Skeleton In The Closet

Chapter 3

Cast(s): Jeon Jungkook / Kim Taehyung


Rating: Somewhere between T and M. I can't decide. Sorry.

Happy Reading.


Jungkook menuangkan air panas ke dalam dua buah mug di counter dapur. Ia menghirup dalam-dalam aroma coklat yang hangat membelai ujung-ujung saraf olfaktorinya, mencoba menenangkan keributan dalam benaknya. Gemericik air di kamar mandinya teredam tembok serta pintu yang tebal namun begitu menggema di telinganya, menyebabkan konfrontasi yang ramai dalam kepalanya. Ia tengah mempertanyakan tindakannya sendiri; beberapa waktu lalu menggandeng seseorang —yang saat ini berada di balik pintu kamar mandinya— dan memandunya menuju apartmentnya. Tanpa paksaan, pun tanpa penolakan, hanya langkah kaki yang berirama dalam diam.

Ketika bunyi shower tidak terdengar lagi, Jungkook berpikir apa yang bisa dilakukannya selain menatap pintu kamar mandi yang tepat berada di seberang dapur. Ia mengeluarkan iPhonenya, akhirnya. Menyibukkan diri dengan Safari, mencari beberapa resep yang mudah dan cukup menarik untuk tamunya. Dirinya enggan mengakui bahwa ia sedang mengetuk detik yang berlalu. Menunggu namun berusaha untuk tampak acuh atau setidaknya bersikap normal. Tapi entah firasat atau telinganya yang berubah begitu jeli, sepasang irisnya melirik tepat ketika pintu kamar mandi terbuka.

Adalah Taehyung yang berdiri di depan pintu sambil menggusak rambutnya dengan handuk putih Jungkook. Wajahnya terhalang handuk yang lebar sehingga Jungkook punya beberapa sekon untuk bisa memanjakan matanya dengan leluasa. Pakaian Jungkook tampak sedikit kebesaran, entah mengapa tetap pas dikenakannya. Kerah sweaternya sedikit terlalu lebar hingga tulang selangkanya terekspos dengan cukup untuk Jungkook sementara ujungnya menggantung menutupi hampir sepertiga pahanya. Taehyung berbalik, menutup pintu dan menampakkan postur tubuhnya yang ramping dari belakang. Sweatpants hitam dengan segaris aksen putih vertikal di bagian samping tampak longgar membalut kakinya yang kurus. Jungkook memandang tengkuknya yang sedikit basah ketika ia menunduk, sedikit lebih lama, sementara Taehyung masih asyik membelakanginya. Ia hampir menjatuhkan ponselnya.

"Hot chocolate?" Jungkook berdeham, memecah kesunyian dan menarik perhatian. Ia seorang mahasiswa psikologi, ya, ampun, seharusnya tidak ada kata canggung untuknya. Seharusnya ia bisa menciptakan suasana yang baik. Ia berusaha.

Taehyung menoleh lalu berjalan menuju ruang tengah, mengikuti Jungkook yang sudah mendahuluinya dengan dua buah mug di kedua tangannya. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya di ujung sofa hitam. "Aku tidak terlalu suka cokelat, tapi terimakasih," Taehyung menghela napas begitu tengkuknya bertemu punggung sofa yang halus dan hangat.

"Mau makan apa?" Tanya Jungkook. Ia duduk —benar-benar— di ujung sofa yang lain, sibuk berkutat dengan remote TV juga cokelat panasnya.

"Tidak perlu repot-repot." Taehyung masih begitu khusuk memejamkan matanya. Ia menghirup napas dalam sekali lagi, lalu menghelanya dengan mulut separuh terbuka. Desah napasnya halus; rendah, dalam, dan teredam dari pangkal tenggorokannya. Jungkook tidak bisa tidak menatapnya dengan intens, mengabaikan siaran National Geographic Channel di layar TVnya.

Rambutnya masih separuh basah, dibiarkan jatuh menutupi dahinya yang berkerut samar. Bulu matanya lentik dan tampak lebih tebal ketika ia memejamkan mata. Pucuk hidungnya agak memerah. Bibirnya masih sedikit pucat, sedikit terbuka, dan tampak begitu bercelah. Garis rahang serta perpotongan lehernya mungkin bisa jadi representasi dari kata menarik di mata Jungkook. Ia sangat menarik.

"Kau baik-baik saja? Butuh sesuatu?"

"Aku oke," celetuk Taehyung singkat lantas meraih mug di atas meja kristal di hadapannya. Menggenggamnya dengan kedua tangan dan menumpunya pada kedua lutut yang ditekuknya di atas sofa. Jungkook memperhatikannya memperhatikan uap tipis di atas larutan cokelatnya, kelopak matanya nyaris tertutup lagi. Ia mengusap bibir mug dengan ibu jarinya. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis ketika punggung tangan Jungkook menyentuh keningnya.

"Kau oke," gumam Jungkook lebih kepada dirinya sendiri sebagai hasil verifikasinya setelah merasakan suhu tubuh Taehyung yang normal. Punggung tangannya kemudian beralih mengusap pelipis pemuda di sampingnya dengan gerakan yang halus, seolah kesadarannya mengambang di awan-awan. Jemarinya menelusup di antara helaian ash blonde Taehyung, mengusap pelipisnya, kemudian belakang telinganya, lalu turun hingga berhenti di tengkuknya. Jungkook menikmati sensasi permukaan kulit Taehyung yang terasa dingin di bawah telapak tangannya yang hangat. Ia meremas tengkuknya dengan gerakan yang sangat, sangat pelan sementara dirinya memperhatikan setiap detail ekspresi dengan perasaan ingin tahu namun juga ragu-ragu. Taehyung memejamkan matanya antisipatif.

Jungkook menekan otot-ototnya yang menegang dengan ujung jari juga pangkal telapak tangannya hingga Taehyung tanpa sadar membuka mulutnya, bernapas tipis. Hormon yang seketika mengalir deras di sekujur pembuluh darahnya hanya dengan melihat belah bibirnya yang agak kering, menghantarkan desir yang menggairahkan namun juga menyalakan alarm rasionalitas seorang Jungkook. Ia mungkin saja melewati batas dan lupa berhenti.

"Sebaiknya kau beristirahat," usulnya halus, menarik diri. "Aku akan mengantarmu besok. Uh, omong-omong, seharusnya ada dua kamar tidur di apartment ini tapi aku tidak biasa menerima tamu dan kupikir aku tidak akan menerima tamu yang bermalam, jadi satu kamar terlanjur kurubah jadi perpustakaan pribadi—"

"You're kinda smooth, Jungkook-ssi." Taehyung menoleh.

"Apakah masalah kalau kita berbagi tempat tidur? Atau kau ingin salah satu dari kita tidur di sofa?" Tanya Jungkook dengan nada yang diusahakan sebiasa mungkin. Ia tetap mengunci pandangannya pada kedua iris sepekat arang di hadapannya meskipun Taehyung menatapnya seolah-olah ia adalah seseorang yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Jungkook berani bersumpah tidak begitu, tapi ia hanya mengatakan dengan matanya, ia tidak seperti itu. "Apakah masalah?" Ulangnya.

"No prob. Let's share." Taehyung terkekeh.


Kelopak matanya terasa terlalu berat untuk dibuka namun Jungkook terlanjur terjaga dari tidurnya. Tangannya terjulur ke bawah, mencari keberadaan ponsel yang ia letakkan di bawah bedside. Ia membuka kunci layar, matanya memicing secara spontan karena cahaya ponsel yang terlalu silau dan tiba-tiba. Menyadari bahwa dirinya terbangun dini hari, tepatnya pukul tiga kurang lima menit, Jungkook menggeletakkan ponselnya kembali di lantai.

