Uta no Prince-sama Disclaimer by Broccoli

Maji Love STARISH by Oto Ichiiyan

Rate : T semi M (mudah-mudahan nggak lebih)

Genre : General, Romance, Drama, Friendship

Pairing : TxOxC, NxSxS, MxR, etc.

Warning : OOC, OC, Typos, Gaje, etc.


Their Answer


Kedatangan seorang Michiko Sawaragi ke rumah—atau bisa dibilang base camp STARISH—membuat suasana rumah itu sedikit banyak berubah. Mulai dari Otoya yang 'ngambek' dan memilih menghindar dari semuanya—minus pada Shou yang malah ikut-ikutan 'ngambek'—sampai Haruka pun juga ikut menghindar dari semua anggota STARISH, tanpa terkecuali. Natsuki cemberut sejak kemarin karena terus diacuhkan oleh Shou, begitu juga Tokiya. Namun laki-laki itu terlalu pintar menyembunyikannya dan justru Otoya yang dibuat kesal.

"Hentikan sikap kekanak-kanakkan kalian. Sampai kapan begini terus?" tanya Tokiya.

"Sampai kalian bertiga mau menerima tawaran Sawaragi," jawab Shou dan Otoya.

Cecil menyangga dagu dan menghentikan sarapannya. "Apa salahnya menerima tawaran kerja sama dari penggemar sendiri? Lagipula, ceritanya menarik dan entah kenapa aku berpikir, ada beberapa yang diambil dari kehidupan nyata," kata laki-laki yang masih memakai piyama tidur itu, bermaksud untuk membujuk secara tidak langsung.

Ren dan Masato mendelik secara bersamaan.

"Kau mungkin tidak bermasalah, tapi tidak untukku," kata heir keluarga Hijirikawa.

"Memangnya kenapa, Masato-kun?" tanya si pihak netral, Natsuki.

"Tsk, sudahlah. Aku harus datang ke studio pemotretan sekarang."

Keempat pihak yang menerima tawaran tersebut—minus Cecil—menatap kepergian Masato dengan wajah cemberut. Shou mendengus seraya mengambil blazer krem miliknya yang sengaja ia taruh di sandaran kursi lalu ikut keluar. Shou keluar, Natsuki pun ikut karena hari ini mereka berdua ada jadwal talk show.

"Sebenarnya ada apa dengan Shou? Bukannya dia yang pertama kali menolak secara terang-terangan?" tanya Ren bingung.

"..."

Ren yang sudah selesai sarapan hanya bisa menghela napas. "Baiklah, aku terima."

"..."

"Aku sudah menerimanya, tak bisakah kalian tidak mengacuhkanku lagi?"

Otoya menatap sebentar pada laki-laki yang kini memakai kaos putih berlengan pendek dengan dipadukan jeans selutut tersebut lalu kembali memakan roti bakarnya. "Sikap dan wajahmu masih diragukan, Ren." Sesaat wajah kecewa Michiko kembali terngiang di benaknya dan membuat Otoya jadi malas makan. "Aku selesai," katanya sambil berdiri dari kursi. Belum sempat kakinya melangkah, seseorang menahan lengannya.

"Habiskan makananmu," suruh orang tersebut yang ternyata adalah Tokiya.

"Malas." Dengan keras Otoya menepisnya dan pergi.

Satu-satunya gadis yang ada di sana—Haruka—hanya menunduk, tanpa ada niat untuk kembali memakan roti panggang yang masih tersisa setengah bagian di hadapannya itu.


._. Maji Love '-'


Dalam diam mata ruby-nya memperhatikan sosok laki-laki yang baru saja keluar dari rumah STARISH. Ia tampak tergesa-gesa saat memasang kacamata berbentuk persegi panjang di wajah tampannya. "Kenapa... kau bersihkeras untuk tidak menerima tawaran kerja ini, Tokiya?" lirih si pemiliki iris mata ruby tersebut bernama Otoya Ittoki. Di tangannya terlihat novel buatan Michiko Sawaragi yang dibelinya kemarin sore bersama Shou dan Natsuki.

Otoya membaca halaman 24 yang baru ia buka.

Rasa khawatir selalu ada saat membacanya, apalagi pada bagian dirinya dengan Tokiya.

Halaman demi halaman ia baca. Rasa takjub, tidak percaya, dan penasaran akan kelanjutannya membuat Otoya ingin cepat-cepat membaca novel itu sampai selesai. Sebuah imajinasi mengenai jalan ceritanya pun bisa tergambar dengan jelas di benak laki-laki tersebut. Apalagi saat novel itu menceritakan bagaimana dirinya dengan Tokiya saat pertama kali bertemu. Di situ diceritakan, mereka bertemu karena Tokiya kehilangan sang ibu yang tengah mengantri di supermarket dan Otoya datang untuk membantunya mencari sewaktu mereka masih kecil.

