Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – Ketua 'White'

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'

Cha Eunwoo!GSas Yutaka Iijima (16yo) – 'Grey'

Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo) – 'Grey'

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's …..

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's ….

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – 'Grey'

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – 'White'

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO, and SNSD member belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 16: The Truth

.

.


Pagi itu Jimin sudah nongkrong di ruang OSIS, tepatnya, di meja ketua OSIS. Ia terus memandangi Jungkook yang sedang membaca buku dengan wajah kesal. Jungkook kesal karena Jimin terus-terusan memandanginya dalam jarak satu lengan.

"Ngapain, sih? Ruangan ini khusus anggota OSIS!", seru Jinyoung pada Jimin. "Kami mau rapat, keluar sana!"

Jinyoung melirik Sanha lalu berkata, "Mauku, sih, pengkhianat juga keluar!"

Sanha tidak membalas ledekan Jinyoung. Ia hanya menatap Jinyoung dengan sorot mata mengerikan. Mungkin dalam hatinya ia berpikir untuk menaruh ular di tas Jinyoung nanti.

"Jungkook kidal, ya?", tanya Jimin, akhirnya bersuara.

"Nggak. Dia bisa kiri-kanan. Pegang pulpen di tangan kanan, marker di tangan kiri.", jawab Jinyoung polos.

"Kok kamu yang jawab?", kata Jungkook, heran.

Karena dirasa pengawasan Jungkook sedang lengah, Jimin langsung menarik lengan kanan Jungkook dan membuka telapak tangan Jungkook yang sedari tadi dikepalnya. Di sana terdapat perban tipis dan memanjang, seperti luka teriris pisau.

"Gomawo..", kata Jimin, masih sambil memandang luka di telapak tangan Jungkook.

"Buat apa?", tanya Jungkook, berusaha santai.

Jimin tidak menjawab. Ia membalikkan badannya lalu berjalan menjauh dari Jungkook menuju pintu dengan pipinya yang bersemu kemerahan. Sebelum benar-benar keluar dari ruang OSIS, Jimin menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan itu lalu berseru, "Aksimu kemarin keren banget!", lalu ia menutup pintu ruangan itu.

Saking terkejutnya dengan yang Jimin katakan, Jungkook sampai menjatuhkan buku yang sedari tadi sedang pura-pura ia baca.

Hihihi.. ternyata Jungkook!

Mhihihihihi.

Jimin menutup wajahnya yang sudah semerah tomat sambil berlari menuju kelasnya. Entah kenapa, tapi Jjmin senang sekali kalau yang menolongnya kemarin adalah Jungkook.


Di koridor kelas, Jimin melihat sosok Eunwoo yang baru datang.

"Eunwoo-ya!"

Eunwoo berhenti berjalan lalu menoleh ke arah Jimin.

"Pagi!", seru Jimin, "Akhir-akhir ini Eunwoo sering ke sekolah, ya."

"Absenku kritis, sih.", jawab Eunwoo singkat lalu lanjut berjalan dengan Jimin di sebelahnya.

"JB mana? Absennya kritis juga, kan?"

"Kami nggak selalu bareng, kok.", jawab Eunwoo dengan wajah datar. "Biarkan saja dia. Toh, sepertinya dia nggak ada niatan untuk lulus."

"Hm.. begitu. Oh, iya. Sepulang sekolah nanti aku mau jenguk Suga. Eunwoo mau ikut?", tanya Jimin polos.

"Ha?! Kenapa aku harus menjenguk…..", wajah Eunwoo seketika berubah menjadi horor, "Pasti JB cerita…"

Jimin membelalakkan matanya. Astaga, keceplosan!

"A-aku nggak tahu apa-apa, kok!", seru Jimin berusaha terdengar tidak panik.

"Pulang nanti akan kuhajar dia! Biar kupecat sekalian!", seru Eunwoo sambil pergi dengan langkah berisik, meninggalkan Jimin.

"Uwaa, eottokhe?! Maafkan aku JB!", seru Jimin yang sudah ber-sweatdrop ria.


Di Markas (dadakan) 'Grey'

.

V sedang memelototi layar laptopnya dengan tatapan mengerikan. Ia sudah melakukan itu selama kurang lebih lima-belas menit, hingga teman-teman 'Grey'nya kebingungan dibuatnya.

"Sejak kejadian di pesta Gaeun, V jadi aneh, ya?"

"Iya. Aura hitamnya pekat banget!"

V yang pikirannya sedang berada di alam lain, tidak mendengar ucapan teman-temannya. Ia sedang memikirkan kejadian kemarin sewaktu ia mengejar sosok namja berjubah dan bertopeng di taman vila Gaeun.

"Ya! Jeon Jungkook, tunggu!", teriak V. "Yaish. Kau benar-benar menjengkelkan! Sehari-hari berlagak cuek! Tapi suka sok jadi pahlawan!"

