Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – Ketua 'White'

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – Ketua 'Black'

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's uncle?

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'

Cha Eunwoo!GSas Yutaka Iijima (16yo) – 'Grey'

Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo) – 'Grey'

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's colleague?

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – 'White'

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – 'Grey'

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

CHAPTER 18: Surrender

.

.


"Apa.. apa maksudnya ini?!", seru Jimin sambil menoleh menatap Jungkook dan Suga secara bergantian. "Kalian sebenarnya akrab..?"

"Dengar, ya.", kata Suga.

"Aku nggak ingat kami pernah akrab!", seru Suga dan Jungkook bersamaan.

"Tadi sudah kubilang, kan?!", seru Suga lagi.

"Iya..! Saat upacara masuk sekolah mereka berkelahi sampai masuk rumah sakit. Mana mungkin mereka akrab.", seru salah satu bawahan Suga.

"Itu karena dia serius memukulku di tengah perkelahian.", kata Jungkook dingin.

"Kau duluan yang menonjok hidungku sampai patah!", bentak Suga.

"Salah sendiri. Serangan kecil begitu saja nggak bisa kau hindari.", kata Jungkook dengan wajah datar.

"Mwo?! Ngajak duel di sini?! Oke, ayo!"

"Ya! Hajima!", seru Jimin mencoba melerai mereka. Namun Suga sudah keburu menonjok Jungkook, maka terjadilah baku hantam di ruang serbaguna BigHit School.

"Ah.. moella..!", seru Jimin sambil berjalan menjauh dari Suga dan Jungkook. "Seseorang tolong jelaskan! Aku nggak mengerti..!"

"Sejak awal, mereka sudah saling kenal.", kata V yang tiba-tiba saja sudah berada di sana. "Mereka sepakat untuk menjadi orang terkuat dan terpandai di sekolah ini. Walau hubungan mereka nggak terlalu baik, mereka bersekongkol.—"

V berjalan ke tengah ruang serbaguna, mendekati Jimin juga Suga dan Jungkook yang telah menghentikan aksi saling jotos mereka. "—Kalau jadi ketua, siswa paling senior pun akan menghormati mereka. Intinya, mereka ingin mendapatkan perlakuan istimewa, ingin hidup enak di sekolah. Begitu, kan?"

Suga menyunggingkan seringaian liciknya. "Yah.. bisa dibilang begitu. Tapi, kenyataannya nggak seenak yang kuduga."

"Apa?!"

"Berarti kau sudah mengecoh kami!"

"Penipu!"

"Memuakkan!"

"Jungkook, kamu sendiri bagaimana?", tanya Jimin kalut. "Kalau Suga, aku nggak kaget.. Tapi, kamu, nggak mungkin begitu menginginkan posisi sebagai ketua OSIS, kan? Kamu bukan orang yang akan berbuat sesuatu yang nggak kamu sukai, kan?"

Jungkook hanya diam saja dan menatap Jimin dengan tatapan dinginnya.

"Beritahu aku apa alasanmu! Ayo katakan!", seru Jimin, suaranya mulai bergetar, mungkin karena menahan tangis.

Jungkook mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman licik. "Ini cuma permainan, kan? Cuma mengisi waktu.. sampai permainan baru dimulai.". Setelah selesai mengucapkan itu, Jungkook langsung pergi meninggalkan ruang serbaguna.

"Ya! Jeon Jungkook!", seru Jimin sambil berlari mengikuti Jungkook.

Terdengar bisikan-bisikan dan geraman kesal di seluruh penjuru ruang serbaguna, terutama dari mulut anggota 'Black'.

"Yang mau protes, ayo maju!", seru Suga dengan wajahnya yang sengak. "Kapanpun, akan kuladeni."

.

.


"Tunggu! Jungkook!", seru Jimin. "Kenapa bilang begitu?! Tadi kamu sengaja berbohong, kan?"

GREP.

Jimin berhasil menangkap lengan Jungkook, otomatis yang ditangkap pun berhenti melakukan langkah cepatnya.

"Sikapmu nggak terlihat seperti orang yang menikmati situasi ini. Kamu justru terlihat seperti sedang memikul beban berat.", lanjut Jimin. "Katakan perasaanmu yang sebenar—"

BET!

Jungkook menepis tangan Jimin lalu ia berbalik menghadap Jimin, "Jangan sentuh aku."

