Skeleton In The Closet
Chapter 2
Cast(s): Jeon Jungkook / Kim Taehyung
Rating: (masih) T. Sabar /?
Jungkook terdiam di tengah-tengah kasur king sizenya. Matanya memandang langit-langit kamarnya yang penuh dengan ornamen artistik berwarna kelabu. Satu tangannya mengusap bed cover dengan tempo monoton. Kamar tidurnya entah bagaimana terasa terlalu luas.
Jungkook bangun, menjejakkan kakinya ke lantai keramik yang dingin. Ia duduk di pinggir tempat tidurnya sejenak sebelum akhirnya berjalan menuju balkon di sebelah Barat, menghadap gemerlap lampu kota Seoul dini hari. Ia tidak terkesima. Padahal Jungkook berharap pikirannya bisa sedikit saja teralihkan. Ia berharap angin malam yang dingin bisa sedikit saja membekukan ingatannya. Atau mungkin kesunyian bisa memberikannya ketenangan, sementara otaknya terus memutar hal-hal yang tidak ingin dipikirkannya.
Kenyataan bahwa jam dinding besar di kamarnya kini sudah menunjukkan pukul 3 dini hari membuat Jungkook menghembuskan napasnya kasar. "Jangan pikirkan Taehyung, jangan pikirkan Taehyung, jangan pikirkan Taehyung," Jungkook menelungkup frustasi. Sudah 3 hari sejak kepulangannya dari Pulau Jeju dan tidak satu malam pun ia bisa tidur dengan nyenyak, setelah perbincangannya dengan Taehyung yang begitu singkat.
Jungkook butuh istirahat. Secara literal, dia butuh tidur; dan secara figuratif, ia perlu berhenti membebankan segala sisi baik dari dirinya tentang apapun mengenai Taehyung. Setidaknya sejenak. Tetapi setiap kali ia merebahkan tubuhnya di kasur dan seluruh selnya mulai terlelap, perkataan Taehyung begitu terngiang di kepalanya; menggema terlalu halus namun tak kunjung hilang. Jungkook marah, karena ia enggan mengakui semua yang dikatakan manusia manis berparas berandalan itu benar. Ia merasa sangat bodoh. Pengecut. Lemah. Hancur.
Tapi bukan itu bagian terburuknya. Yang paling parah adalah, bayangan Taehyung yang menetap jauh lebih lama daripada yang ia harapkan.
"Jangan pikirkan Taehyung, Jungkook."
Jungkook duduk di sudut cafe yang sama dengan hari sebelumnya. Tapi ia sendirian kali ini. Memainkan nomor meja berangka 9. Seharusnya Jimin bersamanya. Ia yang mengajak —atau lebih tepatnya menyeret— Jungkook ke cafe ini lagi. Mencengkeram pergelangan tangannya sepanjang perjalanan, takut-takut Jungkook hilang. Tapi yang sirna keberadaannya saat ini justru bocah pendek nan tengil itu.
"Menunggu seseorang, eh?"
Jungkook menoleh ke kursi di sebelahnya. Mungkin ia melamun terlalu lama hingga tidak menyadari seseorang telah duduk terlampau nyaman di sana. "Atau lebih tepatnya, ditinggal seseorang," dengus Jungkook kesal.
"Jimin?"
Jungkook mengangguk konfirmatif.
"Aku berpapasan dengannya di teras cafe. Dia kembali ke hotel."
"Oh, sial," nada bicara Jungkook datar. Wajahnya semakin tertekuk tapi tidak ada indikasi bahwa Jungkook marah. Ia terlalu kesal untuk meletup-letup; apalagi di sebelah manusia berambut merah delima itu.
"Tidak mau mengejarnya?"
"Tidak. Aku tidak akan berbicara dengannya."
"Mau aku temani di sini?"
'Ya,' batin Jungkook. Namun "Tidak," katanya. Jungkook berusaha menjaga jarak, karena rasionalitasnya masih nyaring berkata bahwa ia tidak seharusnya berurusan dengan Kim Taehyung. Entah apa yang membuatnya berpikir demikian. Insting, mungkin? Setidaknya ia bersyukur karena sampai detik ini mulutnya masih selaras dengan otaknya.
Tidak ada jawaban. Tidak juga ada suara langkah kaki yang menjauh. Jungkook menunggu, tangannya mengetuk-ngetukkan nomor meja beberapa saat. Ia kemudian menoleh, mendapati Taehyung bersandar di kursinya, kedua tangan di depan dada, dan sepasang obsidian yang menatapnya lekat-lekat. "Apa?"
"Ya atau tidak?"
'Tentu,' dengus Jungkook dalam hati. Tapi tetap saja, "Tidak perlu repot-repot," jawabnya sambil mengulas separuh senyum yang dipaksakan. Taehyung hanya menaikkan alisnya, meragukan jawabannya. "Terserah," decaknya.
"Teman-temanku bilang seorang Jeon Jungkook sangatlah cerah hingga mampu menghidupkan suasana seisi ruangan. Aku bahkan sempat tertarik padam-"
"Teman-temanmu terlalu hiperbola," potong Jungkook dengan nada datar. Ia memainkan sedotan di gelasnya.
"Benarkah? Aku pikir kau sedang sangat tidak Jungkook."
Perkataan Taehyung membuat Jungkook meliriknya dengan alis yang menukik tajam, dahi berkerut. 'Aku pikir kau sedang sok tahu,' kalimat sarkastiknya tertahan di pangkal lidahnya karena sebenarnya, ya, Jungkook juga merasa ia sedang bukan dirinya yang baik. Jungkook kembali sibuk dengan minumannya; membiarkan keheningan menjadi sekat yang dingin di antara mereka berdua.
Jungkook hanya terus mengaduk orange squashnya tanpa berminat menyesapnya sama sekali. "Jadi, apa yang kau tau soal diriku?" Tanyanya akhirnya setelah beberapa menit menunggu Taehyung yang tidak bersua kembali.
