Min Ra hanya terdiam mengaduk-aduk mangkuk ramennya. Sesekali ia menatap laki-laki didepannya yang dengan lahap memakan isi mangkuknya.
"Kau tak makan?"
Min Ra menggeleng, "Tidak nafsu".
"Makanlah", kata Youngjae tersenyum manis. Tangannya terulur ke arah mangkuk Min Ra, mengaduknya sesaat, "Aa..", ucapnya memberi kode pada Min Ra untuk membuka mulut.
Min Ra terkekeh pelan, "kenapa harus disuapi? Aku akan makan sendiri".
"Eii, cepatlah. Kau tak lihat tanganku sudah gemetar seperti ini?"
Dengan sedikit malu, Min Ra mendekatkan bibirnya ke sumpit Youngjae dan memasukkan mie ke mulutnya.
"Apa kau baru akan makan jika ku suapi?", ledek Youngjae yang langsung dibalas rajukan pelan dari gadis didepannya, "Habiskan makanmu. Setelah ini kita pulang", ujarnya lagi sambil mengusap kepala Min Ra.
"Nde.."
'Drrrttt Drrrttt'
Min Ra mengerutkan keningnya saat melihat panggilan masuk di layar ponsel.
" O-Omo!"
"Wae?Nuguya?"
"Ahjussi.."
Wajah mereka berdua kini memucat. JYP pasti sudah mendapat kabar bahwa gadisnya membolos hari ini. Tapi jika mereka memberitahu kejadian hari ini, ah, siapa yang tahu kemarahan seperti apa yang akan diluapkan pria itu.
"Otokkhe..", gumam Min Ra.
"Jangan diangkat"
"Mwo?"
Bukannya mengulang perkataannya, Youngjae malah mengambil ponsel Min Ra dari atas meja dan mematikannya.
"Yak! Kenapa kau matikan?!", Seru Min Ra berusaha merebut ponselnya balik.
Youngjae memasukkan ponsel Min Ra ke sakunya, "Habiskan dulu makanmu", katanya.
"Aish, kau ini! Kalau ahjussimarah, kau yang harus bertanggung jawab ya", Min Ra mulai menyeruput ramennya lagi.
Youngjae hanya tersenyum tipis mendengarnya.
.
.
.
.
.
"Kau sudah lebih baik?", Mark yang masih mengenakan seragam sekolahnya menghempaskan diri ke sofa di samping Min Ra.
"Much Better", jawab gadis itu sekedarnya.
"Kejadian siang tadi", ucap Mark. Ia sengaja memutus kata-katanya, menimbang-nimbang, haruskah ia membicarakan ini sekarang atau ini masih bukan waktu yang pas?
"Katakan saja, Oppa", kata Min Ra saat melihat wajah Mark nampak ragu.
"Anak-anak di sekolah.. Eum, kau.. Eum, gosip itu.. Eum.."
Min Ra tersenyum, "Oppa, katakan saja"
Mark mengacak rambutnya,"Anak-anak, eum, sepertinya mereka masih mempercayai ucapan temanmu"
"Temanku yang mana?"
"Song Eun Hye tentu saja"
"Bodoh, dia bukan temannya", Jackson tiba-tiba saja keluar dari kamar dan duduk di samping Mark, "teman macam apa yang melakukan hal seperti itu"
Min Ra tersenyum kecil selagi Jackson melanjutkan kalimat-kalimat marahnya tanpa berniat menimpali. Ia tidak membenarkan kata-kata itu, tapi ia juga tak merasa Jackson salah sama sekali. Alih-alih mengikuti obrolan Jackson dan Mark, ia malah berjalan ke dapur, lalu membuka kulkas.
"Kau kemana tadi siang? Kenapa tidak memberitahuku?"
Min Ra menoleh, "Ke kedai ramen".
"Kenapa tidak memberitahuku?", ulangnya.
"Kenapa aku harus memberitahumu, Jaebum-ah?", jawab Min Ra datar.
Jaebum menarik lengan Min Ra dan memojokkan punggungnya ke kulkas, "Dengar, apapun yang terjadi padamu, ataupun pada Youngjae adalahurusanku", ia menekankan dua kalimat terakhir dengan jelas.
Min Ra mengatur nafasnya yang hampir berbalapan dengan degub jantungnya, didorongnya dada Jaebum menjauh, "Arasseo,mianhae.Lain kali, aku akan memberitahumu", ia mengambil botol orange juicedari pintu kulkas dan membawanya pergi.
"Mian.."
Min Ra langsung menoleh ke belakang. Samar-samar, ia mendengar suara Jaebum meminta maaf kepadanya tadi.
Matanya beradu pandang dengan punggung Jaebum, saat laki-laki itu membalik tubuh menghadapnya, Min Ra mendapati ekspresi aneh yang tak terbaca disana. Tapi saat mulutnya hendak terbuka untuk bertanya, Jaebum langsung berjalan pergi melewatinya begitu saja..
"Jaebum-ah, waegeure?"
.
.
.
.
.