Jungkook menatap langsung ke kedua bola mata Jimin lalu berkata dengan wajah datarnya, "Memangnya, kau tahu apa?"

Jimin sampai terdiam. Memangnya, aku tahu apa..?

"Jangan sok tahu, dan jangan sok ikut campur urusan orang!", seru Jungkook seraya meninggalkan Jimin yang masih terdiam membatu di tempatnya.

.

.


Besoknya..

Di Markas (dadakan) 'Grey'

.

"Mian. Anak-anak klub basket yang menyebarkan gosip itu. Padahal aku sudah menyuruh mereka tutup mulut..", kata Yugyeom sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.

"Nggak apa.", kata V yang sedang menyender ke pagar pembatas lantai 2. "Seperti perkiraan kita, kedua orang itu nggak bisa dipercaya. Dan hasilnya bagus."

"Tapi kaget juga, ya. Gosip yang kita buat ternyata benar. Tambah kaget lagi waktu mereka dengan enteng mengakuinya.", kata Yugyeom lagi.

"Mereka menyerah.", kata V sambil tersenyum simpul. "Kejadian kemarin sampai ke telinga semua siswa. Lihat saja."

V menunjuk ke arah lantai 1 dengan matanya. Yugyeom dan anggota 'Grey' lainnya sontak berjalan mendekati pagar pembatas. Mereka tercengang melihat 'Grey' ada di mana-mana.

"Kita memenangkan pertandingan ini.", lanjut V.

"Uwa! Penuh 'Grey'!", seru Yugyeom. "Oi, cepat hitung! Satu, dua, tiga…. Eh, nggak perlu lagi, ya?! Argh, tetap saja kita harus mendata mereka! Ayo semua turun!"

Yugyeom berlari turun ke lantai 1, disusul oleh anggota lainnya, hendak mendata anggota 'Grey' baru. Semua anggota 'Grey' terlihat antusias, namun tidak dengan ketua mereka yang sedang mengalihkan pandangan ke arah manapun asal tidak bertemu muka dengan V.

"Minnie.."

Suara berat V yang lemah—terdengar seperti orang yang sedang sedih—menggoyahkan iman Jimin untuk menghindari V. Jimin pun membalikkan badannya untuk berhadapan dengan V yang ternyata sedari tadi sudah ada di belakangnya. Maju selangkah lagi dan mereka berdua akan bertubrukan.

"Senang sedikit, dong. Kan, kita menang.", kata V sambil tersenyum lemah.

"Kamu ini….", Jimin menatap V dengan wajahnya yang memerah. "Jangan mendadak bilang hal aneh-aneh, dong! Semalam aku sampai nggak bisa tidur, tahu!", bentak Jimin, berusaha menyamarkan groginya.

"Oh.. Jadi pengakuan cintaku itu aneh, ya?", kata V sambil memasang wajah sedih yang imut.

"Ke-kenapa tiba-tiba bilang begitu, sih?! Padahal.. aku senang dengan pertemanan kita…", kata Jimin sambil menunduk, entah tidak tahan melihat aegyo V, entah karena tidak yakin dengan ucapannya sendiri.

"Aku memang nggak berencana bilang dadakan. Tapi selama ini aku sudah menunjukkannya, kok. Minnie saja yang lamban.", kata V sambil memajukan bibirnya, pertanda kalau ia kesal.

"Mwo..?!", Jimin mendadak mendongak hingga wajah V dan wajahnya hampir saja beradu. V masih di depan Jimin, ingat? Apalagi V sedang memajukan bibirnya. Ah.. Jimin jadi salah tingkah lagi, kan.. Dapat terlihat dengan jelas wajah Jimin semakin memerah hingga ke telinga dan lehernya.

V tersenyum melihat Jimin malu-malu seperti itu. Ia mengusap lembut pipi Jimin lalu berkata, "Sejak pertama bertemu.. em.. ditendang olehmu, aku merasa.. kita berjodoh."

Jimin mendadak teringat saat hari pertama bertemu dengan V dan ia mengatakan "Baumu sama denganku.".

"Pikiranmu yang rada bolot… Sifatmu yang polos tapi membahayakan… Semuanya, aku suka.", kata V sambil tersenyum hingga kedua matanya menutup.

BLUSH!

Lagi-lagi wajah Jimin kepanasan. Sepertinya jantungnya terlalu banyak memompakan darah ke wajahnya.