"Umum atau khusus?"
"Uh, umum."
"Um... Jeon Jungkook. Mahasiswa jurusan psikologi yang terkenal di seluruh penjuru kampus karena nilainya yang selalu hampir menyentuh kesempurnaan. Lahir di Busan, 1 September 1997. Sering menjadi perwakilan kampus dalam lomba debat dan juga speech contest. Lalu-"
"Khusus?"
"Kau tidak menyukai jurusanmu," singkat, lugas, dan jelas merupakan sebuah pernyataan yang membuat Jungkook menoleh kasar ke arahnya.
"Apa aku pernah mengatakannya ke seseorang?"
"Tidak. Sama sekali tidak."
"Lalu? Bagaimana kau tau?"
Taehyung hanya mengendik. "Aku tau begitu saja."
Jungkook menggigit bagian dalam pipinya, bungkam.
"Aku tidak berniat untuk mengusik privasimu, Jungkook. Maafkan aku. Tapi bukankah menurut psikologi, menceritakan masalahmu berdampak besar bagi pengendalian stress?"
Jungkook meliriknya lagi. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis, kemudian dengusan sinis lolos begitu saja. Apa-apaan, pikirnya. Apa Taehyung juga bisa membaca seluruh pengetahuannya mengenai psikologi?
"Itu informasi psikologi yang umum, omong-omong," Taehyung membalasnya dengan senyuman manis, tapi justru terlihat sangat mengesalkan. "Internet luas dan banyak hal yang tersebar di sosial media."
"Aku memang tidak suka psikologi. Aku masuk jurusan ini karena seseorang menyuruhku," Jungkook berhenti sejenak. "Bukan hal yang perlu diketahui orang, menurutku," Ia berdeham. Demi apapun yang pantas dijadikan dasar sumpahnya, Jungkook merasa ia mungkin saja sudah terlalu depresi untuk sekedar berpikir, siapa yang ia ajak cerita sekarang; dan ia tidak berhenti.
"Sejak aku SMP, aku ingin menjadi seorang dokter. Cliché sekali. Tapi aku serius. Aku belajar dengan sungguh. Masa SMA-ku... Sepertinya aku melewatkan banyak kesenangan di masa SMA. Aku pikir pengorbananku sebanding dengan apa yang akan aku dapatkan; sesuatu yang benar-benar aku tau, aku menginginkannya."
Jungkook menatap wajah Taehyung, memastikan dirinya memperhatikan Jungkook. "Aku mungkin sudah sedekat ini," Jungkook mengacungkan tangan kirinya; menunjukkan dua ruas jari telunjuknya. Ia melihat Taehyung menahan senyumnya hingga ia mau tidak mau menyunggingkan senyuman —senyum masam.
"Aku sudah mendaftar. Aku sudah mengikuti tes. Aku hanya tinggal menunggu dan aku cukup yakin, aku diterima. Tapi satu hal yang tidak pernah aku dapatkan; restu. Dan segalanya bagiku sirna. Harapanku runtuh lalu hilang bersama tujuan hidupku. Aku menginginkannya sebesar itu. Tapi, yah, begitulah."
"Orangtuamu tidak setuju?"
"Tidak. Orang tuaku tidak melarangku. Mereka setuju, bahkan sangat mendukung... awalnya."
"Jadi siapa yang menyuruhmu mengambil jurusan psikologi?"
Jungkook memainkan anak rambut di tengkuknya, bingung. "Anggap saja... Dia kakekku."
"Kenapa kau menurut? Tidak bisakah seorang Jungkook — seorang debater— bernego—"
"Tidak bisa," sentak Jungkook buru-buru. Ia menghirup napas dalam, sadar kalau ia tidak seharusnya menaikkan oktaf suaranya; kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba merilekskan diri. "Itu sudah terjadi. Dulu aku tidak bisa," ia mengendikkan bahu, berusaha terdengar ringan karena Jungkook ingin menelan emosi yang ia rasakan lagi. "Beliau... Aku rasa, perkataannya hampir absolut bagiku. "
"Well, tetap saja menurutku kau selalu punya pilihan, Jungkook. Dia bukan Tuhan sehingga kau harus menuruti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya," Taehyung mengatakannya dengan sungguh-sungguh, penuh pertimbangan namun terdengar begitu enteng pada waktu yang sama.
Jungkook tertawa tipis. Ia menunduk, memandang kakinya yang mengetuk-ngetuk lantai kayu. Taehyung tidak mengerti, dan dirinya tidak bisa menjelaskan.
"Aku tau apa yang kau pikirkan, Jungkook. Apa kau masih bingung? Kau masih kecewa dan tidak terima," Taehyung menunjuknya sekilas. "Akuilah itu. Terlanjur terobsesi, hingga sisi gelapmu lebih mendominasi. Kau merasakannya, kan? Sebagian dirimu bergejolak sementara sisanya sadar itu bukan hal baik. Itu membuatmu jadi psi-"
"Kau tidak tau apa-apa," sergah Jungkook. "Kau tidak mengerti," Raut wajahnya sekeras batu, karena sialnya Taehyung menyederhanakan seluruh pemikiran rumitnya dalam sekejap; menjawab tanda tanya besar mengenai 'aku kenapa?'; bahkan mungkin mengenalinya lebih daripada dirinya sendiri. Jungkook tidak suka. Ia tidak suka pada orang yang bisa menarik impresi pertama mengenai dirinya sebelum ia bertindak, sebelum ia bisa menentukan apa yang ingin ia tunjukkan.
Taehyung mengangkat kedua tangannya di udara. "Kalau kau pikir begitu... Setidaknya perkataanku benar, kan?"