Namja itu berhenti berlari, menoleh ke arah V, melepaskan topengnya, lalu tersenyum penuh misteri.

Namja itu benar, adalah Jeon Jungkook.

V mengusak-usak rambutnya dengan kasar. Apaan, sih, malah tersenyum begitu?! Arrghh! Sebal! Aku nggak mau kalah dari dia! Teriak V dalam hati.

"Em.. V? Gwenchanayo?", tanya Yugyeom yang sudah berada di belakang V.

V menoleh kepada Yugyeom, "Apa?!"

"Anu.. ini.. ada data terbaru.", kata Yugyeom. Ia pikir mungkin V sedang bad mood, jadi ia memutuskan untuk memberi tahu V kabar baik. "Sekarang, jumlah anggota 'Grey' ada 330, 'White' ada 370, dan 'Black' ada 500."

"Berkat kerjasama tiga bidadari: Hyeri, Yura, dan Minah, anggota yeoja kita langsung meroket.", sambung anggota 'Grey' lainnya. "Masalahnya, kebanyakan anggota baru kita itu mantan anggota 'White'."

"Pengikut Suga memang banyak. Selain itu dia dikit-dikit main fisik, sih!", kata Yugyeom.

"Melampaui jumlah 'White' memang cuma soal waktu.. Tapi, bagaimana cara kita melampaui jumlah 'Black'?", tanya salah satu anggota 'Grey'.

"Hm.. Kita harus merontokkan kepercayaan terhadap Suga untuk merontokkan geng 'Black'…", kata V.

Tingtung!

Terdengar suara dari laptop V.

"Loh, itu kan…."

"Iya, Yugyeom. Itu video Suga dan Jungkook. Aku sedang meng-convert-nya.", kata V malas.

"Omong-omong, apa kamu sudah dengar, V? Ada gosip yang beredar kalau mereka berdua sebenarnya akrab.", kata Yugyeom sambil terkekeh.

"Hee? Darimana sumbernya?"

"Sumber apa? Mata air panas?", tanya Yugyeom polos.

"Maksudku.. sumber informasi itu…."

"Oh, waktu itu saat kita pulang karaoke, ada yang melihat mereka berdua sedang bicara sembunyi-sembunyi. Tapi, sepertinya sih, mereka nggak sengaja ketemu.", kata Yugyeom. "Tapi, karena tempo hari Jungkook memotong tali pengikat Suga…. Terciptalah gosip itu."

Berarti yang melihat mereka bukan cuma aku, ya.. Benak V.

"Tapi, yah.. mana mungkin mereka begitu, kan.", lanjut Yugyeom.

"Yugyeom, apa kamu punya kenalan yang bisa baca gerak bibir?", tanya V tiba-tiba. "Aku penasaran mereka bicara apa.", kata V sambil menunjuk video yang akan dieditnya.

"Cari di internet saja.", kata Yugyeom polos.

V terpaku. Iya, ya. Cari di internet saja. Ah, pabo!

V langsung kembali duduk di kursinya dan mengetik sesuatu di laptopnya. Satu smirk muncul di wajah tampannya ketika berbicara, "Aku punya ide asyik, nih."

Yugyeom mendekati layar laptop V, penasaran.

"'Gimana kalau begini? Sebenarnya, mereka berdua sangat akrab, tapi pura-pura bermusuhan agar bisa jadi orang paling ditakuti di sekolah dengan cara menjadi ketua dari dua kubu di sekolah, 'White' dan 'Black'.", kata V sambil terus mengetik hasil imajinasinya itu di laptopnya, "Ketua 'White' harus anak yang terpintar dan ketua 'Black' harus anak yang terkuat. Lalu, hubungan keduanya harus nampak buruk. Sebagai ketua, mereka bisa melakukan apapun sesuka hati, kan? Karena itu, mereka terus menipu seisi sekolah. Tentu saja, pertengkaran saat upacara masuk sekolah pun sudah diatur."

Yugyeom tercengang membaca cerita karangan V.

"Nah, dengan berita ini, kepercayaan anggota 'Black' pada Suga akan runtuh!", kata V sambil menyeringai mengerikan.

"Kamu mau menyebarkan isu? Apa mereka akan percaya?", tanya Yugyeom sangsi.

"Akan kubuat mereka percaya. Toh, ada visualisasi pendukungnya.", kata V sambil menunjuk video Jungkook dan Suga.

"Nggak apa, nih, image-mu jadi jelek?", tanya Yugyeom.

"Organisasi manapun juga membutuhkan orang untuk melakukan pekerjaan kotor.", jawab V dengan sorot mata tajamnya dan seringaian di wajahnya.


Di koridor menuju taman utama BigHit School

.

