Skeleton In The Closet
still Chapter 4
Cast(s): Jeon Jungkook / Kim Taehyung
Rating: slightly M, just a super tiny scene.
expect nothing but enjoy reading, Baby.
Jungkook membelalakkan matanya dalam detik yang menyakitkan —baik bagi indera penglihatannya ataupun ujung saraf di otaknya— ketika sekelebat bayangan menabrak pembatas sadarnya seperti sebongkah benda masif yang memecahkan kaca jendela. Ia nyaris terjatuh dari tempat tidurnya, kalau saja tidak ada seseorang yang dengan tenang dan damai menggunakan bisepnya sebagai bantal, meringkuk memunggungi Jungkook tanpa balutan sehelai kain pun kecuali bed cover yang menutupi pinggul hingga lututnya. Kulitnya tampak halus di bawah sapuan cahaya malam yang menyusupi celah balkon. Dan butuh beberapa saat bagi Jungkook untuk yakin ia sudah bangun.
Jungkook menarik napas dalam sebelum benar-benar sanggup mengolah hal yang membuatnya tersentak dari mimpi. Ia tidak suka cahaya sedikitpun mengganggu tidurnya tapi pemuda yang masih lelap di sampingnya selalu menyingkap tirai yang ada. Mematikan lampu tapi tidak ingin sepenuhnya terluput dari penerangan, entah sinar bulan atau sekedar gerlap kota yang jauh dan samar. Jungkook belajar menebak waktu berdasarkan intensitas cahaya dari luar jendela karena kebiasaan pria yang cukup sering menumpang tidur di kamarnya. Sekarang barangkali pukul lima. Dan, oh, ia terbangun karena ingat pintu apartmentnya belum dibersihkan. Berharap tidak ada yang cukup peduli dan sadar soal darah yang menodai pintu putihnya.
Agaknya sedikit mustahil, tapi lebih baik terlambat daripada membiarkan segalanya bertambah buruk. Sekarang Jungkook berusaha menarik tangannya yang mati rasa perlahan. Napasnya tertahan ketika manusia di sampingnya menggeliat dan menggumamkan kata-kata inkoheren. Ia tidak ingin mengganggu tidur orang lain tapi pria itu berpindah posisi seenaknya. Menaruh kepala di dada Jungkook lalu menjerat badannya dengan tangan dan kaki begitu erat.
Terlalu rapat. Jungkook bahkan terlalu sadar akan bagian privat yang bersinggungan dengan pinggulnya. Sayang sekali, saat ini memang waktunya adik-adik terbangun tapi ia tengah berpikir dengan bagian otaknya yang tidak cabul. Jungkook menghela napas berat. Bingung harus meletakkan tangannya di mana, tidak yakin harus membangunkannya atau tidak.
"Jangan pergi."
Setidaknya ia tidak perlu memikirkan pertanyaan yang kedua tapi, duh, suara serak Taehyung menyaingi kedalaman samudera, terlalu pagi untuk terdengar di kamarnya. Napasnya menghangat di ceruk lehernya dan berdampak lebih dari seharusnya. Jungkook pikir, iblis mana yang terlalu rajin bangun pagi untuk menebar bibit dosa di kamarnya.
"Aku perlu membersihkan pintu depan sebelum seisi gedung ini heboh." Jungkook berakhir meletakkan telapak tangannya di bahu Taehyung, mengguncangnya sedikit. Ia menunduk ketika seniornya itu hanya menggusakkan kepala di tulang selangkanya. Jantungnya serasa bengkak sedetik kemudian karena, astaga, Jungkook harus susah payah tidak mengerang. Sepasang onyx redup di bawah bayang-bayang bulu mata lentik meliriknya, masih digelayuti rasa kantuk dan bersusah payah mengajukan protes. Bibirnya mengerucut lucu. Sobekan di sudutnya ataupun bengkak di sudut yang lain terabaikan. Taehyung. Imut. Sekali.
Sialan. Apakah setan juga bekerja memainkan perasaan dengan cara yang inosen?
"Oh."
"Ya, jadi—"
"Semalam aku mendengar seseorang menjerit di luar."
"Astaga, mati aku. Tae—" Jungkook merasa semakin perlu bergegas tapi Taehyung kukuh merengkuh tubuhnya.
"Yeah, mati kau, Jungkook-ah," kikik Taehyung masih dengan nada malas. "Temani aku selagi ajalmu masih di jalan," rajuknya tidak peduli sebelum Jungkook sempat merespon satu silabel pun. Jemarinya bermain sedikit di bawah tulang selangka Jungkook, membentuk pola abstrak yang mengeruhkan akal.
