Bagus sekali, setelah membocorkan rahasianya, sekarang Jr dengan santainya pergi ke studio sendirian. Meninggalkan gadis itu berdua dengan orang yang - menurut bocoran rahasia dari Jr - disukainya.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Min Ra mendelik, "Tidak"
"Ahgaseyang baik tidak bersikap seperti itu pada biasnya"
"Apa katamu saja"
"Sejak kapan kau menyukaiku?"
Pipi gadis itu kini memerah padam, "Entah"
"Apa sudah lama?"
Gadis itu menundukkan kepalanya dan mengangguk.
"Kenapa kau tak pernah mengatakan itu padaku?"
"Kau mungkin hanya akan mengabaikanku seperti biasa"
"Pikiranmu jahat sekali"
"Aku harus ke studio sekarang", Min Ra meraih jaketnya dan sudah akan melangkah pergi dari sofa jika saja Youngjae tak menarik pergelangan tangannya.
"Sampai kapan kau ingin seperti ini?"
Min Ra menggigit bibirnya.
"Kau mendekatiku, tapi tetap pergi begitu saja saat aku memiliki masalah. Kau menciumku, lalu menjauh, seolah tak terjadi apapun. Kau tahu bagaimana rasanya hatiku saat itu? Sakit sekali", gumam Min Ra menahan isak tangisnya.
"Kau mencintaiku, tapi menyerah begitu saja saat harus dijodohkan dengan Jaebum. Dan sekarang, kau menyatakan perasaanmu, tapi tetap akan pergi meninggalkanku begitu saja?", balas Youngjae.
"Apa kau tak pernah memikirkan perasaanku? Tak pernahkah kau bertanya, bagaimana perasaanku padamu sebenarnya?", Min Ra masih bicara tanpa memandang lawan bicaranya. Suaranya kini mulai bergetar.
"Tidakkah kau ingin tahu bagaimana isi hatiku?", jawab Youngjae lagi.
Min Ra membalik tubuhnya dan jatuh berlutut begitu saja di depan Youngjae yang duduk di sofa, "Youngjae-ya,Tentu saja aku penasaran. Aku sangat penasaran. Tapi aku tak mungkin menanyakannya padamu, kan? Aku ini ahgase.Aku tak mau kau menjauh hanya karna aku menyatakan perasaanku padamu begitu saja", kata Min Ra.
"Tapi aku takkan menjauhimu", tukas Youngjae lembut.
Min Ra mengangguk lembut, lalu meletakkan kedua tangan Youngjae di pangkuan laki-laki itu, "ara.", katanya, "aku tahu kau takkan seperti itu. Tapi aku takut kau akan melakukannya. Aku takut kau akan pergi", kata Min Ra.
"Aku lebih takut jika kau pergi".
Mata Min Ra yang berkaca-kaca itu membulat, "W-Wae? Bukankah kau membenciku? Bukankah selama ini aku mengganggumu? Bukankah..."
Tiba-tiba saja lengan Youngjae sudah menarik tubuh kecil Min Ra ke dalam pelukannya, "Sst", Youngjae berdesis pelan, "Jangan pergi", gumamnya.
Min Ra terisak di dekapan Youngjae, "Mianhae,mianhae,Youngjae-ya".
"Eum, gwaenchana. Berjanjilah untuk tetap di sisiku", Youngjae mengeratkan pelukannya.
Min Ra mengangguk, lalu melepas pelukannya, "Youngjae-ya, saranghae"
Youngjae hanya tersenyum. Dan kemudian hal itu terjadi lagi. Ketika bibir Youngjae menyentuh bibirnya lembut, melumatnya dengan tenang seolah sedang menyalurkan perasaannya dalam kegiatan itu.
Kemudian laki-laki itu melepas tautan bibirnya, "Nado.Nadosaranghae",katanya sambil tersenyum hangat.
Lalu waktu kembali memberikan mereka privasi untuk melanjutkan kegiatannya. Membiarkan seorang Youngjae mengecup bibir manis Min Ra yang berlinang air mata. Membiarkan mereka berdua hanyut dalam romansa cinta yang entah kapan akan berakhir.
.
.
.
.
.
.
"Berangkat? Kemana?"
Min Ra yang sore itu baru sampai di studio mendadak panik saat mendengar kabar bahwa Jaebum akan berangkat.
"Tentu saja ke USA!", jawab Jr frustasi. Ia adalah satu-satunya member yang baru tahu kalau sahabatnya, Jaebum, akan melanjutkan sekolahnya di negeri paman Sam sana.
"Kenapa?", gumam gadis itu, "Kenapa sekarang?"
"Justru sekarang adalah saat yang tepat", ucap Jackson, "Got7 sedang hiatus. Mark hyungsedang melanjutkan kuliahnya di sana. Bukankah itu kesempatan bagus untuk Jaebum hyung?"