Sore itu koridor sepi, karena hampir seluruh siswa BHS sudah pulang. Jungkook tertahan karena kegiatannya selaku ketua OSIS.

Ponsel Jungkook tiba-tiba saja berbunyi. Ada panggilan masuk dari seseorang. Jungkook mengangkatnya dengan raut wajah kesal. "Halo."

"Apa kabar, Jungkookie?"

PIP.

Jungkook langsung mematikan sambungan telepon itu. Namun, orang yang tadi memanggilnya 'Jungkookie 'meneleponnya lagi. Mau tidak mau Jungkook pun mengangkat telepon itu.

"Kau…! Jangan tutup telepon dariku, dong!", seru orang di seberang sana.

"Kau panggil aku 'Jungkookie' lagi dan kau akan kubunuh!", bentak Jungkook.

"Kekeke, oke, oke, aku akan berhenti memanggilmu begitu."

"Mau apa? Aku sudah senang karena nggak melihat tampangmu, sekarang kau malah meneleponku.", tanya Jungkook ketus.

"Maaf, deh. Aku bosan kebanyakan nganggur. Jadi aku telepon kamu saja."

"Yah.. tinggal soal waktu saja masalah ini selesai.", kata Jungkook dingin.

"Apaan?!", seru orang di telepon. "Kau usaha, dong! Nggak asyik kan, kalau selesai begitu saja?"

"Sejak awal aku nggak peduli dengan pertandingan ini. Aku jadi ketua pun karena mengikuti usulmu. Kita jadi ketua supaya bisa berbuat sesuka hati, ingat? Kau juga sebenarnya nggak peduli, kan, dengan pertandingan ini?"

"Hm.. begitulah. Aku cuma benci kekalahan saja."

Jungkook terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Hei.. boleh tanya sesuatu?"

"Apa?"

"Kenapa.. pisaunya nggak kau pakai?", tanya Jungkook dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"…Aku juga mau tanya.", kata orang di panggilan telepon itu. "Kenapa.. memberiku pisau?"

Sebelum Jungkook menjawab, orang itu sudah berkata lagi. "Kau benar-benar ingin menjauhkan aku dari Park Jimin, ya?"

GREK.

PIP.

Orang itu langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Jungkook karena pintu ruangannya terbuka, ada orang yang datang ke kamarnya.

"Ya, Min Yoongi! Kamu habis menelepon? Ini rumah sakit, dilarang pakai handphone!", seru Jessica yang baru tiba.

"Oh, ya? Aku nggak tahu ada larangan begitu..", kata Suga sambil tersenyum penuh misteri.


"Kemarin ayah Cho Gaeun datang ke rumahku dan meminta maaf.", kata Jimin.

"Wah? Serius?!", seru V.

"Hm. Katanya 'Putriku sudah berlaku sangat buruk. Aku akan mengirimnya ke kampung dan mendisiplinkannya'."

"Daebak. Aku kira dia bakal protes.."

"Ayahnya baik, kok. Dia sadar kalau selama ini terlalu sibuk hingga mengabaikan putrinya."

V tidak berkomentar apa-apa lagi setelahnya. Ia hanya berjalan di sebelah Jimin dalam diam. Mereka berdua sedang berjalan menuju rumah sakit. Mereka sudah janji akan menjenguk Suga sepulang sekolah.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, V membuka suara lagi. "Tahu-tahu sudah masuk natal, ya?"

"Iya.", jawab Jimin singkat.

"Minnie…"

"Hm?"

"Kita.. natalan bareng, yuk?", tanya V sambil tersenyum gugup.

Jimin terdiam selama beberapa detik lalu menjawab, "Boleh! Pesta bareng anak-anak 'Grey' pasti seru!", sambil tersenyum polos.

V merasa ditimpuk oleh batu seberat satu ton. Berat sekali perjuanganku, Tuhan… Benak V.

"Bukan begitu, Minnie! Maksudku.. Berdu—"

"Jimin!"

"Eh, Jessica noona?!"

Ini lagi! Cobaan apa lagi yang ingin Kau berikan, Tuhan…. Benak V.

"Mau jenguk Yoongi? Maaf, ya, merepotkan. Kamu datang sama teman?", kata Jessica. "Maaf, bisa aku bicara berdua saja dengan Jimin? Sebentar saja, kok.."

"Baiklah…", jawab V lesu.

"Kamu duluan saja, V.", kata Jimin.

"Eoh…."

V berjalan memasuki pintu gerbang rumah sakit dengan langkah kaki terseok-seok.

Huh! Waktunya nggak tepat…. Hiks… Rengek V dalam hati.


"Apaan?!", bentak Suga ketika V mengeluarkan tumpukan buku di hadapannya. "Nggak ada yang lebih cocok buat orang sakit, apa?!"

