.

.

Djakarta, 1945

by

Spica Zoe

.

Segala jenis kepemilikan chara bukan kepunyaan saya

.

Kantai Collection

Akagi-Kaga

.

Atago, berusaha menepis dugaan akan seberapa besar ia mencintai seorang perwira tinggi yang telah dikenal secara luas sebagai seorang suami dari putri tunggal mantan perwira tinggi di negaranya.

.

.


Dua tahun sejak pertemuan penuh airmata. Hari-hari yang telah ditinggal perang menjadi jauh lebih terang. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Perang tak sekejam dulu, darah tak semanis madu.

Kini bisa dipastikan, tawa dan riang bisa dengan senang hati diperdengarkan.

Tokyo, 1947.

Perlahan telah diisi oleh harapan-harapan sisa pejuang.

.

Negara ini telah jauh lebih hancur dari pada negara-negara lain di dunia. Perang dunia kedua sebagai mana mereka sebutkan telah membuat negara ini terlucuti oleh kandasnya kehormatan. Kehilangan tumpuan, mati tak bertulang.

Tapi, harga diri peperangan membuat mereka bangkit perlahan untuk berjuang.

Saat Kaga kembali, ia merasa sudah tidak ada lagi harapan bagi negara yang ia rindukan untuk membangun masa depan. Untuk itu, ia memeluk Akagi dan Handa dalam dekapannya. Memeluk mereka dengan penuh airmata terurai. Sebab ia tahu, mereka telah salah bertempat.

Namun, seiring waktu yang telah mereka tempuh bersama. Hidup bersama. Semakin Kaga menyadari, ada harapan yang bisa mereka perjuangkan di tempat ini. Baik Kaga maupun Akagi telah mampu membuktikan jika mereka bisa berdiri dengan kendali mereka sendiri, tanpa adanya campur tangan dari orang asing, meskipun Yukimura berhak menunjukkan wajahnya.

.

Ya bagaimanapun, Yukimura memiliki hak untuk menemui putrinya. Meskipun Kaga menolak permintaan Akagi untuk mengakui keberadaan dirinya sebagai orang yang dicinta. Demi masa depan Handa, dan demi nama baik Akagi yang masih resmi sebagai istri Yukimura. Sedang kabar hubungan Atago dan Yukimura, tak lagi ia permasalahkan.

Yukimura mengangguk memberikan persetujuan bagi Kaga untuk tinggal bersama Akagi sebab Atago yang meminta. "Jika memang Akagi-san memilih untuk berpisah darimu meski kau tidak sudi menceraikannya. Biarlah Kaga yang membantu untuk menjaga mereka."

Meskipun bagi Akagi sendiri, ia dan Yukimura tak bercerai pun nyatanya sudah tak lagi ingin ia pedulikan. Baginya Kaga adalah segalanya. Segalanya yang lebih berharga dari dunianya.


"Kita pulang, Kaga-san, akhirnya aku bisa merasakan betapa damainya hidupku ketika bersamamu." Meskipun sudah dua tahun berlalu, kenangan tentang seberapa nelangsanya Akagi saat mendapati ia pulang tanpa Kaga dua tahun lalu masih begitu kental. Sakit karena rindu, asa yang menipis, sabar yang mulai habis, seakan menggerogoti akal sehatnya, semangat hidupnya. Dan saat itulah ia menyadari, tanpa Kaga, hidupnya pun tak ada guna.

Malam itu, sinar lampu sengaja Akagi padamkan. Dua tahun mereka bersama, malam-malam tidak pernah ia lewatkan jika tidak merasakan betapa hangat tubuh wanita yang dicintainya.

Ia mencintai wanita ini, sangat mencintainya. Ingin mati rasanya jika sejenak saja ia memikirkan bagaimana ia ditinggalkan, lagi. Begitupun adanya dengan Kaga.

Mereka saling mengecup untuk kesekian kali. Aroma jejak rasa sisa dari teh yang Akagi konsumsi mengisi perasa Kaga. Mengantarkan seberapa nikmat bibir itu untuk ia nikmati. Basah. Lembab. Nuansa yang tidak pernah ada bosannya untuk mereka rasakan. Tiap malam, selama dua tahun tinggal bersama. Mereka menjadi budak untuk satu sama lain.