Dan Jungkook segera menggenggam pergelangan tangan Taehyung. Decak jengkelnya bukan karena tidak terpancing sama sekali. Ia berusaha menangkal rangsangan sebelum segalanya kelewat mustahil ditolak. Momen yang ada di kepalanya masih sepekat aroma after sex yang memenuhi kamarnya. Sungguh pun ia sanggup mengulang setiap perlakuan intensnya semalam tanpa keliru detail sedikitpun, ia memilih tidak. Jungkook ingin bersikap manis pagi ini.
"Don't you feel gross?"
Sebersit tawa malas teredam di puncak kepala Taehyung. Tidak terlalu peduli dengan badan yang lengket ataupun lembab keringat yang masih tersisa, Jungkook menghirup wangi tubuh pemuda itu sedemikian khidmat lalu menggumamkan maaf seiring helaan napasnya. Telunjuknya menyusuri permukaan kulit Taehyung, meniti satu persatu bagian yang kontras dengan warna tan yang menawan; lebam karena alasan yang tidak —belum— diketahuinya secara jelas ataupun hasil karya bibirnya di sepanjang tulang punggung Taehyung.
Jungkook kehilangan niat untuk beranjak sepenuhnya. Tangannya menyusupi selimut tanpa niatan minor dan gumaman aproval Taehyung merambat dengan manis di sepanjang saraf auditorinya, membuatnya masa bodoh dengan pintu apartment atau bencana yang mengantri di baliknya. Ia berencana memikirkannya nanti, barangkali segera setelah terbangun lagi.
"Jadi apalagi fetishmu selain darah, hm?"
Jungkook mengerang di benaman wajahnya, menggerutukan Taehyung yang merusak ketenangan paginya —yang langka. Kantuk yang mulai melingkupinya terhalau kembali dan Taehyung yang acuh malahan semakin giat menggoda. Gemericing tawa jahil disertai napas hangat di ceruk lehernya terasa begitu dekat tapi tak menyentuhnya sama sekali.
"Bisa tidak bicarakan soal itu?" keluh Jungkook. "Aku—"
"Adalah tipe kuno yang menyukai vanilla karena tidak ingin melukai partner seksku," potong Taehyung santai disertai dengusan malas, jelas tidak terkesan. "I'm gonna be fine," kata Taehyung begitu enteng dan jengah.
"Taehyung—"
"Jangan." Taehyung menyerobot dengan membersit. "Jangan marah lagi, Kook-ah." Jemarinya tergulung gelisah, meremas ujung bed cover yang menutupi tubuh Jungkook sekenanya, nyaris menyingkap tubuh bawahnya yang polos. "Ini namanya kepercayaan, kau tau? Aku yakin aku akan baik-baik saja selama itu kau, Jung—"
Jungkook mencuri satu kecupan kilat. Ia memandangnya dengan garis bibir datar dan tatap mata yang suam-suam kuku, enggan membicarakan apa-apa soal makna sepagi ini. Obsidian yang melebar karena terkejut —sayang sekali— hilang dalam satu kedipan mata. Tergantikan oleh lengkungan bulan sabit serta senyum boxy arogan yang sangat Taehyung sebelum ia mendongak meraih bibir cemberut Jungkook. "Marahmu ngeri, asal kau tau," bisiknya sembari menarik bibir bawahnya dengan gigi lalu mengulumnya pelan dan tanpa keraguan. "Tapi aku suka."
Satu lagi kepingan teka-teki Taehyung yang tidak tau harus diletakkan di mana, ketika pemuda pirang itu memainkan suasana semudah memesan kudapan.
Jungkook menyamankan posisinya tanpa mengalihkan tatapan barang sedetikpun. Tangannya meremas bokong seniornya namun bibirnya terkatup pasif. Ia membuka celah mulutnya setelah genggaman di bahunya mengetat, membiarkan sang senior bereksplorasi sendirian. Menyesap bibirnya perlahan dan begitu memabukkan.
"We can talk properly, Jeon." Napas Taehyung menerpa dagunya, menguap bersama sapuan bibirnya yang pudar. Jungkook menggumam tanya, berusaha tetap waspada meski kelopak matanya sedikit terberatkan. "Speak up your mind." Taehyung menyeret ujung jarinya menyusuri garis rahangnya yang tegas sementara Jungkook membeku karenanya.
