Seperti yang Min Ra sudah duga, saat ia datang, berjuta pasang mata menatapnya tajam. Mulai dari ujung gerbang sekolah, sampai depan pintu kelas. Bahkan sampai gadis itu mundudukkan bokongnya di bangku, berpuluh pasang mata masih mencuri pandang ke arahnya, sesekali pemiliknya saling berbisik satu sama lain, lalu mengangguk sinis.

"Gwaenchana?", Sapa seorang gadis yang duduk di sampingnya, Hyo Ra.

Min Ra tersenyum, "Tentu saja", jawabnya, "Apa aku boleh lihat catatanmu? Dua minggu tak sekolah rasanya seperti tertinggal pesawat ke luar negeri", Min Ra terkekeh.

Hyo Ra mengambil beberapa buku catatan dari tasnya, "Tentu saja. Kau boleh pinjam apapun dariku", ucapnya tersenyum, "Kau tahu? Aku kesepian sekali selama dua minggu ini".

"Waeyo?", Gumam Min Ra, tangannya mulai sibuk menyalin catatan.

Hyo Ra mengalungkan lengannya ke leher Min Ra, "Teman sebangkuku hilang! Aigoo, kau pikir kenapa lagi?", serunya.

"Lepaskan tanganmu", Min Ra berusaha mendorong tubuh sahabatnya menjauh, "Hei.. A-aku tak bisa bernafas".

"ups", Hyo Ra buru-buru menjauhkan tubuhnya saat nafas Min Ra terengah-engah.

Min Ra hanya mendelik kesal sesaat lalu kembali menulis.

"Kau tahu? Selama dua minggu, Song Eun Hye berusaha mendekati kekasihmu, tapi selalu diabaikan kkk~"

"Kekasihku?"

"Orang ini tentu saja!", Hyo Ra tiba-tiba saja berseru sambil menunjuk ke arah laki-laki di belakang Min Ra.

"Youngjae? Dia bukan..."

"Aku bukan kekasihnya, pabo"

"Eii, kalau kau memang bukan kekasihnya, kenapa kau tidak menerima pernyataan cinta Eun Hye?", cibir Hyo Ra.

Youngjae baru saja hendak membalas ucapan gadis cerewet itu kalau saja tidak tertahan oleh sebuah tangan yang memeluknya.

"chagiyaa,selamat pagi...",sebuah suara centil menyapa telinga Youngjae.

Laki-laki itu bergidik kesal sambil menepis pelukan di lehernya, "Pergilah, Eun Hye. Berhenti menggangguku", usirnya.

Mata Eun Hye melihat sosok Min Ra yang sibuk mencatat didepannya, "Omo!Kemarin kau membalas pelukanku dan menciumku, sekarang kau mengacuhkanku lagi karna ada gadis ini?", tanyanya sambil menunjuk Min Ra.

Hyo Ra mencibir kesal, "Dasar tukang mimpi", sindirnya.

"Hei kau", Eun Hye mencolek bahu Min Ra, "Masih punya nyali untuk datang kesini?", katanya begitu Min Ra menoleh ke belakang.

Min Ra berlagak berpikir sesaat lalu tersenyum, "Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah menanyakan kabarku", jawabnya.

Seisi kelas menatapnya kaget. Min Ra menjawab ucapan Eun Hye?

Eun Hye baru hendak menarik rambut Min Ra lagi saat tiba-tiba saja Min Ra malah mencekal pergelangan tangannya, "Jangan lakukan ini sekarang. Lihatlah ke depan, apa kau tidak takut?", ujarnya.

Eun Hye memandang ke depan kelas, terlihat, guru sastra mereka baru saja masuk dan tengah menutup pintu. Eun Hye langsung menepis tangan Min Ra kasar, "Kau. Urusan kita belum selesai", ucapnya sambil melangkah pergi.

"Tentu saja belum", kali ini bukan Min Ra yang menjawab, tapi Hyo Ra. Min Ra malah sudah sibuk mencatat lagi di bukunya.

Tidak ada yang aneh selama pelajaran, kecuali saat tiba-tiba saja Jun sseosangnimmemintanya berdiri dan membaca puisi.

"Ssaeng!Boleh kah Min Ra membaca puisiku saja?", sela sebuah suara dari deret bangku depan.