"Noona", panggil Yugyeom, "Pergilah. Mungkin kau masih bisa menemuinya jika beruntung"
Min Ra mengepalkan tangannya.
"Selesaikan urusanmu dengannya", kata Jackson menimpali.
"Ayolah, Noona.Aku akan mengantarmu", kata Yugyeom sambil meraih kunci motornya dan berjalan keluar studio.
"Pergilah", Jr ikut bicara dengan kepalanya yang masih menunduk, "Aku akan buat alasan nanti pada Youngjae saat ia dan Bambam kembali".
Min Ra langsung membungkukkan badannya berkali-kali, "Gamsahamnida,Oppadeul!Aku pergi dulu!", lalu gadis itu langsung berlari menyusul Yugyeom keluar.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau menyukai 'dia' kan?"
"Aku tak bilang begitu"
"Tapi aku tahu"
"Jangan sok tahu", suara gadis itu bergetar.
"Aku tahu kau menyukainya"
"Terserahmu"
"Dan aku juga tahu aku menyukaimu"
"Mwo?"
Semilir angin menerpa dua insan yang berdiri berjauhan di tengah taman itu.
"Nannegajowa", ulang laki-laki itu.
Gadis didepannya terpaku.
"Tapi aku tidak akan mengambilmu sekarang", tambahnya, "Aku lebih dari sekedar tahu bahwa sudah ada seseorang disana", jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah dada perempuan itu.
"Choi Youngjae, kan?", tambahnya, "Ah, dia beruntung sekali bisa mendapatkanmu begitu saja".
"Jaebum-ah..."
Laki-laki itu, Jaebum, hanya menoleh sesaat, "Bahkan aku yang sudah diatur untuk menjadi milikmu tetap tak bisa menang"
"Jaebum-ah.."
Jaebum menggenggam kedua bahu gadis berambut panjang itu, "Jung Min Ra, dengarkan aku", katanya. Mata sipitnya menatap lurus ke arah mata lawan bicaranya yang berkaca-kaca, "Aku mengaku kalah saat ini. Kau, pergilah bersama Youngjae"
Mata Min Ra membulat kaget mendengarnya.
"Pergilah selagi aku belum berubah pikiran", ucap Jaebum menyeringai sedih, "Tapi ingat ini. Aku membiarkanmu pergi hanya untuk saat ini", tambahnya menekankan empat kata terakhir, "Lagipula aku tak mungkin menikahimu sekarang. Aku mungkin tak masalah meninggalkan Karir ku, tapi aku takkan membiarkan karirmu hancur bahkan sebelum dimulai", katanya panjang lebar.
"Maka dari itu, pergilah. Jangan tinggalkan Youngjae sedikitpun. Sekali saja aku melihatmu menangis karenanya, maka detik itu juga aku akan merebutmu dari laki-laki itu"
"Jaebum-ah, mianhae.. "
Jaebum menggeleng, "Jangan minta maaf sekarang. Persainganku dan Youngjae bahkan belum dimulai", sebuah seringaian sedih terukir di bibir Jaebum.
Reflek, Min Ra mendekap tubuh tinggi Jaebum erat, "Mian.. Aku akan berjuang bersama Youngjae. Akan kupastikan aku bahagia. Tapi terimakasih sudah memberiku kesempatan, Jaebum-ah. Terimakasih karna kau mau menungguku", gumam Min Ra.
Jaebum mendekap erat tubuh gadis itu dan mengangguk, "Pergilah".
Min Ra mengendurkan pelukannya dan membiarkan Jaebum mendaratkan bibirnya cukup lama di kening gadis itu. Hangat. Min Ra tahu, ia akan merindukan Jaebum nanti. Tapi saat ini ia harus fokus menata hubungannya dengan kekasihnya, Choi Youngjae.
Dan sore itu, Jaebum menggenggam erat tangan Min Ra sampai ke pintu keberangkatan. Bandara mulai lengang, para penumpang mulai menaiki pesawatnya masing-masing. Pengeras suara bilang, pesawat ke USA akan berangkat beberapa menit lagi.
Jadi, dua orang itu berpisah. Yang satu memutuskan untuk pergi meneruskan kuliahnya , sekaligus menyembuhkan perih di hatinya. Sedangkan yang satu bertahan di negeri gingseng, merintis karir bersama kekasih yang disayanginya.
Dan kisah itu berakhir begitu saja. Menggantung tanpa kepastian, membiarkan takdir yang akan mengarahkan kepingan-kepingam hati itu berlayar mencari pasangannya. Siapa yang tahu dengan masa depan? Yang penting adalah berjuang di masa kini. Merajut perisai baja untuk menahan berbagai kemungkinan, bahkan mungkin termasuk yang terburuk, di masa depan nanti.
