Oh, glazed eyes, empty hearts. Buying happy from shopping carts.
Nothing but time to kill. Sipping life from bottles. Tight skin, bodyguards.
Gucci down, the boulevard.
Cocaine, dollar bills, and..
.
.
My happy little pill. Take me away.
:
Mauve
a Kris and Tao's fanfiction
Boys Love, AU, Slice of Life
The plot was adapted from 'Uramado Dogfight' by GUSARI
Thanks a lot for Skylar Otsu, Ayumichi Aoi, JonginDO, fazira ciiwiiw, Huang DiZie, Lvenge, BulunyaTAO, Dewi Lestari657, Rhy TaemZi, nyEmEh, KittyKths, wuami, Kokorooo, Clarity Wu, Kurishi Arisu, RainbowSpringKT, MoICE, nisaanwarsj, Yasota.. untuk kontribusinya menyumbang review dan ide cerita~ Aku pake ide kalian yaa cintaku semua.
Muah :*
Selamat membaca
:
Aku menyandarkan tubuhku pada daun pintu yang tertutup. Sesekali menarik napas panjang, berusaha menetralkan detak jantungku yang tadi bertalu.
Aku meremas kaus katun yang kukenakan hingga kusut. Sementara bibirku berdecak kesal.
Sial.
Aku tahu ini akan menjadi canggung setelah sekian lama tidak bertemu. Tapi kenapa Kris sialan itu harus mengacaukan semuanya?
Maksudku. Dia hanya perlu berpura-pura baik. Menyapaku sekilas. Lalu diam dan menjauh. Tidak perlu sampai menyulut emosiku segala kan?
Drrt drrt
'Chanyeol-hyung's calling..'
"Yoboseyo.."
"..."
"Di rumah, ada apa?"
"..."
"Oke. Besok aku akan berangkat lebih awal."
"..."
"Yup, tak masalah. Hm, bye.."
.ooo.
"Morning.."
Adalah hal yang pertama kali kudengar ketika aku baru saja membuka pintu dan hendak keluar dari dalam rumah.
Di seberang sana, aku bisa melihatnya.
Si Kris Wu sialan yang sedang berdiri menyandar pada dinding sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Memandangku dengan senyum miring miliknya. Ugh, seandainya aku bisa mencakar kepala jagungnya itu sesuka hatiku.
"Aku sudah berbuat tak sopan padamu kemarin." ujarnya lagi, membuat gerakan tanganku yang tadinya akan mengunci pintu jadi terhenti. "Aku ingin minta maaf."
Huh?
Mimpi apa aku semalam? Kris meminta maaf terlebih dulu? Demi celana kolor Chanyeol-hyung yang belum kucuci sejak dua minggu lalu.
Dia hanya bercanda kan?
"Aku bersungguh-sungguh.." tukasnya cepat, saat melihat gelagatku yang mencibir sangsi. Oh, baru saja aku ingin mengatainya yang seperti cenayang.
Aku mendesah kecil. Lalu tersenyum tipis dan memandangnya seolah kita hanyalah orang asing belaka.
"Aku tidak mengerti apa yang ssaem katakan."
Aku melangkah menjauh. Melenggang meninggalkannya yang terdiam di depan pintu apartemennya sendiri.
"Tidak ada masalah yang terjadi di antara kita berdua. Kita baik-baik saja sebelum ini. Bukan begitu?" tanyaku, dan memandangnya yang tengah menyeringai lebar.
"Dan itu artinya aku dimaafkan?"
Aku tersenyum sekilas. Lalu menggedikkan bahuku dan membalikkan tubuhku cepat.
"Terserah..." desisku, dan kembali melangkah pergi.
"..toh aku sudah tidak peduli."
.ooo.
"Aku tahu ini akan sangat aneh." gumamku tak jelas. Saat aku tengah menikmati makan siang bersama dengan Chanyeol-hyung di kantin kampus.
