Kuroko no Basuke
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
OC: Yukihira Kinako,Yukihira Kohane
Disclaimer: Yukihira Yuzu
Warning: ndak jelas, abal-abal, banyak typo mungkin bertebaran
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Yukihira Kohane-
Aku menghela nafas panjang. Pelajaran matematika baru saja selesai. Aku berjalan keluar kelas menuju kantin. Masih kepikiran soal nee-chan yang hari ini pergi ke SMA Kaijou tempat Kise-nii berada. Mana nee-chan harus tanding dengan Kise-nii pula. Uuuh, apa nee-chan baik-baik saja ya? Semoga tidak ketahuan dipertengahan pertandingan.
Aku merasa akan ada banyak alternatif nee-chan bisa kembali ke wujud semula seperti yang ada di komik-komik yang biasa kubaca. Pertama, ia kembali dengan bersentuhan langsung dengan cowok yang disukainya. Kedua, setelah mengalahkan cowok yang disukainya, ia kembali ke tubuhnya semula. Ketiga, ia harus mendapat ciuman dari cowok yang disukainya lalu kembali seperti semula dan...dan...
Psssshhh!
"Huwaaaaaaa! Jangan mikir yang aneh-aneh, Kohane!"jeritku sendiri.
"Aku baru tahu kalau Kohane memikirkan hal yang aneh-aneeeh!"
"Bukan, bukan begitu, aku hanya...aku hanya—Satsu-nee?!"sahutku lalu menoleh ke arah Satsu-nee dan Ao-nii yang berjalan menghampiriku.
"Hayoo, itu lagi mikir apa sampai teriak-teriak sendiri, hmm?"godanya sambil memelukku. Uaaah, kepalaku nyaris tenggelam dalam dada besarnya. Senang sih dipeluk, tapi kalau sampai tenggelam gini akunya juga sesah nafas.
"Uaaah, bukan, bukan, bukan seperti ituuu. Huwaaaa! Satsu-nee lepaaaas!"rengekku.
"Oi, Satsuki! Lepas saja anak orang kenapa? Kamu ngga takut sama pedang jagalnya Kinako?"peringat Ao-nii kesal melihat kelakuan sahabat masa kecilnya itu.
Diingatkan begitu Satsu-nee langsung melepaskanku sambil bergidik ngeri. Huah, segitu mengerikannya kan nee-chan dimata mereka kalau aku diapa-apakan? Aku tahu kalau nee-chan posesif, tapi kalau sudah marah ngerinya mengalahkan kuchisake onna (wanita mulut sobek) dan sadako (wanita keluar masuk tipi).
Singkat cerita kami langsung menuju atap sekolah untuk makan siang dan aku menceritakan cerita kemarin. Satsu-nee dan Ao-nii langsung memasang wajah horror setelah mendengar semuanya.
"Ki...Kinako jadi cowok?"horror Satsu-nee
"Bohong,"tambah Ao-nii.
"Aku tidak bohong! Nih, fotonya!"balasku sambil mengeluarkan ponselku dan menunjukkan foto nee-chan pada mereka. Dan kehorroran mereka bertambah saat melihat foto nee-chan sedang merengut –tapi cantik, eh ganteng dih- sambil menonton TV di ruang keluarga. Ia mengenakan kaos putih pinjaman dari Kuro-nii dan berpose menopang dagu dengan sebelah tangannya.
"Di-dia benar-benar berubah gender. Cakep banget gila!"komentar Satsu-nee.
"Ngeri! Ini siapa?! Sama sekali bukan Kinako!"pelotot Ao-nii pada ponselku.
"Macho banget, tapi mukanya rada shota gitu. Mi-mirip Akashi malah ini,"lanjut Satsu-nee.
Hening.
"Kalau Kise tahu ini benar-benar Kinako, bagaimana reaksinya dan apa yang akan terjadi ya?"tanya Ao-nii.
"Tidak tahu, aku harap nee-chan tidak ketahuan sampai pertandingan selesai. Tapi! Minimal aku sudah siapkan bajunya yang lama dalam tasnya untuk jaga-jaga kalau dia berubah tiba-tiba ditempat,"ujarku.
"Begitu ya...padahal kalau lihat dirinya yang asli, pasti semua akan menertawakannya karena tubuhnya kurus sekali. Tapi begitu dia jadi cowok, dia berubah sangat macho dan berotot meski wajahnya masih agak shota seperti itu,"tutur Satsu-nee sambil merebut ponselku dari tangan Ao-nii.