Jimin dan V saling menatap dalam diam. Mungkin kalau di film-film Hollywood, mereka berdua akan berciuman setelah ini. Tapi tidak. Jimin memejamkan matanya dengan kasar, lalu, seakan-akan telah menguatkan hatinya sendiri, ia menunduk lalu berkata, "Aku.. nggak bisa."

V menghembuskan napasnya pelan lalu menggaruk-garuk rambut belakangnya sendiri. "Aku tahu, Minnie hanya menganggapku teman. Aku nggak menuntut Minnie merasakan hal yang sama denganku sekarang juga.. Tapi, perlahan-lahan…."

"Nggak!", potong Jimin. "Maaf… Aku.. nggak bisa..!"

Jimin semakin menundukkan kepalanya lalu berkata maaf sekali lagi sebelum berlari meninggalkan V yang sedang syok.

"Ah..", V mendongak menatap langit-langit koridor. "Gawat…"

Air mata sudah menggunung di pelupuk mata V. "Sepertinya aku akan menangis hari ini…"

.

.


Jimin sekarang sedang berada di atap sekolah. Tadinya ia ingin ke taman belakang, tapi, semenjak semakin bertambahnya anggota 'Grey', taman itu sering menjadi tempat mereka untuk berkumpul. Sudah tidak sepi lagi. Untung saja atap BigHit School masih selalu sepi seperti biasanya.

Jimin memandang ke bawah. Wajahnya masih bersemu kemerahan. Perpaduan antara malu dan menahan tangis.

POK!

Tiba-tiba saja ada yang menonjok punggung Jimin.

"Aw!", yang ditonjok pun membalikkan badannya. "Hosiki..?"

Hoseok yang ada di hadapan Jimin sedang mengangkat kepalan kedua tangan di depan dadanya, seakan membiarkan Jimin mengetahui kalau ialah pelaku penonjokkan pada punggungnya tadi. Wajahnya memerah dan ada sungai terbentuk di kedua matanya. "Jiminnie jahat..!", seru Hoseok dengan tubuhnya yang bergetar.

"Eh?"

"Kenapa.. kenapa bicara sekejam itu?! Kasihan, kan, V..!", seru Hoseok sambil memukul-mukul bahu Jimin. "Padahal sebenarnya Jiminnie suka dia, kan?!"

"Ho-hosiki..?!"

Hoseok pun berhenti memukuli bahu Jimin. Ia membiarkan kedua tangannya yang terkepal menggantung di pahanya. Ia menunduk karena menahan tangis. "Jiminnie menolak V karena aku, kan? Karena Jiminnie tahu perasaanku, kan? Aku.. aku sama sekali nggak suka itu! Jiminnie harus jujur..! Huweee…", lalu Hoseok pun menangis kencang, sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya.

Beberapa saat kemudian, setelah berhasil menenangkan Hoseok, Jimin mengajak Hoseok untuk duduk di dekat pagar pembatas atap. Setelahnya Jimin terdiam kikuk sedangkan Hoseok melamun.

"Aku sudah tahu sejak lama.. Kalau V suka sama Jiminnie.", kata Hoseok, membuka percakapan. "Sekali lihat juga langsung tahu. Jiminnie lamban, sih. Jadi nggak menyadarinya."

He..?!

"Aku senang, orang yang disukai V itu Jiminnie!", kata Hoseok sambil tersenyum cerah. "Aku sama sekali nggak sedih, karena aku suka Jiminnie!"

"Hosiki…."

"Tapi aku sedih kalau gara-gara aku, kalian nggak bisa bersama. Kumohon, lupakan soal aku."

"Nggak, kok. Jawaban itu.. nggak ada kaitannya dengan Hosiki.", kata Jimin sambil menatap sepatunya. "V itu.. sahabatku. Cuma itu."

"Waktu itu pikiranku jadi kosong, makanya aku nggak bisa berkata apa-apa.", lanjut Jimin.

"Benar?" kata Hoseok sambil menatap Jimin tajam.

"Benar!"

"Nggak bohong?", tatapan Hoseok semakin menajam.

"Iya!", seru Jimin, kewalahan membuat Hoseok percaya padanya.

"Hm.. Jiminnie pernah bilang suka sama seseorang, ya? Apa karena itu?", tanya Hoseok. "Tapi, ada kemungkinan Jiminnie bisa menyukai V lebih dari orang itu, kan? V pasti terluka karena kata-kata Jiminnie…"

"Tenang saja, Hosiki. Aku akan jujur pada perasaanku. Aku janji."