"Itu catatan soal ujian yang sengaja kubuat untukmu. Berterimakasihlah sedikit. Banyak, loh, yang ingin punya catatan itu meskipun mereka harus bayar."

"Cih. Aku nggak butuh!"

"Kalau gagal ujian bisa gawat, kan?"

"Kenapa kau berbuat begini, sih?!"

V menjawab dengan dingin. "Bukan demi kamu, kok. Kalau kamu tinggal kelas, Minnie akan merasa itu kesalahannya. Jadi, aku akan membuatmu naik kelas. Begitu."

Suga terdiam sesaat lalu berkata. "Oh.. jadi kau suka namja bantet itu, ya?"

"Ya.", jawab V mantap.

"Fufufu, sayang sekali. Dia sudah punya orang yang disukainya, kan?", kata Suga.

"Kok..?!", V bingung kenapa Suga mengetahui hal itu juga, "Kamu tahu orangnya? Siapa dia?!"

"'Jin'.", jawab Suga santai.

"He.. Jin? Jin tomang? Jin iprit? Jin dan jun?", tanya V dengan wajah blo'on.

"Itu nama orang, bodoh.", kata Suga. "Aku nggak tahu, sih, orangnya yang mana. Tapi pasti benar, yang disukai bocah itu pasti Jin. Soalnya, kalau orang meneriakkan nama orang lain saat dirinya akan diserang, dia pasti menyukai orang itu."

Suga melanjutkan, "Kalian ini aneh. Kok suka sama namja kayak gitu."

V yang asalnya tercengang dan jiwanya melayang mulai mendapatkan kembali kesadaran dari otaknya yang ber-IQ 150. "Tunggu dulu. 'Saat akan diserang'…..?!"

"Ups.", kata Yoongi sambil menutup mulutnya.

POK!

Setelah memukul kepala Suga, V langsung keluar dari ruang rawat inap Suga.

"YA! Berani-beraninya kau memukul seorang Suga?! Awas kau, gondrong! Lihat saja kalau aku sudah bisa jalan, akan kubunuh kau!"


Di sebuah kedai kopi sebelah rumah sakit

.

"Jimin nggak berniat jadian dengan dia, kan?", tanya Jessica.

"'Dia'..? Maksud noona, Yoongi?"

"Ya."

"Nggak. Nggak mungkin."

"Tegas banget…", kata Jessica. "Hah.. Padahal aku lega kalau ada orang seperti Jimin di sisinya."

"He?"

"Dulu, Yoongi bukan anak bodoh yang suka berkelahi. Dia anak muda menyenangkan yang berpotensi di bidang sepak bola."

Min Yoongi.. menyenangkan? Susah membayangkannya. Benak Jimin.

"Dia berubah sejak lututnya cedera.", lanjut Jessica. "Dulu dia terlibat perkelahian. Luka itu membuatnya nggak bisa menekuni olahraga lagi. Sejak itu, sikapnya jadi kasar."

"Mudah ditebak, ya..", kata Jimin lalu ia menyeruput ice caramel macchiato-nya.

"Kepribadiannya memang sederhana sekali, sih..", kata Jessica. "Aku merasa Jimin bisa mengembalikannya seperti dulu."

"Kenapa? Aku kan selalu bertengkar dengannya…"

"Jimin sama sekali nggak takut pada Yoongi, kan? Bicara padanya pun blak-blakan. Selama ini nggak ada anak yang seperti itu padanya."

"Ah, begitu.."

Raut wajah Jessica berubah menjadi lembut. "Saat ini, Yoongi memerlukan orang yang sejajar dengannya agar bisa menegurnya. Kalau aku nggak bisa. Aku lemah menghadapinya…"

"Jangan-jangan.. Jessica noona dan Yoongi…"

"Mantan pacar.", kata Jessica sambil tersenyum simpul.

Uwa! Jadi benar dugaanku! Seru Jimin dalam hati.

"Saat itu aku simpati padanya. Dia mengalami masa sulit karena cedera kakinya, kisah cintanya, dan masalah keluarganya yang rumit."

Jimin tertarik dengan kata terakhir yang diucapkan Jessica. "Masalah.. keluarga?"

"Ah.. Ini topik tertutup, sih.. Tapi, mungkin bisa kuceritakan pada Jimin.", kata Jessica. "Ayah Yoongi punya keluarga lain. Yoongi itu anak dari kekasih ayahnya. Istri pertama ayahnya memiliki anak laki-laki yang sebaya dengannya."

Jimin tercengang mendengar penuturan Jessica.

"Ibu Yoongi orang yang kuat. Beliau sangat kompetitif atas hal tersebut dan selalu berkata pada Yoongi supaya nggak kalah dari putera ayahnya yang satu lagi itu.", lanjut Jessica. "Situasi memburuk saat mereka masuk sekolah yang sama."

Jimin bangkit dari tempat duduknya saking terkejutnya. "Jadi, saudara Yoongi ada di BigHit School?!"

