Grup LINE sangat ramai pagi ini, apalagi semenjak Jackson mengirim sebuah foto ke dalamnya..
Min Ra : Whoa! Oppa!Darimana kau mendapatkan foto ini?!"
Jackson : Aku mengambilnya semalam. Lucu kan? :p
Min Ra : Apa kau juga yang memasangkan selimut itu padaku? Ah! kau bahkan tak mengatakan apapun saat mengantarkanku pulang tadi pagi. Aish!
Mark : Apa yang kau harap akan dia katakan? Aku saja mati-matian menjaganya agar tidak tidur saat menyetir.
Jr : Omong -omong, iya, Jackson hyung yang memasang selimut itu persis sebelum Jaebum hyung membawa Youngjae ke dalam kamar. Apa kau sudah menghapus foto yang pertama? Yang kau ambil saat kita baru sampai dorm.
Jackson : Sudah.
Kalau begitu seharusnya kau yang menyetir, hyung.
Mark : Kau bilang, kau ingin melancarkan kemampuan menyetirmu saat jalanan sepi.
Jackson : Aargh! Diamlah hyung!
Yugyeom : Noona,eiii, aku tidak menyangka... Kau nakal sekali kkkk~
Min Ra : Yugyeom-ah,kenapa kau harus membahasnya lagi disaat Jackson oppa dan Mark oppa sudah mengalihkan pembicaraan? -_-
Bambam : Noona,eeiii~ :p
Jr : Lain kali lakukan itu lagi. Tapi... Denganku :*
Min Ra : Mimpi saja sana.
Jaebum : Min Ra-ya, bersiaplah. Kami akan berangkat sebentar lagi.
Youngjae : Jaebum hyung,kau tidak membangunkanku lagi? Bagaimana mungkin kau membiarkanku telat terus menerus-_-
Jaebum : Alarm milikmu sudah berbunyi keras. Apa aku harus membangunkanmu juga? Aku bahkan sudah meletakkan jam weker terkutuk itu di telingamu. Sudah sana. Segera bersiap!
Bambam : Aigoo,bahkan hari ini aku dan Yugyeom tidak terlambat bangun.
Min Ra : Arasseo,aku akan menunggu.
Mark : Kau beruntung sudah menyelesaikan tugasmu semalam, Youngjae-ah.
Youngjae : Eum.
"Ayo berangkat", Youngjae tiba-tiba saja keluar dari kamar dengan jas seragam sekolah dan dasi di tangannya. Tas ranselnya menggantung asal di bahu dengan resleting yang terbuka.
"Rapikan dulu dirimu. Aish, idol macam apa kau ini", keluh Jr mendekatinya. Memasangkan dasi dan menutup tasnya dengan kesal.
"Aku ini mau pergi ke sekolah, hyung. Bukan konser. Jangan bawa-bawa status idol itu"
"Sudahlah, ayo berangkat", ajak Jaebum sambil berdiri dan melangkah ke arah mobil.
"Yugyeom dan Bambam sudah berangkat?", tanya Youngjae sambil mengenakan sepatunya.
"Sudah sejak tadi", jawab Mark ketus. Tentu saja dia kesal, ia harus menemui resiko terlambat setiap pagi karna makhluk bantal yang satu ini. Kalau sampai nilai sekolahnya terpengaruh, rasanya ia takkan ragu memukuli anak itu nantinya.
Jr merangkul bahu Mark seolah mengerti, "kajjahyung.Kita masih harus menjemput Min Ra".
"Youngjae-ah, biasakan dirimu bangun lebih pagi", tegur Jackson. Rupanya kali ini ia sedang tak bercanda seperti biasanya.
"Eum, hyung"
Jaebum menatap Jackson sekilas dengan putus asa, memintanya untuk masuk ke dalam mobil sementara ia menemani Youngjae yang masih sibuk mengikat tali sepatunya.
"iya aku tahu. Besok akan ku coba bangun lebih pagi", ujar Youngjae sedikit kesal.
"aku bahkan tak mengatakan apapun", kata Jaebum. Kemudian ia merangkul bahu Youngjae dan menuntunnya ke arah mobil.
.
.
.
.
"Benarkah? Mungkin kau diganggu setan tidur?", ucap Min Ra.