Tidak ada yang berkata setelahnya. Jungkook membuang muka. Ia ingin marah tapi mendapati dirinya tidak punya argumen yang cukup kuat. Kalimat-kalimat pedasnya berantakan dan ia berpikir mungkin lebih baik memendamnya dalam-dalam. Jungkook blank dan merasa begitu bodoh di atas gengsinya yang terlampau menjulang.
"It's okay to be not okay, Jeon."
Jungkook menoleh, menatap Taehyung di sebelahnya. Tatapannya sayu, memandang hamparan pantai yang mulai temaram. Lalu Taehyung menoleh dan mata mereka terkoneksi sekali lagi. Jungkook seolah bercermin, melihat sorot mata yang sama dengannya, namun lebih pekat; lebih pahit.
"Sebaiknya kita kembali ke hotel."
Jungkook keluar dari apartmentnya dengan penampilan kusut. Daerah gelap di bawah matanya tampak jelas, rambutnya acak-acakan, dan kedua sudut bibirnya mengatup rapat. Ia berdiri di depan pintu apartment sambil mengetik di layar iPhonenya. Sebelah tangannya menggambit beberapa berkas yang harus dikumpulkan sekaligus memegang kantung berisi seporsi sandwich dan sekotak susu.
"Ya! Keparat Jimin, kau bawa ke mana mobilku?" Sembur Jungkook begitu panggilannya terhubung. Ia mengapit ponselnya yang tipis di antara bahu dan pipinya sementara tangannya yang bebas merogoh saku celana.
"Aku tidak mau tau, Jimin! Kembalikan mobilku, dasar makhluk kurang ajar! Bawa kemari sekarang, aku ada kelas 15 menit la-"
"Oh, shit!" Erang Jungkook ketika kunci apartmentnya terjatuh dan Jimin memutus sambungan telpon tanpa merasa bersalah. Ia memasukkan ponselnya ke tas dengan sembarangan.
"Hai, Jungkook!"
Kekehan geli tetangganya membuat Jungkook menoleh ke pintu apartment sebelahnya yang baru saja berbunyi 'klik'. "Uh, hai, Hyung," Jungkook berusaha membalas senyuman cerah tetangga sekaligus seniornya, sedikit kewalahan karena papernya hampir saja jatuh berceceran.
"Ini hari Rabu, kan? Tumben berangkat jam segini?" Hoseok menghampirinya dan segera mengambil sebagian berkas di tangan Jungkook juga bekalnya.
"Thanks, Hyung. Aku bangun kesiangan dan melewatkan kelas Mrs. Shin," Jungkook menghela napas sambil membungkuk mengambil kuncinya. "Dan sepertinya aku akan melewatkan satu kelas lagi," keluhnya setelah mengecek jam tangannya.
"Butuh tumpangan?" tanya Hoseok tanpa basa-basi.
Jungkook menimbang sejenak.
"Oh, ayolah, Jeon Jungkook. Sejak kapan kau berubah jadi sungkan seperti itu padaku? Kalau kau hendak bertanya, apa aku sibuk, jawabannya adalah tidak," Hoseok menarik lengan Jungkook menuju lift. "Aku sedang cuti kuliah," nadanya terdengar semakin ceria.
"Well, okay. Thanks a lot. I owe you," gumam Jungkook. Tak banyak yang ia katakan setelahnya.
"You look a bit messy, by the way," celetuk Hoseok ringan sembari memutar kunci mobilnya.
"Kurang istirahat," jawab Jungkook di sela-sela helaan napasnya yang sehalus mesin BMW Hoseok. Ia memandang keluar jendela mobil; area parkir basement tampak lengang dan suram karena minim penerangan. Rasanya sepi dan suram; seperti perasaannya sekarang kalau ia boleh akui.
"Memikirkan sesuatu?"
Jungkook hanya memutar lehernya sedikit. Ia menggeleng sambil tersenyum kecut. "Tidak juga," Jungkook menoleh dan memperhatikan Hoseok yang mulai melajukan mobilnya. "Omong-omong, hari ini Hyung mau ke mana? Kencan?" tanyanya, berusaha mengalihkan topik.
"Apakah meeting bisnis bisa dianggap kencan?"
"Tergantung. Kalau kalian meeting di hotel dan partner bisnismu seksi; ya, bisa dianggap kencan."
Kemudian satu jitakan mendarat di pelipis Jungkook. "Aku hanya bercanda, Hyung," ringisnya sambil mengusap bekas jitakan Hoseok.
"Kau belum cukup umur untuk memikirkan hal semacam itu."
"Aku sudah legal," protes Jungkook. "Kalau tidak memikirkan hal itu, apa yang harus kupikirkan?"
"Kuliahmu, tugas-tugasmu,"
Jungkook berdecih.
"-Pacar,"
"Tidak ada."
"-gebetan,"
"Tidak punya."
"-Kim Taehyung,"
"Kenapa dengan Kim Taehyung?" Nada bicara Jungkook naik setengah oktaf; responnya terlalu cepat hingga mengundang kekehan Hoseok.
"Aku cukup dekat dengannya, jika kau menginginkan informasi tentangnya-," Hoseok tidak menyelesaikan kalimatnya dan membiarkan nada bicaranya menggantung di akhir.
Jungkook memilih berdiam, berpura-pura mengabaikan perkataan Hoseok dan menatap deretan bangunan yang dilaluinya.
"Dia tidak seburuk yang kau lihat, kau tau? Prinsip what you see is what you get tidak berlaku padanya. Cobalah pergi bersamanya, sekali saja. Entah berdua atau berbanyak. You'll find out he's caring one," nada bicara Hoseok jadi lembut, ia akhirnya melanjutkan penjelasan yang tidak diminta meskipun Jungkook tampak tidak tertarik.
Tapi kenyataannya, Jungkook tidak benar-benar tidak tertarik. "Sudah," lengosnya pelan, tidak mau menunjukkan terlalu banyak emosi.