Fajar menyingsing lebih cepat pagi ini. Handa berlarian ke halaman belakang, umurnya belum genap mencapai enam tahun, tapi cantiknya telah terpancar menyerupai ibunya. Tatapannya yang sendu namun mengikat. Senyumnya yang hidup dan bermakna. Juga surainya yang nyaris sama seperti ibunya. Hidung yang mancung, pipi yang berisi masih tampak menggemaskan. Semua, segalanya menyerupai ibunya.

Kaga, menikmati pemandangan itu. Melihat Handa menari-nari bersama beberapa kupu-kupu di sekitarnya. Tertawa, terkadang bernyanyi. Penuh imajinasi.

Dan tanpa ia sadar, sudah puluhan kali ia memergoki, betapa sering ia tersenyum karenanya. Ini adalah kehidupan yang paling ia inginkan. Melanjutkan hidup bersama orang-orang yang ia sayang. Perang tak sepenuhnya menjadi hal yang ia benci, sebab karena adanya perang, takdirnya menjadi seindah ini.

"Perang itu menakutkan," Bisik Akagi yang tiba-tiba hadir dari sisi belakang si pemikir kehidupan, Kaga. Mendekapnya dalam satu hentakan lembut dan mengecup pipinya. Tersenyum, Kaga hanya diam pada posisinya. Membiarkan Akagi semakin erat memeluknya, mendekapnya, bahkan menyisipkan tangannya dibalik Yukatanya. Hangat. Payudaranya menangkap sensasi hangat dari milik Akagi, kekasihnya.

"Tapi, kau membuatku mampu menundukkannya." Serunya lagi.

Tidak pernah bosan rasanya bagi mereka berdua, bercumbu dan terus bercumbu disetiap waktu. Cinta yang mereka rasakan terlalu dalam dan menggebu. Bukannya berangsur mati dan padam dimakan waktu, malah semakin kuat dan menggenang, tumpah ruah. Kaga membalik tubuhnya. Menangkap tangan Akagi yang masih terselip di Yukatanya dan menariknya keluar. Ia menatapi wajah itu. Wajah yang telah membuatnya sebagai wanita paling terkutuk karena telah jatuh cinta pada seorang istri dari pria lain. Sedang Akagi hanya tersenyum lembut.

"Aku merindukanmu." Bisik Akagi, mengarahkan wajahnya mendekati leher Kaga, menghirup bahu tubuh wanita itu dalam-dalam. Ia ingin bernapas hanya dengan bau itu. Bau dari tubuh yang telah nyaris sama dengan baunya. Bau yang sudah membuatnya semakin terlena. Dijulurkannya lidahnya menyentuh kulit-kulit yang masih memerah itu. Bekas-bekas gigitannya masih terlalu banyak di sana. Bekas cinta yang membara, bekas nafsu yang memaksa. Sedang tangannya ia eratkan pada pinggang Kaga. Menariknya untuk menyatu dengan tubuhnya. Kaga menahan desahannya.

"K-kita, baru saja melakukannya beberapa jam yang lalu, Akagi-san." cercah Kaga, sambil sekuat tenaga ia memisahkan ucapannya keluar tidak bersamaan dengan desahan yang setengah mati ia tahan. Lidah-lidah basah Akagi, menyapu luka-luka gigitan di lehernya dan membuat perih. Tapi ia semakin terangsang dengan itu. Kakinya melemas, hingga saat Akagi sadar wanita itu mungkin tak akan mampu lagi bertumpu, dengan inisiatifnya, ia mendorong tubuh Kaga menempel pada tiang besar yang tak jauh dari mereka.

Bruuuuk!

