Casts:
Park Jimin as Hina Mishima (16yo)
Jeon Jungkook as Shoui Isshiki (16yo)
Kim Taehyung (V) as Tetsuta Koshiba (16yo)
Min Yoongi (Suga) as Kaito Nishizaki (16yo)
Kim Seokjin (Jin) as Kyoichi Mishima (29yo)
Jung Hoseok as Ruu Usami (16yo)
Cha Eunwoo!GS as Yutaka Iijima (16yo)
Kim Namjoon as Toshiro Hirayama (33yo)
Kim Yugyeom as Takamizawa (17 yo)
Im Jaebum as Gou Fujishige (21yo)
Jung Sooyeon (Jessica) as Natsumi Miyabe (20yo)
Yoon Sanha!GS as Tsugumi Shirayuki (17 yo)
Park Jinyoung as Kosuke Takigami (16yo)
All in Korean age
Other casts menyusul
Pairing? Secret. Find out by yourself.
School life. Bullying. AU. OOC. BxB. BL. Yaoi.
©BTS, GOT7, ASTRO member, and another artist belong to their parents and agency
©The story is 75% based on Japanese comic with same title by Ayumi Shiina, the last 25% is based on my imagination
A remake fanfiction. It is from a serial comic, so I narrate the story with my style.
Rated: T-M (for bad words and violence actions)
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Chapter 23: Goodbye
.
.
"Annyeong!", seru Jimin ceria ketika ia melihat Suga di gerbang sekolah.
Sepertinya, dalam seumur hidupnya bersekolah di BigHit School, ini pertama kalinya Suga datang subuh-subuh. Ia berniat menunggu Jimin, karena menurut kabar yang tersebar di sekolah, namja berukuran mini kesayangannya itu akan masuk sekolah hari ini.
Suga tersenyum lalu menghampiri Jimin. "Sudah sembuh?"
"Iya, nggak parah kok. Tusukanmu nggak dalam. Organ-organku sama sekali nggak kena. Dan untung saja penjelasanku soal luka itu akibat 'keteledoranku' dipercaya."
"Huh. Kamu sembrono, sih. Padahal aku nggak serius mau nusuk Jungkook. Tapi tiba-tiba saja ada monyet yang menyeruak ke tengah.", canda Suga sambil memalingkan wajahnya.
"Apa katamu?!", seru Jimin geram.
"Kalau dipikir-pikir, sudah jelas, kok. Lututku cedera karena perkelahian antar geng sewaktu aku SMP, bukan karena rancangan seseorang.. Lalu kenapa dia bilang begitu? Seolah memang ingin aku menusuknya…"
Jimin menghembuskan napasnya sebelum berkata, "Mungkin itu karena emosi negatifnya.. walau tahu Yoongi nggak salah, Jungkook berharap Yoongi juga nggak bahagia. Rasa cemburu dan irinya lebih besar dari rasa bencinya. Mungkin Jungkook ingin menyudahi emosi yang menggelegak di dalam dirinya itu…"
"Jangan seenaknya menganalisis perasaan orang."
Jimin dan Suga menoleh ke belakang dan di sana ada Jungkook yang sedang berdiri dengan santainya.
"Jungkook!", seru Jimin.
"Bukannya nggak benar, sih, ucapanmu itu… Tapi berhentilah bersikap sok tahu.", lanjut Jungkook. Ia menatap Jimin tepat di matanya lalu melanjutkan, "Aku akan berhenti sekolah."
"MWO?!", seru Suga.
"EEH?! KENAPA?!", tanya Jimin.
"Aku mau kuliah. Ini bukan rencana dadakan. Sejak SD aku sudah menabung untuk ini. Aku akan keluar dari rumah keluarga Jeon. Selanjutnya.. aku akan jauh dari ayah, dan juga kau.", kata Jungkook sambil melirik Suga.
Suga terdiam mendengar penuturan Jungkook. Sedangkan Jimin tergagu.