"Sudah?" Hoseok menjeda "Oooh," gumamnya kemudian dengan intonasi menggoda. "Aku hampir lupa, kalian menghabiskan waktu berdua di cafe itu, 'kan?"
"Sial. Jadi, gosip macam apa yang beredar, Hyung?"
"Tidak sepenuhnya gosip, menurutku. Jadi, bagaimana? What do you think? Caring one, isn't he?"
Jungkook menggeleng. "Screw," tukasnya ringkas, jengkel. Setidaknya, itu yang ditangkap Hoseok sehingga ia tidak melanjutkan perbincangan sampai mobilnya berhenti di area fakultas psikologi.
"Thanks a ton, Hyung," Jungkook akhirnya membuka suara setelah ia keluar dari mobil dan hendak menutup pintu.
Jungkook berdiri di halte bus sejak kira-kira setengah jam lalu. Busnya tidak kunjung datang sementara pundaknya mulai lelah membawa tas berisi tiga buah buku referensi setebal novel Fifty Shades Of Grey, tepat seperti serangkaian serinya. Bangku di perhentian bus itu sudah penuh, kebanyakan oleh siswi —mungkin— SMA yang mengomel atau sibuk dengan ponselnya. Ada beberapa pekerja kantoran dan juga orang tua. Jungkook tentu memiliki manner yang baik untuk mendahulukan mereka.
Ia berpikir, mungkin sebaiknya ia mulai berjalan kaki dan berhenti menunggu, karena sinar matahari yang temaram mulai hilang di lengkung Barat cakrawala Seoul dan Jungkook butuh kasur. Dua puluh lima blok dari kampus, artinya kira-kira tiga per empat jam berjalan kaki, dengan beban tas yang sedemikian, ia akan sampai di apartment dan melewatkan makan malam karena tempat tidur —atau bahkan hanya sekedar sofa— akan jadi lebih menggoda. Jungkook membulatkan tekad, toh ia sering berlari belasan kilometer di treadmill gym.
Ia baru saja melewati sebuah perempatan yang hanya berjarak kira-kira 100 meter dari titik awalnya, ketika suara khas motor 4 tak yang bising meraung di belakangnya kemudian berhenti tepat di sebelahnya.
"Hai, Jungkook," Suara yang memanggilnya adalah hal terakhir yang diinginkannya saat itu.
"Hai," balasnya singkat. Jungkook berhenti karena sadar ia harus menjaga etiket baik pada siapapun, lagipula ia tidak punya masalah dengan pengendara motor sport berwarna merah di hadapannya sekarang. Seharusnya dirinya tidak punya masalah, kecuali satu. "Taehyung-ssi," menekankan partikel terakhir dari ucapannya.
"Maaf, aku kira kita cukup dekat. Taehyung saja; atau Hyung. Tapi aku tidak suka dipanggil Hyung."
"Maaf, aku kira kita tidak cukup dekat," jawab Jungkook, kedua tangan dimasukkan ke saku celana jeansnya.
Taehyung terkekeh. "Aku tidak pernah melihatmu pulang berjalan kaki."
"Sekarang kau lihat, Taehyung-ssi," Jungkook berjalan meninggalkan Taehyung begitu saja.
"Naiklah," seru Taehyung, suaranya sedikit teredam helm full face sekaligus mesin motor ketika ia kembali memutar gas.
Jungkook memandang Taehyung yang berada beberapa langkah di depannya. Lucu sekali, ia tidak menawarkan tapi menyuruhnya. "Tidak, terimakasih," tukasnya. Terimakasih pada Jimin pula karena seorang Jeon Jungkook yang memiliki mobil Audi keluaran terbaru hari ini ditawari tumpangan dua kali. Jungkook bukannya angkuh. Ia bahkan sangat tidak keberatan menggunakan transportasi umum. Tapi ia tidak terbiasa merepotkan orang. Dan sekarang, Jungkook juga tidak ingin menjadi penumpang; Bukan berarti ia mau mengendarai motor Taehyung pula; Jungkook menyayangkan citra dirinya.
"Dasar jaim. Aku bermaksud menolongmu," rengus Taehyung, nada bicaranya sedikit meninggi. Jungkook bisa melihat keningnya berkerut samar dan bibirnya —mungkin— mengerucut. Kalau saja ia tidak mengenakan helm, mungkin Jungkook refleks mencubitnya karena—
—Tunggu. Tidak. "Kau memaksa, Taehyung-ssi."
"Kau tidak boleh menolak niat baikku," belanya. Jungkook tersenyum sambil menggumamkan 'tidak perlu repot-repot' dan Taehyung kembali berujar, "Anggaplah sebagai permintaan maaf. Karena sikapku."
"Jungkook-ssi, aku yakin kau harus mengerjakan tugas malam ini, bukannya tergeletak karena terlalu lelah berjalan." Jungkook baru saja hendak menyanggah, ketika ia melihat ketulusan di mata Taehyung. "Aku tidak ingin terkesan memaksamu," keluhnya.
Jungkook tertawa tipis. "Kau memang memaksa," katanya sebelum akhirnya mengalah; duduk di belakang Taehyung.
"Terima kasih," Jungkook tersenyum canggung. "Aku berhutang budi padamu."
"Never mind. Jangan kaku begitu. Sudah kubilang, ini sebagai permintaan maafku," Taehyung mengibaskan tangannya santai. Ia membalas senyuman Jungkook dengan cengiran yang tidak kentara karena tertutup helm, namun Jungkook masih bisa melihatnya dari obsidian Taehyung yang terkena pantulan lampu jalan.
"Kalau begitu... Hati-hati di jalan."
Taehyung mengangguk. Ia baru saja menarik handle kopling ketika Jungkook tiba-tiba memegang bahunya.
"Tunggu," katanya.