Punggung Kaga terbentur sampai suara benturan itu cukup keras terdengar. "Auuhh.." adunya saat Akagi memandangnya khawatir. Pandangan mata yang tak pernah bosan ia temukan. Ekspresi wajah Akagi yang seperti ini yang membuatnya selalu menyayanginya berkali-kali lipat. "Apa itu sakit?" bisik Akagi menyentuh bibir bawah Kaga. Memandanginya penuh tanya, wajahnya terlihat khawatir dan terluka. Kaga begitu sangat dicintainya.

"Aku minta maaf." bisiknya menyesal. Tapi, Kaga rasa itulah sisi terindah Akagi, penuh nafsu dan brutal. "Tidak apa, Akagi-san. Aku adalah budakmu. Perlakukan aku seperti yang kau mau." Kaga langsung menolak permintaan maaf Akagi yang tidak ingin ia dengar. Menatap Akagi dalam-dalam, dan menyentuh wajah cantik itu dengan lembut membuatnya ingin selalu memilikinya. Akagi tersenyum. Dikecupnya sekali bibir Kaga dan kembali menyentuhnya. Mata mereka kembali terikat, getaran-getaran dalam diri juga semakin dalam menguasai. "Kau adalah kekasihku, Kaga-san. Belahan jiwaku. Sinar rembulanku. Menyakitimu sama saja dengan menyakiti jiwaku." Dan setelah kata-kata itu terucap, Kaga tak kuasa lagi untuk tidak mengecup bibir Akagi yang merekah. Menariknya dalam kecupan hangat yang panjang dan basah. Akagi membalas. Mereka terlena. Nafsu dan cinta beriringan menyertai mereka. Kaga meraih pinggung Akagi. Meremas tumpukan daging padat itu di kedua sisinya. Menarik Akagi menyatu semakin dalam pada tubuhnya. Berbagi hangat, berbagi desahan dan liur yang tak berasa. Tanpa malu, pada waktu yang masih terlalu suci untuk mereka nodai.

"A-aku, aku mencintaimu, Kaga-san-" tidak usah berkata-kata. Kaga tidak mau membuang-buang waktu Akagi untuk berucap semua hal yang sudah diketahuinya. Merasai tubuh Akagi tidak akan ada habisnya baginya. Akagi miliknya. Akagi adalah kekasihnya. Akagi adalah yang paling berharga melebihi nyawanya sendiri.

Sampai pagutan-pagutan dan rangsangan bercampur memberi mereka kenikmatan. Akagi terpekik saat ia sudah merasakan sesuatu di dalam mulut vaginanya. Sesuatu yang sudah mengorek-gorek pintu masuk dari surga yang dinanti-nanti Kaga dan hanya milik Kaga. Paham betapa lemas dan panjang desahan napas yang ia persembahkan, Akagi menarik diri dari kecupan basah antara mereka berdua.

Jari-jari Kaga masih menari-nari di dalam tubuhnya. Pipi Akagi memerah, ia menatap Kaga dengan sayu dan sisa tenaganya.

"K-kau membuatku gila, Kaga-san." bisiknya, menarik kedua bahu Kaga untuk ia dekap semakin dalam. Kakinya ia lebarkan, agar jamahan Kaga semakin menguasainya. "Ahhh-aaahhh... a-ku... ahhhh..." erangnya kenikmatan. Kaga menikmati betapa erotisnya wajah terangsang Akagi. Selalu merasa beruntung sebab hanya ia lah yang akhirnya menikmati. Jutaan lukisan terindah dari seluruh cipta karya pelukis terkenal di dunia pun tak dapat mendeskripsikan betapa indah pemandangan yang Akagi tampilkan. Penulis-penulis terbaik dunia di sepanjang segala abad pun tak dapat menjabarkan seberapa menakjubkannya perasaan itu, meskipun dalam jutaan kata dan jutaan halaman. Kecantikan yang telah Akagi perlihatkan ketika ia sedang terangsang bagai fatamorgana yang diluar batas imajinasi manusia.

Akagi mendekap tubuh itu semakin erat, kakinya lemas menumpu dan Kaga dengan senang hati menopang tubuhnya. Gerakan pinggul yang Akagi berikan, memberitahu Kaga jika ia begitu sangat menikmati permainan jarinya. Mendesak dua jari keluar masuk dalam lubarng vaginanya yang telah lembab dan basah. Melewati beberapa lapisan daging yang tersusun di sana. Terjepit dan merasa sesak. Melihat kenikmatan itu, Kaga tersenyum.

