Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo)

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo)

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo)

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo)

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo)

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo)

Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo)

Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo)

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo)

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo)

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo)

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo)

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo)

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 21: The Lost Memory

.

.


Lama sekali.. Minnie sedang apa, sih?

Sudah hampir lima belas menit V menunggu Jimin di depan Seven Eleven, namun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba.

NGIUNG.. NGIUNG.. NGIUNG..

Tiba-tiba saja ada sebuah ambulans melintasi jalan di depan V.

Eh? Ada kecelakaan?

.

.


Sementara itu, di rumah Jimin

.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

"Iya, iya. Sabar.", kata Jin yang sedang berjalan menuju pintu rumahnya. "Heboh sekali. Siapa, sih… Eh?"

Ketika Jin membuka pintu, di hadapannya sudah ada Jungkook dengan wajah masamnya.

Jin mempersilakan Jungkook masuk lalu mereka berdua duduk di ruang tamu.

"Waktu di galeri, pembicaraan kita terputus. Aku senang kau datang. Mau minum?"

"Nggak perlu.", jawab Jungkook dingin.

"Kau tahu rumah kami dari mana? Ah, pasti dari data siswa, ya.."

"Cepat pindah.", kata Jungkook, tidak peduli dengan basa-basi Jin. "Sebelum terlambat."

"Hm? Kenapa?"

"Ingatan Jimin… kembali dengan cepat. Dia.. tetap nggak menjauhiku walau sudah kuacuhkan. Kalau tetap begini, aku akan terus menyakitinya. Aku sudah nggak tahan. Sengsara rasanya…"

Wajah Jungkook yang biasanya tanpa ekspresi berubah. Ia terlihat sangat merana. Jin melihat dengan jelas kesedihan itu di wajahnya.

"…Aku pernah memintamu menjauhi Jimin.", kata Jin. "Kutarik perkataanku."

Jeda satu detik sebelum Jungkook berteriak, "Ha?!"

"Dulu kupikir Jimin akan mengingat masa lalunya dengan sendirinya, nanti, saat dia sudah dewasa. Tapi, aku rasa ingat sekarang pun nggak apa. Dia dibesarkan dengan baik. Dia akan mengerti. Lagi pula… aku lebih mencemaskanmu dari pada Jimin."

Jungkook mengatupkan bibirnya.

"Kau memiliki tatapan seperti sedang berada di dasar laut yang gelap. Setelah pindah pun, aku selalu memikirkanmu. Tapi, seperti yang baru saja kukatakan, Jimin dibesarkan dengan baik, aku mati-matian mengurusnya. Maaf, aku tidak melakukan apapun untukmu.", lanjut Jin seraya mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.

Jin menghisap rokoknya satu kali lalu menghembuskan asapnya sebelum berbicara, "Bagaimana dengan ayahmu?"

Jika bukan Jin yang bertanya, mungkin Jungkook akan memilih diam atau malah menghajar orang itu. Tapi, ini Jin, paman Jimin yang kebetulan sudah mengetahui silsilah hidupnya.

"Sekarang… kami tinggal terpisah. Kadang, dia datang. Tapi, sudah bertahun-tahun kami nggak saling bertatap muka.", kata Jungkook sambil menerawang. "Nggak perlu mencemaskanku. Aku… bukan lagi anak kecil yang nggak bisa berbuat apa-apa."

Jin tersenyum simpul lalu berkata, "Kau bilang lega Jimin lupa pada masa lalunya, karena Jimin pasti kecewa pada dirimu yang sekarang. Tapi, kurasa nggak begitu. Seburuk apapun, Jimin pasti menerimamu. Dan sebenarnya, kau ingin dia ingat, kan? Kau ingin.. dia di sisimu, kan?"

Ekspresi Jungkook melunak. Samar, terlihat rona merah muda di pipinya. Matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis. "Aku.. Aku…."

BRAK!

Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka lebar dan menghantam dinding. Menimbulkan suara berdebum yang kencang.

"Ajussi! Ajussi ada?!"

V berteriak sambil berjalan masuk ke dalam rumah itu. "Ajussi, Minnie ada?! Loh, kok ada Jungkook?"

"Sial, aku lupa mengunci pintu.", gumam Jin, lalu ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya lagi dengan santai. "Oi, bocah stroberi tempo hari. Jangan seenaknya masuk rumah dan panggil aku ajussi.", kata Jin dengan suara yang dapat didengar manusia.

"Bukannya Jimin pergi denganmu?", tanya Jungkook yang wajahnya sudah kembali datar.