"Ya."

"Siapa?! Apa aku kenal dia?"

"Kurasa, iya. Soalnya kata Yoongi, dia sangat pintar. Ketua OSIS pula."

A-apa..?!

"Jeon.. Jungkook?"

"Ya, dia."

Mwo?! Jadi, Min Yoongi dan Jeon Jungkook… saudara lain ibu?!


Besoknya, di ruang OSIS BigHit School

.

Jadi.. maksud Jungkook ketika bertanya hubungannya dengan Yoongi sudah ketahuan,

Dan maksud Yoongi ketika berkata ia dan Jungkook bagaikan bayangan..

Maksudnya.. karena mereka saudara lain ibu, ya..?

Jimin bermonolog dalam hati sambil memperhatikan wajah Jungkook dengan intens.

Mereka saudara, kan? Kalau dilihat-lihat, sih, muka mereka memang jadi mirip.

Tapi kepribadiannya beda banget. Yang satu diam kayak batu. Yang satu meledak-ledak kayak bara api.

Kata Jessica noona, mereka juga sudah saling tahu tentang fakta ini.

Mungkin karena itu, hubungan mereka buruk..

Iya, sih. Di antara mereka pasti ada perasaan rumit yang nggak bisa kupahami…

"Apa lagi, sekarang?!", bentak Jungkook yang sudah kegerahan ditatap intens oleh Jimin.

"Ng.. nggak ada. Kamu sehat?"

"Seperti yang kau lihat."

"Ng.. sedang nggak ada masalah?"

"Nggak ada."

"Ah, baiklah, aku permisi.", kata Jimin sambil bangkit dari posisinya yang tadi sedang bersidekap di meja ketua OSIS. "Omong-omong, hari ini tepat pertengahan semester. Sudah dengar? Jumlah anggota 'White' dan 'Grey' hampir sama, loh.."

"Sudah. Chukae.", kata Jungkook dingin, tidak antusias.

"Wow, nggak peduli, ya? Tapi, di akhir semester nanti, siap-siap saja.. aku akan melucuti seragammu.", kata Jimin lalu ia pun keluar dari ruang OSIS.

Setelah keluar dari tempat Jungkook, Jimin berjalan dengan santai di koridor karena tidak tahu hendak ke mana.

Hah.. masalah internal keluarga.

Sebaiknya, V nggak perlu tahu soal ini.

Benak Jimin.


Di Markas (dadakan) 'Grey'

.

Jin.. Jin.. Jin..

Siapa, sih, si Jin itu.

Anak sini nggak ada, tuh, yang namanya Jin.

.

Ting!

.

Ah! Ada email masuk. Soal baca gerak bibir..? Yes! Akhirnya!

.

"Aku sudah melihat rekaman itu. Banyak bagian yang tidak jelas, tapi kurang lebih seperti berikut percakapannya."

[Kau kelihatan keren.]

[Berisik! Kalau kemari hanya untuk meledekku, sebaiknya kau pergi saja!]

[Apaan, sih? Padahal aku mau menolongmu. Komplotan di gerbang itu berisik. Mereka mengincarmu, kan?]

[Akan kukalahkan mereka dengan sekali tebas. Cepat lepas ikatanku!]

(bagian yang tidak jelas)

[Bawa ini.] (sambil menyerahkan pisau)

[Wah, wah. Hari ini kau baik sekali. Nggak nyangka, deh, sampai menyiapkan benda begini.]

[Kesulitanmu kesulitanku juga.. Kita kan bersaudara.]

Mwo?! Teriak V dalam hati. Bersaudara?!

.

"Jinjjayo?!", teriak V.

"V?! Ada apa?!", tanya Yugyeom yang langsung berlari ke arah V.

"A.. ani!", jawab V yang langsung membanting layar laptopnya hingga menutup.

"Hm.. Oh, ya. Soal isu Jungkook dan Suga bisa kita mulai dari hari ini, kan?", tanya Yugyeom.

"Ah, soal itu, nggak jadi! Batalkan saja!"

"Eh?! Serius?! Aku sudah bilang sama semua anggota 'Grey'!"

"Mian. Tolong ditarik kembali rencana yang itu. Aku sudah dapat apa yang kucari.", kata V.

"Aish, jinjja..!", seru Yugyeom seraya berlari mencari anggota 'Grey' lainnya.

Selepas kepergian Yugyeom, V bermonolong lagi di dalam hati.

Mereka bersaudara?! Masa, sih..?

Berarti kisah karanganku itu nggak sepenuhnya meleset, dong?

Meskipun di video ini mereka nggak terlihat akrab, sih..


Di ruang serbaguna BHS

.

PENGUMUMAN

Nama-nama berikut ini akan mengikuti kelas tambahan selama libur musim dingin.