"Syukurlah. Lega mendengarnya!", seru Hoseok sambil tersenyum lebar.

.

.


Jimin berjalan sendirian di koridor menuju atap, karena Hoseok sudah pamit untuk pergi les.

Aku bohong mengatakan kalau Hosiki sama sekali nggak ada kaitannya soal ini.

Aku nggak bisa jadian sama orang yang disukai temanku…

Dan sebenarnya aku juga nggak mengerti dengan perasaanku sendiri.

Waktu aku mengatakan V cuma sahabatku, kok, rasanya ada yang kosong….

Tapi, selama ini V memang sahabatku yang baik.

Hah.. Aku harus bagaimana?

V pasti sangat terluka.

"Jimin-ah, annyeong!"

"Eh, JB?! Annyeong! Apa kab…ar?", Jimin ragu melanjutkan kalimatnya karena melihat perempatan di dahi JB.

"Huwaaa!", teriak Jimin seraya berlari sekencang mungkin menjauhi JB.

"Ya! Tunggu!", teriak JB.

Jimin si monyet gunung tentu saja dapat tersusul oleh JB si yakuza level dewa. JB menarik kedua garis rambut halus di pelipis Jimin lalu mengusaknya dengan 'sayang'. "Sudah kubilang, kan, soal Nona dan Suga itu top secret! Kenapa kamu bocorkan?! Ke orangnya langsung, lagi! Aku dipukuli habis-habisan, tahu!"

"Huwaa, mianhe. Aku nggak bermaksud begitu..!"

"Kumaafkan, kok.", kata JB setelah menghentikan hukumannya untuk Jimin. "Hari ini hari baik, sih."

"Hari baik?", tanya Jimin sambil memegangi kepalanya yang masih pusing karena hukuman JB.

"Di bawah, 'Grey' ramai sekali. Sepertinya sudah melampaui 'White' dan 'Black'.", kata JB sambil tersenyum.

"Eh..?! Benarkah?"

"Ya. Chukae!", kata JB, senyumannya melebar.

"Begitu, ya.. Akhirnya berhasil juga…"

"Kok nggak senang?"

"Ah, aku senang, kok. Cuma, rasanya ada yang mengganjal.."

"Meskipun hengkangnya kedua ketua geng itu ikut menentukan, menang tetap saja menang.", kata JB sambil mengeluarkan bungkus rokoknya. "Tadi para 'Grey' mencarimu, loh. Merayakan kemenangan tanpa ketua terasa nggak lengkap, bukan?"

"Ketua? Aku cuma pencetus ide, kok..", kata Jimin sambil tersenyum. "Strateginya dari V. Yang beraksi, Yugyeom dan kawan-kawan. JB juga sangat membantu saat kami ada masalah.."

"Bicara apa, sih. Tanpamu, nggak akan ada yang bergerak. Baik aku, maupun V.", kata JB sambil memandang Jimin. "Aku sudah enam tahun sekolah di sini. Sebelum kamu, ada juga yang ingin mengubah sekolah ini. Tapi, mereka gagal karena nggak tahan ditindas."

"Nggak ada seorang pun yang bisa. Tapi kamu, kamu pindah ke sini dan benar-benar mengubah sekolah. Kamulah yang memotivasi semua siswa.", lanjut JB.

Jimin tertegun mendengar penuturan JB. Seperti itukah aku di mata semuanya..?

"Kalau Jimin-ah merasa belum melakukan apa-apa, mungkin karena masih ada misi lain yang harus dilakukan. Mungkin, justru misi itulah yang terpenting."

"Misi penting.. yang harus kulakukan..?"

Ya, benar!

Pasti masih banyak misi penting yang harus kulakukan..!

.

.


Besoknya, di gerbang BigHit School

"Eh?!"

"I-itu.."

"Serius?!"

"Nggak mungkin!"

Pagi-pagi siswa BigHit School sudah berteriak. Tapi, hal itu wajar, karena yang membuat mereka berteriak adalah seorang Jeon Jungkook yang melangkah masuk ke sekolah… dengan mengenakan pakaian bebas.

.

.

Di sisi lain gerbang BHS

.

Hhh..

Rasanya, jadi susah ketemu V..

Kira-kira, dia akan bertingkah seperti biasa nggak ya?

Apa dia malah akan menjauhiku..?