Akagi semakin lemas, kakinya terasa ngiluh di kedua sisi. Diraihnya tubuh Kaga untuk jatuh berbaring di atas lantai kayu teras belakang rumahnya. Yang tak mampu diartikan Kaga cepat, hingga akhirnya secara bersamaan mereka jatuh berbaring dan lagi-lagi menimbulkan suara ribut yang sepertinya tak mereka pedulikan. Akagi tersenyum, Kaga pun sama. Menindih Akagi dengan posisi seperti ini membuat Kaga merasa paling layak mendapatkannya.

"Aku mencintaimu." Lagi, Akagi meraih wajah Kaga dan mengecup bibirnya. Yukata miliknya yang tak lagi terlihat anggun, menampilkan seberapa putih kulit dada yang ia punya. Akagi cantik, tak ada noda di tubuhnya, sebab sekalipun Kaga tidak mau menyakitinya.

"Aku milikmu." Balas Kaga merespon seberapa banyak isi hati Akagi tentang cinta padanya. Mereka mengakhiri nafsu pagi mereka dengan tawa kecil menghiasi kedua bibir. Akagi mengangguk-angguk. Memandangi, menjamahi wajah Kaga, bibir Kaga, alis matanya, hidungnya. Merabai keseluruhnya tanpa lelah.

"Kau cantik Kaga-san." bisiknya hangat. Sambil Kaga yang masih menindih, meraih helaian rambut yang menutupi wajah Akagi di hadapannya. Lalu berbuat sama dengan Akagi, ia membiarkan telunjuknya menjalar di hidung Akagi, lalu bibirnya. Dan memasukannya ke dalam mulut Akagi. Sedang ia mengangkat sedikit wajahnya beserta kedua alis wajahnya, seraya menantang Akagi untuk mengemut jarinya dengan disisipi senyuman nakal. "Milikmu." Bisik wanita itu lagi.

Akagi meraih tangan Kaga, menghisap jarinya. Menjilatinya. Membasahinya. Menikmatinya. Menuruti maunya Kaga. Seperti ada jutaan ton madu yang berasal dari sana. Dan Kaga hanya memandang penuh rangsangan. Tidak hanya fokus pada seberapa mesumnya wajah Akagi menjilati jarinya, Kaga menggerakan kakinya untuk menyisip di antara kaki Akagi. Menyentuh selangkangannya. Menekan kewanitaannya. Membiarkan kulit kaki Akagi tertampil sebab helaian Yukata itu sudah tak lagi rapi membungkusnya. Tersingkap dari bawah tubuhnya.

"Ahhh...eeehhmmm...aaahhhh... haaaannnhh..." bunyi yang Akagi hasilkan. Meski matanya terpejam, ia tahu, Kaga selalu menatapnya.

.

"Ibu, apa kalian baik-baik saja."

Tiba-tiba saja, suara Handa seakan bisa membawa jiwa Akagi kembali ke alam sadarnya. Akagi membuka matanya terkejut. Dari asal suara, bisa ia tebak jika Handa telah muncul dari arah belakang Kaga. Suara langkah kaki lembut itu terasa semakin lama mendekat, sedang mereka masih pada posisi yang sama.

"I-ibu tidak apa-apa, Handa-chan." Seru Akagi, sambil mendorong bahu Kaga untuk bangkit dari tubuhnya sebelum ia memperbaiki Yukata yang tadi menunjukan belahan dadanya.

Namun rasanya, Kaga enggan untuk merubah posisinya. Ia sudah terlanjur jatuh dalam dekapan Akagi, jika harus bangkit tanpa menyelesaikan apapun, rasanya ia tidak ingin. Akagi adalah candu, Akagi adalah madu. Akagi adalah napas yang tak bisa ia abaikan.

"Tadi aku mendengar ada suara benturan, apa kalian terjatuh?" tanya Handa bingung, yang tak kunjung mendapat perhatian dari dua wanita dewasa itu.

