Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – Ketua 'White'

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's uncle?

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'

Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo) – 'Grey'

Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo) – 'Grey'

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's ….

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – 'White'

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – 'Grey'

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 17: Confession

.

.


Natal berlanjut ke tahun baru.

Libur musim dingin yang menyenangkan usai.

Mulai pagi ini, pertarungan antar geng yang menentukan akan dimulai.

Dan Jin kembali membuat kejutan.

"Langitnya cantik, pemandangannya indah, udaranya dan makanannya enak, orang-orangnya ramah.. asyik deh.", kata Jin santai sambil membaca koran dan merokok, ritual setiap paginya.

Jimin datang menghampiri Jin di beranda rumah mereka sambil membawa secangkir kopi hitam untuk melengkapi ritual pagi Jin. "Di mana, tuh?"

"Perancis selatan.", jawab Jin sambil tersenyum. Lalu, tanpa jeda yang berarti, wajah Jin berubah menjadi sumringah saat lanjut berkata, "Bagaimana kalau kita pindah ke sana?"

"MWO?!"

.

.


Di BigHit School

"Hhh…"

Pagi itu, tidak seperti biasanya, Jimin melangkahkan kakinya di koridor kelas dengan lesu.

"Kok mendesah 'gitu?"

Jimin lupa kalau sedari tadi disebelahnya ada V yang sedang berjalan bersama menuju kelas.

"Ini.. ada masalah besar di rumah.."

"Masalah apa?", tanya V.

Bukannya menjawab, Jimin malah melanjutkan lamunannya.

Waktu menghilang tempo hari, ternyata Jin pergi sendirian ke Perancis

Tapi, masa tiba-tiba pindah ke luar negeri..?

Belum kepentok bahasanya..

Aku kan tidak bisa bahasa Inggris, apalagi Perancis…

Lamunan Jimin berhasil tergoyahkan karena ada objek yang lebih menarik berjalan mendahuluinya.

"Ah! Jungkook, pagi..!", sapa Jimin ramah.

Yang disapa hanya meneruskan perjalanan kakinya ke kelas 1-A tanpa menoleh , berhenti, apalagi membalas sapaan Jimin.

"Hee?!", seru Jimin, sedangkan V diam saja memperhatikan Jimin dan Jungkook. "Ya! Jangan cuek begitu, dong! Kamu jelas-jelas melihatku, kan?!", seru Jimin emosi. "Dasar..! Memangnya aku tukang begal, sampai dihindari begini?!"

V tidak bereaksi apa-apa dengan kejadian di hadapannya. Otaknya malah memutar kilas balik sewaktu ia mengintip Jin yang mengatakan "Kuminta, jangan dekati Jimin lagi." pada Jungkook.

Jangan-jangan.. Jungkook menuruti permintaan paman Minnie?

Karena kalau sampai Minnie teringat akan masa lalunya.. Luka hatinya nggak akan sembuh..

Tapi, masa, sih, dia rela membunuh perasaannya sendiri demi melindungi Minnie?

Itu, sih, terlalu keren!

V sedari tadi memperhatikan punggung Jungkook yang semakin lama semakin menjauh. Lalu ia melirik Jimin yang masih berteriak marah-marah.

Perasaan sukanya.. dan perasaan sukaku pada Minnie… sangat berbeda.

Benar-benar bikin resah!

.

.


Di perpustakaan BigHit School

"Lihat! Eunwoo-ya! Ini parah betul!", seru Jimin sambil tertawa terpingkal-pingkal. Di tangannya terdapat foto beberapa orang namja berpakaian ala kelinci bar, plus dengan bando kelinci. "Klub Basket Bunny Show! Huahahahaha!"

"Kostum rusanya juga manis!", seru Hoseok yang sedang memegang foto Jimin dan V yang menggunakan kostum rusa.

Eunwoo yang sedari tadi sudah kepayahan mendengarkan pekikan, seruan, dan tertawa nyaring Jimin dan Hoseok pun angkat bicara.