"Ku-kuliah.. Me-memangnya bisa? Kan Jungkook baru kelas 1…. Ah! Jungkook kan peringkat 2 tingkat nasional. Tentu saja bisa. Kapan sih aku nggak telmi…", gerutu Jimin.
"Aku akan hidup dengan kekuatanku. Aku memanggilmu ke atap waktu itu untuk mengatakan hal ini.", lanjut Jungkook sambil menatap Jimin.
"Berhenti sekolah, kuliah,… lalu setelah itu, apa?", tanya Jimin.
Jungkok tersenyum. "Jadi pengacara. Agar aku bisa menolong anak-anak sepertiku."
Jimin ikut tersenyum. "Wajahmu sudah nggak kelihatan kalut lagi. Syukurlah, aku lega!"
Suga yang sudah tidak tahan ingin menonjok seseorang pun mengeluarkan taringnya. "Oi. Dengar, ya. Seumur hidup aku nggak berniat berhubungan dengan keluarga Jeon. Nggak peduli apapun kata orang tua itu. Dan juga, aku nggak akan jadi orang yang nggak berguna seperti yang kauharapkan! Nggak akan! Sampai mati sekalipun!"
Rahang Suga mengencang. Jelas sekali ia menahan emosi. Tapi di sorot matanya ada perasaan rindu. Bagaimanapun juga, jauh di lubuk hatinya, ia akan merindukan Jungkook, partner berkelahi dan 'hyung'nya itu.
Jungkook tersenyum kecil. "Hm. Menarik juga untuk dilihat."
Perempatan emosi muncul di dahi Suga. "Sial.. aku memang benci orang itu..! Mungkin seumur hidup!", umpat Suga pada dirinya sendiri.
Jimin menepukkan tangannya satu kali lalu berkata dengan ceria, "Jadi, begitu.. berarti, kalian sudah nggak apa-apa, dong, sekalipun aku nggak ada?"
.
.
.
Beberapa hari kemudian
Incheon Airport
.
Jimin dan Jin terkejut ketika melihat Jungkook yang sedang berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam jaket jeansnya dan V yang sedang duduk santai sambil menyilangkan kakinya. Sesaat kemudian Jimin tersenyum bahagia karena orang-orang tersayangnya datang untuk mengantarnya pergi.
.
.
Di saat yang bersamaan
Di BigHit School
.
"Pesawatnya sudah pergi belum, ya? Seharusnya kita ikut mengantar saja..", rengek Hoseok.
"Jimin bilang nggak apa-apa. Kan kita lagi UAS. Toh, kemarin sudah mengadakan pesta perpisahan."
"Em.. Eunwoo-chan… soal V, apa kucoba saja?", tanya Hosek malu-malu. "Aku tahu akan ditolak, tapi.. aku ingin menyampaikan perasaanku ini.."
"Loh, kok jadi loyo begitu? Kan Jimin sendiri yang bilang 'Hosiki nggak lemah. Buktinya, Hosiki yang pertama bergabung jadi 'Grey'. Hosiki memberiku keberanian.', begitu kan?", kata Eunwoo sambil tersenyum. "Dia juga bilang hal serupa padaku.."
"Eunwoo-chan, jujurlah. Di sekitarmu, nggak ada tembok seperti yang Eunwoo-chan bayangkan. Cerialah!"
Eunwoo juga teringat ketika Suga mengatakan "Yang benar-benar kusukai saat itu hanya kau.".
"Sebenarnya aku sangat senang. Apa kubilang saja dengan jujur, ya?", kata Eunwoo, tidak menyadari tatapan tidak mengerti Hoseok.
.
.
.
Kembali di Incheon Airport
.
"Berterimakasihlah karena aku datang mengantar kepergianmu.", seru suara serak dari belakang tengkuk Jimin.
Jimin berbalik lalu bergerak mundur ketika mendapati wajahnya hampir bertubrukkan dengan wajah Suga. "Huwa! Min Yoongi?! Kaget, nih! Muncul dari mana, sih?!"
"Haha! Kalau ingat ini hari terakhir aku melihat wajah dungu ini, lega deh rasanya~!"