Taehyung menaikkan alisnya dalam diam sampai akhirnya ia menyadari, Jungkook menyampirkan jaket kulitnya di pundak Taehyung.
"Lain kali bawa jaket kalau bermotor malam-malam," Jungkook kemudian berbalik dan berjalan menuju lobi apartmentnya.
Jungkook menghirup napas dalam di antara ketidaksadarannya. Ia merenggangkan badan kemudian berguling ke sisi tempat tidurnya yang lain dan semakin bergelung dengan selimutnya. Kakinya membentur sesuatu yang keras.
Jungkook meraihnya dengan setengah sadar. Ia mempersiapkan presentasi untuk mata kuliah lusa hingga dini hari dan berakhir dengan tertidur bersama laptopnya. Jungkook bermaksud menarik laptopnya ke tengah kasur agar tidak tertendang tapi ia tidak mendapati sudut siku-siku dari benda elektroniknya. Alih-alih merasakan dinginnya logam, ia justru merasakan sesuatu yang hangat.
Jungkook refleks menarik tangannya karena sesuatu itu menyusup di antara jari-jarinya. Ia sontak membuka mata, mendapati Jimin duduk di sudut ranjangnya dengan senyum mengembang yang penuh canda. "Brengsek!" Jungkook menendangnya tanpa berpikir panjang, sekeras mungkin hingga ia terjungkal dan jatuh ke lantai. "Apa yang kau lakukan di sini?" Geramnya sekaligus melemparkan bantal berisi biji kapas yang sengaja ia beli beberapa bulan silam untuk menimpuk Jimin.
"Selamat pagi, Kookie-ah," sapa Jimin dengan keramahan yang terlalu dramatis. Ia mengusap sudut bibirnya dengan telunjuknya sebagai indikasi bagi Jungkook. Senyumnya tidak luntur sedikitpun, justru membuat Jungkook semakin ingin meledak karena sebal.
Jungkook buru-buru menggusak kedua sudut bibir hingga pipinya dengan telapak tangan. "Sialan, aku tidak ngiler!" Serunya, mengundang tawa terbahak dari sahabatnya itu. "Sejak kapan kau di sini?" Ia mengusap kedua matanya, berusaha mendapatkan fokus pada angka di jam digital di atas televisi, tepat di hadapan kasurnya. "Ya, Tuhan, Jimin, aku ada kelas lima belas menit lagi!" Jungkook melompat dari ranjangnya lalu berlari ke kamar mandi.
"Aku juga ada kelas sepuluh menit lagi," kata Jimin begitu Jungkook kembali ke kamarnya. Ia telentang di tempat tidur Jungkook dengan nyaman sambil memperhatikan sang pemilik yang melewatinya, hanya mengenakan celana pendek hitam dengan handuk putih tersampir di leher. Jungkook membuka lemari di sudut kamar, membelakangi Jimin, dan menampilkan otot-otot punggung yang liat dan kokoh. "Aku iri dengan tubuhmu," celetuknya.
"Idiot Jimin, kenapa kau tidak membangunkanku, hah?" Jungkook menarik beberapa helai pakaian yang berada tumpukan paling atas.
"Aku berniat membangunkanmu. Tapi kau tampak sangat lelah dan nyenyak," Jimin bergerak ke meja belajar Jungkook untuk membantu mengemasi beberapa buku serta peralatannya. "Oh, dan kau terlihat seksi sekali. Aku hampir mengira kau tidur naked," godanya.
"Keluar," dengusnya. Jungkook mengusap matanya dengan handuk. Ia baru sadar, pening di kepalanya sudah hilang. Pikirannya sedikit rileks pagi ini. Hal baik, karena ia bisa tidur pulas akhirnya.
"Hanya ada kita berdua. Kau itu, seolah-olah aku tidak pernah melihatmu telanjang."
"Dasar mesum. Keluar!"
Dan Jimin segera berlari keluar dan menutup pintu sebelum Jungkook sempat menendang tulang rusuknya. Suara tawanya masih nyaring terdengar dari ruang tengah.
"Jimin," panggil Jungkook begitu ia keluar dari kamar. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru apartment, mencari keberadaan iblis cebol yang sekaligus merangkap menjadi teman dekatnya.
"Aku di sini!"
Jungkook menghela napas lalu berjalan dengan langkah lebar menuju dapurnya. Ia mengancingkan jam tangan di pergelangan tangan kirinya lalu membenarkan backpack yang tersampir di pundak kanannya. "Kunci mobil," tagihnya, menggerak-gerakkan jari-jari tangannya dengan tidak sabar.
"Sarapan dulu, Kookie-ah," alih-alih memberikan kunci, Jimin malah menggenggam tangannya lalu menarik Jungkook untuk duduk di kursi tinggi counter dapurnya.
"Aku tidak punya waktu, Park," Jungkook menolak untuk duduk, mengecek jam tangannya dengan sedikit gusar sementara lawan bicaranya justru sibuk mengedar di dapurnya.
"Aku sudah membuatkanmu sarapan," ujarnya riang. Menghidangkan seporsi french toast dari microwave dengan lelehan mentega juga maple syrup yang tampak hangat dan lumer di mulut. "Tidak kuracuni, kok," tambahnya ketika Jungkook menatapnya skeptis.
"Delapan menit sebelum kelas dimulai, Park Jimin. Kau aneh pagi ini. Katakan. Ada sesuatu yang tidak beres," Jungkook memicingkan mata dan berkacak pinggang. Jimin tersenyum penuh arti di hadapannya. "Tunggu. Aku harus menitipkan absen pada seseorang," selanya sedikit emosi. Ia buru-buru mengeluarkan iPhonenya dan sibuk mencari nama beberapa teman kelasnya. "Aku tidak menyangka aku harus masuk kelas melalui jendela paling belakang, lagi."