Ia melirik ke sisi lain tempat tidurnya dengan bulu mata yang masih terrenda dan kesadaran separuh. Barangkali ia hanya bermimpi tidur seranjang dengan Taehyung, pikirnya. Tidak ada seorangpun di bawah bed cover selain Jungkook. Ia berbaring di sisi paling pinggir, seperti yang seingatnya ia lakukan beberapa jam lalu.

Jungkook kemudian memindai kamar tidurnya yang gelap. Seharusnya gelap gulita, karena sudah jadi kebiasaannya mematikan semua sumber pencahayaan dan menutup celah-celah jendela sebelum beristirahat. Tapi segaris sinar rembulan samar menelusup melalui tirai balkonnya yang sedikit tersingkap. Jungkook akhirnya memutuskan untuk bangun, mungkin ia memang tidak bermimpi.

Ia berjingkat-jingkat seperti seorang pencuri di apartmentnya sendiri, mengintip sejenak sosok Taehyung yang membungkuk dekat pagar pembatas balkon dengan kedua tangannya menyilang dan bertumpu pada pagar tembaga. Ia memainkan sebatang rokok yang terselip di antara jarinya hingga abunya rontok. Menatap bara api yang merambat menghabiskan panjang rokok yang tak dihisapnya.

"Hai," suara serak Taehyung menyapanya begitu Jungkook melangkah mendekat. "Maaf," gumamnya, kemudian mematikan rokoknya sebelum Jungkook sempat menghirup kepulan asap tipis yang menguar.

"It's fine, actually," gumam Jungkook. Ia memasukkan tangannya ke saku celananya dan berdiri dekat dengan pagar pembatas. Meluangkan jarak di antara dirinya dan Taehyung dalam diam, seperti yang biasa dilakukannya kalau Taehyung di dekatnya. Beberapa hari lalu, ia juga berdiri di balkonnya, sibuk memikirkan manusia di sebelahnya sekarang, pada perempat malam pula. Ada beberapa hal yang masih menggantung di benaknya, sementara yang lainnya adalah hal-hal baru yang menyusup ke pikirannya saat ini.

"Kebetulan."

Jungkook hanya menggumam. Memandang hamparan lampu-lampu benderang yang seolah merampas gemerlap bintang di angkasa. Cakrawala di atasnya kelam namun kilau langit malam sejauh matanya memandang seolah di bawah kakinya.

"Semua yang terjadi akhir-akhir ini hanya kebetulan. Percayalah, aku bukan stalker."

Jungkook tergelak tipis, nyaris seperti dengusan. "Tapi apa kau akan terus menjawab pertanyaan yang tak kuucapkan? Apakah seasyik itu membaca pikiran orang?"

"Maaf. Tapi kau terlalu nyaring, Jungkook. Sampai kadang aku pikir kau mengatakannya," jawabnya. Di sudut mata Jungkook ketika ia meliriknya, Taehyung menumpukan dagunya ke pagar, membungkuk lebih dalam. "Biasanya aku perlu melihat mata seseorang sebelum mengetahui isi kepalanya. Tapi kau, aku mendengarnya sejelas suara yang keluar dari mulutmu."

"Kau menerobos privasi orang."

"Itu terjadi begitu alami seolah ini adalah bagian dari inderaku," Taehyung menghela napas. "Aku tetap lebih menyukai suara seseorang."

"Suaraku?"

Taehyung melirik dan menyeringai. "Bisa jadi," guraunya. "Bagaimana kuliahmu?"

"Tidak banyak yang berubah. Terlalu banyak tugas, kurang jam tidur. Hanya lebih sial akhir-akhir ini."

"Jungkook."

"Hm."

"Kalau harapanmu hilang, cari lagi yang baru. Bukankah itu bagian terbaik dari hidup?"

"Aku lelah, Taehyung," hela Jungkook dengan sedikit terpekur. Ia menoleh dan mengamati Taehyung yang tetap memandang lurus ke depan. Mungkin, ia benar-benar jatuh pada cara pandang seorang Taehyung; secara fisik maupun psikis, tapi Jungkook tidak mau mengakui. Mungkin belum. Jungkook kembali memandang hamparan lampu.

"Orang tuaku awalnya sangat mendukung. Tapi setelah kakek melarangku masuk kedokteran, mereka berdua hanya meminta maaf. Mereka bilang mereka juga sedih tapi mereka tidak pernah tau betapa hancurnya hatiku setelahnya. Bahkan sampai saat ini, mereka pikir aku sudah membaik, tapi tidak sama sekali. Rasanya seperti diberikan harapan palsu meski aku tau mereka tidak berniat merusak apa yang sedang aku bangun. Aku hanya ingin jadi seorang anak yang baik, berbakti pada orang tua, tidak membangkang. Aku rasa aku cukup penurut, tapi sekarang rasanya sulit sekali. Psikologi adalah hal terakhir yang ingin kusentuh selama hidupku. Kau tahu? Bagaimana rasanya dipaksa melakukan hal yang paling tidak ingin kau lakukan? Dan ini berlangsung bertahun-tahun. Aku tau hidupku tidak hancur hanya karena salah jurusan. Tapi—"

"Kau menyesal?"

"Entahlah."

"Kau tidak pernah menceritakannya."

"Percuma, kurasa. Aku hanya akan semakin tidak terima."

"Tidak semua orang tidak mengerti perasaanmu, Jungkook. Kalau menurutmu terlalu berat untuk disimpan, berbagilah pada orang lain."

"Kenapa kau peduli?" Jungkook membenarkan rambutnya yang nyaris menusuk mata. "Aku tidak bermaksud kasar, tapi kenapa? Kita tidak pernah bersinggungan sebelumnya," ralatnya buru-buru. Ia memutar badannya, menyandarkan pinggang pada pagar setinggi diafragmanya hingga kini Taehyung adalah objek fokus matanya. 'Apa alasanmu bilang kau sempat tertarik padaku?'

"Kau terlalu berharga untuk kehilangan masa depan," Taehyung mengendikkan bahu lalu memiringkan wajahnya dan mengerling jahil.

"Itu lucu."

"Tertawalah."

Jungkook menggelengkan kepalanya, namun seulas senyum tergaris di bibirnya. "Bagaimana denganmu?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Denganku? Aku juga anak penurut sepertimu. Bersahaja, banyak teman, manja—"

"Aku tidak manja," sela Jungkook.

"Aku tidak bilang," Taehyung terkekeh, suaranya serak namun terdengar semenyenangkan dentingan bel di telinga Jungkook. "Aku pindah ke Seoul ketika SMP. Jadi bahan ejekan karena tubuhku dulu lebih kecil dibandingkan yang lain. Aku juga tidak pernah mengatakan apa-apa pada orang tuaku. Mereka sibuk dan aku tidak ingin mengganggu pikiran mereka. Sampai suatu hari teman sekolahku terlalu kelewatan. Aku memukul salah seorang di antara mereka hingga tulang hidungnya patah. Yang pertama kurasakan adalah ketakutan, kemudian kupikir ia cukup pantas. Dengan begitu mereka tidak akan mengusikku," Taehyung menarik napas dalam. "Tidak ada yang melaporkanku kepada siapapun. Aku kira itu hal baik, tapi beberapa hari setelahnya mereka membawaku ke gudang sekolah, menantangku untuk bertarung satu lawan satu. Itu pertama kalinya aku menghabisi lima orang dalam kurun waktu sehari. Aku menghajar mereka semua sambil menangis."

"Menangis?"