"Ya, soalnya nee-chan memang sangat kuat meski fisiknya kecil sepertiku. Aku jadi tidak enak juga karena selalu dilindungi olehnya terus. Haaah, andai aku juga bisa jadi nee-chan, pasti asyik bisa main basket bersama terus. Sayang, nee-chan selalu menghentikanku ditengah jalan karena aku memang lemah fisik,"desahku.
Satsu-nee merangkulku dengan lembut sambil menepuk pundakku. "Tenanglah, Kohane-chan. Itu karena Kinako-chan sangat sayang padamu. Aku yakin dia sangat khawatir padamu makanya ia selalu melindungimu. Kamu hanya perlu mendukungnya saja dari belakang. Aku yakin Kinako-chan sangat senang dengan dukunganmu,"ucapnya tersenyum padaku.
Aku pun membalas senyum padanya dan mengangguk. "Iya juga ya, Satsu-nee benar juga, ehehe. Aku akan dukung nee-chan sampai akhir,"
.
.
.
.
.
.
.
.
-SMA KAIJO-
"Kuroko, pass!"
Kinako menerima operan cepat dari Kuroko setelah mendapat operan cepat dari Hyuuga. Kinako berlari menuju ring lawan, namun langsung dihadang oleh Kise.
"One-on-one?!" Hyuuga kaget saat melihat Kinako sudah berhadapan langsung dengan salah satu Generasi Keajaiban, Kise Ryouta.
Kise nampak kewalahan. Keringatnya mengucur deras dari kepala hingga kaki. Nafasnya pun juga tak teratur karena selama dua puluh menit ketiga ia terus mengincar Kinako –ah, Shuuma tepatnya-. Shuuma memasang tatapan waspada karena kapan saja Kise bisa merebut bolanya dengan cepat.
'Sialan! Ternyata Shuuma punya keahlian yang sama dengan Kinakocchi! Bahkan gerak-geriknya pun sama dengan gadis itu. Tch! Aku sudah lama tidak bermain basket dengan Kinakocchi sih, jadi sudah banyak lupa teknik yang ia miliki, tapi...'
Kise menatap mata Shuuma yang kini menyelidiki dirinya dan mulai memprediksi gerakan selanjutnya. Bola basket terus dipantulkan dan dirinya terus mencoba menembus pertahanan Kise. Badan Kise masih terus bergerak mempertahankan diri dan tidak memberikan celah sedikit pun padanya.
'...kenapa aku merasa kalau Shuuma ini adalah Kinakocchi? Tidak, tepatnya Kinakocchi sebenarnya ada tepat dihadapanku?' tanyanya dalam hati.
"Kenapa melamun, Kise? Nanti kuterobos loh,"ancam Shuuma.
"Tch! Coba saja kalau bisa, ssu!"
Shuuma mendecih lalu bergerak mundur dan mulai menembakkan bolanya. Kise pun refleks melompat dan menghalangi tembakan dengan satu tangannya. Tapi sayang, ia salah, Shuuma malah melemparkan bolanya ke belakang dan terlempar ke arah Hyuuga.
"Apa?! Operan belakang?" kagetnya.
Setelah mereka berdua turun, Kise segera berlari ke arah Hyuuga, namun Shuuma juga cepat tanggap dan langsung menghalangi Kise. "Ja-jangan menghalangiku!"gerutunya. "Lewati kalau kamu bisa!"balas Shuuma.
Hyuuga menembak di lingkaran tengah lapangan dan melambungkan bola tersebut ke arah ring. Dan timing yang pas adalah bahwa Kagami sudah berlari ke arah ring basket lawan tanpa ada yang bertahan di sana.
"Celaka! Ring basket tak ada yang berjaga karena aku sibuk terpancing oleh Shuuma!"rutuk Kise dalam hati dan langsung menyusul.
Namun, tanpa ia sadari tangannya melayang dan memukul kepala Shuuma tanpa sengaja. Semua pemain pun terkejut dan menoleh ke arah mereka berdua. Kise pun juga terkejut karena tangannya memukul kepala Shuuma tanpa sengaja.
"Shuuma!"
Shuuma langsung terduduk setelah terkena pukulan tidak sengaja dari Kise. Kise yang merasa bersalah langsung menghampirinya. Terlihat sekali Shuuma kesakitan sampai memegangi pipinya.
"O-oi, kamu tidak apa-apa? A-aku tak sengaja,"
Shuuma meringis kesakitan tanpa menjawab pertanyaan Kise. Saat ia mulai mendongakkan kepalanya, Kise terkejut pada sisi lain wajahnya. Mata hijau. Itulah yang ia lihat. Benar-benar mengingatkannya pada Kinako dan ia terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Ki-Kinako...cchi?"
