Skeleton In The Closet
(not so) Chapter 4
Cast(s): Jeon Jungkook / Kim Taehyung
Rating: M, yet disappointing.
Happy reading, Love.
Hari Jumat malam. Nyaris seperti ritual yang tidak sakral bagi Jungkook untuk menghabiskan waktunya di area klub malam hingga pagi menjelang. Setiap orang butuh jeda dari kepenatan rutin sepanjang minggu dan —sebagai seorang mahasiswa psikologi— ia memilih caranya untuk menjaga kesehatan mentalnya.
Bagi Jungkook waktu senggang bersama teman-temannya bukan termasuk kegiatan tidak penting nan buang-buang waktu, setidaknya sekali-sekali. Larut dalam obrolan khas pemuda atau meramaikan taruhan-taruhan konyol mereka. Ia menikmati suasana gegap gempita penuh euforia tanpa banyak menarik makna. Menyaksikan kawannya menggoda orang di lantai dansa atau mendengarkan curahan hati jujur salah satu di antara mereka yang kelewat mabuk, sembari menyesap mocktailnya dengan kesadaran penuh. Tak banyak yang biasa ia lakukan, karena sebenarnya bagian yang ia inginkan ialah kebebasan serta keramaian. Meski nyatanya selalu ada kekang bagi dirinya sendiri juga sepi yang menyelinap di sela-sela spasinya; setidaknya Jungkook berusaha.
Malam ini pun mobilnya terparkir di kawasan yang meramai selepas tengah malam. Di area klub yang tidak pernah ia sambangi sebelumnya, di antara mobil-mobil asing yang bukan milik orang-orang dalam lingkarannya, Audi kesayangan Jungkook tampak sedikit lebih mencuri perhatian pengunjung yang berlalu-lalang.
Jungkook memilih duduk di salah satu kursi bar sendirian. Membalas sapaan bartender manis yang berbinar menatapnya, seperlunya saja lalu setelah itu mendingin hingga tidak ada yang berani menyentuh dinding privasinya barang seujung jari pun. Malam ini ia merasa tidak menginginkan apa-apa kecuali alkohol. Ia membutuhkannya, hanya demi menghilangkan sekelebat bayangan yang betah singgah di benaknya.
Musik yang menggema di setiap sudut gedung serta sapuan pencahayaan yang semakin intens tampaknya tidak memberi dampak yang berarti. Botol wiski di hadapannya separuh kosong, gelas kristalnya di genggamannya separuh terisi. Bongkahan esnya sudah mencair dan embun halus di permukaan gelasnya terasa tidak cukup dingin lagi. Pahit yang bersarang di saluran kerongkongannya juga rasa kebas yang mulai menyergap saraf-sarafnya masih belum cukup mengaburkan kepikirannya tentang Taehyung.
Jungkook menghirup napas dalam. Menatap waktu di layar ponselnya lalu berpikir untuk pulang sebentar lagi, ketika jalanan subuh cukup lengang untuk dilewati seseorang yang berkendara di bawah pengaruh alkohol. Tidak ada gunanya. Ia ingin marah pada apapun yang menempel pada sel-sel sarafnya, pada apapun yang membuatnya begitu sulit menghilangkan tanda tanyanya soal orang yang seharusnya tidak repot-repot dipikirkannya. Jangan dekat dengannya dulu untuk apa? Kenapa ia mesti menjanjikan kejelasan nanti kalau saat itu pun masih ada waktu untuk setidaknya memberi sedikit pengertian?