"Oi, kok muram?", kata Yugyeom yang baru datang. "Kemarin juga kamu pulang duluan."

"Ah, Yugyeom. Kemarin—"

"Hei, lihat itu!", seru salah satu siswa BHS.

Sontak Jimin dan Yugyeom pun menoleh ke arah yang dimaksud, ternyata seorang Jungkook-lah yang ditunjuk siswa itu. Tapi, Jungkook yang ada di hadapan mereka bukanlah Jungkook yang biasanya, karena ia memakai pakaian bebas.

"Jungkook..?! Baju bebas..?", tanya Jimin tak percaya.

Jungkook melangkah mendekati Jimin dengan muka tertekuk. Tanpa bicara, ia menyodorkan kantung kertas yang agak besar.

"Apa ini?", tanya Jimin.

"Untukmu.", kata Jungkook seraya membalikkan badan dan melangkah menuju koridor utama. "Mau kau bakar, kan, di tengah taman sekolah?", lanjutnya tanpa menoleh.

"Jadi, ini..?!", Jimin membuka bungkusan itu lalu menarik sesuatu di dalamnya.

"Wuah..! Seragam 'White'!", seru Yugyeom.

"Daebak! Kita berhasil!", seru anggota 'Grey' yang ada di sana.

"Ketua 'White' mengaku kalah!", seru anggota 'Grey' lainnya.

"Oke, kalau begitu, kita lucuti juga Suga!", seru Jimin.

"AYO!"

.

.


Hari itu, untuk pertama kalinya, Suga menginjakkan kaki di ruang OSIS. Namun ia tidak masuk, ia hanya terbengong di ambang pintu sambil melihat sosok yang sedang menatapnya balik dengan malas.

Suga yang sudah mengontrol harga dirinya lagi pun memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana dan tangannya yang satu lagi digunakan untuk menyangga badannya dengan bertumpu ke daun pintu.

"Wah, wah. Aku langsung ke sini untuk memastikan gosip yang baru saja kudengar. Kau benar-benar jadi 'Grey' sekarang?"

Jungkook masih dengan posisinya—duduk di kursi ketua OSIS dengan kedua tangannya yang sedang memegang buku berukuran besar yang berisi kegiatan OSIS.

"Sebaiknya kau perbaiki sikapmu itu, hyung.", lanjut Suga.

"Diam. Atau kubunuh kau.", kata Jungkook dingin.

"Hmph.", Suga mengulum senyumnya lalu berjalan mendekati Jungkook. "Walau cuma sekali saja, aku ingin melihatmu.. Benar-benar murka."

"Ketemu! Itu Suga!", seru Jimin di ambang pintu OSIS, beserta rombongan anggota 'Grey' lainnya.

"Kurasa kamu sudah tahu kalau 'Grey' memenangkan pertandingan. Bersikaplah sportif. Serahkan seragam 'Black'mu itu.", lanjut Jimin.

"Ogah.", kata Suga lalu ia menjulurkan lidahnya, meledek Jimin.

"Huh. Lucuti dia!", seru Jimin semangat.

"Heyaaah!", seluruh anggota 'Grey' pun menerjang Suga.

"Hya! Jangan pegang-pegang! Beraninya kalian!", teriak Suga yang kewalahan diserang mendadak oleh belasan namja. Karena kesal, Suga menyalakan mode monsternya lalu tak lama ia pun berhasil meng-K.O. mereka semua. "Huh! Cuma sepotong baju ini, kan?! Sana ambil! Terserah mau diapakan!", seru Suga seraya melempar atasan gakurannya.

"Kebetulan kalian berdua ada. Aku mau meneruskan pembicaraan tempo hari.", kata Jimin. "Ah, jangan kabur, Jungkook!", seru Jimin karena Jungkook mendadak bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah pintu.

"Masa bodoh soal itu.", kata Suga sambil duduk di meja ketua OSIS. "Kamu ingin dipukuli lagi, ya?"

"Aku nggak takut diancam begitu. Toh, pengikutmu sudah nggak ada lagi.", kata Jimin lalu ia menjulurkan lidahnya, meledek Suga.

"Woah! Dingin sekali sikapmu, nyet. Padahal, kita pernah tidur bareng."

"Mwo?!, seru Yugyeom.

"Apaan, tuh?!", seru anggota 'Grey' lainnya.

"Serius?!