"Kalian berisik sekali. Ini perpustakaan. Di luar saja, sana!"—Kenapa dekat-dekat aku terus, sih?!

Jimin, entah kelewat polos entah memang tidak mengerti 'usiran halus' Eunwoo, malah bertanya, "Pesta natal kemarin seru banget, loh! Kenapa Eunwoo nggak datang?"

"Padahal semua sudah menunggu.", lanjut Hoseok, mengiyakan perkataan Jimin.

"Padahal waktu itu kita karaoke, bermain truth or dare, terus game mendandani orang dengan mata tertutup.", kata Jimin.

"Iya! Seru banget, loh, Eunwoo. Muka V, Yugyeom, dan JB sampai belepotan karena didandani!", seru Hoseok sambil terkekeh.

JB? Di dandani? Pfft.

Eunwoo mulai agak menyesal tidak datang ke acara pesta natal anggota 'Grey'. Tapi di acara itu ada truth or dare, yang akan sangat membahayakan kalau ia terkena 'truth'. Bagaimana kalau ada yang menanyakan hubungannya dengan Suga? Wah, bisa berantakan hidupnya nanti.

"Huh, konyol, tahu!", seru Eunwoo si Nona Gengsi.

"Eunwoo.. boleh kupanggil Eunwoo-chan?", tanya Jimin si kebal semburan kemarahan dari Eunwoo. "Sesama teman kan biasanya punya nama panggilan khusus."

"Wah, Eunwoo-chan manis juga!", seru Hoseok ceria.

"Sejak kapan kita jadi teman?!", seru Eunwoo yang sudah menundukkan kepalanya, berpura-pura melanjutkan membaca. "Memangnya kalian nggak takut?!"

"Loh, kenapa harus takut?", kata Jimin dengan wajah polos cerianya.

"Kalau Jiminnie bilang orang itu baik, pasti memang beneran baik.", kata Hoseok dengan raut wajah yang sama dengan Jimin.

Eunwoo semakin menenggelamkan wajahnya ke buku yang sedang pura-pura dibacanya. "Terserah kalian, deh."

"Asyik! Eunwoo-chan! Eunwoo-chan!", seru Jimin dan Hoseok berbarengan. Mereka berdua tidak mengetahui kalau wajah Eunwoo sudah memerah karena malu.

Lalu Hoseok melihat jam tangannya, ia teringat kalau hari ini ia ada les. "Ah, aku harus pergi. Nanti aku terlambat masuk les."

"Eoh, hati-hati Hosiki!", seru Jimin ceria. Sedangkan Eunwoo hanya melihat-lihat foto pesta natal anggota 'Grey' tanpa melihat Hoseok.

Setelah Hoseok pergi, Eunwoo membuka suaranya lagi sambil memegang foto Jimin dan V yang berfoto berdua. "Sejak kapan kamu jadian sama V?"

"Hee? Ih.. Kami nggak pacaran, kok. Cuma teman.", kata Jimin santai tapi wajahnya agak bersemu merah.

"Eh? Tapi..?"—Bukankah V sampai bersujud padaku untuk menyelamatkannya? Hm.. Bertepuk sebelah tangan, ya…. Eh? "Itu bukannya punya anak tadi?", tanya Eunwoo sambil menunjuk buku kecil yang ada di meja dengan dagunya.

"Loh, iya, itu punya Hosiki. Biar ku kembalikan.", kata Jimin lalu ia mengambil buku itu. Namun, saat di sentuh, buku itu terbuka di lembaran terakhirnya dan menampakkan satu foto seorang namja yang sepertinya diambil secara diam-diam.

"Hee?!", seru Jimin dan Eunwoo bersamaan.

"AAAAA!", teriak Hoseok yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Jimin dan Eunwoo lagi. Ia langsung merebut bukunya dan menunduk malu. "Li-lihat, ya?!"

Jimin dan Eunwoo mengangguk-angguk lucu.