Kalau dipikir-pikir, mungkin lebih baik Taehyung absen beberapa minggu tanpa pernyataan sama sekali sehingga Jungkook mengasumsikannya sebagai sebuah kebiasaan. Tukang bolos. Dan Jungkook akan memakluminya tanpa secuil rasa tidak tenang ataupun khawatir. Pertanyaannya terus berderet tanpa jawaban sedikitpun hingga ia kembali dongkol. Kenapa kini Taehyung menghilang seolah tertelan lubang hitam? Kenapa pula Jungkook harus mabuk di klub malam kalau keramaian tak juga mengalihkan apa-apa? Ia bisa saja menenggak alkohol lebih payah di apartmentnya tanpa perlu menahan diri untuk menghancurkan sesuatu di sekelilingnya. Pikirannya mulai berkabut, genggaman di gelas kristalnya mengetat. Kekesalannya mendidih, lalu seseorang menepuk pundaknya.
"Don't fucking bother—"
Sertakan Jungkook berhenti begitu ia menyadari figur tetangga apartmentnya berdiri tepat di sampingnya. Ia memicingkan mata, mencoba mengais fokus dan sisa-sisa kesadarannya tapi tetap tidak bisa mendengarkan ucapan manusia di hadapannya. "Apa?" Jungkook mencondongkan tubuhnya.
"—yang kau lakukan sendirian?"
"Oh." Jungkook menegakkan kembali badannya. Ia merasa kinerja otaknya melambat tapi tidak ada yang bisa diupayakannya. Tidak ada ide terlintas untuk menjawab seruan Hoseok yang gamang di telinganya. "Rutinitas?" Jungkook tersenyum seadanya.
"Setauku kau tidak suka minum." Hoseok menunjuk meja di balik bahu Jungkook.
Jungkook menatap barang-barang kepemilikannya lalu tergelak singkat. "Yeah." Ujung sepatunya mengetuk lantai ketika hening di antaranya dengan Hoseok termakan dentuman musik elektro disko. Ia kembali menggelengkan kepala. "Aku... sedang butuh penenang."
Lalu Hoseok mengangguk senyap —Jungkook masih memperhatikannya tanpa keberatan— seraya menarik kursi tepat di samping Jungkook. Senyumnya manis tapi tetap tidak semengesankan Taehyung. Ia memesan sesuatu pada bartender, Jungkook tidak terlalu peduli. Jungkook hanya menatap kosong pada rambut Hoseok yang sepertinya baru diwarna lagi, tanpa maksud apa-apa.
"Hoseok Hyung," panggilnya ragu-ragu karena sebersit opini tiba-tiba muncul di benaknya. Suaranya terlalu halus untuk bisa mengalahkan musik hingga Jungkook perlu memanggilnya lebih keras sekali lagi. "Bukankah katamu dulu, kau cukup dekat dengannya, dan jika aku menginginkan informasi—"
"Taehyung?" Barangkali Hoseok tau ke mana arah pembicaraannya. Sekali lagi Jungkook merasa ragu akan apa maksudnya tapi ia tetap mengangguk. Hoseok kemudian menggeser posisi duduknya, menghadap Jungkook dengan siku bertumpu pada meja lalu mencondongkan badannya. Ada jeda yang diambilnya sejenak sebelum bersuara nyaring, katanya, "Dia sedang ada urusan."
Tau apa yang disampaikannya terlalu basi untuk didengar siapapun. Terlalu klise dan tidak ada artinya, tercermin jelas dari raut kecewa Jungkook. Tapi tidak ada protes dari lawan bicaranya dan sejujurnya Hoseok merasa bersalah karenanya. "Aku tidak bisa memberitahu informasi lain. Tapi percayalah, dia akan kembali padamu," tambahnya kemudian.
"Padaku?" Jungkook tergelitik. Mendenguskan sarkasme yang juga mengores dirinya sendiri, "Memangnya siapa aku baginya? Kami tidak terikat apa-apa."
Satu tepukan mendarat di bahunya, lagi-lagi gestur tanpa kata dengan senyum seadanya. "Man, kau mabuk tapi pikiranmu rasional sekali," decaknya. Ia kemudian menarik gelas dari jangkauan Jungkook, menghiraukan pandangan kosong dari tetangganya itu sesaat sebelum beranjak. "Let me drive you home, Kook. Aku khawatir pengaruh alkohol semakin memperumit pikiranmu."