"Huh. Awas kalau kangen!", seru Jimin. "Omong-omong, berjuanglah, oke? Hwaiting!"
Suga nyengir lalu mengacak surai hitam Jimin dengan gemas. "Aku nggak sepayah itu sampai perlu kau semangati!"
Jimin tersenyum lalu memilih berjalan ke arah kursi lalu duduk di sebelah V. "Yoongi tampak baik-baik saja.. Jungkook juga…"
Jimin menundukkan wajahnya. "V.. mungkin aku berbohong padamu. Aku bilang, perasaanku pada Jin sudah kuatasi. Sebenarnya, aku sendiri belum tahu. Soal ke Perancis pun, aku bingung. Tapi, kalau begitu terus, aku nggak bisa maju. Jadi, aku memutuskan untuk pulang setelah membereskan perasaanku. Aku akan jadi lebih dewasa, lalu pulang."
V yang sedari tadi mengatupkan mulutnya pun angkat bicara. "Minnie… mau pergi… dalam keadaan setengah mati begitu..? Nggak guna banget…."
"Hehe, mian. Aku pemula soal cinta, sih.", kata Jimin sambil mengusap tengkuknya.
Jimin tersenyum sebelum melanjutkan, "Aku.. sangat suka Kim Taehyung."
V langsung terpaku mendengar penuturan Jimin. Begitu pula dengan Jungkook yang berpura-pura tidak peduli dan Suga yang sudah nyengir penuh arti.
"Dulu juga aku pernah bilang, cuma kamu satu-satunya partnerku.", lanjut Jimin sambil tersenyum hingga eyesmile nya muncul.
Jungkook menghampiri Jimin lalu memotong obrolan Vitamin Couple yang sudah tidak mau ia dengar lagi kelanjutannya, "Setelah aku mantap dan jadi orang yang mandiri, aku akan menemuimu."
V langsung menekukkan wajahnya yang tadi sempat sumringah lalu menatap sinis pada Jungkook.
"Eh? Nggak perlu.", kata Jimin polos.
Jungkook membatu dan V bersorak sorai dalam hati.
"Aku akan segera pulang, kok! Habis.. aku mencemaskan Jungkook. 'Bisa hidup sendiri, gak, ya?', 'Menarik diri lagi, gak, ya?', 'Bisa tersenyum, gak, ya?'..", Jimin melanjutkan, "Jangan lupa, Jungkook nggak sendirian. Kalau kesepian, ingatlah aku. Juga V dan Yoongi. Kami semua temanmu."
.
.
.
"Hah.. Sulit dipercaya. Rasanya seperti mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.", gerutu V sambil memandang pesawat menuju Perancis yang sudah take off. "Hei! Jangan berpikir kalau kau sudah mengalahkanku, ya!", lanjutnya sambil menunjuk wajah Jungkook.
"Nggak, kok.. Dia bilang bahwa selamanya kami adalah teman.", lirih Jungkook.
"Haha! Ya, selamanya kalian akan menjadi teman. Lalu aku dan Minnie akan menjadi pasangan suami istri! Minnie akan lebih bahagia memiliki suami dokter daripada pengacara!"
"Jangan senang dulu, Kim. Dia juga bilang cemas padaku. Berarti dia akan selalu memikirkanku.", kata Jungkook, "Aku.. bahkan nggak bilang 'suka'."
"Eh? Kenapa?"—Sial, lagi-lagi dia sok keren.
"Aku ingin membenahi diri dulu. Setelah aku jadi orang yang bisa menjaga orang lain.. setelah itu…."
Ucapan Jungkook menggantung di udara. Namun V tahu betul apa yang ingin diucapkan rivalnya itu. Ia jadi ingin menggodanya kalau sudah begini.
"Bagaimana kalau sementara kau santai begitu, Minnie pulang bawa namchin dari Perancis?"
"Akan kupukul K.O.", jawab Jungkook mantap.
.
.
.
Di dalam pesawat
.
"Hei~ Kamu boleh nggak ikut, loh! Jadi namja populer susah juga, ya.", goda Jin.