"Menangis," Taehyung terkikik pelan. Ia mendongakkan kepalanya, seolah memanggil kembali cerita masa lalunya yang sudah lama tidak diusik. "Beberapa minggu setelahnya ibuku divonis mengidap kanker stadium akhir. Aku berharap beliau sembuh, meskipun aku juga sadar kemungkinannya sangat kecil. Aku tidak idiot. Aku tau betapa kata 'I'm fine', 'Everything's alright', serta senyumnya yang kian hari kian melemah adalah sebuah kebohongan berbatas waktu. Ketika semuanya sirna, rasanya aku kehilangan dunia. Lalu teman-teman yang dulu kuhajar menemukanku. Mereka itu sesuatu yang baru, hingga aku menemukan hal baru dan terbiasa. Street fighter, street racer, bukan hanya tentang kesenangan, tapi juga pengakuan dan teman."

"Maaf," ucapnya begitu pelan. Jungkook menghela napas tipis mendengar penuturan Taehyung yang tenang seolah yang diceritakannya hanyalah dongeng fiksi. Ia masih bisa melihat rasa sedih yang tenggelam dalam sorot matanya.

Taehyung hanya mengangguk monoton.

"Bagaimana dengan ayahmu?" Jungkook menyesali pertanyaannya, sedetik setelahnya karena Taehyung hanya diam tak bergeming. Bagaimanapun juga, meskipun Taehyung sering berlaku seenaknya, ia tidak ingin melukai perasaannya dengan cara yang tidak sopan. "Maaf, aku tidak bermaksud—"

"Anggap saja tidak ada," Taehyung mengendik. "Aku tidak pernah menemukan sosok ayah darinya. Dia hanya sumber uang." Ia memutar badannya pula hingga kini ia berhadap-hadapan dengan Jungkook, tersenyum nyeleneh."Maha sumber uang," ralatnya.

"Setidaknya dia mewariskan kekayaan padamu kelak."

Senyum Taehyung mengembang jadi tawa. "Aku mungkin harus jadi CEO muda kalau begitu."

"Tidak terlalu buruk."

Tawa Taehyung berhenti, kembali dimakan sunyi. Ia menatap jauh ke dalam sepasang binar coklat Jungkook, menikmati cara Jungkook yang berusaha menelisik relung hatinya pula. Bukan cuma Jungkook yang merasa takut tidak ada yang mengerti. Taehyung tersenyum terlebih dahulu setelah beberapa saat. "Jungkook, kalau kau ingin jadi nakal, menurutku sudah terlambat. Tapi tidak ada salahnya menikmati masa mudamu. Turuti saja kata hatimu. Lakukan apa yang saat ini kau inginkan—"

Kata-kata Taehyung terhenti ketika telapak tangan Jungkook melayang dan mendarat di ceruk lehernya. "Asal kau mengingat batasanmu," imbuhnya. Tersenyum simpul meski matanya menyiratkan banyak arti.

Jungkook mengusap denyut nadi di lehernya dengan ibu jari yang hangat. Pelan dan menyiksa dengan pasti. Ia bergerak mendekat sementara Taehyung diam di tempat. Satu tangannya menggenggam lengan atas Taehyung, merasakan bicepsnya yang kurus namun lebih keras daripada yang dia kira. "Sampai mana batasanku?" Bisiknya halus tepat di samping telinga Taehyung.

"Kau yang tau pasti," balas Taehyung sehalus frekuensi suara Jungkook. Menyolong sebuah kecupan kilat di rahangnya yang otomatis menegang. Ia tetap tenang ketika Jungkook menegakkan badannya kembali. Wajahnya begitu dekat. Senyuman polos yang terulas berbanding terbalik dengan isyarat yang keruh di sepasang maniknya. Taehyung menatap Jungkook tepat ke kedalaman pupilnya; menantang, menggoda, dan bertanya-tanya. Tidak ada apapun yang keluar dari mulut keduanya selain hangat napas yang menerpa muka satu sama lain. Lalu detik berikutnya Taehyung merendahkan pandangannya, mengamati bibir Jungkook memangkas jarak yang tersisa.

Diam. Taehyung mengatupkan mulutnya rapat bahkan ketika Jungkook mulai mengecupi kedua belah bibirnya dengan gerakan yang memabukkan. Matanya terpejam dan benaknya yang perlahan tergerus masih mengagumi bagaimana perlakuannya sangat halus meskipun Taehyung tau pasti seberapa pekat hasrat yang berkobar dari pancaran matanya. Jungkook tetap mencumbunya perlahan meskipun satu tangannya mulai meremas tengkuk Taehyung frustasi, membahasakan permohonan sekaligus ultimatum. Ia menyeringai puas ketika Jungkook menggeram rendah, sebelum akhirnya membalas ciumannya.

Segala kecupan hangat Jungkook kemudian berubah menjadi cium penuh hasrat yang belepotan dan penuh kebutuhan. Melupakan detik dan menit yang terus bergulir. Kedua tangan Taehyung mengalung di leher pria yang lebih muda, meremas surai kelamnya begitu menuntut. Ia tidak mempedulikan apapun selain bibir Jungkook yang penuh candu. Membiarkan desahnya lolos begitu saja, mengisi keheningan selain suara decak bibir Jungkook di permukaan kulitnya. Sengaja. Menaikkan suhu keintiman juga menikmati apa yang disuguhkan Jungkook dengan sempurna.

Napas Jungkook sangat teratur, senyap namun terasa panas di perpotongan leher Taehyung. Seluruh pergerakannya seperti momen film yang diputar lambat. Sangat lambat hingga Taehyung nyaris lupa cara menggunakan pernapasannya. Tangannya meremas kedua sisi pinggang Jungkook, sementara jemari Jungkook sudah mengedar di bawah sweaternya. Menghitung ruas-ruas tulang belakangnya, menelusuri tiap inchi kulitnya, lalu mengelus abdomennya hingga otot-otot perutnya menegang secara spontan.

"How about staying up until the sunrise?"

"Call."


Jungkook mengerem halus mobilnya di persimpangan dekat area universitasnya, beberapa detik setelah lampu lalu lintas berubah merah. Ia melirik pemuda yang duduk di seat penumpang tepat di sampingnya. Atau lebih tepatnya berbaring, dengan sandaran yang direndahkan hingga batas maksimal. Satu tangannya menutupi matanya, sementara tangannya yang lain bermain-main dengan fabrik sweater yang dikenakannya. Kedua kakinya disilangkan dan bertumpu di dashboard. Meskipun ini bukan Audi kesayangannya tapi Jungkook tetap menghela napas.

"Mau mengambil motormu dulu atau—"

"Antar aku ke kampus," jawaban Taehyung teredam begitu ia beringsut di tempat duduknya. Kedua kaki jenjangnya ditekuk dan dipeluk di depan dada. Badannya memunggungi Jungkook. Tampak begitu sempit dan tidak nyaman hingga Jungkook sempat berpikir untuk membawanya kembali ke apartment. "Aku terlalu lelah untuk berkendara. Tapi aku tidak mau kembali ke kediaman siapapun sekarang."

Jungkook berdecih pelan. "Who said 'until the sunrise'?" Sindirnya datar. Tidak ada jawaban setelahnya. Ia lantas menoleh selagi lampu belum berubah hijau. Taehyung mengenakan pakaiannya lagi dan ia tidak sempat terkagum pagi ini karenanya. Sweater navy yang diberikan kakeknya ketika Jungkook masuk SMA begitu sempurna membalut tubuh Taehyung. Satu-satunya pakaian berkerah turtle neck yang bisa menutupi lehernya, juga membentuk lekukan tubuhnya tanpa menghilangkan kesan maskulin darinya. Matanya berkilat tipis ketika menatap berkas kemerahan di leher bagian belakang Taehyung karena kerah yang tertekuk.

"Hampir hijau, Jungkook. Berhenti berpikir aneh-aneh dan mengemudilah dengan benar," ucapan Taehyung cukup untuk mematikan sebersit gagasan di otak Jungkook.

