Don't speak, just use your touch.

Don't speak, before we say too much.

You hate me now and I feel the same way.

You hate me now and I feel the same way.

Scream and we shout

.

.

And make up the same day, same day

:

Mauve

a Kris and Tao's fanfiction

Boys Love, AU, Slice of Life

The plot was adapted from 'Uramado Dogfight' by GUSARI

Special thankies for you ma lovah; Yasota, Park Rinhyun-Uchiha, Clarity Wu (aku juga belum move on btw, bhaks), Huang Minseok (terima kasih udah peduli sama Mrs. Norris, and yeaah I'm Potterhead ma darling), Skylar Otsu si 'BTS' (boncel tapi seterong), RainbowSpringKT, keziaf, taolinna6824, hzffan, celindazifan, Petrichor Wu (si mesum sejagat raya), Yhraa (saya juga tidak paham kamu bicara apa, plak), Ayumichi Aoi, Lvenge (all hail lipstick), , Kirei Thelittlethieves, sehun or tao or kris wife (astaga namanya), Kokorooo, eksa203, BabyMingA (yang sepertinya gagal login), Dhea722, qhrrhng, .

Hontou ni arigatou gozaimasu *ojigi*

Seperti biasa, dan seperti yang sudah-sudah.

Selamat membaca. Muahmuahmuah.

:

"Hei, jadi itu ya? Guru baru yang kabarnya menghilangkan uang para siswa?"

Tidak.

Kalian salah sangka.

"Menghilangkan? Maksudmu, korupsi?"

Kubilang kalian salah. Bukan dia yang melakukannya. Bukan dia.

"Tampan sih, tapi sayang kelakuannya busuk begitu."

Diam.

"Kukira dia kaya. Tapi melihat gelagatnya, sepertinya dia bekas pengangguran yang terbelit hutang."

Diam kataku.

"Wajah tampan begitu. Kalau banyak hutang, kenapa tidak jadi gigolo saja?"

Berhenti menghinanya.

"Hihihihi..."

BRAKK

"Just shut the fuck up you bitch!"

Kelas mendadak hening. Suara kapur yang tergores di papan hitam mendadak menghilang. Begitu juga dengan bisikan-bisikan yang mengganggu tadi, kini berubah senyap.

Kris-ssaem, guru yang mengajar kelas malam ini, hanya berdiri di muka ruangan dan memandangku datar. Sementara satu alisnya terangkat naik. Agak terkejut akan suara teriakanku yang tadi menghidupkan suasanya.

Pria muda itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatapku dengan manik emas gelapnya yang sesekali mengerjap pelan.

"Ada masalah, Huang Zi Tao?"

Aku terpekur di tempatku berdiri. Kedua kakiku mendadak bergetar seperti agar-agar. Aku melirik ke arah dua gadis yang tadi bergosip mengenai Kris-ssaem. Sedang tersenyum sinis dan menatapku penuh hina. Oh lihat, ada pahlawan kesiangan. Begitulahj raut muka mereka saat berbicara.

Aku nyaris membuka mulut. Tapi suaraku teredam dengan bunyi bel tanda les malam ini telah usai.

Kebanyakan siswa, termasuk kedua gadis tadi, segera beranjak pergi. Melenggang begitu saja meninggalkan ruang kelas tanpa berpamitan dengan Kris-ssaem. Namun pria itu tak ambil pusing, dan malah berjalan ke arahku saat kelas sudah nyaris kosong, hanya menyisakan kami berdua.

Puk

"Aduh.." aku menjerit kecil saat buku yang digulung oleh Kris-ssaem dia pukulkan ke pucuk kepalaku. Aku menggigit bibir. Lalu memandangnya dengan mataku yang entah kenapa terasa pedas.

"Dasar ssaem bodoh." rutukku, lalu kembali duduk dan menyembunyikan wajahku yang sudah basah.

Kris-ssaem mendengus kecil. Guru yang baru tiba dari Kanada beberapa bulan yang lalu itu kemudian ikut duduk di atas meja. Dia menyilangkan kakinya yang panjang, memandangku dengan ekspresi pongahnya yang khas.

"Kau yang bodoh karena membuatnya semakin terlihat jelas." katanya kemudian. Ganti menghinaku.