"Dia nggak datang ke tempat kami janjian bertemu. Ah, tadi ada kecelakaan di taman dekat tempat aku menunggu. Ada seorang yeoja yang tertabrak, jalanan penuh dengan darah. Minnie… mungkin melihatnya..", V melanjutkan, "Ingatan Minnie… mungkin kembali."

Dua namja tampan yang tadi sedang berbincang sebelum diinterupsi oleh kedatangan V pun terdiam. Mereka terlalu terkejut sehingga tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, sedetik kemudian Jungkook bergegas berjalan ke arah pintu. Belum sampai di tujuannya, langkah Jungkook terhenti karena interupsi Jin.

"Tunggu dulu. Nggak apa, jangan panik.", kata Jin santai.

"Jangan panik gimana, ajussi?!", seru V.

Jin menghisap dan menghembuskan rokoknya lagi. "Walau terluka, Jimin akan bangkit lagi. Dia pasti kembali ke sini. Dia punyaku."

Jungkook tidak peduli dengan larangan dan deklarasi Jin. Ia tetap bergegas keluar untuk mencari Jimin. Sedangkan V masih terdiam di posisinya.

"Nggak ikut 'ngejar?", tanya Jin.

"Kalau ajussi seyakin itu.. pasti benar, Minnie nggak akan apa-apa.", V menoleh memandang Jin lalu tersenyum miris. "Kalau ingatan Minnie kembali, peranku di sini nggak ada lagi, kan?"

"Well.. Berjuanglah.", kata Jin sambil tersenyum simpul.

.

.

.

Rumah Jin kembali sepi setelah kepergian dua namja berbeda kepribadian itu. Jin meneruskan acara merokoknya di teras sambil selonjoran di sofa.

"'Bukan lagi anak kecil yang nggak bisa berbuat apa-apa', ya…", Jin menghembuskan asap rokoknya, "Justru karena itu aku cemas, Kookie."

.

.


Jungkook berlari seperti kesetanan. Ia terus berlari tanpa henti hingga sampai di stasiun. Di dalam kereta, ia berdialog dengan dirinya sendiri.

Kamu menghindari Jimin bukan demi dia. Tapi demi kamu sendiri, Jungkook.

Kamu takut. Kamu benci pada dirimu sendiri.

Kamu takut dirimu yang bodoh ini diketahui oleh Jimin.

.

.

.

Setelah dua puluh menit, Jungkook tiba di pemakaman. Saat Jungkook masih di kereta, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Namun ia tidak memedulikan dirinya yang akan kebasahan. Ia hanya memedulikan Jimin. Entah mengapa, kata hatinya menuntunnya ke pemakaman.

Ia yakin akan menemukan Jimin di sana.

Tidak sulit untuk Jungkook menemukan sosok yang dicarinya karena hanya ada satu orang di pemakaman itu, yang sedang terduduk lemas di depan pusara besar di tengah hujan seperti ini. Siapa lagi kalau bukan Jimin.

Jungkook mendekati Jimin perlahan-lahan. Namun bunyi kecipak sepatu yang beradu dengan tanah becek membuat Jimin sadar kalau di sana ada orang lain. Tubuh Jimin menjadi tegak karena waspada.

"Sedang apa?", tanya Jungkook, berusaha terdengar secuek mungkin.

Jimin sudah hapal suara Jungkook. Ia pun melemaskan kembali bahunya, pertanda pertahanannya sudah lenyap.

"…Eomma ambruk…", kata Jimin, masih memunggungi Jungkook. "Tempat itu seperti lautan darah. Walau kupanggil, eomma nggak menyahut…"

Terjadi jeda cukup lama hingga akhirnya Jimin mulai berteriak histeris sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. "Aku membunuhnya! Kalau saja aku nggak lari, eomma nggak akan meninggal! Kenapa bukan aku saja yang mati?! Aku nggak dibutuhkan! Aku anak yang nggak berguna!"

Jungkook tidak serta merta memeluk Jimin atau pun menghentikan teriakan dan tangisan histeris Jimin. Ia memperhatikan Jimin dalam diam.

Jimin.. bisakah masa lalu pahitmu itu terlupakan..

Kalau kau berada di sisiku?

"Sini.", kata Jungkook seraya menarik lengan Jimin untuk bangun.

"Ke-ke mana?!"

"Ikut saja."

.

.


Jimin dan Jungkook berada di jembatan layang yang sepi. Entah karena hujan tadi yang terlalu deras, entah karena hari sudah terlalu sore.

"Ini… kenapa Jungkook membawaku ke sini?"