"Tidak. Tidak perlu repot-repot, Hyung. Aku akan pulang sendiri. Aku cukup sadar untuk mengemudi," tolak Jungkook kemudian meraih ponsel serta kunci mobil di meja bar dengan sedikit lebih banyak usaha. Berlagak baik-baik saja namun gagal di langkahnya yang keempat.
"Biar kuantar pulang, Jungkook," desah Hoseok cukup maklum.
Jungkook bangun ketika sinar matahari cukup terang untuk menembus tirai kamarnya. Kepalanya pening luar biasa dan tenggorokannya terasa sekering gurun Sahara. Ia beranjak untuk mencari segelas air tepat ketika perutnya terasa seperti diisi pisau-pisau blender. Haluannya buru-buru berubah ke kamar mandi.
Jungkook mencengkeram kloset kamar mandinya setelah tuas penyiram ditekan dan suara guyuran air menggema di dalam ruangan serba putih itu. Sisa-sisa alkohol, asam lambung, serta makan malamnya kemarin terasa seperti silet-silet mikro yang menguliti kerongkongan bahkan hingga faringnya. Perpaduan antara rasa pahit, sakit, dan menjijikkan hingga mual kembali memenuhi rongga perutnya. Suaranya menggema seperti seekor naga keracunan.
Ia akhirnya keluar setelah seperempat jam terduduk di lantai keramik kamar mandi yang dingin. Langkahnya gontai, lambungnya terasa tidak menyisakan apa-apa selain perih dan lapar. Ia kembali ke tujuan awalnya di dapur, menenggak air sebanyak —atau sedikit lebih banyak dari— yang ia butuhkan dan menyangkali perintah otaknya untuk menggapai makanan. Tidak ada apa-apa di apartmentnya, kebetulan sekali. Kondisinya pun terlalu buruk untuk bisa memasak sendiri. Kepalanya terasa lebih berat daripada sebelumnya, jaringan otaknya tidak dapat memproses letak terakhir kali ia meletakkan kotak obat maupun ponselnya.
Jungkook baru menyadari ada amfetamin di atas bedside, bersama segelas air mineral juga sebaris pesan ketika ia kembali ke kamar. Ia meraih goresan tinta di selembar tisu terlebih dahulu lalu membuangnya ke tepi tempat tidur. Sebelum tubuhnya dihempaskan kembali ke atas bed cover yang berantakan, Jungkook mengonsumsi pereda sakit tanpa melihat dosis yang dianjurkan. Jumlah tablet yang ditelannya lebih dari kebutuhan dan Jungkook tau benar. Coretan di tisu tadi sangat khas dan ia tidak ingin mengingat siapa penulisnya.
Jungkook menggeram rendah ketika hal paling pertama yang terlintas di ambang kesadarannya adalah Taehyung. Lagi-lagi ia menepuk bagian tempat tidur di samping tubuhnya saat alam bawah sadar belum sepenuhnya lenyap; hanya untuk merasakan sprei rapi tak tersentuh. Tidak ada siapa-siapa, tentu saja. Kedua kakinya turun dari petiduran, berjalan dengan separuh diseret ke ruang tengah.
Ia butuh satu mangkuk —atau mungkin dua— sup pereda mabuk. Denyut di kepalanya masih ada tapi tidak separah siang tadi, kalau asumsi Jungkook benar. Setidaknya ia ingat di mana ponselnya diletakkan sekarang. Jadi Jungkook bisa memesan dua porsi sup dari restoran di lantai teratas apartmentnya lalu duduk di tengah sofa ruang tengah. Menyamankan tengkuknya pada sandaran sofa dan mengumpulkan patahan-patahan ingatannya dalam keheningan. Hanya suara detik jam dinding yang gamang serta degup jantung yang tidak ia hitung. Mungkin beberapa perempat jam berlalu sementara pikirannya masih berputar dengan pola acak, lalu bel apartmentnya berbunyi.