Kaga masih tampak menindih ibunya. Handa hanya melihat sebagaimana tampilannya. Tidak tahu pasti apa yang terngah terjadi pada keduanya. Hanya gambaran dua orang wanita yang saling menindih, sedang ibunya berada di bawah. Dengan posisi yang gadis kecil itu tak paham menjelaskannya.

"Kita lanjutkan nanti." bisik Akagi mengecup singkat bibir Kaga, ingin menyudahi walaupun tak ingin. Kemudian mendorong tubuh itu sekali lagi. Tapi Kaga tidak menurut. Akagi menatap wajah Kaga yang hanya memandanginya dengan senyum. Wajah itu bertolak belakang dengan wajahnya yang terlihat sangat panik. Sebab nada langkah kaki Handa, semakin menggetarkan keyakinannya.

"Kaga-san. Handa tidak boleh melihat-emmphhh..." tapi percuma saja, Kaga sudah tak ingin melakukan negosiasi. Dengan kedua tangannya, Kaga meraih kedua pipi Akagi dan mengecup bibirnya dalam. Pagutan penuh sensasi yang telah lama ia bendung, sejak pertama Akagi mendekapnya pagi tadi. Lidahnya ia julurkan. Meraih bibir Akagi, memaksa bibir itu terbuka agar lidah mereka bisa saling berdansa. Kaga terlalu nekat. Tidak peduli tempat dan situasi. Lebih nekat dari Akagi yang ia kenal tak bisa membendung hasratnya lebih lama.

Akagi tidak mau Handa melihatnya dalam keadaan ini. Meski hati kecilnya pun menikmati. Ia ulurkan tangannya, meraih wajah Kaga dan juga bahunya. Mendorongnya. Ingin terlepas. Namun kekuatan Kaga mungkin jauh lebih besar darinya. Lidah mereka telah bertemu, dan langkah kaki Handa menjadi iramanya.

"Ibu, kau benar-benar tidak apa?" suara itu penuh curiga. Ini mendebarkan. Sangat mendebarkan. Yang Handa lihat hanyalah, Kaga masih tetap menindih Ibunya. Mendekatkan wajahnya dengan wajah milik ibunya. Juga ada suara-suara paksaan dari bibir ibunya yang ia kenal.

Tidak ada jawaban untuk pertanyaannya. Hati kecil Handa khawatir.

"Kaga-san. ibu kenapa?" tanyanya cemas. Dengan langkah yang kini terdengar berlari. Kaga tak menjawab, sedang senyum terlihat. Akagi sendiri merasa panik tak terkira. Dan saat getaran pada lantai kayu itu mulai terasa pada tubuhnya, Akagi tahu, Handa pasti telah melihat mereka.

"Kaga-san! ibu tidak bisa bernapas!" serunya kesal memandangi Kaga yang sedang memaksa Akagi dengan ciumannya. Membuat Akagi terdesak, tapi bagi Handa itu adalah kesakitan.

"Kaga sialan!" sampai Kaga berhasil membuat batin Akagi, seorang wanita penuh anggun ini mengumpat makian.

Akagi sendiri sudah mendapati bayangan kaki mungil Handa telah hadir di sudut matanya. Kaga melepaskan ciuman mautnya. Membiarkan ia dan Akagi menghirup napas yang sebanyak-banyaknya, dengan kondisi yang terengah-engah. Lalu membiarkan mata mereka kini menatap mata Handa yang tampak marah.

Akagi sontak bangkit dan mendorong tubuh Kaga hingga terpental jatuh dan menjauh dari hadapannya. Meraih Handa yang memandang mereka takut. Ia merasa berdosa pada anak ini. Sangat. Membuat putrinya menyaksikan hal yang tak patut mereka tampilkan.

"S-sayang. i-ini, ini.." bingung bagaimana Akagi menjelaskannya.

