Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo)
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo)
Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo)
Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo)
Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo) – Jimin's uncle
Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo)
Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo)
Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo)
Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo)
Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo)
Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo)
Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo)
Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo)
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Chapter 20: Flashback
.
.
"Jadi, kamu sama sekali nggak ingat Jungkook? Dia nggak berkesan, ya?"
"Bukan begitu! Ingatan kelas 1 SD-ku nggak ada.."
"Hm.. Mungkin dulu kamu diculik alien lalu ingatanmu dihapus."
"Jahat!"
"Maksudku, mungkin kamu akan ingat lagi kalau kejadian yang menyebabkan kamu hilang ingatan terulang. Nanti malam cobalah ke bukit belakang sekolah lalu lakukan ritual pemanggil alien."
"Ya! Kamu serius menyangka aku pernah diculik alien?!"
Pagi itu Jimin dan Suga berangkat ke sekolah bersama-sama, seperti yang sudah mereka lakukan beberapa hari kebelakang. Mereka sepakat untuk pacaran demi memancing reaksi seorang Jeon Jungkook. Walaupun pada kenyatannya mereka terlihat tidak lebih dari dua orang bocah yang saling menghina dan menendang, tapi karena mereka sering terlihat bersama, dan mungkin style mereka untuk mengungkapkan rasa sayang memang seperti itu, jadi sudah cukup untuk membuat seisi sekolah tahu kalau mereka pacaran.
"Soal Jungkook…", kata Suga, tanpa memedulikan Jimin yang memukul-mukul lengannya. "Aku punya dua dugaan kenapa dia jadi seperti itu."
Jimin menghentikan kegiatannya lalu berseru, "Eh? Apa? Apa?"
"Pertama, kondisi keluarga. Aku selalu merasa rumah itu dingin dan menakutkan, tidak peduli betapa mewah pun rumah itu. Apalagi ditambah orang tua semacam itu.", kata Suga. "Kedua, mungkin penindasan."
"Penindasan..?"
"Dia… punya banyak luka di bagian tubuh yang sulit dilihat. Atau di bagian yang tidak akan dicurigai oleh orang lain. Jadi, mungkin, dia disiksa."
Jimin termenung karena memikirkan dua kemungkinan itu. Hingga tiba-tiba saja tangan Suga yang tadinya ada di dalam saku mantelnya sekarang bertengger mesra di pundak Jimin.
GREP.
"Apa, sih, kok tiba-tiba…."
Untung saja Jimin tidak mengatakannya dengan kencang, dan untung saja Suga mengeratkan rangkulannya di bahu Jimin, karena Jimin tidak akan menyadari bahwa Jungkook sedang berjalan di dekat mereka kalau tidak diperlakukan seperti itu.
"A.. a.. anu. P.. pagi, Jung…. Kok…? Hhh.. Melirik pun, nggak.", kata Jimin lesu.
Tidak sesuai dengan keinginan pasangan YoonMin itu, Jungkook terlihat sama sekali tidak peduli dengan mereka yang dikabarkan oleh semua orang di sekolah sedang menjalin hubungan.
"Yah.. Nanti juga dia bereaksi. Dia pasti dengar gosipnya. Eh, kok, sakit…?!"
Suga menoleh ke belakang, ke arah sesuatu yang sekiranya menyebabkan kepalanya mendadak merasa sakit. Ternyata di sana ada V dengan laptop di tangannya dan tengah menatap garang ke arah YoonMin couple, atau lebih tepatnya, sih, hanya ke Suga.
"Kau…", geram Suga.
.
.
Di kelas 1-C
.
"Itu nggak masuk akal… Minnie dan Suga? Huh! Percuma! Nggak akan ada efeknya!", V pagi-pagi sudah berceloteh kesal sambil sesekali masih meringis dan menyentuh kepalanya yang balas digetok Suga.
"Iya, ya.. Tapi, nggak ada cara lain, sih. Jadi, yang ada saja…", lirih Jimin sambil menidurkan kepalanya di mejanya.
"Minnie bilang mau menemui guru SD yang dulu, kan? Aku ikut."