"Ternyata Hosiki suka sama V?!", sembur Jimin sambil memegang kedua bahu Hoseok.

"Bu-bukan begitu…"

"Kalau begitu, serahkan padaku!", seru Jimin lantang. "Aku jamin kalian akan…."

"Hajima! Cukup, Jiminnie!"

"Hosiki..?"

"Kalau Jiminnie melakukan itu, aku nggak akan bicara lagi sama Jiminnie…", kata Hoseok lalu ia pun berlari keluar dari perpustakaan.

"Hosiki?!", seru Jimin yang tidak mengerti keadaan. "Kenapa..? Memangnya tampangku nggak meyakinkan untuk menjadi mak comblang, ya?"

Eunwoo menjawab dengan lesu, "Bukan begitu.."

Eunwoo berdiri dan membereskan barang-barangnya, hendak pergi dari perpustakaan juga. "Begini, nasehatku sebagai 'teman', lebih baik kamu jangan ikut campur. Kalau nggak, kamu akan kehilangan mereka berdua.", kata Eunwoo sambil berjalan meninggalkan Jimin.

Jimin terpaku di sana, tidak mengerti apa yang Hoseok dan Eunwoo maksud.

.

.


Besoknya, di kelas 1-C

"Minnie, aku lupa tanya. Apa 'masalah besar' yang kamu bilang kemarin?", tanya V.

Yang ditanya malah bengong memperhatikan wajah V. Walaupun mereka jadian, bukan berarti mereka nggak berteman lagi denganku, kan? Apa maksud Eunwoo dengan kehilangan mereka berdua..?

"Minnie..?"

"Ah.. Ini.. Sebenarnya, pamanku…"

"Minnie tinggal berdua dengan paman, ya?", potong V.

"Iya, kenapa?

"Kalian paman-keponakan sedarah, kan?"

"Haa?! Apaan, sih?!"

"Ah, enggak.. Kalau kalian sedarah, bagus, lah..", kata V lalu ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya. "Ini, aku ke tempat ini."

"Kamu ke pameran tunggal pamanku? Aku sering berada di sana, loh!"

"Iya. Aku pernah lihat kalian.", kata V

"Kok nggak negur?"

V menjawab dengan lemah, "Melihat kalian berdua—sebenarnya bertiga sih—, aku jadi tahu.. siapa yang Minnie suka."

"Eh..?"

BLUSH!

Wajah Jimin merah padam seketika, seperti habis disiram air panas, melepuh.

"Duh.. aku… Wajahku memerah, ya?", tanya Jimin sambil menyentuh kedua pipi chubby-nya.

Kalau wajahnya sampai begitu…. Aku tambah syok. Benak V.

"Bertepuk sebelah tangan pada paman sendiri.. itu sia-sia, kan?", kata V dingin. "Sesuka apapun, mau bagaimanapun, nggak bisa menikah. Nggak bisa bermesraan."

"Tanpa kamu beritahu pun aku sudah tahu!", seru Jimin kesal. Lalu wajahnya berubah menjadi sendu. "Waktu kecil… Aku benar-benar berpikir aku akan jadi istri Jin. Teman-teman sekolahku selalu berkata 'nggak mungkin', 'mana bisa menikah dengan paman sendiri'…", Jimin menghela napasnya lalu melanjutkan, "Waktu tahu impian itu nggak bisa terwujud, aku syok berat….."

"Kadang sedih juga rasanya saat kami tinggal bersama. Tapi, aku sudah bisa mengatasinya, kok. Sekarang, aku bisa dengan tegas mengatakan kalau aku menyukai Jin sebagai keluargaku.", kata Jimin menerawang.

"Waktu kakek meninggal, sebenarnya aku akan diasuh kerabatku yang lain. Aku nggak mau, tapi hati kecilku bilang aku nggak boleh menolak. Selama pemakaman kakek, aku terus memegangi lengan jas Jin sambil terus menangis.—

"Aku akan mengasuhnya, aku akan membesarkannya dengan baik."