Min Ra memutar bola matanya malas, Eun Hye lagi. Tentu saja dia.

"Tentu saja! Berikan puisimu padaku", kata Jun sseosangnim.Tanpa membaca isinya terlebih dulu, guru itu langsung menyerahkan kertas tersebut pada Min Ra.

Gadis itu menghela nafasnya kesal saat melihat isi teksnya.

"Yang benar saja..", gumamnya lirih, ekor matanya melihat Eun Hye yang tersenyum senang di bangku.

"Kau tunggu apa? Bacakan sekarang", perintah Jun sseosangnimlagi.

"Arasseo.. ", Min Ra mulai membaca baris pertama,
"Saatakukecil,akuseringmendengarkisahseorangpenyihir.
Kisahtentangseorangpenyihiryangmenggunakanmantrauntukmemikathatilelaki.."

Eun Hye tersenyum sinis saat kelas mulai berbisik-bisik.

"Lelakiyangdisihirnyatakbisamelepaskandiri.
Merekaselalumengikutipenyihiritukemanapuniapergi.
Bunuhdiajikakaumelihatnya!Kataibuku.
Tapibagaimanaakubisamembunuhpenyihir?
Iaakanmenyihirkusebelumakumenyentuhnya"

Sekarang, ia sampai di baris terakhir,
"Tapisepertinyaitutidaklagimenjadisebuahpertanyaan.
Akuakanmembunuhdirikusendirisebelumorang lainmembunuhku.
Karna,..."

Ucapan Min Ra terputus sesaat, ia menggigit bibirnya, lalu melanjutkan kalimat terakhir,
"Karna,akulahpenyihirjahatitu"

'Prok prok prok prok'
Sepasang tangan tiba-tiba saja mengudara saat Min Ra menyelesaikan puisinya, memberi gadis itu tepukan tangan yang meriah memecah kesunyian kelas.

"Ssaeng?Kau tak mau memberinya tepukan? Ia hebat sekali dalam membaca puisiku", kata orang yang bertepuk tangan tadi, Eun Hye.

"Ah tentu saja, ia memang bagus membaca puisi. Tapi Eun Hye, kenapa kau membuat puisi itu? Aku meminta kalian membuat puisi alam. Puisimu tadi itu,...", Jun sseosangnimmemutus kalimatnya sejenak, "Tragis sekali".

Eun Hye menjentikkan jarinya, "Itu dia, Ssaeng!Tragis! Bukankah sangat cocok jika dibacakan oleh siswa pandai sepertinya?".

Kali ini sang guru hanya diam, "Kau, duduk lah kembali", katanya pada Eun Hye sekaligus mempersilahkan Min Ra untuk duduk.

"Sabarlah", bisik Hyo Ra saat sahabatnya sudah kembali duduk.

Min Ra hanya tersenyum tipis sementara beberapa suara bisikan dan cekikik tawa mampir di telinganya.

.

.

.

.

.

"Aku akan cari tempat dulu. Nanti kau susul aku saja ya", ucap Youngjae sambil membawa nampannya ke arah Barisan meja.

Min Ra yang masih mengantri untuk mengambil makan siang hanya mengangguk santai. Toh sebentar lagi gilirannya tiba.

Gadis itu baru selesai menerima jatah makan siangnya saat tiba-tiba saja seseorang (sengaja) menabraknya dari depan. Nampan berisi sop ayam panas, nasi, dan beberapa lauk lainnya tumpah begitu saja ke seragam Min Ra.

"Ups! Sepertinya aku salah mengambil barisan. Ku kira ini barisan paling belakang", kata sang pelaku tanpa merasa bersalah.

"Yak! Song Eun Hye! Setidaknya ucapkan maaf dan bantu aku membereskan ini!", seru Min Ra. Gadis sekelasnya ini benar-benar keterlaluan sekarang. Min Ra tidak mau repot-repot mengalah jika begini ceritanya.

"oh? Untuk apa? Tapi sihirmu tak mempan padaku", ucapan Eun Hye lagi-lagi mengundang bisik-bisik dari seluruh siswa.

