Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo) – Ketua 'Grey'

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo) – 'Grey'?

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo) – 'Grey'

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo) – 'Grey'?

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's uncle?

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo) – 'Grey'

Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo) – 'Grey'

Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo) – 'Grey'

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo) – 'Grey'

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo) – Suga's Colleague?

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo) – 'White'

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo) – 'Grey'

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo) – Jimin's teacher

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 19: The Past

.

.


Jungkook kecil berlari tak tentu arah sambil menangis.

Tempat ini gelap dan menakutkan.

Walau terus berlari, nggak ada jalan keluar.

Tolong…!

Tolong aku…!

Tolong dengar suaraku..

Jungkook melihat sebersit cahaya lalu ia pun berlari menuju cahaya itu. Di sana ia menemukan Jimin yang sedang tersenyum cerah padanya.

Jiminnie? Jiminnie, tolong aku!

Namun Jimin malah berjalan menjauh. Semakin Jungkook mengejarnya, Jimin semakin jauh.

Jangan pergi, Jiminnie!

PAT.

Jungkook terbangun dari mimpi buruknya. Saking terbawa suasananya, tangan kanan Jungkook terangkat, karena di mimpinya ia sedang mengejar Jimin.

Jungkook mendudukkan dirinya lalu mulai menyeka keringat di wajahnya. Ini bukan pertama kalinya ia memimpikan Jimin, namun, entah mengapa.. Mimpi yang terakhir terasa begitu menyakitkan. Mengingatkan Jungkook bahwa Jimin akan pergi meninggalkanya, lagi.

Jungkook memilih untuk menyegarkan pikirannya dengan secangkir kopi. Ia mengambil bathrobe-nya lalu memakainya. Baru saja ia hendak turun ke dapur, terdengar ketukan di pintu kamarnya.

"Tuan muda, sudah bangun?"

Suara seorang yeoja yang nampaknya sudah tidak muda lagi terdengar dari balik pintu kamar.

"Ne, ajumma. Masuk saja.", jawab Jungkook ramah.

Setelah masuk, yeoja yang dipanggil ajumma oleh Jungkook tersenyum lemah lalu berkata, "Sarapannya ajumma bawa kemari, ya?"

"Loh, kenapa?", tanya Jungkook.

"Anu..", ajumma itu menundukkan kepalanya, seakan tak yakin untuk memberitahu Tuannya atau tidak, "Ayah Tuan muda sudah pulang.."

Jungkook terdiam mendengarnya. Namun, sesaat kemudian senyuman aneh tersungging di bibirnya. "Oh, begitu.. Baiklah. Tolong, ya, ajumma."

.

.


Di BigHit School

.

Sudah empat bulan sejak kepindahanku ke sekolah ini.

Setelah hari-hari awal sekolahku yang seperti amukan badai,

Akhirnya keadaan tenang juga..

Kini, aku bisa bersekolah dengan santai.

Eh, itu…?

"Hai, Jungkook! Pagi!", sapa Jimin ramah sambil melambai-lambaikan kedua tangannya ketika melihat Jungkook yang baru saja datang.

Namun Jungkook hanya berjalan melewati Jimin tanpa sedikit pun niat untuk membalas sapaan Jimin.

Ya..!

Balas salamku, dong!

Jimin tidak menyerah. Ia berbalik lalu berjalan mengikuti Jungkook.

Dia kenapa, sih?!

Belakangan ini aku dicuekin terus sama namja minus ekspresi itu.

Aku jadi kesal!

Tapi, bukan Jimin namanya kalau mudah menyerah.

Jimin, Fighting!

"Jungkook~!", sapa Jimin lagi dengan wajah ceria. "Waktu kelas 1 SD kita sekelas itu, di SD Hidaka, kan? Dari sini jaraknya satu jam menggunakan kereta, ya? Kalau Jungkook belum pindah rumah, pulang-pergi naik kereta, dong?", tanya Jimin berturut-turut. "Nanti, aku mau menemui guru-guru SD Hidaka. Mungkin, aku bisa mengingat sesuatu. Jungkook mau ikut?", lanjut Jimin.

Jungkook terkejut. "…Kapan?"

"Eh?"