Pagi itu guru Matematika sedang berhalangan hadir dan hanya meninggalkan tugas. Tentu saja Alih-alih mengerjakan tugas, siswa kelas 1-2 lebih memilih saling mengobrol dan bercanda. Tak terkecuali Min Ra dan Youngjae, Min Ra sedang membalik tubuhnya, mengerjakan tugas di meja Youngjae sambil mendengarkan keluhan pagi dari laki-laki itu.
"Tidak. Aih, kau bercanda. Aku sangat nyaman dengan bantalku"
"Kau...?"
"wae?", tanya Youngjae ketus.
"Mungkinkah kau jatuh cinta pada bantalmu?"
"Aish!", Youngjae memukul pelan kepala Min Ra dengan sebuah buku.
"Ak! Appo!", jerit Min Ra, tangannya menggapai-gapai berusaha memukul Youngjae balik.
Tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan kegiatan pukul memukul mereka,
"Yak! Jung Min Ra!"
Sang pemilik nama menoleh ke depan, menatap seorang gadis yang memanggilnya.
"Kau. Ku pikir kau benar-benar hanya sekedar menjadi trainee di JYPE. Tapi ternyata kau sama saja seperti fans-fans murahan!"
Min Ra mengerutkan keningnya memandang Youngjae bingung.
"Jangan berlagak bodoh! Atau perlu aku menunjukkannya padamu?!", kata gadis itu lagi, ia mulai melangkah ke arah kabel proyektor dan mencolokkan kabel ke sebuah ponsel.
Tunggu, sepertinya Min Ra mengenal ponsel itu...
"O-omo!"
"Ya Tuhan!"
"Gadis itu menginap di rumah Youngjae?!"
"Ia tidur bersama... Oh ya Tuhan!"
Gumaman-gumaman kaget terdengar dari seisi kelas.
"Yak! Apa kau percaya pada omongan gadis itu?!", seseorang berteriak dari depan kursi Min Ra.
"Ada apa Hyo Ra? Kau ingin membela gadis murahan itu?", sang gadis menatap Hyo Ra dingin.
"Kalian! Apa kalian baru mengenal Eun Hye hari ini? Kalian semua tahu kalau dia memang biang gosip di sekolah ini!", Hyo Ra mengabaikan ucapan gadis sinis tadi, Eun Hye.
"Hyo Ra-ya..", Min Ra memanggil nama sahabat yang duduk didepannya lirih. Ia berusaha menahan Hyo Ra meskipun ia sendiri bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari meja tempatnya duduk.
Seorang siswa berdiri dari ujung bangku di kelas, "Eum, Hyo Ra-ya, bukannya kami mempercayai Eun Hye. Tapi foto itu..."
'Brakk!'
"Song Eun Hye! Kenapa kau mengambil ponselku?!"
"J-Jaebum-ah?"
"Hyung.."
Jaebum membanting pintu kelas dan membelah kerumunan siswa diikuti Jackson dibelakangnya. Ia menatap Eun Hye tajam.
"Oppa,aku tidak mengambil ponselmu. Aku meminjamnya saja", jawab Eun Hye sambil meraih lengan Jaebum dan menggelayut manja.
Dengan kasar, Jaebum menyentak gadis yang memeluk lengannya, "Kau mengambil ponselku saat aku menitipkannya di petugas perpustakaan? Kau bilang itu meminjam, HAH?!", bentaknya.
"Dan kau, Eun Hye, kau tak punya hak apapun untuk menyebarkan foto itu, apalagi membuat pernyataan palsu! Kau tahu kan, menyebarkan rumor termasuk bagian dari tindak kekerasan di peraturan sekolah?!", mata Jackson yang memerah marah menatap Eun Hye.
"A-aku tidak..", Eun Hye mulai nampak gugup, kemudian ia mengerjap dan berkata, "Kalian lihat?! Bahkan Jackson oppa dan kekasihku, Jaebum oppamembela gadis rendahan itu!", teriak Eun Hye pada seisi kelas.
Jackson mengepalkan tangannya, "Jaga mulutmu, Song Eun Hye! Aku bukan kekasihmu!", bentaknya.
"Ku dengar kau berasal dari Indonesia, ya? Kau sepertinya beruntung karna kulitmu tidak hitam. Atau kau menggunakan sihir ya untuk mengubah kulitmu? Dan oh, tentu saja, merebut hati para namjayang membelamu itu?", Eun Hye mengabaikan Jaebum dan menghampiri Min Ra.