Jungkook menghela napas lalu kembali melajukan mobil dalam diam. Tidak sampai tiga menit hingga ia mencapai gedung fakultas ilmu budaya universitasnya. "Bangun, Taehyung," suruhnya sembari menetralkan tuas transmisi.

"Lima menit."

"Tae, aku tidak memarkir mobil. Kita di drop off area. Cepat bangun." Jungkook mengguncang lengannya.

"Kalau begitu parkir dulu."

"Astaga, Hyung—"

"Tiga menit, Jungkook," negonya cepat. "Tiga menit. Jangan pikirkan aku. Pikiranmu berisik."

"What the f—"

Taehyung menutup telinganya tidak mau tau.

"Fine," erang Jungkook kesal. Akhirnya menggeser tuas transmisi lagi dan menginjak pedal gas perlahan. Ia tidak benar-benar berniat memarkir mobilnya. Hanya berputar-putar dengan kelajuan lambat sambil menghitung mundur.

"Tiga menit, Taehyung. Bangun atau kucium," titahnya kali ini, menarik lengan Taehyung lagi dengan sedikit usaha lebih ketika Cadillac Jimin sudah kembali ke drop off area.

"Cium? Berarti aku tidak perlu bangun?"

Belum sempat Jungkook melontarkan gerutuannya, Taehyung sudah duduk di posisinya. "Bangun, oke?" celetuknya dengan kedua tangan di udara. Ia mengambil tasnya di seat belakang. Mengecek beberapa barang sebelum berniat keluar. Satu kakinya sudah menapak tanah ketika Jungkook mencengkeram sikunya. Taehyung tertahan di ceruknya. Menatap pemuda di belakang kemudi dengan sebelah alisnya naik sebagai tanda tanya. Tidak ada jawaban yang terucap pula. Jungkook hanya mencondongkan tubuhnya, membenahi kerah sweater Taehyung dalam jarak yang terlalu dekat. Memastikan tidak ada karyanya semalam yang terlihat orang, setidaknya kalau mereka tidak memperhatikan.

"Maaf," Jungkook menjauhkan diri, menyandarkan punggungnya kembali.

"Aku yang seharusnya meminta maaf. Thanks, Jungkook," kekeh Taehyung disertai kecupan di rahang Jungkook kilat lalu ia bergegas keluar mobil. "I'll see you when I see you!" Serunya sambil berlari menjauh, kemudian menghilang di salah satu sudut gedung.

Jungkook menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Telunjuknya mengusap perpotongan antara leher dan rahangnya, dekat bekas kecupan Taehyung; barusan dan semalam. Ia kemudian memeriksanya di kaca spion. Ada bercak merah gelap yang mungkin baru hilang beberapa minggu ke depan, terpampang jelas di bawah rahangnya. Taehyung benar-benar serampangan mengukirnya. Seolah tidak ada hari esok. Seolah tidak ada kuliah dan kehidupan perlu dihadiri besok hari. Beruntung bagi Jungkook, tidak memiliki jam kuliah hari ini sehingga ia bebas berkeliaran dengan raut wajah kurang tidur, rambut acak-acakan, t-shirt tipis, juga celana pendek. Tapi satu hickey di area yang tidak tau harus ia tutupi dengan apa, duh. Jungkook pikir, ia mungkin perlu membeli concealer.

"Hai, Jungkook," sapa riang Hoseok mengagetkan Jungkook yang baru saja menurunkan rem tangan. Ia mengetuk kaca jendela supaya Jungkook menurunkannya. "Tumben sekali," godanya penuh implikasi.

"Aku... mengantar teman," jawab Jungkook sekenanya.

"Jadi, kau dan Taehyung sekarang berteman?" Hoseok melipat tangan di jendela mobil dengan santai.

'Oh, ya, Tuhan. Tolong,' batin Jungkook.

"Kemajuan yang bagus, Jungkook," Hoseok menepuk-nepuk bahunya, tidak sedikitpun menghilangkan nada riangnya. Jungkook baru saja menjawabnya dengan senyum sepantasnya ketika Hoseok mengecek jam di dashboard lalu pamit, "Aku harus pergi," lalu menambahkan, "Dan omong-omong aku kira teman tidak bertukar bekas ciuman. Tapi tidak apa-apa. Itu bagus. Sampai jumpa, Jungkook!"

Jungkook tak sempat merespon apapun karena Hoseok langsung meninggalkannya. Ia pergi secepat kedatangannya juga omongan terakhirnya. 'Dasar rapper. Sial,' gerutunya dalam hati. Bagaimanapun juga, Hoseok adalah senior yang dia hormati. Seandainya saja Jimin yang berkata demikian.


Jungkook tidak berbicara kepada Taehyung secara langsung di hari-hari berikutnya. Ia tidak pernah benar-benar menemuinya. Hanya sekali-sekali berpapasan di suatu tempat di area universitasnya yang teramat luas. Kebetulan. Kadang Taehyung mengedipkan matanya dengan iseng, kadang Jungkook balas tersenyum padanya. Taehyung lebih sering mencuri kecupan; entah di pipi entah di bibir Jungkook, lalu berlalu begitu saja. Dan Jungkook sering menahannya; mencengkeram pergelangan tangannya atau menarik pinggangnya, kemudian melepaskannya setelah kecupan kedua. Begitu saja.

Tidak ada yang bisa —atau lebih tepatnya, perlu— ia bicarakan dengan Taehyung. Jungkook tidak ingin berusaha untuk sekedar basa-basi meskipun ia sejujurnya ingin Taehyung ada di dekatnya sedikit lebih lama. Satu hal yang tetap jadi favoritnya adalah memperhatikan Taehyung dari balik jendela cafe dekat universitasnya. Dan ketika Jungkook menemukan seseorang yang biasa ia perhatikan duduk di sudut favoritnya, —tersenyum manis tepat kepadanya dengan secangkir americano di mejanya— Jungkook hampir menjatuhkan nampan yang dibawanya.

Pemuda bersurai blonde itu tergelak ringan dari tempatnya. Melambaikan tangan supaya Jungkook menghampirinya.

"Halo."

"Kenapa kau di sini?" Jungkook meletakkan nampannya dengan hati-hati kemudian duduk di kursi kosong di hadapan Taehyung.

"Tidak boleh?" Ia menaikkan alisnya.

"Bukan begitu. Biasanya, kan—" Jungkook menjeda, menyeruput greentea lattenya. "Aku kira kau seharusnya sedang berkuliah?" Jungkook mengernyitkan dahi, menahan cegukan.

"Bolos."

"Kenapa?" Tanya Jungkook spontan.

Taehyung hanya mengangkat bahunya sedang Jungkook asyik dengan camilannya. Ia kemudian hanya tersenyum ketika Jungkook mendongakkan wajahnya.

"Aku dengar kau sedang bermasalah dengan Profesor Park," Jungkook berdeham, menjauhkan piring kecilnya yang masih berisi separuh potong apple pienya. "Ada apa, Taehyung?" Jungkook menyilangkan kedua lengannya di atas meja.

"Kau sudah seperti konsultan profesional."

Jungkook memutar matanya malas. "Nah. I don't want to become one," sanggahnya. "Just in case you need a listener." Jungkook mencondongkan tubuhnya, berpangku tangan di atas meja mahoni itu. Ada sinar penasaran di pupilnya yang sedikit melebar, sekaligus senyum simpul yang membuatnya terlihat lebih ramah dan dekat.

"Boleh juga," Taehyung membalasnya dengan tawa ringan sambil menggoyangkan cangkir americanonya pelan.

"Jadi apa yang membuatmu membolos?"

"Tidak ada."