Tiba-tiba ia tertawa pelan begitu membaca bagian Shou dan Natsuki.

1 menit berlalu, raut wajahnya sedikit berubah.

2 menit berlalu, keringat dingin menuruni pelipisnya secara perlahan.

3 menit berlalu... "HUAAA! Kenapa ada di sini!?"

.

.

.

Seperti seseorang tengah berteriak tepat di telinganya, Michiko langsung terbangun dari tidur lelapnya. Sinar matahari tampak malu-malu menyinari kamar bernuansa matahari terbenam tersebut. Sang pemilik kamar sedikit terkantuk-kantuk karena waktu tidurnya masih jauh dari kata 'cukup'. Ia baru saja tertidur tiga jam yang lalu. Menggerutu pelan, hanya itu yang dilakukannya seraya berjalan ke kamar mandi.

"Michiko-hime, sarapan sudah siap. Mau dibawa ke kamar atau tidak?" tanya pelayan.

Gadis berambut indigo itu menengok lalu menjawabnya singkat. "Tidak perlu."

"Baik." Pelayan tersebut membungkuk pada Nonanya kemudian keluar kamar.

Drrrt. Drrrttt.

Sebuah pesan masuk menginstrupsi kegiatannya lagi. "Siapa lagi yang ngirim pesan sepagi ini?" kesal Michiko sambil melangkah mundur menuju meja belajar di mana ponselnya ditaruh. 'Maaf, ini Tokiya Ichinose dari STARISH. Bisa kita bertemu jam 3 sore nanti?' Sebuah senyuman lebar nampak di wajah manis Michiko, tak lupa semburat merah juga terlihat di kedua pipinya. Ia membalasnya tanpa memperdulikan dari mana sang idola mendapat nomornya.

'Baiklah. Temui aku di Fairy Café jam 3 sore.'

Waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 3 P.M. saat Michiko sampai di Fairy Café.

Kring, kring.

"Irasshaimase, Goushujin-sama."

Kedua mata amethyst-nya menatap seseorang yang baru saja masuk ke café.

"Maaf, telat," kata orang tersebut seraya duduk di hadapan Michiko. Gadis itu menggeleng pelan sambil menyeruput kopi mocacinno yang dipesannya. "Kebetulan, aku juga baru sampai tiga menit yang lalu setelah bertemu dengan Saotome-san," jelas Michiko. Ia melepas topi baseball yang sedari tadi berada di atas kepalanya setelah meminum kopi. Nampak di hadapannya sebuah laptop berwarna hitam dalam mode on dan membuat mereka berdua terlihat seperti tengah rapat kecil jika dilihat dari jauh.

Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan baru di meja Michiko.

"Jadi, ada perlu apa kau sampai ingin bertemu denganku, Ichinose-san?"

Pertanyaan to the point keluar dari mulut gadis tersebut begitu sang pelayan pergi.

"Kenapa kau menulis novel itu?" tanya Tokiya Ichinose juga to the point.

"Sudah kubilang 'kan, 'aku tidak tahu'. Ide itu terus saja mengalir dalam benakku dan tanpa sadar semuanya sudah tertuang ke dalam tulisan," jawabnya cepat seraya mengetik sesuatu di laptopnya. Rasa curiga terlihat dengan jelas di kedua mata Tokiya dan membuat Michiko menatapnya balik. "Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?"

"Aku berpikir, kau bukan sekedar gadis biasa."

Michiko hanya menganggukkan kepala beberapa kali.

Alis Tokiya terangkat. "Sebenarnya siapa kau?"

"Aku hanya salah satu dari sekian banyaknya fans STARISH yang ingin bekerja sama dengan idola-idolanya untuk membuat film layar lebar," jawabnya dengan nada yang terkesan datar. Bahkan lebih datar dari suara Tokiya. Ia meminum lagi kopi pesanannya kemudian menyangga dagu, tanpa sekali pun beralih dari layar laptopnya. Andai sang idola tahu apa yang ada di layar tersebut karena di situ terlihat jelas sosok Tokiya Ichinose yang tengah menyamar dengan kacamata membingkai wajahnya.

Kalau boleh jujur, Tokiya juga penasaran dengan apa yang ada di layar laptop itu.

"Aku ingin bertanya lagi."

"Silahkan."


'-' STARISH ._.


Sesuai yang diperintahkan Tokiya, semua anggota STARISH berkumpul di ruang latihan setelah makan malam selesai. Haruka Nanami juga terlihat dengan memakai piyama tidur dilapisi sweater merah muda tengah duduk di sofa panjang. Di sampingnya ada Otoya dan Shou yang entah kenapa akhir-akhir ini jadi tak terpisahkan, ke mana-mana selalu berdua.