Min Ra sebelumnya memang berkulit sawo matang, tapi semenjak pindah ke Korea, selain mendapat perawatan kulit atas paksaan JYP, kulitnya juga dengat cepat beradaptasi dengan suhu dingin negeri ini menjadi kuning pucat.
Wajah Min Ra menegang, mata sipitnya membulat menatap Eun Hye dengan berkaca-kaca, "Eun Hye-ya.. Aku tidak... AAAKKKK!".
Kata-kata Min Ra terputus dan berganti teriakan saat Eun Hye tiba-tiba saja menjambak rambut panjang Min Ra dan memaksanya berlutut di lantai.
"Kau, gadis sialan. Setelah meninggalkan negeri kulit hitammu itu sekarang kau ke sini? Membawa sihirmu ke negeri terhormat ini, Hah?!"
Youngjae menahan tangan Eun Hye saat gadis itu hendak memaksa Min Ra mencium kakinya, "Hentikan itu! Kau keterlaluan, Eun Hye!"
"Aku? Hei, Youngjae-ya, buka matamu. Kau ini tersihir, sama seperti dua orang didepan itu", kata Eun Hye menunjuk Jaebum yang sedang ditahan Jackson dari ledakan emosinya. Tangan kirinya masih menarik rambut Min Ra kuat.
'Ssreett!'
Eun Hye menggerakkan tangannya untuk menampar Min Ra.
'Greb!'
Mata Eun Hye membulat saat seseorang mencekal tangannya, "O-oppa?"
Wajah orang itu memerah, tangan kirinya mencekal pergelangan tangan kanan Eun Hye dengan keras, "Lepaskan tanganmu dari gadis ini", gumamnya, "LEPASKAN SEKARANG, AKU BILANG!", bentaknya.
Pelan, cengkraman tangan Eun Hye di rambut Min Ra mengendur dan lepas.
"Bangun"
"J-Jinyoung-ah.."
"Ku bilang bangun, Min Ra-ya", ulang Jr.
Youngjae membantu Min Ra berdiri dan merapikan rambutnya.
Jr mengangkat tangan Eun Hye dalam genggamannya, "kalau sampai kau mengulang kelakuanmu, kau akan lihat amarahku", ucapnya sambil menghempas tangan gadis itu.
"Gwaenchana?",Youngjae menatap Min Ra khawatir.
Min Ra hanya mengangguk.
Jr meraih lengan Min Ra dan melangkah hendak membawanya pergi.
"TIDAKKAH KALIAN LIHAT?! EMPAT PRIA MEMBELANYA! DIA MEMANG PENYIHIR!", Eun Hye yang masih menunduk memegangi lengannya dengan rambut tergerai berteriak kencang.
Kelas 1-2 mendadak ramai. Siswa kelas lain yang mendengar keributan kini sudah bergerombol di jendela. Insiden tadi rupanya menjadi tontonan yang menarik sekarang, mungkin itu sebabnya Eun Hye berteriak lantang.
"SONG EUN HYE, TUTUP MULUTMU!", Jaebum menggebrak meja dengan kasar.
Eun Hye hanya menyeringai sinis.
"Kajja", tanpa mengindahkan suasana dibelakangnya, Jr menarik Min Ra keluar dari kelas.
Langkah mereka segera disusul dengan Youngjae.
"Kau. Akan kuadukan kejadian ini pada guru", ancam Jackson, "Dan pada Park Jinyoung ahjussi". Jackson tahu benar, JYP adalah kelemahan terbesar Eun Hye. Gadis itu sangat berharap suatu saat akan menjadi trainee di JYPE, itu sebabnya ia sangat membenci gadis-gadis yang menjadi Trainee di JYPE.
Wajah Eun Hye memucat sekilas, "Setidaknya semua sudah melihat foto tadi", gumamnya dengan sebuah senyuman sinis.
Jaebum menggebrak meja lagi, ia hampir saja menyerbu Eun Hye jika saja Jackson tak menahannya. Jackson tahu betul bahwa laki-laki dihadapannya itu sangat temperamental, dengan sigap, ia meraih ponsel Jaebum yang tergeletak di meja dan menyeretnya pergi dari kelas.