"Uuh, berisik, Jin!"
Jimin memalingkan wajahnya menatap awan-awan putih. Berharap awan seperti gula-gula kapas itu dapat membawa pergi rona kemerahan di pipinya.
Dengan kekuatan yang kau berikan untuk menghadapi hari esok,
Aku akan menapaki saat ini selangkah demi selangkah.
Agar kelak, aku dapat menjadi sosok yang berhaga bagi seseorang…
Terimakasih, eomma.
.
.
.
END.
.
.
.
.
.
.
End yeorobun, reader-nim, chagiya. END. Hohoho
Di komiknya emang endnya begitu, ngegantung. Ngeselin kan? Aku juga masih dendam sama Ayumi Shiina sampe sekarang. Hahaha. Dendam bareng-bareng, yuk? Wkwk
Terimakasih kepada:
LulluBee | Soyu567 | RR269 | ratu27 | Lee Hyo Ae | nohkunatip | oracle88 | Chika Meika | Jebal Monster | sugarbabyjimin | hopeuu | wenjun | yui shinji | professorwang | maruseyo | Jungeunyoon | Shyoul Lava | owldarks | esazame | HobieHopie | dtime | Miyuk | Key0w0 | sapisapi | KookieL | bonablebleyu | Hye | sersanjung | tobikkoARMY | StarlightLeo | bangtanacc | ugiii | ChimSza95 | LunaticFans | kumiko Ve | Guest | Hana347 | JiminVivi | | TiFFs12 | PikaaChuu
Dan para sider alias silent reader, terimakasih juga ya :D
Well.. cerita Penguin Brothers ini sudah tamat.
Tapiiii, karena ini remake, dan suka-suka aku dong akhirnya pengen gimana, jadi aku kasih bonus buat kalian semua :*
Ending dari Penguin Brothers versi ORUL2.
Enjoy
.
.
.
.
.
PENGUIN BROTHERS
.
.
Epilogue
.
.
Langit Perancis Selatan cukup cerah, namun tidak dapat menghalangi turunnya salju sore itu.
Jimin baru saja pulang dari Ecole Polytechnique ParisTech. Sebelum sampai ke mansion-nya, ia mampir terlebih dahulu ke toko roti langganannya, Boulangerie, membeli beberapa roti terbaik mereka untuk makan malamnya bersama Jin. Hari ini Jimin dan Jin akan mengadakan candle light dinner di mansion mereka, setelah satu minggu terakhir sudah mencicipi dinner di semua restoran mewah yang ada di Perancis Selatan.
"Merci.", kata Jimin sekali lagi sebelum ia benar-benar keluar dari toko itu.
Langkahnya terhenti ketika ada sosok seorang pria yang menghalangi jalan keluarnya. Uh. Jimin kan capek ingin cepat pulang ke rumah. Jimin menutup pintu toko itu sebelum menepuk pelan pundak pria di hadapannya.
"Excusez-moi, je veux passer. (Permisi, saya ingin lewat.)"
Pria itu berbalik menghadap Jimin. Dan seketika itu juga Jimin menjatuhkan kantung rotinya. Untung saja pria itu cekatan dan sudah menangkap kantung yang penuh dengan roti lezat yang tadi dipeluk Jimin sebelum mencium tanah.
"A-apa yang kamu lakukan di sini…?", seru Jimin sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Pria itu tersenyum hangat lalu mengelus pipi Jimin yang masih saja chubby, lalu berkata, "Katanya cuma pergi sebentar. Sekarang sudah empat tahun, loh. Aku bahkan sudah lulus kuliah."
Sudah lulus? Cepat sekali.. Aku saja baru semester 4.
"Hei~ Aku sudah mengejarmu sampai ke sini, dan kamu hanya terbengong begitu saja? Aku tahu, kok, aku semakin tampan."