—Begitu kata Jin. Waktu itu Jin baru saja lulus dari universitas dan belum bekerja, apalagi dia masih muda. Semua menentang dan meragukannya.", Jimin tersenyum lalu melanjutkan, "Tapi, dia mendengar kata hatiku.. Dia mendengar harapan yang diam-diam terputar di otakku.."

"Sejak itu, keberadaan Jin sangat mutlak. Dia.. orang yang paling penting bagiku di dunia ini.", lanjut Jimin.

V tidak berkomentar apa-apa dan hanya menekukkan wajahnya.

"V.. aku.. mungkin akan pindah sekolah.", lanjut Jimin sambil menatap langit-langit kelas.

V langsung menolehkan kepalanya menghadap Jimin. "MWO?! Apaan, sih, mendadak banget?!"

"Ah.. tentu saja nggak langsung pindah..", kata Jimin sambil melangkah mendekati jendela. "Penyakin 'nomaden' Jin sepertinya kambuh. Tadi pagi dia mendadak mengajakku pindah ke Perancis Selatan."

"Perancis?!"

"Sudah kuduga ini akan terjadi, tapi nggak kukira secepat ini…"

"Lalu sekolahmu?!"

"Tentu saja tunggu naik kelas dulu.."

"Apa?! Kamu, kan, yang memulai reformasi ini?! Jadi, tetaplah di sini sampai lulus! Biar pamanmu sendirian yang ke sana!"

"V.. Mungkin, aku nggak bisa terus bersama Jin. Kelak aku pasti harus berpisah dengannya. Sampai saat itu tiba.. aku.. ingin terus ada di sisinya.", kata Jimin menerawang. "Sayang, memang, sudah akrab sama semuanya. Tapi, di manapun berada, teman tetap teman, kan?"

V menundukkan wajahnya yang terlampau emosi. Ia merapalkan sesuatu seperti mantera.

"'Nggak akan kuberikan sama orang yang nggak level'?! Apanya?! Standarnya tinggi banget, dasar ajussi sialan! Saingan terberatku bukan Jungkook, tapi si paman itu! Walau sedarah… ternyata aku belum bisa lega!"

V mengucapkan umpatan-umpatan dalam volume suara yang hanya akan terdengar oleh ikan mas koki. Jimin pun jadi kebingungan dibuatnya. "V? Ngomong apa, sih..?"

V menggebrak meja di depannya. "Aku syok berat! Minnie dengan entengnya lebih memilih orang itu daripada kami! Minnie sudah gila, ya? Minnie bilang suka padanya sebagai keluarga, tapi sama sekali nggak terlihat begitu, tuh!", V terus membentak Jimin dalam satu tarikan nafas. "Tinggal lebih lama bersamanya hanya akan bikin Minnie sengsara! Minnie harus segera menjauh, membiasakan diri tanpa dia!"

Jimin terkesiap dengan emosi V yang menurutnya berlebihan. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat wajah V yang sedang marah, karena terlihat seperti anak SD yang sedang merajuk dibelikan mainan. Tapi karena V sedang serius, ia tidak mau merusak harga diri V dengan menertawainya. Jadi, ia menggaruk-garuk pipinya dengan grogi lalu berkata, "Hm.. Sekarang memang masih…."

"Lihat sekitarmu!", potong V, "Jangan cuma melihat dia! Ada juga orang lain yang memikirkan Minnie!"

"Hm? Di mana?", tanya Jimin polos.

"Di sini!", seru V sambil menunjuk dadanya dengan ibu jarinya. Jangan lupakan wajahnya yang sudah matang sempurna sampai ke telinga-telinga.

Mata Jimin membelalak tapi tak berkomentar apa-apa, mungkin terlalu syok.

"Sial…", rapal V. "Aaargh..! Beneran bilang, deh! Padahal niatnya nggak sekarang….!", seru V sambil menjedot-jedotkan kepalanya ke dinding.