Foto itu masih terpampang di layar depan kelas sebelum akhirnya berkedip beberapa kali, lalu menghilang. Ya, foto itu. Sebuah foto yang membingkai gambar Min Ra yang tertidur di belakang meja penuh buku, menyandar pada bahu Youngjae, sementara kepala laki-laki itu menyandar balik ke kepala Min Ra.
.
.
.
.
.
"DIA GILA!", Jaebum berteriak kesal sambil menendang sebuah ember kosong dengan kuat. Mereka tengah berkumpul di atap sekolah saat ini.
"Jaebum-ah, hentikan itu", keluh Mark. Ia sendiri baru saja datang setelah mendengar apa yang terjadi di kelas Min Ra.
"Ah bocah itu! Benar-benar!", Jaebum masih terus mengomel tanpa mempedulikan tuguran Mark.
"Jaebum hyung,bagaimana ponselmu bisa sampai ke tangan Eun Hye, eoh?", tanya Jackson.
"Kau ingin menyalahkanku?!"
"Ei! Tenanglah, Tidak!"
"Kau menyalahkanku karna ponselku meng-auto download foto yang kau kirim tadi pagi?!"
"Maksudmu, ini salahku karna mengambil foto mereka dan mengirimnya ke grup?!"
"Aku tidak mengatakan begitu. Kenapa kau tersinggung?!"
Mark langsung berdiri di tengah-tengah dua temannya yang hampir beradu hantam, "Tenanglah kalian", katanya, kedua tangannya direntangkan memisahkan mereka, "Jaebum-ah, redakan emosimu. Dan kau Jackson, jangan terpancing dengan hyungmuini. Kau kan tahu bagaimana temperamennya dia".
Jackson mengusap wajahnya kasar, "Nde,arasseo",ia menarik nafas pelan, "Mianhaehyung,maksud pertanyaanku adalah tentang kronologi Eun Hye mengambil ponselmu".
Setelah mengacak rambutnya, Jaebum mulai membuka suara, "Tadi aku di perpustakaan, mencari beberapa bahan untuk persiapan ujian akhir. Tiba-tiba saja dia datang, bertanya apakah aku sedang sibuk atau tidak", Jaebum berhenti sejenak dan mengatur nafasnya yang masih agak memburu, "Aku bilang, aku sibuk. Ia bertanya, kenapa aku tak membalas pesannya. Ku jawab, aku tak sempat. Sepertinya ia kesal karna ku acuhkan, karna kemudian ia menghampiri petugas perpustakaan dan menanyakan ponselku. Tentu saja ponselku ada disana, bukankah di perpustakaan tidak boleh membawa ponsel?"
"Ya memang harus dititipkan. Lalu kenapa ia meminta ponselmu?", tanya Jackson lagi.
"Entah. Tapi ku rasa ia ingin mengambil ponselku agar aku mencarinya. Jadi ia bisa bertemu denganku selama ponsel itu masih berada di tangannya"
"Fans gila"
"Jaga ucapanmu, Jackson-ah", tegur Mark. Sedangkan Jackson hanya memutar bola matanya malas.
"Aigoo,bagaimana kita akan memberitahu Park jinyoung ahjussi tentang kejadian ini?", Jackson bergumam frustasi.
"nanti kita pikirkan lagi. Min Ra-ya, gwaenchana?",tanya Jaebum, suaranya melembut.
Min Ra hanya mengangguk. Ia kini sedang duduk di lantai dengan Youngjae di samping, dan Jr di hadapannya.
"Youngjae-ah, gwaenchana?", tanyanya pada Youngjae.
Youngjae mengangguk," nangwaenchana.Aku sudah biasa, hyung.Tapi kalau ini menyangkut Min Ra...", ia tak menyelesaikan ucapannya dan melirik ke arah gadis di sisinya.
Jaebum mengusap lehernya gelisah, "Min Ra-ya..", ia baru hendak mengatakan sesuatu saat dilihatnya mata coklat Min Ra menggenang. Ia nampak akan menangis saat ini. Tapi kenapa air mata itu hanya menggenang?
"Jaebum-ah, ayo kita turun", Ajak Mark sambil menarik lengan Jaebum, "Jackson-ah, kajja",ajaknya juga pada Jackson.
Jackson menarik lengan Youngjae, "Youngjae, ikutlah dengan kami", ucapnya, setelah itu ia langsung membawa Youngjae yang sedikit meronta karna menolak dipaksa pergi dari atap.