Pesanannya sudah datang. Seharusnya. Tapi Jungkook membeku di depan pintu. Belum sepenuhnya menyadari apa yang tengah terjadi ketika suara di kepalanya berdenging nyata di kupingnya. Lalu sebuah badan ambruk tepat ke dalam dekapan tangannya.
Hal terakhir yang diingatnya sebelum panik melanda dirinya adalah sapaan lemah yang tak terpikirkan.
"Hai, Jungkook."
Jungkook memapahnya dengan sedikit kewalahan. Bukan karena ia tidak mampu menggendongnya semudah itu tapi karena takut akan kerapuhannya. Hangovernya terabaikan dan ia bahkan tidak mempedulikan noda merah yang mencoreng lantai serta sofa kesayangannya. Pikirannya berkali-kali memperingatkannya untuk tidak panik ataupun mual lagi sementara bibirnya mengucapkan kata yang sama; Taehyung beserta umpatan repetitif karena manusia itu tidak kunjung merespon.
Hal pertama yang dilakukannya ialah mengecek sekujur tubuh tamu sialannya, tidak menghitung lebam-lebam serta goresan-goresan karena di kulitnya. Ia mendesah nyaris frustrasi, menyadari basah di kaus hitam Taehyung adalah rembesan darah yang belum berhenti. Jungkook membuka kausnya sedikit terlalu kasar, mendapati sebuah luka tusuk di bawah tulang rusuknya dan goresan-goresan benda tajam lainnya. Tidak terlalu dalam, tapi jelas membutuhkan penanganan medis, setidaknya dua atau tiga jahitan.
Jungkook melepas kaus yang dikenakannya tanpa banyak berpikir. Merobeknya jadi helai panjang untuk membebat pinggang Taehyung. Tangannya menekan layar ponselnya dengan sedikit gemetar, mengotori iPhonenya dengan semburat darah segar ketika jemari-jemari Taehyung menyentuh pahanya kelewat lemah.
"Jangan. Jangan bawa aku ke mana-mana."
"Lukamu butuh dijahit." Jungkook masih berkutat dengan ponselnya. Satu tangannya menggenggam telapak tangan pemuda yang terbaring di sofa sementara ia membalas tatapan memohonnya dengan perasaan campur aduk, sebagian besar khawatir sementara sisanya tidak bisa ia definisakn dengan baik. Panggilan dengan nomor darurat sudah terhubung tapi rasanya terlalu lama untuk hanya sekedar menunggu jawaban.
"Kau. bisa. Melakukannya untukku, kan?"
Jungkook menggeleng kasar.
"Kumohon," pinta pemuda bersurai vanilla malt begitu miris. Suaranya pecah, nyaris sehalus desisan angin. Ia berusaha menggapai pergelangan tangan Jungkook, menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Hyung," hela Jungkook, kini mengabaikan jawaban dari unit gawat darurat di ujung telpon. Ia berdecak resah karena kekukuhan yang tersirat di mata Taehyung masih cukup jelas meski dalam kondisi sedemikian. Kalau ia ikut-ikutan bersikukuh lalu apa yang akan dilakukannya, memangnya? Menyeret calon mayat itu masuk ambulans?
"Kook."
"Aku tidak pernah menjahit luka orang lain."
"Kalau begitu jadikan aku pasien pertamamu."
Jungkook diam sepersekian detik, melirik ke kiri secara tidak spesifik sebelum berkelakar sekali lagi, "Aku tidak punya alatnya. Ayolah, Tae, kau—"
"Ada benang dan jarum jahit di balik cermin kamar mandimu, Jungkook," bantahnya dengan suara parau. Seringainya muncul separuh sementara Jungkook mengusap wajahnya lalu menyugar rambutnya dengan emosi tertahan. "Kumohon. Kumohon. Kumohon," Taehyung mendesah lebih frustrasi. Ia menggerakkan telunjuknya, mengisyaratkan Jungkook untuk mendekat.