Jimin merasakan pipinya memanas. Ia pun memukul dada pria di hadapannya pelan. Memang, pria itu semakin tampan. Tapi penampilannya berbeda 180 derajat. Sekarang rambutnya dipotong pendek, dengan model kekinian. Rambutnya juga sudah tidak berwarna-warni seperti bunglon, hanya brunette alami yang malah menambah kesan elegan untuk wajahnya yang tanpa cela. Masih ada dua pierching di telinga kanannya, namun itu malah membuat keren penampilannya plus dengan mantel, celana kulit, dan sepatu timberland. Selebihnya, pria di hadapan Jimin tetaplah pria yang ia kenal lima tahun yang lalu. Oh, lihat, bahkan tahi lalat kecil di hidung itu pun masih sama.
"Aku.. masih kuliah di sini, tadinya mau aku selesaikan dulu sebelum kembali ke Korea Selatan…", kata Jimin setelah selesai dengan keterkejutannya.
Pria itu tersenyum lalu memeluk pinggang Jimin dengan posesif. "To the point saja, ya. Aku ke sini mau menagih jawaban. Em.. Sekarang."
Jimin terkejut lagi, namun setelahnya ia berkata dengan malu-malu. "Cium aku.."
Pria di hadapannya melotot. Cium katanya?
"Cium aku, Kim Taehyung. Kamu.. akan menciumku kalau perasaanku sudah sama sepertimu, kan?", kata Jimin masih dengan malu-malu.
Pria itu, Kim Taehyung alias V, menyengir lebar hingga membentuk kotak sempurna lalu berkata, "Je t'aime, Minnie.", lalu mereka berdua pun berciuman di depan toko roti. Tidak memedulikan beberapa orang yang bersiul, menggoda, dan menyoraki mereka dengan senang. Tidak ada yang peduli, baik Jimin, apalagi V.
Karena yang terpenting adalah, hati mereka sekarang sudah bersatu.
.
.
.
Di mansion
"Jimin. Aku tahu kamu senang ketemu sama bocah stroberi ini lagi. Yang sekarang sudah tidak stroberi lagi, sih.. (Aku harus memikirkan julukan yang baru untuknya). Tapi, kenapa roti kita jadi gepeng begini?", tanya Jin sambil mengangkat salah satu roti yang sudah berubah pipih itu di tangannya.
"Mian, Jin. Kami… em…"
"Oke. Stop. Jangan diteruskan. Yasudah, kalian makan malam lah di luar. Aku juga mau makan malam di luar saja dengan tunanganku kalau begini caranya."
Jimin menatap V yang sudah cengar-cengir seperti orang gila. Mereka berdua pun pamit. Namun, sesaat sebelum pintu tertutup, V menyebulkan kepalanya ke dalam mansion lalu berkata, "I win.", sambil menyeringai menyebalkan. Lalu pintu pun menutup.
Jin menggeram. "Dasar.. bocah… sialan….."
Sedetik lagi saja, Jin bisa meledak, kalau tidak ada tangan kekar yang merengkuhnya dengan lembut.
"Babe, ada apa? Kok marah-marah? Jimin mana? Tadi aku dengar suaranya.", tanya seseorang yang sudah memeluk Jin dari belakang.
"Tadi dia CLBK di toko roti. Lihat, roti kita jadi gepeng begini, chagi."
"CLBK sama siapa? Bocah dingin, bocah tukang berantem, apa bocah kelewat pintar?", tanya tunangan Jin antusias.
Apa kalian bertanya-tanya kenapa tunangan Jin tahu masalah percintaan Jimin dan tiga pria yang dekat dengannya?
"Yang terakhir.", jawab Jin ketus. Walaupun baginya yang terpenting adalah kebahagiaan Jimin, tapi sejujurnya ia lebih senang kalau Jimin akhirnya bersama Jungkook. Lebih berkelas katanya.
"Yasudah, kita makan malam di luar, yuk? Kita kencan romantis, berdua, tanpa Jimin.", kata tunangan Jin, diam-diam ia ber-mansae-ria di dalam hati karena yang dipilih Jimin adalah V. "Hei, bibirnya jangan dimaju-majuin begitu, dong, sayang.. Aku jadi nggak tahan ingin cium, kan."