'anakinigila',gumam Min Ra dalam hati, 'atauiasengajamengucapkanitudikantinagarsemuasiswakelas1sampaikelas3mendengarnya?Sialan'

"Eh tapi sepertinya makan siangmu masih sisa", Eun Hye memperhatikan nampan di tangan Min Ra yang masih bersisa sedikit, "Ahjumma,kau tidak perlu mengambilkan gantinya. Ia akan memakan itu", katanya lagi. Matanya menatap petugas kantin yang sedang menyiapkan nampan baru untuk Min Ra.

Min Ra baru saja berniat untuk berlalu melewati sosok Eun Hye ketika tiba-tiba saja, tangan Eun Hye merebut nampan milik Min Ra dan menuangkan isinya ke kepala gadis itu.

"Lihat? Ia akan memakannya", kata Eun Hye tersenyum ke arah petugas kantin. Tak ada yang berani melawannya memang, mengingat orangtua Eun Hye merupakan salah satu komite persatuan orang tua murid di sekolah ini.

"SONG EUN HYE!", sebuah suara bergema di ruang makan.

"Jaebum oppa,kenapa kau berteriak seperti itu di- Omo!",kata-kata Hyo Ra yang baru saja menyeruak kerumunan siswa langsung terputus saat melihat keadaan sahabatnya.

"Eun Hye, kau keterlaluan!", jerit Hyo Ra. Ia hampir saja menyerbu Eun Hye jika saja Mark tidak buru-buru berlari menahannya.

Bukannya berhenti, Eun Hye malah mengambil segelas air di meja dan menyiramkannya ke tubuh Min Ra, "Mian,oppa.Tapi aku sudah membersihkannya. Lihat, aku baru saja membilas kotoran itu", katanya pada Jaebum sinis.

Wajah Jaebum yang memerah langsung menarik Min Ra dari hadapan Eun Hye ke balik punggungnya, "Mau sampai kapan kau mau membully dan mengusir gadis-gadis trainee JYPE yang bersekolah disini, hah?!".

"Itu salah mereka yang bermental lembek. Lagipula tidak ada bukti yang membuatku menjadi penyebab itu semua, kan?", balas Eun Hye, "Sudah ah. Sudah tidak seru. Korban penyihir itu sudah mulai berdatangan. Aku mau pergi dulu", katanya saat melihat Jr dan Jackson berlari menuruni tangga kantin.

Eun Hye melangkah ke arah pintu, "Hei, Min Ra-ya", panggilnya.

Min Ra yang semula menghadap Jaebum dan membelakangi pintu kini membalik tubuhnya, menatap wajah Eun Hye.

Eun Hye menggenggam gelas yang tadi ia pakai untuk menyiram Min Ra erat, "Kau mau memaafkanku?"

Hening.

Wajah Min Ra yang tertutup rambut panjang berantakan juga penuh makanan tumpah itu juga tak nampak berekspresi. Bibirnya masih terkatup rapat.

Eun Hye mengangkat bahu,"Baiklah, ku rasa jawabannya tidak ", usai mengatakan itu, tangan Eun Hye terangkat, dalam sekejap, ia sudah melemparkan gelas kaca di tangannya ke arah Min Ra.

Jaebum tahu ia terlambat. Ia takkan sempat melindungi gadis didepannya. Jaebum tahu gadis itu akan...

'PRANGGG!'

" Y-Youngjae-ah..", Min Ra menyebut nama seseorang lirih. Matanya berair kaget.

Iya, Youngjae tiba-tiba saja datang, memeluk Min Ra dan menggunakan punggungnya untuk menerima hantaman gelas. Dan, tentu saja. Gelas itu menghantam punggung Youngjae dengan mulus sampai hancur berkeping-keping.

Mata semua orang membulat kaget, termasuk Eun Hye. Youngjae yang sejak tadi berusaha menembus kerumunan manusia yang menonton keributan itu akhirnya sampai di saat yang tepat. Jika saja punggungnya tak melindungi gadis itu, maka wajah Min Ra sudah pasti akan terhantam pecahan gelas saat ini.

Youngjae melepas pelukannya, dan menoleh pada Eun Hye, "Kali ini kau takkan lolos, Eun Hye", ucapnya sambil menunjuk ke sudut atap ruangan.

Mata Eun Hye terbelalak. Tidak. Dia lupa. Benar-benar lupa kalau kantin sekolah saat ini dilengkapi dengan CCTV. Tidak. Eun Hye tidak percaya ini.

Sebuah tangan menarik lengan Eun Hye kasar, "Ikut aku ke ruang guru. Sekarang", katanya.