Jimin langsung mendudukkan dirinya dengan tegak. "Hee? Ngapain?"
"Aku juga ingin tahu.. ada apa diantara Minnie dan si breng… Jungkook."
V mengucapkannya sambil menatap mejanya dengan masam. Tapi ada ekspresi kesedihan juga.
Hati Jimin jadi campur aduk.
V….
.
.
Di kantin BigHit School
.
"Wah, ramai banget. Hoi, minggir!", seru Suga seraya menyenggol beberapa orang dan dengan enteng berjalan menuju barisan paling depan. Ternyata Suga mau menyalip antrian.
"Semuanya harus antri!", seru seseorang.
Suga dengan malas menoleh ke belakang. Ia tahu persis siapa orang yang berseru tadi. Selain karena selama ini orang itu sering menghabiskan waktu bersama dengannya, siapa lagi di sekolah ini yang berani melawannya selain Park Jimin.
"Ha?! 'Bocah' jangan bicara begitu sama orang dewasa!"
Jimin melangkah menuju Suga dengan geram. "Kalau orang dewasa, ikuti aturan orang dewasa, dong! Mengantri, sana!"
"Apa katamu?!", bentak Suga sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara, bersiap meninju Jimin.
Yang akan ditinju pun memejamkan kedua matanya dan sedikit tersentak. Namun karena setelah beberapa detik tidak juga merasakan sakit, Jimin membuka matanya hanya untuk menemukan wajah menyebalkan Suga di hadapannya, sedang menahan tawa.
"Pfff.. wuahahahaha! Gemetaran, nih, ye~!", ledek Suga.
"Dasar kau manusia pucat..!"
POK!
Satu pukulan berhasil landing di kepala Suga yang saat itu berbalut beanie berwarna hitam. Tapi tetap saja tidak dapat meredam rasa sakit akibat pukulan dahsyat anak gunung. Maksudnya, Jimin.
"Sakit!", seru Suga tapi ia tidak membalas Jimin.
Jimin menarik Suga ke barisan paling belakang dan mulai mengantri lagi dari awal bersama-sama.
Terdengar bisik-bisik di sekitar kantin.
"Dia berani bilang begitu sama Suga!"
"Kalau dulu, pasti bakal dihajar habis-habisan dia!"
"Wuah, Suga ikut antri! Daebak!"
"Park Jimin hebat!"
"Rasanya Suga jadi nggak terlalu menakutkan berkat Park Jimin, ya?"
"Iya, dia berubah jadi lebih baik."
Tidak ada yang menyadari kalau Jungkook sedari tadi mengawasi dan mendengar bisik-bisik mereka dari balik pilar di dekat kantin. Jungkook melirik ke pasangan YoonMin yang sedang berbincang hangat. Ia melihat aura Suga yang berubah tenang, tidak seperti biasanya yang selalu gelap tapi meledak-ledak. Muak dengan itu, ia pun meninggalkan area kantin dengan wajahnya yang masih tanpa ekspresi.
.
.
.
Setelah lelah mengobrol—memaki dan mengumpat—Jimin, Suga mengedarkan pandangannya ke sekitar kantin lalu iris matanya menangkap sosok seorang yeoja cantik yang sedang mendekap buku di dadanya melintasi kantin seorang diri. Suga masih menatap sosok itu hingga menghilang di belokan.
"Oi, bocah."
"Hm?", sahut Jimin sambil menoleh ke belakang.
"Kamu akrab dengan dia, ya?"
"Dia siapa?"
"Cha Eunwoo.", kata Suga masih sambil menatap ke arah menghilangnya sosok Eunwoo.
"Eh, em, iya.. akrab.."
Jimin menjawab dengan ragu karena sulit membaca ekspresi Suga. Namun ketika Suga berkata "Hm.. Begitu, ya…", sambil sedikit tersenyum, hati Jimin menghangat seketika. Kalian tidak melupakan Jimin si pembela keadilan tingkat nasional, bukan? Jimin berpikir ia bisa membuat Suga dan Eunwoo berbaikan. Iya, berbaikan saja dulu, urusan ke depannya, mereka bisa kembali akrab atau tidaknya sih terserah. Karena itu juga nampaknya akan menjadi hal yang lebih sulit daripada mengajak beratus-ratus siswa BHS untuk menjadi 'Grey'.