Aku mendongak, menatapnya marah. "Kenapa ssaem diam saja saat mereka berbicara buruk tentangmu? Kau bisa saja membantah dan menjelaskan kepada mereka semua kalau itu tidak benar."

"Dan ikut bertingkah idiot seperti mereka?" tanyanya dengan sinis. Kris-ssaem menyisir surai pirangnya menggunakan jemarinya yang panjang, dan kembali melirikku melalui ekor matanya.

"Mana mungkin aku sudi. Yang benar saja kau ini.."

Melihat kelakuannya yang santai seperti itu, tak tahu kenapa malah membuatku merasa kesal. Seolah, pembelaanku padanya barusan hanya buang-buang waktu belaka. Shit, kalau mengingat tindakan bodohku tadi, dadaku terasa sesak seperti ada yang meremasnya.

Aku menunduk lagi. Membiarkan air mataku terbuang sia-sia. Baru sebentar aku menangis. Daguku terasa disentuh oleh sesuatu. Aku terpaksa mendongak saat wajahku diangkat keatas. Dan, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan guru lesku ini?

"Dasar cengeng." Kris-ssaem tersenyum mengejek, dan aku cuma bisa merengut kesal. "Aku yang dihina sedemikian rupa, kenapa kau yang menangis, huh?"

Aku membeo. Dan memutar bola mata menghindari tatapannya. Sementara tanpa kusadari jarak wajah kami berdua sudah tak bisa dihitung berapa jumlahnya.

Sepuluh senti. Lima senti.

Dan kemudian batas itu lenyap. Saat kedua bibir kami bertemu dalam kecupan hangat.

Mataku membelalak lebar. Tapi Kris-ssaem justru semakin mendekatkan tubuhnya. Memperdalam ciuman kami.

Lidah pria pirang itu terulur. Menggores halus bibir bawahku yang membengkak akibat hisapannya. Kris-ssaem meminta ijin, dan aku membuka mulutku dengan hati-hati meski awalnya rasa ragu menghampiri.

Daging tak bertulang milik guruku itu menyambangi satu-persatu gigiku. Sesekali melawan lidahku yang berontak di dalam. Menukar salivaku dengan salivanya sendiri.

Lenguhanku tertahan. Napasku terasa terhenti. Dan detakan jantungku yang hilang entah kemana, aku pun sudah tak peduli.

Kris-ssaem menggigit kecil bibir bagian atas dan bawahku bergantian. Memberikan pagutan kasar namun halus secara bersamaan. Sebelum akhirnya menarik tubuh menjauhkan diri.

"Nah, it stopped.." desisnya lirih. Dan memandangku dengan tatapan menggoda.

Aku terperanjat kaget. Dan buru-buru menutup muka.

Huh?

Apanya?

"Air matamu." kata Kris-ssaem seolah dia adalah cenayang. "Kau berhenti menangis karena ciumanku."

Badump

Huh?

Ada apa ini? Kenapa dadaku berdebar-debar begini? Kenapa wajahku terasa panas?

Aku menengadahkan kepala. Memandang Kris-ssaem yang masih saja tersenyum. Satu tangannya terulur maju. Meraih tubuhku. Merengkuhnya masuk ke dalam pelukannya.

"Biarkan seperti ini dulu.." pintanya, saat kepala pirangnya bertumpu di atas bahuku.

Berhubung dia bilang begitu. Aku pun membiarkan posisi kami yang sebenarnya sangat tak nyaman.

Hanya saja... beberapa saat kemudian. Aku baru menyadari jika pundakku terasa panas dan basah dalam satu waktu yang sama.

.ooo.

"Oh, sedang apa dia disitu?"

"Psst.. kau belum tahu ya? Guru baru itu ternyata gay."

"Huh? Jadi dia-"

"Yeah, dia kekasih prianya. Dan sekarang guru itu dipanggil oleh ketua yayasan, untuk mempertanggungkan jawabannya."

"Tak hanya korupsi, guru baru itu dengan berani mengencani muridnya sendiri."

"Laki-laki pula. Dunia memang sudah gila."

Aku menggigit bibir. Meredam emosi sekuat yang aku bisa. Aku berusaha untuk tidak peduli.

Tidak. Aku memang seharusnya tidak perlu peduli.

