Pertandingan sudah memasuki menit-menit terakhir dan skor yang kami peroleh adalah 56-64. Bedanya jauh sekali, 8 angka. Semuanya sudah kelelahan dan aku sudah kehabisan ide bagaimana caranya untuk menghalangi Ryouta. Semua teknik bermain Generasi Keajaiban memang dicopy-paste olehnya, tapi bukan berarti ia bisa mengeluarkan semuanya sekaligus bukan?
Kini aku sendiri memantulkan bola basket sambil dijaga olehnya. Ya, dia tepat dihadapanku sekarang. Ia terus mengincarku mulai dari awal permainan sampai sekarang. Benar-benar menyusahkan.
"Kau terlihat lelah, Shuuma. Mau istirahat?"ejeknya.
"Diam,"balasku ketus.
"Hohoh...meski sudah ketahuan pun kau tetap keras kepala ya,"
Kagami dan Kuroko sudah ditandai oleh pemain lain. Ini benar-benar pertahanan man-to-man dan aku harus keluar dari sini agar bisa membuat celah. Kagami, Kuroko, Hyuuga-senpai, dan Kiyoshi-senpai sudah berjuang sejauh ini. Aku pun harus bisa berusaha keluar dari sini.
Aku harus KELUAR!
"Bagaimana? Sudah menyerah? Menyerahlah selagi sempat," rendahnya.
"Jangan pikir aku akan menyerah semudah itu, Kise. Aku akan keluar dari pertahananmu,"ucapku.
"Kalau begitu lewati aku, Shuuma,"
Aku mulai memantulkan bolaku dan melangkah mundur dengan cepat. Ryouta pun mulai menghalangiku, namun...
DAP!
"A—"
Bola yang kupantulkan dengan keras dan cepat seakan menghilang, aku pun menunduk tajam dan menolakkan kakiku dengan keras hingga aku sudah melewatinya. Bola tersebut juga melewati Ryouta dan memantul ke arahku hingga aku pun kembali mendribble ke arah ring. Di saat yang bersamaan, semua temanku melepaskan diri dari pertahanan dan mulai berlari ke arah ring lawan.
"Shuuma, pass!"seru Hyuuga-senpai.
Aku mengoper pada Kuroko untuk pertamanya dan ia langsung mengoper dengan passingnya yang kuat pada Hyuuga. Kiyoshi-senpai dan Kagami menahan dua pemain lain dan melindungi Hyuuga-senpai yang akan menembak. Dengan penuh konsentrasi, Hyuuga-senpai menembakkan bola tiga angka menuju ring dan MASUK!
Skor kami menjadi 59-64. Tinggal 5 poin lagi.
Semua kembali berpencar. Tim Kaijo memulai serangan dengan Kasamatsu membawa bola tersebut. Kami berusaha bertahan sekuat tenaga. Aku berjaga pada pemain lain sedangkan Ryouta dijaga oleh Kagami. Disaat seperti ini aku ingin mengandalkan Kagami dalam one-on-one terhadap Ryouta. Aku dan Kuroko bekerja sama dalam mengoper bola. Pada saat terakhir aku mengoper bola pada Kagami.
Kagami berhadapan dengan Ryouta sambil memantulkan bolanya. Ryouta menatap tajam Kagami dan memperkuat pertahanannya. Benar-benar tak akan membiarkan Kagami lewat sama sekali.
Aku berlari ke belakang Ryouta dengan bantuan Kuroko dalam menghilangkan hawa keberadaan seseorang. Kagami masih mencoba untuk menembus pertahanan Ryouta, namun nampaknya Ryouta juga bersikeras tidak ingin membiarkan Kagami mengoper bola.
Kagami berhenti memantulkan bolanya dan memegangnya erat-erat. Aku yang mengontak mata langsung dengan Kagami mengerti apa yang akan dia lakukan. Tapi, Kasamatsu-senpai sudah menghampiriku duluan dan menghalangiku.
"Tak akan kubiarkan dia mengoper padamu!"
"Tch!"decihku.