"Apanya?" Chanyeol-hyung bertanya dengan mulutnya yang penuh dengan potongan sosis sisa Hot Dog yang tak sempat ku habiskan.
Aku menelengkan kepalaku yang bertumpu di atas meja. Memandang lelaki jangkung yang kini masih sibuk menyantap daging sapi giling di mulutnya.
"Mantan kekasihku.." kataku sembari membayangkan Kris yang tadi pagi kutemui. "Semalam kami bertengkar. Sebenarnya masalahnya sepele dan terlalu konyol untuk dibahas. Tapi tetap saja..."
"Kau masih belum bisa melupakannya?"
Satu alisku terangkat. Menyajikan ekspresi 'huh?' yang sering kuberikan pada orang-orang saat aku bingung.
Aku menerawang lagi. Dan wajah tampan Kris kembali hadir dalam pikiranku. Seolah tak ingin pergi meski sudah kupaksa berkali-kali.
"Tidak kalau kami bertemu setiap harinya."
Chanyeol-hyung tersenyum. Tangannya meraih kepalaku dan menepuknya pelan.
"Maaf, mengganggu. Apa kau yang bernama Huang Zi Tao?"
Aku menghentikan gerakan tangan Chanyeol-hyung, dan menoleh saat sebuah suara lembut mengejutkan kami berdua.
Byun Baekhyun, mahasiswa senior yang juga teman dekat Chanyeol-hyung menyapaku dengan membawa setumpukan buku dalam pelukannya. Uh-oh, apa Profesor Choi ingin menyuruhku membuat soal kuisioner lagi?
"Ah, iya.." aku menjawab cepat. Baekhyun tersenyum ramah dan memanggil namaku formal sebab kita belum terlalu mengenal sebelumnya. "Ada perlu denganku?"
Baekhyun tersenyum lagi, dan mengibaskan tangan kecilnya yang lentik. "Ah, bukan masalah penting. Aku hanya ingin bilang kalau ada seseorang yang mencarimu." kata pemuda itu, dan menunjuk ke arah taman kampus yang berada tak jauh dari kantin. Membuatku bisa melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas kantor yang membebat tubuhnya.
Eh?
Bukankah itu Kris?
"Dia bilang dia tetangga apartemenmu." kata Baekhyun lagi, "Apa kau benar-benar mengenalnya?"
Aku segera beranjak berdiri. Dan mengangguk kecil menjawab pertanyaan Baekhyun barusan.
"Ya. Dia tetanggaku." dan kemudian berlari meninggalkan Baekhyun serta Chanyeol-hyung yang hanya bisa melongo menatap kepergianku.
.ooo.
"Ssaem.."
Aku memanggilnya dengan napas terengah. Efek lari tadi. Tubuhku masih membungkuk, tanganku saja masih bertumpu di kedua lututku. "Apa, hosh, apa yang membuat ssaem kemari?" tanyaku kemudian.
Kulihat Kris tersenyum dan berjalan pelan ke arahku. Sebelah tangannya merogoh saku celananya hingga menimbulkan bunyi gemerincing dari dalam sana. Lelaki itu lalu mengeluarkan tangannya kembali, menampilkan beberapa anak kunci dengan sebuah gantungan bergambar panda.
Itu kan...
"Kau melupakan kunci apartemenmu saat berangkat tadi pagi." Kris memotong sebelum aku sempat bertanya-tanya.
Aku menerima kunci itu dengan bengong. Sementara Kris sudah bersiap dengan satu telunjuknya di depan dahiku.
Ctak
"Oi.." aku mengaduh. Bukan karena sakit. Tapi terkejut karena mantan guru lesku itu malah menyentil dahiku sekeras mungkin.
"Dasar.." pria itu menghela napas lelah. Seperti menyindir kecerobohanku.
"Kau masih saja belum berubah ya, Zee?"
Deg
Aku tertegun. Mendadak, kata-kata Chanyeol-hyung kembali terngiang di telingaku.