Jungkook menghentikan langkahnya lalu menatap Jimin, "Mau pergi kapan?", tanyanya dengan wajah datarnya.

Uwa! Akhirnya dia bicara padaku! "Hari Minggu, besok..", kata Jimin dengan wajah polosnya, karena masih tertegun. "Mau iku—"

"Nggak.", potong Jungkook seraya berjalan lagi meninggalkan Jimin.

Jimin yang sedari tadi berusaha menahan emosi ternyata gagal. Ia berteriak kesal sambil berlari mendekati Jungkook, "Ya, Jeon Jungkook! Tungg— Uwa!"

Jimin terpeleset dan badannya hampir saja terjerembab ke depan kalau Jungkook tidak menahan pinggangnya.

SYUT!

Mendadak Jimin merasa pernah melakukan hal yang sama dengan Jungkook.

Eh? Apa itu tadi?

"Go-gomawo, Jungkook..", kata Jimin lemah.

"Pabo.", kata Jungkook dingin, namun tetap memegangi tubuh Jimin hingga Jimin berdiri tegak.

.

.


Di kelas 1-C

.

Tadi.. terbersit jelas di benakku.

Aku pernah hampir jatuh, dan Jungkook menolongku dengan pose yang sama..

Untuk menahan badanku agar nggak jatuh, aku mencengkeram baju Jungkook…

"Pagi, Minnie!", sapa V ceria. "Lihat gerombolan yeoja dan namja di depan kelas 1-A, nggak? Mereka semua bawa cokelat! Pasti pada mencari Jungkook, deh!", seru V heboh.

Oh, ya. Hari ini 14 Februari, hari Valentine.

Jimin diam saja tidak menanggapi ucapan V, bahkan tidak sadar kalau V sudah datang. V mendekati wajah Jimin lalu akhirnya ia tahu kenapa Jimin tidak mengatakan apa-apa, karena Jimin tidak mendengarnya. Jimin sedang menggunakan headset.

V mencabut salah satu headset lalu ditempelkannya ke telinganya sendiri. Terdengar suara wanita dewasa yang sedang berbicara dengan kaku.

"Bonjour."

"Bonne nuit."

"Merci."

"Huh, kusita, ah!", seru V sambil menarik headset Jimin yang satunya lagi beserta recorder-nya juga.

"V! Kembalikan!", seru Jimin.

Setelah adegan lari-lari ala film India, akhirnya recorder itu kembali ke tangan Jimin. Dan juga ada rona merah di dahi V yang kena sentil Jimin.

"Sebelum ke Perancis, seenggaknya aku sudah harus mengerti percakapan sehari-hari.. Kalau nggak bisa berkomunikasi sama orang sana, nggak asyik, kan?", seru Jimin.

"Makannya jangan pergi!", bentak V.

"Yaish! Mulai lagi, kan!"

Belakangan ini V selalu begini.. Dia sama sekali nggak rela aku ikut Jin.

"Nih.", Jimin menyodorkan satu kotak berbalut pita yang manis. "Untukmu. Jangan bete lagi."

V terbengong. "Itu… Cokelat valentine..?"

"Hm.", Jimin mengangguk. "Ini kubuat sendiri."

V menerima kotak itu dengan wajah sumringah. "Minnie… Gomaw— apaan, tuh?!"

Di dalam pelukan Jimin ada sekantung penuh cokelat dengan kotak yang sama seperti yang diberikannya pada V. "Ini untuk Yugyeom, JB, Hosiki, Eunwoo-chan, dan anak-anak basket, karena mereka yang pertama jadi 'Grey' dan mereka yang paling membantu perjuangan kita…"

"Sebanyak itukah?!", seru V.

"Nggak apa, kan? Toh, yang kubuat sendiri cuma dua.", kata Jimin polos.

"Cuma dua? Yang satunya lagi….?", pertanyaan V terpotong karena ia menyadari sesuatu. Huh, sudah jelas. Pasti buat di ajussi itu! Jin sialan!

"Terus.. Jatah Jungkook juga ada di situ?", tanya V sambil melirik ke bungkusan cokelat itu.

"Hm.", angguk Jimin.

.

.


Di depan kelas 1-A

.

"Nggak butuh.", kata Jungkook seraya berjalan memasuki kelas.

