Casts:

Park Jimin as Hina Mishima (16yo)

Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo)

Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo)

Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo)

Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo)

Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo)

Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo)

Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo)

Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo)

Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo)

Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo)

Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo)

Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo)

All in Korean age

Other casts menyusul


Pairing? Secret. Find out by yourself.

School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.


©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency

©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination

A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.

Rated: T-M (for bad words and violence actions)


.

.

PENGUIN BROTHERS

.

.

Chapter 22: Opression

.

.


Walau masih resah karena ingatanku belum kembali sepenuhnya, aku sangat senang.

"Kenapa, sih, mengekoriku terus?", tanya Jungkook dengan ketus.

"Kan sudah kubilang, kalau dekat Jungkook, aku jadi ingat banyak hal.", kata Jimin sambil menunjuk kepalanya dengan imut.

"Memuakkan.", kata Jungkook sambil memalingkan wajahnya.

Jimin tertohok dikatai Jungkook seperti itu. Walaupun sering, tapi tetap saja terdengar menyebalkan.

"Yeorobun! Di sini ada Jeon si Batu Kola— AW! Ya! Kencang 'amat sih mukulnya!", seru Jimin heboh.

Jungkook tidak memedulikan omelan Jimin dan melanjutkan perjalanannya menuju gerbang sekolah. Jimin memajukan bibirnya karena lagi-lagi diacuhkan oleh Jungkook. Tapi ia tidak menyerah. Ia berjalan cepat hingga tepat berada di sebelah Jungkook lagi, ia mencari ide untuk membuat Jungkook mengobrol dengannya. Lalu ia teringat kalau setiap harinya ia masih membawa kotak kecil berpita di dalam bagpack-nya. Ia pun berkata sambil merogoh isi tasnya, "Jungkook~ Tahu 'gak? Ternyata cokelat valentine untukmu masih ada loh di tasku~"

Ucapan Jimin berhasil membuat Jungkook menoleh. Jungkook menjulurkan tangannya ke depan wajah Jimin lalu berkata, "Mana?"

Senyuman di bibir Jimin merekah. "Ini!", serunya sambil menyodorkan kotak yang sedari tadi dirogohnya untuk berpindah ke tangan Jungkook.

"Kuambil kembali dari Suga.", kata Jungkook sok cuek.

.

Rasanya.. ingin buru-buru.

Tapi, aku berniat menunggu sampai dia bicara sendiri tentang luka di hatinya.

Dan untukku sendiri.. rasanya…

Telah lahir perasaan baru.

.

.


Beberapa hari kemudian

.

Lagi-lagi Jimin menghampiri Jungkook setiap ada waktu kosong. Saat sebelum masuk kelas, saat istirahat, saat kelas usai. Pokoknya, Jimin selalu menempel pada Jungkook kemanapun namja dingin itu pergi.

Walaupun kadang ditanggapi dengan ketus, namun, anehnya, Jungkook tidak mengusir Jimin.

.

Jungkook berubah.

Sorot mata dan ekspresinya.. menjadi lembut.

Dia juga mulai bisa tertawa.

Aku senaaang sekali, melihat Jungkook seperti itu!

Tapi, yah.. Hubungannya dengan Yoongi tetap saja buruk.

Mungkin.. nanti mereka akan ribut lagi. Huft..

.

.


Di kelas 1-C

.

"V.."

Yang namanya disebut menoleh dan menaikkan kedua alisnya.

"Yang membuat V lesu akhir-akhir ini… aku, ya..?", tanya Jimin ragu-ragu sambil memainkan pensilnya.

V menampakkan ekspresi terkejut di wajahnya.

"Ah, anu, maksudku.. Belakangan ini aku mati-matian mencoba mengingat masa lalu yang masih belum bisa kuingat. Jadi, aku terus menerus ke tempat Jungkook…", kata Jimin setelah memalingkan wajahnya yang terdapat semburat merah muda di pipinya.

Duh. Kok aku grogi, sih?

Dan kenapa pula aku menjelaskan hal ini sama V?

Tapi kemarin Hosiki bilang kalau akhir-akhir ini V terlihat lesu.

Dan Hosiki bilang mungkin itu karena aku.

Jadi, aku.. menjelaskan ini sama V… karena aku nggak mau dia lesu lagi.

Benar begitu, kan?

V meraih bahu Jimin dan memutar tubuh yang lebih kecil darinya agar berhadapan lagi dengannya. V tersenyum menggoda, "Aih, terang-terangan sekali~ Nggak mau aku cemburu, ya~?"

"M-mwo?!", semburat merah muda di pipi Jimin sekarang menjalar hingga ke seluruh permukaan wajahnya. "Sudah, lupakan saja yang kukatakan barusan!"