"A-anu.."

"Hajima!", seru V yang sudah berbalik menghadap Jimin lagi. "Jangan dijawab sekarang! Aku nggak mau dapat jawaban klise 'Aku cuma menanggapmu sebagai teman'!"

V menundukkan wajahnya. Demi lemarinya yang penuh oleh kaos ukuran XXL, ini pertama kalinya V merasa sangat malu seumur hidupnya. "Pokoknya.. begitulah…"

Setelah jeda yang mampu membuat dua orang itu kikuk, V mendadak mendongak dan menunjuk Jimin. "Dengar! Aku nggak akan membiarkan Minnie ke Perancis!", seru V seraya meninggalkan ruangan kelas mereka.

Setelah membanting pintu kelas, V langsung berjalan ke arah atap untuk menenangkan dirinya. Dalam otaknya berkecamuk, wajah Jimin dan Jin melayang-layang.

Kalau dipikir-pikir, aku nggak jelek.

Tinggi badanku hampir sama dengan si Jin-Jin itu.

Rambut kami sama-sama gondrong.

Tapi…. Dia jauh lebih keren dariku, sih...

Dan dia punya Minnie.

Arggghh..!

V terus menghentak-hentakkan kakinya, berjalan menuju atap. Sedangkan Jimin masih terpaku di kursinya, ia tidak bergerak sama sekali. Bahkan mengedipkan matanya pun tidak. Sepertinya bernapas pun kalau ingat ia butuh pasokan oksigen.

Ma-maksudnya apa, sih?! Teriak Jimin dalam hati.

Sedangkan Hoseok, yang ternyata sedari tadi mendengar pembicaraan Jimin dan V dari luar kelas, hanya bisa menyandarkan punggungnya ke dinding dan menghela napas.

.

.


"Kalau Jiminnie melakukan itu, aku aku nggak akan bicara lagi sama Jiminnie!"

"Lihat sekitarmu! Ada orang lain yang memikirkan Minnie!"

"Kamu akan kehilangan mereka berdua."

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di telinga Jimin.

Payah! Aku nggak bisa mikir!

Maksudnya apa, sih?

Tadi V kok ngomong begitu..?

Hosiki juga..

Dan nasehat Eunwoo..

Argh.. aku nggak mengerti!

Seru Jimin dalam hati.

Jimin terus berjalan sambil menatap kakinya sendiri—bahkan ia tidak sadar ke mana kakinya melangkah—hingga ia melihat siluet seseorang berjalan mendekatinya. Ia mendongak dan mendapati Jungkook lah siluet itu.

Jungkook yang sama seperti Jimin—berjalan sambil melamun dan menatap kakinya sendiri—ikut-ikutan mendongak dan mendapati Jimin ada di hadapannya. Sontak ia membalikkan badannya, namun jangan pernah ragukan kecepatan Jimin si Usain Bolt. Dalam sekejap saja Jimin sudah memegang kedua bahu Jungkook.

"Tunggu!", kata Jimin tepat di belakang kepala Jungkook. Tangan Jimin berpindah jadi bergelayut ke salah satu lengan Jungkook. "Sejak kemarin kamu menghindariku, ya?! Kenapa menghindar?!"

"…Nggak. Siapa yang menghindarimu?", jawab Jungkook sok tenang.

"Kok barusan kabur?!", seru Jimin tidak mau kalah.

"Tampangmu lecek, sih."

"Huh, menyebalkan..!", seru Jimin sambil memajukan bibirnya. "Jungkook.. Mau mendengarkan aku sebentar, nggak?"

"Nggak. Lepaskan.", kata Jungkook sambil menghentak-hentakkan lengannya agar Jimin yang memeluknya layaknya seekor koala terlepas.

"Jebal..! Otakku buntu, nih! Aku butuh orang berkepala dingin. Aku cuma ingin tanya pendapatmu, bisa, kan..?", lirih Jimin sambil menunduk.