"Benarkah? Aku yakin ada alasannya." Jungkook berusaha menilai sorot mata Taehyung, meski seberapapun ia berupaya, masih terlalu banyak hal yang tak bisa ia mengerti. Belum, mungkin saat ini belum.

"Kenapa yakin?" Taehyung menoleh ke luar jendela. "Reputasiku buruk, kau tau," tukasnya ringan.

"Aku yakin kau tidak seburuk itu," timpal Jungkook begitu pasti, terdengar sok tau sekaligus keras kepala. "Kenapa, Tae? Kau bilang padaku sudah terlambat untuk jadi nakal. The same goes to you, too. Bukan saatnya lagi," ucapnya lembut dan hati-hati. "Ya, kan?"

Taehyung menggelengkan kepala, Jungkook menunggu. "Aku tidak punya masalah dengannya," Ia kembali memainkan cangkir kopinya. "Beliau yang mungkin punya masalah denganku."

"Oh. How come?"

"Seingatku dulu aku selalu berusaha memenuhi segala tugasnya. Bahkan meskipun ia menyuruhku merubah total presentasiku lebih ketiga kali. Meskipun ia tiba-tiba saja memajukan deadline tugas seenaknya. Atau ketika ia menyuruhku merangkum sebuah buku setebal buku telepon dalam waktu satu hari. Tugasnya sering kali tidak manusiawi."

"Dulu. Lalu sekarang kau ingin bermasalah dengannya?"

"Masalahnya, seberapapun aku berusaha dia selalu memberikanku nilai di bawah rata-rata. Dia membenciku."

"Wow. Tapi, kan—"

"Secara literal, Jungkook. Dia menatapku seolah aku tidak layak ada di dalam kelasnya. Dia membenci eksistensiku dengan segenap jiwa dan raganya. Aku kan—"

"Taehyung," potong Jungkook kali ini. Ia menangkupkan kedua pipi pemuda bermata obsidian di hadapannya dengan gemas. "Apa yang pernah kau lakukan padanya?"

Taehyung diam saja.

"Biar kutebak," celetuk Jungkook dengan sebersit jenaka di nadanya. "Tidak sengaja membaca pikirannya?"

"Aku hanya berusaha menang berargumen dengannya," sangkal Taehyung. "Waktu itu semester awal, aku masih kurang ajar. Tapi aku kan sudah minta maaf," tambahnya buru-buru. "Dia terlalu menjunjung tinggi harga dirinya dan meremehkan anak didiknya."

"Kau masih kurang ajar juga sampai sekarang," Jungkook memutar bola matanya tanpa bermaksud mencemooh manusia langka di hadapannya. Ia mengetuk-ngetuk pipi Taehyung dengan ibu jarinya.

"Apapun. Aku menyerah," Taehyung menanggalkan telapak tangan Jungkook yang membingkai wajahnya lalu menaruhnya di atas meja. "Aku lelah dengan cap 'bad boy' atau semacamnya. It should be just a past. Tapi mereka memandangku seolah selamanya akan terus begitu. I am still trying to figure myself, Jungkook. Rasanya diriku yang sebenarnya bukan seperti ini. Aku berusaha berubah. But they are labelling me all the time until it seems easier to be what they said."

"Taehyung," Jungkook meraih kedua tangannya dengan sungguh-sungguh. Mengusap punggung tangannya dengan gerakan memutar yang menenangkan. "Semua orang punya sisi baik. Juga sisi buruk. Kau bisa melihat betapa menyedihkannya aku di saat yang lain hanya mengetahui segudang kelebihanku. Aku menutupinya, mungkin karena aku munafik. Tapi aku punya alasanku. Aku tidak mau terlihat rapuh dan dikasihani," Jungkook tersenyum memandang kulit tangan Taehyung yang kontras di dalam genggam tangannya. Masih setia menatap jemari Taehyung yang tidak merespon apa-apa. "Jangan dengarkan mereka. Aku tau tidak semudah yang kukatakan, tapi berubahlah untuk dirimu sendiri. Jadilah seperti apa yang kau pandang baik. Aku percaya padamu."

Jungkook kemudian mendongakkan kepalanya, memandang Taehyung yang sudah terlebih dahulu menatapnya dengan teduh. Sudut bibirnya terangkat kemudian bibir bawahnya digigit pelan. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya dan Jungkook terlalu menikmati diam yang ada hingga tak mau repot-repot berpikir apa yang disiratkan Taehyung. Ia bangkit berdiri, membungkukkan badan menaungi meja kecil yang menjadi pembatasnya dengan Taehyung. Meraih dagu Taehyung untuk sedikit mendongakkan wajahnya. "Datanglah ke apartmentku kapanpun kau mau. Jangan bolos seenaknya. Aku bisa membantumu, mungkin," tawarnya sebelum mengecup bibir kemerahan Taehyung untuk beberapa detik. "Mungkin kita bisa melakukan beberapa hal lain pula."


Tiga hari. Jungkook duduk di sofa ruang tengah dengan helaan napas panjang setiap pulang kuliah. Badannya letih karena tumpukan tugas dan persiapan ujian yang sudah di depan mata, lalu pikirannya terbebani satu lagi hal; satu sosok yang seolah sudah jadi patrun di otaknya.

Dalam hati, Jungkook bertanya-tanya mungkinkah Taehyung menerima atau setidaknya mempertimbangkan tawarannya. Ia tidak pernah mengungkitnya setelah perbincangan dengan Taehyung di cafe. Berusaha untuk tidak memikirkannya ketika berpapasan dengan Taehyung karena seingatnya, ia hanya memberikan tawaran —secara tulus, tentu saja— tapi bukan meminta kunjungan. Jadi, Jungkook tidak mau terkesan memaksa atau bahkan berharap. Toh sekarang, ia masih tidak banyak bicara. Bertukar sapa 'hai' dan 'semoga harimu menyenangkan' cukup. Kan?

Selalu. Jungkook baru ingat ia tidak memiliki kontak Taehyung kalau ia sudah mencapai kediamannya. Tidak punya sama sekali, bahkan setelah sekian lama mereka memiliki hubungan yang cukup baik. Beberapa rencananya terlupakan ketika berhadapan dengan mahasiswa jurusan sastra itu. Rasanya tidak butuh —atau bahkan ingat— gadget untuk menikmati momen bersama Taehyung yang teramat singkat.

Ia lantas berharap Taehyung meminta nomornya kepada siapapun, lalu menelponnya atau mengirim pesan singkat padanya. Setidaknya kalau dia ingin datang ke apartment Jungkook, bukankah alangkah lebih baik jika Taehyung memberinya kabar. Hanya jika saja.

Satu helaan lagi sebelum ia beranjak untuk mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang lebih santai. Bel apartment berbunyi, jadi Jungkook merubah haluannya ke pintu utama.

"Dari mana kau dapatkan gulungan berli—" seru terkejut Jungkook diputus oleh telapak tangan Taehyung yang menutup mulutnya. Ia membuka pintu terlalu cepat tanpa memeriksa siapa atau apapun yang ada di luar apartmentnya. Dan sekarang, Jungkook membelalakkan mata pada figur anak kecil di gendongan Taehyung.

"Daddy, he hates me?" Tanya anak itu dengan nada takut-takut. Tangan mungilnya mengeratkan rangkulan pada Taehyung.

"No, baby. Uncle Jungkook is just surprised with our presence," balas Taehyung padanya.

Jungkook terbatuk kaget, selain karena panggilan yang barusan di dengarnya, juga karena tutur kata Taehyung yang tak pernah didengarnya sedemikian halus. Ia yakin Taehyung pasti punya sifat baik, akhir-akhir ini, sedikit menurunkan anggapan soal ia tidak seharusnya dekat dengannya. Tapi tidak pernah menyangka ia begitu luwes dengan anak kecil.