V melepaskan genggaman tangannya dari bahu Jimin lalu bangkit berdiri sambil tersenyum getir. "Dasar… Aku tahu diri, kok."

Jimin terpana mendengar penuturan V dengan nada yang terdengar begitu menyedihkan.

V berjalan menuju jendela dan memandang keluar. "Walau kularang, Minnie akan tetap ke tempat Jungkook, kan? Toh, aku nggak berhak melarang Minnie, juga.. Tapi, aku mendukung apapun yang dilakukan Minnie, karena aku ingin Minnie segera mengingat semuanya."

V melanjutkan, "Aku sangat resah memikirkan, jangan-jangan ada sesuatu yang istimewa di antara Minnie dan dia, mungkin nanti perasaan Minnie akan tercurah seluruhnya padanya.. Tapi, kulihat dia terus menekan perasaannya demi Minnie."

V membalikkan tubuhnya untuk memandang Jimin lalu melanjutkan, "Setelah ingatan Minnie utuh kembali, aku berniat bertanding dengannya.. Sekalipun keadaan akan jadi sangat kurang menguntungkan buatku."

Semburat pink di wajah Jimin sekarang menjalar hingga leher dan telinganya. "..Bertanding…? Jungkook.. nggak punya perasaan apapun sama aku, kok.."

V tersenyum penuh pengertian, "Siapapun tahu dia punya."

"Ta.. tapi.."

"Mungkin, malah, hanya Minnie-lah seseorang yang berharga baginya."

Jimin jadi teringat ketika Jungkook berkata "Sejak saat itu, bagiku kau lebih berharga dari siapapun" ketika Jimin nyaris meninggal karena terjatuh dari jembatan.

V menghampiri Jimin lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jimin yang sedari tadi duduk di bangkunya. "Jangan merasa nggak enak padaku. Bersikap seperti biasa saja. Aku suka Minnie walau bagaimanapun juga.", V mengusak rambut Jimin lembut lalu melanjutkan, "Jawaban Minnie akan kuterima dengan lapang dada."

Uh. V..

Sejak aku pindah ke sekolah ini, V selalu mendukungku. Melindungiku.

Dia.. nggak bisa dibandingkan dengan siapapun.

"Jimin."

Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang memanggil Jimin dari arah pintu kelas. Tatapan mata Jimin dan V terputus begitu saja ketika mereka menoleh ke sumber suara. Di sana ada Jungkook dengan alis yang saling bertemu. Nampaknya ia kesal melihat jarak V yang terlalu dekat dengan Jiminnya.

"Ne?", tanya Jimin seraya bangkit dari bangkunya dan berjalan menghampiri Jungkook.

Tumben Jungkook menyapa duluan.

"Ada yang ingin kukatakan.", kata Jungkook tanpa repot-repot menunggu Jimin menghampirinya. "Sepulang sekolah, kutunggu di atap."

TWENG

Jimin seketika membatu. Setelah mengatakan itu, Jungkook langsung pergi.

A-atap?!

Ma.. masa, sih?!

"Cieeeh. Pernyataan cinta, ya?", ledek V sambil mem-pout-kan bibirnya.

"Ma.. Mana mungkin?!", teriak Jimin berlebihan. Seperti semburat merah muda di wajahnya yang sudah mulai berlebihan menjalar ke mana-mana.

.

.


Sore itu Jimin sampai di atap terlebih dahulu daripada Jungkook. Ia memegang pagar pembatas dengan kedua tangannya lalu ia mulai bermonolog dalam hati.

Tapi.. bagaimana kalau itu benar?

Belum tentu bisa kujawab..

Saat ini, masalah percintaan nggak terpikirkan olehku.

Mungkin, karena masih ada bagian yang kurang di hatiku.

Ingatanku yang hilang ikut andil dalam hal ini.

Jimin melongo seketika. Ia menjedot-jedotkan dahinya pada pagar pembatas atap.

"Idih, memalukan! Belum tentu soal itu, kan, Park Jimin?! Memangnya kau dalam posisi bisa memilih?!"

Setelah merasa dahinya mulai benjol, Jimin menghentikan aksi ekstrimnya.

.

Kalau Jungkook datang.. aku akan menanyakan penyebab luka hatinya..

Yang selama ini belum berani kutanyakan..

Tapi, omong-omong..

"Kok dia nggak datang?! Dia ngapain, sih?!", seru Jimin yang telah menunggu Jungkook selama satu jam di atap.

.

.


Di ruang kesehatan

.

"Zzz.. Zzz…"

Sialan. Ternyata dia tidur di sini. Maki Jimin dalam hati.