"Cium saja.", kata Jin sambil mempertemukan bibir tebalnya dengan bibir tebal lawan bicaranya sekilas, lalu menyengir hingga babyfat pipinya menggembung lucu.
"Yaish. Baiklah. Tidak perlu makan malam di luar. Aku akan memakanmu malam ini!"
Sedetik kemudian Jin merasa tubuhnya terangkat ke udara karena tunangannya menyampirkan Jin di bahu kekarnya.
"Ya.. Namjoonie, turunkan aku..! Jangan sekarang, please. Aku lapar belum makan sejak siang.", rengek Jin sambil meronta-ronta.
"Salahmu, kenapa menggodaku?"
Mari kita biarkan pasangan NamJin itu menikmati 'dinner' mereka. Sekarang, kita kembali ke Vitamin Couple.
.
.
.
Di sebuah restoran outdoor di pinggir arena ice skating terdapat dua orang namja yang saling menautkan jemari tangan mereka. Mengalirkan kehangatan untuk masing-masing pasangannya.
Keheningan itu begitu damai. Tanpa berkata apapun, mereka sudah tahu perasaan masing-masing. Tapi, salah satu namja itu punya tujuan lain.
V berdehem pelan sebelum berkata. "Jadi, Minnie… aku sudah menjadi dokter. Aku lulus lebih cepat daripada mahasiswa lainnya karena aku sangat pintar. Kamu tahu itu kan?"
"Iya, Mr. Nice Guy nomor satu se-BigHit School. Tapi kamu kan belum mengambil spesialis?"
"Iya. Dan.. selama mengambil spesialis anak di Perancis… aku mau…. Kamu menemaniku."
Lalu V mengeluarkan kotak beludru berwarna oranye—warna kesukaan Jimin—dan membukanya. Di dalamnya terdapat dua buah cincin berinisial V dan M di dalamnya.
"I don't wanna be 'Kim' alone. So, Park Jimin, my Minnie, my partner... would you marry this loveable guy and be Kim Jimin, the happiest wife in the world?"
Sontak Jimin menutup mulutnya, lagi. Sesungguhnya berapa banyak kejutan yang disiapkan oleh namja bersuara berat itu?
V mengangkat alisnya, menandakan kalau ia menagih jawaban Jimin akan lamarannya tadi.
Sebagai jawaban, Jimin menjulurkan tangan kirinya untuk disemati cincin berinisial M di sana. M untuk Minnie bukan?
Namun V malah menyematkan cincin berinisial namanya pada jari manis Jimin. "Supaya orang-orang tahu, kalau Minnie ini sekarang sudah resmi milik V alias Kim Taehyung si tampan.", kata V ceria, seperti anak kecil yang baru dibelikan tiket ke Disney Land.
Jimin tertawa sekaligus menangis terharu. Ia memasangkan cicin berinisial M di jari manis kiri V, lalu mereka berdua mempertemukan wajah mereka lagi. Berciuman lagi. Namun lebih lama, lebih dalam, dan lebih banyak lumatan, juga lidah…
"Stop.", kata V sambil memegang kedua bahu Jimin, memutus pertemuan bibir mereka.
"Wae, V?", tanya Jimin polos.
"Jangan dilanjutkan, please. Nanti aku tidak kuat ingin menerkammu. Masa di sini, sih.."
Jimin terkekeh lalu mengecup pipi V singkat. Hal itu membuat V kembali menyengir kotak lalu ia mencium kening Jimin dengan lembut.
Setelah V melepas ciumannya dan meninggalkan jejak basah di dahi Jimin, namja yang lebih pendek pun bertanya, "Kapan kamu mulai kuliah?"
"Minggu depan. Aku sudah mengurus semua kepindahanku kemari. Dan coba tebak siapa tetanggamu di mansion…? Aku!", seru V ceria.
Namun tidak dengan Jimin yang memberengut kesal. "Ya! Pabo!"
"Kok kamu nggak senang begitu, sih, Minnie?", tanya V sambil cemberut.
"Besok aku akan pulang ke Korea Selatan."