"J-Jackson oppa?", gumamnya kaget, "Andwae!Andwae!Shireo!",Eun Hye menjerit-jerit meronta, berusaha melepaskan cekalan tangan Jackson yang menariknya ke ruang guru.

"Youngjae-ah, gwaenchana? ", Min Ra berusaha membalik tubuh laki-laki yang hanya berjarak 30cm dari tubuhnya. Memastikan bahwa Youngjae baik-baik saja.

" nangwaenchana", jawab Youngjae tersenyum tipis.

Beberapa orang yang tidak Min Ra kenal, menghampirinya dan menepuk bahunya. Ada juga beberapa yang hanya sekedar tersenyum, atau bahkan mengatakan kata-kata semacam, "Semangat, ya", "Sabarlah", atau "Bukan cuma kamu yang merasakan ini" padanya. Sisanya membubarkan diri begitu saja tanpa meninggalkan cibiran atau bisikan aneh apapun.

"Kau harus membersihkan diri dan mengganti seragammu", kata Jaebum, tangannya mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya dan mengusap wajah Min Ra.

"Pinjamkan ia baju", ujar Mark sambil memandang Hyo Ra.

"Nega? Kau bicara padaku?", Hyo Ra menunjuk dirinya.

"Iya tentu saja padamu. Pada siapa lagi?"

"Ei, kau seharusnya memanggil namaku atau apalah. Kasar sekali", omel Hyo Ra. Meski begitu, kakinya tetap melangkah pergi mencari seragam pinjaman entah kemana.

Jr langsung memeriksa keadaan Min Ra dengan seksama, membalik tubuh, juga mengangkat wajah gadis itu beberapa kali, , seolah memastikan bahwa ia tak terluka sedikitpun.

"Aku baik-baik saja, Jinyoung-ah", kata Min Ra berusaha mengerti kelakuan Jr.

"Kau yakin? Tak ada yang terluka?", tanya Jr lagi. Matanya jelas memancarkan rasa khawatir yang mendalam.

Min Ra mengangguk.

"Youngjae-ya, antarkan dia ke ruang kesehatan. Kau periksa juga punggungmu. Aku khawatir kau terluka", ucap Jaebum sambil menepuk bahu Youngjae perlahan.

Youngjae mengangguk, "Hyung, bisakah kau memberitahu Jung sseosangnim bahwa kami tak masuk pelajaran siang ini?", katanya.

Kali ini ganti Jaebum yang mengangguk, "Aku dan Jr akan menyampaikannya nanti. Kau beristirahat saja dulu disana"

.

.

.

.
.

Min Ra baru saja selesai membersihkan tubuh juga mengganti pakaian di ruang kesehatan sekolah saat Youngjae tiba-tiba saja datang dan duduk didepannya.

"Sudah merasa lebih baik? ", tanya Youngjae.

"Kancingkan bajumu", ucap Min Ra lirih. Ada rona kemerahan di pipinya. Tentu saja, sebagai fan girl yang normal, ia tak sanggup melihat sang bias duduk didepannya dengan kemeja terbuka, memamerkan kaos polos tipis yang membalut tubuhnya begitu saja.

Youngjae tertawa, "Seragamku sobek. Otokkhe?", jawabnya.

"Jinja?", Min Ra meraih lengan Youngjae dan membalik tubuhnya, "omo!Lihat punggungmu!".

"Ei, paboya.Bagaimana caranya aku bisa melihat punggungku?"

"Punggungmu berdarah", gumam Min Ra. Tangannya yang masih menggenggam lengan Youngjae mengendur.

"Waeyo?Uljimma..", ucap Youngjae saat melihat mata Min Ra berair.

"Kau terluka karenaku"

"Gwaenchana. Bukankah aku sudah berjanji untuk tetap di sisimu hari ini?", Youngjae merah telapak tangan Min Ra dan menggenggamnya erat.

"Mianhae.."

"Min Ra-ya.."

"Kenapa orang yang bersamaku selalu saja sial? Kau. Jinyoung..", Min Ra mulai terisak, "Hanbyul..".

Ah, Youngjae tak suka ini. Min Ra amat rapuh jika sudah membicarakan Hanbyul. Sampai kapanpun, Min Ra akan tetap merasa bahwa kematian gadis itu adalah kesalahannya. Bagi Youngjae, membicarakan Hanbyul sama saja meminta Min Ra untuk merutuki diri sendiri.