Jimin masih menstabilkan pernapasannya karena kelelahan mencari Jungkook hingga ke seluruh sudut sekolah. Bahkan tadi Jimin mengintipi seluruh toilet wanita, astaga! Karena Jimin berpikir mungkin saja dia dibuat pingsan oleh sasaeng fans-nya lalu dikurung bersama para yeoja di toilet.

"Ya, Jeon Jungkook! Sudah manggil orang malah tidur!", bentak Jimin di hadapan Jungkook yang sedang tertidur pulas.

Tiba-tiba saja tirai penyekat antar kasur terbuka. "Biarkan dia tidur. Sepertinya, dia tidak bisa tidur di rumah. Dia sering kemari untuk tidur.", kata petugas kesehatan sekolah.

"Eh? Sering?"

"Iya. Seprai, selimut, dan bantal pribadinya juga ada di sini."

Setelah kepergian petugas kesehatan, Jimin duduk dengan tenang di kursi yang memang di sediakan di sana.

Nggak bisa tidur di rumah..?

Jadi, di mana dia biasanya tidur?

Mungkin, bagi Jungkok, rumah bukan tempat yang bisa membuatnya tenang..

"Ng..", Jungkook mengerang dalam tidurnya dan posisinya berubah menjadi terlentang.

Eh?

Sekelebat ingatan mendadak melintas di benak Jimin.

"Nggak apa, nanti pasti nggak sakit lagi."

"Kookie anak yang kuat."

"Aku akan menemani Kookie semalaman."

Aku.. aku.. pernah melihat posisi tidur ini.

Aku pernah melihat wajah tidur ini.

Aku pernah tidur bersama dengan orang ini.

Jimin pun mendekatkan tangannya ke wajah Jungkook.

.

.

.

Jungkook terbangun karena merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Saat membuka mata, ada Jimin yang sedang menindihnya dan menatap wajahnya dengan intens.

Jimin mulai membuka satu persatu kancing kemeja Jungkook tanpa mengatakan apapun.

Jungkook yang sudah 100 persen bangun pun memberontak. "A.. apa-apaan, kamu?!"

"Jungkook.", kata Jimin dengan suara rendah yang belum pernah Jungkook dengar sebelumnya. Ia menatap tepat pada mata Jungkook lalu berkata. "Bajumu. Buka."

"MWO?!"

"Sudah, buka saja! Palli!"

"Paboya! Hentikan!"

GUBRAK!

Petugas kesehatan yang mendengar teriakan dan suara berdebum pun berlari menghampiri sumber keributan itu. Ia menyibak tirai pembatas kasur lalu memekik kaget setelah melihat pemandangan di hadapannya.

Di lantai ruang kesehatan terdapat Jimin sedang menindih Jungkook sambil mencoba membuka kancing kemeja orang yang ditindihnya.

"Park Jimin! Kenapa kau menyerang Jungkook?!"

"Ibu, tolong tahan sebelah situ!", seru Jimin tanpa memedulikan teriakan petugas kesehatan itu.

"Hentikan, Jimin!", seru Jungkook. Namun terlambat, Jimin tidak bisa dihentikan. Kini, Jimin telah berhasil melepas seluruh kancing kemeja Jungkook dan langsung memelorotkan kemeja sebelah kanan hingga bahu Jungkook terekspos sempurna.

Seketika ketiga orang itu terdiam karena pemandangan mengerikan itu. Kulit bahu kanan Jungkook rusak parah. Terdapat luka sabetan memanjang hingga ke punggung dan cukup lebar. Entah apa yang menyebabkannya.

"Jungkook…", lirih Jimin karena tidak tahu harus berkata apa.

Jungkook mendorong tubuh Jimin lalu ia langsung berlari keluar ruang kesehatan tanpa sempat membetulkan penampilannya. Ia hanya kembali menyampirkan kemeja sebelah kanannya lalu terus berlari tanpa memperhatikan sekitar.

"JUNGKOOK!", teriak Jimin yang mulai ikut berlari mengejar Jungkook.

BRUK

Di pintu keluar, Jungkook menubruk seseorang yang baru hendak masuk ke ruang kesehatan.

"Aw!", seru orang itu. "Jungkook..?"

Jungkook tidak menghentikan langkahnya untuk meminta maaf. Ia terlalu kalut untuk berpikir tentang etika.

"A..ada apa, sih? Minnie, kenapa kamu?!", seru orang itu ketika melihat Jimin tersungkur di depan pintu ruang kesehatan sambil menangis deras.

"V….", lirih Jimin diantara tangisannya.

"Ada bekas sundutan rokok juga. Sepertinya, bekas lukanya sudah lama.", kata petugas kesehatan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu. "Mungkin.. bekas penganiayaan.."