Jimin berlari kecil memutari counter hingga ia kini berdiri di hadapan Jungkook. "Sebaiknya kau duduk terlebih dahulu," usulnya sambil sedikit mendorong badan pemuda di hadapannya. "Jadi begini, adik Yoongi hyung minta diajari mengemudi sementara mobilku sedang di bengkel untuk perawatan rutin. Dia kemarin tidak sengaja menabrak ketika parkir—"
Ponsel di genggaman Jungkook terlepas dan jatuh ke pahanya. Jimin buru-buru mengambilnya sebelum benda itu jatuh ke lantai dan Jungkook yang meledak. Ia mencoba tersenyum penuh penyesalan ketika Jungkook menghela napas dan memijat pelipisnya.
"Seberapa parah kerusakannya?"
"Bumper pecah," Jimin meletakkan iPhone Jungkook di counter dengan hati-hati. Ia menelan air liurnya kasar ketika memperhatikan Jungkook yang tidak berubah dari posisinya sama sekali. "Aku sudah membawanya ke bengkel. A-aku akan mengembalikannya minggudepansepertiketikaakumeminjamnya."
Jungkook tidak berkata apa-apa tapi berlari mengejar Jimin yang sudah terlebih dahulu melesat melewati ruang tengah yang seluas lapangan futsal serta ruang tamunya lalu menutup pintu apartmentnya dari luar. Ia menarik pintu apartment dengan kasar. Baru saja kakinya hendak berlari, namun Jungkook seketika mematung di hadapan seseorang yang menghalangi jalannya. Ia hampir menabraknya, kalau saja Jungkook tidak mencengkeram ambang pintunya.
"Hai?" Sapa Taehyung dengan menaikkan alis. "Aku ingin mengembalikan jaketmu, Jungkook-ssi."
"Halo, Taehyung," Jimin melambai riang dari kejauhan. "Kau penyelamatku!" Serunya di depan lift yang masih tertutup. Ia mengacungkan jempol lalu mengerling dengan gaya norak yang sangat, sangat mengesalkan.
Taehyung terkekeh geli sementara Jungkook bersandar ambang pintu apartmentnya lalu menghembuskan napas kasar. Benar-benar bukan harinya, pikirnya.
"Apa kau butuh tumpangan?" Tawar Taehyung, mengeluarkan kunci motornya.
"Tentu! Tentu saja, Jungkook butuh," sahut Jimin lagi. Ia berlari mendekat namun tetap menjaga jarak kira-kira tiga meter dari Jungkook yang menatapnya dengan pandangan semurka induk beruang yang kehilangan anak. "Aku tau kau banyak urusan tapi bisakah kau mengantarjemputnya selama semingguuuu saja? Mobilnya ada di bengkel. Ia akan menjadi supir pribadimu selama sebulan ke depan sebagai gantinya," rayunya dengan —sok— manis.
"Tentu," Taehyung tergelak ringan.
"Tidak, terima—"
"Kau seharusnya terlambat masuk kelas tapi dosenmu belum datang sekarang," sela Taehyung. "Sepuluh menit sebelum kau berpapasan dengan dosenmu di lobi kampus," bisiknya.
"Bagaimana kau—"
"Tau?" Potongnya lagi. "Aku melihatnya di jalan tadi. Mobilnya bermasalah," Taehyung tersenyum sumringah.
"Tunggu sebentar," hela Jungkook. "Bisa tolong taruh jaketku di sofa?" Ia membuka pintu apartmentnya lebih lebar dan menunjuk sofa beludru di ruang tamunya. "Ada french toast hangat di dapur kalau kau mau," tambahnya, diam-diam berusaha menahan Taehyung lebih lama di dalam apartment.
"Kau sudah tidak marah padaku lagi, kan, Jungkook?" Jimin berjalan dengan riang ke arahnya ketika Taehyung sudah masuk ke apartment Jungkook.
Jungkook mendorongnya hingga punggung Jimin menubruk tembok di seberang pintu apartmentnya. Suara debumannya tidak terlalu kentara namun Jimin mengerang terkejut. Kedua telapak tangan Jungkook melingkari leher pucat Jimin. "Aku tidak marah tapi aku sebal," desisnya pelan, mendikte setiap kata dan menekan jakun Jimin perlahan-lahan dengan ibu jari hingga napasnya berbunyi sesak.
"J-Jungkook," suara Jimin tercekat. Ia membelalakkan matanya.
"Aku baru mendapatkannya sebulan yang lalu, kau tau?" Jungkook memberengut sok polos sementara Jimin memegangi kedua lengannya. Mulutnya terbuka, kakinya menendang-nendang dengan asal karena napasnya yang mulai menipis namun Jungkook berhasil menangkisnya sebelum kaki Jimin mengenai tulang keringnya.
"A-aku—"
"Lain kali jangan biarkan orang lain mengemudikan mobilku selain dirimu, oke?" Pintanya kalem. Jimin bersusah payah mengangguk. Bibirnya memucat dan air mata mulai terbendung di pelupuk matanya. "Bagus," Jungkook melepaskannya dengan senyum lebar di wajahnya. Hanya sedetik, lalu ia berbalik untuk mengambil barang-barang yang masih berada di apartmentnya.
"Jangan lupa kunci pintu, ya, Jim," celetuk Jungkook begitu ia keluar dari apartment dengan Taehyung di belakangnya, melewati Jimin yang masih terkulai lemas sambil memegangi lehernya.
"Kau berniat membunuhku, hah?" Serunya dengan desah napas yang masih belum stabil, sedikit terbatuk-batuk.
"Tidak, aku hanya sebal."
"Kau hampir membunuhku, Jungkook!"