Kagami mulai mundur beberapa langkah dengan cepat dan diikuti oleh Ryouta. Lalu, ia memantulkan bola tersebut ke bawah kakinya dan mengarah ke arahku dan Kasamatsu-senpai.
Aku harus mendapatkan bola itu. Aku harus dapat!
"Haaaaaa!"
Dengan cepat aku mendapatkan bola itu dan mengopernya pada Kuroko dengan satu pukulan keras. Kuroko yang mendapatkan bola itu pun langsung menuju daerah lawan dan mulai menembak. Ia tembakkan bola dua angka dengan Phantom Shoot andalannya dan MASUK!
"Yosh! Tinggal 3 poin lagi!"seru Hyuuga.
Aku cukup kelelahan setelah mati-matian merebut bola dengan Kasamatsu-senpai. Kami harus mengejar lagi tiga poin agar bisa seimbang. Permainan kembali dimulai, kali ini aku merebut bola dari salah satu pemain yang bernama Hayakawa. Ia cukup panik ketika aku berhasil merebut bola darinya. Aku melempar bolaku pada Hyuuga-senpai yang berada di tengah lapangan dengan lemparan jarak jauh. Setelah bola itu didapat, Hyuuga-senpai bersiap untuk menembak. Aku segera berlari untuk berjaga, namun dihalangi oleh Ryouta.
"Tak akan kubiarkan kau lewat, Shuuma!"serunya.
Aku pun melakukan sliding tajam ke bawah kakinya yang terbuka lebar tanpa rasa takut sedikit pun. Fuh, sliding memang susah, untung lantainya agak licin jadi bisa meluncur agak jauh. Ia terkejut bukan main saat aku sudah bisa berdiri lagi dengan cepat.
"Heeee! Dia bisa sliding toh?!"ujar Koganei-senpai terkejut. Begitu pula dengan pemain yang lain.
Aku sebenarnya agak malu karena aku kan melewati selangkangan cowok. Aaaarrrrghhhh! Bodohnya diriku ini! Aku tak bisa untuk tidak bersemu merah meski aku sekarang masih dalam tubuh laki-laki. Kuroko yang memandangku dengan tatapan datar hanya bisa diam seribu bahasa. Namun, setelahnya Hyuuga-senpai kembali berhasil memasukkan bola tiga angka.
Skor kami pun seimbang.
"..."
"Apa?" tanyaku.
"Ternyata kamu 'berani' juga ya, Kinako," ujar Kuroko datar.
"Ugh! Diamlah! Aku tidak punya pilihan lain selain itu. Itu refleks alami!"gerutuku sambil menahan malu.
Ini sudah masuk 10 menit terakhir. Aku dan yang lain kembali berpencar. Kesempatan terakhir dan kami tidak bisa main-main lagi kali ini. Pemain nomor 6 mengoper pada pemain nomor 9, lalu dengan cepat bola sudah dioper lagi ke Ryouta. Aku pun berlari dan langsung menghadangnya sendirian.
"Tch! Shuuma serius ingin melawan langsung dengan Kise Ryouta?!"seru Hyuuga-senpai.
"Shuuma!"seru Kagami.
Aku tak ingin kehilangan momen ini. Momen dimana aku bisa melawan Ryouta seorang diri di lapangan seperti ini, bukan saat aku bermain basket jalanan seperti biasanya. Aku ingin membuktikan bahwa aku pun bisa menjadi rival terkuatnya di lapangan dan juga ingin mempraktekkan teknik 'baru'ku.
Kelihatannya Ryouta tidak suka saat aku menatapnya langsung dan tanpa rasa takut sedikit pun. Seakan aku ini adalah pengganggu sepanjang masa. Tapi aku tak akan membiarkannya lewat begitu saja.
"Cih! Tinggal 9 menit lagi dan mereka belum bergerak?" Hyuuga-senpai mulai panik.
Ryouta mencoba bergerak, tapi aku lebih dulu menghadangnya penuh tanpa memberi celah sedikit pun. Karena aku tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya hanya dengan melihat gestur tubuhnya.
"Aku...tak akan menyerahkan bola ini, ssu,"bisiknya.
Aku mulai mengangkat kepalaku. "Aku tak akan menyerah, ssu!"