"Hei Jung Min Ra, lihat aku..", Jemari Youngjae mengangkat lembut dagu gadis dihadapannya.

Mata Youngjae menatap Min Ra dalam-dalam, bibirnya tersenyum hangat.

Sedetik kemudian, Min Ra bagai terhipnotis oleh waktu. Ia tak sadar bagaimana ceritanya saat tiba-tiba saja bibir Youngjae sudah mengecup bibirnya lembut.

Mata Min Ra masih membulat tak percaya ketika Youngjae menyudahi aktivitas dadakannya dan mulai menarik wajahnya menjauh. Kedua tangannya masih menangkup wajah Min Ra, memaksa gadis itu untuk tetap menatap wajahnya.

Min Ra masih tetap tak sadar saat kemudian tangannya bergerak menangkup balik pipi Youngjae dan bibirnya maju begitu saja mengecup bibir Youngjae seolah tak mengizinkan laki-laki itu mengentikan kegiatannya beberapa detik yang lalu.

Seolah memberikan mereka privasi untuk itu, waktupun terasa membeku diantara mereka.

.

.

.
.

"Selesaikan di sini, atau kita bawa masalah ini ke pengadilan"

Ibu Eun Hye menatap lawan bicaranya kaget, "Pe-pengadilan? Jeosonghamnida,Jinyoung sshi,apa memang harus sejauh itu?".

"Eomonim, ini bukan kali pertama. Song Eun Hye sudah beberapa kali mengganggu trainee saya yang bersekolah disini sampai pada akhirnya mereka pindah sekolah dan berhenti menjadi trainee di entertainment saya", ucap JYP.

"Tapi itu kan tidak ada buktinya", tukas ibu Eun Hye lagi.

"Eomonim,kau membutuhkan bukti? Kalau begitu aku akan membawa anak-anak itu kesini"

Eun Hye kali ini nampak pucat, "A-aku mengaku salah. Aku akan pindah", gumamnya.

Ibu Eun Hye menoleh pada anaknya, "M-mwo?Eun Hye, jangan bilang kalau kau memang melakukannya.."

"Dia memang melakukannya", kali ini Youngjae angkat suara, "Saya saksinya".

"Benarkah begitu, Eun Hye?", tanya Jun sseosangnim.

Eun Hye berdecak kesal, "Aku sudah mengatakan aku akan pindah. Apa ini masih harus dibahas?"

" Kau tetap harus mengakui kesalahanmu dan meminta maaf, Eun Hye!", bentak ibu Eun Hye.

"Eomma!Kau bahkan sudah menjadi pembelanya sekarang?!", seru Eun Hye sambil menunjuk Min Ra.

"Eun Hye! Berlakulah yang sopan pada ibumu!", Jun sseosangnimmenatapnya marah.

JYP mencekal jemari Eun Hye, "Sudah ku katakan, jangan mengacau pada gadisku", bisiknya.

"Ahjussi,sudahlah.", keluh Min Ra, "Eomonim,Jeosonghamnida.Tapi jika memang Eun Hye ingin pindah, maka saya memaafkannya".

"Apa itu artinya kau tidak akan memaafkannya jika ia tak pindah?", tanya ibu Eun Hye.

Youngjae menghela nafasnya, "Ia takkan menjawabnya, Eomonim".

"Sepertinya tidak ada pilihan lain..", ibu Eun Hye nampak mulai mengalah.

"Kalau begitu pertemuan ini saya tutup", kata Jun sseosangnim, "apa masih ada yang ingin dikatakan lagi?"

Hening.

"Baiklah. Kalau begitu anda bisa pulang sekarang. Sekali lagi, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya selama ini", Jung sseosangnimmembungkukkan tubuhnya tanda hormat pada JYP, "Saya benar-benar meminta maaf".

"Maafkan saya juga", ibu Eun Hye ikut membungkukkan tubuhnya, "Ucapkan sesuatu, Eun Hye!", seru sang ibu pada anaknya.

Eun Hye menatap JYP, ia nampak gengsi untuk mengakui kesalahannya.