"Kau tak sekolah lagi?", Nana meletakkan segelas susu di meja, membuyarkan lamunan Min Ra yang saat itu tengah duduk didepan pianonya.
Gadis itu hanya menggeleng, tangannya bergerak memain-mainkan tuts piano dengan asal.
"Kau sudah hampir dua minggu seperti ini, Mia-ya. Apa aku benar-benar harus mendatangi anak itu?", suara JYP menghampiri meja makan.
Lagi-lagi Min Ra menggeleng. Mulutnya masih terkatup rapat enggan bicara. Semenjak JYP mengetahui kejadian itu dari mulut Youngjae, JYP memutuskan untuk menginap beberapa lama di rumah tempat gadisnya tinggal. Berdiam disana beberapa saat, sesekali meninggalkan rumah untuk mengurus beberapa hal, lalu kembali lagi dengan cepat, seolah tak mampu meninggalkan Min Ra sendirian terlalu lama.
Reaksinya saat mengetahui cerita itupun persis seperti yang diperkirakan, JYP mengamuk, menyumpah, dan bahkan hampir melesatkan mobilnya ke sekolah Min Ra untuk mencari Eun Hye. Jika saja Youngjae dan Min Ra tak menahannya, mungkin saat ini pria itu tengah mengurus kejadian itu sampai ke pengadilan.
"Mau sampai kapan kau mengurung diri dirumah?", keluh JYP, "Kau bahkan tidak datang latihan. Para namjacantik itu terus menerus menanyakanmu padaku, bertanya tanpa henti di setiap waktu. Sampai hampir gila rasanya akalku untuk menyembunyikanmu".
"Mianhae", gumam Min Ra. Ia sendiri bukannya tak tahu kalau para member Got7 mencarinya. Setiap pagi mereka datang ke sini, menjemputnya untuk berangkat ke sekolah atau latihan di hari libur. Tapi Min Ra selalu meminta Nana untuk mengatakan pada mereka bahwa Min Ra tak sekolah hari ini, begitu setiap hari.
Hanya satu orang yang bisa menemuinya selain Nana dan JYP. Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Jinyoung?
"Gwaenchana,tinggallah dulu sampai kau tenang. Aku sudah bicara pada pihak sekolah. Hmm, ya meskipun wali kelasmu memaksa ingin bertemu denganmu, tapi kurasa itu bisa diundur", JYP mengusap kepala Min Ra dan tersenyum hangat.
"Bukankah kau harus pergi?", tanya Min Ra.
"Ah! Iya! Aku harus pergi sekarang, Mia-ya. Eum, dan sepertinya aku tidak lagi bisa menginap disini mulai nanti malam, pekerjaanku menumpuk dan mendesak untuk segera diselesaikan", jawab JYP, kakinya mulai melangkah cepat meraih jas dan tasnya.
"nde.Hati-hati dijalan, ahjussi"
"Aku berangkat"
.
.
.
.
.
.
"kau yakin ingin masuk hari ini?", Jr menatap gadis didepannya khawatir.
Min Ra mengangguk, "Dua minggu sudah lebih dari cukup untuk membolos kurasa".
"hmm, arasseo.Kau sudah memberitahu JYP ahjussikan?"
Min Ra mengangguk lagi, kakinya mulai melangkah pelan ke arah mobil.
"Segera temui aku jika terjadi sesuatu, ya?"
"Memangnya apa yang akan terjadi? Sesuatu seperti apa?", tukas gadis itu, kakinya sudah hampir naik ke dalam mobil kini.
"Kau sekolah?", gumam Mark terkejut saat melihat Min Ra di depan pintu mobil.
Jackson mengarahkan pandangannya pada Jr, "Bagaimana kau membujuknya, Jr-ah?".
Yang ditanya hanya mengangkat bahu, "Aku tak membujuknya", jawabnya.
"Sudahlah, cepat naik", Youngjae menarik tangan Min Ra untuk segera masuk ke dalam.
"Kenapa kau tak membalas pesan kami?", tanya Jaebum begitu mobil mulai berjalan maju.
"Aku mematikan ponselku"
"Selama dua minggu?", seru Jackson heboh, "Daebak!Aku takkan bisa melakukan itu", katanya lagi.
"Aish, hyung. Kau berisik sekali"
Jackson menatap Youngjae kesal, "Kau selalu saja keberisikan setiap kali aku bicara", keluhnya.
Youngjae tak menjawab. Diam-diam, tangannya menelusup ke balik jaket di pangkuannya, ia meraih tangan Min Ra dan mengenggamnya erat, "Tenanglah. Hari ini akan baik-baik saja. Tetaplah bersamaku", bisiknya pelan di telinga gadis itu lalu memejamkan mata dan berlalu tidur.
Tanpa sadar, Min Ra menggenggam balik tangan Youngjae, dan dengan suara yang sedikit bergetar, ia berbisik, "Kalau begitu jangan tinggalkan aku sedikitpun hari ini".
Youngjae masih menutup matanya, tapi sekilas, Min Ra dapat melihat sudut bibir laki-laki itu sedikit tertarik naik keatas, membentuk sebuah senyuman kecil disana.