Semua mata tertuju ke arah kami saat Ryouta mulai melewatiku dengan cepat. Waktu terasa terhenti begitu saja. Gerakan Ryouta di mataku seakan melambat. Tapi...
DANG!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"A-apa?"
Semua mata terbelalak dengan mulut ternganga. Waktu terasa melambat, namun aksi masih terus bergerak mengiringi detik penghabisan. Kinako berhasil merebut bola dari Kise dan mulai mendribblenya menuju ring lawan.
"Bohong! Bolanya direbut begitu saja?!" kagetnya dalam hati.
"Ayo, Shuuma! Bawa bolanya!"
Kinako berlari cepat melewati beberapa pemain yang sudah dihadang oleh teman-temannya. Kise berlari menyusul Kinako dan berusaha menghalanginya. "Tak akan kubiarkan, ssu!" serunya dengan semangat membara.
Saat Kinako mencapai bawah ring, Kise telah berhasil menyusulnya. Namun, ia berbalik menjauhi Kise dengan lincah dan langsung menembakkan bola satu angka. Kise yang melompat pun terlambat menggapai bola dan menyebabkan bola itu sukses masuk ke dalam ring.
"Wooooo! Skor kita sudah beda satu angka!"seru Koganei bersama beberapa pemain cadangan dan Riko di bangku pemain.
Sedangkan pelatih Kaijo sendiri mendecih saat perbedaan skor sudah terjadi, yakni 65-64. Kinako kembali ke timnya dan langsung disambut oleh Kuroko, Kagami, Hyuuga, dan Kiyoshi. "Kerja bagus, Shuuma!"ucap Kagami sambil mengacak rambutnya.
"Ahahaha! Terima kasih,"ucap Kinako tersipu.
"Ini permainan terakhir tinggal 5 menit lagi. Kerahkan semua tenaga kalian!"seru Hyuuga.
"Ya!"
Permainan terakhir dimulai kembali, kali ini gerakan tim lawan lebih cepat dari sebelumnya. Kasamatsu mengoper pada Hayakawa dan mendribble bola menuju tim Seirin. Kemudian dihadang oleh Kiyoshi dan langsung dioper pada Moriyama. Saat Moriyama hendak menembak, bola langsung direbut oleh Kinako dan terlempar ke arah Kuroko.
"Se-sejak kapan dia dibelakangku?"kagetnya saat menyadari Kinako telah merebut bolanya.
Kuroko mendribble lagi dan mengopernya pada Kagami yang telah berada di bawah ring. Kise dengan segera menuju ring basket dan disusul oleh Kiyoshi dan Kinako. Namun...
"Se-sejak kapan?"
Kise tiba-tiba lenyap dan sudah berada di hadapan Kagami untuk menghalanginya. Kagami yang sudah mau menembak, bolanya langsung dipukul oleh Kise dan terlempar ke belakang. "Sial! Bolanya direbut!"gerutu Kinako.
Ia pun segera menyusul yang lain, namun ia langsung dihalangi oleh Moriyama. Kise pun menyusul Kasamatsu yang telah menangkap bola yang ia rebut tadi. Kasamatsu mengoper pada Kise, ia tangkap dan berlari lagi menuju ring tim Seirin.
"Celaka! Ia akan menembak!" Kinako panik sambil berusaha keluar dari pertahanan Moriyama.
Kise bersiap untuk menembak di detik-detik terakhir. Kinako melihat bola basket itu ditangannya seakan waktu melambat kembali. Ia tidak ingin kalah disini. Ia haru lari sekarang. Kalau tidak, mereka akan kehilangan kesempatan.
"Aku harus lari. Harus lari. Harus. Lari..."gumamnya.
Kinako memaksakan diri untuk keluar dari pertahanan Moriyama dengan cepat. Setelah keluar, ia pun menyusul Kise dengan segera. Hal ini membuat tegang semua pemain karena hanya Kinako yang berlari menuju Kise yang akan menembak pada detik-detik terakhir.
"Aku harus lari. Aku harus lari. Aku harus LARI!"teriaknya dalam hati.
Sesampainya di belakang Kise yang akan menembak, ia pun melompat sekuat tenanga."HAAAAAAAAAA!"