'Kau masih belum bisa melupakannya?'
"Masih saja suka meninggalkan barang-barang penting. Coba kalau bukan aku yang menemukannya. Kalau ada pencuri masuk ke dalam rumahmu bagaimana?"
Aku tidak berubah ya?
Bukankah itu juga berlaku untukmu, huh?
Dulu pun..
Kau adalah satu-satunya orang yang cerewet akibat kebiasaan burukku ini.
"Hey! Stop spacing out, you boys!"
Aku tersentak lagi. Dan menatap Kris yang kini sudah berkacak pinggang. Sepertinya dia kesal sekali karena sudah kuabaikan meski barang sebentar.
"Nah, sorry ssaem.." aku tersenyum, lalu memasukkan kunci apartemenku cepat-cepat ke dalam kantong celanaku.
"Dan terima kasih sudah bersedia mengembalikannya sampai sejauh ini. Ssaem tidak kerja? Istirahat ya? Nanti malam sibuk tidak? Mau makan malam bersama? Aku akan mentraktir ssaem di restoran jjampong favoritku..."
Aku sudah tidak peduli lagi sebenarnya.
Aku sendiri juga bertanya-tanya kenapa aku bisa seaneh ini. Kris seharusnya bisa saja mengabaikan kunci apartemenku yang tertinggal. Dia bisa saja mengabaikanku seperti yang dia inginkan.
Seharusnya kami berdua berpura-pura saja sejak saat itu. Atau... Sejak awal, seharusnya kami tidak perlu bertemu dan berakhir canggung seperti ini.
"Peach..."
Deg
Deg
Aku membulatkan iris mataku. Hanya untuk menatap Kris yang kini sedang memegang sebelah pipiku yang sudah basah.
Sejak kapan aku menangis?
Sejak kapan tangan Kris sudah bersarang di wajahku dan mengusap kulitku dengan lembut?
Dan...
Sejak kapan aku jatuh cinta lagi dengan pria ini, huh?
.ooo.
To be continued
.ooo.
Halooooo, chapter dua udah dateeeng yesss!
Aku ngetiknya kilat looh. Ga ada satu jam udah selesai, yey! Btw aku ngetiknya sambil dengerin 'Happy Little Pill'-nya Troye Sivan. Pas baca coba ikut denger deh. Siapa tau ikut ngefeels :))
.
.
Btw aku mau curhat nih. Aku lagi sediiih huhuhuu. Lagi galau. Lagi stres pokonya.
Kucingku. Dicuri. Orang. Biadab. Huhuhuhuhu~ aku ulangin ya biar greget. KUCINGKU DICURI ORANG BIADAB! Holy shit.. *nangis* *gelundungan*
Disuruh ngikhlasin sama emak aku. Tapi ya gimana yaa? Itu udah aku anggep kaya anak sendiri. Aku yang mandiin. Aku yang buangin eeknya. Yang minumin susu. Yang uyel-uyelin. Yang nemenin aku pas galau. Yang nemenin tidur pas aku abis mimpi buruk. Pokonya sedih banget kehilangan Mrs Norris (kucing aku). Lebih sedih daripada diputusin mantan.. *eh?*
Mohon doanya semoga bapak-ibu-mas-mbak yang ngambil jadi kasihan sama aku trus kucingku dibalikin. Hiks..
.
.
Omong-omong soal mantan. Cerita ini terinspirasi juga dari pengalaman pribadi kok. Ya ga sama persis sih. Tapi secara garis besarnya sama. Ketemu lagi setelah sekian lama ga ketemu.. :')) *cieee baperrr*
HAYOOOO, SIAPA YANG BELUM BISA MOVE ON DARI ONOH-ONOHNYA? *slap*
.
.
Oke, reviewnya ditunggu lagi ya gaes, idenya juga sih. Thankies buat review di chap sebelumnya. Muah.. See you di next chapter.