Lalu ketika sang pemilik apartment itu ada dalam jangkauannya, Taehyung merengkuh bahunya hingga Jungkook nyaris jatuh di atas tubuhnya. Ia menciumnya dengan sisa-sisa amis di bibirnya juga lemas yang mendominasi badannya. Begitu kacau dan penuh permohonan hingga napasnya habis dan ia menarik diri.
Di jarak yang masih sangat dekat, tatapan Jungkook jatuh pada belah bibir Taehyung. Betapa ia merindukannya namun tidak dalam kondisi pucat, dingin, dan terluka, seperti ini. Ia masih ingin meraupnya sekali lagi, mencoba memahami pesan tersirat dari keinginannya kala Taehyung menjilat bibirnya yang mengering. Tapi—
"I feel. Nothing, Jungkook," desaunya dengan mata memejam. Dengan tangan bersemayam di dada bidang Jungkook yang telanjang, mengantarkan dingin dan gemetar yang kentara. Jungkook segera bangkit meski enggan.
"Berhenti menatapku seperti itu," adalah pernyataan Taehyung yang memecah kebisuan mereka selama Jungkook menjahit lukanya beberapa saat dan seterusnya. Suaranya terdengar lebih baik, kecuali nada bicaranya.
Pemuda yang duduk di tepi sofa, di samping tubuhnya, memilih tetap bungkam sementara ia mengoles povidone iodine pada luka di perpotongan leher Taehyung. Matanya mengkoneksikan tatapan khawatir dengan ekspresi tidak ingin dikasihani Taehyung. Ia hanya mengulas senyum tipis yang meredam dengusannya. Sungguh, beberapa saat lalu Taehyung mengetuk pintu apartmentnya dengan nyawa yang —mungkin saja— sudah menggantung di rongga dada, lalu kali ini ia mendampratnya sedemikian galak. "You're priceless, Taehyung."
"Apa kau merindukanku?"
Jungkook memutar matanya malas. Sebagian jiwanya masih tidak sudi dituduh demikian. Menurutnya, kekhawatirannya tidak boleh diartikan sebagai rindu secara keseluruhan. Jungkook hanya merindukan bibirnya, tapi bukan kata-kata pahit dan perangainya yang lain. Pokoknya jelas ada perbedaan antara duanya meski toh dampaknya sama-sama tidak enak. Jadi alih-alih membela diri, ia menyeka lebam di rahang bawah Taehyung dengan sedikit tekanan lebih. Pukulan protes di lengan bawahnya serta umpatan Taehyung kali ini entah mengapa terdengar menyenangkan baginya.
Jungkook membalasnya dengan kekehan cemooh, masih enggan berkata-kata. Hingga luka terakhirnya selesai ditangani, ia kemudian meletakkan kain basah di dalam wadah air dan menutup kotak first aidnya.
Taehyung sudah terpejam ketika Jungkook kembali. Dadanya naik turun teratur dan tangannya menggantung di tepi sofa, Jungkook membenarkan posisinya. Waktu nyaris mendekati tengah malam, Jungkook masih betah menatap Taehyung dalam diam. Sesaat ia berpikir bahwa pemuda itu sudah menjanjikannya sebuah kejelasan, maka ia akan menuntut penjabaran darinya segera sesudah ia bangun. Tapi kemudian ia mempertimbangkan kedudukannya. Jungkook itu siapa? Hoseok bahkan lebih tau apa yang terjadi dibandingkan dirinya. Lalu kalaupun ia mendapat informasi ke mana perginya Taehyung selama seminggu lebih ini, memangnya apa yang bisa dilakukannya? Apapun yang terjadi sudah terjadi, kalau Jungkook hanya ingin tau ceritanya, tampaknya seolah ia ingin menerobos privasi orang lain untuk kepuasan diri. Dan jelas sekali bukan itu yang ingin dilakukan Jungkook. Ia urung tapi—
"Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu atau aku harus pura-pura tidak mendengarnya?"