Jungkook mendorong Jimin hingga terantuk dengan pagar pembatas jembatan. "Kalau serius merasa nggak dibutuhkan, lompat saja."

Mwo?!

"Lompat dari situ.", kata Jungkook, menekankan ucapannya.

Jimin melongok ke bawah dan melihat derasnya air yang ada di bawah sana. Hujan tanpa henti satu jam yang lalu membuat volume air sungai bertambah. Dan tiba-tiba saja Jimin merasa pernah melihat kondisi seperti itu sebelumnya.

"Aku.. tahu tempat ini. Dulu.. aku pernah lompat dari sini, kan? Lompat karena mengejar seseorang. Meskipun terseret arus, aku mati-matian terus menggenggam tangannya. Sekalipun akan mati, nggak kulepas…."

Jimin menoleh menatap Jungkook yang sedang selonjoran di pagar pembatas.

"Kamu penyelamat hidupku."

Jimin ingat Jungkook pernah berkata seperti itu padanya. Dan tiba-tiba saja sebuah memori terlintas di benaknya. Saat itu, ia dan Jungkook baru berusia tujuh tahun.

.

"Jangan mendekat! Kau sama saja dengan yang lain! Semua kata-katamu bohong!"

Jimin tidak membalas cercaan Jungkook lalu ikut berdiri di atas pagar pembatas jembatan.

"Apa yang kau lakukan?!", teriak Jungkook lagi.

"Kalau Kookie lompat, aku juga lompat.", kata Jimin ceria. "Akan kubuktikan, kalau keberadaan Kookie sangat penting."

.

"Dulu, kupikir… aku mati pun nggak masalah.", kata Jungkook, memecah keheningan. "Kau bilang 'Nggak ada anak yang nggak dibutuhkan.', 'Kookie temanku yang berharga'.. Sembilan tahun lalu, kamu mengatakan itu padaku."

Jungkook melanjutkan, masih dengan menatap sepatunya, "Itu pertama kalinya ada orang yang bilang aku berharga. Pertama kalinya.. ada orang yang bilang aku boleh hidup. Aku dibutuhkan."

Jungkook menolehkan kepalanya, memandang Jimin. "Kamu mengatakannya sambil tersenyum, padahal kamu harus dirawat karena mendapatkan luka yang cukup besar di pelipis kirimu. Tapi.. kamu malah mengusap-usap kepalaku dan menenangkanku yang nggak berhenti menangis. Semenjak itu, aku berpikir kalau aku bisa hidup.."

Jungkook memutus kontak matanya dengan Jimin lalu menghadap ke depan. "Ada banyak orang yang membutuhkanmu, kan? Kalau kamu nggak ada, banyak orang yang akan menangisimu, kan? Jadi, jangan bilang kalau kamu nggak dibutuhkan. Ibumu.. sudah susah payah melahirkanmu, bukan?"

Jimin sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia langsung mengurung kepalanya dengan tangannya yang ada di atas pagar pembatas jembatan. Ia menangis sejadi-jadinya.

Jungkook tidak melakukan apapun untuk mencoba menenangkan Jimin. Ia masih terdiam di tempatnya dengan tangannya yang masih berada di dalam saku mantelnya.

Setelah beberapa lama, Jimin mengusak matanya dengan kasar lalu menoleh menghadap Jungkook. Wajah Jimin mengerikan omong-omong. Campuran antara bekas kehujanan, kedinginan, mata sembab, hidung meler, rambut lepek. Tidak ada tampan-tampannya.

"Jungkook sendiri?"

"Ha?"

"Jungkook nggak butuh aku, kan?", kata Jimin seraya menaiki pagar pembatas jembatan.

"Bicara apa, sih?"

"Walau aku mati, Jungkook nggak akan merasakan apapun, kan?"

"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!", seru Jungkook mulai panik.

Jimin duduk santai di pagar pembatas itu.

"Ya! Cepat turun!"

"Huh. Tadi aku disuruh mati!", cibir Jimin. "Jadi, akan kukabulkan permintaanmu. Annyeong~"

Jimin mencondongkan tubuhnya ke depan, seperti hendak terjun.

"Jangan bercanda! Aku menyesal mengatakannya!", seru Jungkook seraya menahan lengan Jimin.

Jimin dan Jungkook perang tatap-tatapan lalu Jimin yang pertama memalingkan wajahnya. "Bohong. Annyeong."

Jimin mencondongkan tubuhnya lagi.

"Jangan main-main, Park Jimin!"

Jimin menoleh untuk memandang Jungkook.