V tercengang mendengar penuturan petugas itu. Ditambah lagi dengan penuturan Jimin setelahnya.

"Aku tahu… aku tahu.. luka itu….. Semalaman kuusap punggungnya, sementara menatapnya tertidur…"

.

.

.


Jungkook masih terus berlari tak tentu arah. Di benaknya terputar kembali memori jaman dulu ketika ia masih kecil dan tidak mengerti apa-apa.

"Eomma.. kenapa appa memukuliku? Hiks." Kata Jungkook kecil yang sedang menangis sambil memegang selimut kesayangannya. Wajahnya penuh lebam berwarna merah dan biru, bahkan ada yang sudah menghitam.

Bukannya memeluk dan menenangkan Jungkook kecil, ibunya malah berteriak tanpa memandang anaknya,"Jangan kemari! Sana pergi!"

Wanita cantik di hadapan Jungkook kecil menutup wajahnya dengan salah satu tangannya lalu berujar dengan lirih, "Kenapa.. Kenapa aku melahirkan anak sepertimu..?"

"Ugh.", Jungkook tiba-tiba mual karena mengingat kejadian itu. Ia menumpukan tangannya di pembatas taman kecil depan sekolahnya lalu berusaha untuk muntah, namun tidak ada sesuatu pun yang keluar dari mulutnya.

"Loh, Jungkook?"

Jungkook menegakkan tubuhnya. Walau dalam kondisi seperti ini pun, ia hapal suara itu. Suara orang ke-4 yang paling ia benci di dunia ini, setelah ayah, ibu, dan pria itu.

"Kenapa? Wajahmu pucat sekali.. Hei? Jungkook?"

Jungkook menatap orang di hadapannya dengan nanar. Ketika orang itu menjulurkan tangannya untuk memeriksa keadaan Jungkook, tangan itu malah ditepis dengan kasar oleh Jungkook.

"Ya! Kau kenapa, sih?!", seru orang itu, tidak terima itikad baiknya ditolak mentah-mentah.

"Kau ingin tahu perasaanku, Min Yoongi?! Kau nggak akan mengerti, dan nggak akan bisa mengerti, beban pikiranku selama belasan tahun ini!", teriak Jungkook lalu ia melempar sesuatu dari saku celananya ke arah orang yang ternyata adalah Suga.

Suga dengan refleks menangkap benda itu. "Pisau..?"

Jungkook mendudukkan dirinya di pembatas taman. "Itu selalu kubawa untuk melindungi diri… Bahkan saat tidur sekalipun…"

"Haa? Melindungi diri dari apa? Tuan muda sepertimu kan selalu hidup enak.", kata Suga ketus. "Kaya, tinggal di rumah besar, pintar. Walau bersaudara, kita beda jauh."

"Kau iri… soal harta?", kata Jungkook, lalu senyuman aneh tersungging di wajahnya. "Kalau begitu, bergembiralah. Ayahmu berniat memberikan segalanya padamu."

"Apa..? 'Ayahmu'..?"

"Ya. Aku dan kau bukan saudara.", kata Jungkook sambil tersenyum remeh. "Aku, Jeon Jungkook, adalah anak selingkuhan ibuku. Putra dari laki-laki lain. Aku dan kau, sama sekali nggak punya hubungan darah."

"…Serius?", tanya Suga. Namun sedetik kemudian ia berusaha mengontrol wajahnya agar tidak terlalu terlihat terkejut. Tapi, tidak dengan nada bicaranya. Ia masih belum bisa mengontrolnya. "Me.. meskipun benar, aku.. aku nggak akan bersimpati. Kenapa? Kenapa berpura-pura kalau kita bersaudara?"

Jungkook menatap Suga dengan tatapan pembunuhnya. "Karena dengan begitu.. akan jadi lebih mudah untuk menghancurkanmu."

Jungkook melanjutkan, "Aku setuju soal ketua 'Black' dan 'White' itu karena aku ingin menjebakmu dan menjatuhkanmu. Pisau saat kejadian geng itu pun sengaja kuberikan agar kau jadi kriminal dan dikirim ke panti rehabilitasi.", Jungkook menyeringai. "Semakin kau tampak bodoh, aku semakin senang."

"Jangan bercanda… Aku tahu kau membenciku. Aku nggak kaget. Tapi, kalau sejak awal masalahnya ada pada keluargamu yang hancur itu, nggak masuk akal kalau kau begitu dendam padaku. Apa alasannya? Apa karena soal harta itu, hah?!"

Wajahmu.. mirip ayah. Kau.. 100 persen duplikat Jeon Ilkook. Terutama, mata sialanmu itu.