Kelas 1:

Kim Sora 1-C

Park Jimin 1-C

Cho Hwarang 1-D

Lee Bora 1-D

Min Yoongi 1-D

Ahn Saejoon 1-E

Lee Dongwook 1-E

.

.

"BOHONG!", seru Jimin heboh ketika melihat pengumuman itu.

"Baru lihat, ya? Sudah diumumkan sejak seminggu yang lalu, kok.", kata Hoseok.

"Kasihan. Nggak bisa bersenang-senang, dong.", ledek Yugyeom.

"Minnie.. Kan sudah belajar denganku, kok masih dapat nilai merah?!", seru V.

"Sampai jumpa di pesta natal, ya!", seru Hoseok.

"Selesai kelas tambahan datang, ya, Jimin!", seru Yugyeom.

Beneran pesta sama semuanya, ya?! Ah.. payah! Benak V.

Sebelum pergi meninggalkan Jimin yang masih termenung di depan papan pengumuman, V melirik Jimin sekali lagi.

Sebaiknya.. Minnie nggak kuberi tahu dulu soal Jungkook dan Suga.

Bisa nangis, dia..


Seusai kelas tambahan

.

Huh. Kelas tambahan.. bikin kesal saja. Benak Jimin.

"Hari ini selesai, selamat merayakan natal, anak-anak. Jangan lupa belajar, tapi, ya!", seru guru yang mengajar kelas tambahan.

"Ne, gamsahamnida sonsaengnim. Selamat natal." Seru seisi kelas itu.

Saat bangkit dari kursinya, Jimin melihat ke arah koridor dan menemukan sosok Jungkook sedang berjalan ke dalam gedung sekolah. Tanpa pikir panjang Jimin langsung berlari hendak mengejar Jungkook. Namun ia kehilangan jejak Jungkook. Tapi, mau ke mana lagi Jungkook di sekolah ini selain ruang OSIS? Jimin pun berlari ke ruangan itu.

"Jungkook!", kata Jimin ketika menemukan Jungkook di ruang OSIS. "Kok pakai baju bebas?"

"Ada yang tertinggal. Tiap saat pakai seragam malas juga.", jawab Jungkook dingin.

"Oh, gitu.." Baru kali ini aku lihat Jungkook pakai baju bebas. Terlihat lebih tampan dari biasanya..

Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya karena wajahnya memerah dengan sendirinya. Apa yang kau pikirkan, Park Jimin?!

"Hm.. habis ini Jungkook ada urusan 'gak?", tanya Jimin setelah menjernihkan pikirannya.

"Nggak. Kenapa?"

"Kalau begitu, kita kencan, yuk?"

"Mwo?"


V sedang berdiri di gerbang BigHit School. Ia tidak pergi bersama anggota 'Grey' ke tempat pesta natal mereka. Ia ingin berangkat bersama Jimin, atau kalau bisa, sih, menculik Jimin lalu berpesta berdua saja.

Sebentar lagi kelas Minnie selesai…

EH?!

V langsung bersembunyi di balik gerbang.

Kok, Minnie bareng si Jeon brengsek itu?!

Mau ke mana mereka?!


"Tempat apa ini? Galeri?", tanya Jungkook.

"Iya. Ayo kita masuk!", seru Jimin seraya menarik lengan Jungkook.

Mereka berdua tidak menyadari kalau sedari tadi diikuti oleh V.

Huh.. aku jadi membuntuti mereka. Sebal. Benak V.

"Lukisannya sangat lembut, kan?", kata Jimin di depan salah satu lukisan yang ada di sana.

"Iya.."

Jimin langsung menoleh menatap Jungkook.

"Apa?"

"Tumben Jungkook terang-terangan setuju sama pendapat orang lain!", seru Jimin dengan mata berbinar-binar.

"Kamu pikir aku apaan..?", kata Jungkook malas. "Sebenarnya rencanamu apa, sih. Kamu nggak benar-benar membawaku kemari untuk kencan, kan?"

"Nggak ada rencana apa-apa kok. Ah, itu dia! Jin!", seru Jimin sambil menarik lengan Jungkook untuk mendekati orang yang dipanggilnya.

V membatu di tempat persembunyiannya. Jin?!

"Aku datang, Jin~!", seru Jimin sambil tersenyum manis.

"Halo..", kata Jin sambil memeluk Jimin sekilas. "Pakai setelan formal begini bikin aku begah."

"Ah, padahal sudah aku siapkan dasinya tadi pagi.. Kenapa nggak dipakai?", tanya Jimin sambil mem-pout -kan bibirnya.

"Mian. Habis, gerah, sih.", kata Jin sambil mengusap-usap kepala Jimin.