Mata merah Shuuma mengeluarkan air mata tanda rasa sakit yang ia derita benar-benar parah. Kuroko dan Kagami menghampiri mereka berdua dan memapah Shuuma menuju bangku panjang di seberang lapangan. Kise masih mencerna apa yang ia lihat sebelumnya.
'Mata hijau itu...mata Kinakocchi. Masa' dia berubah jadi laki-laki demi menggantikan pemain lain? Tapi kalau itu dia...' Kise bimbang sambil kembali menuju bangku pemain dan menerima botol minum dari temannya.
'Ada apa dengan Kinakocchi? Apa ini penyebab dia tidak menjawab teleponku kemarin? Kenapa dia berubah menjadi laki-laki?'tanyanya dalam hati sambil meneguk minumannya.
Dari jauh ia melihat Shuuma –bukan, Kinako- sedang dikompres pipinya dengan es dan meringis kesakitan. Kise yakin sekali kalau yang dilawannya ini adalah Kinako. Ya, dari hatinya sudah sangat peka sekarang. Apapun yang terjadi setelah pertandingan ini, ia harus menanyakan detailnya kepada Kinako.
PRIIIIT!
Wasit membunyikan peluitnya dan ia kembali ke lapangan. Terlihat Kinako masih terguncang di bangku pemain sambil memegang kompres es-nya. Kinako mengacak poninya yang menutupi matanya. Kise merasa sangat bersalah karena telah memukulnya dengan tidak sengaja. Padahal kejadian ini sudah pernah terjadi ketika ia bertanding dengan Kuroko untuk pertama kali.
Pertandingan pun kembali dimulai, kali ini Mitobe menggantikan Kinako dan mulai mengoper bola kepada Hyuuga. Hyuuga dengan sekuat tenaga berlari menuju tim lawan dan disusul oleh Kasamatsu. Kasamatsu berhasil menghalangi dan menghentikan Hyuuga ditempat. Ia melihat sekitarnya dan celakanya semua pemain sudah di tahan secara man-to-man atau per orangan.
'Tch! Kalau saja Izuki bisa bantu, pasti sudah kuoper ke dia. Awas saja kalau dia sudah pulang, bakal kulabrak habis-habisan,'rutuknya dalam hati.
"Senpai, oper!"seru Kagami.
Hyuuga mengoper, tapi sayang sudah direbut oleh Kise duluan. "Celaka!". Kise mendribble bola tersebut dan disusul oleh Kagami dan Kuroko. Ia dikepung oleh mereka dan mengoper jauh kepada Moriyama. Moriyama pun mencetak dua angka.
"Tch! Kalau begini terus bisa-bisa dibabat habis sama Kaijo. Coba kalau ada Izuki,"gerutu Riko sambil menggigit kuku ibu jarinya.
Kinako menatap lesu pertandingan mereka. Berkali-kali Kise berhasil merebut bola dan mencetak angka. Kagami dan Kuroko juga sudah kewalahan. Kinako menghela nafas dan memberanikan diri untuk menarik seragamnya Riko.
"Ada apa, Kinako-chan?"tanya Riko dengan nada rendah.
"Tolong, izinkan aku bermain, senpai,"pintanya.
"Tu-tunggu dulu! Kau serius? Kamu masih luka kan? Jangan memaksakan diri, Kinako-chan!"
"Aku tidak apa-apa, aku harus menolong yang lain. Lagipula ini tidak terlalu serius lukanya, hanya memar di wajah,"ucap Kinako sambil menaruh kompresnya.
"Ta-tapi..."
"Kumohon, senpai. Agar aku bisa kembali seperti semula," Kinako menatap pada Riko dengan tatapan memohon.
Riko terdiam untuk beberapa saat sampai selisih nilai sudah sangat jauh yakni sepuluh poin. Tak ada pilihan lain, ia pun mengangkat tangannya.
"Maaf, tolong ganti pemain!"serunya.
"A-apa?!"ujar Hyuuga kaget.
Wasit pun mengangguk membolehkan dan membunyikan peluitnya. "Member change!". Mitobe ditunjuk oleh Riko dan berganti Kinako yang maju. Setelah memberi tos tangan, Kinako berjalan mendekati Kagami dan Kuroko.
"O-oi, kau tak apa?"tanya Kagami.
"Aku tak apa, hanya memar di wajah,"jawab Kinako.
Setelahnya mereka pun kembali memulai pertandingan. Namun sebelumnya, ia dihampiri oleh Kise dan menepuk pundaknya. "Psst! Kita harus bicara setelah ini, Kinakocchi,"bisiknya.
Kinako langsung terbelalak dengan apa yang baru saja Kise katakan. Kise berlalu meninggalkannya dan mulai mengoper bola.
'Bohong! Aku ketahuan?!'