"Ya, Min Yoongi! Jangan menimbulkan kesalahpahaman!", seru Jimin heboh.

DUK!

Terdengar bunyi seseorang menabrak sesuatu sehingga kehebohan sekumpulan namja itu pun berhenti. Mereka menoleh ke sumber suara dan mendapatkan Jungkook yang kepalanya menempel sempurna pada pintu ruang OSIS.

Hening terjadi untuk beberapa saat, lalu Jungkook melanjutkan langkahnya keluar dari ruang OSIS. Namun, baru beberapa langkah, kakinya oleng lalu ia hampir terjatuh.

Jimin, Suga, Yugyeom, dan anggota 'Grey' lainnya terheran-heran melihat Jungkook seperti itu.

"Jeon Jungkook.."

"Menabrak pintu."

"…Jatuh?!"

"Jungkook?!"

"Bohong…"

"Daebak!", seru Suga, satu-satunya orang yang berteriak semangat di ruangan itu. "Untuk pertama kalinya, aku menghormatimu, bantet! Cuma kamu orang yang bisa membuat namja mati rasa itu jadi kacau. Haha, sulit dipercaya, memang. Tapi, daripada menindasmu, cara ini lebih efektif untuk memancinngnya."

"Cara ini..?"

"Begini..", kata Suga lalu ia memeluk leher Jimin dari belakang. "Kita berteman, ya, Park Jimin!"

"Ha?! Apaan, sih?!", Jimin menyentakkan kedua lengan Suga lalu berbalik menghadapnya, tapi Suga malah memegang kedua bahu Jimin lalu memajukan wajahnya perlahan tapi pasti, mendekati wajah Jimin.

"Yang lalu, lupakanlah..", kata Suga dengan seringaian nakal di wajahnya.

"Apaan kau ini?! Sudah gila, ya?!", seru Jimin sambil bersusah payah menahan wajah Suga yang semakin mendekati wajahnya.

"Suga jadi aneh.", kata Yugyeom yang masih anteng memperhatikan Jimin dan Suga.

"Apa mereka jadian?", tanya salah satu anggota 'Grey' dengan polos.

Lalu akhirnya wajah Suga dan Jimin sudah tidak berjarak lagi. Bibir tipis Suga bertemu dengan bibir tebal Jimin.

"Wuah! Diserang betulan, tuh!", seru Yugyeom.

"Ayo cepat kita tolong!", seru anggota 'Grey' lainnya.

.

.


Jimin membasuh wajahnya dengan kasar di wastafel toilet pria. Sudah tiga kali kesucian bibirnya direnggut paksa oleh orang yang tidak disetujuinya.

'Gimana, sih, jalan pemikiran namja itu?!

Seenaknya saja cium-cium orang.

Apa anak kota semuanya seperti itu, ya?

Nggak V, nggak Yoongi.

Jimin berjalan dengan gontai kembali ke kelasnya. Setelah sampai di kelas 1-C, Jimin langsung duduk di bangkunya.

Huh. Kukira satu masalah sudah tuntas.

Lalu Jimin melirik ke kursi V yang kosong.

V.. Kok hari ini nggak datang…?

Apa.. dia nggak sudi, melihatku lagi…?

Air mata mendadak meluncur dengan deras di pipi tembam Jimin.

Hiks, V.. Di mana kamu..?

Aku membutuhkanmu….

.

.


Suga sedang berjalan dengan santai di koridor lantai 2 hingga tiba-tiba saja ada yang menariknya masuk ke dalam gudang penyimpanan alat kebersihan lalu membantingnya hingga terjatuh di lantai.

"Aw! Siapa?! Kurang aj—"

Makian Suga terhenti ketika melihat Jungkook yang sedang menatap bengis ke arahnya, dengan ekspresi marah yang belum pernah Suga lihat sebelumnya.

"Jangan sentuh Park Jimin.", kata Jungkook dengan suara yang mengerikan. Suga yakin kalau Jungkook sudah diambang kesabarannya.

"Ini.", kata Suga sambil menyunggingkan senyuman liciknya. "Ini wajahmu yang ingin kulihat."

Suga bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Jungkook. "Benar dugaanku, cuma bocah itu yang bisa menarik keluar perasaanmu. Ah.. andai dia jadi milikku… Aku ingin sekali melihat tampangmu saat mengetahuinya."