Akhirnya Jungkook menghentikan langkahnya dan menatap Jimin.

"Jadi, jangan cuekin aku..", lirih Jimin dengan napas tercekat dan wajah serta mata yang memerah.

"Kok, kayak mau nangis 'gitu?", tanya Jungkook sok cuek.

"Wah, wah.. Akrab seperti biasanya, nih."

Suara beratseorang namja menginterupsi adegan merajuk Jimin pada Jungkook. Sontak dua orang tadi menoleh lalu melihat seorang Min Yoongi alias Suga berada di dekat mereka.

"Loh, Yoongi! Kakimu sudah sembuh?!", tanya Jimin antusias, seakan lupa dengan dirinya yang tadi hampir saja menangis.

"Berkat doamu.", kata Suga sambil tersenyum ramah pada Jimin.

"Syukurlah..", kata Jimin lega. Ia tidak menyadari kalau Suga dan Jungkook sempat saling menatap dengan tatapan benci.

.

Terdengar bisik-bisik di sekitar ruang serbaguna BigHit School.

"Wah, itu Suga!"

"Serius?! Dia masih hidup, ternyata.."

"Lihat, tuh, ketua 'White', 'Black', dan 'Grey' berkumpul."

"Omong-omong, sudah dengar gosip?"

"Gosip?"

.

"Suga! Syukurlah kau sudah sembuh!", seru salah satu anggota 'Black' yang sedang berlari untuk menghampirinya bersama dengan beberapa anggota lainnya.

"Selama aku nggak masuk sekolah, 'Grey' makin banyak! Kalian ngapain saja, sih?!", bentak Suga, tidak mengindahkan wajah ceria bawahan-bawahannya saat melihat dirinya.

"Ma-maaf!", seru bawahan Suga no. 1.

"Suga! Kami dengar—", kata bawahan Suga no. 2.

"Shhh, pabo! Diam!", seru bawahan Suga no. 1.

"—ada gosip. Katanya sebenarnya kau dan Jungkook itu sangat akrab!", seru bawahan Suga no. 2.

"Cukup!", seru bawahan Suga no. 1.

"Gosip itu bohong, kan? Hanya ulah orang bodoh saja, kan?", tanya bawahan Suga no. 2.

Jimin sampai menoleh ke tiga arah beberapa kali. Ke Suga, ke bawahan Suga no. 1, lalu ke bawahan Suga no. 2 secara bergantian. "Eh, loh, maksud kalian apa, sih?", tanya Jimin polos.

Suga menyeringai kecil sebelum berkata, "Aku nggak ingat.. kalau kami pernah akrab."

Suga menoleh memandang Jungkook lalu melanjutkan, "Tapi.. Mungkin rahasia kita sudah terbongkar, ya, Jungkook?"

Terdengar pekikan terkejut dan amukan yang tertahan dari penjuru ruang serbaguna.

Jungkook menyunggingkan senyuman mengerikan di bibirnya lalu berkata, "Jadi.. Permainan kita berakhir di sini, hm?"

Jimin yang berdiri di antara Suga dan Jungkook hanya bisa menganga. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dua makhluk di hadapannya.

Ada apa lagi, ini..?

Baru aku pusing karena ucapan V, Hosiki, dan Eunwoo..

Kenapa mereka menambah beban di kepalaku?!

.

.

tbc

.

.


dududu jimin polos bgt sih, jadi pgn cubit . itu jin beneran pgn ke perancis apa pgn ngejauhin jimin dari v ya? ahahah

v akhirnya nembak jimin, karena keceplosan. trs ternyata hosiki denger hmmm ftv bgt yap hahaha

ini aku katanya ngga akan update tiap hari tapi ttp update juga tuh haha. /dasar plinplan/

yasudah sampai ketemu di next chap ya. kira2 jimin bakal nerima tae ga yaaa~ terus permainan apa yg dimainkan jk+suga? hohoho