Jimin dan segerombol yeoja dan namja di sana terpaku mendapatkan jawaban dingin dari Jungkook.

Sudah kuduga, sih. Tapi tetap saja menyebalkan! Padahal ini kubeli, nggak kubuat sendiri. Penyakitnya itu masih saja, ya…! Geram Jimin dalam hati.

"Huwaa, Park Jimin juga ditolak, ya.."

"Padahal kalau satu….saja diterima, kami juga nggak akan nyerah."

"Meruntuhkan harapan orang-orang dengan sekali tebas, huweee.."

"Dingin banget. Tapi justru itu daya tariknya.."

"Jangan menyerah! Puteri sudah meninggalkan singgasananya! Ini kesempatan kita!"

"OSH!"

"Puteri… siapa?", tanya Jimin.

"Yoon Sanha. Akhirnya mereka putus!"

Jungkook bilang mereka nggak pacaran, kok.. Sanha noona juga sudah cerita kronologinya. Ah, tapi cokelat dari Sanha noona diterima Jungkook, ya? Benak Jimin.

"Tapi lega juga, sih. Kami kira Park Jimin bisa menembus hati Jungkook. Ternyata kau juga dianggap sama seperti orang biasa."

TUING.

Jimin tertohok mendengarnya.

Dianggap sama.. seperti orang biasa…..

.

.


Besoknya, di perpustakaan BigHit School

.

"Nggak mau.. Nggak butuh.. Nggak mau..", gumam Jimin sambil menidurkan kepalanya di meja perpustakaan. Dipandanginya kotak cokelat yang seharusnya untuk Jungkook.

Hoseok dan Eunwoo yang ada di depan Jimin menaruh buku mereka lalu memperhatikan Jimin.

"Dari tadi komat-kamit apa, sih?", tanya Eunwoo.

"Aku juga nggak mau! Aku nggak mau Jiminnie pindah sekolah!", rengek Hoseok.

"Hosiki.."

"Aku juga.", kata Eunwoo. "Setelah memaksaku jadi teman, sekarang kamu bilang 'selamat tinggal'..?"

Jimin merasakan aura hitam menguar dari Eunwoo. "Ugh. Mian Eunwoo-chan, Hosiki…"

"Eunwoo-chan..", rengek Hoseok pada Eunwoo.

"Cup, cup.", kata Eunwoo sambil mengelus kepala Hoseok.

Ah.. aku nggak enak sama mereka.

Terutama Eunwoo. Aku rasa, aku teman pertamanya di sekolah ini..

Setelah memaksa jadi teman, aku pergi.

Apa aku akan menyebabkan luka lagi di hati Eunwoo?

Dan.. aku juga bodoh. Kukira cuma aku orang yang dapat membuka hati Jungkook.

Padahal, aku dianggap sama seperti orang lain..

Bagi Jungkook, aku pasti cuma orang yang menyebalkan.

"Apaan, nih?"

Suara berat dari belakang membuyarkan lamunan Jimin. "Yoongi?!", seru Jimin, terkejut karena melihat Suga ada di perpustaan. Seorang Suga, di perpustakaan?! Jimin berpikir mungkin Suga salah makan tadi pagi.

"Ini cokelat valentine kemarin, ya? Kalau sisa buatku saja.", kata Suga sambil melempar-lempar kotak itu ke udara. "Kok aku nggak dikasih, sih?"

"Nggak sudi!", seru Jimin sambil berusaha merebut kembali kotaknya. "Ya! Kembalikan!"

"Hee.. Jadi orang jangan pelit begitu, dong.", ledek Suga sambil mengangkat kotak itu tinggi-tinggi. Jimin yang dua-belas sentimeter lebih pendek dari Suga tentu saja tidak bisa meraihnya.

"Berisik. Bisa kalian teruskan di luar saja?"

Sontak Jimin dan Suga menoleh lalu mereka melihat Eunwoo dengan wajahnya yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Tapi sorot matanya menunjukkan kalau ia jengah melihat mereka.

Ah! Iya, ya. Mereka, kan, pernah pacaran! Seru Jimin dalam hati.

"Wah.. Pantas saja udaranya terasa pengap.", kata Suga sambil ber-smirk-ria.