PLAK!
Semua menegang dengan tatapan horror. Bola yang dipukul tadi melayang perlahan, lalu jatuh di lapangan. Tak ada yang bersuara setelah adegan heroik itu terjadi. Sampai akhirnya keheningan pecah dengan dibunyikannya peluit.
PRIT! PRIT! PRIIIIIIIIIIIIIIIIT!
"65-64, tim Seirin menang!"seru wasit mengakhiri permainan.
Semua pun bersorak gembira dengan kencang. Kinako yang sudah ngos-ngosan pun akhirnya ikut senang bersama yang lainnya. Ia pun diangkat oleh Kagami dan Kiyoshi karena telah mengakhiri permainan ini dengan sukses. Sedangkan Kise dan tim Kaijo malah memasang wajah muram. Ini sudah sekian kalinya mereka kalah dari tim Seirin dalam latihan tanding.
Kinako merasa senang luar biasa karena menang untuk pertama kalinya. Ia tertawa lebar bersama teman-temannya. Kise berbalik dan melihat raut wajah senangnya Kinako dari jauh. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja. Saat sadar kalau ia meneteskan air mata, ia segera menyekanya karena takut ketahuan oleh mereka. Kasamatsu mendekatinya dan menepuk pundaknya keras.
"Apa-apaan wajah itu? Kayak orang habis putus saja. Ini kan Cuma latihan,"ujarnya.
"ahaha, iya, iya, maaf, senpai,"cengirnya.
"Ayo berbaris!"
Kise mengangguk dan segera ikut berbaris. Setelah memberi hormat dan berjabat tangan, Kise sempat berhenti saat bersalaman dengan Kinako. "Kau bermain dengan bagus, aku senang bisa bermain denganmu,"ujar Kise mengeratkan jabatannya.
Kinako bersemu –masih dalam tubuh laki-laki-. "Oh, i-iya, aku juga senang bisa bermain bersamamu, Kise,"balasnya agak gugup.
"Hei, bukannya kamu biasa memanggil namaku?"tanya Kise.
"Eh?"
"ah, nanti saja bicaranya setelah kita bubar. Tunggulah aku, Shuuma,"ucap Kise lalu meninggalkan Kinako di lapangan.
Kinako menatap punggung Kise yang menjauh. Lalu ia kembali ke bangku pemain untuk mengambil tasnya dan berganti baju. Saat berganti baju di ruang ganti, ia menatap dirinya di depan cermin yang ditaruh di pojok ruangan. Pantulan dirinya yang masih menjadi laki-laki sangatlah jelas. Dada bidang dan perut yang berotot –meski tak semenonjol Kagami dan Kuroko-. Ia jadi malu sendiri pada dirinya dan jadi memikirkan hal aneh. Ia pun cepat-cepat berganti baju dan segera keluar ruangan.
Melihat Kinako sudah keluar, Hyuuga pun heran. "Kenapa anak itu keluar duluan?"tanyanya.
"Mungkin mau ke toilet dulu kali,"sahut Kiyoshi.
Hyuuga pun mendesah panjang sambil mengambil air minumnya dan menegaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa? Kamu masih belum berubah?"
"Sssst! Pe-pelankan suaramu, senpai,"bisikku pada Riko-senpai.
"Ma-maafkan aku, tapi setelah ini kamu mau bagaimana?"tanyanya sambil menutup mulutnya dan berusaha memelankan suaranya.
"Setelah ini aku akan bertemu dengan Kise-kun. Waktu pertandingan tadi, ia menyadari diriku yang sebenarnya,"ujarku.
"Yakin tidak apa-apa? Apa perlu kita rembukkan bersama dengan tim mereka juga?"
"Kurasa tidak perlu, kita disini hanya latihan tanding saja kan? Masalah aku berubah gender, mungkin bisa dibicarakan empat mata dengannya. Hhhh...tapi secara pribadi takut juga kalau Kise tidak percaya omonganku,"desahku sambil memijit tengkukku yang menegang.
"Begitu ya, jadi cukup Kise-kun yang sadar, bukan?" tanya Riko-senpai.