"MWO?!", sekarang V yang berteriak.
"Selama seminggu saja, kok. Jin mau menikah besok lusa di sana. Memangnya tadi kamu nggak lihat foto pertunangan Jin dan Namjoonie di dekat pintu?"
V menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kikuk. Otak cerdasnya mencoba merangkai kata. Jin.. Menikah.. besok lusa… di Korea….. dengan Namjoonie…..? Kok masih terdengar tidak masuk akal, ya? Tapi, satu-satunya pertanyaan yang ia lontarkan adalah:
"Terus ngapain aku ke sini sekarang kalau kamu ke Korea besok?! Huhuhu.", rengek V.
"Hihi. Tahu, gak? Asalnya, nanti saat sampai di Korea, aku mau mengejutkanmu dengan tiba-tiba datang ke rumahmu. Eh, ternyata malah kamu yang mengejutkan aku.", kata Jimin sambil terkekeh.
"Terus aku ngapain dong seminggu di sini tanpa kamu…?"
"Yasudah, ikut ke Korea saja. Lagipula.. aku ingin kita berdua... mendapatkan buket bunga dari Jin.", kata Jimin malu-malu.
V tersenyum mendengar niat Jimin. Namun sejurus kemudian ia merengek. "Kan nggak segampang itu, Minnie.. Kalaupun mengurus Visa dari sekarang, apa aku akan mendapat surat izin untuk kembali ke Korea? Besok loh Minnie, besok! Huweeee.."
Jimin tersenyum geli karena Kim Taehyung-nya ternyata tidak berubah. Tetap menggemaskan. "Gampang, serahkan saja padaku. Sudah tiga bulan aku magang di duta besar Korea Selatan untuk Perancis, jadi aku bisa meminta mereka membuatkan Visa spesial untukmu, itu pun kalau kamu mau.."
"Tentu! Tentu saja mau! Gomawo, chagiya..", kata V sambil mencubit kedua pipi tembam kekasihnya.
"Tapi, ada syaratnya.", kata Jimin sambil mengerling nakal.
"Apa, baby? Katakan saja."
"Aku mau….", Jimin membisiki V lalu tersenyum genit setelahnya.
"Ah, dasar anak nakal. Oke, kajja. Kita selesaikan semuanya malam ini juga!", seru V semangat.
.
.
.
Saat perjalanan pulang ke mansion
"Omong-omong, 'gimana ceritanya, kok Namjoonie bisa sama Jin? Namjoonie gitu, loh. Si kikuk tua itu, sama ajussi bermulut pedasmu.", tanya V sambil membawa sekantung penuh lingerie yang tadi dibelinya bersama dengan Jimin. Sebagai keponakan dan calon keponakan yang baik, Vitamin Couple ingin membelikan hadiah yang 'cocok' untuk pernikahan paman mereka besok lusa.
"Mereka bilang, dua tahun lalu mereka ketemu di Hawaii, waktu Jin mendadak menghilang selama seminggu untuk melukis.", kata Jimin yang tangannya terus memeluk lengan V selama perjalanan.
"Ajussi sialan itu masih hobi meninggalkan kekasih imutku ini sendirian?! Lalu untuk apa dia memboyongmu ke Perancis?!"
"Em.. itu… aku saja yang mau. Padahal Jin bilang nggak apa kalau aku nggak ikut."
"Loh, kok begitu?"
"Habis waktu itu aku masih bingung.. tapi sekarang, hatiku sudah mantap. Selama empat tahun ini… yang benar-benar kupikirkan… cuma kamu.", kata Jimin malu-malu imut.
Yang 'benar-benar' Minnie pikirkan.. cuma aku? Berarti, ada yang Minnie pikirkan juga selain aku? Huh. Pasti si ajussi dan si muka datar Jeon brengsek itu. Maki V dalam hati. Namun, ia meyimpan pertanyaannya untuk nanti. Sekarang ia ingin bermesraan dulu dengan orang terkasihnya itu, melepas rindu yang sudah menumpuk sejak empat tahun yang lalu.