Barangkali Jungkook selalu butuh waktu untuk memilah opini dan tanda tanya di benaknya meskipun Taehyung bisa mendengarkankan seluruh pemikirannya. Jungkook tidak ingin kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar sebodoh kumpulan prasangka tak terucapnya.
"Aku pikir kau tidak lagi terlibat sesuatu hal yang ilegal." Helanya akhirnya. Masih tidak terlalu nyaman dan yakin akan topik pembicaraannya pagi ini.
"Mm. Memang," Taehyung mengangguk monoton. "Membantu teman tidak ilegal, kan."
"Lalu kenapa—?" Jungkook mendesah pelan. "—kenapa bisa seperti ini, Tae?" Ia mengusap tulang pipinya perlahan lalu turun hingga mencapai sudut bibirnya yang terluka.
"It's not actually as bad as that, would you believe me?" Taehyung menyisipkan jemarinya di antara milik Jungkook, menjauhkan tangan mereka dari wajahnya. "Tidak semua orang yang kau temui di bawah tanah itu buruk. Mereka bukan mesin pembunuh yang tidak tau bentuk hubungan kemanusiaan. Well, hanya saja beberapa hal memang menyimpang dan tidak sesuai ekspektasi."
"Oh, ya?"
Taehyung mendengus karena nada mencibir Jungkook. "Ya. Aku pikir aku hanya akan jadi mediator, bukan sasaran serpihan kaca etalase."
"Bisa ceritakan padaku bagaimana kronologinya?"
"Kau terdengar seperti polisi bagian administrasi. Memangnya apa yang akan kau lakukan? Memenjarakan mereka? Atau berniat membantuku balas dendam?" Tanya pemuda bersurai vanilla malt sarkastis. Jungkook hanya menghela napas, tanda ia mengalah yang justru membuat Taehyung membuka mulut lagi meskipun ia enggan. "Intinya, aku pergi ke basecamp untuk menemui mereka berdua. Kupikir mereka ingin berdamai tapi ternyata mereka tidak datang sendirian. Begitulah. Diawali dengan ketegangan lalu berakhir dengan kekacauan. Belum pernah kujumpai orang sepengecut mereka." Taehyung menggeritkan giginya. "Ingin rasanya kupatahkan tulangnya, satu saja. Ruas jari atau sekedar tulang hidung."
Mungkin terdengar lucu kalau bukan Taehyung yang mengatakannya. Tapi tidak ada yang bisa Jungkook lakukan selain mengusap punggung tangan seniornya dalam diam.
"Kadang aku ingin kembali menghajar orang," katanya lebih pada dirinya sendiri. "Kadang seperti itu caranya menyelesaikan masalah di tempatku."
Jungkook tanpa sadar menelan ludahnya. Lalu sedetik kemudian Taehyung mendongak dan memamerkan senyum miring yang sedikit masam. "Seratus delapan puluh derajat dari lingkunganmu, huh?"
Jungkook awalnya mengendik. Memilih menyusupkan tangannya melingkari pinggang Taehyung lalu mendekapnya lebih erat. "Kenapa begitu?" Tanyanya kemudian.
"Karena mereka temanku."
Maka selanjutnya Jungkook mengerutkan kening. Ia menunggu jawaban lain. Setidaknya beberapa kalimat yang lebih rasional. Tapi Taehyung semakin membuatnya tak mengerti. "Ada beberapa hal yang sebaiknya cukup kau pelajari dengan mengamati," katanya, merapatkan kelopak bibirnya membentuk senyum tipis. Ia mengulurkan tangan mengusap sebelah alis Jungkook, menyibak ketegangan. "Kau tidak mengerti," ucapnya halus.
"Memang. Maka dari itu, tolong. Buat aku mengerti." Jungkook menggenggam pergelangan tangan Taehyung. Menatapnya serius seolah tidak ada yang lebih masif dari keinginannya saat ini.
Taehyung menghela napas. "Kenapa, ya?" Tanyanya mengawang. "Maybe because I have no one called home?
Ibuku sudah pergi dan ayahku seolah hanya delusi. Ia memenuhi semua kebutuhanku, membiarkanku melakukan apapun yang kumau tanpa batasan apapun. Membayar apa yang kurusak, membereskan masalah yang kubuat tapi tidak pernah menegur barang satu kalimat utuh. Ia tidak benar-benar ada. Kami tidak saling memiliki. Barangkali kalaupun aku membunuh orang dan jadi buronan 10 negara ia akan tetap mengatupkan mulutnya.
And then those who are called monsters happened to be the closest shelter I can reach." Nada bicara Taehyung berangsur kehilangan tensinya. "They means a lot to me. But I have never say a word about it."