Aku mengangkat wajah saat pintu di depanku itu terbuka. Menampilkan sosok Kris-ssaem yang bermuka masam.

Aku bergegas menghampirinya. Memberikan satu pelukan hangat. Membuat beberapa gadis yang menggosipkan kami berdua pergi dengan melemparkan tatapan jijik yang ketara.

"How was it?" tanyaku kemudian. Dan melepaskan pelukan guna memandangnya.

"You okay?"

Lelaki itu mengangguk. Dan memberikan kecupan singkat di kepalaku. "Hanya teguran biasa." jawab Kris-ssaem dan merangkul bahuku. Mengajakku pergi menjauh dari lorong bangunan les.

"Mereka hanya memberiku dua pilihan." lanjutnya, saat kami sudah berada di luar bangunan.

"Kau, atau aku yang pergi dari sini."

Bak tersambar petir di siang bolong. Aku tak mendapati ekspresi apapun saat guru itu berkata demikian padaku. Pias wajahnya sedatar papan. Dingin bak robot tak bertuan.

Dan juga, kenapa ini sangat tiba-tiba?

Aku tersenyum canggung. Memaksakan diri untuk menganggap kata-katanya sebagai guyonan. "Aku tak mengerti ssaem.."

"Aku tahu kau tidak terlalu bodoh untuk mengerti dan memahami arti kata-kataku, Zi.."

"BUKAN ITU MAKSUDKU!"

Aku tersentak. Kaget dengan teriakan yang kulontarkan sendiri. Aku menutup mulutku. Menahan suara tangisan agar tidak sampai terdengar keluar.

"Jadi... selama ini.." Ah, sial. Kenapa semakin kutahan. Semakin lolos juga isakanku ini, huh? "...kau..dan aku. Kris-ssaem dan aku. Apa artinya?"

Tubuhku bergerak maju. Menubruk tubuh jangkungnya. Menumpukan kepalaku di dada bidangnya. Lalu memberinya tinjuan pelan di bahunya.

"What the hell am I to you, bastard.."

Kris berusaha meraih tanganku. Menghentikan tinjuanku yang membabi buta. "Kita bicarakan ini di rumah.." bujuknya. Berharap aku mau menuruti kemauannya.

Tapi aku menolak. Kutepis tangannya dengan kasar. Mengayunkan tanganku, dan..

PLAK

Kutampar wajahnya sekeras dan sekuat yang aku bisa.

"BILANG SAJA KAU HANYA MENJADIKANKU PELARIAN!" teriakku lagi.

Lebih keras dari yang sebelumnya.

"AKU MEMBENCIMU."

Sesak.

Dadaku kembali sesak saat berkata seperti itu kepadanya.

Aku tahu aku tak pandai berbohong. Tapi untuk saat ini. Biarkan aku membohonginya. Juga membohongi diriku sendiri.

Setidaknya, untuk yang terakhir kalinya.

.ooo.

To be continued

.ooo.

Yahooo, chapter tiga hadirrr.

Yey, lagi-lagi ngetiknya kilat. Hohoho. Jadi kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis, diabaikan saja yaa *yee*

Oh yaa, yang di atas itu, hubungan KrisTao sebelum ketemuan jadi tetangga apartemen. Ibaratnya chapter kali ini tuh flashbacknya mereka gitu. Nah, berhubung aku lagi ngefans banget sama lagunya Hailee Steinfeld yang 'Rock Bottom', aku comot liriknya deh. Enak lho lagunya, baca ini sambil dengerin lagunya yaa supaya ngefeels.

Btw maaf, ga bisa apdet cepet buat kali ini. Soalnya ini juga nyambi ngetik chapter terakhir ff aku yang Royal Fiance, sekarang udah dapet 3k+ words, tapi belum tahu mau ditamatin sampe berapa words lagi, huhuhu. Mangapkeun yak. Doakan saja, semoga RF bisa cepet kelar, jadi yang ini bisa apdet cepet juga. Teehee.

Daaannn, tak lupa tentunya, aku ucapkan thankies thankies buat kalian yang udah sudi berkunjung di ff ini. Jangan lupa review yaa. Ga usah malu-malu buat review dan nyumbang ide. Idenya tetep saya tunggu looh.

See you next chapter cintaa~ muahmuahmuah

.

.

Your beloved Oom.

autumnpanda