"Jangan berwajah imut begitu, darl. Aku perkosa tahu rasa, nanti."
"Ih, Taetae!", seru Jimin sambil memukul bahu V pelan.
"Tuhkan, apalagi memanggilku dengan panggilan imut begitu. Siap-siap saja kamu nggak bisa berjalan dengan benar saat pernikahan pamanmu."
"Dasar mesum!", bentak Jimin lalu ia memasukkan kunci dan membuka pintu mansion-nya.
Saat pintu terbuka, terdengar dengan jelas rintihan kenikmatan dari dalam kamar Jin. Oke. Jimin dan V tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Tidak sih, cuma Jimin yang tidak tahu, karena V sudah menyeringai di sana.
"Tuhkan, Minnie.. Sepertinya malam ini hanya akan ada kamu.. aku… dan lingerie-lingerie ini. Nggak apa-apa kan, kalau diambil satu… Toh, sepertinya pamanmu sudah nggak membutuhkannya.", kata V sambil mengerling nakal.
Belum sempat Jimin berkomentar, V sudah menggendongnya ala bridal ke mansion di sebelah, yang sudah resmi menjadi miliknya.
"Jangan coba-coba kabur, sayang.", kata V sambil mencium Jimin yang masih berada di dalam gendongannya dengan rakus.
Benar-benar, Kim Taehyung memang selalu banyak kejutan untuk Park Jimin, atau yang sekarang boleh disebut sebagai Kim Jimin.
Semoga saja Vitamin Couple ingat kalau besok mereka harus kembali ke Korea untuk menghadiri acara penting.
.
.
.
END.
.
.
.
Nah, sekarang beneran end. JADIIIII. Akhirnya aku memutuskan..
JADIIIII. Akhirnya aku memutuskan..
bahwa pairing ff ini adalah VMin.
Halo para VMin shippers, mana gomawo-nya buat aku? /anaknya tuh pengen banget dimakasihin/
awalnya aku bingung, siapa pairing yang paling cocok untuk cerita ini, karena cerita aslinya kan ngegantung banget. antara kook atau tae. kalo sama yoong sih udah keliatan kayaknya bakal balik sama eunwoo.
aku diskusi sama beberapa temen seper-ff-an aku, dan katanya mending Vmin aja. aku juga baca beberapa review yang membuat aku memutuskan untuk mengakhirkan ff ini dengan pairing VMin.
perjuangan V luar biasa, dia kekeuh perjuangin minnie-nya walaupun ditolak berkali-kali.
jungkook memang punya tempat spesial di hati jimin, tapi bukan sebagai 'partner' hidup.
satu-satunya partner buat Jimin kan.. cuma V... aciaciaciacia~ baper nih gueeeee.
jadi, hikmah yang bisa diambil adalah, jangan berhenti berjuang, kekeke. dan walaupun udah tunangan, sespesial apapun hubungan di masa lalu, belum tentu jodoh. gitu. ahahahaha /yang baper, jangan salahin aku yak/
.
oh iya, aku bilang dua chap lagi tamat ya? padahal ini cuma sechap doang hehe. mian deh mian.
dan asalnya chap terakhir ini mau aku upload seminggu kemudian. tapi toh udah selesai aku ketik ini, yaudah aku upload aja biar ngerasa ga ada utang (?)
Ada yang sedih ff ini tamar? tenang aja kok. aku berencana ngebuat sequel cerita ini. jadi pure dari ide aku sendiri. aku pinjam karakternya aja sama Ayumi Shiina-chan /dih sok akrab/
ceritanya perjuangan Vmin sebelum resmi menikah, dan cerita para casts lainnya yang belum kefilm di epilog.
namjin juga belom nikah kan? kalo kawin sih udah /waks/
pokoknya tungguin aja ya. pasti pada mau nungguin kaaaan? /pede abis/ /ketularan jin oppa/
salam hangat terdahsyat buat para reader-nim. ai lop yu, sarangheeee, jtaime, muah muah.
.
.
Sincerely,
ORUL2