V memelototi Jin dan Jimin dari jauh. Jadi itu si Jin-jin yang dikatakan Suga? Dia siapanya Minnie, sih?! Aku saja belum pernah memeluk Minnie! Sorot mata Minnie teduh sekali saat berbicara dengannya… Argh, aku sebal!

"Jungkook, ini pamanku, Kim Seokjin. Panggil saja Jin. Dia yang menggelar pameran tunggal ini."

"Nah, Jin, ini Jeon Jungkook. Aku pernah cerita soal anak di sekolah yang katanya kenal padaku, kan? Aku bilang akan membawanya karena mungkin Jin akan ingat."

"Mian. Baru kali ini aku melihatnya.", kata Jin sambil tersenyum lemah.

"Ho.. begitu, ya. Padahalm kukira bisa jadi petunjuk.", kata Jimin lesu.

"Jimin, tolong belikan rokok, dong. Yang ini sudah habis.", kata Jin sambil meremas bungkus rokoknya.

"Hee? Di sini kan dilarang merokok?"

"Tolonglah.. Hari ini aku nggak bisa jauh-jauh dari tempat ini."

"Huh, ya sudah. Jungkook, tunggu sebentar, ya! Kamu lihat-lihat saja dulu.", kata Jimin sambil berjalan ke arah pintu galeri.

V yang sedari tadi menguping pembicaraan tiga namja itu pun menghembuskan napasnya, lega. Kim Seokjin, paman Minnie.. Paman. Fufufu. Percuma aku cemas.

"Nah..", Jin membuka suaranya lagi setelah Jimin agak jauh dari mereka. "Sekarang pengganggunya sudah jauh."

Jin menoleh ke arah Jungkook lalu berkata, "Lama nggak jumpa. Sudah sembilan tahun, ya, Kookie…anak yang menolak sekolah."

Jin melanjutkan ucapannya, "Jadi benar kau. Memang, kau orang yang paling dekat dengan Jimin saat itu, sih.."

Jin sekarang benar-benar berhadapan dengan Jungkook. "Ingat padaku? Dulu aku sering menemanimu main, kan?"

Jungkook menyilangkan lengannya di depan dadanya. "Menemani main? Kalau dikerjai, sih, aku ingat betul…"

"Uwaa! Kau nggak berubah, ya. Masih kurang ajar begitu.."

Loh? Mereka saling kenal? Kok tadi pura-pura baru bertemu? Benak V.

"Merasa aneh, ya, Jimin nggak ingat padamu?", tanya Jin.

"Bukan cuma padaku. Ingatan tentang masa lalunya pun dia nggak tahu.", kata Jungkook dingin. "Pasti ada alasan yang mengharuskan hal itu disembunyikan, bukan?"

"Tolong beritahu aku.. apa yang terjadi pada Jimin.", lanjut Jungkook.

"Langsung to the point, ya..", kata Jin. "Seperti dugaanmu, Jimin kehilangan ingatan masa kecilnya saat berusia tujuh tahun. Penyebabnya, kematian ibunya."

Jin menatap Jungkook dingin. "Dia melihat ibunya tertabrak truk."

Mata Jungkook membelalak.

"Itu kecelakaan yang sangat memilukan. Aku saja kadang bermimpiburuk tentang itu..", lanjut Jin, "Pemandangan macam itu cukup parah untuk membuat anak umur tujuh tahun syok."

Jungkook tetap diam, tidak berkomentar apa-apa. Ia terlalu terkejut dengan apa yang menimpa Jimin dulu.

"Setelah itu, Jimin jadi seperti boneka bisu.", lanjut Jin, "Aku dan ayahku, yang saat itu masih hidup, segera membawanya ke desa. Aku mengajarinya dari awal lagi. Hangul, cara menggunakan sumpit, nama-nama binatang… Setelah enam bulan, Jimin kembali seperti semula. Tapi.. ingatannya sampai saat peristiwa itu terjadi, lenyap."

Jin tersenyum pedih, lalu melanjutkan. "Jadi, aku menanamkan kembali ingatan tentang masa kecilnya. Tapi, aku nggak menyinggung dirimu. Karena kurasa, ingatannya yang hilang akan kembali bila aku cerita soal kamu."

Kesedihan terlihat jelas dari sorot mata Jin. "Aku berharap dia tetap nggak ingat… Karena kalau dia ingat, luka hatinya nggak akan bisa sembuh.", Jin menatap Jungkook lalu melanjutkan, "Kau pasti nggak ingin Jimin terluka, kan? Karena itu, aku ceritakan ini padamu. Kuminta.. jangan dekati Jimin lagi."

Jungkook terdiam selama beberapa saat sebelum berkata, "Saat bertemu lagi dengan Jimin setelah sekian tahun dia menghilang.. Aku sangat marah.. karena dia nggak ingat padaku.", Jungkook memejamkan matanya lalu melanjutkan, "Tapi sekarang, aku bersyukur dia lupa. Kalau Jimin ingat masa lalunya dan melihat aku yang sekarang… dia pasti… akan sangat kecewa.", kata Jungkook sambil tersenyum lemah.