"Tidak mungkin, Jim," sahut Jungkook ringan. Ia berhenti dan berbalik untuk mengecek keadaannya. Jimin menatapnya tidak percaya dengan respiratori yang masih naik turun dengan cepat. "Aku penuh perhitungan," Jungkook mengedipkan mata. "Kalau aku ingin membunuhmu, kupastikan prosesnya akan sangat lambat dan menderita," candanya lalu kembali berjalan menuju lift.
"Aku tidak menyangka aku berteman dengan monster sepertimu, Jungkook!"
"Aku juga tidak menyangka kau masih hidup, Jim."
Taehyung menggelengkan kepala sambil mengulum senyumnya. "Psikopat," celetuknya pelan begitu pintu lift tertutup sempurna.
"Aku mulai menyadari potensiku dan menerima diriku apa adanya," Jungkook tersenyum ringkas. "Omong-omong boleh aku yang menyetir?"
Jungkook duduk sendirian di sudut cafe dekat taman kampusnya. Areanya yang luas dengan langit-langit tinggi, didominasi warna putih dan dipenuhi interior monochrome, membuatnya terasa jauh lebih lapang. Sinar matahari masuk melalui deretan jendela besar di sekelilingnya, menjadi pencahayaan utama sebelum senja tiba. Ada rak super besar dengan ratusan koleksi buku di sebelah Timur yang membuat Jungkook betah berlama-lama di sana. Ia pun menikmati ketenangan yang tercipta ketika tidak banyak pengunjung yang datang. Seperti saat ini.
Jungkook menatap keluar jendela. Menyapukan pandangan pada beberapa orang di taman kampusnya. Ia sebenarnya terfokus pada satu orang yang sedang bersandar pada pohon oak di tengah taman. Rambutnya yang merah kini berubah jadi ash blonde, tampak lebih kalem dan manis ketika ia tertawa bersama teman-temannya. Sinar matahari sore yang menyusup melalui lebatnya dedaunan di atasnya membuat surainya tampak berkilau. Satu alasan yang sebenarnya jadi faktor utama mengapa ia betah nongkrong akhir-akhir ini, tapi Jungkook enggan mengakuinya.
Ia tidak menemui manusia itu lebih dari seminggu. Jimin merengekkan ampun dan memberikan kunci mobil kesayangannya sehari setelah ia mengaku melukai Audi Jungkook, bersumpah bahwa pacar barunya —Audi R8 hitam seksi favoritnya— akan kembali dengan sempurna atau Jungkook boleh meledakkan Cadillac Jimin. Jungkook hanya menghela napas saat itu, meminta Jimin untuk membatalkan perjanjian apapun dengan Taehyung karena bukan dirinya yang sepakat diantarjemput selama seminggu lalu menjadi supir selama sebulan setelahnya. Bukan Jungkook yang mengontak Taehyung, bahkan hingga saat ini. Ia tidak punya urusan apapun dengan manusia itu tapi ia mendapati dirinya memperhatikan Taehyung hampir setiap hari seusai kuliah. Ia kini sedang menggendong seekor anak kucing.
"Taehyung suka kucing."
"Hah?" Jungkook mengerjapkan mata, meluruskan lehernya dan mendapati Hoseok asyik menyeruput greentea lattenya.
"Taehyung suka kucing, Jungkook. Tapi dia tidak pernah memelihara kucing."
"Apa, sih, Hyung," Jungkook menunduk, melihat sebuah novel fiksi di pangkuannya. Ia sebenarnya lupa sampai mana ia membaca tadi. Hoseok terkikik geli dan mengetuk-ngetuk tulang kering Jungkook dengan ujung sepatunya. "Jangan ganggu aku, Hyung. Aku sedang membaca."
"Kau tidak membaca, Jungkook-ah. Matamu tidak fokus," Hoseok tertawa sedikit lebih nyaring. "Taehyung tidak berani memelihara kucing karena takut tidak bisa merawatnya. Di balik tampangnya yang serampangan, dia sebenarnya banyak menaruh perhatian pada sekitarnya."
Jungkook menghela napas. "Oke, terima kasih," ucapnya datar, akhirnya mengalah. Ia diam-diam melirik keluar jendela sekali lagi ketika Hoseok sibuk memesan makanan. Taehyung tampak sama menggemaskannya dengan kucing putih di pangkuannya. Mungkin lebih, karena Jungkook tidak terlalu suka kucing.
Jungkook menuruni tangga darurat dari lantai lima di gedung kampusnya dengan tergesa-gesa. Ia merogoh ranselnya dengan sedikit gusar, mencari keberadaan makalah yang seharusnya dikumpulkannya hari ini. Tepatnya batas waktunya pukul enam sore. Jungkook mengumpat dalam hati. Ia bersumpah bahwa ia yakin sekali sudah membawanya sejak siang tadi.
Mrs. Shin pasti tidak akan menoleransi keterlambatan bahkan lima menit sekalipun. Apalagi dua minggu lalu Jungkook tidak menghadiri kelasnya. Ia mau menerima alasan apapun dan tidak mungkin mendengarkan alasan sepele semacam 'makalah hilang ditelan bumi'. Dosennya yang satu ini sangat kolot. Jungkook sebenarnya menyukai segala sifat tegasnya, sebagai pemacu bagi dirinya untuk semakin disiplin. Tapi kali ini, ia baru menyadari alasan betapa banyak mahasiswa yang membencinya. Jungkook tiba-tiba saja membencinya di samping kekesalannya pada makalah yang tiba-tiba saja hilang.
Sekarang jam tangannya sudah menunjukkan waktu pukul enam kurang seperempat dan Jungkook punya pilihan; menemukan makalahnya dengan cara yang ajaib atau mencetak ulang makalahnya, yang berarti ia harus bolak-balik apartment-kampus dalam kurun waktu kurang dari lima belas menit. Sepertinya ia tidak benar-benar memiliki pilihan tapi Jungkook akhirnya terus menuruni tangga sampai area parkir basement, setengah berlari menuju mobilnya —atau lebih tepatnya mobil milik Jimin. Audinya belum kembali, omong-omong. Jimin bilang,'berikan aku waktu seminggu lagi, kumohon. Aku sebenarnya tidak ingin Cadillacku meledak jadi aku tidak akan mengembalikan Audimu sebelum ia benar-benar terlihat seperti terakhir kali kau memakainya.' dan Jungkook hanya menjawab dengan separuh helaan, 'Oke, tapi jangan coba-coba membelikanku Audi baru.'