"Cedera kakimu.. yang membuatmu nggak bisa bermain bola lagi. Hal yang paling berharga bagimu… bagaimana kalau kubilang itu ulahku?"

Iris Suga melebar. Matanya menggelap karena emosi. Ia membuka pisau lipat itu lalu menodongkannya ke depan Jungkook. "Kubunuh kau.."

Selanjutnya, Suga menyerang Jungkook dengan kecepatan tinggi.

"STOP!", seru seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di antara Jungkook dan Suga.

JLEB!

Baik Jungkook maupun Suga sama sekali tidak menginginkan ini terjadi.

.

.

.


.

.

.

"Hai, sedang apa di sini… Kookie?", tanya Jimin kecil.

Jungkook kecil hanya melihat Jimin kecil dengan pandangan sebal lalu memalingkan wajahnya lagi.

"Sekolah sudah mau mulai, loh. Kookie nggak berangkat? Hei, Kookie?"

Hari itu Jimin kecil menyerah, dan ia pun berangkat ke sekolah seorang diri.

Besoknya, Jimin kecil lagi-lagi melihat Jungkook kecil duduk memandang sungai di hadapannya dan tidak berangkat ke sekolah. Hal itu berlanjut selama beberapa hari berturut-turut. Jimin kecil yang sudah tidak sanggup lagi menahan kekesalannya pun menyeret paksa Jungkook kecil untuk datang ke sekolah.

"Byun sonsaengnim! Aku bawa Kookie si tukang bolos, nih!", seru Jimin kecil sambil ngos-ngosan, jangan lupakan penampilannya yang berantakan dan kotor, juga Jungkook kecil yang berada di bawah rangkulan lengannya.

"Ya! Lepaskan!", seru Jungkook kecil yang tidak kalah berantakan dan kotor. Sepertinya mereka berdua berkelahi sebelum tiba di sekolah.

.

.

.

Saat itu, Jungkook sering nggak masuk sekolah.

Seharian.. dia melewatkan waktunya duduk di tepi sungai.

Dan setiap harinya, aku menyeret dia ke sekolah.

Lalu, pada suatu hari, aku mendengar hal itu…

.

.

.

Jimin kecil mengintip ruang guru. Di sana ada dua orang wanita dewasa yang sedang berbincang dengan serius.

"Sepertinya Kookie tidak datang ke sekolah karena teman-teman sekelasnya mengolok soal luka di tubuhnya. Luka-luka itu.. bukan kebetulan ada."

"Tak perlu diributkan, bu. Itu bukan apa-apa. Anda masih muda. Anda.. masih ingin bekerja sebagai guru, kan?"

.

.

Setibanya di rumah, Jimin kecil bertanya pada ibunya dan Jin muda yang waktu itu kebetulan sedang main di sana.

"Eomma, Jinnie, 'penganiayaan' itu apa, sih?"

"Eh? Kenapa Jiminnie menanyakan hal itu?", tanya ibu Jimin.

"Tadi Jiminnie dengar mamanya Kookie dan Byun seonsaengnim bicara soal itu."

Ibu Jimin dan Jin muda saling menatap penuh arti.

.

.

Walau saat itu aku nggak paham arti 'penganiayaan',

Secara insting aku tahu, kalau aku nggak boleh membiarkan Jungkook pulang.

.

.

"Sudah, ke rumahku saja!", seru Jimin kecil sambil menarik-narik Jungkook kecil dengan paksa.

"Nggak mau!", seru Jungkook kecil sambil meronta-ronta. Namun apa daya, kekuatan Jimin sangat besar, karena tubuh Jimin memang agak lebih gemuk dari tubuhnya sendiri.

.

.

Sesampainya di kediaman Park, Jimin kecil dan Jungkook kecil menggambar bersama karena ada tugas kesenian.

"Uwaa.. Kookie benar-benar pintar menggambar!"

"Kamu bodoh, sih.", kata Jungkook kecil ketus walaupun sebenarnya ia malu dan senang karena pujian Jimin kecil.

.

.

Saat itu, eomma sering menelepon dengan wajah serius.

Aku sering mendengar eomma mengatakan kata 'konsultasi', 'anak', 'penganiayaan', dan 'KDRT'.

Aku yang waktu itu baru berusia tujuh tahun, tidak mengerti banyak hal.

Tapi, apapun itu, aku tahu eomma melakukannya demi Jungkook.

.

.

"Waah, bocah ketus ini datang lagi, ya!", seru Jin muda sambil mengusak rambut Jungkook kecil hingga berantakan.

"Berisik. Kau mahasiswa kebanyakan waktu, ya?"