Jungkook nyaris terjengkang. Ia berusaha menyembunyikan tawa malu karena merasa begitu bodohnya.
"Mau tidur di sini atau di kamar?" Tanyanya tidak ingin menjawab pertanyaan Taehyung. Satu tangan mengusap pipi yang sehalus pualam saat pemuda itu menatapnya dengan kelopak mata separuh terpejam. Ia bangkit berdiri tapi, membungkuk untuk mengangkat Taehyung tanpa diminta pun tanpa ditolak.
Jungkook menyeret kakinya perlahan sambil menikmati sapuan napas hangat di perpotongan lehernya juga sentuhan ringan pada tengkuknya. Mendengarkan sederet penjelasan yang tidak dimintanya sementara ia berjalan ke kamar. Dalam hati ia bertanya-tanya seperti apa bentuk pertemanan yang dijalin Taehyung hingga ia mau mengambil resiko semacam ini, Jungkook sungguh tidak mengerti. Membantu teman, katanya. Ia hanya tersenyum secukupnya, mengetatkan rangkulannya, dengan kemelut pikiran yang kembali berdenyut. Mungkin Taehyung juga menyadarinya.
"Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, Jungkook," aku Taehyung separuh berbisik, tanpa Jungkook sadari terdengar begitu kikuk dan jujur. "Aku tidak ingin kau terlibat masalah—"
"Memangnya aku ini bocah umur berapa, Tae? Khawatirkan saja dirimu lain waktu," pangkas Jungkook sambil lalu ketika bayang-bayang khawatir dan galaunya seminggu penuh melintas lebih cepat dari impuls di saraf sadarnya. Ia melepas kaus yang terkena noda darah —lagi— lalu mengambil gantinya dari tumpukan teratas di lemari baju. Tidak ada satupun yang berbicara hingga Jungkook menengok, sadar Taehyung tidak berkata apapun tapi menatapnya dari tempat tidur sedari tadi.
Jungkook memijat cuping hidungnya sejenak. "Maaf." Ia menggigit bagian dalam pipinya sementara Taehyung hanya mengangguk, kemudian merogoh saku celananya dalam diam. Jungkook sudah hafal isi saku kanan Taehyung. Ia berdecak, "Taehyung, aku sangat mengkhawatirkanmu—"
"It's fine. I'm fine, Kook," kekeh Taehyung singkat sembari berusaha duduk dan menyandar di headboard perlahan-lahan. Begitu ingkar sementara ia menurunkan kakinya dari ranjang dengan sedikit ringisan yang disembunyikan. Jungkook memblokir jalannya. Langkahnya lebar, lalu mematung begitu dekat hingga Taehyung bisa saja mencium dadanya.
"Mau ke mana?"
"Ke balkon." Taehyung mendongak.
Alih-alih mengeja nama Taehyung dalam helaan kesal untuk kesekian kalinya malam ini, Jungkook membungkuk untuk mengambil sekotak rokok serta pemantik di tangan Taehyung. Pemuda itu mengetatkan cengkeramannya, membiarkan buku-buku jarinya begitu terpatri di telapak tangan Jungkook lantaran enggan menyerahkan barang kepemilikannya.
"Bisa tolong berhenti menyakiti dirimu sendiri?" Jungkook mensejajarkan pandangannya, kesabarannya terkikis.
"Aku baik-baik saja—"
Jungkook memotong ucapannya dengan sebuah sentakan hingga pemuda itu terhempas ke kasurnya. Barangkali kesabarannya habis, umpatan spontan kali ini terabaikan. Ia menunduk, menindih badan kurus Taehyung hanya untuk menjaga kontak mata mereka. Lengan kokoh Jungkook di samping kepala Taehyung sementara wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Obsidian Taehyung yang membulat serta kelopak bibirnya yang terkuak karena kaget adalah sesuatu yang mengundang dengan caranya. Lalu keenggannya mempertahankan kontak mata di antara mereka, padahal biasanya Taehyung selalu menatapnya seolah ingin melubangi kepalanya karena hobi. "Beginikah yang kau sebut baik-baik saja?"