Jungkook mencengkeram leher Suga lalu mendorongnya hingga menabrak lemari. "Jangan sentuh dia! Jangan kau sentuh Park Jimin!", geram Jungkook dengan bola matanya yang nyalang.

GRET!

Suga balas menarik kerah atasan Jungkook. "Akhirnya.. perasaanmu yang sebenarnya keluar juga. Kau pura-pura tenggang rasa padaku, padahal hatimu sama sekali nggak begitu. Hah! Aku tahu itu! Sebenarnya kau membenciku, ya, kan?! Karena aku adalah anak ayahmu dari wanita lain, yang telah menghancurkan keluarga bahagiamu!"

Suga dan Jungkook saling bertatapan dengan sorot mata yang mengerikan.

"Kita berdua saling tidak menyukai keberadaan masing-masing.", lanjut Suga. "Selama ini, seterusnya, selamanya…."

.

.


Di kelas 1-C

.

"Jiminnie..!"

"Oh, Hosiki. Wae?"

"Ayo, cepat, Jiminnie.. Semua sudah kumpul di ruang serbaguna. Pestanya mau dimulai."

"Eh? Tapi.. V nggak datang hari ini…"

"Loh, tadi aku lihat V, kok."

.

.


DRAP DRAP DRAP DRAP

Jimin berlari mengelilingi BigHit School. Tapi, hingga ia kelelahan pun, ia tidak menemukan objek yang dicarinya. Jimin berhenti berlari dan menopang tubuhnya di pilar koridor menuju taman belakang BHS.

"Nggak ada… V…."

Apa kami nggak bisa bersama lagi seperti biasanya?

Aku tahu, aku sudah melukainya dengan kata-kataku..

Tapi, mau 'gimana lagi….

"Hiks. Nggak.. V…. Hiks."

Jimin menangis tersedu-sedu sambil berjongkok. Ia sudah kelelahan mencari V dan pikiran-pikiran negatif bahwa V tidak mau lagi bertemu dengannya membuat tameng air matanya jebol.

"Menangisi apa?"

Ah! Suara berat itu! Suara yang dirindukan Jimin.

"Kim.. Tae.. Hyung….", eja Jimin, masih meraba-raba apa benar sosok di hadapannya itu V, bukan fatamorgana.

"Ingusmu keluar, tuh.", kata V.

"Huwaaa! V!", seru Jimin sambil menghambur memeluk V.

"Mi-minnie..?!"

Wajah V merah seketika. Ini pertama kalinya Jimin melakukan skinship terlebih dulu dengannya. Dan V juga yakin ini pertama kalinya Jimin memeluk orang lain selain Jin. Pelukan yang sangat erat, seakan takut kehilangan.

"Partnerku cuma kamu!", seru Jimin di belakang telinga V. "Nggak ada yang bisa menggantikanmu! Huwaaa…"

V tersenyum lemah. Ia menepuk-nepuk punggung Jimin pelan, mencoba menenangkan Jimin yang sedang menangis hebat.

"Vitamin couple nggak akan lenyap, kan..?", tanya Jimin lirih.

"Iya..", jawab V penuh kesabaran. "Sudah.. Jangan seka ingusmu di bajuku, dong. Kalau nggak… Kucium loh."

Sontak Jimin melepaskan pelukannya dengan V dan mundur satu langkah ke belakang. Jimin memandang V dengan wajah kusutnya karena kelelahan berlari dan menangis.

"Bohong, kok.", kata V dingin. "Lain kali akan kulakukan setelah perasaanmu sama denganku."

V membalikkan badannya seraya berkata, "Nah, ayo ke pesta."

"Eh? Ha? Loh?", Jimin sampai bingung harus menanggapi seperti apa pernyataan gamblang V barusan.

.

.


Di ruang serbaguna BHS

.

"Seragamnya nggak jadi dibakar?", tanya Yugyeom.

"Iya. Kita memang memenangkan pertandingan, tapi reformasi sekolah belum berakhir. Masih ada yang berseragam. Kalau dibiarkan, bisa saja kita terpecah lagi jadi tiga lalu saling berselisih kembali.", kata Jimin. "Jadi, sampai sekolah ini bisa dibilang berubah dalam arti yang sebenarnya, sampai seragam-seragam ini betul-betul nggak lagi dibutuhkan, aku ingin membiarkan mereka tetap seperti ini.", lanjut Jimin sambil menatap dua seragam di tangannya.

"Baiklah kalau itu mau Minnie.", kata V sambil tersenyum.