"Iya,"
"Kalau begitu, temuilah dia. Hati-hati, karena kamu bisa berubah kapan saja dan tak bisa diprediksi perubahannya. Kohane juga sudah menyiapkan baju ganti lamamu jika kamu berubah saat itu juga,"ucap Riko-senpai sambil menepuk pundakku.
"Baik, terima kasih, senpai,"balasku sambil tersenyum.
Aku pun membawa tasku dan segera keluar gedung olahraga. Ah, tunggu, aku melihat Ryouta keluar juga dengan langkah tergesa-gesa. Mau kemana dia? Aku ikuti sajalah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Kise Ryouta-
'Haaaah...melelahkan sekali hari ini. Lagi-lagi aku kalah dari Kurokocchi. Seirin memang hebat bisa punya anggota seperti dia. Tapi, aku masih penasaran dengan anggota baru yang bernama Shuuma itu. Aku agak takut kalau aku bilang bahwa ia sebenarnya adalah Kinakocchi. Dari suara, gerakan, teknik bermain, dan tatapannya semua itu hanya dimiliki oleh Kinakocchi seorang. Aku tahu persis anak manis itu seperti apa karena aku sudah mengenalnya sejak SMP. Tapi kenapa?'
Aku meminum air dari keran sambil membasuh wajahku. Aku benar-benar dibingungkan oleh keadaannya saat ini. Apa benar Kinakocchi berubah gender atau dia memang sengaja menyamar menjadi laki-laki? Setahuku dia tidaklah setinggi Akashicchi. Bahkan aku melihat kakinya masih utuh untuk berlari di lapangan.
Ada apa dengan Kinakocchi?
"Kise-kun,"
Aku kaget saat suara berat itu memanggilku. Aku menoleh dan mendapati sosok laki-laki setinggi Akashicchi berdiri di dekat tembok. Duh, pas sekali ada orangnya disini. Aku harus bagaimana? Apa aku katakan langsung? Tapi kalau dia kaget dan malah salah paham bagaimana?
"Oh...hai, Shuucchi. Kau ke sini juga ternyata,"
"Itu karena kamu memanggilku ke sini waktu pertandingan,"jawabnya datar.
'padahal aku memanggilnya dengan nama Kinakocchi, tapi beneran ditanggapi. Sepertinya aku harus membuktikannya sendiri,'batinku.
"Nee, Shuucchi. Permainanmu bagus sekali tadi. Aku kaget padahal kamu anggota baru ternyata kuat juga ya. Jadi ingat waktu aku pertama latihan tanding dengan Seirin pertama kali, ahaha..."
"Oh begitu ya, lalu aku ingin tanya sesuatu,"ujarnya dengan nada sinis.
"A-apa?"
"Kenapa kamu memanggilku dengan nama kecil 'Kinako'? apa aku semirip itu dengannya?" tanyanya.
'Duh! Sialan! Dia malah memulai pembicaraannya duluan. Padahal rencananya aku yang ingin melabraknya duluan. Tapi kalau sudah seperti ini apa boleh buat,'rutukku dalam hati.
"Kenapa aku memanggilmu dengan nama itu? Karena aku sudah lihat dengan mataku sendiri tentangmu. Terutama mata kirimu yang berwarna hijau. Itu hanya dimiliki oleh Kinakocchi seorang. Belum ada orang lain yang punya mata hijau seperti matanya. Dan baru kali ini aku melihatmu dan kau sudah mengejutkanku dengan mata itu,"jawabku serius. Aku melihat wajahnya berubah tegang, namun berusaha tetap tenang.
Hening. Kami berdua terdiam dalam suasana tegang. Aku tidak terlalu suka suasana seperti ini, apalagi kalau ada seseorang yang benar-benar marah padaku. Dan yang bisa membuat suasana ini kalau bukan Akashicchi, itu adalah Kinakocchi. Aku menunggu jawaban darinya sampai akhirnya terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya.
"Begitu ya, jadi sudah ketahuan,"desahnya.
"Eh?"
