerti.."

Aku melepaskan genggaman tangan Yoongi yang walaupun pelan, terasa menyakitkan untukku.

Aku menyentuh dada Yoongi, lalu mendorongnya pelan.

"Nggak butuh…", kataku dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak butuh kamu…!"

"Eunwoo!"

Lalu aku berlari sekuat tenaga. Entah ke mana. Aku tidak memiliki tujuan lagi.

.

.

.

Cinta masa remaja tidak memaafkan pengkhianatan kecil.

Hanya dalam tiga hari, seluruh hatiku dibawa pergi.

Itu musim panas.. yang tidak akan pernah kulupakan.

.

.

END

.

.


end? serius end?

tenang yeorobun, cuma special chap ini aja yang end hahahaha

besok balik lagi ke cerita penguin brothers yang jimin tokoh utamanya kekeke

ini kilasan balik kenapa eunwoo keki sama suga. ternyata mereka mantanan! hahaha

.

masih belum kejawab kan siapa yang nolongin jimin waktu di pesta gaeun?

apa bener jungkook?

atau tokoh baru lagi?

:D