Jungkook membenahi posisinya, duduk di area abdomen Taehyung yang seingatnya bebas luka. Ketika Taehyung hanya membuang muka tapi jemarinya gugup bermain dengan ujung kaus. "Begini kau sebut baik-baik saja?" Tanyanya lagi meskipun ia sadar, pertanyaan retorikalnya tidak menginginkan jawaban.
"Atau kau suka disakiti, Tae?" Tanya Jungkook halus. Telapak tangannya meniti badan yang terbungkus kaus tipis miliknya, memeta lebam-lebam yang tadi dirawatnya. Jakun Taehyung bergerak perlahan dan Jungkook terkekeh karenanya. Jari tengahnya berhenti di rusuk kedua belas, menekan area dekat luka yang baru dijahitnya beberapa saat lalu. Perlahan dan eksperimental sementara ia memperhatikan raut muka Taehyung. Alis tertaut, mata terpejam rapat, serta rahang yang mengetat; masih membuang muka.
Pandangan Jungkook berpindah pada bagian yang ditekannya. Ketika warna merah yang mulai merembes pada kaus putihnya tampak jelas, seolah ekstasi mempengaruhi kerja sarafnya. Lalu ia teralihkan lagi karena deru napas Taehyung yang berat dibarengi remasan seduktif di pahanya.
Jungkook yakin Taehyung melakukannya tanpa sadar. Pun demikian, ia tidak juga berhenti. Semburat merah nan abstrak di bawah lampu kamarnya yang masih benderang mengusik libidonya. Pola cerah yang kian solid memperderas desir adrenalin di darahnya.
Taehyung mengigit bibirnya dan Jungkook tidak bisa berpikir dua kali untuk tidak menyambar mulutnya. Menggantikan gigi Taehyung di bibir bawahnya lalu menyesap sobekan di ujung bibirnya. Sensasi besi yang hinggap tidak hanya di reseptor perasanya tapi juga membelai saraf hidungnya. Barangkali Jungkook tidak semestinya merasa sedemikian terpancing, antusias dan penuh gairah. Barangkali pikirannya sudah tidak waras ketika Taehyung meremas rambutnya, menarik seluruh rasionalitasnya.
Tangan Taehyung merusak kaus kesayangannya. Telapak tangan Jungkook membara di perpotongan pinggangnya. Sama-sama butuh, sama-sama lupa bagaimana segala sesuatunya seharusnya berjalan. Cahaya di mata Taehyung menggelap, barangkali lebih pekat daripada pancaran apapun yang pernah dilihatnya.
Hasrat Jungkook berpijar tapi spektrumnya terlanjur kelam. Baginya kini, erangan Taehyung terdengar lebih menyenangkan daripada dentingan lonceng. Kulitnya yang lembap karena keringat jauh lebih nikmat daripada madu di bibirnya. Ia bertindak sesuai keinginan hatinya, lupa caranya bersikap manis, lupa caranya berhenti. Meraup dagu pemuda di bawahnya dengan berantakan, menyusuri rahangnya dengan lidah dan bibir yang lapar.
"Sayang sekali lehermu penuh zat kimia." Jungkook membisik di daun telinganya. Satu tangannya mulai berkelana melewati waistband Taehyung.
Pemuda bersurai vanilla malt itu mencengkeram bisepnya. Napas putus-putusnya bergelut dengan gelora yang tidak kunjung terpuaskan. "Wreck me."
"It's my pleasure."
HEHE. It's hellozuan again. Nah, as I said, ini bukan benar-benar chapter 4. Maaf sekali ya it's kinda pwp. Aku ngga mau panjangin author's note sekarang. Cuma, school sucks. I can barely manage my time. Chapter ini, cuma mau meyakinkan saja, I'm still alive and working on it. Please, stay, reader-nim. Gomawo. Saranghae.