"Kalau kamu bilang benar..." Ia menyibak poni panjangnya dan memperlihatkan rahasia yang ia sembunyikan selama pertandingan. Mata hijau. Aku pun kaget melihatnya sekali lagi. Kali ini benar-benar jelas mata itu ia perlihatkan padaku. Itu mata Kinakocchi!
"...maka memang benar. Akulah 'Kinakocchi' yang kamu maksud" lanjutnya.
Aku merasa tubuhku kaku saat mendengar pernyataan terakhirnya itu. Yang dihadapanku ini Kinakocchi? Jadi selama pertandingan aku benar-benar melawan dia? Aku tak bisa menahan diriku untuk berlari ke arahnya dan memeluknya erat. Huaaaah! Sudah lama aku tidak memeluknya lagi seperti ini. Tapi, ini benar-benar berbeda. Tubuhnya menjadi agak kekar dan tingginya pun bertambah drastis. Aku bisa merasakan kepalanya kini berada di dadaku tanpa harus membungkuk.
"Kinakocchiii! Kenapa bisa seperti ini, ssu? Kamu makan apa kemariiiin?"tanyaku khawatir.
"Aku pun tidak tahu! Kemarin pas aku bangun tidur di pagi hari sudah seperti ini! Aku sangat repot karena harus meminjam baju dari yang lain!"rengeknya sambil meremas kaosku.
"Apa? Kalau begitu kenapa tidak hubungi aku langsung?"
"Kamu pikir kamu bakal langsung percaya kalau aku yang berubah tiba-tiba menghubungimu?"tanyanya balik.
"Uh, benar juga sih. Lalu sekolahmu?"
"Aku izin sampai aku bisa kembali ke wujud asliku,"jawabnya sambil menunduk.
Ah, jadi begini rupanya. Pantas saja dia tidak menjawab teleponku kemarin karena ini. Aku pun mungkin akan terkejut kalau dia langsung menjawab dengan suara yang berbeda.
"Kalau saja ada yang bisa kulakukan..." gumamku. Mataku tertuju pada pipi kirinya yang menempel sebuah perban tipis. Pukulan yang tidak sengaja kena dariku seperti membuat pipinya agak memar.
Tanganku menyentuh wajahnya dengan hati-hati sambil mengusap bagian yang memar. Kinakocchi agak kaget dan meringis. "Maaf, aku tidak sengaja tadi,"ucapku menyesal. Semburat merah muncul di wajahnya dan membuatnya salah tingkah.
"A-aku tidak apa-apa kok, hanya...memar," Kinakocchi menahan malu sambil menyingkirkan tanganku pelan.
Wah, kalau wajahnya seperti ini ternyata lucu juga. Padahal ia masih dalam tubuh laki-laki. Mungkin kalau aku jadi perempuan sudah kugoda terus dari tadi. Tapi jangan kebanyakan gombal, nanti dia bisa berubah jadi setan, hiks.
"Awas bola!"
BUAAAKKK!
Bola kaki melayang dan mengenai kepalaku. Aku yang goyah pun terjatuh dan tak sengaja mencium Kinakocchi. Dan...
BUM!
Sebuah ledakan pun muncul dari tubuh Kinakocchi dan sukses menghempasku ke belakang. Orang yang menendang bola tadi pun mengambil bolanya, meminta maaf, dan kembali ke lapangan. Kepulan asap masih menyelimuti pandanganku.
"Uhuk! Uhuk! Kinakocchi, kau tak apa?"
"..."
"Kinakocchi?"
Aku penasaran karena sedari tadi ia tidak menjawab panggilanku. Namun, semua berubah ketika seseuatu yang lebih horror dari sadako (wanita keluar masuk tipi). Setelah kepulan asap sudah menghilang, ia kembali ke wujudnya sebagai perempuan. Ia kembali memang benar, tapi ia masih memakai baju seragam Seirin yang kebesaran di tubuhnya. Aku bisa melihat pundak kecilnya yang putih mulus dan rambut hitamnya menutupi lehernya.
"A-aku kembali..."ucapnya.
"Ba-bagaimana ini bisa terjadi? Tapi! Syukurlah kamu kembali, Kinakocchi!" seruku sambil menghambur dan memeluk Kinakocchi.