"Aku nggak main-main. Kata-kata Jungkook sangat menyakitkan. Kalau Jungkook memang menganggapku berharga, buktikan dengan kata-kata!"

Jungkook menelan ludahnya dengan kasar sebelum berkata. "Sejak sembilan tahun lalu, kata-katamu terus menjadi penopangku. Sejak saat itu, bagiku.. Kamu lebih berharga dari siapapun.."

Jimin terpesona dengan penuturan Jungkook. Plus wajah Jungkook yang hangat dan pipinya yang merona.

Namun, tiba-tiba saja ada angin kencang. Tubuh Jimin pun oleng.

"UWAA!"

Jimin terjatuh dari jembatan, jika saja Jungkook melepaskan gengaman tangannya.

Tubuh Jimin sudah sepenuhnya tergantung. Ia hanya dapat mengandalkan kekuatan tangan Jungkook jika masih ingin hidup.

"Jangan lepas peganganmu! Walau harus mati bersama-sama, jangan dilepas!", teriak Jungkook.

"Percuma.. Lepaskan saja…", lirih Jimin karena menahan sakit di tangannya.

"Kalau kamu jatuh, aku juga akan lompat!"

Eh..?

"Tapi asal tahu saja, aku nggak akan bisa menolongmu. Aku nggak bisa berenang!", seru Jungkook.

Mwo?!

Baru saja Jimin blushing karena ucapan Jungkook, sekarang ia harus dihantam oleh realita.

"Serius?!", sembur Jimin.

"Berisik! Jangan bergerak-gerak, dong!"

.

.

.

Beberapa saat kemudian

.

Jimin tidak mati. Jungkook berhasil menarik Jimin kembali ke permukaan. Napas mereka berdua tersengal-sengal.

"Hah… Rasanya.. capek sekali…..", lirih Jungkook.

"Hmph!"

"Ya! Kenapa tertawa?!"

"Ah, mian. Habis, nggak menyangka kalau Jungkook nggak bisa berenang…", kata Jimin. Sepertinya ia tidak ingat kalau tadi hampir mati. Jimin tersenyum sebelum melanjutkan, "Aku nggak serius mau mati, kok. Kalau bunuh diri.. aku pasti diusir sama eomma di pintu surga…"

"Eomma-mu.. orang baik. Padaku juga baik, padahal aku orang lain. 'Orang baik cepat meninggal'.."

"Gomawo, Jungkook. Karena.. terus mendampingiku.", kata Jimin sambil tersenyum tulus.

"Ah.. baru kali ini aku bicara seperti ini…", kata Jungkook yang sudah memalingkan wajahnya. Ia tidak tahan melihat wajah Jimin yang sedang tersenyum begitu. Yang sedang tidak tersenyum saja sudah tidak tahan.

Jimin membelalakkan matanya. "HAHAHAHAHA! Iya, ya! Ini pertama kalinya aku mendengar Jungkook berkata begini!"

"Ketawamu kekencengan, tuh!", sembur Jungkook.

Dua insan muda itu tidak tahu kalau sedari tadi ada seorang namja berambut merah stroberi yang sedang menatap mereka berdua dari sebrang jembatan dengan wajah sedih.

.

.


Jimin dan Jungkook pulang menjelang malam. Ketika hampir sampai di rumahnya, Jimin melihat Jin sedang berdiri di luar pagar sambil merokok.

"Hai, Jimin. Sudah pulang, ya? Makan malam sudah siap, tuh.", sapa Jin hangat.

Jimin meneteskan air mata lalu berlari menyerbu Jin.

Jin menyambut Jimin lalu mereka berdua berpelukan hangat.

.

Eomma..

Aku akan berjuang hidup untuk eomma.

Aku ngga akan menyia-nyiakan nyawa pemberian eomma.

.

.


Besoknya, di kelas 1-C

.

"Oh, begitu.", sahut V setelah mendengar cerita Jimin. "Jadi, belum ingat semua?"

Jimin mengangguk. "Iya. Bagian penting satunya lagi…"

"Aaang.. Cepat dibuat jelas, dong!", rengek V.

"Jangan merengek 'gitu, dong.. AH! Itu Jungkook si 'batu kolam'!", seru Jimin ketika ia melihat Jungkook melintasi kelas 1-C.

Jungkook memasuki kelas itu lalu menggetok kepala Jimin dengan wajah geramnya. "Jangan keras-keras!"

"Apo!", seru Jimin.

"Aku jadi ingat. Dulu aku pernah dengar kalau Jungkook bolos pelajaran renang. Kelihatannya, sih, hebat. Tapi, ternyata nggak bisa renang, hihihi.", ledek V.