Jin muda dan Jungkook kecil memang terlihat dan terdengar tidak akrab. Namun, Jin muda sering menemani Jimin kecil dan Jungkook kecil bermain—yang Jungkook kecil anggap mengganggu, bukan menemani bermain.

Hari demi hari, Jungkook kecil semakin terbiasa dengan Jimin kecil beserta keluarganya. Hingga ketika Jimin kecil menemukannya sedang duduk di pinggir sungai seperti biasa, dan mengajaknya berangkat ke sekolah, kali ini Jungkook kecil yang berlari menghampiri Jimin kecil.

Semenjak itu mereka berdua berangkat ke sekolah dengan tenang, tanpa perlu berkelahi terlebih dahulu.

.

.

"Jiminnie, aku duluan, ya!", seru Jungkook kecil ceria.

"Ne. Hati-hati Kookie!", seru Jimin kecil sambil melambaikan tangannya.

"Belakangan ini Kookie dan Jiminnie akrab, ya? Kookie juga jadi riang karena Jiminnie, kan?", tanya Hoseok kecil.

"Hehe! Begitulah, Hosiki.", kata Jimin kecil malu-malu.

SD Hidaka sudah mulai sepi karena murid-muridnya sudah banyak yang pulang, walau masih tersisa beberapa orang tua murid yang menunggu anaknya. Di gerbang sekolah pun ada seorang bapak dengan setelan mahal dan tas kerja berdiri dengan gagahnya. Sepertinya, ia menunggu anaknya juga.

"Jungkook."

Langkah ceria Jungkook kecil terhenti ketika mendengar suara itu memanggil namanya. Ia pun melihat ayahnya sedang berdiri di depan gerbang sekolahnya.

"A..appa…"

.

.

Jungkook kecil tidak ingat apa-apa lagi. Tiba-tiba saja dia berada di ruangan yang gelap. Dan tubuhnya penuh dengan luka lebam.

Oh, tidak. Ia ingat tadi ayahnya memukulinya lagi tanpa alasan yang jelas. Namun kali ini katanya karena Jungkook kecil berani-beraninya sering pulang terlambat ke rumah.

TAK!

TAK!

Terdengar suara benda keras menghantam dinding. Jungkook kecil berhenti menangis lalu mengintip ke jendela.

"Apa-apaan, ini?! Hentikan!", teriak ayah Jungkook.

"Kembalikan! Kembalikan Kookie!", teriak Jimin kecil setelah berhenti melempari dinding gudang yang ia yakini sebagai TKP Jungkook kecil dianiaya.

Jungkook kecil langsung melompat dan berlari ke luar gudang yang lupa dikunci oleh ayahnya dan berlari ke arah Jimin kecil sambil menangis.

Setelah sampai, Jungkook kecil langsung menggabruk Jimin kecil lalu menangis sejadi-jadinya. "Uwaaa! Uwaaaa! Jiminnie, tolong aku! Uwaaa!"

Jimin kecil menatap kepala keluarga Jeon itu dengan dingin lalu pergi bersama dengan Jungkook di pelukannya.

.

.

Sore itu, ibu Jungkook datang ke kediaman Park.

"Menampungnya sementara, katamu?! Jangan bicara seenaknya! Akan kupanggil polisi!", seru ibu Jungkook.

"Silakan! Toh, Anda sendiri yang akan dapat masalah!", bentak ibu Jimin lalu menutup pintu rumahnya.

.

.

Ibu Jimin menopang dagunya di meja makan dengan lesu. Jimin kecil yang menggunakan piyama bermotif stroberi, dan Jungkook kecil yang menggunakan piyama bermotif ceri beserta plester besar di pipinya mengintip takut-takut.

Ibu Jimin melihat dua anak manis itu di ambang pintu mengintip-intip dengan lucu, lalu ia pun menjulurkan tangannya. "Sini, anak-anak."

Jimin kecil dan Jungkook kecil menghampiri ibu Jimin, lalu wanita berwajah lembut itu memeluk mereka erat. "Tidak apa. Jangan cemas. Aku akan melindungi kalian. Melindungi anak-anak adalah tugas orang dewasa. Kalian tidak perlu takut, ne?"

.

.

"Aku khawatir makanya aku datang ke rumah Kookie. Lalu aku mendengar tangisan Kookie, dan aku langsung lari sekencang-kencangnya mencari Kookie. Aku melempari gudang itu dengan batu besar dari taman rumah Kookie, nggak apa-apa kan?", kata Jimin kecil sambil mengusap-usap bahu kanan Jungkook kecil. "Nggak apa. Nanti, nggak akan sakit lagi. Aku akan selalu menjadi teman Kookie. Eomma dan Jinnie juga. Karena Kookie temanku yang berharga."