"Kinako! Kau diman—UAAAH! ADA PELECEHAN!"jerit Hyuuga-senpai tiba-tiba.
"Tu-tunggu dulu, ssu! Ini bukan seper—"
"Menjauhlah dari anak gadisku, dasar mesum!" Kali ini aku dapat bogem mentah dari Riko-senpai dan sukses membuatku pingsan.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Yukihira Kinako-
"Fuh, syukurlah kau tidak apa-apa, Kinako-chan. Aku kaget sekali saat melihat kalian seperti itu,"desah Riko-senpai sambil memelukku.
"Maaf, senpai,"sahutku.
Aku sudah berganti baju menjadi baju jalan. Seperti yang Kohane perkirakan kalau aku bisa berubah kapan saja. Terima kasih untuk adikku satu itu karena peduli dengan kakaknya yang merana ini. Aku memakai baju kaos hitam lengan pendek dan jaket merah diluarnya, serta celana hitam selutut dan sepatu kets. Baju Kuroko yang kupakai pun sudah berada di dalam tasku dan akan kucuci ketika aku sampai rumah nanti.
Aku menoleh ke arah Ryouta yang masih menyisakan bekas bogem di wajahnya. Parah heh, aku merasa pukulan 'tak sengaja' darinya tak seberapa dengan bogem milik Riko-senpai.
"Anu, senpai. Senpai boleh pulang duluan dengan yang lain, saya akan pulang bersama Kise-kun,"ucapku agak ragu dan menahan malu.
"Ehem! Ya ya, aku mengerti. Ayo semuanya! Kita pulang duluan. Kamu jaga diri baik-baik ya, Kinako-chan,"ucap Riko-senpai sambil mesem-mesem sendiri. Itu agak membuatku risih karena digoda seperti itu.
Setelah semuanya pergi, tinggal lah aku dan Ryouta berdua. "Kita pergi juga kah? Ke tempat 'biasa',"ucapnya. Aku mengangguk dan kami mulai berjalan.
Matahari sore semakin memerah dan jalanan semakin sepi. Kami berdua masih diam selama berjalan menuju tempat biasa kami bertemu, yakni taman depan Majiba. Aku merasa lelah sekali hari ini. Bertanding langsung dengan Ryouta memang menguras tenaga habis-habisan. Baru pertama kali aku bermain dengannya seserius ini karena biasanya aku bermain ketika hari Minggu di lapangan basket jalanan bersama Kagami, Kuroko, Aomine, dan Midorima. Aah, aku ingin sekali cepat-cepat ke rumah dan tidur.
"Kinakocchi," panggil Ryouta.
Aku menoleh lemah dan menyahutinya, "Apa?"
Tiba-tiba ia berhenti dan membuatku juga refleks berhenti. Dia kenapa?
"Aku bersyukur sekali bisa bertemu denganmu, Kinakocchi,"ucapnya.
"Ke-kenapa tiba-tiba bilang begitu?"tanyaku kaget.
"Aku hanya berpikir, kalau Kinakocchi juga orang yang kuat, ssu. Di lapangan aku kewalahan menghadapimu. Kau cepat sekali ternyata, seperti Akashicchi saja. Mungkin itu salah satu alasan aku suka padamu, hehehe,"ujarnya.
Aku langsung bersemu mendengarnya. Wajahku juga jadi panas karena menahan malu. Aku tahu dia suka blak-blakan, tapi kalau sudah begini rasanya seperti orang lain. Tapi, ini juga salah satu caranya agar aku bisa jujur padanya. Dia orang yang selalu berhasil membuatku mengutarakan hal yang tak bisa kuutarakan pada orang lain selain Kohane.
"Aku juga merasakan hal yang sama. Kau juga hebat dalam basket, masuk jajaran Generasi Keajaiban, dan ikut tim reguler sekolah terkenal pula. Belum lagi kau adalah model majalah remaja. Aku yakin kamu juga terkenal di kalangan gadis. Tapi..." jedaku. Aku memutar badanku dan menghadap dirinya langsung.