Wuah! Aku lupa sekarang mereka musuh bebuyutan..!

Suga dan Eunwoo saling menatap dengan malas.

"A-anu.. Eunwoo-chan….?", Jimin panik hendak menjelaskan situasi, namun ia terlalu takut melihat sorot mata Eunwoo yang sedang emosi.

"Kajja, bocah.", kata Suga lalu ia menarik lengan Jimin.

"Ha?! Ke mana..?! Ya! Lepaskan aku!"

Suga menarik Jimin keluar perpustakaan. Meninggalkan Eunwoo yang masih kesal dan Hoseok yang masih terbengong.

Memangnya tadi terasa pengap, ya? Benak Hoseok. "Jadi, gosip itu benar, ya? Jiminnie nggak akan apa-apa, tuh?"

"Gosip?", tanya Eunwoo.

"Itu, ada gosip kalau Suga serius mendekati Jiminnie.", kata Hoseok polos, karena ia tidak mengerti situasi.

Apa..?

"Jangan-jangan Jiminnie mau di'serang' lagi? Ah.. eottokhe…", lirih Hoseok.

Di'serang'… lagi?

.

.


"Apaan, sih?! Jangan main-main, Min Yoongi! Argh, sakit!", Jimin berteriak-teriak dengan heboh. Tangan kanannya menahan dada Suga, tangan kirinya menahan dahi Suga, kaki kirinya menahan perut Suga, sedangkan kaki yang satunya lagi terkunci oleh tindihan Suga.

Tadi Suga menarik Jimin ke gudang di sebelah perpustakaan yang berisi lemari penuh buku-buku lama. Ia mendorong Jimin hingga menubruk lemari. Karena lemas, Jimin pun merosot dan terduduk di lantai.

Suga terus mendekatkan wajahnya dengan wajah Jimin. Namun, saat hidung mereka bertemu, Suga berhenti lalu menatap wajah Jimin dengan seksama. Jimin hanya bisa menaikkan alisnya karena bingung.

SET.

Tiba-tiba saja Suga melepaskan cengkeramannya pada Jimin lalu berjongkok membelakangi mangsanya yang tidak jadi ia terkam.

"Hhh…", Suga menghela napasnya dengan kasar. Jimin masih terpaku di posisinya. "Nggak bisa. Aku nggak selera sama 'bocah'."

Ucapan Suga sukses membuatnya terkena lemparan buku setebal buku telepon di kepalanya.

Untung…saja. Kukira bakal diserang lagi.

Padahal aku sudah siap untuk menonjoknya lagi seperti waktu dia menciumku yang pertama kali.

Tapi.. bikin kesal juga, sih.

Nggak selera sama 'bocah', katanya? Huh! Terus kenapa waktu itu dia menciumku?!

"Oi, bocah!", panggil Suga.

"Apa?! Berhenti memanggilku 'bocah!"

"Mau joinan denganku, nggak?"

"Hah?!"

"Pura-pura saja. Memangnya kamu nggak kepingin melihat wajah berang Jungkook? Marah, nangis, dan tertawa seperti orang bodoh.. Kamu nggak mau melihat Jungkook menunjukkan ekspresinya? Mau, kan?! Pasti mau! Ya, kan?! Hm?", seru Suga antusias.

Hm… Jungkook tertawa seperti orang bodoh? Mau lihat..

Jungkook menangis? Nggak mau lihat..

"Yoongi.."

"Hm?"

"Kamu.. sebegitu inginnya, ya, mengganggu hyung-mu?", tanya Jimin polos.

"EH?!"

.

.


Di kantin BHS

.

"…..Dasar Jessica, mulutnya kayak ember saja.", kata Suga emosi.

"Sejak kapan.. kalian saling tahu?"

"Sejak TK."

"Mwo? Sudah selama itu?!"

"Tahu kalau kami bersaudara, sih, setelah itu.", kata Suga sambil mengunyah bibimbapnya. "Sejak TK, setiap satu bulan sekali, aku dipanggil untuk menghadiri jamuan makan siang di sebuah rumah mewah. Itu kewajibanku waktu itu."

Suga melanjutkan sambil menerawang. "Aku dipakaikan baju bagus. Aku pergi ke sana tanpa tahu alasannya. Di rumah itu.. ada anak laki-laki yang selalu menatapku dengan dingin."