"Nah, pertama-tama, terimakasih pada semuanya. Selanjutnya, ayo kita berusaha keras menuju kemenangan sempurna!", seru Jimin sambil mengangkat gelas jusnya ke atas.

"YOSH!", seru seluruh anggota 'Grey' sambil mengangkat gelas jus mereka ke atas juga.

"Aku bersyukur sekolah di sini." Kata Jimin yang sedang duduk berdua di bangku ruang serbaguna bersama V. "Awalnya aku menyesal, karena ditindas dan diperlakukan aneh-aneh. Tapi sekarang, aku punya banyak teman.."

Jimin menoleh menghadap V lalu melanjutkan, "Berawal dari reformasi yang kita mulai berdua. Vitamin couple, hehe. Aku senang bisa melakukannya dengan V."

"Cukup!", bentak V. "Jangan beri komentar seperti 'kita berpisah di sini'! Aku tetap nggak akan membiarkanmu pergi ke Paris!"

"Aku nggak akan menyerah..! Untuk saat ini, aku puas sebagai 'partner'. Tapi nanti, aku akan siap mental, juga fisik, dan mencoba lagi! Jadi, jangan menolak mentah-mentah seolah aku benar-benar nggak ada peluang!", lanjut V.

"Em.. baiklah… tapi, kalau aku nggak bisa…. Maaf..", kata Jimin sambil menundukkan kepalanya. Bagaimana dengan wajahnya? Tentu saja sudah merah sempurna.

"Ya! Jangan minta maaf sekarang!"

.

.


Jimin sedang berjalan-jalan di koridor lantai satu. Ia merasa perlu menenangkan dirinya setelah diserang berbagai macam masalah hari ini.

Bukannya ge-er.

Selama enam-belas tahun ini, aku belum pernah populer di kalangan namja maupun yeoja.

Aku nggak menyangka, saat itu terjadi, aku malah kerepotan.

Eh, lampu ruang OSIS masih menyala!

"Benar masih ada.", kata Jimin setelah membuka pintu ruang OSIS tanpa permisi. "Itu tugas OSIS? Yang lain mana?"

"Pulang. Semua tugas diserahkan padaku.", jawab Jungkook dingin.

"Mereka marah, ya?"

"Mereka terang-terangan mengerjaiku. Jinyoung bilang 'Kerjakan saja sendiri, pengkhianat!' lalu pergi meninggalkan aku sendiri di sini."

"Tapi aku nggak nyangka Jungkook akan secepat ini memakai baju bebas. Aku senang, hehe.", kata Jimin ceria, sangat kontras dengan Jungkook. "Kami memang menang, tapi aku belum merasa berhasil. Mungkin, karena aku nggak memahami hengkangnya kamu dan Suga dari pertandingan. Padahal, selama ini aku sudah mati-matian berjuang. Di saat terakhir malah diberi jalan.."

"Kalau soal itu—"

"Setelah selesai semester ini, aku akan pindah sekolah.", kata Jimin, memotong ucapan Jungkook. "Kita bikin pertandingan lagi, yuk?"

Jungkook membelalakkan kedua matanya, namun tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.

"Ada hal yang harus kulakukan sebelum pindah. Yaitu.. membuka hati Jungkook.", kata Jimin sambil tersenyum. "Kalau aku keluar dari sini.. tanpa bisa menjadi teman Jungkook, aku pasti menyesal seumur hidup. Ah, sama Suga juga. Jadi, walau Jungkook nggak suka, aku nggak akan mundur. Kali ini nggak akan kumaafkan, kalau Jungkook hengkang dari pertandingan."

Jimin tersenyum lebar lalu berkata, "Bersiaplah!", seraya berjalan meninggalkan Jungkook yang masih termenung.

Jungkook menyentuh dahinya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu.. mau menghilang lagi….?"

.

.

TBC

.

.


TAE DITOLAK CHIM YEOROBUN

CHIM JAHAT HUWEEEE

KURANG APA COBA TAE? CUMA KURANG NORMAL AJA KOK HUWEEEE

aku sebel banget sama jungkook di chap ini. dia ngeselin bgt ga sh? kalo author mah ngga mau deh temenan ama yg sifatnya begitu ha ha ha

dan ciuman ketiga jimin dicuri oleh min suga

sekian dan kembalikasih

selamat para yoonmin shipper

mian para vmin shipper