"Min Ra-ya...", Jr baru hendak mengatakan sesuatu begitu Teman-temannya pergi ketika tiba-tiba saja Min Ra menghambur dan memeluknya kuat-kuat.
Jr tersenyum tipis, diusapnya kepala gadis itu saat bahunya mulai berguncang dan menangis sesenggukan.
"Kau takut?", tanya Jr lembut.
Min Ra mengangguk kecil dibalik bahu Jr.
"nado", timpal Jr.
Tangan Min Ra memeluk Jr lebih erat. Memang ia hanya akan terbuka pada Jr mengenai perasaannya. Hanya pada Jr lah Min Ra dapat berlaku sebagaimana dirinya sendiri. Ia nyaman bersama Jr, bukan sebagai kekasih, tapi lebih dari sekedar sebagai keluarga.
"Kau sudah lebih tenang sekarang?", tanya Jr setelah beberapa saat.
Min Ra mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Jr, "eum..", angguknya.
Jr meraih kepala Min Ra dan menyandarkannya di bahunya. Digenggamnya tangan Min Ra di pangkuannya, lalu ia mengusapnya lembut, "Jangan salahkan Jackson hyung", katanya.
Min Ra mengangguk.
"Jangan salahkan Jaebum hyungjuga"
Min Ra mengangguk lagi.
"ini juga bukan salah Youngjae"
"Tentu saja"
"ei, kau baru membuka suara saat aku menyebut nama Youngjae", Jr terkekeh.
Min Ra menepuk pelan kaki Jr, "Bukan begitu. Malam itu salahku. Aku yang mengantuk saat menungguinya mengarang puisi. Dan tanpa sadar, aku tertidur ke arahnya", gumam Min Ra, "seharusnya kami tidak bersandar ke sofa saat itu. Bersandar akan membuat kami mengantuk dengan cepat".
Jr tersenyum, "Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi", katanya, "Kau akan kembali ke kelas?"
Min Ra menggeleng pelan, "Bisakah kita... ".
"Jr hyung!",sebuah suara muncul dari pintu.
Min Ra menegakkan badannya perlahan, menatap sosok yang berlari menuju ke arahnya.
"Guru memanggil kita", katanya pada Min Ra.
"waeyo,Youngjae-ah?", tanya Jr.
"kurasa tentang masalah tadi. Semua kelas 1 sudah mengetahuinya", kata Youngjae ragu.
Jr mengerutkan keningnya, "kelas 1? Semua? Bahkan sampai 1-4?".
"1-4 kelas yang diujung itukan maksudmu? Iya"
Min Ra mendundukkan kepalanya diam. Ia rasa, ia benar-benar sedang tak ingin bertemu sekolah saat ini.
"Baiklah kalau begitu aku akan turun lebih dulu", kata Jr sambil menepuk bahu Min Ra pelan, "Kabari aku jika kau sudah selesai", ia lalu melangkah ke arah pintu dan turun.
"kajja.. ", ajak Youngjae. Kakinya mulai berjalan ke arah pintu.
" Youngjae-ah...", panggil Min Ra sambil menarik ujung jas seragam Youngjae, menahan langkah laki-laki itu.
"Waeyo?",tanyanya lembut.
"Eum, bisakah kita pulang saja?"
"Sekarang?", Youngjae nampak sedikit kaget.
Min Ra mengangguk.
Youngjae terdiam sejenak, lalu mengangguk lembut, "eotteon,kenapa tidak? Lagi pula, aku juga sedang ingin makan ramen", katanya.
Disentuhnya bahu Min Ra, "Tunggu aku di belakang sekolah. Aku akan berlari secepat kilat, mengambil tas kita dan pergi dari sini".
Min Ra menatapnya, tak mengangguk, tidak juga menggeleng. Masih ada genangan air mata disana.
"Eum, kupikir, tidak perlu sih. Biarkan saja tas kita disana. Nanti aku akan minta hyungdeuluntuk membawakannya", Youngjae tersenyum lagi, "kita berangkat sekarang?". Sebuah tangan terulur ke arah Min Ra.
Gadis itu terbengong sesaat.
"Hei, jangan melamun. Ayolah, aku lapar"
"Eum", jawab Min Ra. Ia menarik ujung bibir nya sedikit keatas dan menyambut tangan Youngjae.
Youngjae menggenggam tangan Min Ra erat-erat. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, "kajja".