Kalian juga tidak melupakan Jimin si telmi, polos, nan blo'on, kan?
"Jangan-jangan, Yoongi masih suka, ya, sama Eunwoo-chan?"
Suga sampai membuka mulutnya membentuk huruf 'o' kecil. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
Melihat ekspresi Suga, Jimin sadar kalau ia keceplosan lagi. Ia menutup mulutnya sendiri dan matanya juga membelalak horor.
"Kok… tahu…..", akhirnya Suga kembali ke Suga yang dulu, yang mengerikan. Karena auranya menghitam seketika saat mengatakan itu.
"A-anu.. ceritanya panjang…", kata Jimin panik.
.
.
.
"Selingkuh?!", seru Suga, tidak memedulikan siswa BHS lainnya yang terkejut karena suara kencangnya. "Apaan?! Nggak ingat, tuh, kalau aku selingkuh! Masa baru tiga hari 'dah selingkuh, gila 'aja!", lanjut Suga seraya menyeruput jus jeruknya.
"Mungkin sama Jessica noona? Kalian dulu pacaran, kan?", Jimin si polos bin ajaib kumat lagi.
"Kok kamu tahu semuanya, sih?!"
Jimin hanya menyengir grogi. Lalu Suga melanjutkan.
"Nggak mungkin. Aku jadian sama Jessica jauh setelah putus dari Eunwoo-cha… Ekhem!", Suga berdehem pelan dulu sebelum meralat panggilannya untuk mantan pacarnya itu, "Cha Eunwoo."
Suga dulu sering memanggil Eunwoo dengan sebutan 'Eunwoo-chan', tapi hanya untuk dirinya sendiri, ketika sedang membayangkan senyuman manis Eunwoo di kamarnya, misalnya. Dulu ia bahkan malu untuk memanggil Eunwoo dengan panggilan sayang. Masih kelas 1 SMP, sih.
Suga melanjutkan pembelaannya. "Walau kutanya alasannya, dia nggak mau bilang. Lama-lama aku jadi kesal. Hubungan kami jadi buruk. Kayak waktu itu di perpustakaan, bicaranya aneh, kan?"
"Em.. Enwoo-chan bilang.. dengar namamu saja dia muak."
"Oh, gitu, ya?!", sembur Suga.
"Tapi… itu berarti Eunwoo-chan masih punya perasaan yang kuat sama Yoongi, kan? Kalau nggak, mana mungkin Eunwoo-chan bilang begitu.", kata Jimin, sepertinya Jimin menemukan bakat terpendam sebagai tempat konsultasi pasangan yang sudah putus. "Kalau nggak benar-benar suka, aku rasa Eunwoo-chan nggak mungkin mau pacaran.—Dan sulit dipercaya orang itu kamu—Jadi kalau cuma karena salah paham, sebaiknya dijelaskan saja."
"Itu masa lalu.", kata Suga dingin. "Nggak bisa diapa-apakan lagi.". Pipi Suga agak memerah. "Huh. Kenapa aku jadi bicara soal ini sama kamu, sih..?"
Jimin hanya tersenyum lemah.
.
Apa benang yang sudah kusut…
Nggak bisa dirapikan kembali?
.
.
Hari Minggu
.
"Jin! Mungkin hari ini aku pulang agak malam. Aku sudah siapkan makan siang, untuk malam pesan saja, ya!", seru Jimin yang sedang mengenakan sepatu converse high berwarna hijaunya.
"Ya, ya. Hati-hati, Jimin.", seru Jin dari ruang makan.
"Aku berangkat!"
Jimin menutup pintu dan menguncinya, lalu berjalan keluar gerbang rumah. Baru berapa langkah, ia melihat seseorang yang selama ini dianggapnya tidak peduli. Mendadak ucapan Suga terlintas di otaknya, "Yah, nanti juga dia akan bereaksi."
.