Malam itu Jimin kecil dan Jungkook kecil tidur sambil berpegangan tangan.

.

.

Beberapa bulan kemudian

"Syukurlah, Jungkook mau sekolah seperti biasa dan jadi periang. Tak salah sonsaengnim minta tolong sama Jiminnie!", kata Byun sonsaengnim kepada Jimin kecil.

Jimin kecil hanya tersenyum senang karena dipuji oleh wali kelasnya.

Mereka berdua tidak tahu jika Jungkook kecil mendengar pembicaraan itu.

.

.

"Kookie! Kookie mau ke mana?!", seru Jimin kecil yang berjalan di belakang Jungkook kecil.

"Jangan ikuti aku!"

Mereka berada di jembatan sungai yang cukup besar. Tadi siang hujan turun dengan deras, sehingga volume air sungai meningkat dan arusnya masih deras karena hujan baru saja berhenti beberapa menit yang lalu.

"Kookie! Kok naik-naik ke pagar, sih?! Bahaya, tahu!"

"Biar saja. Aku mati pun nggak akan ada pengaruhnya. Aku anak yang nggak dibutuhkan. Seharusnya aku nggak dilahirkan.", Jungkook kecil menoleh menghadap Jimin kecil. "Itu kata ayah dan ibuku."

"Nggak ada anak yang nggak dibutuhkan!", seru Jimin kecil. "Eomma selalu bilang, anak-anak lahir untuk dicintai. Anak-anak lahir untuk menjadi berarti bagi seseorang.. Kookie bukan akan yang nggak dibutuhkan. Kookie temanku yang berharga."

"Pembohong! Kamu disuruh Byun sonsaengnim, kan?! Kamu pura-pura jadi temanku supaya aku mau sekolah, kan?! Kamu cuma ingin dipuji bu guru saja, kan?!", seru Jungkook kecil. "Semua kata-katamu bohong. Kamu sama saja seperti yang lain!"

Jungkook kecil berhenti berseru ketika Jimin kecil ikut memanjat pagar pembatas jembatan dan ikut berdiri di atasnya.

"Mau apa kamu?!"

Jimin kecil tersenyum. "Kalau Kookie lompat, aku juga lompat. Akan kubuktikan, kalau Kookie berharga."

Jungkook kecil sempat terlena dengan ucapan Jimin kecil. Namun, benteng di hatinya sudah terlalu tinggi. Ia tidak bisa lagi percaya pada siapapun.

"Huh. Pembohong….", dan setelah mengatakan itu, Jungkook kecil menjatuhkan dirinya ke sungai. Ia memejamkan matanya sambil menunggu tubuhnya mencapai air yang akan membawanya ke alam baka.

Namun, ketika Jungkook kecil membuka matanya, ia melihat Jimin kecil ikut melompat dan menjulurkan tangan, seperti hendak menangkapnya.

"TOLONG! ADA ANAK KECIL JATUH DARI JEMBATAN!"

.

.


"Kepalamu terbentur kayu ketika tercebur ke sungai. Untung saja cuma itu.", kata ibu Jimin.

"Jiminnie, itu luka kehormatan, loh!", kata pemuda berparas tampan sambil membentuk cengiran di wajahnya dan juga sebuah v sign di tangannya.

"Ne, Jinnie!", seru Jimin kecil semangat.

PLAK

Ibu Jimin memukul kepala adiknya. "Jangan bicara bodoh begitu!", serunya sambil memelototi Jin muda. "Untung saja ada orang lewat yang menyelamatkan kalian.. pokoknya, jangan diulangi lagi!", serunya lagi sambil memandang Jimin kecil dengan sayang.

"Ne, eomma.", kata Jimin sambil tersenyum hingga eyesmile khasnya muncul.

Sepeninggal ibu Jimin dan Jin muda dari ruangan, Jungkook kecil masuk dengan wajah tertekuk.

Jimin memandang Jungkook dengan semangat.

"Kukira.. Jiminnie nggak akan lompat. Kukira.. semua kata-kata Jiminnie bohong. Kukira.. Jiminnie cuma omong besar… nggak mungkin ikut melompat denganku. Ku.. kira…. Hiks.."

Jimin kecil tersenyum lalu mengulurkan tangannya yang tidak diinfus untuk menyeka air mata Jungkook kecil.

"Sudah kubilang, Kookie temanku yang berharga."

.

.

.


Beberapa minggu kemudian

"Botak, deh…", seru Jimin kecil sambil meraba pelipis kirinya. "Jinnie jahat, tahu. Masa, katanya nggak akan ada yang mau melamarku gara-gara aku botak."