"Hmph. Lucu, ya.", ledek Jimin.

"Awas kalau disebarkan!",teriak Jungkook.

"Hm.. 'Gimana, ya?", goda Jimin. "Oke. Tapi.. jangan cuekin aku lagi, ya. Dan tatap aku kalau sedang bicara denganmu, Kookie.", kata Jimin sambil memukul pelan perut Jungkook.

Jungkook terdiam selama sedetik lalu ia meng-head tackle Jimin. "Jangan lupa diri!", setelah itu ia pun meninggalkan kelas 1-C.

"Apo..! Hehehe."

"Apaan, sih. Habis dipukul kok ketawa.", gerutu V.

"Habis, aku senang.. Jungkook bisa bicara seperti itu."

.

.


"Ya, begitulah. Jadi, aku nggak perlu lagi joinan denganmu.", kata Jimin ketika ia bertemu dengan Suga.

"Kau… Mau enaknya 'aja, ya?!", geram Suga.

Jimin pun kabur sebelum kena sleding Suga.

"Sial. Monyet tengil itu lincah sekali!"

Jimin bermonolog dalam hati sambil terus berlari menjauh dari Suga.

.

Masalah Jungkook dan Yoongi..

Sepertinya, aku nggak bisa ikut campur.

Butuh waktu lama… untuk keduanya berdamai.

.

.

.

Suga tidak mengejar Jimin. Ia sedang tidak mood bermain kejar-kejaran dengan 'mantan' kekasihnya itu. Ia membalikkan badannya hendak beranjak pergi dari koridor tempat hubungannya 'putus' tadi. Baru beberapa langkah, ia melihat seorang yeoja yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Yeoja itu sama sekali tidak menoleh ke arah Suga. Dan begitu pula dengan Suga, yang tidak mau menatap yeoja itu. Namun, Suga teringat akan tips Jimin untuk memperbaiki keadaan. Jadi, setelah jaraknya dan yeoja itu menipis, ia menghentikan langkahnya. Berbeda dengan yeoja itu yang masih meneruskan perjalanannya.

Setelah yeoja itu melewatinya, Suga membuka suara.

"Oi, Cha Eunwoo."

Sontak yeoja itu berhenti melangkah, namun tubuhnya masih tetap memandang lurus ke depan, sama sekali tidak berniat untuk berbalik menghadap Suga.

"Aku nggak selingkuh.", lanjut Suga. "Saat itu, hanya kau yang benar-benar aku suka."

Setelah berkata begitu, Suga berjalan meninggalkan Eunwoo yang masih terpaku di tempatnya dengan wajahnya yang memerah dan tubuhnya yang bergetar.

.

.

.

tbc


selamat malam reader-nim

ff penguin brothers hampir mendekati end nih! cie cie /tebar konfeti/

sejauh ini jimin makin deket ya sama kuki. tapi ke depannya kita belum tau kan gimana, stay tuned aja. /kita? aku kan tau ya endingnya gimana buakakak/

.

oh ya, selama ini kalian ngebayangin castsnya kayak gimana sih?

kalo aku sih ngebayanginnya jimin era FIRE, rambut hitam dan gomplok

jungkook era I NEED U, kelam kelam gimanaaa gituh.

suga era FIRE, rambut silver berantakan.

v era FIRE juga, rambut merah tapi gondrong sebahu.

jin era FIRE juga deh, blonde tapi gondrong sama kek v.

hosiki era I NEED U.

namjoon, kalian ngga lupa ada namjoon kan di sini? perannya sedikit sekali astaga huhu mian namjoon oppa. namjoon kayaknya era I NEED U aja deh.

.

terus seragam 'Black' kalian ngebayanginnya gmn? kalo aku sih mikirin seragam hitam yang dipake jimin di BTS Global Official Fanclub A.R.M.Y 3rd Term Membership Kit.

kalau seragam 'White'... anggap saja seragam sekolah kuki di SOPA tapi warna putih. ada blazer, rompi, dasi.

.

gimana, bayangan kita sama ga? atau malah aku menghancurkan imajinasi kalian? kekeke mianheeee

.

btw chap yang sebelumnya aku tuh niatnya bikin kalian beneran mikir kalo suga sama chim beneran pacaran, /nyenengin yoonmin shipper/ dan baru ketauan di chap ini kalo pacarannya boongan, gitu. tapi udah ketebak banget kayaknya ye? ah gagal deh bikin surprise :(

dan chap ini penuh oleh kookmin moment heheheheheh :3 koomin shipper mana makasihnyaaaa? ahahaha