Yuta menduduka tubuh nya diatas kursi kerjanya. Memijat dahi nya untuk, setidaknya, mengurangkan rasa pusing yang Ia rasakan. Ia menarik nafas panjang dan membuang nya keras-keras. Setidak nya itu bisa mengurangi rasa pening nya.

"Siapa lagi yang menembak mu sekarang?" Tanya salah satu temannya.

"Pemilik perusahaan batu bara. Yang sudah tua. Gak tau diri." Ucap nya lalu menyeruput teh hangat yang baru saja datang dibawakan oleh teman nya. "Punya istri 2 lagi. Bagaimana bisa dia menembak ku sebegitu pede nya. dia pikir aku akan menerima kakek-kakek seperti dia gitu? Idih."

"Ya siapa suruh cantik dan jomblo. Padahal yang kemarin itu boleh juga loh. Tampan dan seorang dokter. Pasti kaya tuh." Ucap Doyoung sambil membayangkan wajah si Dokter Tampan yang Ia bicarakan itu.

"Ngomong apa sih kamu. Ingat kamu udah tunangan sama Jaehyun."

"Kamu juga tau kan aku suka nya sama siapa..." Yuta menghela nafas nya. Doyoung memutar bola mata nya. "Oh ayolah. Memang nya dia akan meninggalkan jalang itu? Kamu ga boleh stuck di dia terus. Kamu harus pindah hati ke laki-laki lain. Banyak yang suka sama kamu, jangan hanya memikirkan laki-laki yang tidak akan melepas seorang jalang." Itu lagi, itu lagi. nasihat yang sama. Yuta bosan. Mau di nasihati berapa kali pun, Ia tidak akan berpindah hati dari laki-laki itu.

Yuta menghela nafas. "Liat nanti saja lah."

Jawaban yang sama lagi.

'Till i saw your face'

"Hai sayang." Wanita itu menghampiri pacar kedua nya. "Sedang mengerjakan yang kemarin?" Ucapnya sambil memegang pundak pacar keduanya itu. Laki-laki itu mengangguk.

"Kamu kayak nya capek banget sih. Sini dulu dong. Ini ada pacar kamu." Ucap wanita itu sambil mendudukan badan nya ke sofa yang tersedia di ruang kerja pacar kedua nya itu.

"Nanti yah Ten sebentar lagi selesai."

"Kamu lebih mentingin kerjaan kamu daripada masa depan kamu?"

"Ini juga masa depan aku Ten," Taeyong mengalihkan pandangan nya ke Ten. "Lagian kalau aku ga ngerjain ini aku ga punya uang untuk biayain kamu hidup, terus kamu mati kelaparan Cuma gara-gara aku ga ngelakuin kerjaan dan Cuma untuk nemenin kamu. Kamu mau?"

Wajah wanita itu berubah. Ia berdiri lalu menghentakkan kaki nya kesal. "Kok kamu malah ngomelin aku sih? Kamu udah ga sayang sama aku sampai bilang nanti aku bakal mati kelaparan?"

Ia menarik nafas panjang. "Bukan gitu sayang," Ia menutup laptopnya. "Kamu ga boleh egois yah mulai sekarang. Aku kerja kan buat biaya pernikahan kita nanti. Katanya kamu mau pernikahan yang mewah..."

Wanita itu kembali menghentakkan kaki nya kesal dan melenggang keluar dari ruangan Taeyong. taeyong menghela nafas. "Tuh kan kebiasaan..." Taeyong melonggarkan dasi nya dan mengejar Ten.

"Sayang. Kamu jangan gini terus dong..." Ia berucap pasrah sambil menarik tangan wanita kesayang`an nya itu.

"Kamu nya juga jangan gini terus dong. Kamu tuh ga pernah merelakan waktu buat aku! apa susah nya sih duduk sama aku untuk, setidak nya menghilangkan lelah kamu sedikit? Kamu ga pusing apa kerja mulu? Aku juga mau diperhatiin Tae! Kamu yang egois." Ten sedikit berteriak, membuat semua bawahan Taeyong melirik kepada kedua pasangan itu.

Laki-laki itu menghela nafas. "Iya maaf yah aku udah egois, selalu mementingkan pekerjaan. Maaf yah." Lagi-lagi dia meminta maaf atas kesalahan Ten. Entah apa yang ada di otak Taeyong sampai Ia tetap setia pada wanita ini.

Ten mengembangkan senyuman nya. "Yaudah antar aku pulang sekarang."

.

.

.

Yey aku balik lagi. Makasih udah kasih review dan maaf yah, disini aku udah bikin Yuta terlihat

terlalu kasar dan Ten terlalu jalang. Dan maaf juga yah kalau di part ini Ten terlihat sangat jalang :'(.

Aku emang sengaja gitu bikin Ten terlihat agak "bitchy" biar cerita nya semakin jos$. Nanti

aku bakal usahain Ten agar ga terlihat terlalu jalang.

Ps; ada beberapa bagian yang udah aku edit agar Ten ga terlihat terlalu jalang disini.

Please kindly give your review! Thankyouu 3