"...dibandingkan aku yang berlawanan denganmu, di sisi mana yang kamu suka? Aku selalu menanyakan hal itu pada diriku sendiri dan sering tidak menemukan jawaban yang sesuai. Aku selalu menomorduakan dirimu setelah Kohane karena dia adikku satu-satunya dan paling berharga bagiku. Tapi kau tak pernah marah ataupun protes karena masalah itu. Malah sebaliknya, kau malah makin menyayangiku,"lanjutku.
Kami terhening sesaat. Hembusan angin menerpa wajahku dan menggoyangkan helaian rambutku. Langit mulai memudar kehilangan hangatnya cahaya matahari. Sebuah tangan besar terulur ke arahku, lalu menangkup wajahku dengan tangannya satu lagi. Wajahku di dongakkan oleh kedua tangan itu dan membuatku menatap dua iris emas dibalik surai pirangnya.
Mataku langsung terpaku pada dua iris yang selalu membuat mataku silau. Iris itu sangat menyilaukan seperti cahaya matahari. Bahkan mataku menyipit saking silaunya iris itu mengontak mataku dengan intens. Sampai ia mendekatkan wajahnya, aku masih tak bergerak. Aku terhanyut pada silaunya mata emas yang selalu menatap ke depan tanpa ragu. Tatapan yang selalu ia buat dan selalu memberitahuku bahwa ia ada disini selalu.
Saat kedua bibir ini bertemu, aku merasakan kehangatan naik dari dadaku menuju kepalaku. Mataku sudah tak sanggup lagi menatapnya dan tertutup sambil menikmati kecupan lembut yang ia berikan. Aku tidak melawannya, aneh, biasanya aku menolak jika dicium seperti ini olehnya. Tapi, setiap ia seperti ini, ia berhasil menghanyutkanku dalam dunianya. Ciumannya sama sekali tidak memaksaku, tapi aku merasa ingin lebih dari ini. Aku ingin lebih dari ini. Tapi aku tidak bisa. Aku takut untuk memintanya. Dan aku takut bila terjadi sesuatu setelahnya.
"Ngggh!" desahku. Ia pun menghentikan ciumannya dan menatapku.
"Selama ini, aku pikir Kinakocchi adalah orang yang paling unik. Kau berjuang keras meskipun dulu sempat keluar dari tim reguler. Tapi melihatmu selalu melindungi Kohane, aku berpikir apakah aku juga bisa melindungimu? Karena meskipun kamu berusaha terlihat kuat, kamu tetap memiliki sisi rapuh dalam dirimu. Aku pun sempat menjalin hubungan dengan beberapa gadis, tapi hanya kamu yang bisa mengikat hatiku lebih kuat. Makanya, aku mengejarmu dan terus mengejar sampai kamu benar-benar menerimaku. Karena aku pun mencintaimu tanpa syarat, Kinakocchi,"tuturnya lalu mencium keningku dan memelukku erat.
"Aku mencintaimu tanpa syarat, kau tak perlu sepertiku. Kamu cukup tersenyum dan balas mencintaiku, itu saja,"tegasnya.
"Ryouta..."
Tanpa terasa air mata ini menetes dan mengalir di wajahku. Aku tak tahu aku harus apa lagi setelah ini. Tapi, akhirnya aku menemukan jawabanku yang selama ini terus terngiang di telingaku. Aku juga mencintai Ryouta. Aku mencintainya. Aku sayang Ryouta.
"...aku juga mencintai Ryouta tanpa syarat. Terima kasih...hiks...aku sayang Ryouta, sangat sayang..."isakku sambil mengeratkan pelukanku.
Ia tak membalas kata-kata lagi, yang ia lakukan hanyalah memelukku erat. Kini aku menyadari, bahwa cinta tak perlu kata-kata pemanis dan gombal. Aku hanya butuh tindakan yang memang menunjukkan cintanya padaku. Sama seperti aku mencintai adikku, Kohane. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya.
Aku bersyukur bisa mencintai Ryouta.
Aku harap ini bisa berlangsung terus. Aku tak ingin kehilangan kebahagiaan seperti ini. Andai waktu bisa berhenti meski hanya satu detik, aku ingin disini bersamanya terus sampai akhir.
Fin.