"Nah, uncle, let's come in." Taehyung mengetuk ujung sepatunya ke jari kaki Jungkook. Memecah lamunannya kemudian menunggu Jungkook membuka pintunya lebih lebar.

Ia mendudukkan anak yang kira-kira berusia 3 tahun itu di sofa. Memberikan iPad mini di pangkuannya juga menyalakan televisi seolah Taehyunglah sang tuan rumah. "Wait here, okay? Don't make a mess. Uncle Jungkook gets angry easily sometimes," bisiknya bercanda namun tetap cukup jelas untuk bisa didengar orang yang dibicarakannya.

Jungkook memilih berlalu terus ke dapur, meyakini Taehyung mengikutinya setelahnya. Ia menyandarkan diri ke counter dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tapi Taehyung sibuk dengan backpacknya, mengeluarkan beberapa mainan hot wheels, dinosaurus, dan sekotak kecil berisi bubuk putih. Sama sekali tidak menyadari sang tuan apartment diam menunggu penjelasan.

Jungkook menghela napas tidak sabar. "Taehyung, kau punya an—"

"Bukan punyaku," jawabnya enteng dengan cengiran lebar setelah —lagi-lagi— memutus pertanyaan Jungkook. Dengan sebuah kecupan kilat kali ini. "Aku meminjamnya."

"Meminjamnya?" Tanya Jungkook tak percaya. "Diksi yang bagus dari seorang mahasiswa sastra."

Taehyung menanggapinya dengan kikik riang, melewati Jungkook begitu saja lalu mulai mencari sesuatu di dapurnya. "Di mana aku bisa mendapatkan air hangat?"

"Pakai kompor."

"Di apartment seeksklusif ini?" Tanya Taehyung begitu dramatis. "Tidak ada pemanas air atau apa? Tombol ajaib?"

"Kompor memanaskan segalanya," debat Jungkook dengan tajam. Ia kemudian memperhatikan Taehyung berkutat di dapur yang jarang disentuhnya. Suara gemericik air yang mengisi pan, kemudian beberapa dentingan di sana dan di sini hingga kompornya menyala dengan aman. Jungkook tetap diam di tempatnya ketika Taehyung kembali menghampirinya.

"Oooh, ya?"

Jungkook hanya membalas tatapan matanya. "Seriously, Tae-Hyung," dengusnya. "'Daddy'? Yang benar sa—"

"Daddy."

Jungkook buru-buru memalingkan wajahnya. Menyugestikan dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh pingsan hanya karena tersedak liurnya sendiri. Bahkan berusaha berdeham sewajarnya pun terasa sulit karena Taehyung tak ubah dari posisinya. Tanpa tawa, menatapnya tanpa rasa bersalah dan bibir bawah digigit.

"Dia imut, kan?" Dengung Taehyung sambil berjalan lambat ke sudut dapur, mendekati Jungkook yang tengah menenggak air dengan buru-buru. Ia mengambil alih botol mineral dari tangan Jungkook. Menaruhnya di kabinet dapur lalu mengusap bekas air di kemeja Jungkook.

"Taehyung," Jungkook mengerang dengan suara tertahan, reaksi spontan ketika punggungnya menyentuh permukaan pintu kulkas yang dingin. Matanya menatap sosok di hadapannya nyalang. Taehyung mendorongnya dan menghimpitnya dengan disertai tawa riang yang —Jungkook mungkin tidak mempercayai telinganya lagi— terdengar cukup inosen. "Dari mana— Kenapa— astaga kau bukan—"

"Apapun yang ada di pikiranmu, Dad," kekeh Taehyung, merasa terhibur; antara karena aksinya yang tidak direncanakan, atau karena reaksi Jungkook yang tak disangkanya. Tangannya meraih sepasang telapak tangan Jungkook kemudian meletakkannya pinggangnya. "Aku cuma mau bilang," katanya lambat-lambat. Mulai mengecupi pipi Jungkook main-main. "Aku sukanya laki-laki dewasa, kok."

Jungkook meremas pinggang Taehyung, memberinya peringatan yang sepertinya disalahartikan. Akal sehatnya tertekan akibat desakan pinggul Taehyung yang semakin menekan selangkangannya. Satu lagi erangan protesnya keluar saat ia bersusah payah mengendalikan diri. Mendorong bahu Taehyung lalu membalikkan posisi. "Kim Taehyung, ada anak kecil di ruang tengah," gertaknya.

"Oke. Lalu?"

Jungkook mencengkeram tangan Taehyung yang menyusup melingkari lehernya. Memakunya ke pintu kulkas yang super lebar. "Put your tongue in, Baby, or I'll suck it," desisnya ketika Taehyung menjilat bibirnya dengan sengaja. Hasratnya nyaris mendidih di ubun-ubun kalau saja tidak ada sinar cemooh di mata Taehyung. "Aku tidak suka anak kecil. Di apartmentku."

"Tapi aku suka," kata Taehyung begitu kalem, meskipun Jungkook menatapnya seolah akan melubangi kepalanya dengan laser yang memancar dari korneanya. Ia tidak berontak dari kurungannya. Hanya memutar pergelangan tangannya yang dicengkeram semakin erat. "Hurts," bisiknya. "Dad."

Jungkook menatap kilatan menantang di mata Taehyung. Masih sempat berpikir dalam beberapa detik yang cepat, apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi iblis provokatif dalam kungkungannya. Ia mencium pemuda di hadapannya, akhirnya; menyalurkan rasa geram juga gemas dalam rasio yang hampir sama dalam setiap lumatan yang sedikit kasar. "Aku. Tidak. Suka. Ada. Remahan. Kue. Atau mainan yang berceceran," katanya lambat di sela-sela tautan bibirnya. "Dan kalau sampai kudapati tumpahan susu di sofa—," Jungkook menggigit bibir bawah Taehyung. "—kau yang akan menerima hukumannya."

Jungkook merasa sudut bibir Taehyung naik membentuk senyuman sebelum ia benar-benar berpadu dengan iramanya. Membalasnya dengan antusiasme yang justru membuat kesabaran Jungkook terbakar habis dalam sekejap. Lidahnya memaksa, menjelajahi rongga mulut Taehyung ketika pemuda itu berusaha mengatakan sesuatu. Tidak mempedulikan napasnya maupun napas Taehyung. Tidak lagi mempedulikan balita di dalam apartmentnya. Rasanya masih belum cukup, bahkan ketika jemarinya mulai melepas kancing kemeja Taehyung dengan tidak sabar.

Taehyung berusaha mendorongnya dengan susah payah kali ini. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jungkook hingga pria yang lebih muda darinya tidak bisa meraih bibirnya lagi. "Ada anak kecil di ruang tengah, Jungkook," bisiknya dengan napas yang memburu. "Maaf."

"Untuk apa maafmu?" Geram Jungkook begitu dalam.

Taehyung mendesaukan tawa seadanya karena gigitan di telinganya. Mendekap tubuh Jungkook erat sementara tangan pemuda itu bermain-main di waistband jeansnya. Atmosfir di sekitarnya masih terasa berat meskipun Jungkook tidak melakukan pergerakan yang berarti. "Kau tau untuk apa maafku," tukasnya, masih berusaha menstabilkan siklus pernapasannya. "Aku akan bertanggungjawab atas anak itu. Akan kupastikan tidak ada hal yang tidak kau sukai."

"Aku tidak suka anak kecil."

Taehyung mendorong tubuh Jungkook, memberi sedikit jarak supaya bisa melihat wajahnya. Matanya menyiratkan kekesalan dan masih menyisakan sedikit hawa nafsu, tapi kalau boleh jujur Taehyung tidak menyesali keisengannya sedikitpun.

"Apa?"