"Apa yang kau bicarakan, Tokiya?" tanya Masato yang berdiri di samping Natsuki.

Yang ditanya malah terdiam sebentar. "Di mana Cecil?"

"Aku di sini," sahut si Pangeran Agnapolis yang tengah terduduk di kusen jendela.

Merasa sudah lengkap, Tokiya mulai rapat kecil-kecilan sebelum tidur tersebut. "Aku ingin membicarakan tawaran kerja sama dengan Michiko Sawaragi." Suasana menjadi hening di detik itu juga. "Sore tadi, aku bertemu dengannya untuk membicarakan masalah ini. Sebelumnya aku tidak pernah melihat Sawaragi-san, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya," ungkap laki-laki berambut biru gelap tersebut.

"Michiko Sawaragi. Anak kedua dari tiga bersaudara dan sekarang menjadi penerus sah bisnis keluarganya yang terbagi dalam beberapa cabang," jelas Ren sambil mengingat-ingat.

Masato menambahkan. "Keluargaku dan Sawaragi pernah bekerja sama untuk membangun sebuah vila penginapan di daerah Hokkaido."

"Eeeh?"

Semuanya melongo, minus Tokiya.

Dari penjelasan kedua heir tersebut, jelas 'kan bahwa gadis bermarga Sawaragi itu juga termasuk dari keluarga yang terpandang. Entah kenapa suasana agak mencekam. "Kalau begitu... tak ada pilihan lain 'kan untuk menerima tawarannya." Ucapan Cecil membuat semuanya mengangguk secara perlahan. Bahkan orang kaya seperti Ren dan Masato yang baru saja tersadar dengan latar belakang si penulis novel itu hanya mengangguk karena merasa akan ada ancaman yang datang jika STARISH sampai menolaknya.

"Apa kau pernah bertemu dengannya, Ren?" tanya Tokiya.

Ren berusaha mengingat lagi. "Hmm, sepertinya pernah tapi entah kapan. Aku lupa."

Otoya tak peduli dengan latar belakang Michiko, yang terpenting semua mau menerima tawaran kerja dari penggemar STARISH tersebut. "Sudah 'kan, tak ada lagi yang ingin dibicarakan?" tanyanya seraya bangkit dari sofa, bermaksud untuk kembali ke kamar lalu tidur. Namun Haruka mengangkat tangan kanannya secara perlahan.

"Tunggu dulu, aku punya satu permintaan."

.

.

.

Kedua mata Michiko Sawaragi terus saja memandang takjub rumah milik STARISH yang terlihat sederhana dengan model ala Eropa Barat. Padahal ia pernah ke sana sebelumnya, tapi Michiko tidak menyadari betapa artistiknya bangunan tersebut. Dengan cepat gadis itu mengambil ponsel dari saku kemeja putih berlengan pendek yang ia pakai kemudian memotretnya.

Ckleeek. Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat sosok Cecil Aijima tengah berdiri di sana.

"Selamat datang di base camp STARISH," katanya ramah.

Gadis penyuka pakaian yang berukuran lebih besar dari tubuhnya itu mengangguk.

Sosok Shou Kurusu keluar dari pintu lainnya yang masih tertutup. "Ohayou, Sawaragi."

"Ohayou," jawab gadis itu singkat sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja. Di lihat dari mana pun, penggemar STARISH yang satu ini tidak terlihat seperti punya niat untuk pindah tempat tinggal. Malah kelihatan kalau gadis tersebut ingin pergi camping dengan hanya membawa satu ransel dan tas selempang berukuran kecil yang menggangtung di leher.

"Kau itu niat nggak sih, tinggal sementara di sini?" tanya Shou heran.

"Kan hanya sementara, memang kau berniat membiarkanku tinggal selamanya di sini?"

Laki-laki bertubuh pendek itu mendelik. "Anak ini...," geramnya.

"Ayo masuk, yang lain dan Presdir juga sudah menunggumu di dalam," ajak Cecil. Michiko pun mengikutinya dengan berjalan santai. Di belakangnya terlihat Shou yang kesal sendiri karena dapat perlakuan seperti itu dari Michiko. Kedua mata beriris amethyst miliknya tampak memperhatikan isi dari tiap ruangan yang dilaluinya hingga ke ruang latihan STARISH. Rasa gugup saat pertama kali ke sana, kini menghilang tak tersisa sama sekali. Ia merasa rumah itu sudah menjadi rumahnya sendiri. Bisa dibilang gadis ini pintar beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

"Good morning, Miss Sawaragi~," sapa Shining Saotome.

Michiko membungkukkan badannya sedikit. "Ohayou gozaimasu, Saotome-san."

"Ohayou, Sawaragi-san," sapa Haruka Nanami seraya tersenyum manis.

"Ohayou gozaimasu, Nanami-san, STARISH. " Ia membungkukkan badannya lagi.