"Kaga-san jahat! Kalau ibu tidak bisa bernapas, bagaimana?" kesalnya menatap wajah Kaga marah. Akagi merapikan pakaiannya sambil ia hanya memandang Handa yang sudah mendekati Kaga. "Kalau ibu, kesakitan, bagaimana?" serunya dengan wajah memerah akibat marah. Ia menatapi wajah Kaga kesal. Ia belum pernah melihat ibunya semenderita itu. Tak bisa bernapas dan terlihat tersiksa. Akagi menatap Kaga pertanda bingung harus mengatakan apa.

"Handa-chan, ini tidak menyakiti ibu." bisik wanita itu meraih tubuh anaknya. Mengeratkan pelukan agar gadis kecil itu tak memandangi Kaga dengan dendam.

"Tapi, Kaga-san membuat ibu sakit 'kan?"

Jika saja, Handa bisa mengatakan jika ia hanya tidak ingin melihat ibunya disakiti, mungkin ia tidak akan menangis seperti yang ia lakukan saat ini dalam pelukan Akagi. Sedang Akagi, menanggapi kecemasan sang anak hanya membelainya dengan senyuman.

"Kaga-san menyayangi ibu," bisik Akagi sambil memberi kecupan pada puncak kepala anaknya yang terisak. Ia rasakan genggaman tangan Handa meremas pakaiannya terlalu erat. "... dan juga menyayangimu."

Kaga merangkak mendekat, mencoba mendekap mereka berdua penuh haru. Ada senyum manis yang ia simpan dalam hatinya. Biar saja ia yang rasa dan hanya ia yang tahu. Ia sangat menyayangi keluarga ini, ibu dan anak yang mampu membuat batinnya menghangat meski hanya karena tindakan-tindakan kecil. Tapi, berharap Handa menerima dekapannya, Handa malah menunjukkan penolakan. Wajar 'kan jika seorang anak tidak ingin melihat ibunya kesakitan.

"K-kaga-san jahat.." Handa mendorong tubuh Kaga dari tubuh ibunya. Isakannya masih ada. "... membuat ibu tidak bisa bernapas adalah perbuatan jahat ..." bisiknya lembut. Kaga tersenyum, meski Handa tak melihat. Jika saja Handa mengerti. Cinta itu adalah sebuah kesesakan, sampai tidak mampu membuat orang bernapas normal.

"Ibumu juga jahat," Kaga tidak menyerah. Diraihnya tubuh Handa dari dekapan Akagi, dan memandang wajah gadis kecil yang telah basah oleh tangisan. Dengan malu-malu, Handa mengangkat wajahnya dan mempertemukan pandangannya pada Kaga yang tersenyum. Gadis kecil itu mencoba menghapus airmatanya sendiri, mengucek sudut matanya dengan punggung tangannya. "... dia tak pernah memberiku pilihan lain, untuk hidup dengan alasan lain."-selain mencintainya, batin Kaga dalam hati.

.

Ya, Jika Handa bisa memahami, cinta tidak punya pilihan lain kecuali untuk saling terhubung. Bukan cinta namanya jika tidak saling memiliki, berbagi rasa juga menjadi wadah.

Cinta bisa menjadi kesesakan, juga kebahagiaan. Cinta akan membuatmu gila karena sensasinya.

Seperti yang telah Akagi rasakan, jatuh cinta pertama kalinya dalam hidup bisa membuatnya menjadi segila ini.

Mungkin, Handa tidak perlu tahu definisi lain yang bisa Akagi dan Kaga simpulkan. Karena disisi lain, cinta bagi mereka juga bisa berarti, "Kita lanjutkan malam ini."

Kaga tersenyum meski Akagi sudah tak lagi menatap wajahnya. Bisikan penuh cumbu yang Kaga suka. "Ya, dengan senang hati, Yang Mulia." Kaga membatin.

Pagi yang indah.

.

.

.

.


AN : 2.750 kata. Entah kenapa menyesal jika mengingat sebelumnya saya bisa buat lebih dari 11K kata. Sudahlah abaikan.
Tulisan ini anggap aja kalau tipe anime, sejenis OVA. Antara penting dan enggak penting, begitulah kira-kira.

Sudah ah, sampai jumpa.