Jungkook terdiam sementara pikirannya sedikit banyak terisi kekecewaan. Ia membayangkan berapa banyak orang yang dekat dengan Taehyung, begitu dekat dan berarti buatnya, sementara Jungkook saat ini mendekap figurnya tapi tidak tau apa-apa.
"Jangan cemburu, Jeon. Kami tidak lebih dari teman." sebersit tawa Taehyung terdengar kering. "I love them and I can't simply ask them to do the same."
"You're so precious, Tae," Jungkook menghela kesan untuk dirinya sendiri. Ia kemudian melirik Taehyung yang telah terlebih dahulu menatap lurus padanya. Air mukanya tenang. "Aku juga bisa jadi perhentianmu," tawarnya sedikit ragu-ragu sebelum ia mengumpulkan segenap tekadnya. "Aku juga bisa jadi apapun yang sedang kau butuhkan, Kim."
Taehyung hanya menatapnya untuk beberapa waktu selagi pandangan mereka bertensi. Kemudian ia yang pertama kali melembut, menunduk dan tersenyum rapat sementara Jungkook mendapati dirinya sekali lagi dikecewakan reaksi Taehyung. "Jadi, menurutmu, hubungan macam apa kita ini, Jungkook-ah?"
"Well, depends on."
"Hm?"
"How do you want it to be then—"
"What am I to you?" Tanya Taehyung buru-buru.
"Oh, ya, apa kabar lukamu?" Jungkook mengelus rusuk Taehyung kelewat halus, membuatnya mendengus lucu.
"Duh," erang Taehyung dibuat-buat. Bukan hanya karena percakapannya dibelokkan, ia pun masih ingat jelas rasanya luka jahitan ditekan sampai terkuak kembali. "Katakan saja jika enggan menjawab pertanyaanku."
Jungkook sedikit tercenung. Tatapannya tertuju pada kelopak bibir Taehyung sementara ia menutup mulutnya rapat-rapat. Jungkook tidak mudah terikat. Ia sangat —atau bahkan terlampau— hati-hati dalam membangun hubungan. Entah privasi ataupun harga diri, ada batas tebal yang masih membuatnya ragu untuk jatuh duluan. Ia berusaha menilai ekspresi Taehyung, mencari sedikit petunjuk tapi pemuda itu tenang menyembunyikan perasaannya. Jungkook lupa segenap pikirannya mudah sekali terdengar sementara ia tidak bisa membaca apapun di diri Taehyung. Pelajaran mikroekspresinya terlupakan hingga ia merasa begitu dungu. "Maaf," gumamnya akhirnya.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Taehyung dengan nada menggoda namun begitu telak membuat Jungkook merasa terpojokkan. Tidak ada yang bisa dikatakannya hingga beberapa detik kemudian, Taehyung beranjak duduk di abdomennya. Kedua lutut di samping tubuh Jungkook dan telapak tangan yang menekan absnya. Ia memandang hazel Jungkook dengan iris yang menggelap serta mood yang berubah lagi.
"Tae—"
"Tidak perlu mendefinisikan apapun selama kau ragu, Kook—ah," Taehyung meniti abs Jungkook dengan jemari kurusnya, perlahan naik hingga menekan sternumnya. "Less talk, more action," desaunya dengan suara yang pecah karena saking samarnya. "I like it," Ia tersenyum tipis, sedikit bergurau dan sedikit menantang hingga Jungkook mengerang, meraih tengkuknya lalu menariknya mendekat.
"Satu hal," Taehyung berusaha menyekat diri dengan tangannya. Tatapan matanya begitu lekat dan pekat sementara hidung mereka sudah saling bersentuhan. "Ketika kau memiliki sesuatu yang baru, kau tidak bisa semudah itu melepaskan yang lama, kan?"
"Hm."
Lalu Jungkook menghabiskan jarak yang disisakan Taehyung. Melumat kelopak bibirnya tidak sabar namun tetap mendetail, tidak kelewatan setiap sudutnya. Memenuhi kamar tidurnya dengan decak bibir yang dalam dan panjang serta deru napas tipis dan pendek. Kedua tangannya mulai turun menggerayangi kulit tan Taehyung sementara pemuda itu betah menaruh tangannya di bisep Jungkook. Dan Jungkook bersyukur hobinya pergi ke gym tidak sia-sia.