"Hai, hai, hai. Sekarang silahkan duduk di samping Miss Nanami," suruh Presdir. Melihat gadis itu menurut, membuatnya tersenyum. Salah satu anggota STARISH yang sangat menyukai benda imut dan mungil langsung menatap Michiko dengan mata berbinar-binar. Shou yang berdiri di samping laki-laki tersebut hanya menepuk kening. Sepertinya nyawa Michiko akan terancam.

Sepasang mata emerald milik Cecil tampak memperhatikan gerak-gerik Michiko.

Sejak kedatangannya beberapa menit lalu, ia merasa ada aura aneh keluar dari gadis itu.

"Jadi, sesuai permintaan dari Miss Nanami, kau akan tinggal di sini sampai syuting selesai," kata Shining. Michiko tampak mengangguk dan tampak mencari sesuatu dari dalam ransel hitamnya. Mulut Shining langsung membentuk huruf 'O' begitu melihat beberapa naskah dialog yang sudah dibukukan untuk tiap pemain dikeluarkan oleh Michiko dari ransel.

"PERFECT!" seru Presdir 'nyentrik' tersebut.

Semua anggota STARISH sweat drop. Anak ini benar-benar niat buat film ternyata.

"Anoo, aku butuh bantuan Nanami-san," pinta gadis itu sambil membuka sebuah file berwarna merah dengan tulisan 'Akuma Techo' di bagian depan. Dengan sigap—atau bisa dibilang ketakutan?—Haruka melihat apa yang ditunjukkan oleh Michiko. Ia sempat berpikir, 'benarkah gadis di hadapannya ini adalah gadis yang sama dengan teman sekelasnya di Class A dulu?' Rasa-rasanya gadis itu berbeda 180° dari yang Haruka kenal. Belum sempat ia melihat, Michiko langsung merobek selembar kertas dari file-nya. Wajah sang komposer STARISH itu terlihat bingung karena berisi coret-coretan.

Untuk pertama kalinya Michiko memperlihatkan senyum cerianya. "Kau pasti bisa."

"Hah? Etoo, aku masih tidak mengerti, Sawaragi-san," kata Haruka polos.

Jari telunjuk Michiko membentuk lingkaran di atas kertas tersebut. "Ini tema dari lagu yang ingin kumasukkan sebagai soundtrack film Maji Love STARISH." Tiba-tiba ia menepuk bahu Haruka dengan satu tangan dan sukses membuat gadis berambut merah muda itu meringis. "Kemampuanku membuat musik masih berada jauh di bawahmu. Lagipula," Michiko tersenyum tipis, "kau yang lebih mengerti tentang STARISH. Aku hanya akan menentukan temanya saja supaya tidak terlalu melenceng dari novel."

Haruka menatap kertas itu sebentar. "H-hai."

Pandangan sang penulis novel teralih pada anggota STARISH. "Kalian bisa baca naskah itu sekarang." Senyum tipis masih terlihat jelas di wajah manisnya saat satu-persatu anggota STARISH mengambil naskahnya sesuai nama. Tersisa beberapa naskah di atas meja, termasuk milik Haruka. Raut wajah penuh keceriaan yang sebelumnya terlihat, kini perlahan memudar dan tergantikan oleh wajah sayu dengan pandangan kosong seperti di awal ia datang ke base camp STARISH.

"Aku harap, semuanya bisa berjalan lancar."

To Be Continued

YOSH! Saya balik lagi dengan update-an Maji Love STARISH! #Laugh. Jujur, saya kesusahan untuk membuat karakter Michiko Sawaragi yang sesuai dengan karakternya di anime. Jadilah sosok Michiko yang rada-rada ngebingungin orang karena sikap dan pemikirannya suka cepat berubah—tergantung mood—dan terkesan misterius.

Bocoran untuk chap depan adalah pengenalan dengan OC lain yang menjadi sutradara dan hari pertama syuting Maji Love STARISH. Mungkin kesan romantis belum keliatan, tapi tunggu aja beberapa chap depan. Saya akan buat alurnya agak cepat.

Thanks for Rizuki Satoru (saya jadi semangat baca review-mu. :) Yokatta kalau Rizuki-san suka dengan alurnya. Kalau soal pair, ditunggu aja karena difokusin untuk satu chara tiap 2-3 chapter, seperti di anime-nya, ahaha. Ini sudah di-update, bisa dicek kelanjutannya, walau masih gak keliatan romance-nya :)); NaRin RinRin (sip! Ini sudah dilanjut. Bisa dicek update-nya. :) etoo, mau bocorin sedikit, karena saya suka pair OtoyaxTokiyaxCecil, jadi scene mereka yang paling banyak #NengokBukuIsiSinopsisMLS); dan silent readers semua! :) Saya usahain untuk update cepat.

See ya! #ComeBackHome