Taehyung memberengut. "Airnya sudah mendidih," celetuknya kemudian melirik ke bawah. "Dan sepertinya kau perlu mengurus sesuatu pula." Ia menepuk paha Jungkook. "Minggir."

"Fuck you, Taehyung," gerutu Jungkook. Namun membiarkan Taehyung mendorong tubuhnya ke samping dengan mudah.

"Not today."

Jungkook mengulum semua umpatannya dalam hati sambil berjalan melewati Taehyung —yang sibuk dengan air panas dan apapun yang tidak mau Jungkook pedulikan. Ia menyempatkan diri untuk memukul bokongnya, sebelum masuk ke kamar dan mengunci pintu.


"Jungkook."

Jungkook hanya mendengus tipis. Membalikkan tubuhnya di tempat tidur seolah-olah gerakannya cukup berarti bagi pemanggilnya. Ketukan di pintu kamarnya tidak berhenti sama sekali. Gedorannya justru semakin keras dan menjengkelkan hingga Jungkook merasa kalah keras kepala dengan satu manusia di balik pintu kamarnya. Hanya untuk kali ini. Ia akhirnya beranjak dari posisi nyamannya kemudian membuka kunci pintu kamar dengan enggan.

"Apa?"

"Sudah selesai dengan urusanmu? Kenapa tidak menemaniku?"

Jungkook mendenguskan tawa. Urusan, katanya. Minta ditemani, katanya. Serentetan kalimat sarkastiknya sudah sampai di ujung lidah kalau saja tidak ada suara gumaman pelan khas anak kecil di belakang Taehyung. Ia kemudian merunduk, melihatnya memeluk salah satu lutut Taehyung.

"Chan ingin bertemu denganmu." Taehyung berjongkok lalu mengangkat tubuh kecil yang tadi berlindung di belakangnya dengan mudah. "You want to play with Uncle, Chan?"

Anak itu, Chan, hanya diam dengan jemari gemuknya menarik kerah kemeja Taehyung. Matanya yang sebulat kancing melirik Jungkook sekilas. Bulu matanya tampak begitu lentik ketika ia berkedip lalu memandang Taehyung dengan ragu-ragu. "Dad," bibir mungilnya mengerucut seolah tidak setuju dengan kalimat Taehyung.

"Hi, Chan," sapa Jungkook. Ia merentangkan kedua tangannya karena tulang keringnya baru saja ditendang. Mencoba menawarkan keramahan sebisanya meskipun matanya terlalu jelas menyiratkan kedongkolan. Tidak ada aduh sedikitpun keluar dari mulutnya. Hanya senyum tipis disertai rutukan dalam hati untuk Taehyung, yang balas tersenyum manis padanya.

Jungkook tidak benar-benar tidak menyukai anak kecil. Ia hanya tidak tau apa yang harus dibicarakannya pada makhluk rentan yang belum jelas bahasanya. Hampir semua keinginannya diutarakan dengan air mata dan Jungkook tidak ingin membuat tangisnya pecah meski hanya sebentar. Ia tidak ingin menyakitinya baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Walau pada kenyataannya Jungkook tidak punya masalah berinteraksi dengan anak kecil —kalau terpaksa—, ia memilih menyingkir karena intinya, Jungkook tidak mau mengambil resiko apapun yang berhubungan dengan anak kecil.

Dan sekarang ada Chan yang duduk di perutnya, memainkan hot wheels seolah absnya adalah lintasan bergelombang sementara Taehyung duduk di sudut sofanya, berbaik hati meminjamkan paha untuk jadi bantal kepala Jungkook. Taehyunglah sutradara ulung yang menciptakan momen melelahkannya sepanjang masa. Meski tak seburuk itu, sebenarnya. Apartmentnya tetap rapi, sofanya sangat bersih, dan Taehyung yang terus mengajak Chan berbicara sehingga ia hanya perlu tersenyum atau menimpali dengan tawa ringan. Jungkook tetap mendelik padanya kalau Chan tidak memperhatikan mereka berdua.

"Apa?"

"Kau sialan, Tae."

Taehyung tertawa renyah. "Language, Jungkookie," tegurnya halus sambil mengusap rambut Jungkook, memainkan helaian gelapnya perlahan.

Jungkook tidak bereaksi apa-apa kecuali menatap awas pada air muka Taehyung yang tenang. Tidak menolak. Ia hanya mencoba meraih remote untuk mengecilkan volume TV karena Chan sudah tertidur di dadanya, dengan satu tangan masih menggenggam mainan dan tangan lain meremas ujung kaus Jungkook. Terlalu jauh.

"Sudah kubilang, dia imut, kan?" tanya Taehyung sekaligus mengambilkan remote untuknya. Jungkook enggan menjawab. "Dia juga menyukaimu." Taehyung mengulurkan tangan untuk mengusap pipi tembam Chan. "Aku akan sering-sering membawanya ke sini."

"Jangan saat aku banyak tugas," lengos Jungkook.


Punggung Jungkook bersandar di daun pintu kamarnya dengan rambut acak-acakan dan mata separuh terpejam. Ia menghela napas dalam sebelum berdeham rendah; membersihkan tenggorokannya sekaligus menarik atensi sumber kegaduhan yang mengusik tidurnya. "Jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan suara serak, masih belum mengumpulkan seluruh nyawanya.

"Emmm... Sepuluh lebih?" jawab seseorang yang tengah asyik di ruang tengahnya. Ia buru-buru menjeda permainannya, menoleh ke Jungkook lalu melempar senyuman penuh rasa bersalah.

"Dan aku menyuruhmu datang pukul...?" Jungkook berjalan mendekatinya dengan langkah kaki diseret lalu menarik wireless controller PlayStation 4 dari tangannya. "Jam berapa, Park Jimin?" Ulangnya gusar karena tak kunjung mendapat jawaban yang diinginkan.

"Aku tadi menemui Yoongi Hyung dulu. Lalu—"

"Aku tidak menanyakan alasan," Jungkook menarik kerah kausnya dengan jari telunjuk lalu melepasnya begitu saja. "Sudah kuduga." Ia lantas tersenyum kecut karena ruam merah yang tersembunyi dengan apik di bawah kaus Jimin. "Lovers," desahnya begitu halus pada dirinya sendiri sambil berlalu. Entah mengapa malam ini ia tidak berniat menceramahi temannya sedikitpun, padahal biasanya hal-hal yang tidak sesuai dengan perjanjian adalah hal terlarang baginya. Dan lima belas menit adalah batas toleransi khusus untuk Jimin.

"Tidak seperti itu, Jungkook. Aku tadi—"

"Jam lima, Jim. Tadi perjanjian kita jam lima," potong Jungkook dengan mengangkat telapak tangannya sejajar dengan wajah Jimin. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu kembali menutup mata. "Pulang sana. Biar aku yang mengerjakan."

"Aku minta maaf, Jungkook-ah. Tadi aku mampir ke asramanya Yoongi Hyung untuk meminjam beberapa buku. Sumpah," terang Jimin begitu cemas. "Niatnya hanya itu," suaranya mengecil.

Jungkook tidak bereaksi apa-apa selain melempar wireless controller yang dipegangnya ke meja kristal di hadapannya tanpa membuka mata sedikitpun. Suara gemeletaknya cukup keras hingga sejenak Jimin pikir ia marah. Tapi barangkali ia adalah seorang masokis karena terlalu berani mengusik Jungkook ketika marah. "Ayolah, Jeon. Aku tau aku salah. Aku tidak mungkin lebih tega lagi membiarkanmu mengerjakan semua sendirian. Presentasinya besok," pinta Jimin sembari menggoyang-goyangkan pundak Jungkook. Ia menahan napas ketika Jungkook menepak tangannya lalu beranjak masuk ke kamarnya. Kalau Jungkook marah sambil diam, rasanya bukan bukan tubuhnya yang akan terbunuh. Tapi jiwanya yang terserap ke dalam pusaran rasa bersalah yang dalam. Ia melakukan kesalahan fatal.