JYP tersenyum kecil, "Tidak apa, sseosangnim,eommonim.Kau juga, Eun Hye, tidak perlu minta maaf". Eun Hye menyeringai. "Omong-omong, audisimu yang bulan lalu sudah ku tolak. Kau bisa coba di entertainment lain mungkin", kalimat lanjutan JYP sukses membuat gadis itu kembali merungut marah.

Eun Hye dan Ibunya sudah beranjak pulang setelah membuat janji dengan wali kelas untuk mengurus surat perpindahan sekolah saat JYP berpamitan pada sang guru.

"kau yakin tak ingin pulang denganku?", tanya JYP untuk yang kesekian kalinya.

Min Ra menggeleng lembut, "ahjussipergilah. Kau pasti sibuk, lagipula aku masih ketinggalan banyak pelajaran di kelas"

"Baiklah kalau begitu", gumam JYP, "Youngjae, tolong jaga Min Ra untukku", lanjutnya pada Youngjae.

Yang diajak bicara mengangguk, "pasti, ahjussi", jawabnya.

"Kalau begitu aku pergi"

"nde.Hati-hati di perjalananmu, ahjussi", Min Ra menjawab sambil melambaikan tangannya sementara JYP hanya membalas lambaian tangannya sekilas, lalu masuk ke dalam mobilnya.

"lihat. Aku menepati janjiku, kan?", kata Youngjae begitu mobil JYP berlalu.

"Eum, gomawo"

Sebuah tangan melingkar di bahu Min Ra dan menarik gadis itu mendekat ke pemiliknya, "Min Ra-ya...", panggilnya.

"Y-Youngjae-ah... Ha-hajima.. ", gumam Min Ra. Jarak wajah Youngjae dan wajahnya terlalu dekat saat ini. Bahkan Min Ra dapat bersumpah, ia dapat mencium aroma mint dari nafas laki-laki itu.

" Kau menyukaiku ya? ", tuduhnya.

" K-kau gila? Tentu saja tidak!"

" Kalau begitu, kenapa pipimu memerah?", godanya.

" I-itu karna... ", Min Ra semakin tergagap," Karna kita sudah terlambat masuk kelas, pabo.",Min Ra mendorong kening Youngjae untuk menjauh dengan telunjuknya, "Lagipula kita sedang di sekolah. Bagaimana jika ada siswa lain yang melihat kita?", lanjutnya sambil melangkah pergi.

"Melihat apa? Memangnya kita melakukan apa?", ledek Youngjae lagi.

"A-ah sudah cepat gerakkan kakimu!"

Youngjae hanya tertawa dan menyusul langkah kaki di depannya menuju kelas.

.

.

.

.

.

"Usiamu 19 tahun kan sekarang?", tanya JYP sambil melempar botol air ke arah Min Ra.

Gadis itu melepas headphone di telinganya dan menangkap botol yang melayang ke arahnya, "Eum, wae?", tanyanya balik. Ia mematikan microfon, lalu mulai meneguk minumnya.

"Kau tidak pacaran kan?"

"UHUK!", Min Ra tiba-tiba saja tersedak.

"Ei, kenapa kaget? Atau jangan-jangan kau sudah berpacaran?"

Gadis itu mengusap bibirnya dengan lengan baju sambil diam-diam berpikir. Tadi siang, ia berciuman dengan Youngjae, tapi itu tidak berarti mereka berpacaran kan? Youngjae tidak menyatakan apapun padanya. Itu berarti...

"Tidak. Aku tidak berpacaran dengan siapapun saat ini", jawab Min Ra akhirnya.

"Oh, baguslah", gumam JYP, "Kau tak perlu berpacaran".

"Waeyo?"

"Aku sudah mengatur masa depanmu"

Min Ra meletakkan botolnya dan tertawa. Tangannya memilih beberapa keping CD dari lemari studio, "Benarkah? Termasuk jodohku?".

"Termasuk jodohmu", tegas JYP lagi.

Min Ra masih tetap tertawa, "Siapa jodohku?", tanyanya. Tangannya mengangkat dua buah keping CD yang dinyanyikan Wheesung dan IU, menimbang-nimbang, yang mana yang akan ia putar lebih dulu.

Namun gerakan tangannya tiba-tiba saja terhenti saat mendengar jawaban dari pria di belakangnya. Matanya langsung membulat kaget,

"MWO? IM JAEBUM?!"