"Walau namanya jamuan makan siang, aku cuma makan berdua dengan seorang ajussi yang nggak aku kenal.", lanjut Suga. "Selama makan, ajussi itu menanyakan hal-hal yang kualami di bulan itu. Cuma itu saja. Orangnya cukup baik, aku nggak merasa kalau aku nggak suka. Apalagi dia selalu membelikanku apapun yang kumau.."

Suga menghela napasnya dengan kasar. "Setelah beberapa tahun, aku coba bertanya padanya. 'Anda ayahku?', lalu ia menjawab 'Ya..'. Nggak ada perasaan khusus di hatiku. Hanya saja, akhirnya aku tahu, ternyata benar.. alasanku selalu diundang ke rumah itu, karena aku anaknya."

"Dia membiarkan anak selingkuhannya datang ke rumah?!", seru Jimin heboh. "Rendah banget!"

"Iya, rendah banget, ya. Omong-omong suaramu keras banget, tahu..!", kata Suga. "Dulu.. aku cukup senang waktu tahu punya saudara. Apalagi namja, jadi aku pikir kami akan bisa bermain sepak bola bersama-sama."

"Eh?! Jinjjayo?!"

"Waktu itu aku masih bocah, sama sekali nggak kepikiran tentang perasaannya padaku. Kalau soal ayah, sih, masa bodoh.", kata Suga. "Lalu, suatu hari, aku sedang bermain bola sendirian di taman belakang rumah itu. Aku melihat Jungkook duduk sendirian di teras sambil melamun. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya."

"Aku Yoongi. Kamu?"

"Jungkook.."

"Jungkook, main bola, yuk? Eh, kakimu lagi sakit, ya? Kok diperban?"

"Bola itu.. dari mana?"

"Ini? Dibelikan ayahmu."

"Oh.."

"Itu pertama kalinya dia bicara padaku.", lanjut Suga. "Seiring berjalannya waktu.. kami semakin sering bicara. Juga berkelahi. Tapi, nggak pernah sekalipun dia mengungkapkan isi hatinya. Dia selalu menatap dingin padaku. Jujur, itu memuakkan."

"Lama-lama, aku tahu posisiku.. dan saat masuk SMP, aku nggak pernah lagi pergi ke jamuan itu.", kata Suga lagi. "Ibuku mulai membanding-bandingkan aku dengannya. Lambat laun, perasaanku padanya pun berubah. Sekarang-sekarang, kalau aku melihat tatapannya yang masih sama itu, rasanya aku marah sekali. Tatapan itu.. entah meremehkanku, atau mengejekku… Kalau benci, bilang saja benci. Itu lebih baik daripada ditatap seperti itu."

Bagi Yoongi, Jungkook itu.. sosok yang nggak bisa diabaikannya, ya?

Sama sepertiku..

Yoongi juga menunggu Jungkook…. Memperlihatkan isi hatinya.

.

.

.

Besoknya, gosip menyebar ke seluruh BigHit School.

"Sudah dengar? Katanya, Suga dan Park Jimin betulan jadian!"

"Masa, sih?! Nggak mungkin, ah!"

"Akhir-akhir ini mereka sering pulang bareng. Makan siang juga berdua!"

"Kudengar, mereka pernah ciuman juga, loh!"

.

.

TBC

.

.


annyeong reader-nim. review di ff ini sudah melewati 100 :O omo omo aku ngga nyangka bakal dapet reader-nim seantusias ini :') jeongmal gamsahamnida /bungkuk 90 derajat/

hmm aku baca review banyak yg punya otp masing2

tapi.. udah aku putusin kok pair endingnya bakal siapa... jimin sama...

teng! ngga akan aku kasi tau. ngga seru dong kalo dibeberin sekarang hehe

.

.

aku kasih bocoran deh

mian untuk jinmin shipper

dah ah segitu aja bocorannya hehe

.

.

buat yoonmin/kookmin/vmin shipper semangat terus yaa :D hal indah akan datang untuk orang yang sabar menanti #ceilah #sokbijak #padahalmahbiarpanjangajaffnya #masihadakonflikselanjutnya