.
.
"Jungkook mau menemaniku pergi, ya? Aih, senangnya~! V juga ikut, kita janjian di depan Seven Eleven.", seru Jimin ceria. "Ah. Jungkook! Dulu ada jalan seperti ini juga, kan? Lalu kita sering mampir ke taman lalu mengumpulkan buah ek yang jatuh.."
Jungkook menghentikan langkahnya. "Eh…?"
"Kalau berada di dekat Jungkook, rasanya ingatanku cepat kembali. Seperti sekarang, gambaran kita sedang mengumpulkan buah ek terlintas dengan jelas di benakku. Yang begini namanya flashback, kan?"
Jungkook masih diam di tempatnya. Tidak berkomentar apa-apa.
"Oh, iya, Jungkook. Soal Suga… Cobalah bicara baik-baik dengannya. Aku tahu hubungan kalian."
Oh-oh. Bisakah Jimin berhenti membuat Jungkook terkejut?
"Dia… ingin bicara dari hati-ke-hati dengan Jungkook.. Walau dia kasar, bodoh, dan egois, hatinya nggak terlalu jelek, kok. Dulu dia periang dan suka olahraga. Mungkin, dia bisa seperti dulu lagi."
"….Merepotkan. Dia… biar saja seperti itu.."
"Eh? Jungkook bilang apa? Nggak kedengaran..", kata Jimin. Jarak mereka berdua memang agak jauh. "Ini kan bisa jadi jalan agar kalian berdamai…"
"Berhenti bicara tentangnya. Itu membuatku jijik…!", kata Jungkook dingin. "Cuma dengan mendengarmu menyebut namanya, itu memuakkan… Jimin, kau nggak boleh ada di sini. Cepatlah lenyap dari hadapanku.."
Sorot mata Jungkook mengerikan. Terlalu gelap. Terlalu kelam.
"Apaan, sih…", kata Jimin dengan suara tercekat. "Jadi, Jungkook datang cuma untuk mengatakan itu? Kenapa aku nggak boleh ada di sini? Apa alasannya? Kalau ingin bilang sesuatu, katakan saja semuanya!"
Jungkook membalikkan badannya dan berjalan berlawanan arah dengan arah yang dituju Jimin.
"Jangan kabur! Hadapi aku! Jangan lari! JEON JUNGKOOK!"
Namun Jungkook tidak menghentikan langkahnya. Tidak akan. Ia tidak bisa.
Dam di mata Jimin jebol. Air mata tumpah begitu saja, membanjiri pipinya.
"Sudah nggak bisa… Dia.. benar-benar menolak…"
Jimin melangkahkan kakinya ke tempat pertemuannya dengan V. Ia mengusak matanya dengan kasar sambil berjalan, mencoba menghentikan air yang terus menyeruak dari matanya.
Apapun perkataanku..
Walaupun aku mengingat masa laluku…
Dia tetap nggak akan mau membuka hatinya.
.
CIT.. DUK!
.
"Kecelakaan!", seru seseorang.
"Ada orang ditabrak!"
"Cepat, panggil ambulans!"
Jimin melihat seorang yeoja berambut panjang terkapar tidak bergerak di aspal. Darah segar seperti ditumpahkan di atasnya. Merah di mana-mana. Situasi ini.. pernah Jimin lihat.
...mungkin kamu akan ingat lagi kalau kejadian yang menyebabkan kamu hilang ingatan terulang.
Yang begini namanya flashback, kan?
.
.
.
Tbc
Halo halo halo
Kembali lagi denganku~~~ pada kangen ga? Ngga y ;( yaudade ;(
Karena masalah geng gengan udah beres, jadi aku hapus dari keterangan casts. Sekarang ma tinggal masalah hati aja #eaeaea #ayochimbingung
Suga pacaran sama chim? Yoonmin couple nih. Mana sorak sorainya :p
Chim diusir jeongguk. Maunya apa sih dia tuh hufh /author mendengus keras/
Dan chim melihat kejadian naas sehabis dicampakkan jeongguk.. Betul betul sinetron banget nasibmu chim :(