Lalu Jungkook keluar bersama Macbook Pro serta beberapa berkas untuk presentasi penelitiannya. Mata Jimin berkilau cerah; hidupnya aman malam ini.

"Aku belanja camilan. Mau sesuatu? Biskuit? Keripik? Coklat? Permen?"

"Nanti saja."

Jimin tetap beranjak dari tempat duduknya, menuju ke dapur untuk mengambil beberapa makanan yang sebelumnya diletakkannya di kulkas. Sekaleng soft drink juga beberapa batang coklat untuknya. "Kau yakin tidak menginginkan sesuatu, Kook? Sesuatu yang bisa kumasak atau mungkin kupesan untukmu?" Serunya sembari menyelingakkan kepalanya dari balik pintu kulkas.

"Susu?"

Jimin kembali ke ruang tengah tanpa banyak suara setelahnya. Ia meletakkan sekarton susu dingin dan sebuah gelas kosong untuk Jungkook serta batangan coklatnya di meja sebelum berkutat dengan kaleng sodanya. "Oh ya, boleh kupakai ini?" Jimin menggoyang-goyangkan sebelah sandal rumah warna kuning —dengan boneka SpongeBob di bagian depan— yang sedang dikenakannya. "Sandalmu imut dan hangat."

"Pakai saja. Itu punya Taehyung."

Ada hening beberapa saat ketika Jimin mengamati ekspresi Jungkook yang tak berubah, masih begitu fokus dengan layar MacBook yang dipangkunya. "Taehyung sering datang ke sini, ya?" Tanyanya tanpa bermaksud mengusik konsentrasi Jungkook. Tidak ada rasa penasaran berlebih sebelum Jungkook meliriknya dengan senyuman simpul di wajahnya. Tidak biasanya Jungkook demikian.

"Jadi, perkembangannya pesat, eh?" Tanya Jimin lagi begitu ia mengambilalih MacBook dari Jungkook sementara pemuda itu mengambil beberapa buku referensi yang dipinjamnya dari Yoongi. Jimin mengalihkan pandangan dari layar laptop beberapa kali, mengamati Jungkook yang membaca halaman buku secara acak. Ia mengecek ponselnya lebih sering dari biasanya, padahal Jungkook biasanya tidak akan memainkan iPhonenya sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Bukan masalah bagi Jimin sebenarnya, namun rasa penasarannya tiba-tiba saja meningkat drastis. "Have you two fucked, Kook?"

"Aku heran mengapa aku selalu kesal jika kau bertanya, Jimin," Jungkook menepuk bagian belakang kepala Jimin dengan buku di tangannya, tidak mempedulikan aduhan tidak terima dari orang yang duduk di sebelahnya itu. "Tidak. Aku tidak bercinta dengan orang yang tidak kucintai."

"Tapi kau menyukainya, kan?" Jimin melemparkan senyuman usilnya. Ia tidak benar-benar bertanya dan Jungkook tidak menjawabnya dengan jelas hingga ia buru-buru berimbuh, "Aku yakin setidaknya ada hal yang membuatmu tertarik padanya, ya, kan? Paling tidak di samping sifatnya yang yah begitulah, ia pandai mencium dan mengukir bek— AW!"

"Bersihkan otakmu itu atau kusiram susu basi."

"Kau jahat, Kook," Jimin mengerucutkan bibirnya sembari mengusap kedua telinganya yang barusan ditarik.

"Kau berisik."

"Aku hanya sedang melatih kemampuan menganalisaku!" Kilahnya. Jimin memutar sedikit tubuhnya hingga ia kini menghadap Jungkook, memiringkan kepalanya beberapa derajat seolah mengobservasi. Tapi ia lebih terlihat seperti anak anjing dengan mata berbinar di hadapan majikannya. "Sekarang kau seperti lembaran buku yang terbuka. Aku yakin sebenarnya kau ingin lebih dekat dengan Taehyung dengan cara yang menyenangkan. Kau pecinta romansa, aku tau."

Jungkook menertawai kesoktahuan Jimin untuk beberapa detik. "Tugas kelompok kita harus dipresentasikan besok, Park Jimin," ia memutar matanya malas.

"Ajak dia kencan kapan-kapan, Jungkook," celetuk Jimin lalu mengangkat tangannya ke hadapan Jungkook sebelum pemuda bergigi kelinci itu sempat berujar lagi. "Iya, iya, aku mengerjakan."


"Jungkook, kalau kau memang menyukai Taehyung, say it straight to him."

"Kenapa harus?"

"Well, kenapa tidak? Actions speak louder than words but everyone needs assurance, no?"


Jungkook memilih tidak menanggapi petuah Jimin beberapa hari lalu, membiarkan topik soal Taehyung lewat tergantikan tugas-tugas kuliah serta materi-materi ujian. Kalaupun benar, keinginan untuk terus dekat dengan Taehyung adalah indikasi dari perasaannya, Jungkook masih ingin menyimpannya sendiri. Masih terlalu dini rasanya. Taehyung mungkin bisa mendengar hatinya dengan caranya dan Jungkook hanya ingin berusaha menikmati apapun di antara mereka dengan caranya.

Tapi mungkin makan siang bersama sekali-sekali tidak masalah. Jungkook menunggu di balik setir mobil yang diparkirnya tak jauh dari gedung kampus Taehyung. Ia cukup yakin ia mengingat jadwal kuliah pemuda itu, lima menit lagi selesai.

Jungkook menggigit bagian dalam pipinya ketika matanya menangkap figur Taehyung di lobi gedung. Mengenakan kaus hitam juga kemeja flannel dengan celana jeans yang kusam. "Well, kalau memang aku sangat nyaring, mungkinkah kau menyadari kehadiranku, atau aku harus turun menghampirimu?" Gumamnya pelan. Ia merasa bodoh, tapi setidaknya ia sendirian. Tidak ada yang tau niatnya bermonolog, kecuali jika Taehyung bisa mendengarnya.

Pemuda bersurai ash blonde itu menoleh tepat ke arah Jungkook. Ia melepas headbandnya lalu menyisir rambutnya ke belakang, terlihat nakal sekali, tapi Jungkook mendapati dirinya menarik sebelah sudut bibirnya.

"Hai—"

"Hai, Jungkook." Taehyung tersenyum tipis di hadapan Jungkook. "Aku pikir sebaiknya kau jangan dekat denganku."


It's Author's Notes. Haha. Aku nggak tau apa yang harus kuomongin duluan. It's going to be a bit longer, or just longer. Jadi begini, readers-nim.

Pertama, maaf, karena aku selalu membuat readers-nim menunggu lama. Ada yang baru bilang udah sebulan sejak terakhir kali update. Yaampun aku pengennya nggak bikin orang menunggu lama tapi writer's block sucks dan aku sempat kehilangan feels.

Kedua, maaf lagi. Because it's kinda FAQ then I'd like to announce to you all that Skeleton In The Closet is kookv. Ada beberapa alasan kenapa kemaren-kemaren saya tidak menjawab pertanyaan temen-temen semua. I somehow feel guilty cause I have an urge to please you all but I can't. I don't know what to say but I do apologize. I am still feeling insecure yet I've promised to finish.

Ketiga, maaf satu lagi. Aku masih pelajar kelas 3 SMA jadi kuharap readers-nim cukup sabar. Mungkin ke depannya jadwalku semakin beragam...

Last but not least, please kindly give me feedback because it means a lot to me. Saya terima kritik dan saran dan salam kenal juga. Maaf banyak curhatnya. Luv you all. Much kisses.