Jin menyadari satu hal. "Kau… Masih tinggal di rumah itu..?"

"Jin! Sudah kubeli, nih!" seru Jimin yang sedang membawa kantung plastik kecil di tangannya. "Eh? Sedang membicarakan apa, sih? Serius sekali.."

"Nggak, tadi aku mengundangnya ke rumah. Jarang-jarang, kan, Jimin punya teman yang berkelas.", kata Jin ceria.

"Maksudmu…?!"

Selagi tiga orang itu melanjutkan percakapan mereka, V terdiam membatu di tempat persembunyiannya.. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui informasi tentang Jimin dan Jungkook.


"Maaf, ya, aku memaksa Jungkook datang menemui Jin. Hasilnya tetap nihil ternyata..", lirih Jimin sambil berjalan menjauh dari galeri Jin.

"Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk ingat.", kata Jungkook dingin.

"Mwo?! Kok bilang begitu?! Bukannya Jungkook selalu memaksaku untuk cepat ingat?", seru Jimin heboh.

"Itu karena aku nggak bisa melupakan orang. Kamu… penyelamat jiwaku."

"Eh..?"

"Bukan. Yang kamu selamatkan bukan cuma jiwaku..", lanjut Jungkook. "Saat menyembah di hadapan Suga, kupikir aku nggak akan berhutang lagi padamu.. Tapi, ternyata, ada hutang yang nggak bisa dilunasi hanya dengan cara begitu."

"Ke.. kenapa Jungkook jadi menjijikkan begini?!", seru Jimin senang.

"Me-menjijikkan..?"

"Habis, ini pertama kalinya Jungkook bicara soal masa lalu. Aneh banget! Kekekeke. Kamu kenapa, sih?! Tadi Jin ngomong yang aneh-aneh, ya, sampai kamu ikutan jadi aneh?!", seru Jimin sambil tertawa.

"Hm.. Tapi, aku jadi mengerti..", lanjut Jimin. "Karena hal itu ya, Jungkook kadang mencemaskan dan melindungiku? Hihi. Aku senang Jungkook sudah mulai terbuka. Pelan-pelan saja. Nanti cerita lagi, ya!", kata Jimin sambilt tersenyum manis. Terlalu manis untuk mata Jungkook.


Di galeri

.

"Anu..", kata V yang sudah berada di belakang Jin. "Aku Kim Taehyung, teman dekat Minnie….Jimin sekarang."

"Sekarang?"

"Maaf, tadi aku mendengar percakapan kalian..", V yang tadinya menatap lantai jadi menatap Jin tepat di matanya. "Aku nggak akan bilang pada siapapun. Aku juga nggak akan melukai Jimin. Jadi, tolong beritahu aku hubungan antara Jimin dan Jungkook.. Karena bagiku, sepertinya hal ini akan jadi rintangan besar untukku—"

"Ogah.", potong Jin. "Aku nggak mau memberitahu apapun pada tukang nguping."

"Sonsaengnim, tolong kemari sebentar.", kata seorang kurator pada Jin.

V pun membalikkan badannya, hendak pulang. Kesal karena Jin tidak mau berbagi dengannya.

"Oi, bocah stroberi!", seru Jin.

V menghentikan langkahnya namun tidak membalikkan badannya.

Jin berkata lagi, "Aku nggak akan memberikan Jimin…"

Otomatis V langsung membalikkan badannya menghadap Jin.

"…pada orang yang levelnya dibawahku.", lanjut Jin sambil tersenyum penuh kemenangan lalu berjalan meninggalkan V yang masih terpaku di tempatnya.

.

.

TBC

.

.


yang disukain jimin siapa? kata suga sih JIN hohoho /evil laugh/

reaksi v pas dikasih tau jimin suka jin astaga hahahahahaha aku yg ngetik tapi aku yg ketawa hahahaha

jin tomang? jin iprit? wkwkwk

tapi ternyata jin siapanya jimin? omnya! hahahaha

dan suga siapanya jungkook? sodara! hahahahaha

complicated sekali bak sinetron kan

siapa aja nih yang tebakannya bener? :D

.

.

balasan review:

suga ga dateng ke pesta gaeun (dan kayaknya malah ngga tau) soalnya dia masih di rs, kakinya kan patah abis digebukin komplotan preman (lihat chap2 sebelumnya)

kasian yoongyoong :(

.

terus yang waktu itu nolongin jimin beneran jungkook khihihihihihi

jimin kek princess bet astaga

.

see u in the next chap. mungkin aku ngga akan update tiap hari lg soalnya dah mulai sibuk (?) mian readernim

but i promise it wont take long to be updated. muachhhh :*