Jungkook kecil pun berkata dengan malu-malu, "Kalau benar begitu.. aku akan bertanggung jawab."

"Jinjja?! Hei semuanya~ dengar, ya! Park Jimin dan Jeon Jungkook sekarang bertunangan!"

"Eeh? Serius?", seru Hoseok kecil.

"Waa.. daebak…"

"Suit, suit!"

"Poppo-e! Poppo-e!", seru beberapa teman sekelas mereka.

"Bi-bicara apa, sih?! Dasar bodoh!", seru Jungkook kecil yang wajahnya merah padam.

.

.

.


Sore harinya

"Kookie, kenapa berhenti di situ? Rumahku masih jauh."

"Aku.. akan pulang ke rumah.", Jungkook kecil memantapkan hatinya lalu tersenyum bangga. "Nggak apa. Aku nggak akan kalah. Aku akan jadi kuat. Kalau ada Jiminnie, aku jadi bisa berusaha."

Jungkook kecil membalikkan tubuhnya lalu berjalan menjauh.

"Kookie!"

Jungkook kecil menoleh lagi ke belakang.

"Kookie nggak sendirian, aku akan selalu ada di sisi Kookie.", kata Jimin sambil tersenyum dengan bonus eyesmile-nya yang imut.

.

.

.


Itulah saat terakhir kami bertemu.

Eomma kecelakaan.

Aku lupa akan segalanya.

Aku lupa akan Jungkook.

Dan kukira luka di kepalaku akibat jatuh dari pohon setinggi 10 meter…

Jungkook.. pasti terus menungguku…

Hosiki bilang, ketika aku tiba-tiba pindah sekolah, Jungkook kembali menjadi anak pemuram.

Hatinya yang sempat terbuka… tertutup kembali.

Entah apa yang dialaminya selama sembila tahun….

Mungkin, ia melihat pemandangan Yoongi kecil yang sedang bermain bola di taman rumahnya bersama dengan ayahnya…

Sedangkan ia selalu disiksa, tak pernah dicintai...

.

.

TES

TES

Darah bercucuran dari perut Jimin. Pisau masih menancap di sana.

"Nggak, Yoongi…. Jungkook.. nggak dendam padamu..", kata Jimin dengan suara bergetar. "Dia.. hanya terus melihat bayangan ayah yang menyiksanya ketika ia melihatmu.. Dia.. hanya ingin dicintai. Sama sepertimu, dia.. ingin dicintai…"

KLANG

Pisau lipat itu terjatuh, sudah tidak lagi tertanam di perut Jimin.

Jimin berbalik menatap Jungkok yang masih syok.

"Jungkook… Maaf, ya.. aku.. melupakan janjiku..", kata Jimin sambil berlutut di depan Jungkook. "Sekarang.. aku sudah ingat semuanya. Suaramu.. dapat ku dengar dengan jelas.", Jimin menyentuhkan tangannya yang bersimbah darah ke pipi Jungkook. "Jangan.. tutup hatimu… lagi…"

Dan setelah mengatakan itu, tubuh Jimin ambruk.

"JIMIN!", teriak Jungkook seraya memeluk tubuh Jimin. "Kenapa.. kau selalu saja… mempertaruhkan nyawa untukku?", tanya Jungkook dengan mata berkaca-kaca.

"Karena.. aku… nggak bisa menepati janji untuk selalu berada di sisi Kookie…", kata Jimin di ceruk leher Jungkook.

Jungkook semakin erat memeluk tubuh Jimin sambil sesekali meracau menyebut nama Jimin di sela tangisannya. Jimin pun balas memeluk Jungkook sambil tersenyum, walau Jungkook tak akan bisa melihatnya. Untung saja Suga sedari tadi sudah tersadar dari syoknya dan sudah menelepon ambulans.

Mobil ambulans datang tepat saat Jimin kehilangan kesadaran dirinya.

.

.

Kookie nggak sendirian..

Aku.. ada di sisi Kookie.

Kookie temanku yang berharga...

.

.

.

TBC

.

.

.


Annyeong reader-nim. kangen ff ini ga?

aku udah mulai sekolah lagi nih jadi sibuk banged /pake d biar greged/

dan dan dan... dua chapter lagi deh keknya... ff ini bakal end.

HUAHAHAHAHAH /ketawa pake toa/

dan di sini terungkap sudah kenapa kuki kelam hidupnya

dan hubungan sebenarnya antara kookga

dan jimin ketusuk (?) sama yoongyoong :(

apakah jimin masih hidup di kedua chapter selanjutnya? moella~ tungguin aja yah

dan doakan tugas2 sekolah ku cepat selesai jadi aku bisa update cepet lagi xixixi