Jungkook baru saja menggapai handle pintu pengemudi ketika suara decit ban motor yang direm begitu dekat dan mendadak membuat Jungkook sempat berpikir seseorang mungkin saja menabrak Cadillac Jimin —ia akan sangat senang, sebenarnya. Ia menoleh dan hal pertama yang menarik perhatiannya adalah jarak ban motor dengan body mobil Jimin, mungkin hanya satu kepalan tangannya. Ninja merah itu basah kuyup, termasuk pengendaranya yang mengenakan helm full-face.
"Apa yang kau—"
Kalimat Jungkook terhenti ketika pengendara ninja itu —Jungkook tau benar wajah di balik helm hitamnya— menyodorkan sebendel kertas dengan sampul bening, diselubungi plastik dengan rapat sehingga hanya pembungkusnya saja yang basah.
"Bagaimana kau— Kenapa—"
"Aku menemukannya di meja baca perpustakaan setengah jam lalu. Aku pikir kau membutuhkannya segera?"
Jungkook tidak tau apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Mempertanyakan keberadaan Taehyung, berusaha memperbaiki imagenya yang selalu tampak buruk di depan Taehyung, atau mengomelinya karena hujan-hujanan. Jungkook mengerang, "Ah, sialan. Tunggu di sini," begitu ia menyambar makalahnya lalu berlari lagi seperti orang kesetanan ke lantai tiga gedung kampusnya. Seorang Jungkook biasanya sistematis dan teliti. Ia bersyukur kali ini tapi juga sekaligus merutuki kecerobohannya yang sepele dan bisa membuahkan nilai B pada mata kuliah psikologi sosial. Jungkook tidak mengharapkannya sama sekali.
Jungkook kembali sepuluh menit setelahnya. Kali ini menggunakan lift lalu berjalan dengan lebih santai ke tempatnya memarkir mobil.
Dia masih di sana. Bersandar pada motornya dengan badan yang kebetulan membelakangi Jungkook. Kaus putihnya yang tipis kini setengah basah, menempel pada tubuhnya yang kurus dan mencetak warna kulitnya dengan samar. Jungkook bisa melihat kedua telapak tangannya meremas lengan atasnya.
"Kau masih di sini?" Tanya Jungkook memecah keheningan. Ia berjalan melewati motor sportnya, bersandar pada mobilnya tepat di hadapan Taehyung.
Taehyung hanya tersenyum. Ia memasukkan tangan ke saku celana jeansnya yang juga basah lalu menunduk, berusaha menyembunyikan fakta bahwa ia kedinginan.
"Aku seharusnya mengatakan terimakasih dari awal," Jungkook menghela napas, sadar kalau kalimatnya salah dan suasananya membuat dirinya sendiri tidak enak. Ia melepas jaket semi jasnya lalu menyampirkannya pada bahu Taehyung dalam diam. "Aku berterimakasih, sungguh. Biar aku antar kau pulang sekarang."
"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa—"
"Kau kedinginan. Di luar masih hujan deras. Bajumu hampir kering. Aku tidak ingin kau sakit," Jungkook menarik pergelangan tangan Taehyung tanpa menoleh padanya, membukakan pintu depan lalu berdiri menyamping, mempersilahkan Taehyung masuk. "Atau aku akan semakin merasa tidak enak padamu."
"Terimakasih," Taehyung menggigit bibir bawahnya.
Jungkook melajukan mobil dengan lambat. Ia melirik sesekali pada seseorang yang duduk di sebelahnya. Taehyung menggigit bibirnya dalam diam. Ia kadang mengatupkan mulutnya rapat serta mengetatkan rahang, sebenarnya menyembunyikan gemeletuk giginya. Jungkook memperhatikan bahkan ketika Taehyung memalingkan wajah sambil menyisir surainya yang lepek dan lembab, memandang keluar jendela untuk menghindari tatapan yang seolah memindainya. Jungkook sempat melihat bibirnya yang memucat dan menggigil.
"Jungkook-ssi, ini bukan jalan—"
"Aku tau. Apartmentmu terlalu jauh, Hyung," Jungkook menginjak pedal gas sedikit lebih dalam. "Apartmentku hangat, kok."
HAHAHA apa ini. Astaga aku minta maaf I update so fucking slow. Big thanks for every responses. Yaampun aku terhura. Tapi maaf yaa ini ngga jelas. Mungkin ada typo(s) atau bahkan kata-kata ngga nyambung yang nyelip karena aku ngantuk dan autocorrect nyebelin asli. Aku berusaha buat nggabungin ceritanya karena imajinasiku rada kecer (baca: berserakan) akhir-akhir ini.
Tooooo beeeeeee veeeeery hoooonest, readers, i am a bit insecure with this story. Please kindly give me feedback because it means a lot for me. Even a tiny response or huge complain, I'd be very happy to read it. RnR juseyooo.
Mohon ditunggu kelanjutannya. Aku berusaha bikin lebih cepet tapi aku harus belajar because real life sucks. And I am going to leave for my hometown about a month. Idk what I'll do there. I can't bring my laptop. So yeah don't expect too much from me. Very big sorry.
Daaaaaan... Buat yang baca Cheers! Diriku cuma mau menginformasikan I'm working the Bonus Chapter.
Semoga aku cepat kembali ya. Maaf AN selalu panjang. Luv you all. Much kisses.