Ia mencumbu rahang seniornya lalu berhenti di perpotongan lehernya, sejenak merasakan denyut nadi Taehyung di bibirnya. Hitungannya kacau karena jeratan tangan Taehyung di rambutnya begitu menuntut tapi Jungkook jelas tau adrenalin tidak hanya berpacu di aliran darahnya. Ia menyesap permukaan kulit dekat selangkanya, mempergelap bercak bibir yang sudah diukir sebelumnya.
"—Fuck. Jungkook," desah Taehyung berat dan dalam ketika jemari Jungkook bersentuhan dengan nipplenya yang menegang. Ia melengkungkan tulang punggungnya, menggerakkan pinggulnya gelisah, mencoba mendapatkan friksi lebih.
"Kau tau, Kim?" Jungkook berbisik tepat di lengkung telinganya yang memerah, puas dengan reaksi terkesiap pemuda di atasnya ketika ia menggenggam ujung tersensitifnya. "Aku bahkan belum menyentuhmu sama sekali," katanya lagi perlahan, menikmati sensasi kuku Taehyung yang menekan permukaan punggungnya. Ia mengusap precumnya lambat-lambat, menuai erangan rendah namanya lolos dari bibir Taehyung. "Tapi kau sudah basah."
"Holy shit!" Jungkook menggeram kesal. Hal terakhir yang diinginkannya pagi ini adalah perusak momen, terlebih dalam bentuk dentuman pintu apartment yang kasar dan tidak kunjung berhenti. Seluruh atmosfirnya runtuh seketika. Taehyung refleks menarik diri, kembali bergelung pada bed cover putihnya. Ia melirikkan mata ke pintu keluar, meminta Jungkook beranjak tanpa kata-kata. Ada sedikit kecewa di kerlingan matanya yang jahil sebelum ia menyembunyikan diri sepenuhnya di balik bed cover. Jungkook dengan enggan bangkit, membersihkan diri sekenanya lalu mengambil celana bersih. Ia bergegas membuka pintu yang tidak henti digedor, masih disertai pikiran berkabut.
"Oh, Jungkook, aku membutuhkan buku referensi tentang—" tamu di depan kediaman Jungkook mengerjap sejenak, seolah menyadari tatapan tajam Jungkook yang hanya menyelingakkan kepalanya dari balik pintu. "Ah, aku lupa apa judulnya. Izinkan aku masuk, aku butuh mencarinya di rak bukumu."
"Tidak. Boleh. Jim." Jungkook tidak membukakan pintu lebih dari satu jengkal tangannya. Badannya tersembunyi di balik pintu. "Jam berapa ini?" Gerutunya jengkel.
"Aku tidak boleh masuk?" Tanya Jimin dengan kedua alis terangkat. "Apa kau bersama Taehyung?"
Nama Taehyung tanpa sadar membuat pipinya memerah. "Bukan urusan—" Jungkook terhenti begitu hangat tubuh seseorang mendekapnya dari belakang. Ia menoleh ketika penghuni apartmentnya yang lain menumpukan dagu di bahunya.
"Woah. Thanks, Taehyung."
Jungkook kembali menoleh, menyadari Taehyung menyelinapkan tangannya melalui celah pintu dengan sebuah buku yang masih tidak ia ketahui apa. Ia memilih menutup pintu kemudian, mengabaikan ucapan basa-basi lainnya, kalimat menggoda Jimin, ataupun siulan kurang ajarnya. Tatapannya tertuju pada Taehyung, curiga.
"How could you—"
Pemuda itu mendorong Jungkook perlahan hingga punggungnya membentur pintu. Senyumnya terplester rapi ketika ia mengecup bibir Jungkook cepat. Lalu ia berbalik dan melenggang kembali ke kamar. Merenggangkan badan seiring langkahnya hingga sweater yang dikenakannya naik. Hanya sweater abu-abu kesayangan Jungkook yang membalut tubuhnya, jatuh sempurna menutupi seperempat pahanya kemudian tersingkap sebagian memamerkan lekuk tubuhnya.
"Lebih cepat ia mendapatkan apa yang ia butuhkan, lebih cepat ia pergi. Bukankah begitu?" Tanyanya sembari menoleh sejenak, memastikan Jungkook melihat bagian tubuhnya yang terekspos dengan jelas. "Jadi, kau mau kita menyelesaikan urusan kita atau kau bisa mengurus dirimu sendiri?"
Seingat saya, saya berusaha merampungkan chapter ini dalam waktu satu bulan, but time flies and it's been couples of months. UN sudah selesai yay tapi SBM masih ada. So, yeah, don't expect me to update soon. I love y'all, guys. Please be kind to drop some reviews. XOXO
